GOTONG ROYONG DALAM MASYARAKAT INDONESIA
GOTONG
ROYONG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA
A. Landasan Teori
1.
Pengertian Gotong Royong
Gotong royong jika kita
lihat dari asal perkataam terdiri dari dua kata yaitu Gotong dan royong. Kata
Gotong disini dapat diartikan sebagai memikul, kewajiban dan sebagai beban.
Sedangkan kata royong artinya bersama atau secara bersama-sama, didalamnya
termasuk anak-anak, orang dewasa, laki-laki dan perempuan. Dengan demikian
Gotong royong dapat diartikan sebagai suatu kerja sama dalam melakukan suatu
kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.
Berikut ini Koentjaninggrat
(Rochmadi, 2015: 2) mengemukakan pengertian Gotong royong
adalah sebagai berikut : "Kerja sama diantara anggota-anggota suatu
komuniti". Berdasarkan kutipan di atas dapatlah dipahami bahwa, gotong
royong merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama oleh suatu
masyarakat untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut (Purnawan, 2015: 3) adalah sebagai berikut;
Gotong
royong adalah bentuk kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu dengan azas
timbal balik yang mewujudkan adanya keteraturan sosial dalam masyarakat. Gotong
royong dapat terwujud dalam bentuk yang spontan, dilandasi pamrih, atau karena
memenuhi kewajiban sosial. Wujud dari bentuk kerja sama itu dapat beraneka
ragam sesuai dengan bidang dan kegiatan sosial itu.
|
Unsur utama dalam Gotong
royong itu adalah kerja sama antara individu di dalam suatu masyarakat, namun
dapat dikatakan pula tidak setiap kerja itu sebagai Gotong royong. Kerja sama
dalam bentuk Gotong royong ini bertujuan untuk memperoleh sesuatu, yang pada
dasarnya memiliki azas timbal balik sebagai unsur kedua dalam bentuk kerja sama
itu.
Landasan timbal balik dalam
Gotong royong yang dimaksudkan adalah tidak hanya untuk kepentingan sepihak
saja, akan tetapi pada dasarnya sikap memberitahu di barengi pula oleh
keinginan untuk menerima balasan dari sikap pemberiannya (Pasya, 2014: 5). Jadi sikap dari memberi
dan keinginan menerima yang berwujud timbal balik itulah yang terlihat
sekaligus pada kerja sama di dalam Gotong royong.
2.
Pengertian Masyarakat
Masyarakat adalah suatu
perkumpulan orang-orang yang berada pada suatu tempat atau daerah tertentu,
yang dapat menjadi suatu wadah kesatuan dan persatuan dalam sesuatu serta
adanya hubungan atau jaringan luas diantaranya sesama mereka. Kamus besar Bahasa Indonesia (2006: 546) disebutkan bahwa "Masyarakat
adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu
kebudayaan yang mereka anggap sama". Sementara Nina (2012: 28) mengemukakan bahwa masyarakat adalah setiap
kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehingga mereka
itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai suatu
kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.
Masyarakat adalah sejumlah
manusia atau kelompok manusia yang telah lama menetap pada suatu tempat
tertentu, dan adanya memiliki sifat kebersamaan baik dalam melakukan suatu
kegiatan maupun yang menyangkut masalah keteraturan-keteraturan sosial yang
ada. Kehidupan masyarakat dalam suatu daerah tertentu dapat pula ditandai oleh
adanya adat kebiasaan dan tata cara dalam kelompok suatu golongan masyarakat
itu sendiri. Sesuai yang dikemukakan oleh Nina (2012: 28), yaitu suatu sistim dari kebiasaan
dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok serta
golongan, dari pengawasan tingkah laku dan kebiasaan manusia keseluruhan yang
selalu berubah, masyarakat merupakan jalinan hubungan dan masyarakat selalu
berubah.
Kehidupan suatu masyarakat
sangat kuat diikat oleh tata cara atau adat kebiasaan yang berlaku dalam
masyarakat itu sendiri, sebagai wujud dari hidup kebersamaan antara
kelompok-kelompok atau golongan-golongan yang ada didalamnya, serta juga
sebagai suatu kesatuan yang saling ketergantungan satu sama lain antara sesamanya,
dan saling memperhatikan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya perubahan
dalam tata kehidupan yang mereka ikuti bersama.
3.
Pengertian Pembangunan
Pembangunan pada hakekatnya
merupakan suatu perubahan ke arah yang lebih baik, dengan demikian dapatlah
dipahami bahwa pembangunan adalah merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk
merubah suatu keadaan yang cendrung mengarah kepada peningkatan dan
pengembangan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2006 : 103) disebutkan bahwa, pembangunan adalah proses, perbuatan,
cara membangun.
Pamungkas, (2013: 7) menambahkan pembangunan adalah usaha secara sadar
untuk merubah nasib. Atau pembangunan adalah ikhtiar untuk mengubah masa lampau
yang buruk menjadi zaman baru yang lebih baik. Juga suatu usaha yang terus
meneris yang lebih baik menjadi lebih baik lagi. Di dalamnya terkandung niat
untuk mewariskan masa depan yang lebih baik, membahagiakan bagi negara yang
akan datang.
Berdasarkan kutipan di atas,
dapat disimpulkan bahwa, pembangunan adalah suatu usaha yang dilakukan secara
sengaja dan terus menerus untuk mewujudkan adanya perubahan-perubahan ke arah
yang lebih baik, dan bermanfaat, terutama untuk masa yang akan datang.
Pembangunan adalah suatu kegiatan
yang perlu diupayakan agar dapat memperoleh hasil yang lebih menguntungkan,
karena pembangunan tersebut merupakan kegiatan yang tanpa akhir dan lebih
mengarah untuk masa yang akan datang. Hal ini sesuai seperti yang dikemukakan
oleh Rochmadi, (2015 : 2) bahwa pembangunan adalah suatu orientasi dan
kegiatan tanpa akhir.
Kegiatan pembangunan
merupakan suatu usaha untuk merubah dan meningkatkan suatu keadaan, secara
sungguh-sungguh dan terus menerus, sehingga akan dapat memperoleh hasil yang
lebih baik dengan tanpa mengenal batas akhir.
4.
Bentuk-bentuk Gotong royong Dalam Kehidupan
Masyarakat Desa
Gotong royong merupakan
suatu kegiatan yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh suatu masyarakat
untuk mencapai tujuan tertentu. Kegiatan gotong royong ini pada dasarnya
merupakan kebudayaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat khususnya di
pedesaan sebagai salah satu cara untuk mengerjakan suatu pekerjaan, baik
pekerjaan yang menyangkut dengan kepentingan pribadi maupun yang menyangkut
kepentingan umum atau kepentingan bersama.
Dewasa ini akibat
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga timbulnya
perubahan-perubahan kebudayaan yang ada dalam segala aspek kehidupan
masyarakat, di dalamnya termasuk sistim Gotong royong telah mengalami perubahan
menjadi sistim upah.
Menurut Huda (2014: 5) adalah bahwa dalam proses perubahan kebudayaan di
Indonesia, khususnya di pedesaan, terjadi perubahan nilai-nilai budaya. Hal ini
mempengaruhi bentuk dan sifat Gotong royong yang ada pada masyarakat yang
bersangkutan. Ahli antropologi Indonesia mensinyalir bahwa kebanyakan masyarakat
Indonesia telah terjadi perubahan. Bahkan diduga bahwa, Gotong royong dalam
kehidupan yang lainpun ada kemungkinan telah mengalami perubahan.
Berdasarkan kutipan di atas
dapatlah disimpulkan bahwa, kebudayaan di Indonesia telah banyak mengalami perubahan
khususnya di pedesaan, dan sangat berpengaruh terhadap bentuk dan sifat Gotong
royong yang ada dalam masyarakat, sehingga sistim Gotong royong yang ada telah
berubah menjadi sistim upah.
Akibat dari terjadinya
perubahan-perubahan tersebut maka terjalin pula bermacam-macam sifat atau
bentuk Gotong royong yang berkembang di kalangan masyarakat (Huda, 2014: 6). Khususnya pada masyarakat
pedesaan, dan saat ini sistim Gotong royong tersebut dapat dikenal baik dalam
bentuk tolong menolong yang bersifat spontan dilandasi pamrih, atau tidak
dilandasi pamrih maupun yang bersifat kerja bakti untuk memenuhi kewajiban
sosial.
5. Gotong
royong Dalam Bentuk Tolong Menolong
Kegiatan gotong royong dalam bentuk tolong
menolong yang dilaksanakan oleh masyarakat di pedesaan merupakan salah satu
bentuk kerja sama yang dalam pelaksanaannya baik didasari pamrih ataupun tidak
didasari pamrih, namun kegiatan gotong royong dalam bentuk kerja sama tolong
menolong ini masih tetap bertahan dengan utuh di kalangan masyarakat khususnya
di pedesaan (Alexander, 2005:
62).
Kerja sama tolong menolong
yang didasarkan pamrih disini dimaksudkan adalah, suatu bentuk kerja sama atau
gotong royong yang didasari dengan sistim upah sebagai imbalan dari hasil
pekerjaannya, baik yang menyangkut dengan pekerjaan untuk kepentingan pribadi
ataupun juga untuk kepentingan umum (Adi, 2001: 34).
Kerjasama tolong menolong
yang tidak didasari pamrih yaitu suatu bentuk kerjasama yang bukan berdasarkan
permintaan dan tidak mengharapkan imbalan sebagai hasil dari pekerjaannya. Akan
tetapi hanya membantu secara spontan atas dasar kerelaan atau keikhlasan
terhadap orang yang membutuhkan bantuan. Hal ini sesuai seperti dikemukakan
oleh Khairuddin, (1992: 60) adalah aktivitas spontan tanpa permintaan dan
tanpa pemarih untuk membantu secara spontan pada waktu seorang penduduk desa
mengalami kematian atau bencana.
Berdasarkan kutipan di atas
dapatlah dipahami bahwa gotong royong atau kerja sama dalam bentuk tolong
menolong secara spontan dengan tanpa menawarkan bantuan dan juga dengan tidak
memberikan imbalan sebagai upah jerih payah dari pekerjannya. Oleh karena itu
kegiatan kerja sama tolong menolong ini dapat terjadi bila seseorang mengalami
bencana atau musibah.
6. Gotong
Royong Dalam bentuk Kerja Bakti
Aktivitas gotong royong
dalam bentuk kerja bakti juga merupakan suatu kegiatan kerja sama untuk
mencapai suatu tujuan, akan tetapi dalam pelaksanaannya kerjasama dalam bentuk
kerja bakti ini didasarkan pada kewajiban sosial atau memenuhi kewajiban
sosial, yaitu pengaruh tenaga tanpa bayaran untuk suatu proyek yang bermanfaat
untuk kepentingan umum atau suatu kepentingan pemerintah. Kegiatan gotong royong kerja bakti yang
bekembang di dalam masyarakat di pedesaan dewasa ini juga dapat dibedakan
menjadi dua bentuk, yaitu kerja bakti yang berbentuk inisiatif pribadi dan
kerja bakti yang berbentuk pemaksaan (Ndraha, 1987: 55).
Adapun kerja bakti yang
bersifat inisiatif pribadi adalah merupakan suatu bentuk kerjasama yang
dipergunakan oleh seseorang atau suatu keluarga tertentu. Oleh karena itu
tujuan dari sifatnya kerja bakti ini adalah untuk membantu seseorang secara
ikhlas atau didasarkan atas kerelaan dengan tanpa adanya unsur pemaksaan dan
tidak pula mengharapkan suatu imbalan dari hasil pekerjaannya (Andi, 2009: 33).
Kerja bakti yang berbentuk
pemaksanaan adalah suatu bentuk kerjasama atau gotong royong untuk memenuhi
kewa-jiban sosial, yang didasarkan atas suatu paksanaan atau perintah dari atas (Andi, 2009: 34). Sekalipun dalam
pelaksanaannya kerja bakti yang berbentuk paksaan ini mendapatkan hasil dengan
sempurna, namun aktivitas kerjasama dalam bentuk pemaksanaan tersebut dewasa
ini sangat banyak di peraktekkan di kalangan masyarakat khususnya dipedesaan.
Salah satu kerja bakti yang sangat tepat untuk dikembangkan dan dipraktekkan di
dalam masyarakat dewasa ini adalah kerja sama atau gotong royong yang
diorganisir dan digerakkan oleh pemerintah dan didasarkan keputusan hasil
musyawarah bersama.
Menurut Adi (2001: 43) mengatakan bahwa adapun bentuk-bentuk gotong
royong yang amat cocok dengan konsepsi pembangunan masa kini adalah gotong
royong kerja bakti yang diorganisir dan digerakkan oleh para penguasa, melalui
para perencanaan dan pengaturan yang dimusyawarahkan dengan cara-cara yang lain
yang mendorong dan menggairahkan masayrakat desa untuk berpartisipasi secara
penuh tanpa menimblkan perasaan terpaksa.
Berdasarkan kutipan di atas,
dapatlah dipahami bahwa, bentuk gotong royong kerja bakti yang paling tepat
dilaksanakan dalam masyarakat dewasa ini kerjasama yang bersifat terorganisir
dalam adanya pengelolaan dari pihak pemerintah baik yang menyangkut dengan
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dari kegiatan gotong royong maupun yang
menyangkut dengan hasil dari kegiatan gotong royong itu sendiri.
Pelaksanaan kegiatan gotong
royong kerja bakti ini mencerminkan adanya kerjasa antara masyarakat seluruh
masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan-kegiatan
pembangunan yang ada dipedesaan.
7.
Manfaat kegiatan Gotong Royong bagi
Kehidupan Bermasyarakat
Dalam kehidupan masyarakat
khususnya di pedesaan gotong royong merupakan suatu aktivitas kerja sama yang
dapat membawa manfaat cukup besar bagi kehidupan suatu masyarakat, baik
kerjasama gotong royong dalam bentuk tolong menolong maupun kerjasama giting
royong dalam bentuk pemaksaan atau memenuhi kewajiban sosial.
Kerja sama dalam bentuk
gotong royong perlu dipupuk dan dikembangkan, sehingga dapat diperoleh manfaat
dan keuntungannya yang lebih besar dalam segala aspek kehidupan masyarakat,
terutama bidang pembangunan pedesaan. Sejalan dengan itu Andi (2009: 121) mengemukakan bahwa potensi gotong royong masih
dapat dianggap sangat tinggi, tetapi kalau gotong royong itu hendak di
transpormasikan dan didinamisir untuk kebutuhan-kebutuhan pembangunan, maka
jelaslah orang harus bertolak dari arti gotong royong yang asli. Sebaliknya
obyek-obyek gotong royong perlu diperluas, sehingga tidak hanya meliputi
tugas-tugas tradisional, namun juga meliputi tugas-tugas pokok yang berhubungan
dengan pembangunan masyarakat desa.
Sementara Adi (2001: 115) menambahkan bahwa bila orang-orang desa mulai
menyadari dengan lebih mendalam akan perlunya kesempatan dan tata cara fikir
baru, perencanaan dan kerjasama atau gotong royong untuk memecahkan berbagai
macam probelama, maka mereka akan memperoleh pengalaman bahwa dengan bergotong
royong itu akan dapat menanggapi hal-hal
yang lebih banyak dan lebih efektif dari pada cara perseorangan (individuil).
Kegiatan kerjasama sama
dalam bentuk gotong royong sangat banyak keuntungannya yang diperoleh bila
dibandingkan dengan kegiatan cara perseorangan, dimana kegitan gotong royong
atau kerja sama dalam gotong royong maupun memecahkan berbagai masalah yang
dihadapi masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pembangunan pedesaan, baik
yang menyangkut dengan tahap perencanaan pelaksanaan, maupun hasil yang
diperoleh.
Banyak lagi manfaat yang
diperoleh dari kegiatan kerja sama gotong royong, baik gotong royong dalam
bentuk tolong menolong maupun kerja bakti untuk memenuhi kewajiban sosial, yang
langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, sesuai dengan sifat dan
bidang kegiatan gotong royong yang dilakukannya.
Menurut Andiojaya (2012: 7) menjelaskan bahwa
gotong royong dalam
arti kerja sama tolong menolong yang bertimbal balik sangat membantu pembangunan
yang sedang dilaksanakan.....Kalau ditinjau tentang gotong royong dalam arti
kerja bakti seperti membangun atau memperbaiki jalan-jalan desa, meunasah,
mesjid, pesantren dan lain-lain demi kepentingan umum akan membawa manfaat.
Karena sifatnya mengumpulkan tenaga sebanyak-banyaknya, maka usaha itu sangat
membantu pembangunan khususnya masyarakat desa.
Berdasarkan kutipan di atas
dapatlah dipahami bahwa, kegiatan gotong royong dalam bentuk kerja sama tolong
menolong maupun gotong royong dalam bentuk kerja bakti sangat banyak andilnya
terhadap pelaksanaan pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah,
khususnya bagi pembangunan di pedesaan, sehingga dapat memperoleh manfaat untuk
kepentingan bersama atau masyarakat secara keseluruhan.
Keuntungan lain yang
diperoleh dari kegiatan gotong royong ini adalah dapat meningkatkan hubungan
yang lebih akrab antara sesama warga masyarakat, dimana kehidupan seseorang
dalam masyarakat di pedesaan ini sangat membutuhkan bantuan dari pihak lain.
Nasution (2010: 8) menjelaskan bahwa kerjasama tolong menolong
antara sesama tetangga dalam masyarakat pedesaan dari dahulu sampai sekarang
masih mempunyai nilai yang tinggi. Mampu hidup bertetangga dalam masyarakat
pedesaan mempunyai kaitan yang dalam sekali, bahkan lebih dari pada suadara
atau kerabat sendiri. Jika seseorang masyarakat mengalami kesulitan yang
pertama-tama mengetahui dan membantunya ialah tetangga.
Berdasarkan kutipan di atas
dapatlah dipahami bahwa, kehidupan masyarakat pedesaan masih sangat kuat diikat
oleh rasa persahabatan dan persaudaraan antara sesamanya, sehingga melalui
ikatan tersebut dapat mengarah kepada saling bantu membantu dalam arti bekerja
sama tolong menolong untuk menciptakan suasana yang lebih menguntungkan baik
bagi kehidupan pribadi maupun bagi kehidupan masyarakat.
8. Faktor
Penyebab Menipisnya Semangat Gotong Royong Masyarakat
Pedesaan
Gotong
royong merupakan suatu bentuk kerjasama dalam melakukan suatu kegiatan untuk
mencapai suatu tujuan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa melalui usaha kerjasama
gotong royong tersebut dapat memperoleh manfaat atau keuntungan yang lebih
besar dari pada usaha kegiatan perseorangan.
Dewasa ini semangat
kerjasama masyarakat dalam bentuk gotong royong telah banyak mengalami
kemunduran atau kekurangan, baik masyarakat yang berada di daerah pedesaan
maupun perkotaan. Hal ini sebagai akibat dari adanya perubahan-perubahan dalam
kehidupan masyarakat, terutama yang menyangkut pergeseran nilai-nilai dari
suatu budaya tradisional kepada nilai budaya yang bersifat individual.
Perubahan nilai-nilai budaya
ini cenderung akan mengarah kepada timbulnya berbagai perhitungan seletif atau
penilaian terhadap segala aspek kehidupannya yang lebih menguntungkan, sehingga
hal ini membawa akibat kepada menipisnya semangat gotong royong di kalangan
masyarakat. Sejalan dengan itu Khairuddin
(1992: 36) menjelaskan semakin
pandai masyarakat itu menghitung semakin sukar mengkoordinasikan anggota
masyarakat tersebut untuk bergotong royong.
Dengan kemajuan terjadilah
persaingan dalam masyarakat desa. Persaingan kelak terjadi dengan secara wajar
tentu akan membawa kepada arah yang menguntukan, tetapi kalau persaingan
berjalan secara tidak wajar yang akan memperlebar jurang antara sikaya dan
simiskin, hal ini tentu akan terjadi hal-hal yang tidak diingini dalam
masayrakat desa, yang akan melemahkan kreatifitas gotong royong.
Andiojaya (2012: 5) menambahkan bahwa lain halnya gotong royong dan tolong
menolong dalam bidang ekonomi yang berlaku secara timbal balik, ternyata telah
banyak sekali mengalmai perubahan-perubahan sejalan dengan pergeseran
nilai-nilai yang terjadi pada setiap kelompok sosial. Tolong menolong dalam
bidang ekonomi itu banyak dipengaruhi oleh perhitungan-perhitungan kepentingan
dan keuntungan serta nilai efesiensi dan efektifitas. Oleh karena itu apabila
ada faktor-faktor yang lebih menguntungkan maka kebiasaan dalam gerakan tolong
menolong itu dengan mudah ditinggalkan oleh penduduk.
Suatu masyarakat telah
banyak mengalami perubahan-perubahan atau kemajuan, maka masyarakat tersebut
sangat sukar untuk mengikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan gotong royong,
karena mereka telah dipengaruhi oleh perhitungan-perhitungan yang lebih
menguntungkan bagi kepen- tingan
pribadinya, dan disamping itu
dipengaruhi pula oleh persaingan yang ada dalam masyarakat yang dapat
membawa jurang antara sesama mereka, sehingga hal seperti ini juga berakibat
kepada lemahnya semangat gotong royong.
Aktivitas gotong royong yang
dilaksanakan dewasa ini adanya terdapat unsur-unsur yang kurang relevan menurut
azas dalam gotong royong yang sebenarnya, dimana kegiatan gotong royong itu
pada dasarnya merupakan suatu bentuk kerjasama atau secara bersama-sama
melakukan suatu kegiatan yang dilandasi atas kerelaan. Namun ketidaksesuaian
dalam aktivitas gotong royong ini akan terus dikembangkan dan diterapkan
dikalangan masyarakat.
Sejalan dengan itu Andi (2009: 65) mengemukakan bahwa di zaman kemerdekaan sekarang ini istilah
gotong royong sering diberi bentuk yang menyimpang jauh dari asanya menurut
adat asli. Dengan tekanan kekuasaan suatu tekanan moril masyarakat dikerahkan
untuk menjalankan pekerjaan yang mestinya menjadi kewajiban pemerintah di pusat
dan di daerah (termasuk desa) yang menurut hukum untuk itu mendapat biaya dari
rakyat. Wajib kerja dalam sifat yang baru itu, menurut hukum asli dinamakan
"gugur hanya dilakukan atas dasar keputusan rapat desa, menjadi atas amat
dari rakyat sendiri, bukan atas perintah dari penguasa setempat.
Berdasarkan kutipan di atas
dapatlah dipahami bahwa, pelaksanaan kegiatan gotong royong di Indonesia telah
menyimpang dari azas gotong royong yang sebenarnya, yaitu masyarakat diwajibkan
melaksanakan gotong royong oleh pemerintah, padahal kegiatan gotong royong
tersebut bersumber dari masyarakat itu sendiri sebagai keputusan dari hasil
musyawarah bersama.
Di kalangan masyarakat
khususnya di pedesaan, wajib kerja dalam bentuk gotong royong merupakan salah
satu faktor berkurangnya semangat kegotong royongan, dimana hal ini mereka
beranggapan bahwa adanya unsur paksaan dalam kegiatan gotong royong. Sedangkan
kegiatan gotong royong itu sendiri tidak akan berhasil dengan baik apabila
tidak didasarkan atas kerelaan dan keikhlasan serta untuk kepentingannya
sendiri.
Huda (2011: 25) mengemukakan sebagai
berikut kalau
apa yang dimaksud dengan gotong royong itu adalah sistim kerja bakti maka
mungkin malahan bisa menunjang pembangunan. Hanya saja soalnya adalah bahwa
sistim itu tidak sesuai lagi dengan ethik zaman sekarang. Hal itu karena
membangun berdasarkan gotong royong kerja bakti itu, sebenarnya adalah
membangun dengan mengexploitasi tenaga murah rakyat. Lain halnya kalau rakyat
mengerjakan suatu proyek berdasarkan gotong royong berdasarkan dengan rasa rela
karena yakin bahwa proyek itu bermanfaat bagi mereka. Barulah mereka akan
melakukan kerja bakti dengan sungguh-sungguh.
Pelaksanaan
kegiatan gotong royong dalam bentuk kerja bakti masyarakat tidak merasa
berkepentingan terhadap dirinya, kecuali dalam mengerjakan suatu proyek
berdasarkan gotong royong, dimana mereka telah dilandasai suatu keyakinan bahwa
pekerjaan tersebut akan membawa manfaat yang lebih besar terhadap kepentingan
secara pribadi.
Menipisnya semangat gotong
royong di kalangan masyarakat, khususnya
bagi masyarakat yang berada di pedesaan disebabkan oleh rasa kurang percaya
terhadap pemimpin-pemimpin atau penguasa sejak dari pemimpin pada tingkat desa
sampai ke pada tingkat pusat. Rasa
kurang percaya masyarakat terhadap pemimpin ini sebagai akibat dari adanya
penyimpangan-penyimpangan atau penyelewengan-penyelewengan dalam melaksanakan
tugasnya sebagai seorang pemimpin.
Suryadinata dalam Nina (2012: 18)
mengemukakan sebagai berikut oleh
sementara pamong desa yang kurang bertanggun jawab dana yang ada telah
dibijaksanakan dengan berbagai macam dalih dan dengan cara tertutup, telah
menimbulkan akibat sampingan, tidak saja mengakibatkan kehilangan kepercayaan
masyarakat kepada kepala desa tapi yang lebih fatal ialah kurangnya kegairahan
dan kemauan untuk bergotong royong dan membuat masyarakat desa mengarah menjadi
apatis.
Andi (2009: 45) menambahkan sebagai berikut banyak kasus-kasus penyelewengan uang
desa (subsidi desa) yang menyangkut kepentingan langsung masyarakat yang dalam
pengelolaannya memperkirakan tenaga swadaya masyarakat, adalah salah satu sebab
lain melemahnya kemauan gotong royong dikalangan masyarakat desa, sejalan
dengan kepercayaan terhadap sementara pimpinan pedesaan.
Akibat dari adanya
penyelewengan-penyelewengan pemanfaatan uang pembangunan di pedesaan dapat
berakibat timbulnya rasa cutiga atau kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap
pimpinannya, bahkan hal ini juga dapat mengakibatkan menghilangnya semangat
kegotong royongan di kalangan masyarakat.
Sikap negatif atau
menipisnya semangat gotong royong masyarakat terhadap pembangunan timbul pada akhir-akhir
ini tidak saja karena masyarakat merasa curiga terhadap pimpinannya karena
sikapnya yang tertutup dan kurang bermusyawarah, tetapi juga karena masyarakat
merasa iri hati terhadap orang luar yang diberikan kesempatan mengerjakan
proyek-proyek pembangunan dalam wilayah mereka dan disekitarnya.
Adanya keadaan tersebut di
atas tadi merupakan sebagai faktor penyebab melemahnya atau menipisnya kemauan
serta semangat dalam melakukan kegiatan gotong royong, baik gotong royong dalam
bentuk kerjasama tolong menolong maupun gotong royong dalam bentuk kerja bakti
untuk memenuhi kewajiban sosial yang ada dikalangan masyarakat terutama di
pedesaan.
9. Beberapa
Hambatan
dalam
Pelaksanaan Kegiatan
Gotong Royong
untuk Meningkatkan
Pembangunan
Pedesaan
Pelaksanaan kegiatan kerja
sama gotong royong tidak terlepas dari hambatan rintangan yang dihadapi, baik
hambatan itu besar maupun kecil, sehingga dengan adanya hambatan-hambatan
tersebut dapat mengakibatkan terbentur jalannya pelaksanaan kegiatan gotong
royong yang dilakukan. Pelaksanaan
kegiatan gotong royong yang ada di pedesaan khususnya dalam membangun desanya
selalu dihadapi antara lain kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat
terhadap gotong royong, hilangnya rasa percaya terhadap pemimpin atau banyaknya
penyelewengan-penyelewengan pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya di
pedesaan, di samping adanya pengaruh-pengaruh yang negatif dari pihak luar
sebagai akibat dari usaha untuk memecahkan kehidupan masyarakat dan kegiatan
pembangunan.
Menurut Nasution (2010: 7) menjelaskan bahwa pelaksanaan
kegiatan gotong royong amat tergantung pada faktor yang merintanginya, dan
rintangan yang paling besar adalah kecurangan dan ketiadaan pengertian terhadap
arti dan manfaat gotong royong bagi kepentingan bersama. Rintangan berikutnya
adalah menyangkut organisasi dimana lembaga desa yang telah diorganisir ke
dalam masyarakat desa belum berfungsi dengan baik. Selanjutnya rintangan yang
kecil adalah yang menyangkut mentalitas pemimpin-pemimpin itu sendiri. Pada
hakekatnya masyarakat desa itu adalah masyarakat yang mudah di atur dan mudah
di ajak gotong royong, asal saja pemimpinnya dapat memberi teladan yang baik.
Berdasarkan kutipan di atas
dapatlah dipahami bahwa, dalam pelaksanaan kegiatan gotong royong, terutama gotong
royong dalam bentuk kerja bakti untuk memenuhi kewajiban sosial, selalu adanya
berbagai faktor yang meringtangi pelaksanaan sehingga dapat menghambat
kelancaran kegiatan pembangunan. Rintangan-rintangan yang disebutkan di atas
juga masih banyak rintangan lainnya, seperti kurangnya pendidikan dan
pengetahuan serta pergaulan masyarakat yang berhubungan dengan kegiatan gotong
royong hal ini dapat pula disebabkan karena kurangnya komunikasi di dalam
masyarakat yang dapat membawa perubahan-perubahan dalam pola berfikir mereka.
Menurut Pasya (2014: 7) bahwa keterlambatan dalam perubahan kesadaran
dan cara-cara berfikir masyarakat desa karena hambatan komunikasi, baik
komunikasi fisik maupun bentuk-bentuk mess media. Demikian juga dalam hal
kegiatyan penerangan dan pendidikan masyarakat dan usaha-usaha lain yang
dilakukan aparat pemerintah belum banyak memberikan hasil yang nyata terutama
yang ditujukan untuk meningkatkan partisipasi masayrakat untuk membangun.
Perkembangan yang demikian itu menimbulkan bermacam-macam wawasan masayrakat
terhadap kelangsungan pembangunan, baik yang bersifat positif maupun yang
bersifat negatif.
Berdasarkan
kutipan di atas dapatlah dimengerti bahwa kurangnya partisipasi masyarakat
dalam kegiatan gotong royong untuk meningkatkan pembangunan pedesaan, dapat
pula disebabkan karena tidak adanya komunikasi, baik komunikasi fisik maupun
dalam bentuk mess media. Selain itu juga kegiatyan penerangan yang diberikan
oleh pihak yang nyata sebagai usaha dalam meningkatkan pembangunan yang ada di
pedesaan.
Kondisi dan situasi tersebut
dalam pelaksanaan kegiatan gotong royong masyarakat sangat sulit untuk dapat
ikut serta sepenuhnya secara aktif dan terus menerus dalam kegiatan gotong
royong, karena masyarakat juga perlu dan sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya
yang lain yang dapat memperoleh pendapatan atau keuntungan secara pribadi dalam
rangka untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidupnya masing-masing.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
1.
Pengumpulan Data
Pada bab 3 telah dikemukakan
bahwa, alat pengumpulan data yang dipergunakan untuk penelitian ini adalah
angket. Angket yang diedarkan kepada responden merupakan angket buatan peneliti. Jumlah angket yang diedarkan adalah 98
examplar, yang tiap-tiap examplar terdiri dari 17 pertanyaan.
2.
Teknik Pengumpulan dan Analisa Data
Berikut ini setiap item
angket di analisa dengan manafsirkan dan menganalisa berdasarkan besar kecilnya
persentase jawaban dari responden.
Tabel 1
Sering Tidaknya Kegiatan Gotong Royong
Dilaksanakan Oleh Responden
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban :
f : %
----------------------------------------------------------------
a. :
Sering : 43 : 43,38 %
b. :
Tidak sering : 55 : 56,12 %
c. :
Tidak pernah :
- : -
----------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Berdasarkan data pada Tabel
1, dapat disimpulkan bahwa, sebagian masyarakat desa dalam Pedesaan Kecamatan Sukajaya mengadakan gotong royong Sementara itu,
sehagian lagi masyarakat tidak sering melakukan gotong royong dan tidak ada yang
tidak pernah ikut bergotong royong di desa-desa.
Tabel 2
Ada Tidaknya Diadakan Rapat Sebelum
Gotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban : f : %
---------------------------------------------------------------
a. :
Ada : 98 :100,00 %
b. :
Tidak :
- : -
---------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00%
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Tabel 2, dapat disimpulkan
bahwa, semua gotong royong diadakan oleh warga masyarakat Sukajaya selalu didahului oleh rapat atau dengan
bahasa yang lain dapat dikatakan bahwa, tidak ada gotong royong yang tanpa
mengadakan rapat terlebih dahulu. Dengan demikian maka pembagian tugas atau
kelompok rapat diatur sedemikian rupa sehingga tujuan gotong royong dapat
dicapai.
Tabel 3
Penyelenggaran Rapat Untuk Gotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban : f : %
---------------------------------------------------------------------------------
a. : Satu hari sebelum bergotong royong : 78 : 79,59 %
b. : Satu minggu sebelum bergotong royong : 10 : 10,20
%
c. :
Dua minggu sebelum bergotong royong : 10 :
10,20 %
---------------------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00%
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Data yang terdapat pada
Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa, sebahagian rapat yang diselenggarakan untuk
gotong royong diadakan satu hari menjelang hari gotong royong. Dengan demikian
pelaksanaan dengan kegiatan gotong royong terlalu dekat, sebagian lagi
penyelenggaraan rapat untuk gotong royong adalah satu minggu menjelang hari
gotong royong. Tidak ada gotong royong yang direncanakan dalam rapat yang
diadakan dua minggu menjelang pelaksanaan gotong royong.
Tabel 4
Upaya Melibatkan Masyarakat Untuk
Bergotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban :
f : %
----------------------------------------------------------------------------------
a. :
Mewajibkan seluruh masyarakat : 56 : 12,24
b. :
Menanamkan kesadaran masyarakat
: tentang manfaat gotong royong : 14 : 14,29
c :
Membebaskan saja siapa yang mau terlibat : 42 : 42,86
d. :
Kesadaran sendiri : 30 : 30,61
-----------------------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Berdasarkan data yang
tertera pada Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa upaya terbesar melibatkan
masyarakat untuk bergotong royong adalah dengan membebaskan siapa saja yang mau
ikut, kemudian dengan mengharapkan kesadaran sendiri. Hanya sedikit sekali yang
berupaya menanamkan kesadaran kepada masyarakat tentang manfaat gotong royong.
Upaya mewajibkan seluruh masyarakat untuk bergotong royong merupakan usaha yang
paling sedikit dilaksanakan untuk melibatkan semua masyarakat bergotong royong.
Tabel 5
Kegiatan Gotong Royong Dalam Satu Bulan
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban :
f : %
---------------------------------------------------------------------
a. :
Seminggu sekali :
28 : 28,57
b. :
Dua minggu sekali :
- : -
c. :
Tiga minggu sekali :
- : -
d. :
Tergantung keperluan : 70 : 71,43
---------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Memperhatikan data pada
Tabel 5 dapat disimpulkan, bahwa sebahagian besar frekuensi kegiatan gotong
royong yang diselenggarakan oleh masyarakat pedasaan Kecamatan Sukajaya
dipengaruhi oleh keperluan tertentu. Hanya sebahagian kecil kegiatan gotong
royong yang diselenggarakan dengan waktu berkala seminggu sekali tidak kegiatan
gotong royong yang diselenggarakan dengan waktu priodik dua minggu sekali
ataupun tiga minggu sekali.
Tabel 6
Hari Yang Dipergunakan Untuk Bergotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban : f : %
-------------------------------------------------------------------
a. :
Hari Senin : - :
-
b. :
Hari Selasa : - : -
c. :
Hari Rabu : - :
-
d. :
Hari Kamis : - :
-
e. :
Hari Jumat : 14 : 14,29
f. :
Hari Sabtu : - :
-
g. :
Hari Minggu : 84 : 85,71
--------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Pengolahan data pada Tabel 6
dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kegiatan gotong royong yang
diselenggarakan pada hari minggu. Hanya sedikit sekali kegiatan gotong royong
yang dilakukan pada hari jumat, sementara itu masyarakat di Pedesaan tidak pernah melaksanakan gotong royong pada
hari senin, selasa, rabu, kamis dan sabtu.
Tabel 7
Lamanya Waktu Dalam Suatu Gotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban :
f : %
----------------------------------------------------------------------
a. :
Kurang dari tiga jam :
84 : 85,71
b. : 4
- 5 jam :
14 : 14,29
----------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Memperhatikan
data yang terdapat pada Tebel 7 dapat disimpulkan bahwa, sebahagian besar
kegiatan gotong royong yang dilaksanakan oleh masyarakat Pedesaan Kecamatan Sukajaya berlangsung kurang dari
tiga jam. Hanya sedikit sekali kegiatan gotong royong yang dilaksanakan dengan
menggunakan waktu empat sampai lima jam.
Tabel 8
Jenis Pekerjaan Yang Dilakukan
Secara Bergotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban :
f : %
----------------------------------------------------------------------------
a. :
Membersihkan jalan dan lorong : 17 : 17,35
b. :
Membersihkan Meunasah :
20 : 20,41
c. :
Membersihkan lingkungan :
61 : 62,24
----------------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Berdasarkan data yang
tertera pada Tabel 8 dapat disimpulkan bahwa, sebahagian besar pekerjaan yang
dilakukan secara bergotong royong oleh masyarakat Pedesaan kecamatan Sukajaya adalah membersihkan
lingkungan, hanya sebahagian kecil kegiatan gotong royong untuk membersihkan
Meunasah di desa masing-masing dan sedikit sekali kegiatan gotong royong yang
jenis pekerjaannya adalah membuat atau melebarkan jalan atau lorong.
Tabel 9
Ada Tidaknya Pembagian Lokasi Gotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban :
f : %
----------------------------------------------------------------------
a. :
Ada : 98 : 100,00
b. :
Tidak : - : -
----------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Data pada Tabel 9 dapat
disimpulkan bahwa, kegiatan gotong royong yang diselenggarakan oleh masyarakat
Pedesaan Kecamatan Sukajaya selalu ada
pembagian lokasi, ini berarti perencanaan gotong royong itu sendiri telah baik,
disamping itu dapat menghindarkan bertumpuknya tenaga yang berlebihan pada
suatu bahagian gotong royong.
Tabel 10
Cara Pembagian Lokasi Untuk Bergotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban
: f :
%
---------------------------------------------------------------------
a. :
Antar Lorong : 85 : 86,73
b. :
Antar dusun : 13 : 13,27
---------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 :100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Berdasarkan data yang
terdapat pada Tabel 10 dapat disimpulkan bahwa, sebahagian besar cara pembagian
lokasi dalam bergotong royong pada masyarakat Pedesaan Kecamatan Sukajaya adalah melakukan gotong
royong di lorong masing-masing, sedikit sekali pembagian lokasi gotong royong
dengan cara mengambil lokasi di dusun masing-masing.
Tabel 11
Ikut Tidaknya Seluruh Warga Masyarakat
Dalam Bergotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban
: f :
%
----------------------------------------------------------------------
a. :
Ada : -
: -
b. :
Tidak : 98 : 100,00
----------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Tabel 11 dapat disimpulkan
bahwa, ketika gotong royong dilaksanakan di Pedesaan Kecamatan Sukajaya ternyata tidak semua warga
masyarakat mau berpartisipasi, masih ada warga masyarakat yang kurang menyadari
arti pentingnya gotong royong.
Tabel 12
Penyebab Kurangnya Partisipasi Masyarakat
Dalam Bergotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban :
f : %
------------------------------------------------------------------------------
a. :
Pemilihan waktu gotong royong
pada hari-hari kerja : 14 : 14,29
b. :
Kurangnya kesadaran masyarakat : 84 :
85,71
------------------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Berdasarkan data yang
tertulis pada Tabel 12 dapat disimpulkan bahwa, bahagian terbesar penyebab
kurangnya partisipasi warga masyarakat untuk bergotong royong adalah kurangnya
kesadaran pada diri masyarakat Pedesaan Kecamatan Sukajaya, hanya sebahagian
kecil kurangnya partisipasi masyarakat untuk bergotong royong yang bersamaan
dengan hari untuk melaksanakan pekerjaan rutin.
Tabel 13
Semangat Tidaknya Masyarakat Dalam
Bergotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban : f : %
---------------------------------------------------------------------
a. :
Ya : 18 : 18,37
b. :
Tidak : 80 : 81,63
---------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Berdasarkan data yang
tertulis pada Tabel 13 dapat disimpulkan bahwa, sebahagian besar anggota
masyarakat di desa Kecamatan Sukajaya dalam melakukan gotong royong selalu
dalam semangat rendah, hanya sebahagian kecil anggota masyarakat dalam
melakukan gotong royong dengan semangat yang tinggi.
Tabel 14
Ada Tidaknya Faktor Penyebab Menipisnya
Semangat Gotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban :
f : %
-------------------------------------------------------------
a. :
Ada : 80 :
81,63
b. :
Tidak : 18 :
18,37
-------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Berdasarkan data yang
tertulis pada Tabel 14 dapat disimpulkan bahwa, sebahagian besar warga
masyarakat mempunyai sebab sehingga menipisnya semangat gotong royong, dan
hanya sebahagian kecil saja warga masyarakat yang mempunyai semangat dalam
melaksanakan gotong royong.
Tabel 15
Faktor Penyebab Menipisnya Semangat
Gotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban :
f :
%
-----------------------------------------------------------------------------
a. :
Kurangnya dorongan kepala desa
terhadap pelaksanaan gotong-royong : 30 : 30,61
b. :
Kurangnya partisipasi dari masy : 40 : 40,82
c. :
Tidak adanya jadwal yang tepat dalam
pelaksanaan gotong royong : 28 : 28,57
-----------------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Tabel 15 dapat disimpulkan
bahwa, bahagian terbesar penyebab menipisnya semangat gotong royong pada
masyarakat di Pedesaan Kecamatan
Sukajaya adalah kurangnya partisipasi dari masyarakat itu sendiri, faktor kedua
yang menyebabkan menipisnya semangat gotong royong adalah kurangnya dorongan
dari kepala desa terhadap pelaksanaan gotong royong. Sementara itu faktor
terakhir yang menyebabkan menipisnya semangat warga masyarakat dalam bergotong
royong adalah tidak adanya jadwal yang tepat dalam pelaksanaan gotong royong.
Tabel 16
Jenis Hambatan Dalam Melaksanakan
Gotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban : f : %
----------------------------------------------------------------------
a. : Kurangnya alat untuk bergotong
royong : 9 :
9,18
b. : Tidak adanya dorongan dari
anggota masyarakat : 47 :
47,96
C. :
Terbatasnya waktu : 42 :
42,86
-----------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98 : 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Berdasarkan data yang
tertulis pada Tabel 16 dapat disimpulkan bahwa, sebahgian terbesar hambatan
dalam melaksanakan gotong royong pada masyarakat di Pedesaan Kecamatan Sukajaya adalah tidak adanya
dorongan dari anggota masyarakat, jenis hambatan yang kedua adalah terbatasnya
waktu yang digunakan dalam bergotong royong, sementara jenis yang terakhir
adalah kurangnya alat untuk bergotong royong.
Tabel 17
Ada Tidaknya Kesulitan Mengumpulkan Warga
Masyarakat Dalam Bergotong Royong
=========================================================
No :
Alternatif Jawaban
: f :
%
------------------------------------------------------------------------
a. :
Ada : 89 : 90,82
b. :
Tidak : 9 :
9,19
------------------------------------------------------------------------
Jumlah : 98
: 100,00
=========================================================
Sumber; Hasil penelitian setelah diolah April 2015
Tabel 17 dapat disimpulkan
bahwa, pada umumnya dalam setiap kegiatan gotong royong diselenggarakan oleh
masyarakat di Pedesaan Kecamatan
Sukajaya terdapat kesulitan, namun ada juga pada saat gotong royong tertentu
yang tidak susah mengumpulkan warga masyarakat akan tetapi sedikit sekali yang
demikian itu.
3. Pengujian Hipotesis
Penelitian ini mengajukan
tiga hipotesa adapun hipotesa tersebut adalah sebagai berikut :
- Hipotesa pertama
Terdapat cara pelaksanaan gotong royong dalam kehidupan
masyarakat pedesaan di desa kecamatan Sukajaya. Menguji
hipotesa hipotesa pertama dapat dilihat hasil analisa data tabel berikut yaitu
: Tabel 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dan Tabel 10. Hasil
analisa tabel-tabel tersebut menunjukkan bahwa ada cara yang dilakukan
masyarakat dalam kegitan gotong royong di pedesaan kecamatan Sukajaya. Analisa Tabel tersebut, hipotesa yang
pertama dapat diterima kebenarannya.
- Hipotesa kedua
Ada yang menyebabkan menipisnya semangat gotong royong
dalam kehidupan bermasyarakat pedesaan. Menguji
hipotesa kedua ini melalui analisa tabel-tabel berikut yaitu : Tabel 11, 12,
13, 14, dan 15. Hasil
analisa tabel-tabel tersebut membuktikan bahwa sudah manifisnya semangat gotong
royong dalam kehidupan masyarakat dipedesaan di Kecamatan Sukajaya. Berdasarkan hasil analisa tabel
tersebut, hipotesa kedua yang dirumuskan dapat diterima kebenarannya.
- Hipotesa ketiga
Ada hambatan yang ditemui
masyarakat dalam pelaksanaan gotong royong. Menguji hipotesa ketiga dapat dilihat
hasil analisa tabel-tabel berikut yaitu, tabel
16, 17. Hasil
analisa tabel-tabel tersebut menunjukkan bahwa terdapat hambatan dalam
pelaksanaan gotong royong. Analisa
tabel-tabel tersebut, hipotesa pertama dapat diterima benarannya
4. Analisis
Pembahasan Hasil Penelitian
a. Cara Masyarakat Melaksanakan
Kegiatan Gotong Royong
Setiap kegiatan gotong
royong yang akan dilaksanakan di dipedesaan kecamatan Sukajaya selalu didahului
oleh rapat atau dengan bahasan yang lain dapat dikatakan bahwa, tidak ada
gotong royong yang tanpa mengadakan rapat terlebih dahulu. Adanya rapat untuk
membicarakan kegiatan gotong royong dan
pembagian tugas atau kelompok rapat diatur sedemikian rupa sehingga
tujuan gotong royong dapat dicapai.
Upaya melibatkan masyarakat untuk bergotong royong
adalah dengan membebaskan siapa saja yang mau ikut, kemudian dengan
mengharapkan kesadaran sendiri serta
berupaya menanamkan kesadaran kepada masyarakat tentang manfaat gotong
royong maupunu upaya mewajibkan seluruh masyarakat untuk bergotong royong
merupakan usaha yang paling sedikit dilaksanakan untuk melibatkan semua
masyarakat bergotong royong.
Kegiatan gotong royong yang
diselenggarakan pada hari minggu, karena hari minggu merupakan hari libur.
Kegiatan gotong royong yang dilaksanakan oleh masyarakat Pedesaan Kecamatan Sukajaya berlangsung kurang dari
tiga jam. dilakukan waktu yang singkat agar masyarakat termotivasi untuk
melakukan kegiatan gotong royong.
Pekerjaan yang dilakukan secara bergotong
royong oleh masyarakat Pedesaan
kecamatan Sukajaya adalah membersihkan lingkungan, hanya sebahagian
kecil kegiatan gotong royong untuk membersihkan Meunasah di desa masing-masing
dan sedikit sekali kegiatan gotong royong yang jenis pekerjaannya adalah
membuat atau melebarkan jalan atau lorong.
Kegiatan gotong royong yang
diselenggarakan oleh masyarakat Pedesaan
Kecamatan Sukajaya selalu ada pembagian lokasi, ini berarti perencanaan
gotong royong itu sendiri telah baik, disamping itu dapat menghindarkan
bertumpuknya tenaga yang berlebihan pada suatu bahagian gotong royong.
Cara pembagian lokasi dalam
bergotong royong pada masyarakat Pedesaan
Kecamatan Sukajaya adalah melakukan gotong royong di lorong
masing-masing. Kegiatan gotong royong dilaksanakan di Pedesaan Kecamatan Sukajaya ternyata tidak semua warga
masyarakat mau berpartisipasi, masih ada warga masyarakat yang kurang menyadari
arti pentingnya gotong royong.
Penyebab kurangnya
partisipasi warga masyarakat untuk bergotong royong adalah kurangnya kesadaran
pada diri masyarakat Di desa Kecamatan Sukajaya. Masyarakat pedesaan Kecamatan
Sukajaya dalam melakukan gotong royong selalu dalam semangat rendah, hanya
sebahagian kecil anggota masyarakat dalam melakukan gotong royong dengan
semangat yang tinggi.
b. Faktor yang Menyebabkan
Menipisnya Semangat Gotong Royong
Masyarakat memiliki alasan
serta mempunyai sebab sehingga
menipisnya semangat gotong royong, dan hanya sebahagian kecil saja warga
masyarakat yang mempunyai semangat dalam melaksanakan gotong royong. Penyebab
menipisnya semangat gotong royong pada masyarakat di Pedesaan Kecamatan Sukajaya adalah kurangnya
partisipasi dari masyarakat itu sendiri, faktor kedua yang menyebabkan menipisnya
semangat gotong royong adalah kurangnya dorongan dari kepala desa terhadap
pelaksanaan gotong royong. Sementara itu faktor terakhir yang menyebabkan
menipisnya semangat warga masyarakat dalam bergotong royong adalah tidak adanya
jadwal yang tepat dalam pelaksanaan gotong royong.
c. Hambatan Dalam Melaksanakan
Gotong Royong
Hambatan dalam melaksanakan
gotong royong pada masyarakat di Pedesaan
Kecamatan Sukajaya adalah tidak adanya dorongan dari anggota masyarakat,
jenis hambatan yang kedua adalah terbatasnya waktu yang digunakan dalam
bergotong royong, sementara jenis yang terakhir adalah kurangnya alat untuk
bergotong royong. Adalagi hambatan bahwa pada umumnya dalam setiap kegiatan
gotong royong diselenggarakan oleh masyarakat di Pedesaan Kecamatan Sukajaya terdapat kesulitan adalah
mengumpulkan masyarakat, namun ada juga pada saat gotong royong tertentu yang
tidak susah mengumpulkan warga masyarakat akan tetapi sedikit sekali yang
demikian itu.


Komentar
Posting Komentar
Komentar