HADIS-HADIS MAKANAN BERGIZI DAN APLIKASI TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA
Bagian II
HADIS-HADIS MAKANAN BERGIZI DAN APLIKASI TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA
Ajaran Islam menganjurkan
kepada para pemeluknya agar senantiasa
memelihara kesehatan dan kekuatan, serta memperhatikan kesehatan dan
keselamatan anggota tubuh. Selain itu, ajaran Islam juga menganggap bahwa
perhatian terhadap kesehatan dan olah raga merupakan bagian dari pendidikan
seorang muslim dalam kehidupan. Akhir-akhir ini berbagai departemen dan lembaga
kesehatan dunia mulai memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan umat manusia.
Meskipun dalam sebagian aspek telah mencapai keberhasilan, namun masih banyak
kekurangan dalam pencapaian target dan ketidak mampuan untuk mencapai taraf
kesehatan yang layak untuk umat manusia.[1]
Rasulullah Saw telah menjadikan kesehatan dan
kesejahteraan sebagai suatu tuntutan agama yang selayaknya diidam-idamkan dan
diharapkan oleh seorang muslim, sebagaimana dalam doa beliau yang selalu
dibaca:
حَدَّثَنِي أَبُوْ هُرَيْرَةِ أَنَّ النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: قَالَ ( وَكُلُّ بِهِ سَبْعِيْنَ مَلَكَا فِيْمَنِ
قَالَ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفُّوَ وَالْعَافِيَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ
رَبَنَا آتِنِا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ قَالُوْا آمِيْنِ ).[2]
(رواه إبن ماجه).
Artinya: Diceritakan
oleh Abu Hurairah r.a, Nabi Saw.
bersabda: “Dikatakan semua tujuh puluh
para malaikat berkata: “Ya Allah ya Tuhanku, aku memohon ampun dan
kesejahteraan kepada-Mu, baik di
dunia maupun akhirat dan peliharalah kami siksa azab neraka amin.” (H.R Ibn Majah).
Islam telah menyerukan
kepada pemeluknya agar selalu memperhatikan kesehatannya dalam segala hal, baik
dalam makanan, minuman, pakaian, penampilan, tempat tinggal, maupun ketika
bepergian.
Selain itu, Islam juga menetapkan beberapa peraturan bagi
pemeliharaan yang bersifat pribadi dan umum, serta menjadikannya sebagai suatu
syariat, agar seorang muslim dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Rasulullah
Saw juga menyerukan kepada setiap muslim agar dapat mencapai peringkat orang
mukmin yang kuat dan sehat, sebagaimana hadits Nabi yang berikut:
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ
يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ
مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ). [3] (رواه مسلم).
Artinya: Telah menceritakan Abdullah bin Idris,
dari Rabi’ah bin Uthman, dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari al-A’raji,
dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw berkata: “Seorang mukmin yang kuat lebih
baik dan lebih dicintai Allah Swt.
daripada orang mukmin yang
lemah.” (H.R Muslim).
Islam
telah berupaya untuk mengarahkan setiap orang muslim agar dapat menjaga dan
memelihara hak badannya dengan cara mengkonsumsi makanan yang halal serta
bergizi bagi menjaga kebersihan secara
menyeluruh, dan berobat kepada seorang dokter ketika tertimpa suatu penyakit,
sesuai dengan hadits Nabi Saw:
حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا.[4] (رواه النسائي).
Artinya: Diceritakan
Hussen, dari Yahya bin Abi Kasir dari Abi Salamah bin Abdul Rahman dari
Abdullah bin Umar berkata Rasulullah Saw: “Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak
atas dirimu dan sesungguhnya kedua matamu juga mempunyai hak atas dirimu.”
(H.R. Nasa’i).
Dengan kedatangan Sunnah Nabi yang suci dan hadits-hadits
yang mulia melalui Rasulullah Saw untuk mengokohkan penelitian-penelitian
ilmiah yang muncul semua ini merupakan hikmah kenabian Rasulullah yang jauh
lebih dulu daripada para ahli kedokteran atau pengkaji di Barat maupun di Timur
di sepanjang zaman.[5]
Dalam Hadits Ibnu Umar, Rasulullah Saw, bersabda:
حَدَّثَنَا
سُلَيْمَانِ بْنُ حَرْبِ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَدِيِّ بْنِ
ثَابِتٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ
فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ.[6](رواه البخارى).
Artinya: Diceritakan
Sulaiman bin Harbi, Diceritakan Syu’bah dari Adiyyu bin Shabit dari Abi Haazam
dari Abi Hurairah r.a berkata Rasulullah Saw: Seorang mukmin makan dengan satu
usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus. (H.R. Bukhari).
Hadits Nabi ini kemudian dibuktikan dalam penemuan bahwa
pembentukan anatomi usus adalah terdiri dari tiga usus perut yang memiliki tiga
usus halus yaitu: 1. Usus 12 jari (al-Itsna’asyr), 2. Usus halus kosong,
jejunum (al-Saim) dan 3. Ujung usus halus atau ileum (al-lifaify).
Sedangkan usus keras terdiri dari usus: 1. Usus buntu (al-a’war), 2.
Usus besar (al-Qulun) dan dubur, dan 3. Anat (al-Mustaqim). Maka
keenam usus tersebut ditambah satu usus yang disebut al-Ma’idat
merupakan usus ketujuh, dan semua ini telah dihitung jumlahnya oleh Rasulullah.
sejak 14 abad yang lalu.[7] Dalam hadits
lain, yang penting dicermati adalah ketika Nabi berkata kepada Aisyah dalam
hadits di bawah ini:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ
قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ طَحْلاَءَ عَنْ أَبِى الرِّجَالِ
مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُمِّهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صلى الله عليه وسلم- « يَا عَائِشَةُ بَيْتٌ لاَ تَمْرَ فِيهِ جِيَاعٌ أَهْلُهُ
يَا عَائِشَةُ بَيْتٌ لاَ تَمْرَ فِيهِ جِيَاعٌ أَهْلُهُ أَوْ جَاعَ أَهْلُهُ ». قَالَهَا
مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا.[8] (رواه مسلم).
Artinya: Telah menceritakan Abdullah bin Maslamah
bin Qa’nab, Diceritakan Ya’qub Ibnu Muhammad, Ibni Thalaa’ dari Abi Rijal Ibni
Muhammad Abdul Rahman dari Ummi dari Aisyah berkata Rasulullah Saw: “Wahai Aisyah bahwa rumah yang tiada kurma di
dalamnya adalah kelaparan bagi penghuninya. Lalu Nabi berkata lagi, “Bahwa
rumah yang tiada kurma di dalamnya adalah kelaparan bagi penghuninya.” Hingga
Nabi mengatakan kalimat yang sama sampai tiga kali.” (H.R. Muslim).
Penelitian
ini membuktikan bahwa kurma mengandung banyak kebaikan. Yang mengagumkan adalah
bahwa pabrik-pabrik Amerika memproduksi kurma yang di bungkus dalam bahan
pecahan kaca kecil, untuk di jadikan sejenis obat, dan diperuntukkan kepada
para buruh sebagai penambah gizi dan pencegahan berbagai penyakit, seperti
tekanan darah tinggi dan penambah nafsu makan, dan menambah stamina bekerja.
A. Nama-Nama Makanan Bergizi
Menurut As-Sunnah
1.
Madu
حَدَّثَنَا مَحْمُوْدُ
بْنُ خَدَاشِ. حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ زَكْرِيَاءِ اَلْقُرَشِي . حَدَّثَنَا اَلزُّبِيْرُ
بْنُ سَعِيْدُ الهْاَشِمِيُّ عَنْ عَبْدِ الْحُمَيْدُ بْنُ سَالِمْ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةِ
قَالَ, قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: ( مَنْ لُعَقِّ الْعَسَلِ
ثَلاَثِ غُدْوَاتِ كُلِّ شَهْرٍ لَمْ يُصِبَهُ عَظِيْمُ مِنَ اْلبَلاَءِ ). (رواه إبن ماجه).
Artinya: Telah
menceritakan Mahmud bin Khaddaash.
Diriwayatkan Said bin Zakaria al-Quraish. Diceritakan Al-Zubair bin Sa'id
al-Hashimi dari Abdul Hamid
Bin Salem dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah
Saw berkata : Barangsiapa meminum tiga sendok madu dalam tiga pagi
saja setiap bulan, niscaya ia tidak akan terkena penyakit berat.[9] (H.R Ibn Majah).
Madu
adalah cairan yang keluar dari perut lebah dan mengandung obat serta gizinya
yang menyembuhkan bagi manusia. Allah Swt, berfirman:
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ
أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
(68) ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ
مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي
ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (69). (النحل: 68-69).
Artinya: Dan Tuhanmu
menginspirasi lebah: "Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung dan di
pepohonan, dan juga di bangunan-bangunan yang didirikan oleh manusia. kemudian
makanlah dari Segala jenis bunga-bungaan dan buah-buahan (yang Engkau sukai ),
dan ikutilah jalan-jalan peraturan Tuhanmu Yang diilhamkan dan dimudahkannya
kepadamu ". (dengan itu) akan keluarlah dari Dalam badannya minuman (madu)
yang berbeda warnanya, yang memiliki penawar bagi manusia (dari berbagai
penyakit). Sesungguhnya pada yang demikian itu, ada tanda (kekuasaan Allah)
bagi orang-orang yang memikirkan. (Q.S Al-Nahl:
68-69).
Dengan kekuasaan Allah Swt, madu beraneka jenis dan warnanya tergantung
makanan yang dikonsumsi lebah. Ada madu merah, madu putih, madu kuning, madu
beku, madu cair, dan lain-lain. Rasanya pun berbeda-beda sesuai dengan tempat
hidup lebah.[10]
Unsur-unsur yang terdapat dalam madu adalah sebagai
berikut:
Air 16,09%, Protein 0,3%,
Frucktosa 41%, Glukosa 34%, Sukrosa 1,9%, Nitrogen 0,04%, Karbon 0,81%, Dextrin
1,7%, Zat lainnya 3,4%. Hampir seluruh vitamin yang dibutuhkan tubuh manusia
terkandung dalam madu seperti:
Vitamin A, Vitamin B1,
Vitamin B2, Vitamin B3, Vitamin B5, Vitamin B6, Vitamin D, Vitamin K, Vitamin
E, Vitamin H.
Vitamin-vitamin di atas adalah vitamin yang sangat
dibutuhkan oleh tubuh manusia. Vitamin yang terdapat dalam madu cepat diserap
dengan mudah dalam waktu satu jam. Madu terkenal sebagai salah satu makanan
atau minuman yang bergizi yang dapat memulihkan kesehatan dan menyembuhkan
berbagai penyakit.[11] Penyembuhan
dengan madu termasuk dalam pola pengobatan cara Nabi (Thibbun Nabawi)
yang memiliki karakteristik menyakinkan, ilahiah, pasti dan memiliki nilai
ibadah (ta’abbudi). Keyakinan terhadap pola makan ala Nabi merupakan faktor
penting dalam proses kesehatan atau penyembuhan. Bisa jadi ada orang yang tidak
bisa mengambil manfaat dari pola makan atau pengobatan cara Nabi karena tidak
meyakini kebenaranya.[12]
Seperti Al-Qur’an yang diibaratkan sebagai obat berbagai
penyakit yang ada dalam hati (jiwa manusia). Apabila Al-Qur’an tidak diterima
dengan sepenuh hati, keyakinan, dan ketundukan, maka ia tidak akan menyembuhkan
penyakit dalam hatinya. Maka jelaslah bahwa Al-Qur’an dan Hadits menyatakan
madu penyembuh bagi manusia.[13]
Maka dengan tanda-tanda kebesaran-Nya inilah, orang-orang
yang berfikir akan berkesimpulan bahwa hanya Allah-lah yang dapat melakukan
semua itu. Dia-lah Rabb Yang Mahakuasa, Mahabijaksana, Maha Mengetahui,
Mahamulia lagi Maha Pengasih.
2.
Habbatus Sauda'
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بَكِيْرُ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ
عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِى أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ
رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ فِى الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ
شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ السَّامَ ». وَالسَّامُ الْمَوْتُ. وَالْحَبَّةُ السَّوْدَاءُ
الشُّونِيزُ. (رواه البخارى).
Artinya:
Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al
Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu
Salamah dan Sa'id bin Musayyib bahwa Abu Hurairah telah mengabarkan kepada
keduanya, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Dalam habbatus sauda' (jintan hitam) terdapat obat dari segala penyakit
kecuali kematian." Ibnu Syihab berkata; "Maksud dari kematian adalah
maut sedangkan habbatus sauda' adalah pohon syuniz."[14] (H.R.
Bukhari).
Habbatus Sauda’ adalah buah tanaman rumput-rumput
yang tumbuh tahunan, dan termasuk dalam famili anemone. Tanaman ini
tumbuh di lembah Laut Tengah, dan dibudidayakan di berbagai belahan dunia. Nama
ilmiahnya adalah nigella sativa. Namun,
ia memiliki nama-nama lokal di berbagai negara.
Di Mesir tanaman ini dikenal dengan nama Habbah Barakah, di Syam dengan
nama Quzhah, di Yaman dengan Qahthah, di Moroko dengan nama Sanuj,
Sinuj, dan Zarrarah. Sementara di Persia(Iran), tanaman ini dikenal
dengan nama Syuniz, Syiniz, atau Siyahdanah. Habbatus Sauda’
adalah biji belah, hitam, beraroma tajam, dan biasa digunakan sebagai salah
satu bumbu yang ditambahkan pada makanan untuk menyedapkan rasa.[15]
Habbatus Sauda’ juga telah dikenal oleh masyarakat Mesir
Kuno, Arab, dan Parsi. Mereka menyebutkan bahwa habbatus sauda’ memiliki
manfaat yang besar dalam mengobati berbagai macam penyakit, seperti gangguan
sistem pernapasan, termasuk salesma, radang tenggorokan, dan bronkitis dan
lain-lain. Baru-baru ini telah dibuktikan bahwa habbatus sauda’ dapat
menyembuhkan berbagai macam penyakit lain, seperti asma, tekanan darah tinggi,
gangguan sistem pencernaan (seperti gangguan usus besar kronis), dan beberapa
penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti liver dan sebagainya.
Tidak ada seorang pun pada masa lalu yang menyadari bahwa
habbatus sauda’ memiliki hubungan yang sangat erat dengan sistem kekebalan
tubuh, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits Rasulullah Saw, bahwa di
dalamnya terkandung gizi dan obat bagi segala macam penyakit selain kematian.
Hasil penelitian yang dibuat dan terbukti bahwa habbatus
sauda’ mengandung minyak tetap dengan persentase 33% dan minyak yang mudah
menguap sebanyak 1,5%. Minyak habbatus sauda’ ternyata juga mengandung zat gizi
yang ampuh yang berfungsi menguatkan sistem kekebalan yang kemudian diberi
dengan nama ilmiah biji berkah (Nigella Sativa), yaitu zat gizi “nigellone”)
Berbagai penelitian membuktikan bahwa zat gizi nigellon
memiliki peran yang efektif dalam meningkatkan kemampuan pertahanan bagi sistem
kekebalan tubuh manusia. Fakta ini belum terjamah disiplin ilmu kecuali baru
pada beberapa dekade terakhir abad ke-20, pada hal Nabi Saw, telah
mengisyaratkannya empat belas abad yang silam bahwa tubuh manusia sangat
memerlukan zat gizi, hal ini karena, tanpa zat gizi yang cukup maka sistem
kekebalan tubuh manusia akan lemah.[16]
Kepeloporan
dan keakurasian ilmiah ini tidak mungkin bersumber dari selain wahyu langit, sehingga ia pun semakin
menegaskan kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad Saw, dan ketersambungannya
secara intens dengan wahyu yang tidak pernah putus. Allah Swt. berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ
عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4). (النجم: 3-4)
Artinya: “Dan tidaklah
yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya,” Beliau Nabi
Shallallahu’Alaihi Wasalam, sama sekali tidak mengucapkan sesuatu berdasarkan
hawa nafsu dan kepentingannya. “ Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala (kepadanya)”. Rasulullah
Shallallahu’Alaihi Wasalam. hanya mengatakan apa yang diperintahkan kepadanya
untuk disampaikan kepada manusia dengan sempurna apa adanya, tanpa penambahan
dan pengurangan. (Q.S. Al-Najm: 3-4).[17]
3.
Kurma
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا
سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجُوعُ أَهْلُ بَيْتٍ عِنْدَهُمْ التَّمْرُ. (رواه مسلم).
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah
bin Abdurrahman Ad Daarimi, telah mengabarkan
kepada kami Yahya bin Hassan, Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal
dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Tidak akan lapar penghuni rumah yang memiliki
kurma."[18]
( H.R. Muslim).
Rasulullah Saw sering kali menyebutkan tentang kurma dan
beliau menjelaskan tentang keutamaan dan khasiat buah ini, antaranya
sebagaimana yang telah dijelaskan pada hadits di atas. [19]
Kurma adalah jenis nutrisi yang baik, terutama bagi orang
yang makanan sehari-hariannya mengandung kurma seperti penduduk Madinah. Kurma
merupakan buah yang paling bergizi untuk badan manusia, karena mengandung
intisari panas dan kelembaban. Kurma merupakan buah-buahan yang bergizi dan
sekaligus makanan, sebagai obat dan minuman serta manisan.[20]
Komposisi buah kurma terdiri atas 70% zat gula, 20%
protein, dan 3% lemak. Buah kurma kaya dengan zat garam mineral yang
menetralisasi asam, seperti Kalsium, Potassium (unsur kimia yang halus dan
berwarna putih), dan zat besi. Buah kurma mengandung sejumlah vitamin A dan B.
Kurma kaya akan karbohidrat sehingga selain sebagai
“bahan bakar” tubuh, juga berfungsi mencegah terjadinya oksigen lemak yang
tidak sempurna sehingga menghasilkan bahan-bahan keton berupa asam
asentoasetat, aseton, dan asam beta-hidroksi-butiran, yang dibentuk dalam hati.
Selain itu, buah ini ternyata juga memuat berbagai zat
gizi lain seperti zat besi, vitamin B. Kurma juga mengandung banyak mineral
penting, seperti magnesium, potassium, kalsium, zinc, tembaga dan lain-lain.
4.
Susu
حَدَّثَنَا عَبْدُ الله حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ أَنَّا
عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنِيُّ عَمْرُ بْنُ أَبِي حُرْمَلَةُ عَنِ بْنُ عَبَّاسِ
قَالَ: دَخَلْتُ أَنَّا وَخَالِدُ بْنُ اَلْوَلِيْدً مَعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فَقُلْتُ مَا كُنْتُ لِأُوثِرَ بِسُؤْرِكَ عَلَيَّ أَحَدًا
فَقَالَ مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ طَعَامًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ
وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ
بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُجْزِئُ مَكَانَ الطَّعَامِ
وَالشَّرَابِ غَيْرَ اللَّبَنِ. (رواه أحمد
بن حنبل).
Artinya: Diceritakan Abdullah, Diceritakan Ismail dari
Ali bin Ziad Telah menceritakan Umar bin Abi Harmalah dari Ibni Abbas berkata
telah masuk Khalid bin Awwalid dengan Rasulullah Saw, dan berkata: Barangsiapa diberikan rezeki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa makanan, maka
ucapkanlah, “Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah keberkahan pada makanan kami dan
berikanlah kami makanan yang lebih baik darinya.’ Barangsiapa diberikan minuman
berupa susu oleh Allah, maka ucapkanlah, ‘Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah keberkahan
pada minuman kami dan tambahkanlah’. Tidak ada suatu makanan dan minuman yang
dapat mencukupi kebutuhan kesehatan selain susu.[21] (H.R Imam Ahmad Bin Hambal).
Dalam riwayat Bukhari dan
Muslim disebutkan: Rasulullah Saw. pernah disuguhi satu mangkuk khamer (arak)
dan satu mangkuk susu pada malam Isra, lalu Nabi melihat keduanya dan beliau
mengambil susu. Jibril berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu
hidayah menuju fitrah. Jika saja engkau mengambil arak (khamer), niscaya
umatmu akan sesat.”
Sekalipun
susu rasanya biasa-biasa saja, tapi susu mengandung unsur-unsur yang murni dan
alami. Susu merupakan makanan alami yang keluar dari payudara hewan mamalia
tanpa tambahan apapun. Ia akan keluar setelah mamalia melahirkan.
Susu
mengandung 87.4% air. Ini adalah kadar yang tepat menjadi unsur-unsur lainnya
berbentuk lendir seperti protein atau berbentuk gumpalan seperti lemak atau
berbentuk larutan seperti garam laktosa. Sementara proses pembentukan susu
tidak mungkin terjadi, kecuali dalam bentuk cairan. Allah Swt berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ
شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ. (الأنبياء: 30).
Artinya: “Dan dari air Kami jadikan segala
sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?” Padahal mereka
menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, bahwa kemudian makhluk-makhluk
itu terjadi sedikit demi sedikit. Itu semua merupakan dalil atas adanya Rabb
yang membuat, yang melakukan, dan yang sengaja (menjadikannya). Dia Mahakuasa
atas segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. (Q.S. al-Anbiya: 30).[22]
Susu
juga mangandung unsur karbohidrat sebanyak 4,37%. Susu dianggap sebagai makanan
yang sempurna dilihat dari beberapa sisi. Para ahli menganggap susu sebagai
makanan utama yang kaya gizi karena mengandung gizi yang sangat dibutuhkan oleh
tubuh, juga kaya karbohidrat, lemak, dan protein disamping kaya vitamin dan garam mineral yang
bermacam-macam.[23]
5.
Zaitun
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوا بِهِ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ
مُبَارَكَةٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ لَا
نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ وَكَانَ عَبْدُ
الرَّزَّاقِ يَضْطَرِبُ فِي رِوَايَةِ هَذَا الْحَدِيثِ فَرُبَّمَا ذَكَرَ فِيهِ
عَنْ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُبَّمَا
رَوَاهُ عَلَى الشَّكِّ فَقَالَ أَحْسَبُهُ عَنْ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُبَّمَا قَالَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلًا حَدَّثَنَا
أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ مَعْبَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ
مَعَمَرٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ عُمَرَ. (رواه الترمذي).
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Musa, telah menceritakan kepada kami
Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari Umar bin Al
Khaththab ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya (pergunakan untuk
selain makan), karena dia dihasilkan dari pohon yang diberkahi." Berkata
Abu 'Isa: Ini merupakan hadits yang tidak kami ketahui kecuali dari haditsnya
Abdurrazzaq dari Ma'mar, dan Abdurrazzaq mengalami Idlthirab dalam meriwayatkan
hadis ini, terkadang dia menyebutkan dari Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dan terkadang meriwayatkannya dengan ragu-ragu dengan berkata,
"Pekiraan saya, diriwayatkan dari Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam." Atau ia berkata: "Dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara mursal. Telah menceritakan kepada kami
Abu Dawud Sulaiman bin Ma'bad, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari
Ma'mar dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
semisalnya, namun di dalam sanadnya ia tidak menyebutkan; Dari Umar.[24] (H.R. Turmizi).
Zaitun (sebagai buah) dan minyak zaitun telah disebut
dalam Al-Qur’an sebanyak tujuh kali. Allah pun pernah bersumpah dengan
menggunakan media zaitun pada salah satu dari ketujuh tempat tersebut (Demi
buah tin dan buah zaitun), padahal Allah adalah zat yang tidak butuh sumpah.
Allah juga mengisyaratkan pohon zaitun dengan isyarat yang indefinitive dalam
firman-Nya:
وَشَجَرَةً
تَخْرُجُ مِنْ طُورِ سَيْنَاءَ تَنْبُتُ بِالدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِلآكِلِينَ. (المؤمنون:
20).
Artinya: Dan (Kami juga menumbuhkan untuk kamu) pokok
Yang asal tumbuhnya di kawasan Gunung Tursina (pohon zaitun), Yang mengeluarkan
minyak dan lauk bagi orang-orang Yang makan. (Q.S. Al-Mu’minum: 20(.
Oleh karena itu, minyak zaitun ini mengandung nilai
kesehatan yang tinggi sekali, dan sudah diketahui bahwa minyak zaitun memainkan
peran penting dalam mencegah terjadinya oksidasi kolesterol. Karena minyak zaitun
mengandung zat gizi vitamin dan senyawa Polyphaenolic Compounds yang dapat
mencegah terjadinya oksidasi spontan lemak. Oleh karena itu, pohon zaitun
adalah pohon yang bertahan hidup cukup lama dan mengandung banyak manfaat bagi
manusia baik minyaknya, daun, kayu, maupun buahnya, minyak zaitun juga dapat
berfungsi sebagai lauk, pemberi cita rasa, dan penambah selera.
Unsur-unsur yang terkandung dalam buah zaitun adalah zaitun
mengandung 67% air, 23% minyak, 5% protein, 1% garam mineral, terutama garam
kalsium dan besi. Buah ini juga mengandung beberapa jenis vitamin. Karena buah
ini mengandung minyak, sehingga mengandung unsur-unsur vitamin A, D dan E,
ketiganya biasa ada pada minyak. Zaitun termasuk buah yang memiliki fungsi
kesehatan,karena mengandung vitamin B dan C.[25]
Mahasuci Zat yang telah memuji zaitun dan minyaknya dalam
ayat-ayat muhkam Alquran, bersumpah dengannya, serta mengilhami nabi terakhir
dan penutup para rasul-Nya untuk membicarakan fakta ilmiah ini yang baru
diketahui dimensi-dimensi kebenarannya pada akhir dekade 80-an abad ke-20. Pada
hal Nabi Saw telah mengutarakannya pada 14 abad silam dengan sabda: Makanlah
zaitun, dan berminyaklah dengan, dengannya, sesungguhnya ia diberkahi (atau
dari pohon yang diberkahi).[26]
6.
Daging
حَدَّثَنَا اَلْعَبَّاسِ
بْنُ اَلْوَلِيْدً اَلْخِلاَلِ اَلدَّمْشِقِي . حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صًالِحً .
حَدَّثَنَي سُلَيْمَانِ ابْنُ عَطَاِء َالْجَزَرِيُّ. حَدَّثَنِيُّ
مُسَلَّمَةُ بْنُ عَبْدِ اللهُ الجَهَنِيُّ عَنْ عُمِّهِ أَبِي مُشَجَّعَةِ عَنْ أَبِي
اَلدَّرْدَاءِ قَالَ, قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ ( سَيِّدُ طَّعَامِ أَهْلُ
الدُّنْيَا وَأَهْلُ الْجَنَّةِ اَلْلَّحْمِ ). (رواه إبن ماجه).
Artinya: Diceritakan al-Abbas bin Al-Walid al-Khalal
al-Damsyiqi. Diceritakan
Yahya bin Saleh.
Diceritakan Sulaiman Ibnu Atha’i al-Jazari. Diceritakan Musalamah bin Abdullah al-Juhani untuk mendorong pamannya
Abu Darda berkata:
Rasulullah Allah semoga
Allah memberkati dia dan memberinya damai “Rajanya makanan
penduduk dunia dan penduduk syurga adalah
daging.”[27] (H.R. Ibn Majah).
Daging hewan merupakan satu-satunya sumber protein yang
cukup memadai, karena di dalamnya mengandung asam amino utama yang dapat
membangun jaringan tubuh dan otot. Protein nabati tidak dapat mengimbangi
unsur-unsur yang ada dalam protein hewani. Protein hewani satu-satunya makanan
yang dapat memberikan imunitas pada tubuh dan dapat menyerang bakteria juga
mikroba. Oleh karena itu, jika kekurangan protein hewani ini, maka tubuh akan
memiliki daya tahan yang lemah dan mudah terkena penyakit.[28]
Daging yang paling baik adalah yang sedikit unsur
minyaknya. Oleh karena itu, bagian pundak
dan lengan merupakan bagian yang paling baik, paling enak, paling lembut
dan mudah untuk dicerna. Dalam riwayat Bukhari Muslim juga disebutkan bahwa
Nabi Saw. menyukai bagian ini.[29] Dan
unsur-unsur kandungan gizi yang terdapat dalam daging adalah sebagai berikut: air
dengan kandungan sekitar75% berat timbangannya, protein garam mineral khususnya
fosfat potasium dengan bekas dari garam sodium, kels, maniza seperti zat
pemerah butiran darah merah yang terdiri dari zat besi, lemak, vitamin A,
vitamin B1, vitamin B2, Asam Nikotinat, Besi, Fosfor.[30]
7.
Ikan
حَدَّثَنَا
أَبُو مُصْعَبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ
وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ). (رواه إبن ماجه).
Artinya: Diceritakan Abu Musab
al. Diriwayatkan oleh Abdul Rahman bin
Zaid bin Aslam
dari-Nya ayah Umar
bin Abdullah bahwa
Rasulullah perdamaian Allah atas dia berkata: “Dihalalkan untuk
kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai adalah ikan dan belalang,
sedangkan dua darah adalah hati dan limpa. “[31] (H.R Ibn Majah).
Ikan yang terbaik adalah yang paling lezat rasanya.
Ukurannya sedang tipis kulitnya dagingnya tidak keras dan tidak kering, di
samping itu juga ikan tersebut hidup dalam air tawar yang mengalir dan subur,
mengonsumsi tumbuh-tumbuhan, bukan kotoran. Tempat yang terbaik untuk ikan
adalah dalam sungai yang berair baik, ada batu-batu karang tempat ikan tersebut
bersembunyi, berpasir, di air-air yang tawar dan tidak penuh kotoran serta
tidak terlalu panas, tidak banyak berombak dan bergelombang, di samping juga
terbuka sehingga terkena udara dan sinar matahari.
Ikan laut memang baik, lembut dan nikmat. Yang masih
segar bersifat dingin dan lembab, justeru memberikan campuran gizi yang baik. Ikan
laut muda menyuburkan tubuh, menambah hormon serta bisa memperbaiki sistem
pencernaan yang panas.[32]
Adapun ikan asin yang terbaik adalah yang baru saja
diasinkan. Sifatnya panas dan kering. Semakin lama semakin kering dan semakin
panas. Bila masih dalam keadaan segar, ikan dapat melemaskan otot perut, dan
bisa membersihkan saluran pernapasan hingga paru-paru serta memperindah suara.
Dan bisa berkhasiat mengeluarkan Amnio serta ampas makanan dari dalam tubuh
melalui energi penghisap yang dimilikinya.[33]
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir bin
Abdullah, diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Nabi Saw pernah mengutus tiga ratus pengendara dengan Abu Ubaidah bin
Al-Jarrah sebagai pemimpinnya di antara kami. Sampailah kami di sebuah pantai. Kami
merasa lapar sekali sehingga kami terpaksa menyantap apa saja. Tiba-tiba seekor
ikan besar terlempar dari laut ke arah kami, yakni yang dikenal sebagai ikan
paus. Selama setengah bulan kami menyantap ikan tersebut, bahkan kami
menjadikan lemaknya sebagai lauk pula sehingga tubuh kami menjadi kuat. Abu
Ubaidah mengambil salah satu tulang rusuk ikan tersebut, lalu beliau
memboncengkan seorang lelaki di atas untanya sementara tulang itu beliau
tancapkan sehingga beliau lewat di sampingnya.[34]
8.
Cendawan
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا
سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ
زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الْكَمْأَةُ مِنْ الْمَنِّ وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ. (رواه البخاري).
Artinya: “Telah
menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari
'Abdul Malik dari 'Amru bin Huraits dari Sa'id bin Zaid radliallahu 'anhu dia
berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Al Kam-at
(cendawan) adalah sejenis manna (sejenis makanan yang diturunkan Allah Ta'ala
kepada Bani Israil), airnya mengandung obat bagi penyakit mata."[35] (H.R. Bukhari).
Hadits ini diriwayatkan
oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (Kitab Tafsir Al-Quran), dengan
redaksi sebagai berikut. Kami mendapat hadits dari Abu Nu’aim, tuturnya: Kami
mendapat hadis dari Sufyan, dari Abdul Malik, dari Amru bin Huraits, dari Sa’id
bin Zaid ra. Ia mengatakan: Rasulullah Saw, bersabda: Cendawan termasuk anugerah, dan airnya
dapat menyembuhkan (sakit) mata.
Imam Muslim juga meriwayatkan
hadis ini dalam Shahih-nya dari Sa’id bin Zaid r.a Tuturnya: Saya mendengar
Rasulullah Saw. bersabda: Cendawan termasuk anugerah, dan airnya
dapat menyembuhkan (sakit) mata. Hadits serupa dengan nash yang sama
diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi dari Abu Hurairah.
Cendawan yang dalam
bahasa Arabnya disebut Ram’ah (bentuk tunggalnya: Ram) adalah benjolan
jamur akar yang tumbuh dibawah tanah melalui simbiosis dengan akar tumbuhan
tertentu. Cendawan tumbuh dibawah tanah sampai kedalam 30 cm.
Cendawan merupakan
sumber protein penting di antara tanaman-tanaman gurun. Benjolan cendawan
mengandung 77% air dan 23% di antaranya terdiri dari berbagai macam zat, antara
lain: 60% karbohidrat, 7% lemak, 4% serat, 18% zat-zat protein, 11% sisanya abu
sisa pembakaran. Dalam protein cendawan diketahui ada 17 macam asam yang tidak
berbahaya.[36]
Pernyataan Rasulullah
Saw. bahwa cendawan adalah anugerah merupakan ungkapan
ekspresif bahwa cendawan tumbuh dengan sendirinya atas karunia dan anugerah
dari Allah Swt. Selain itu, cendawan juga tidak butuh bahan makanan benih atau
pengairan. Dari sinilah ia kemudian dianggap sebagai anugerah. Sedangkan pada
waktu sekarang pula, cendawan dapat tumbuh dengan menggunakan proses teknologi
modern, dengan mengambil anak keturunannya dan di tanam di tempat yang
ditentukan untuk penanaman anak benih di samping penggunaan baja yang
ditentukan untuk cendawan untuk proses pembesaran anak benih. Dari sinilah ia
kemudian dianggap sebagai anugerah dari Allah Swt.
9.
Buah Delima
حَدَّثَنَا جَعْفَرِ بْنُ مُحَمَّدُ عَنْ أَبِيْهِ
عَنْ عَلِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
قَالَ مَا مِنْ رُمَّانَةِ إِلاَّ وَفِيْهَا حَبَّةِ مِنْ رُمَّانِ الْجَنَّةِ. (رواه المذان).
Artinya: “ Telah
menceritakan kepada kami Ja'far bin Muhammad
dari ayahnya Ali ra
dengan dia bahwa
Nabi saw mengatakan.
Tidak
ada satu delima pun kecuali di dalamnya terdapat satu biji dari delima surga.”[37]
Delima termasuk dalam buah-buahan surga. Sebagaimana firman
Allah Swt:
فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ.
(الرحمن: 68)
Artinya: Pada keduanya juga terdapat
buah-buahan, serta pohon-pohon kurma dan delima. (Q.S. Al-Rahman: 68).
Untuk
pengetahuan manusia juga bahwa kulit buah delima mengandung asam tanic
atau Tannic acid. Asam ini merupakan unsur pengontrol. Unsur ini juga
terdapat dalam buahnya. Di samping unsur-unsur pengontrol, air buah delima juga
mengandung gula mentol dan jenis gula lainnya. Selain itu, buah ini juga kaya
unsur zat (gizi) besi.
Dan
kandungan gizi buah delima sangat penting bagi pembentukan sel darah merah.
Oleh karena itu, ia sangat bermanfaat bagi mereka yang kekurangan darah
(anemia).
Ibnu
Qayyim telah menyebutkan dalam kitab ِِAth-Thib An-Nabawi tentang buah delima ini: “Buah delima sangat
baik untuk pencernaan dan dapat menguatkannya. Berguna untuk tenggorokan, dada,
dan paru, sangat baik untuk mengobati batuk dan melancarkan buang air kecil,
menghilangkan panas pada hati, rasa asamnya bermanfaat untuk radang pencernaan.
Apabila daging dan buah ini dikeluarkan lalu dimasak sebentar saja dengan
ditambah madu, akan dapat digunakan sebagai obat gosok, celak untuk mata yang
kuning, menghilangkan kelembaban yang berlebihan. Dan apabila dioleskan pada gusi,
ramuan di atas dapat membersihkannya.
Biji
delima dan madu dapat digunakan untuk mengobati
luka di sekitar kuku atau pada luka yang bernanah. Oleh yang demikian
bahwa terbukti buah delima mempunyai gizi dan sangat butuh untuk membangkitkan
daya kesehatan tahan tubuh bagi setiap manusia.[38]
10. Buah Labu
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ أَبُو
كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ
ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ دَعَا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ
فَانْطَلَقْتُ مَعَهُ فَجِىءَ بِمَرَقَةٍ فِيهَا دُبَّاءٌ فَجَعَلَ رَسُولُ
اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْكُلُ مِنْ ذَلِكَ الدُّبَّاءِ وَيُعْجِبُهُ -
قَالَ - فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ جَعَلْتُ أُلْقِيهِ إِلَيْهِ وَلاَ أَطْعَمُهُ.
قَالَ فَقَالَ أَنَسٌ فَمَا زِلْتُ بَعْدُ يُعْجِبُنِى الدُّبَّاءُ. (رواه مسلم).
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Kureb
Diceritakan Abu Osama
dari Sulaiman bin Al-Muqirah dari sa’bit Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Pada suatu ketika,
seorang sahabat pernah mengundang Rasulullah SAW. Lalu saya pun pergi berangkat
bersama beliau. Kemudian Rasulullah dihidangkan kuah sayur berisi labu. Maka
beliau memakannya dan sangat menyukainya. Melihat hal itu, saya pun memberikan
bagian kuah sayur labu saya kepada beliau dan saya tidak memakannya.
Selanjutnya Anas berkata, “Setelah kejadian itu, maka saya pun menyukai labu.”[39] (H.R. Muslim).
Labu
bersifat dingin dan lembab, bisa memberikan suntikan gizi ringan, mudah masuk
ke dalam perut, meskipun belum rusak sebelum dicerna, bisa menimbulkan ampas
yang baik. Dia antara khasiatnya adalah memberikan serat yang baik serasi dengan
vitamin yang dikandungnya. Kalau dimakan dengan biji sawi atau jintam hitam,
bisa menimbulkan rasa pedas. Bila dicampur garam, bisa menimbulkan ampas asin.
Bila dicampur dengan unsur yang mengikat, bisa melahirkan ampas yang mengikat.
Kalau dimasak dengan sejenis jambu-jambuan, bisa memberikan suntikan gizi yang
amat baik terhadap tubuh.[40]
Labu
air termasuk suku timun-timunan yang bergizi tinggi karena ia mengandung
vitamin A. Labu mengandung 90,7% air, 0,02% lemak, 1,1% protein, 6,45% zat
tepung, dan 1,73% karbon. Selain itu, labu air juga mengandung zat besi dan zat
kapur.[41]
11. Bubur Gandum(Talbinah)
حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ
عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا
مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ
إِلَّا أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِينَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ
صُنِعَ ثَرِيدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِينَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّي
سَمِعْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ التَّلْبِينَةُ
مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيضِ تَذْهَبُ بِبَعْضِ الْحُزْنِ). (رواه البخاري).
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, tuturnya: Kami mendapat hadits dari
Al-Laits; dari Uqail; dari Ibnu Syihab; dari Urwah; dari Aisyah ra.; bahwasanya
jika ada salah seorang anggota keluarganya yang meninggal dunia, lalu para
wanita berkumpul kemudian bubar (ke rumah masing-masing), kecuali keluarga dan
orang-orang terdekatnya, maka ia pun memerintahkan untuk mengambil seperiuk
bubur talbinah, lalu dimasak, kemudian dibuatlah remukan-remukan roti, lantas
dituangkanlah bubur itu keatasnya. Selanjutnya ia berkata, makanlah. Saya
pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Bubur talbinah dapat melegakan hati
orang yang sakit dan menghilangkan beberapa kesedihan.”[42] (H.R. Bukhari).
Talbinah atau talbin adalah bubur lembut
seperti susu, yang terbuat dari gandum yang dimasak dengan kulitnya sekaligus.
Dinamakan demikian karena menyerupai susu perahan, putih, dan lembut. Gandum
sendiri merupakan tanaman rumput yang berumur musiman.
Talbinah dapat membuat hati bahagia karena
kandungan khasiat atau unsur-unsur yang ada di dalamnya dan dapat membantu
memproduksi sel-sel saraf baru. Dengan kandungan gizinya, bubur gandum ini juga
dapat melepaskan dahaga, memperlancarkan air seni, mempermudahkan pencernaan,
dan bermanfaat untuk batuk, gatal tenggorokan, sesak nafas, mengeluarkan yang
ada dalam lambung, penyakit kandung kemih serta untuk menurunkan panas tubuh
secara umum, serta meningkatkan kekebalan tubuh.
Kadar karbohidratnya antara 60-66%, protein 9,7% hingga
15,57%, lemaknya 1,28%-2,66%, ini di samping seratnya memiliki kadar dan
sebagian asam,juga mengandung estrol. Dan memiliki manfaat kesehatan seperti
mengurangi kolesterol, mengurangi sakit penderita kanker usus, dan penyakit
lambung, diabetes, dan dapat menekan tekanan darah dan kadar lemak.[43]
Dan terapi penyembuhannya adalah dengan cara mengonsumsi
makanan yang bisa mengatasi ketidakseimbangan ini seperti bubur gandum yang kaya
akan zat-zat gizinya yang berguna untuk kondisi tubuh.[44]
12. Hulbah
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ اَلنَّضَرِ اَلْعَسْكَرِيُّ
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ
سَلَمَةْ اَلْخَبَائِرِيُّ حَدَّثَنَا عُتْبَةُ بْنُ اَلسُّكَنِ اَلْفُزَّارِيُّ حَدَّثَنَا
ثُّوْرِ بْنِ يَزِيْدُ عَنْ خَالِدُ بْنُ مَعْدَانِ عَنْ مُعَاذِ بْنُ جَبَلِ قَالَ
: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِيُّ
مَالَهَا فِي اَلْحُلْبَةِ لاَ سَتَرِدُهَا وَلَوْ بِوَزِنُهَا ذَهَبًا.[45] (رواه الطبرانى).
Artinya: Diceritakan
Ahmad bin Nadar idola tentera Sulaiman bin Salamah bin Al-Khabaairi, Uthabah
bin Al-Sakan, Al-Fazari Thor bin Yazid dari Khalid bin Ma'dan Maz bin Jabal
berkata: Nabi Saw, bersabda: Jikalau
umatku mengetahui (khasiat) apa yang terkandung di dalam hulbah, niscaya mereka
akan membelinya walaupun harus menimbangnya dengan emas. (H.R. Athabrani).
Hulbah adalah tanaman herbal biji-bijian yang
tergabung dalam ordo Rosales. Hulbah adalah tumbuhan rumput-rumputan,
daunnya bertumpuk (berangkai), berbulu, palmar, dan terdiri atas tiga rangkaian
(berbelah tiga). Hulbah memiliki buah kacang-kacangan (buncis) dan
bijiannya tidak memiliki indusbrem.
Istilah hulbah meliputi berbagai jenis
tanam-tanaman produksi, seperti kacang, kacang hijau, himmish (seperti kuaci),
kacang tanah, buncis, lentil (adas), turmus, kacang kedelai.
Hulbah memiliki banyak khasiat, antara lain
meningkatkan susu ibu yang sedang menyusui, (ASI), meningkatkan nafsu makan, melancarkan
pencernaan (susah buang air besar), mengobati segala macam peradangan, juga
dapat mengobati sakit persendian dan mengobati berbagai macam luka.
Hulbah juga dapat menyeimbangkan gula dalam darah.
Biji hulbah mengandung 29% materi protein, 6% minyak yang tetap dan
mengambang, juga memiliki kandungan vitamin B1 dan B2 yang tinggi, zat niasi,
asam pantonin, asam trigonellin, asam kolin, asam sabunin, zat diosganin, dan
amino bermethy tiga yang merupakan zat yang berperan dalam siklus bulanan pada
gadis-gadis baligh. Di samping masih banyak lagi sejumlah unsur lain,
seperti besi, fosfor, enzim, hormon, dan getah (gum).[46]
Fakta ilmiah tentang tanaman hulbah ini baru
benar-benar mengkristal pada abad ke-20 dan akhir-akhir ini, itupun masih secara
terbatas. Pertanyaannya adalah, siapakah yang mengajari Nabi Muhammad Saw, pengetahuan
ini, sehingga beliau menyabdakan hadits seperti itu jika bukan Allah Swt, siapakah
yang mendorong Nabi Saw mendalami pesoalan-pesoalan ilmiah yang tidak dikenal pada
masanya, dan pada masa-masa setelahnya seperti manfaat medis tanaman hulbah
jika hal itu bukan wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya, supaya manusia mendapatkan
faedah ilmu yang akan tetap terpelihara hingga hari kiamat, sebagai saksi atas
kenabian dan kerasulan bagi Nabi Muhammad Saw.
13. Buah Tin
حَدَّثَنَا اِبْنُ السِنىَ ، وَأَبُوْ نَعِيْمُ
، وَالدَّيْلَمِى عَنْ أَبِى ذَرِّ " كُلُّوْا اَلتِّيْنُ فَلَوْ قُلْتُ إِنَّ
فَاكِهَةٍ نُزُلَتْ مِنَ الْجَنَّةِ بَلاَ عَجْمِ لَقُلْتُ هِيَ اَلتَّيْنُ، وَإِنَّهُ
يَذْهَبُ بِالْبَوَاسِيْرُ وَيَنْفَعُ مِنَ النُّقْرَسِ". (رواه السُّيوطي،
جلال الدين).
Artinya: Diceritakan
Ibn al-Sunni dan Abu Na’im dan al-Daylami dari Abu Darda’ Radhiyallah hu anhu. Meriwayatkan
bahwasanya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam, bersabda: Seandainya saya boleh mengatakan bahwa sesungguhnya
ada buah yang turun dari surga, maka saya akan mengatakan (itu adalah) buah
tin, karena buah surga tidak berbiji buah. Makanlah buah tin, sesungguhnya ia
dapat menyembuhkan wasir dan mengobati encok.[47] (H.R.
al-Syuthi, Jalaluddin).
Pohon
Tin (Ficus carica) merupakan salah satu anggota tumbuh-tumbuhan yang bernama family
maraceae. Tin adalah tumbuhan yang gugur daunnya pada musim gugur dan
dingin. Tumbuhan ini tumbuh di Lembah Laut Tengah, khususnya di Turki dan
wilayah Syam (Suriah, Lebanon, dan Palestina). Pohon tin memiliki keistimewaan
dapat hidup di daerah kering dan dapat menyimpan air. Karena unsur susu yang
terkandung dalam senyawa (komposisi) buah tin dapat digunakan sebagai obat cuci
perut dan dapat juga digunakan sebagai penghilang kuntil. Sebagai buah, tin
adalah buah yang tersusun atas ratusan butir yang mengandung minyak segar,
memiliki rasa manis, dan dipenuhi dengan bulir-bulir biji.
Telah
terbukti melalui analisis kimiawi yang detail bahwa buah tin memiliki kandungan
kimia baik yang besar (sekitar 18,5%), kandungan maksimal karbohidrat termasuk
di dalamnya gula tunggal, komposisi tepung (53%), protein (3,6%), dan berbagai
macam garam yang berasal dari beberapa unsur seperti potassium, kalsium,
magnesium, fosfor, besi, tembaga, seng, belerang, sodium, klor, dan juga
berbagai macam vitamin, enzim, asam, serta beberapa, unsur pembersih, gel, dan
kandungan besar air.
Demikian
juga pada buah tin terdapat manfaat besar dalam mengobati wasir, senbelit,
encok, penyakit, dada, ganguan haid, epilepsi, borok mulut, radang gusi,
amandel tenggorokan, mengobati penyakit balak, menghilangkan kutil,
menyembuhkan luka dan borok, karena dalam buah tin terdapat unsur pembunuhan
kuman, antibakteria, antivirus, dan anticacing, selain itu juga terdapat unsur
yang dapat memperlancarkan susu.[48]
Dari
sini muncullah ketakjuban manusia pada
hadits Nabi Saw yang ditujukan kepada kita manusia, dan juga pada barakah,
manfaat, dan faedah yang banyak serta baik untuk keperluan makhluk dibumi lebih
lagi untuk manusia.
Oleh
itu, tidak mungkin bagi manusia yang berakal dapat menggambarkan pengetahuan
ini bersumber dari selain Allah Sang Pencipta yang telah mewahyukan pengetahuan
ini kepada penutup para Nabi Saw dan Rasul-Nya supaya memberi manfaat kepada
makhluk dan supaya menjadi saksi atas kenabian Nabi Saw, penutup ini.
14. Keju
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى الْبَلْخِىُّ حَدَّثَنَا
إِبْرَاهِيمُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَنْصُورٍ عَنِ الشَّعْبِىِّ عَنِ
ابْنِ عُمَرَ قَالَ أُتِىَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم- بِجُبْنَةٍ فِى تَبُوكَ
فَدَعَا بِسِكِّينٍ فَسَمَّى وَقَطَعَ. (رواه سنن أبى داود).
Artinya: Dari Ibnu Umar, dia berkata: Pada waktu
perang Tabuk, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
disuguhi keju, maka beliau meminta diberi pisau. Beliau lalu mengucapkan
bismillah dan memotongnya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh sangat
menyukai keju.”[49] (H.R. Abu Daud).
Rasulullah Saw. menyukai keju yang
terbuat dari susu sapi dan domba. Keju mengandung berbagai manfaat dan
keistimewaan yang biasanya terkandung juga dalam susu (87% air, 4% protein, 3%
lemak, 4% karbohidrat, dan 7% vitamin dan mineral). Keju juga mengandung energi
panas tinggi yang dihasilkan dari unsure lemak di dalamnya.
Keju sangat bermanfaat untuk
mengobati saluran darah, batuk-batuk, dan kanker. Namun, keju mengandung banyak
asam lemak yang dapat meningkatkan kolesterol dalam darah sehingga tidak
dianjurkan mengonsumsinya secara berlebihan.
Ibnu Qayyim menjelaskan, “Keju itu
bersifat panas dan basah. Di dalamnya terdapat berbagai manfaat. Di antara
manfaatnya adalah menyembuhkan kanker yang berada di dekat dua telinga, kanker
mulut, dan seluruh kanker yang menimpa wanita dan anak kecil. Keju juga
bermanfaat menyembuhkan perdarahan pada paru-paru.”[50]
Keju dapat melembutkan saraf dan
kanker keras yang terjadi pada empedu hitam dan beriak. Keju juga bermanfaat
menghilangkan dehidrasi pada tubuh. Jika keju itu dibalurkan ke gusi-gusi bayi,
niscaya hal itu akan membantu tumbuhnya gigi bayi. Keju pun berkhasiat
mengobati batuk yang disebabkan oleh flu serta menghaluskan kulit.[51]
15. Buah Anggur
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيْرٍ عَنِ
اْلأَوْزَاعِيِّ عَنِ يَّحْيَى بْنُ أَبِيْ عَمْرُوْ اَلشَّيْبَانِي عَنْ عَبْدُ
اللهِ بْنُ اَلدَّيْلَمِيِّ عَنْ أَبِيْهِ: اَنَّ أَبَاهِ أَوْ رَجُلاَ مِنْهُمْ سَأَلَ
النَِّبيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهُ وَسَلَّمْ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اَنَّا قَدْ
خَرَجْنَا مِنْ حَيْثُ عَلِمْتُ وَنَزَّلَنَا بَيْنَ ظَهَرَانِي مِنْ قَدْ عَلِمْتُ
فَمَنْ وَلِيِّنَا قَالَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّا كُنَّا
أَصْحَابِ كَرَمِ وَخَمْرُ وَاِنَّ اللهَ قَدْ حَرَمَ الْخَمْرُ فَمَا نُصَنْعِ بِالْكَرَمِ
قَالَ اِصَّنَعُوْهُ زَبِيْبَا قَاُلوْا فَمَا نُصَنْعِ بِالزَّبِيْبً قَالَ اِنَّقَعُوْا
فِيْ اَلشِّنَانِ اِنَّقَعُوْهُ عَلَى غَدَائِكُمْ وَاُشْرِبُوْهَ عَلَى عِشَائِكُمْ
وَاِنَّقَعُوْهِ عَلَى عِشَائِكُمْ وَاُشْرِبُوْهُ عَلَى غَدَائِكُمْ فَإِنَّهُ إِذًا
أَتَى عَلَيْهِ الْعُصْرَانِ كَانَ حَلاً قَبْلَ اَنْ يَكُوْنَ خَمْرًا. (رواه الدارمي).
Artinya: Muhammad bin Katsir
mengabarkan kepada kami dari Al-Auza’I, dari Yahya bin Abu Amr Asy-Syaibani,
dari Abdullah bin Ad-Dailami, dari ayahnya, bahwa ayahnya atau seorang pria
dari kalangan mereka bertanya kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami telah keluar dari tempat
yang telah engkau ketahui, kemudian kami singgah di tempat orang yang (juga)
telah engkau ketahui. (Jika demikian, siapakah yang menjadi wali kami?” Beliau
menjawab, “Allah dan Rasul-Nya.” Mereka berkata lagi, “Ya Rasulullah, dahulu
kami adalah orang-orang yang suka meminum anggur dan khamer, sementara Allah
telah mengharamkan khamer. Lalu apa yang (harus) kami lakukan dengan anggur?”
Beliau menjawab, “Jadikanlah ia anggur kering.” Mereka berkata, “Lalu, apa yang
(harus) kami lakukan dengan anggur kering.” Beliau menjawab, “Rendamlah ia di
dalam wadah yang besar. Rendamlah di waktu makan siang kalian, dan minumlah di
waktu makan malam kalian. Rendamlah di waktu makan malam kalian, dan minumlah
saat makan siang kalian. Sebab jika dia telah melewati dua waktu tersebut, maka
dia akan menjadi cuka (minuman fermentasi atau asam) sebelum menjadi khamer.”[52] (H.R. al-Darimi).
Anggur merupakan salah satu tanaman yang dikenal umat
manusia sejak lama. Menurut Thalbah,
anggur sudah dikenal sejak masa Nabi Nuh as. Tanaman yang berbuah manis dan
lezat itu tumbuh merambat ke atas, berlawanan arah dengan ujung kuncupnya, dan
searah dengan penopang anggur. "Anggur juga telah diketahui oleh orang-orang
kuno sebagai tanaman berkhasiat tinggi dan memiliki manfaat sangat banyak.
Kesimpulannya, anggur adalah salah satu buah yang paling banyak manfaatnya".[53]
Buah anggur ini, sangat baik untuk dimakan, baik ketika
masih segar ataupun sudah kering. Anggur merupakan buah yang mudah dicerna,
dapat menggemukan, dan dapat menyuplai gizi yang yang cukup. Anggur hijau
maupun merah memiliki khasiat yang sama, keduanya bisa dimanfaatkan untuk
menjadi buah, makanan, minuman, maupun sebagai obat.
Anggur dalam medis modern telah diteliti dan
ditemukan bahwa anggur mengandung potasium, mangan, kalsium, magnesium, sodium,
besi, khlor, fosfor, dan yodium dalam kadar tinggi. Anggur kaya dengan vitamin
A, B, dan C. juga mengandung 1 kilo dari 120-150 gram gula murni, kadarnya
bertambah 15% ketika anggur semakin masak. Unsur lain yang dikandung adalah
seperti ASI yang berfungsi sebagai makanan efektif, sudah mencukupi hanya
dengan mengonsumsinya dalam bulan-bulan pertama dari kehidupan bayi. Dengan
demikian, anggur dipandang buah-buahan yang sempurna dan kaya dengan
bahan-bahan gizi. Oleh karena itu, makanlah anggur maka setiap manusia akan
sehat dari penyakit.[54]
Hal senada juga dituturkan Ibnu Qayyim. Menurutnya,
anggur adalah salah satu buah-buahan yang memiliki banyak manfaat. "Anggur
adalah salah satu buah dari sekian banyak buah, salah satu makanan bergizi dari
sekian banyak makanan bergizi, salah satu obat dari sekian banyak obat, atau
salah satu minuman dari sekian banyak minuman," ungkap Ibnu Qayyim.[55]
Menurut peneliti, jus anggur harus segera diminum setelah
pembuatannya, karena jika didiamkan terlalu lama akan berubah menjadi arak yang
memabukkan. "Dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang
memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti," (QS Al-Nahl
(16) ayat 67).
Dari
beberapa penelitian diperoleh kesimpulan bahwa anggur adalah buah yang memiliki
banyak manfaat. Anggur sangat efektif dalam membangun, memperbaiki, dan
memperkuat sel-sel tubuh. Ia juga dapat mengobati sejumlah penyakit. Selain
mengobati anggur juga berfungsi untuk melindungi manusia dari serangan penyakit.[56]
Menurut penjelasan penulis menyangkut perkara diatas
adalah: Persoalan makan dan minum, tentu bukanlah masalah yang mudah untuk kita
fikirkan. Karena mengabaikan masalah ini, bisa mengkibatkan tubuh manusia di aliri
oleh darah dan daging yang tidak baik. Olehnya baik al-Quran maupun hadits
banyak menyentil masalah ini, sampai kepada etika atau adab bagaimana
seharusnya makan dan minum sehingga, apa yang dimakannya tidak saja, baik,
halal, bergizi, namun juga sesuai dengan tuntunan nabi Muhammad saw.
Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat kita ambil
beberapa poin penting yang dapat kita pelajari dan praktekkan dalam kehidupan
kita sehari-hari, antara lain: Seseorang yang melakukan sesuatu yang memulainya
dengan ucapan “Basmallah” senantiasa mendapat berkah dan perlindungan dari
Allah Swt terhadapnya.
Seseorang yang memegang makanan dalam keadaan tangan yang
bersih, niscaya akan terhindar dari penyakit yang tidak kita inginkan,
melakukan sesuatu dengan mendahulukan yang kanan, lebih khususnya dalam
melakukan kegiatan makan dan minum dengan menggunakan tangan kanan, dapat
membedakan tata cara hidup kita sebagai manusia dan tata cara iblis dalam
melakukan sesuatu.
Dari penbahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa kita
hidup di dunia ini semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah swt. Dan
segala sesuatu dimuka bumi ini di atur oleh Al-Qur’an dan hadits. Maka dari itu
apa yang telah di perintahkan kepada kita hendaklah kita melakukannya dan
apa-apa saja yang dilarang maka jauhila. Hal-hal tersebut dengan tujuan agar kita
terhindar dari kesesatan. Penjelasan dari
redaksi hadits-hadits di atas sangatlah jelas dan dengan penjelasan
tersebut kita dapat mengetahui apa yang bisa kita lakukan dan apa yang bisa
kita tinggalkan.
B. Pengertian Dan Hukum
Makanan Bergizi.
Kata “gizi” berasal dari bahasa
Arab, “al-Ghidza”, yang artinya zat makanan sehat.[57]
Untuk menjadi sehat, setiap orang mempunyai kebutuhan gizi yang berbeda-beda
tergantung pada usia dan kondisi tubuhnya. Jadi, anak balita berbeda kebutuhan
gizinya dengan anak usia 7 sampai 9 tahun. Orang yang kurus tidak sama kebutuhan
gizinya dengan orang yang gemuk. Seseorang perlu makan untuk menjaga agar
tubuhnya tetap melakukan segala proses fisiologis. Makanan berfungsi untuk
menjamin kelangsungan hidup karena ada yang berfungsi sebagai sumber tenaga,
pembangun, dan pelindung atau pengatur segala proses.
Bila seseorang salah dalam
mengkonsumsi makanan dapat menimbulkan dampak yang tidak baik. Makanan yang
dimakan sehari-hari hendaknya merupakan makanan seimbang, terdiri atas
bahan-bahan makanan yang tersusun secara seimbang baik kualitas maupun kuantitas untuk memenuhi syarat hidup
sehat.
Manusia diizinkan oleh Allah Swt.
untuk hidup di muka bumi ini dan melangsungkan kehidupannya. Untuk itu, manusia
memerlukan bahan-bahan asupan yang bisa dimanfaatkan. Manusia memerlukan
makanan. Dengan makanan yang ia makan, manusia memperoleh energi atau tenaga.
Bahan makanan yang dibakar dalam setiap sel hidup membangun tubuh kita.
Pembakaran dalam tubuh kita disebut oksidasi biologi. Di dalam proses oksidasi
ini, selain dihasilkan energi juga dihasilkan kalor untuk menjaga suhu tubuh
agar tetap stabil.
Yang dimaksud dengan makanan ialah
segala sesuatu yang dipakai atau yang dipergunakan oleh manusia supaya dapat
hidup. Zat makanan yang diperlukan oleh tubuh manusia meliputi karbohidrat,
lemak, protein, vitamin, mineral, dan air.[58]
Pengambilan makanan yang bergizi dan
seimbang senantiasa akan menghasilkan makanan yang sehat pula. Dan bila
seseorang manusia, mengkonsumsi makanan, maka hendaklah mereka mengikut dan berpandu
kepada hukum yang telah di syariatkan dalam Islam. Al-Qur’an dan hadits
Rasulullah Saw dan telah mengingatkan kaum muslim untuk menjaga dan memelihara
kesehatan dalam pola makanan, sebagaimana firman Allah Swt:
tûïÏ%©!$# cqãèÎ7Ft tAqß§9$# ¢ÓÉ<¨Z9$# ¥_ÍhGW{$# Ï%©!$# ¼çmtRrßÅgs $¹/qçGõ3tB öNèdyYÏã Îû Ïp1uöqG9$# È@ÅgUM}$#ur NèdããBù't Å$rã÷èyJø9$$Î/ öNßg8pk÷]tur Ç`tã Ìx6YßJø9$# @Ïtäur ÞOßgs9 ÏM»t6Íh©Ü9$# ãPÌhptäur ÞOÎgøn=tæ y]Í´¯»t6yø9$# ßìÒtur öNßg÷Ztã öNèduñÀÎ) @»n=øñF{$#ur ÓÉL©9$# ôMtR%x. óOÎgøn=tæ 4 úïÏ%©!$$sù (#qãZtB#uä ¾ÏmÎ/ çnrâ¨tãur çnrã|ÁtRur (#qãèt7¨?$#ur uqZ9$# üÏ%©!$# tAÌRé& ÿ¼çmyètB y7Í´¯»s9'ré& ãNèd cqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÎÐÈ
Artinya: "Yaitu
orang-orang yang mengikut Rasulullah (Muhammad s.a.w) Nabi yang Ummi, yang
mereka dapati tertulis (namanya dan sifat-sifatnya) di dalam Taurat dan Injil
yang ada di sisi mereka. Ia menyuruh mereka dengan perkara-perkara yang baik,
dan melarang mereka daripada melakukan perkara-perkara yang keji; dan ia
menghalalkan bagi mereka segala benda yang baik, dan mengharamkan kepada mereka
segala benda yang buruk.” dan ia juga menghapuskan dari mereka beban-beban dan
belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman
kepadanya, dan memuliakannya, juga menolongnya, serta mengikut nur (cahaya)
yang diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(Q.S. Al-A’raaf [7]: 157).
Sebagian ahli mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Yang
baik-baik” adalah yang baik untuk mereka, dan Allah menghalalkannya. Dan yang
dimaksud dengan “yang kotor dan keji” adalah yang kotor dan keji menurut
mereka, lalu Allah mengharamkanya.[59]
Sebagaimana firman Allah Swt. yang lain pula adalah:
$ygr'¯»t úïÏ%©!$# (#qãYtB#uä w (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& cqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 wur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJÏmu ÇËÒÈ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu makan (gunakan) harta-harta kamu sesama kamu dengan jalan yang salah
(bathil, tipu, judi dan sebagainya), kecuali dengan jalan perniagaan yang
dilakukan secara suka sama suka di antara kamu,” (Q.S. Al-Nisaa’[4]:29).
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya
orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka
itu hanyalah menelan api ke dalam perut mereka; dan mereka pula akan masuk ke
dalam api neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. An-Nisaa’[4]: 10).
Rasulullah Saw, juga bersabda:
حَدَّثَنَا عَبْدِ اللهِ بْنِ يُوْسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ
عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " لَا يَحْلُبَنَّ أَحَدٌ
مَاشِيَةَ امْرِئٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِ ، أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تُؤْتَى مَشْرُبَتُهُ
فَتُكْسَرَ خِزَانَتُهُ فَيُنْتَقَلَ طَعَامُهُ.(رواه البخارى).
Artinya: Telah menceritakan Abdullah bin Yusuf, Telah
menceritakan Malik dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar r.a dari Rasulullah Saw
berkata: “Janganlah seseorang di antara kalian memerah susu dari binatang
ternak milik saudaranya (orang lain) tanpa seizinnya. Apakah kalian suka
apabila tempat minum kalian dipecahkan lalu isinya dipindahkan ke tempat lain.”
(H.R. Bukhari).[60]
Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang muslim
berkomitmen pada prinsip tersebut, sebagai bentuk sikap kepatuhan kepada Allah Swt.
dan sunnah Rasulullah Saw atas segala bentuk makanan dan minuman yang
dihalalkan, dan menjauhkan segala bentuk makanan dan minuman yang diharamkan,
walaupun ia tidak mengetahui hikmah yang tersembunyi di balik semua itu.[61]
Walaupun demikian, seorang muslim yang taat dan patuh kepada
Allah akan mengetahui hikmah dan rahasia di balik pengharaman suatu makanan.
Tak dapat dipingkiri, bahwa ada beberapa alasan tentang makanan yang
diharamkan; mungkin karena kotor atau berbahaya bagi tubuh, akal, dan akidah
seseorang.
Ajaran Islam sangat memperhatikan kebaikan, kebersihan,
kesehatan dan kemudahan makanan untuk kaum muslim. Oleh karena itu, syariat
(ajaran) Islam memperbolehkan seorang muslim mengkonsumsi hewan, burung, ikan,
dan binatang buruan yang sesuai dengan seleranya. Akan tetapi syariat Islam
mengharamkan untuk mengkonsumsi bangkai, darah, daging babi, dan binatang buas
yang bertentangan tabiat manusia yang baik.
Syariat Islam juga memperbolehkan kaum muslim memakan
semua makanan yang baik dan enak, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian,
dan kacang-kacangan. Syariat Islam menegaskan, ada beberapa macam makanan halal
yang mengandung gizi dan vitamin yang sangat tinggi, di antaranya madu, kurma,
habbatu sauda’ (jenis biji-bijian), bawang putih, bawang merah, susu, cendawan,
hati, mentimun, minyak zaitun, dan air zamzam.[62]
Beberapa pola makan berdasarkan ajaran Islam antara lain
adalah:
1.
Membatasi jumlah dan kadar
makanan dengan baik,
Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا
الْوَلِيدُ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي
كَرِبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
كِيلُوا طَعَامَكُمْ يُبَارَكْ لَكُمْ.(رواه البخارى).[63]
Artinya: Telah
menceritakan Ibrahim bin Musa, Diceritakan Al-Walid dari Shur, dari Khalid bin
Ma’dan, dari al-Maqdam bin Ma’ad menceritakan bahwa Rasulullah Saw, berkata:
“Ukurlah (kadar) makanan kalian, maka kalian akan diberkahi.” (H.R.
Bukhari).
2.
Menghindari
pola makan yang mewah dan perhatian yang berlebihan terhadap penampilan makanan
tanpa mengetahui nilai gizinya.
Sebagaimana
Allah Swt, berfirman:
* ûÓÍ_t6»t tPy#uä (#räè{ ö/ä3tGt^Î yZÏã Èe@ä. 7Éfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uõ°$#ur wur (#þqèùÎô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) w =Ïtä tûüÏùÎô£ßJø9$# ÇÌÊÈ
Artinya:
“Wahai anak-anak adam! Pakailah pakaian kamu yang indah berhias pada
tiap-tiap kali kamu ke tempat ibadat (atau mengerjakan sembahyang), dan
makanlah serta minumlah, dan jangan pula kamu melampau; Sesungguhnya Allah
tidak suka akan orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al-A’raaf [7]:31).
Metode efektif lainnya adalah
berhenti makan sebelum kenyang, mengikuti pentunjuk Rasulullah Saw sehingga
tidak terjerumus kepada sifat serakah yang berlebihan. Sebagaimana sabda Rasulullah:
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِىُّ حَدَّثَنَا
الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ حَدَّثَنِى وَحْشِىُّ بْنُ حَرْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
جَدِّهِ أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ
إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ.(رواه أبي داود).[64]
Artinya: “Telah
menceritakan Ibrahim bin Musa al-Razi, telah menceritakan al- Walid bin Muslim,
telah menceritakan Wahsyin bin Harbin, dari bapanya, dari sahabat, Rasulullah
Saw, apabila makan beliau makan tidak sampai kenyang.” (H.R. Abu Daud).
Perut manusia diciptakan untuk menegakkan
tulang punggung karena mendapatkan asupan gizi yang cukup dari makanan yang ia
makan. Sedangkan bila ia memenuhi perutnya, maka hal ini berdampak merusak
agama dan dunianya. Penjelasannya sebagai berikut: Tidaklah seseorang biasa
memenuhi perutnya, kecuali bila ia telah dikuasai oleh sifat keserakahan dan
ambisi dunia. Dan kedua perangai ini berakibat buruk bagi pelakunya. Rasa
kenyang yang berkepanjangan, menjerumuskan pelakunya ke dalam kesesatan dan
menjadikannya merasa malas. Akibatnya ia selalu malas untuk beribadah, dan
tubuhnya dipenuhi oleh timbunan zat-zat yang tidak ia butuhkan. Bila telah
demikian, ia menjadi mudah marah, dikuasai syahwat birahi, dan ambisinya
menjadi meluap, sehingga iapun terobsesi untuk menumpuk harta benda yang tidak
ia perlukan."
Dari penjelasan tersebut jelaslah
bahwa memberikan waktu istirihat yang cukup bagi lambung untuk mencerna makanan
adalah cara yang efektif untuk memperbaiki kondisi tubuh.
C. Pandangan Islam terhadap Pentingnya Makanan
Bergizi bagi Kesehatan
Dalam pandangan Islam, menyangkut
makanan bergizi bagi kesehatan, merupakan salah satu karunia dan nikmat
terbesar, setelah nikmat keimanan yang dianugerahkan Allah Swt kepada manusia.
Karena, hanya orang yang sehat akal dan jasmani yang dapat belajar, bekerja,
berjuang untuk memuliakan agama Allah Swt. memelihara kehormatan, harta benda,
dan tanah airnya, dan melaksanakan segala kewajiban agama dan urusan dunia
dengan sebaik-baiknya.[65]
Sementara orang yang sakit tidak
dapat melaksanakan segala kewajiban agama dan dunianya dengan baik. Oleh karena
itu, tidak mengherankan jika Rasulullah Saw memadukan nikmat keimanan dengan
kesehatan dalam sebuah hadits yang berbunyi:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ
إِبْرَاهِيمَ عَنْ يُونُسَ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا
النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ لَمْ يُعْطَوْا فِي الدُّنْيَا خَيْرًا مِنْ الْيَقِينِ وَالْمُعَافَاةِ
فَسَلُوهُمَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ . (رواه أحمد).
Artinya: Telah menceritakan Ismail bin Ibrahim,
dari Yunus dari Hassan bahwa Abu Bakar r.a berbicara berkata Rasulullah Saw: “Umat
manusia di dunia tidak diberikan nikmat yang lebih baik daripada keyakinan
(keimanan) dan kesehatan. Maka mohonlah keduanya kepada Allah Azza Wa Jalla.”
(H.R. Ahmad).[66]
Islam
telah mengingatkan kaum muslim agar jangan lalai dan lengah dalam memanfaatkan
kesehatan dengan baik-baiknya. Rasulullah Saw bersabda:
أَخْبَرَنَا الْمَكِّيُّ
بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ هُوَ ابْنُ سَعِيدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ
يُحَدِّثُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِنَّ الصِّحَّةَ وَالْفَرَاغَ نِعْمَتَانِ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ مَغْبُونٌ
فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ. (رواه الدارمى).
Artinya: Telah menceritakan al-Makiyyu bin Ibrahim,
diceritakan Abdullah bin Sa’id, mendengar ayahnya dari Ibni Abbas, berkata
Rasulullah Saw: “Dua nikmat yang sering diabaikan umat manusia adalah nikmat
sehat dan waktu luang.” (H.R. Al-Darimi).[67]
Islam
telah menyeru kaum muslim untuk meraih manfaat kesehatan sebelum terlambat dan
sebelum datang serangan penyakit. Rasulullah Saw, bersabda:
حَدَّثَنَا عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ، أَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ ، عَنْ زِيَادِ بْنِ الْجَرَّاحِ
، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ الأَوْدِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله
عليه وسلم لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ : اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ
قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ
قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ (رواه الشهاب).[68]
Artinya: Telah menceritakan Abdullah bin al-Mubaaraq,
diceritakan Jaa’far bin Barqan dari Zi’ad bin Jarah, dari Amru bin Maimun
al-Audyyu, berkata Rasulullah Saw: “Raihlah lima hal sebelum datangnya lima
hal, yaitu masa mudamu sebelum datangnya masa tuamu, kesehatanmu sebelum datang
sakitmu, dan masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang
masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang ajalmu. (H.R. al-Syihab).
Kesadaran
tentang kesehatan makanan bergizi dalam ajaran Islam bersifat universal dan
global. Oleh sebab itu, semua kaum muslim; tua dan muda, lelaki dan perempuan
pasti akan dapat mengetahuinya dengan mudah. Hal itu disebabkan, kesehatan
dalam ajaran Islam saling berkait dengan kewajiban, etika, dan petunjuk syariat
Islam yang di bawa oleh Rasulullah Saw.[69]
Di
antara permohonan seorang hamba kepada Allah Swt. adalah memohon supaya
dilimpahkan kesehatan dan kesejahteraan selama hidupnya. Oleh karena itu, tidak
mengherankan jika kita sering menemukan doa-doa yang berasal dari Rasulullah,
seperti sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِى نَضْرَةَ عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ جِبْرِيلَ
أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ فَقَالَ
« نَعَمْ ». قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ
كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ.(رواه مسلم).
Artinya: Telah menceritakan Abdul Aziz, bin Suhaib
dari Abi Nadharah, dari Abi Sa’id bahwa Jibril datang kepada Nabi Saw. dan
berkata wahai Muhammad, beliau Menjawab “Ya” dan berkata Rasulullah Saw: “Ya
Allah ya Tuhanku, berikanlah kesehatan pada tubuhku. Ya Allah ya Tuhanku,
berikanlah kesehatan pada pendengaranku. Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah
kesehatan pada penglihatanku.” (HR. Muslim).[70]
Penjelasannya sebagai berikut: Islam memandang pentingnya
makanan bergizi bagi manusia adalah dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang
bergizi maka setiap anggota tubuh akan selalu sehat dan memperoleh energi yang
luar biasa dan tidak mudah terkena serangan penyakit, bahkan dapat melaksanakan
amal ibadah kepada Allah Swt dengan sempurna dan tanpa sebarang gangguan.
D. Syarat-Syarat Pengambilan Makanan Sehat
Apabila
kita makan, makanan pertama kali dicerna di dalam mulut, dengan cara dikunyah.
Makanan di haluskan kemudian didorong ke lambung dengan gerak peristaltik. Di
dalam lambung zat makanan diproses dengan bantuan pepsin, kemudian dicerna
dengan bantuan enzim pencernaan. Enzim tersebut adalah yang berfungsi mencerna
zat pati atau karbohidrat yang terkandung dalam sesuatu makanan terutama yang
bergizi.
Setelah
mempelajari fungsi makanan dan jenis bahan makanan, maka sekarang dapat disusun
syarat-syarat yang harus dipenuhi zat makanan. Makanan yang sehat adalah
makanan yang banyak mengandung gizi. Makanan sehat dan bergizi yaitu makanan
yang tidak mengandung kuman penyakit dan tidak boleh bersifat meracuni tubuh
serta lezat rasanya. Syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:
a.
Harus
cukup mengandung kalori.
b.
Protein,
vitamin, garam mineral dan air.
c.
Perbandingan
yang baik antara sumber karbohidrat, protein dan lemak.
d.
Mudah
dicerna oleh alat pencernaan.
e.
Bersih,
tidak mengandung bibit penyakit, karena hal ini tentu akan membahayaan
kesehatan tubuh serta tidak bersifat racun bagi tubuh.
f.
Jumlah
yang cukup tidak berlebihan. Serta tidak terlalu panas pada saat disantap.[71]
Mengapa
jumlah makanan yang disantap seseorang tidak boleh berlebihan? Apabila kita
makan berlebihan, maka sisa bahan makanan yang tidak digunakan untuk
pertumbuhan, pemeliharaan sel, dan
energi akan berubah menjadi lemak.
E. Manfaat Makanan Bergizi
Untuk
menjelaskan manfaat makanan bergizi bagi tubuh manusia, yaitu adalah sebagai
sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Manfaat makanan satu sebagai
sumber zat tenaga, dapat diibaratkan seperti bensin yang diperlukan oleh mobel
untuk bisa dijalankan. Manusia harus makan agar memiliki energi untuk bergerak,
bekerja, belajar, berpikir, dan sebagainya.
Manfaat
makanan yang kedua sebagai sumber zat pembangun, dapat digambarkan sebagai
tanaman yang perlu pupuk agar dapat tumbuh menjadi suatu pohon yang besar dan
kokoh. Jadi manusia perlu makanan supaya dapat tumbuh. Makanan sumber zat
pembangun biasanya dalam pola makan kehidupan manusia termasuk golongan
lauk-pauk, kacang tanah, telur, ikan, daging, dan lain sebagainya.
Manfaat
makanan yang ketiga sebagai sumber zat pengatur, ibarat seorang polisi lalu
lintas yang mengatur semua kendaraan yang lewat agar teratur dan tertib. Maka
manusia memerlukan makanan supaya semua bagian tubuh, dapat melaksanakan
tugasnya secara baik dan teratur. Maka bahan makanan seperti sayur-sayuran dan
buah-buahan merupakan sumber zat pengatur yang utama untuk membangkitkan daya
tahan tubuh bagi setiap manusia.[72]
F. Etika
Islam dalam Hal Makanan dan Minuman
Islam
tidak hanya mengetengahkan prinsip dasar tentang sikap adil dan tidak
berlebihan dalam mengkonsumsi makanan dan minuman, tetapi ajaran Islam juga
menentukan jenis makanan yang baik untuk kesehatan tubuh manusia dan perilaku
sopan ketika menyantap makanan dan minuman.
Pada
prinsipnya, semua jenis makanan, baik yang berasal dari hewan, tumbuh-tumbuhan,
maupun dari buah-buahan, halal dan baik dikonsumsi, kecuali yang diharamkan
oleh agama. Allah Swt. berfirman:
$ygr'¯»t úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=à2 `ÏB ÏM»t6ÍhsÛ $tB öNä3»oYø%yu (#rãä3ô©$#ur ¬! bÎ) óOçFZà2 çn$Î) crßç7÷ès? ÇÊÐËÈ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! makanlah dari benda-benda Yang baik (yang
halal) yang telah Kami berikan kepada kamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika
betul kamu hanya beribadat kepadaNya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 172).
Begitu pula dengan minuman, karena
pada prinsipnya semua minuman halal, kecuali ada keterangan dari Al-Qur’an atau
hadits Nabi yang mengharamkannya. Namun ada beberapa yang termasuk kategori
minuman haram karena dapat merusak kesehatan tubuh dan memabukkan, sehingga
dapat merusak akal yaitu semua minuman yang memabukkan karena mengandung
alkohol, dan sesuatu yang dihisap, seperti rokok, ganja, dan syisyah (cerutu
besar dari Turki dan telah memasyarakat di kalangan Negara Arab).[73]
Selain itu, Rasulullah Saw telah
memberikan suri teladan dan bimbingan yang baik kepada kaum muslim dalam hal
menyantap makanan dan minuman secara baik dan sopan. Petunjuk dan bimbingan
Rasulullah Saw diantaranya:
Rasulullah menyuap makanan ke mulut
dalam ukuran kecil. Setelah itu beliau mengunyahnya berulang-ulang, lalu
barulah menyuap makanan yang lain. Ketika hendak menyantap makanan, Rasulullah
duduk dalam posisi yang sopan dan serius antaranya:
Membaca Basmalah Ketika Hendak Makan
Sebagaimana sabdanya:
عَنْ جَابِرِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا
دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ
الشَّيْطَانُ لاَ مَبِيتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ
عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ
اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ ».[74]
(رواه مسلم).
Artinya: Dari Jabir
bin Abdullah, bahwasanya dia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda,
“Apabila seseorang masuk ke dalam rumahnya, lalu ia menyebut nama Allah ketika
masuk dan ketika menghadapi makanannya, maka syetan akan berkata kepada
teman-temannya, ‘Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada pula makan malam untuk
kalian. Tetapi, sebaliknya, apabila ia masuk ke dalam rumah tanpa menyebut nama
Allah pada waktu masuknya, maka syetan pun akan berkata, ‘Kalian mendapatkan
tempat bermalam.’ Dan apabila ia tidak menyebut nama Allah pada saat menghadapi
makanannya, maka syetan pun akan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam
dan sekaligus makan malam. (H.R Muslim).
Berwudhu
Sebelum Dan Setelah Makan
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا قَيْسٌ عَنْ
أَبِى هَاشِمٍ عَنْ زَاذَانَ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قَرَأْتُ فِى التَّوْرَاةِ أَنَّ
بَرَكَةَ الطَّعَامِ الْوُضُوءُ قَبْلَهُ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله
عليه وسلم- فَقَالَ « بَرَكَةُ الطَّعَامِ الْوُضُوءُ قَبْلَهُ وَالْوُضُوءُ بَعْدَهُ) [75].رواه ألترمذي).
Artinya: Telah menceritakan musa bin
Ismail, Diceritakan Qais dari Ibnu Hasyim dari Za’adan dari Sulman berkata:
Rasulullah Saw, beliau selalu menganjurkan untuk berwudhu sebelum dan selepas makan.” (H.R. Al-Turmizi).
Kemudian para ulama menafsirkan bahwa yang
dimaksud dengan berwudhu di sini adalah mencuci kedua tangan.
Rasulullah Juga Tidak Pernah Mencela Makanan,
Rasulullah juga tidak pernah mencela
makanan, sebagaimana sabdanya:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا
سُفْيَانُ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى حَازِمٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- طَعَامًا قَطُّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ
كَرِهَهُ تَرَكَهُ.(رواه البخاري).
Artinya:
Dari Abi Hurairah r.a Apabila suka, maka beliau langsung memakannya, tetapi
jika tidak suka maka beliau meninggalkannya. (H.R. Bukhari).
Makan Dengan Menggunakan Tangan Kanan
Rasulullah Saw juga makan dengan
menggunakan tangan kanan, sebagaimana sabdanya:
عَنْ
اِبْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
قَالَ « إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ
بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ ».[76]
(رواه مسلم).
Artinya:
Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah Saw telah besabda, “Apabila seseorang
di antaramu makan, maka hendaklah ia makan dengan menggunakan tangan kanannya;
dan apabila ia minum, maka hendaklah ia minum dengan tangan kanannya, karena
sesungguhnya syetan itu makan dan minum dengan tangan kiri.” (H.R. Muslim).
Menjilati Jari Jemari Dan Piring,
Rasulullah Saw selesai makan beliau
menjilat jari-jemari dan piring, sebagaimana sabdanya:
عَنْ جَابِرٍ
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِلَعْقِ الأَصَابِعِ وَالصَّحْفَةِ
وَقَالَ « إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِى أَيِّهِ الْبَرَكَةُ ».[77]
(رواه مسلم).
Artinya: Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, bahwasanya
Rasulullah Saw, telah memerintahkan kita untuk menjilati jari-jari dan nampan.
Selain itu, beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di mana
berkah tersebut ada.” (H.R Muslim).
Larangan Untuk Bernafas
Dalam Tempat Minum
Rasulullah
Saw ketika minum beliau selalu menarik nafas ketika minum. Dan melarang untuk
menghembuskan nafas di dalam tempat minum. Sebagaimana Sabdanya:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- يَتَنَفَّسُ فِى الشَّرَابِ ثَلاَثًا وَيَقُولُ « إِنَّهُ أَرْوَى وَأَبْرَأُ
وَأَمْرَأُ ». قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أَتَنَفَّسُ فِى الشَّرَابِ ثَلاَثًا.[78](رواه مسلم).
Artinya: Dari
Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasalam. selalu
menarik nafas sebanyak tiga kali ketika minum, seraya berkata, “Yang demikian
itu lebih segar, lebih sehat,dan lebih nyaman.” Anas berkata, “Maka saya pun
sering menarik nafas ketika minum sebanyak tiga kali.” (H.R. Muslim).
Kemudian
para ulama menafsirkan juga bahwa,
Rasulullah tidak pernah makan makanan yang sangat panas. Rasulullah melarang
untuk meniup makanan atau bernapas pada tempat makanan. Rasulullah selalu
menganjurkan untuk bersiwak (menyikat gigi dan mulut).[79]
Rasulullah menyuap makanan ke
mulutnya dengan menggunakan tiga jari. Kadang beliau juga menggunakan empat
jari, dan Rasulullah makan jika merasa lapar dan berhenti makan sebelum
kenyang.[80]
Menurut analisa penulis menyangkut
perkara diatas adalah, menerangkan dan memaparkan secara jelas tentang
orientasi kaum muslim dalam pola makan, yang biasanya terangkum dalam beberapa
kategori, diantaranya tidak berlebihan-lebihan, tidak perlu berpenampilan
mewah, memiliki corak yang beraneka ragam, mengkonsumsi makanan yang masih
segar, tidak serakah, dan menjalankan diet dengan berpuasa.
Apabila pola makan tersebut
diperhatikan dan dijalankan secara teratur, maka tubuh pasti memperoleh
elemen-elemen makanan utama yang sangat di butuhkannya, seperti protein,
karbohidrat, vitamin, garam, dan air dengan baik. Selain itu. Jika elemen-elemen
tersebut dapat direalisasikan dan diterapkan secara baik dengan metode yang
seimbang, maka tidak akan menimbulkan kerusakan apapun. Oleh karena itu makanan
yang seimbang senantisa akan menghasilkan makanan yang sehat pula. Al-Qur’an
telah mengingatkan kaum muslim untuk menjaga dan memelihara kesehatan dalam
pola makanan. Ajaran Islam sangat memperhatikan kebaikan, kebersihan,
kesehatan, dan kemudahan makanan untuk kaum muslim. Maka setiap amal ibadah
dapat dikerjakan dengan sempurna mengikut petunjuk Rasulullah Saw. berpandukan
al-Qur’an dan hadits Rasulullah Saw.
[1] Hamdun Hasan
Ruqaith, ar-Ri’ayah as-Shihhiyyah Wa ar-Riyaadhiyah Fi al-Islam, Terj.
Imron Rosadi, S.Ag, Cet. 1, (Jakarta: Najla Press, 2004), hal. 19.
[2]
Abu
Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majar Ar-Rabi’i Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah,
Jilid. 2, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), hal. 985.
[3] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn
al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid. 8, (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah,
1334 H), hal. 56.
[4] Abu Abdur Rahman Ahmad bin Ali
bin Syu’aib Ibn Ali Ibn Sinan Ibn Bahar Al-Khurasani Al-Qadi, Sunan Nasa’I,
(Dar Kutub Al-Ilmiah, 1411-1991), hal. 176.
[5] Mahir Hasan Mahmud, Al-Thib
Al-Badil, Al-Tsimar Wa Al-A’syab Al-Waridat Fi Al-Qur’an Al-Karim Wa al-Sunnah
al-Nabawiyah, Terj. Hamzah Hasan, Lc, Cet.1, (Jakarta: Qultummedia, 2007),
hal. 6.
[6] Imam Abi Abdillah Muhammad bin
Ismail bin Ibrahim Ibn Al-Mugirah bin Bardizbah Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, (Beirut: Dar Ibnu Katsir Al-Yamamah, 1407-1987), hal. 2062.
[7] Mahir Hasan
Mahmud, Al-Thib Al-Badil…, hal. 6.
[8] Abu Al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid. 6, (Beirut: Dar Al-Jill, T.t), hal. 123.
[9] Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin
Majar Ar-Rabi’i Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, (Beirut: Dar al-Fikr,
1996), hal. 1142.
[10] Syaikh Shafiyyurrahman
al-Mubarakfuri, Al-Mishbaahul Muniir fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir,
Terj. Abu Ihsan al-Atsari, Cet. 2, (Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2006). hal.
213.
[11] Dr.Muhammad
Saqa Al-‘Id, Al-‘Ilaj Bi Al-Asal, Terj. Faisal Saleh, Lc, M.Si, Cet. 1,
(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hal. 7-8.
[13] Syaikh
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Al-Mishbaahul Muniir Fii Tahdziibi Tafsiiri
Ibnu Katsiir, Terj. Abu Ihsan al- Atsari, Cet. 2, (Bongor: Pustaka Ibnu
Katsir, 2006), hal. 216.
[14] Imam Abi
Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah
al-Bukhary, Shahih al-Bukhary, Jilid. 6, (Beirut: Dar Ibnu Katsir,
1987), hal. 2154.
[15] Zaghlul
An-Najjar, Al-I’Jaz Al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah al-Juz’u al-Awwal,
Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 120.
[16]
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1,
(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), hal. 342.
[17]Syaikh
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Al-Mishbaahul Muniir Fii Tahdziibi Tafsiiri
Ibnu Katsiir…, hal. 586.
[18] Abu al-Husayn
Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim,
Jilid. 6, (Beirut: Dar al-Jill, 204-261 H/ 820-875 M), hal. 123.
[19] Zaki
Rakhmawan, Kupas Tuntas Khasiat Kurma, Cet.1, (Bogor: Media Tarbiah,
2006), hal. 45.
[20] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), hal. 334.
[21] Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad
Imam Ahmad bin Hambal, Cet. 2, Jilid. 3, (Beirut: Mua’sasah al-Risalah,
1999), hal. 440.
[22] Syaikh Shafiyyurrahman
Al-Mubarakfuri, Al-Mishbaahul Muniir Fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir,…hal.
20.
[23] Abdul Basith
Muhammad As-Sayyid. at-Taghdziyah an-Nabawiyah Al-Ghadzan Baina ad-Daa Wa ad-Daw,
Terj. M. Abdul Ghaffar H.M. Iqbal Haetami, Lc. Cet. 1 (Jakarta: Al Mahira,
2006), hal. 154.
[24] Abu Isa Muhammad bin Musa bin
Ad-Dhahha’ Al-Sulmani Al-Tirmizi, Sunan Turmuzi, Jilid. 4, (Beirut: Dar
Ihya’ al-Tharasi al-Arabi), hal. 285.
[25] Abdul Basith Muhammad
As-Sayyid. at-Taghdziyah an-Nabawiyah al-Ghadzan
Baina ad-Daa Wa ad-Daw, Terj. M. Abdul Ghaffar H.M. Iqbal Haetami, Lc. Cet. 1 (Jakarta:
Al Mahira, 2006), hal. 144.
[26]Zaghlul an-Najjar,
al-I’Jaz al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah al-Juz’u al-Awwal, Terj.
Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 120, 173.
[27] Abu Abdullah Muhammad bin
Yazid bin Majar ar-Rabi’i Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, Jilid. 2 (Beirut:
Dar al-Fikr, 1996), hal. 1099.
[28]
Dr.
Abdul Basith Muhammad as-Sayyid. at-Taghdziyah an-Nabawiyah Al-Ghadzan Baina
ad-Daa Wa ad-Daw, Terj. M. Abdul Ghaffar H.M. Iqbal Haetami, Lc. Cet.1, (Jakarta:
Al Mahira, 2006), hal. 166.
[29] Ibnu Qayyim
Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1, (Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 1999), hal. 247-248.
[31] Abu Abdullah
Muhammad bin Yazid bin Majar Ar-Rabi’i Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah,
Jilid. 2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), hal. 1102.
[32] Ibnu Qayyim
Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1, (Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 1999), hal. 370.
[33] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, ath-Thib
an-Nabawi, Terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani, Cet. 1, (Jakarta: Griya Ilmu,
2004), hal. 359.
[34] Muhammad Nashiruddin Al Albani, Mukhtashar
Shahih Muslim, Terj. Subhan Imron Rosadi, Cet. 1, (Jakarta: Pustaka Azzam,
2008), hal. 101.
[35] Imam Abi Abdillah Muhammad
bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah al-Bukhary, Shahih
al-Bukhari, Jilid. 4, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), hal. 1627.
[36] Zaghlul An-Najjar, Al-I’Jaz
Al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah Al-Juz’u Al-Awwal, Terj. Zainal
Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 110.
[37] Ahmad bin Ali bin Hajar Abu
Al-Fadhil Al-Asqalani Al-Sya’fie, Lisan Al-Mizan, Jilid. 6, (Beirut:
Mua’sasah al-A’laami, 1986), hal. 23.
[38] Dr. Abdul Basith Muhammad al-Sayyid.
at-Taghdziyah an-Nabawiyah al-Ghadzan Baina ad-Daa Wa ad-Daw, Terj. M.
Abdul Ghaffar H.M. Iqbal Haetami, Lc. Cet. 1, (Jakarta: Al Mahira, 2006), hal.
150.
[39] Abu al-Husayn Muslim Ibn
Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid 6, (Beirut:
Dar al-Jill), hal. 121.
[40]Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, ath-Thib
an-Nabawi, Terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani, Cet. 1, (Jakarta: Griya Ilmu,
2004.), hal. 493.
[41] Indra Kusumah.
Panduan Diet Ala Rasulullah, Cet. 1, (Jakarta: Qultummedia, 2009), hal.
108.
[42] Imam Abi
Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn Al-Mugirah bin Bardizbah
Al-Bukhary, Shahih Al-Bukhary, Jilid. 5, (Beirut: Dar Ibnu Katsir,
1987), hal. 2067.
[43] Mahir Hasan
Mahmud. al-Thib al-Badil, al-Tsimar Wa al-A’syab al-Waridat Fi al-Qur’an
al-Karim Wa - al-Sunnah al-Nabawiyah, Terj. Hamzah Hasan, Lc, Cet.1 (Jakarta:
Qultummedia, 2007), hal. 144.
[44] Zaghlul An-Najjar, al-I’Jaz
al-‘Ilmly Fi as-Sunnah an-Nabawiyyah al-Juz’u al-Awwal, Terj. Zainal
Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 83.
[45] Sulaiman bin Ahmad bin Ayub Abu al-Qaasim At-Thabrani, Al-Mu’jam
al-Kabir, Jilid. 20, (al-Mausul: Maktabah al-Ulum, 1404-1983), hal. 96
[46] Zaghlul An-Najjar, al-I’Jaz al-‘Ilmly
fi as-Sunnah an-Nabawiyyah al-Juz’u al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun
Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 86, 88.
[47] Alaa Ei Din Ali bin Hossam Ei Din
Almottagi Al-Hindi Al-Burhani Fauri, Kanzul Amal Fi Sunan Al-Aqwali Wal
Aff’al, Jilid.10
(Beirut: Mua’sasah Al-Risalah, 1981), hal. 49.
[48] Zaghlul An-Najjar, Al-I’Jaz Al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah Al-Juz’u Al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 76.
[49] Sulayman
bin Al-Asy’at Ibn Ishaq Al-Azdi Al-Sijistani, Sunan Abu Daud, Jilid. 3,
(Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, T.t), hal. 423.
[50] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ath-Thib
an-Nabawi, Terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani, Cet. 11, (Jakarta: Griya
Ilmu, 2009), hal. 363.
[52] Abdullah bin Abdul Rahman Abu Muhammad al-Darimi, Sunan al-Darimi,
Jilid. 2, (Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi, 1407), hal. 157.
[53]
Mahir Hasan Mahmud. al-Thib al-Badil, al-Tsimar Wa al-A’syab al-Waridat
Fi al-Qur’an al-Karim Wa - al-Sunnah al-Nabawiyah, Terj. Hamzah Hasan, Lc,
Cet. I (Jakarta: Qultummedia, 2007). hal. 118.
[55] Ibnu Qayyim
Al-Jauziyah, Ath-Thibbun Nabawi, Terj. Abu Umar Basyir Al-Maidani, Cet.
1, (Jakarta: Griya Ilmu, 2004), hal. 414.
[56] Mahir Hasan Mahmud, al-Thib
al-Badil, al-Tsimar Wa al-A’syab al-Waridat Fi al-Qur’an al-Karim Wa al-Sunnah
al-Nabawiyah, Terj. Hamzah Hasan, Lc., (Jakarta: Qultum media, 2007), hal.
119.
[57] Rohi Baalbaki, Al-Mawrid A
Modern Arabic- English Dictionary, (Beirut: Dar El-Ilm Lilmalayin, 1995),
hal. 796.
[58] Kus Irianto, Gizi
Dan Pola Hidup Sehat Cet. 1, (Bandung: Yrama Widya, 2004), hal. 16.
[59] Imam Syafi’i Abu Abdullah Muhammad
bin Idris, Mukhtashar Kitab Al-Umm fil Fiqhi, Terj. Mohammad Yasir Abd
Mutholib, Cet. 2, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2004), hal. 767.
[60] Imam Abi
Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah
al-Bukhary, Shahih…, hal. 858.
[62] Hamdun Hasan
Ruqaith, ar-Ri’ayah as-Shihhiyyah Wa ar-Riyaadhiyah Fi al-Islam, Terj.
Imron Rosadi, S.Ag. Cet. 1, (Jakarta: Najla Press, 2004), hal. 80.
[63] Imam Abi
Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah
al-Bukhari, Shahih…,hal. 749.
[64] Sulayman bin Al-Asy’at Ibn
Ishaq Al-Azdi Al-Sijistani, Sunan Abu Daud, Jilid. 3 (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 202-275 H/ 817-889 M),
hal. 406.
[66] Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad
Imam Ahmad bin Hambal, Cet. 1, Jilid. 1, (Beirut: Mua’sasah al-Risalah,
1420-1999), hal. 212.
[67] Abdullah bin
Abdul Rahman Abu Muhammad Ad-Darimi, Sunan
Ad-Darimi, Jilid. 2, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Arabi, 1407), hal. 385.
[68] Muhammad bin Salamah bin Ja’far Abu
Abdullah al-Qadha’i, Musnad al-Syihab, Jilid. 1, (Beirut: Mu’asasah
al-Risalah, 1407-1987), hal. 425.
[70] Abu
al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih
Muslim, Jilid 7, (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 204-261 H/ 820-875), hal.
13.
[71] Kus Irianto, Gizi
Dan Pola Hidup Sehat Cet. 1, (Bandung: Yrama Widya, 2004), hal. 68.
[74] Abu al-Husayn Muslim Ibn
Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid 6,
(Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 204-261 H/ 820-875 M), hal. 108.
[75] Abu Isa Muhammad bin Musa bin ad-Dhahha’ al-Sulmani al-Tirmizi, Sunan al-Turmuzi, Jilid. 4, (Beirut: Dar Ihya’ al-Tharasi al-Arabi, T.t), hal. 281.
[76] Abu al-Husayn Muslim Ibn
Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim…, hal. 109
.
[77] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn
al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim…, hal. 114 .
[78] Abu al-Husayn Muslim Ibn
Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim…, hal. 111
.
[79] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul
Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet. 1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,
1999), hal. 247.
[80] Ibnu Qayyim
Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad,…, hal.205















Komentar
Posting Komentar
Komentar