HADIS-HADIS MAKANAN BERGIZI DAN APLIKASI TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA

 Bagian II 



HADIS-HADIS MAKANAN BERGIZI DAN APLIKASI TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA

 

            Ajaran Islam menganjurkan kepada para pemeluknya agar senantiasa memelihara kesehatan dan kekuatan, serta memperhatikan kesehatan dan keselamatan anggota tubuh. Selain itu, ajaran Islam juga menganggap bahwa perhatian terhadap kesehatan dan olah raga merupakan bagian dari pendidikan seorang muslim dalam kehidupan. Akhir-akhir ini berbagai departemen dan lembaga kesehatan dunia mulai memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan umat manusia. Meskipun dalam sebagian aspek telah mencapai keberhasilan, namun masih banyak kekurangan dalam pencapaian target dan ketidak mampuan untuk mencapai taraf kesehatan yang layak untuk umat manusia.[1]

            Rasulullah Saw telah menjadikan kesehatan dan kesejahteraan sebagai suatu tuntutan agama yang selayaknya diidam-idamkan dan diharapkan oleh seorang muslim, sebagaimana dalam doa beliau yang selalu dibaca:

حَدَّثَنِي أَبُوْ هُرَيْرَةِ أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: قَالَ ( وَكُلُّ بِهِ سَبْعِيْنَ مَلَكَا فِيْمَنِ قَالَ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفُّوَ وَالْعَافِيَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ رَبَنَا آتِنِا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ قَالُوْا آمِيْنِ ).[2] (رواه إبن ماجه).

Artinya: Diceritakan oleh Abu Hurairah r.a,  Nabi Saw. bersabda:  “Dikatakan semua tujuh puluh para malaikat berkata: “Ya Allah ya Tuhanku, aku memohon ampun dan kesejahteraan kepada-Mu, baik di dunia maupun akhirat dan peliharalah kami siksa azab neraka amin.” (H.R Ibn Majah).

            Islam telah menyerukan kepada pemeluknya agar selalu memperhatikan kesehatannya dalam segala hal, baik dalam makanan, minuman, pakaian, penampilan, tempat tinggal, maupun ketika bepergian.

            Selain itu, Islam juga menetapkan beberapa peraturan bagi pemeliharaan yang bersifat pribadi dan umum, serta menjadikannya sebagai suatu syariat, agar seorang muslim dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt.

            Rasulullah Saw juga menyerukan kepada setiap muslim agar dapat mencapai peringkat orang mukmin yang kuat dan sehat, sebagaimana hadits Nabi yang berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ). [3] (رواه مسلم).

Artinya: Telah menceritakan Abdullah bin Idris, dari Rabi’ah bin Uthman, dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari al-A’raji, dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw berkata: “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Swt. daripada orang mukmin yang lemah.” (H.R Muslim).

 

            Islam telah berupaya untuk mengarahkan setiap orang muslim agar dapat menjaga dan memelihara hak badannya dengan cara mengkonsumsi makanan yang halal serta bergizi bagi  menjaga kebersihan secara menyeluruh, dan berobat kepada seorang dokter ketika tertimpa suatu penyakit, sesuai dengan hadits Nabi Saw:

 

حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا.[4] (رواه النسائي).

Artinya: Diceritakan Hussen, dari Yahya bin Abi Kasir dari Abi Salamah bin Abdul Rahman dari Abdullah bin Umar berkata Rasulullah Saw: “Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atas dirimu dan sesungguhnya kedua matamu juga mempunyai hak atas dirimu.” (H.R. Nasa’i).

 

            Dengan kedatangan Sunnah Nabi yang suci dan hadits-hadits yang mulia melalui Rasulullah Saw untuk mengokohkan penelitian-penelitian ilmiah yang muncul semua ini merupakan hikmah kenabian Rasulullah yang jauh lebih dulu daripada para ahli kedokteran atau pengkaji di Barat maupun di Timur di sepanjang zaman.[5]

            Dalam Hadits Ibnu Umar, Rasulullah Saw, bersabda:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانِ بْنُ حَرْبِ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ.[6](رواه البخارى).

Artinya: Diceritakan Sulaiman bin Harbi, Diceritakan Syu’bah dari Adiyyu bin Shabit dari Abi Haazam dari Abi Hurairah r.a berkata Rasulullah Saw: Seorang mukmin makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus. (H.R. Bukhari).

 

            Hadits Nabi ini kemudian dibuktikan dalam penemuan bahwa pembentukan anatomi usus adalah terdiri dari tiga usus perut yang memiliki tiga usus halus yaitu: 1. Usus 12 jari (al-Itsna’asyr), 2. Usus halus kosong, jejunum (al-Saim) dan 3. Ujung usus halus atau ileum (al-lifaify). Sedangkan usus keras terdiri dari usus: 1. Usus buntu (al-a’war), 2. Usus besar (al-Qulun) dan dubur, dan 3. Anat (al-Mustaqim). Maka keenam usus tersebut ditambah satu usus yang disebut al-Ma’idat merupakan usus ketujuh, dan semua ini telah dihitung jumlahnya oleh Rasulullah. sejak 14 abad yang lalu.[7] Dalam hadits lain, yang penting dicermati adalah ketika Nabi berkata kepada Aisyah dalam hadits di bawah ini:  

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ طَحْلاَءَ عَنْ أَبِى الرِّجَالِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُمِّهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم- « يَا عَائِشَةُ بَيْتٌ لاَ تَمْرَ فِيهِ جِيَاعٌ أَهْلُهُ يَا عَائِشَةُ بَيْتٌ لاَ تَمْرَ فِيهِ جِيَاعٌ أَهْلُهُ أَوْ جَاعَ أَهْلُهُ ». قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا.[8] (رواه مسلم).

Artinya: Telah menceritakan Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab, Diceritakan Ya’qub Ibnu Muhammad, Ibni Thalaa’ dari Abi Rijal Ibni Muhammad Abdul Rahman dari Ummi dari Aisyah berkata Rasulullah Saw:  “Wahai Aisyah bahwa rumah yang tiada kurma di dalamnya adalah kelaparan bagi penghuninya. Lalu Nabi berkata lagi, “Bahwa rumah yang tiada kurma di dalamnya adalah kelaparan bagi penghuninya.” Hingga Nabi mengatakan kalimat yang sama sampai tiga kali.” (H.R. Muslim).

 

            Penelitian ini membuktikan bahwa kurma mengandung banyak kebaikan. Yang mengagumkan adalah bahwa pabrik-pabrik Amerika memproduksi kurma yang di bungkus dalam bahan pecahan kaca kecil, untuk di jadikan sejenis obat, dan diperuntukkan kepada para buruh sebagai penambah gizi dan pencegahan berbagai penyakit, seperti tekanan darah tinggi dan penambah nafsu makan, dan menambah stamina bekerja.

 

A.     Nama-Nama Makanan Bergizi Menurut As-Sunnah

1.     Madu





حَدَّثَنَا مَحْمُوْدُ بْنُ خَدَاشِ. حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ زَكْرِيَاءِ اَلْقُرَشِي . حَدَّثَنَا اَلزُّبِيْرُ بْنُ سَعِيْدُ الهْاَشِمِيُّ عَنْ عَبْدِ الْحُمَيْدُ بْنُ سَالِمْ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةِ قَالَ, قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: ( مَنْ لُعَقِّ الْعَسَلِ ثَلاَثِ غُدْوَاتِ كُلِّ شَهْرٍ لَمْ يُصِبَهُ عَظِيْمُ مِنَ اْلبَلاَءِ ). (رواه إبن ماجه).

Artinya: Telah menceritakan Mahmud bin Khaddaash. Diriwayatkan Said bin Zakaria al-Quraish. Diceritakan Al-Zubair bin Sa'id al-Hashimi dari Abdul Hamid Bin Salem dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw berkata : Barangsiapa meminum tiga sendok madu dalam tiga pagi saja setiap bulan, niscaya ia tidak akan terkena penyakit berat.[9] (H.R Ibn Majah).

            Madu adalah cairan yang keluar dari perut lebah dan mengandung obat serta gizinya yang menyembuhkan bagi manusia. Allah Swt, berfirman:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (68) ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (69). (النحل: 68-69).

Artinya: Dan Tuhanmu menginspirasi lebah: "Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung dan di pepohonan, dan juga di bangunan-bangunan yang didirikan oleh manusia. kemudian makanlah dari Segala jenis bunga-bungaan dan buah-buahan (yang Engkau sukai ), dan ikutilah jalan-jalan peraturan Tuhanmu Yang diilhamkan dan dimudahkannya kepadamu ". (dengan itu) akan keluarlah dari Dalam badannya minuman (madu) yang berbeda warnanya, yang memiliki penawar bagi manusia (dari berbagai penyakit). Sesungguhnya pada yang demikian itu, ada tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memikirkan. (Q.S Al-Nahl: 68-69).

 

            Dengan kekuasaan Allah Swt, madu beraneka jenis dan warnanya tergantung makanan yang dikonsumsi lebah. Ada madu merah, madu putih, madu kuning, madu beku, madu cair, dan lain-lain. Rasanya pun berbeda-beda sesuai dengan tempat hidup lebah.[10]

            Unsur-unsur yang terdapat dalam madu adalah sebagai berikut:

Air 16,09%, Protein 0,3%, Frucktosa 41%, Glukosa 34%, Sukrosa 1,9%, Nitrogen 0,04%, Karbon 0,81%, Dextrin 1,7%, Zat lainnya 3,4%. Hampir seluruh vitamin yang dibutuhkan tubuh manusia terkandung dalam madu seperti:

Vitamin A, Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B3, Vitamin B5, Vitamin B6, Vitamin D, Vitamin K, Vitamin E, Vitamin H.

            Vitamin-vitamin di atas adalah vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Vitamin yang terdapat dalam madu cepat diserap dengan mudah dalam waktu satu jam. Madu terkenal sebagai salah satu makanan atau minuman yang bergizi yang dapat memulihkan kesehatan dan menyembuhkan berbagai penyakit.[11] Penyembuhan dengan madu termasuk dalam pola pengobatan cara Nabi (Thibbun Nabawi) yang memiliki karakteristik menyakinkan, ilahiah, pasti dan memiliki nilai ibadah (ta’abbudi). Keyakinan terhadap pola makan ala Nabi merupakan faktor penting dalam proses kesehatan atau penyembuhan. Bisa jadi ada orang yang tidak bisa mengambil manfaat dari pola makan atau pengobatan cara Nabi karena tidak meyakini kebenaranya.[12]

            Seperti Al-Qur’an yang diibaratkan sebagai obat berbagai penyakit yang ada dalam hati (jiwa manusia). Apabila Al-Qur’an tidak diterima dengan sepenuh hati, keyakinan, dan ketundukan, maka ia tidak akan menyembuhkan penyakit dalam hatinya. Maka jelaslah bahwa Al-Qur’an dan Hadits menyatakan madu penyembuh bagi manusia.[13]

            Maka dengan tanda-tanda kebesaran-Nya inilah, orang-orang yang berfikir akan berkesimpulan bahwa hanya Allah-lah yang dapat melakukan semua itu. Dia-lah Rabb Yang Mahakuasa, Mahabijaksana, Maha Mengetahui, Mahamulia lagi Maha Pengasih.

 

2.     Habbatus Sauda'





حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بَكِيْرُ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِى أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ فِى الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ السَّامَ ». وَالسَّامُ الْمَوْتُ. وَالْحَبَّةُ السَّوْدَاءُ الشُّونِيزُ. (رواه البخارى).

Artinya:  Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah dan Sa'id bin Musayyib bahwa Abu Hurairah telah mengabarkan kepada keduanya, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dalam habbatus sauda' (jintan hitam) terdapat obat dari segala penyakit kecuali kematian." Ibnu Syihab berkata; "Maksud dari kematian adalah maut sedangkan habbatus sauda' adalah pohon syuniz."[14] (H.R. Bukhari).

 

            Habbatus Sauda’ adalah buah tanaman rumput-rumput yang tumbuh tahunan, dan termasuk dalam famili anemone. Tanaman ini tumbuh di lembah Laut Tengah, dan dibudidayakan di berbagai belahan dunia. Nama ilmiahnya adalah nigella sativa.        Namun, ia memiliki nama-nama lokal di berbagai negara. Di Mesir tanaman ini dikenal dengan nama Habbah Barakah, di Syam dengan nama Quzhah, di Yaman dengan Qahthah, di Moroko dengan nama Sanuj, Sinuj, dan Zarrarah. Sementara di Persia(Iran), tanaman ini dikenal dengan nama Syuniz, Syiniz, atau Siyahdanah. Habbatus Sauda’ adalah biji belah, hitam, beraroma tajam, dan biasa digunakan sebagai salah satu bumbu yang ditambahkan pada makanan untuk menyedapkan rasa.[15]

            Habbatus Sauda’ juga telah dikenal oleh masyarakat Mesir Kuno, Arab, dan Parsi. Mereka menyebutkan bahwa habbatus sauda’ memiliki manfaat yang besar dalam mengobati berbagai macam penyakit, seperti gangguan sistem pernapasan, termasuk salesma, radang tenggorokan, dan bronkitis dan lain-lain. Baru-baru ini telah dibuktikan bahwa habbatus sauda’ dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit lain, seperti asma, tekanan darah tinggi, gangguan sistem pencernaan (seperti gangguan usus besar kronis), dan beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti liver dan sebagainya.

            Tidak ada seorang pun pada masa lalu yang menyadari bahwa habbatus sauda’ memiliki hubungan yang sangat erat dengan sistem kekebalan tubuh, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits Rasulullah Saw, bahwa di dalamnya terkandung gizi dan obat bagi segala macam penyakit selain kematian.

            Hasil penelitian yang dibuat dan terbukti bahwa habbatus sauda’ mengandung minyak tetap dengan persentase 33% dan minyak yang mudah menguap sebanyak 1,5%. Minyak habbatus sauda’ ternyata juga mengandung zat gizi yang ampuh yang berfungsi menguatkan sistem kekebalan yang kemudian diberi dengan nama ilmiah biji berkah (Nigella Sativa), yaitu zat gizi “nigellone”)

            Berbagai penelitian membuktikan bahwa zat gizi nigellon memiliki peran yang efektif dalam meningkatkan kemampuan pertahanan bagi sistem kekebalan tubuh manusia. Fakta ini belum terjamah disiplin ilmu kecuali baru pada beberapa dekade terakhir abad ke-20, pada hal Nabi Saw, telah mengisyaratkannya empat belas abad yang silam bahwa tubuh manusia sangat memerlukan zat gizi, hal ini karena, tanpa zat gizi yang cukup maka sistem kekebalan tubuh manusia akan lemah.[16]

            Kepeloporan dan keakurasian ilmiah ini tidak mungkin bersumber dari selain wahyu langit, sehingga ia pun semakin menegaskan kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad Saw, dan ketersambungannya secara intens dengan wahyu yang tidak pernah putus. Allah Swt. berfirman:

 

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4). (النجم: 3-4)

Artinya: “Dan tidaklah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya,” Beliau Nabi Shallallahu’Alaihi Wasalam, sama sekali tidak mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsu dan kepentingannya. “ Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala (kepadanya)”. Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasalam. hanya mengatakan apa yang diperintahkan kepadanya untuk disampaikan kepada manusia dengan sempurna apa adanya, tanpa penambahan dan pengurangan. (Q.S. Al-Najm: 3-4).[17]

 

3.     Kurma





حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجُوعُ أَهْلُ بَيْتٍ عِنْدَهُمْ التَّمْرُ. (رواه مسلم).

Artinya:   Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Daarimi, telah   mengabarkan kepada kami Yahya bin Hassan, Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak akan lapar penghuni rumah yang memiliki kurma."[18] ( H.R. Muslim).

 

            Rasulullah Saw sering kali menyebutkan tentang kurma dan beliau menjelaskan tentang keutamaan dan khasiat buah ini, antaranya sebagaimana yang telah dijelaskan pada hadits di atas. [19]

            Kurma adalah jenis nutrisi yang baik, terutama bagi orang yang makanan sehari-hariannya mengandung kurma seperti penduduk Madinah. Kurma merupakan buah yang paling bergizi untuk badan manusia, karena mengandung intisari panas dan kelembaban. Kurma merupakan buah-buahan yang bergizi dan sekaligus makanan, sebagai obat dan minuman serta manisan.[20]

            Komposisi buah kurma terdiri atas 70% zat gula, 20% protein, dan 3% lemak. Buah kurma kaya dengan zat garam mineral yang menetralisasi asam, seperti Kalsium, Potassium (unsur kimia yang halus dan berwarna putih), dan zat besi. Buah kurma mengandung sejumlah vitamin A dan B.

            Kurma kaya akan karbohidrat sehingga selain sebagai “bahan bakar” tubuh, juga berfungsi mencegah terjadinya oksigen lemak yang tidak sempurna sehingga menghasilkan bahan-bahan keton berupa asam asentoasetat, aseton, dan asam beta-hidroksi-butiran, yang dibentuk dalam hati.

            Selain itu, buah ini ternyata juga memuat berbagai zat gizi lain seperti zat besi, vitamin B. Kurma juga mengandung banyak mineral penting, seperti magnesium, potassium, kalsium, zinc, tembaga dan lain-lain.

 

4.     Susu





حَدَّثَنَا عَبْدُ الله حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ أَنَّا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنِيُّ عَمْرُ بْنُ أَبِي حُرْمَلَةُ عَنِ بْنُ عَبَّاسِ قَالَ: دَخَلْتُ أَنَّا وَخَالِدُ بْنُ اَلْوَلِيْدً مَعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فَقُلْتُ مَا كُنْتُ لِأُوثِرَ بِسُؤْرِكَ عَلَيَّ أَحَدًا فَقَالَ مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ طَعَامًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُجْزِئُ مَكَانَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ غَيْرَ اللَّبَنِ. (رواه أحمد بن حنبل).

Artinya: Diceritakan Abdullah, Diceritakan Ismail dari Ali bin Ziad Telah menceritakan Umar bin Abi Harmalah dari Ibni Abbas berkata telah masuk Khalid bin Awwalid dengan Rasulullah Saw, dan berkata:   Barangsiapa diberikan rezeki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa makanan, maka ucapkanlah, “Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah keberkahan pada makanan kami dan berikanlah kami makanan yang lebih baik darinya.’ Barangsiapa diberikan minuman berupa susu oleh Allah, maka ucapkanlah, ‘Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah keberkahan pada minuman kami dan tambahkanlah’. Tidak ada suatu makanan dan minuman yang dapat mencukupi kebutuhan kesehatan selain susu.[21] (H.R Imam Ahmad Bin Hambal).

 

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan: Rasulullah Saw. pernah disuguhi satu mangkuk khamer (arak) dan satu mangkuk susu pada malam Isra, lalu Nabi melihat keduanya dan beliau mengambil susu. Jibril berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu hidayah menuju fitrah. Jika saja engkau mengambil arak (khamer), niscaya umatmu akan sesat.”

            Sekalipun susu rasanya biasa-biasa saja, tapi susu mengandung unsur-unsur yang murni dan alami. Susu merupakan makanan alami yang keluar dari payudara hewan mamalia tanpa tambahan apapun. Ia akan keluar setelah mamalia melahirkan.

            Susu mengandung 87.4% air. Ini adalah kadar yang tepat menjadi unsur-unsur lainnya berbentuk lendir seperti protein atau berbentuk gumpalan seperti lemak atau berbentuk larutan seperti garam laktosa. Sementara proses pembentukan susu tidak mungkin terjadi, kecuali dalam bentuk cairan. Allah Swt berfirman:

 

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ. (الأنبياء: 30).  

Artinya: “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?” Padahal mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, bahwa kemudian makhluk-makhluk itu terjadi sedikit demi sedikit. Itu semua merupakan dalil atas adanya Rabb yang membuat, yang melakukan, dan yang sengaja (menjadikannya). Dia Mahakuasa atas segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. (Q.S. al-Anbiya: 30).[22]

 

            Susu juga mangandung unsur karbohidrat sebanyak 4,37%. Susu dianggap sebagai makanan yang sempurna dilihat dari beberapa sisi. Para ahli menganggap susu sebagai makanan utama yang kaya gizi karena mengandung gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, juga kaya karbohidrat, lemak, dan protein disamping  kaya vitamin dan garam mineral yang bermacam-macam.[23]

 

5.     Zaitun





حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوا بِهِ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ وَكَانَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ يَضْطَرِبُ فِي رِوَايَةِ هَذَا الْحَدِيثِ فَرُبَّمَا ذَكَرَ فِيهِ عَنْ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُبَّمَا رَوَاهُ عَلَى الشَّكِّ فَقَالَ أَحْسَبُهُ عَنْ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُبَّمَا قَالَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلًا حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ مَعْبَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعَمَرٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ عُمَرَ. (رواه الترمذي).

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari Umar bin Al Khaththab ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya (pergunakan untuk selain makan), karena dia dihasilkan dari pohon yang diberkahi." Berkata Abu 'Isa: Ini merupakan hadits yang tidak kami ketahui kecuali dari haditsnya Abdurrazzaq dari Ma'mar, dan Abdurrazzaq mengalami Idlthirab dalam meriwayatkan hadis ini, terkadang dia menyebutkan dari Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan terkadang meriwayatkannya dengan ragu-ragu dengan berkata, "Pekiraan saya, diriwayatkan dari Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam." Atau ia berkata: "Dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara mursal. Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Sulaiman bin Ma'bad, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam semisalnya, namun di dalam sanadnya ia tidak menyebutkan; Dari Umar.[24] (H.R.  Turmizi).

 

            Zaitun (sebagai buah) dan minyak zaitun telah disebut dalam Al-Qur’an sebanyak tujuh kali. Allah pun pernah bersumpah dengan menggunakan media zaitun pada salah satu dari ketujuh tempat tersebut (Demi buah tin dan buah zaitun), padahal Allah adalah zat yang tidak butuh sumpah. Allah juga mengisyaratkan pohon zaitun dengan isyarat yang indefinitive dalam firman-Nya:

وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِنْ طُورِ سَيْنَاءَ تَنْبُتُ بِالدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِلآكِلِينَ. (المؤمنون: 20). 

Artinya: Dan (Kami juga menumbuhkan untuk kamu) pokok Yang asal tumbuhnya di kawasan Gunung Tursina (pohon zaitun), Yang mengeluarkan minyak dan lauk bagi orang-orang Yang makan. (Q.S. Al-Mu’minum: 20(.

 

            Oleh karena itu, minyak zaitun ini mengandung nilai kesehatan yang tinggi sekali, dan sudah diketahui bahwa minyak zaitun memainkan peran penting dalam mencegah terjadinya oksidasi kolesterol. Karena minyak zaitun mengandung zat gizi vitamin dan senyawa Polyphaenolic Compounds yang dapat mencegah terjadinya oksidasi spontan lemak. Oleh karena itu, pohon zaitun adalah pohon yang bertahan hidup cukup lama dan mengandung banyak manfaat bagi manusia baik minyaknya, daun, kayu, maupun buahnya, minyak zaitun juga dapat berfungsi sebagai lauk, pemberi cita rasa, dan penambah selera.

            Unsur-unsur yang terkandung dalam buah zaitun adalah zaitun mengandung 67% air, 23% minyak, 5% protein, 1% garam mineral, terutama garam kalsium dan besi. Buah ini juga mengandung beberapa jenis vitamin. Karena buah ini mengandung minyak, sehingga mengandung unsur-unsur vitamin A, D dan E, ketiganya biasa ada pada minyak. Zaitun termasuk buah yang memiliki fungsi kesehatan,karena mengandung vitamin B dan C.[25]

            Mahasuci Zat yang telah memuji zaitun dan minyaknya dalam ayat-ayat muhkam Alquran, bersumpah dengannya, serta mengilhami nabi terakhir dan penutup para rasul-Nya untuk membicarakan fakta ilmiah ini yang baru diketahui dimensi-dimensi kebenarannya pada akhir dekade 80-an abad ke-20. Pada hal Nabi Saw telah mengutarakannya pada 14 abad silam dengan sabda: Makanlah zaitun, dan berminyaklah dengan, dengannya, sesungguhnya ia diberkahi (atau dari pohon yang diberkahi).[26]

 

6.     Daging





حَدَّثَنَا اَلْعَبَّاسِ بْنُ اَلْوَلِيْدً اَلْخِلاَلِ اَلدَّمْشِقِي . حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صًالِحً . حَدَّثَنَي سُلَيْمَانِ ابْنُ عَطَاِء َالْجَزَرِيُّ. حَدَّثَنِيُّ مُسَلَّمَةُ بْنُ عَبْدِ اللهُ الجَهَنِيُّ عَنْ عُمِّهِ أَبِي مُشَجَّعَةِ عَنْ أَبِي اَلدَّرْدَاءِ قَالَ, قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ ( سَيِّدُ طَّعَامِ أَهْلُ الدُّنْيَا وَأَهْلُ الْجَنَّةِ اَلْلَّحْمِ ). (رواه إبن ماجه).

Artinya: Diceritakan al-Abbas bin Al-Walid al-Khalal al-Damsyiqi. Diceritakan Yahya bin Saleh. Diceritakan Sulaiman Ibnu Atha’i al-Jazari.  Diceritakan Musalamah bin Abdullah al-Juhani untuk mendorong pamannya Abu Darda berkata: Rasulullah Allah semoga Allah memberkati dia dan memberinya damai “Rajanya makanan penduduk dunia dan penduduk syurga adalah  daging.”[27] (H.R. Ibn Majah).

 

            Daging hewan merupakan satu-satunya sumber protein yang cukup memadai, karena di dalamnya mengandung asam amino utama yang dapat membangun jaringan tubuh dan otot. Protein nabati tidak dapat mengimbangi unsur-unsur yang ada dalam protein hewani. Protein hewani satu-satunya makanan yang dapat memberikan imunitas pada tubuh dan dapat menyerang bakteria juga mikroba. Oleh karena itu, jika kekurangan protein hewani ini, maka tubuh akan memiliki daya tahan yang lemah dan mudah terkena penyakit.[28]

            Daging yang paling baik adalah yang sedikit unsur minyaknya. Oleh karena itu, bagian pundak  dan lengan merupakan bagian yang paling baik, paling enak, paling lembut dan mudah untuk dicerna. Dalam riwayat Bukhari Muslim juga disebutkan bahwa Nabi Saw. menyukai bagian ini.[29] Dan unsur-unsur kandungan gizi yang terdapat dalam daging adalah sebagai berikut: air dengan kandungan sekitar75% berat timbangannya, protein garam mineral khususnya fosfat potasium dengan bekas dari garam sodium, kels, maniza seperti zat pemerah butiran darah merah yang terdiri dari zat besi, lemak, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, Asam Nikotinat, Besi, Fosfor.[30]

7.     Ikan

 

حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ). (رواه إبن ماجه).

Artinya: Diceritakan Abu Musab al. Diriwayatkan oleh Abdul Rahman bin Zaid bin Aslam dari-Nya ayah Umar bin Abdullah bahwa Rasulullah perdamaian Allah atas dia berkata: “Dihalalkan untuk kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai adalah ikan dan belalang,

               sedangkan dua darah adalah hati dan limpa. [31] (H.R Ibn Majah).

 

            Ikan yang terbaik adalah yang paling lezat rasanya. Ukurannya sedang tipis kulitnya dagingnya tidak keras dan tidak kering, di samping itu juga ikan tersebut hidup dalam air tawar yang mengalir dan subur, mengonsumsi tumbuh-tumbuhan, bukan kotoran. Tempat yang terbaik untuk ikan adalah dalam sungai yang berair baik, ada batu-batu karang tempat ikan tersebut bersembunyi, berpasir, di air-air yang tawar dan tidak penuh kotoran serta tidak terlalu panas, tidak banyak berombak dan bergelombang, di samping juga terbuka sehingga terkena udara dan sinar matahari.

            Ikan laut memang baik, lembut dan nikmat. Yang masih segar bersifat dingin dan lembab, justeru memberikan campuran gizi yang baik. Ikan laut muda menyuburkan tubuh, menambah hormon serta bisa memperbaiki sistem pencernaan yang panas.[32]

            Adapun ikan asin yang terbaik adalah yang baru saja diasinkan. Sifatnya panas dan kering. Semakin lama semakin kering dan semakin panas. Bila masih dalam keadaan segar, ikan dapat melemaskan otot perut, dan bisa membersihkan saluran pernapasan hingga paru-paru serta memperindah suara. Dan bisa berkhasiat mengeluarkan Amnio serta ampas makanan dari dalam tubuh melalui energi penghisap yang dimilikinya.[33]

            Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir bin Abdullah, diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Nabi Saw pernah mengutus tiga ratus pengendara dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah sebagai pemimpinnya di antara kami. Sampailah kami di sebuah pantai. Kami merasa lapar sekali sehingga kami terpaksa menyantap apa saja. Tiba-tiba seekor ikan besar terlempar dari laut ke arah kami, yakni yang dikenal sebagai ikan paus. Selama setengah bulan kami menyantap ikan tersebut, bahkan kami menjadikan lemaknya sebagai lauk pula sehingga tubuh kami menjadi kuat. Abu Ubaidah mengambil salah satu tulang rusuk ikan tersebut, lalu beliau memboncengkan seorang lelaki di atas untanya sementara tulang itu beliau tancapkan sehingga beliau lewat di sampingnya.[34]

 

8.     Cendawan





حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَمْأَةُ مِنْ الْمَنِّ وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ. (رواه البخاري).

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Abdul Malik dari 'Amru bin Huraits dari Sa'id bin Zaid radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Al Kam-at (cendawan) adalah sejenis manna (sejenis makanan yang diturunkan Allah Ta'ala kepada Bani Israil), airnya mengandung obat bagi penyakit mata."[35] (H.R. Bukhari).

 

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (Kitab Tafsir Al-Quran), dengan redaksi sebagai berikut. Kami mendapat hadits dari Abu Nu’aim, tuturnya: Kami mendapat hadis dari Sufyan, dari Abdul Malik, dari Amru bin Huraits, dari Sa’id bin Zaid ra. Ia mengatakan: Rasulullah Saw, bersabda: Cendawan termasuk anugerah, dan airnya dapat menyembuhkan (sakit) mata.

Imam Muslim juga meriwayatkan hadis ini dalam Shahih-nya dari Sa’id bin Zaid r.a Tuturnya: Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Cendawan termasuk anugerah, dan airnya dapat menyembuhkan (sakit) mata. Hadits serupa dengan nash yang sama diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi dari Abu Hurairah.

Cendawan yang dalam bahasa Arabnya disebut Ram’ah (bentuk tunggalnya: Ram) adalah benjolan jamur akar yang tumbuh dibawah tanah melalui simbiosis dengan akar tumbuhan tertentu. Cendawan tumbuh dibawah tanah sampai kedalam 30 cm.

Cendawan merupakan sumber protein penting di antara tanaman-tanaman gurun. Benjolan cendawan mengandung 77% air dan 23% di antaranya terdiri dari berbagai macam zat, antara lain: 60% karbohidrat, 7% lemak, 4% serat, 18% zat-zat protein, 11% sisanya abu sisa pembakaran. Dalam protein cendawan diketahui ada 17 macam asam yang tidak berbahaya.[36]

Pernyataan Rasulullah Saw. bahwa cendawan adalah anugerah merupakan ungkapan ekspresif bahwa cendawan tumbuh dengan sendirinya atas karunia dan anugerah dari Allah Swt. Selain itu, cendawan juga tidak butuh bahan makanan benih atau pengairan. Dari sinilah ia kemudian dianggap sebagai anugerah. Sedangkan pada waktu sekarang pula, cendawan dapat tumbuh dengan menggunakan proses teknologi modern, dengan mengambil anak keturunannya dan di tanam di tempat yang ditentukan untuk penanaman anak benih di samping penggunaan baja yang ditentukan untuk cendawan untuk proses pembesaran anak benih. Dari sinilah ia kemudian dianggap sebagai anugerah dari Allah Swt.

 

9.      Buah Delima





 

حَدَّثَنَا جَعْفَرِ بْنُ مُحَمَّدُ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَلِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ مَا مِنْ رُمَّانَةِ إِلاَّ وَفِيْهَا حَبَّةِ مِنْ رُمَّانِ الْجَنَّةِ. (رواه المذان).

Artinya: “ Telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Muhammad dari ayahnya Ali ra dengan dia bahwa Nabi saw mengatakan. Tidak ada satu delima pun kecuali di dalamnya terdapat satu biji dari delima surga.”[37]

 

            Delima termasuk dalam buah-buahan surga. Sebagaimana firman Allah Swt:

فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ. (الرحمن: 68)    

Artinya: Pada keduanya juga terdapat buah-buahan, serta pohon-pohon kurma dan delima. (Q.S. Al-Rahman: 68).

 

            Untuk pengetahuan manusia juga bahwa kulit buah delima mengandung asam tanic atau Tannic acid. Asam ini merupakan unsur pengontrol. Unsur ini juga terdapat dalam buahnya. Di samping unsur-unsur pengontrol, air buah delima juga mengandung gula mentol dan jenis gula lainnya. Selain itu, buah ini juga kaya unsur zat (gizi) besi.

            Dan kandungan gizi buah delima sangat penting bagi pembentukan sel darah merah. Oleh karena itu, ia sangat bermanfaat bagi mereka yang kekurangan darah (anemia).

            Ibnu Qayyim telah menyebutkan dalam kitab ِِAth-Thib An-Nabawi tentang buah delima ini: “Buah delima sangat baik untuk pencernaan dan dapat menguatkannya. Berguna untuk tenggorokan, dada, dan paru, sangat baik untuk mengobati batuk dan melancarkan buang air kecil, menghilangkan panas pada hati, rasa asamnya bermanfaat untuk radang pencernaan. Apabila daging dan buah ini dikeluarkan lalu dimasak sebentar saja dengan ditambah madu, akan dapat digunakan sebagai obat gosok, celak untuk mata yang kuning, menghilangkan kelembaban yang berlebihan. Dan apabila dioleskan pada gusi, ramuan di atas dapat membersihkannya.

            Biji delima dan madu dapat digunakan untuk mengobati  luka di sekitar kuku atau pada luka yang bernanah. Oleh yang demikian bahwa terbukti buah delima mempunyai gizi dan sangat butuh untuk membangkitkan daya kesehatan tahan tubuh bagi setiap manusia.[38]

 

10. Buah Labu





 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ دَعَا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَانْطَلَقْتُ مَعَهُ فَجِىءَ بِمَرَقَةٍ فِيهَا دُبَّاءٌ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْكُلُ مِنْ ذَلِكَ الدُّبَّاءِ وَيُعْجِبُهُ - قَالَ - فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ جَعَلْتُ أُلْقِيهِ إِلَيْهِ وَلاَ أَطْعَمُهُ. قَالَ فَقَالَ أَنَسٌ فَمَا زِلْتُ بَعْدُ يُعْجِبُنِى الدُّبَّاءُ. (رواه مسلم).

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Kureb Diceritakan Abu Osama dari Sulaiman bin Al-Muqirah dari sa’bit Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Pada suatu ketika, seorang sahabat pernah mengundang Rasulullah SAW. Lalu saya pun pergi berangkat bersama beliau. Kemudian Rasulullah dihidangkan kuah sayur berisi labu. Maka beliau memakannya dan sangat menyukainya. Melihat hal itu, saya pun memberikan bagian kuah sayur labu saya kepada beliau dan saya tidak memakannya. Selanjutnya Anas berkata, “Setelah kejadian itu, maka saya pun menyukai labu.”[39] (H.R. Muslim).

 

            Labu bersifat dingin dan lembab, bisa memberikan suntikan gizi ringan, mudah masuk ke dalam perut, meskipun belum rusak sebelum dicerna, bisa menimbulkan ampas yang baik. Dia antara khasiatnya adalah memberikan serat yang baik serasi dengan vitamin yang dikandungnya. Kalau dimakan dengan biji sawi atau jintam hitam, bisa menimbulkan rasa pedas. Bila dicampur garam, bisa menimbulkan ampas asin. Bila dicampur dengan unsur yang mengikat, bisa melahirkan ampas yang mengikat. Kalau dimasak dengan sejenis jambu-jambuan, bisa memberikan suntikan gizi yang amat baik terhadap tubuh.[40]

            Labu air termasuk suku timun-timunan yang bergizi tinggi karena ia mengandung vitamin A. Labu mengandung 90,7% air, 0,02% lemak, 1,1% protein, 6,45% zat tepung, dan 1,73% karbon. Selain itu, labu air juga mengandung zat besi dan zat kapur.[41]

 

11. Bubur Gandum(Talbinah)




 

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلَّا أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِينَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِينَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ التَّلْبِينَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيضِ تَذْهَبُ بِبَعْضِ الْحُزْنِ). (رواه البخاري).

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, tuturnya: Kami mendapat hadits dari Al-Laits; dari Uqail; dari Ibnu Syihab; dari Urwah; dari Aisyah ra.; bahwasanya jika ada salah seorang anggota keluarganya yang meninggal dunia, lalu para wanita berkumpul kemudian bubar (ke rumah masing-masing), kecuali keluarga dan orang-orang terdekatnya, maka ia pun memerintahkan untuk mengambil seperiuk bubur talbinah, lalu dimasak, kemudian dibuatlah remukan-remukan roti, lantas dituangkanlah bubur itu keatasnya. Selanjutnya ia berkata, makanlah. Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Bubur talbinah dapat melegakan hati orang yang sakit dan menghilangkan beberapa kesedihan.”[42] (H.R. Bukhari).

 

            Talbinah atau talbin adalah bubur lembut seperti susu, yang terbuat dari gandum yang dimasak dengan kulitnya sekaligus. Dinamakan demikian karena menyerupai susu perahan, putih, dan lembut. Gandum sendiri merupakan tanaman rumput yang berumur musiman.

            Talbinah dapat membuat hati bahagia karena kandungan khasiat atau unsur-unsur yang ada di dalamnya dan dapat membantu memproduksi sel-sel saraf baru. Dengan kandungan gizinya, bubur gandum ini juga dapat melepaskan dahaga, memperlancarkan air seni, mempermudahkan pencernaan, dan bermanfaat untuk batuk, gatal tenggorokan, sesak nafas, mengeluarkan yang ada dalam lambung, penyakit kandung kemih serta untuk menurunkan panas tubuh secara umum, serta meningkatkan kekebalan tubuh.

            Kadar karbohidratnya antara 60-66%, protein 9,7% hingga 15,57%, lemaknya 1,28%-2,66%, ini di samping seratnya memiliki kadar dan sebagian asam,juga mengandung estrol. Dan memiliki manfaat kesehatan seperti mengurangi kolesterol, mengurangi sakit penderita kanker usus, dan penyakit lambung, diabetes, dan dapat menekan tekanan darah dan kadar lemak.[43]

            Dan terapi penyembuhannya adalah dengan cara mengonsumsi makanan yang bisa mengatasi ketidakseimbangan ini seperti bubur gandum yang kaya akan zat-zat gizinya yang berguna untuk kondisi tubuh.[44]

 

12. Hulbah




 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ اَلنَّضَرِ اَلْعَسْكَرِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ سَلَمَةْ اَلْخَبَائِرِيُّ حَدَّثَنَا عُتْبَةُ بْنُ اَلسُّكَنِ اَلْفُزَّارِيُّ حَدَّثَنَا ثُّوْرِ بْنِ يَزِيْدُ عَنْ خَالِدُ بْنُ مَعْدَانِ عَنْ مُعَاذِ بْنُ جَبَلِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِيُّ مَالَهَا فِي اَلْحُلْبَةِ لاَ سَتَرِدُهَا وَلَوْ بِوَزِنُهَا ذَهَبًا.[45] (رواه الطبرانى).

Artinya: Diceritakan Ahmad bin Nadar idola tentera Sulaiman bin Salamah bin Al-Khabaairi, Uthabah bin Al-Sakan, Al-Fazari Thor bin Yazid dari Khalid bin Ma'dan Maz bin Jabal berkata: Nabi Saw, bersabda: Jikalau umatku mengetahui (khasiat) apa yang terkandung di dalam hulbah, niscaya mereka akan membelinya walaupun harus menimbangnya dengan emas. (H.R. Athabrani).

 

            Hulbah adalah tanaman herbal biji-bijian yang tergabung dalam ordo Rosales. Hulbah adalah tumbuhan rumput-rumputan, daunnya bertumpuk (berangkai), berbulu, palmar, dan terdiri atas tiga rangkaian (berbelah tiga). Hulbah memiliki buah kacang-kacangan (buncis) dan bijiannya tidak memiliki indusbrem.

            Istilah hulbah meliputi berbagai jenis tanam-tanaman produksi, seperti kacang, kacang hijau, himmish (seperti kuaci), kacang tanah, buncis, lentil (adas), turmus, kacang kedelai.

            Hulbah memiliki banyak khasiat, antara lain meningkatkan susu ibu yang sedang menyusui, (ASI), meningkatkan nafsu makan, melancarkan pencernaan (susah buang air besar), mengobati segala macam peradangan, juga dapat mengobati sakit persendian dan mengobati berbagai macam luka.

            Hulbah juga dapat menyeimbangkan gula dalam darah. Biji hulbah mengandung 29% materi protein, 6% minyak yang tetap dan mengambang, juga memiliki kandungan vitamin B1 dan B2 yang tinggi, zat niasi, asam pantonin, asam trigonellin, asam kolin, asam sabunin, zat diosganin, dan amino bermethy tiga yang merupakan zat yang berperan dalam siklus bulanan pada gadis-gadis baligh. Di samping masih banyak lagi sejumlah unsur lain, seperti besi, fosfor, enzim, hormon, dan getah (gum).[46]

            Fakta ilmiah tentang tanaman hulbah ini baru benar-benar mengkristal pada abad ke-20 dan akhir-akhir ini, itupun masih secara terbatas. Pertanyaannya adalah, siapakah yang mengajari Nabi Muhammad Saw, pengetahuan ini, sehingga beliau menyabdakan hadits seperti itu jika bukan Allah Swt, siapakah yang mendorong Nabi Saw mendalami pesoalan-pesoalan ilmiah yang tidak dikenal pada masanya, dan pada masa-masa setelahnya seperti manfaat medis tanaman hulbah jika hal itu bukan wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya, supaya manusia mendapatkan faedah ilmu yang akan tetap terpelihara hingga hari kiamat, sebagai saksi atas kenabian dan kerasulan bagi Nabi Muhammad Saw.

 

13. Buah Tin

 

حَدَّثَنَا اِبْنُ السِنىَ ، وَأَبُوْ نَعِيْمُ ، وَالدَّيْلَمِى عَنْ أَبِى ذَرِّ " كُلُّوْا اَلتِّيْنُ فَلَوْ قُلْتُ إِنَّ فَاكِهَةٍ نُزُلَتْ مِنَ الْجَنَّةِ بَلاَ عَجْمِ لَقُلْتُ هِيَ اَلتَّيْنُ، وَإِنَّهُ يَذْهَبُ بِالْبَوَاسِيْرُ وَيَنْفَعُ مِنَ النُّقْرَسِ". (رواه السُّيوطي، جلال الدين).

Artinya: Diceritakan Ibn al-Sunni dan Abu Na’im dan al-Daylami dari Abu Darda’ Radhiyallah hu anhu. Meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: Seandainya saya boleh mengatakan bahwa sesungguhnya ada buah yang turun dari surga, maka saya akan mengatakan (itu adalah) buah tin, karena buah surga tidak berbiji buah. Makanlah buah tin, sesungguhnya ia dapat menyembuhkan wasir dan mengobati encok.[47] (H.R. al-Syuthi, Jalaluddin).

 

            Pohon Tin (Ficus carica) merupakan salah satu anggota tumbuh-tumbuhan yang bernama family maraceae. Tin adalah tumbuhan yang gugur daunnya pada musim gugur dan dingin. Tumbuhan ini tumbuh di Lembah Laut Tengah, khususnya di Turki dan wilayah Syam (Suriah, Lebanon, dan Palestina). Pohon tin memiliki keistimewaan dapat hidup di daerah kering dan dapat menyimpan air. Karena unsur susu yang terkandung dalam senyawa (komposisi) buah tin dapat digunakan sebagai obat cuci perut dan dapat juga digunakan sebagai penghilang kuntil. Sebagai buah, tin adalah buah yang tersusun atas ratusan butir yang mengandung minyak segar, memiliki rasa manis, dan dipenuhi dengan bulir-bulir biji.

            Telah terbukti melalui analisis kimiawi yang detail bahwa buah tin memiliki kandungan kimia baik yang besar (sekitar 18,5%), kandungan maksimal karbohidrat termasuk di dalamnya gula tunggal, komposisi tepung (53%), protein (3,6%), dan berbagai macam garam yang berasal dari beberapa unsur seperti potassium, kalsium, magnesium, fosfor, besi, tembaga, seng, belerang, sodium, klor, dan juga berbagai macam vitamin, enzim, asam, serta beberapa, unsur pembersih, gel, dan kandungan besar air.

            Demikian juga pada buah tin terdapat manfaat besar dalam mengobati wasir, senbelit, encok, penyakit, dada, ganguan haid, epilepsi, borok mulut, radang gusi, amandel tenggorokan, mengobati penyakit balak, menghilangkan kutil, menyembuhkan luka dan borok, karena dalam buah tin terdapat unsur pembunuhan kuman, antibakteria, antivirus, dan anticacing, selain itu juga terdapat unsur yang dapat memperlancarkan susu.[48]

            Dari sini  muncullah ketakjuban manusia pada hadits Nabi Saw yang ditujukan kepada kita manusia, dan juga pada barakah, manfaat, dan faedah yang banyak serta baik untuk keperluan makhluk dibumi lebih lagi untuk manusia.

            Oleh itu, tidak mungkin bagi manusia yang berakal dapat menggambarkan pengetahuan ini bersumber dari selain Allah Sang Pencipta yang telah mewahyukan pengetahuan ini kepada penutup para Nabi Saw dan Rasul-Nya supaya memberi manfaat kepada makhluk dan supaya menjadi saksi atas kenabian Nabi Saw, penutup ini.

  

14. Keju





 

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى الْبَلْخِىُّ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَنْصُورٍ عَنِ الشَّعْبِىِّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أُتِىَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم- بِجُبْنَةٍ فِى تَبُوكَ فَدَعَا بِسِكِّينٍ فَسَمَّى وَقَطَعَ. (رواه سنن أبى داود).

Artinya: Dari Ibnu Umar, dia berkata: Pada waktu perang Tabuk, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, disuguhi keju, maka beliau meminta diberi pisau. Beliau lalu mengucapkan bismillah dan memotongnya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh sangat menyukai keju.”[49] (H.R. Abu Daud).

 

            Rasulullah Saw. menyukai keju yang terbuat dari susu sapi dan domba. Keju mengandung berbagai manfaat dan keistimewaan yang biasanya terkandung juga dalam susu (87% air, 4% protein, 3% lemak, 4% karbohidrat, dan 7% vitamin dan mineral). Keju juga mengandung energi panas tinggi yang dihasilkan dari unsure lemak di dalamnya.

            Keju sangat bermanfaat untuk mengobati saluran darah, batuk-batuk, dan kanker. Namun, keju mengandung banyak asam lemak yang dapat meningkatkan kolesterol dalam darah sehingga tidak dianjurkan mengonsumsinya secara berlebihan.

            Ibnu Qayyim menjelaskan, “Keju itu bersifat panas dan basah. Di dalamnya terdapat berbagai manfaat. Di antara manfaatnya adalah menyembuhkan kanker yang berada di dekat dua telinga, kanker mulut, dan seluruh kanker yang menimpa wanita dan anak kecil. Keju juga bermanfaat menyembuhkan perdarahan pada paru-paru.”[50]

            Keju dapat melembutkan saraf dan kanker keras yang terjadi pada empedu hitam dan beriak. Keju juga bermanfaat menghilangkan dehidrasi pada tubuh. Jika keju itu dibalurkan ke gusi-gusi bayi, niscaya hal itu akan membantu tumbuhnya gigi bayi. Keju pun berkhasiat mengobati batuk yang disebabkan oleh flu serta menghaluskan kulit.[51]

 

15. Buah Anggur





 

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيْرٍ عَنِ اْلأَوْزَاعِيِّ عَنِ يَّحْيَى بْنُ أَبِيْ عَمْرُوْ اَلشَّيْبَانِي عَنْ عَبْدُ اللهِ بْنُ اَلدَّيْلَمِيِّ عَنْ أَبِيْهِ: اَنَّ أَبَاهِ أَوْ رَجُلاَ مِنْهُمْ سَأَلَ النَِّبيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهُ وَسَلَّمْ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اَنَّا قَدْ خَرَجْنَا مِنْ حَيْثُ عَلِمْتُ وَنَزَّلَنَا بَيْنَ ظَهَرَانِي مِنْ قَدْ عَلِمْتُ فَمَنْ وَلِيِّنَا قَالَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّا كُنَّا أَصْحَابِ كَرَمِ وَخَمْرُ وَاِنَّ اللهَ قَدْ حَرَمَ الْخَمْرُ فَمَا نُصَنْعِ بِالْكَرَمِ قَالَ اِصَّنَعُوْهُ زَبِيْبَا قَاُلوْا فَمَا نُصَنْعِ بِالزَّبِيْبً قَالَ اِنَّقَعُوْا فِيْ اَلشِّنَانِ اِنَّقَعُوْهُ عَلَى غَدَائِكُمْ وَاُشْرِبُوْهَ عَلَى عِشَائِكُمْ وَاِنَّقَعُوْهِ عَلَى عِشَائِكُمْ وَاُشْرِبُوْهُ عَلَى غَدَائِكُمْ فَإِنَّهُ إِذًا أَتَى عَلَيْهِ الْعُصْرَانِ كَانَ حَلاً قَبْلَ اَنْ يَكُوْنَ خَمْرًا. (رواه الدارمي).

Artinya: Muhammad bin Katsir mengabarkan kepada kami dari Al-Auza’I, dari Yahya bin Abu Amr Asy-Syaibani, dari Abdullah bin Ad-Dailami, dari ayahnya, bahwa ayahnya atau seorang pria dari kalangan mereka bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami telah keluar dari tempat yang telah engkau ketahui, kemudian kami singgah di tempat orang yang (juga) telah engkau ketahui. (Jika demikian, siapakah yang menjadi wali kami?” Beliau menjawab, “Allah dan Rasul-Nya.” Mereka berkata lagi, “Ya Rasulullah, dahulu kami adalah orang-orang yang suka meminum anggur dan khamer, sementara Allah telah mengharamkan khamer. Lalu apa yang (harus) kami lakukan dengan anggur?” Beliau menjawab, “Jadikanlah ia anggur kering.” Mereka berkata, “Lalu, apa yang (harus) kami lakukan dengan anggur kering.” Beliau menjawab, “Rendamlah ia di dalam wadah yang besar. Rendamlah di waktu makan siang kalian, dan minumlah di waktu makan malam kalian. Rendamlah di waktu makan malam kalian, dan minumlah saat makan siang kalian. Sebab jika dia telah melewati dua waktu tersebut, maka dia akan menjadi cuka (minuman fermentasi atau asam) sebelum menjadi khamer.”[52] (H.R. al-Darimi).

 

            Anggur merupakan salah satu tanaman yang dikenal umat manusia sejak lama.  Menurut Thalbah, anggur sudah dikenal sejak masa Nabi Nuh as. Tanaman yang berbuah manis dan lezat itu tumbuh merambat ke atas, berlawanan arah dengan ujung kuncupnya, dan searah dengan penopang anggur. "Anggur juga telah diketahui oleh orang-orang kuno sebagai tanaman berkhasiat tinggi dan memiliki manfaat sangat banyak. Kesimpulannya, anggur adalah salah satu buah yang paling banyak manfaatnya".[53]

            Buah anggur ini, sangat baik untuk dimakan, baik ketika masih segar ataupun sudah kering. Anggur merupakan buah yang mudah dicerna, dapat menggemukan, dan dapat menyuplai gizi yang yang cukup. Anggur hijau maupun merah memiliki khasiat yang sama, keduanya bisa dimanfaatkan untuk menjadi buah, makanan, minuman, maupun sebagai obat.

            Anggur dalam medis modern telah diteliti dan ditemukan bahwa anggur mengandung potasium, mangan, kalsium, magnesium, sodium, besi, khlor, fosfor, dan yodium dalam kadar tinggi. Anggur kaya dengan vitamin A, B, dan C. juga mengandung 1 kilo dari 120-150 gram gula murni, kadarnya bertambah 15% ketika anggur semakin masak. Unsur lain yang dikandung adalah seperti ASI yang berfungsi sebagai makanan efektif, sudah mencukupi hanya dengan mengonsumsinya dalam bulan-bulan pertama dari kehidupan bayi. Dengan demikian, anggur dipandang buah-buahan yang sempurna dan kaya dengan bahan-bahan gizi. Oleh karena itu, makanlah anggur maka setiap manusia akan sehat dari penyakit.[54]

            Hal senada juga dituturkan Ibnu Qayyim. Menurutnya, anggur adalah salah satu buah-buahan yang memiliki banyak manfaat. "Anggur adalah salah satu buah dari sekian banyak buah, salah satu makanan bergizi dari sekian banyak makanan bergizi, salah satu obat dari sekian banyak obat, atau salah satu minuman dari sekian banyak minuman," ungkap Ibnu Qayyim.[55]

            Menurut peneliti, jus anggur harus segera diminum setelah pembuatannya, karena jika didiamkan terlalu lama akan berubah menjadi arak yang memabukkan. "Dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti," (QS Al-Nahl (16) ayat 67).

            Dari beberapa penelitian diperoleh kesimpulan bahwa anggur adalah buah yang memiliki banyak manfaat. Anggur sangat efektif dalam membangun, memperbaiki, dan memperkuat sel-sel tubuh. Ia juga dapat mengobati sejumlah penyakit. Selain mengobati anggur juga berfungsi untuk melindungi manusia dari serangan penyakit.[56]

            Menurut penjelasan penulis menyangkut perkara diatas adalah: Persoalan makan dan minum, tentu bukanlah masalah yang mudah untuk kita fikirkan. Karena mengabaikan masalah ini, bisa mengkibatkan tubuh manusia di aliri oleh darah dan daging yang tidak baik. Olehnya baik al-Quran maupun hadits banyak menyentil masalah ini, sampai kepada etika atau adab bagaimana seharusnya makan dan minum sehingga, apa yang dimakannya tidak saja, baik, halal, bergizi, namun juga sesuai dengan tuntunan nabi Muhammad saw.

            Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat kita ambil beberapa poin penting yang dapat kita pelajari dan praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari, antara lain: Seseorang yang melakukan sesuatu yang memulainya dengan ucapan “Basmallah” senantiasa mendapat berkah dan perlindungan dari Allah Swt terhadapnya.

            Seseorang yang memegang makanan dalam keadaan tangan yang bersih, niscaya akan terhindar dari penyakit yang tidak kita inginkan, melakukan sesuatu dengan mendahulukan yang kanan, lebih khususnya dalam melakukan kegiatan makan dan minum dengan menggunakan tangan kanan, dapat membedakan tata cara hidup kita sebagai manusia dan tata cara iblis dalam melakukan sesuatu.

            Dari penbahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa kita hidup di dunia ini semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah swt. Dan segala sesuatu dimuka bumi ini di atur oleh Al-Qur’an dan hadits. Maka dari itu apa yang telah di perintahkan kepada kita hendaklah kita melakukannya dan apa-apa saja yang dilarang maka jauhila. Hal-hal tersebut dengan tujuan agar kita terhindar dari kesesatan. Penjelasan dari  redaksi hadits-hadits di atas sangatlah jelas dan dengan penjelasan tersebut kita dapat mengetahui apa yang bisa kita lakukan dan apa yang bisa kita tinggalkan.

 

B. Pengertian Dan Hukum Makanan Bergizi.

            Kata “gizi” berasal dari bahasa Arab, “al-Ghidza”, yang artinya zat makanan sehat.[57] Untuk menjadi sehat, setiap orang mempunyai kebutuhan gizi yang berbeda-beda tergantung pada usia dan kondisi tubuhnya. Jadi, anak balita berbeda kebutuhan gizinya dengan anak usia 7 sampai 9 tahun. Orang yang kurus tidak sama kebutuhan gizinya dengan orang yang gemuk. Seseorang perlu makan untuk menjaga agar tubuhnya tetap melakukan segala proses fisiologis. Makanan berfungsi untuk menjamin kelangsungan hidup karena ada yang berfungsi sebagai sumber tenaga, pembangun, dan pelindung atau pengatur segala proses.

            Bila seseorang salah dalam mengkonsumsi makanan dapat menimbulkan dampak yang tidak baik. Makanan yang dimakan sehari-hari hendaknya merupakan makanan seimbang, terdiri atas bahan-bahan makanan yang tersusun secara seimbang baik kualitas  maupun kuantitas untuk memenuhi syarat hidup sehat.

            Manusia diizinkan oleh Allah Swt. untuk hidup di muka bumi ini dan melangsungkan kehidupannya. Untuk itu, manusia memerlukan bahan-bahan asupan yang bisa dimanfaatkan. Manusia memerlukan makanan. Dengan makanan yang ia makan, manusia memperoleh energi atau tenaga. Bahan makanan yang dibakar dalam setiap sel hidup membangun tubuh kita. Pembakaran dalam tubuh kita disebut oksidasi biologi. Di dalam proses oksidasi ini, selain dihasilkan energi juga dihasilkan kalor untuk menjaga suhu tubuh agar tetap stabil.

            Yang dimaksud dengan makanan ialah segala sesuatu yang dipakai atau yang dipergunakan oleh manusia supaya dapat hidup. Zat makanan yang diperlukan oleh tubuh manusia meliputi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air.[58]

            Pengambilan makanan yang bergizi dan seimbang senantiasa akan menghasilkan makanan yang sehat pula. Dan bila seseorang manusia, mengkonsumsi makanan, maka hendaklah mereka mengikut dan berpandu kepada hukum yang telah di syariatkan dalam Islam. Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Saw dan telah mengingatkan kaum muslim untuk menjaga dan memelihara kesehatan dalam pola makanan, sebagaimana firman Allah Swt:

tûïÏ%©!$# šcqãèÎ7­Ftƒ tAqß§9$# ¢ÓÉ<¨Z9$# ¥_ÍhGW{$# Ï%©!$# ¼çmtRrßÅgs $¹/qçGõ3tB öNèdyYÏã Îû Ïp1uöq­G9$# È@ÅgUM}$#ur NèdããBù'tƒ Å$rã÷èyJø9$$Î/ öNßg8pk÷]tƒur Ç`tã ̍x6YßJø9$# @Ïtäur ÞOßgs9 ÏM»t6Íh©Ü9$# ãPÌhptäur ÞOÎgøŠn=tæ y]Í´¯»t6yø9$# ßìŸÒtƒur öNßg÷Ztã öNèduŽñÀÎ) Ÿ@»n=øñF{$#ur ÓÉL©9$# ôMtR%x. óOÎgøŠn=tæ 4 šúïÏ%©!$$sù (#qãZtB#uä ¾ÏmÎ/ çnrâ¨tãur çnrã|ÁtRur (#qãèt7¨?$#ur uqZ9$# üÏ%©!$# tAÌRé& ÿ¼çmyètB   y7Í´¯»s9'ré& ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÎÐÈ  

Artinya: "Yaitu orang-orang yang mengikut Rasulullah (Muhammad s.a.w) Nabi yang Ummi, yang mereka dapati tertulis (namanya dan sifat-sifatnya) di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Ia menyuruh mereka dengan perkara-perkara yang baik, dan melarang mereka daripada melakukan perkara-perkara yang keji; dan ia menghalalkan bagi mereka segala benda yang baik, dan mengharamkan kepada mereka segala benda yang buruk.” dan ia juga menghapuskan dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, dan memuliakannya, juga menolongnya, serta mengikut nur (cahaya) yang diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al-A’raaf [7]: 157).

 

            Sebagian ahli mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Yang baik-baik” adalah yang baik untuk mereka, dan Allah menghalalkannya. Dan yang dimaksud dengan “yang kotor dan keji” adalah yang kotor dan keji menurut mereka, lalu Allah mengharamkanya.[59]

            Sebagaimana firman Allah Swt. yang lain pula adalah:

$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu ÇËÒÈ  

Artinya:  Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan (gunakan) harta-harta kamu sesama kamu dengan jalan yang salah (bathil, tipu, judi dan sebagainya), kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan secara suka sama suka di antara kamu,” (Q.S. Al-Nisaa’[4]:29).

 

            Dalam ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu hanyalah menelan api ke dalam perut mereka; dan mereka pula akan masuk ke dalam api neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. An-Nisaa’[4]: 10).

            Rasulullah Saw, juga bersabda:

حَدَّثَنَا عَبْدِ اللهِ بْنِ يُوْسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " لَا يَحْلُبَنَّ أَحَدٌ مَاشِيَةَ امْرِئٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِ ، أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تُؤْتَى مَشْرُبَتُهُ فَتُكْسَرَ خِزَانَتُهُ فَيُنْتَقَلَ طَعَامُهُ.(رواه البخارى).

Artinya: Telah menceritakan Abdullah bin Yusuf, Telah menceritakan Malik dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar r.a dari Rasulullah Saw berkata: “Janganlah seseorang di antara kalian memerah susu dari binatang ternak milik saudaranya (orang lain) tanpa seizinnya. Apakah kalian suka apabila tempat minum kalian dipecahkan lalu isinya dipindahkan ke tempat lain.” (H.R. Bukhari).[60]

 

            Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang muslim berkomitmen pada prinsip tersebut, sebagai bentuk sikap kepatuhan kepada Allah Swt. dan sunnah Rasulullah Saw atas segala bentuk makanan dan minuman yang dihalalkan, dan menjauhkan segala bentuk makanan dan minuman yang diharamkan, walaupun ia tidak mengetahui hikmah yang tersembunyi di balik semua itu.[61]

            Walaupun demikian, seorang muslim yang taat dan patuh kepada Allah akan mengetahui hikmah dan rahasia di balik pengharaman suatu makanan. Tak dapat dipingkiri, bahwa ada beberapa alasan tentang makanan yang diharamkan; mungkin karena kotor atau berbahaya bagi tubuh, akal, dan akidah seseorang.

            Ajaran Islam sangat memperhatikan kebaikan, kebersihan, kesehatan dan kemudahan makanan untuk kaum muslim. Oleh karena itu, syariat (ajaran) Islam memperbolehkan seorang muslim mengkonsumsi hewan, burung, ikan, dan binatang buruan yang sesuai dengan seleranya. Akan tetapi syariat Islam mengharamkan untuk mengkonsumsi bangkai, darah, daging babi, dan binatang buas yang bertentangan tabiat manusia yang baik.

            Syariat Islam juga memperbolehkan kaum muslim memakan semua makanan yang baik dan enak, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Syariat Islam menegaskan, ada beberapa macam makanan halal yang mengandung gizi dan vitamin yang sangat tinggi, di antaranya madu, kurma, habbatu sauda’ (jenis biji-bijian), bawang putih, bawang merah, susu, cendawan, hati, mentimun, minyak zaitun, dan air zamzam.[62]

            Beberapa pola makan berdasarkan ajaran Islam antara lain adalah:

1.      Membatasi jumlah dan kadar makanan dengan baik,

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كِيلُوا طَعَامَكُمْ يُبَارَكْ لَكُمْ.(رواه البخارى).[63]

Artinya: Telah menceritakan Ibrahim bin Musa, Diceritakan Al-Walid dari Shur, dari Khalid bin Ma’dan, dari al-Maqdam bin Ma’ad menceritakan bahwa Rasulullah Saw, berkata: “Ukurlah (kadar) makanan kalian, maka kalian akan diberkahi.” (H.R. Bukhari).

 

2.      Menghindari pola makan yang mewah dan perhatian yang berlebihan terhadap penampilan makanan tanpa mengetahui nilai gizinya.

Sebagaimana Allah Swt, berfirman:

* ûÓÍ_t6»tƒ tPyŠ#uä (#räè{ ö/ä3tGt^ƒÎ yZÏã Èe@ä. 7Éfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uŽõ°$#ur Ÿwur (#þqèùÎŽô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä tûüÏùÎŽô£ßJø9$# ÇÌÊÈ  

Artinya: “Wahai anak-anak adam! Pakailah pakaian kamu yang indah berhias pada tiap-tiap kali kamu ke tempat ibadat (atau mengerjakan sembahyang), dan makanlah serta minumlah, dan jangan pula kamu melampau; Sesungguhnya Allah tidak suka akan orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al-A’raaf [7]:31).

 

            Metode efektif lainnya adalah berhenti makan sebelum kenyang, mengikuti pentunjuk Rasulullah Saw sehingga tidak terjerumus kepada sifat serakah yang berlebihan. Sebagaimana sabda Rasulullah:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِىُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ حَدَّثَنِى وَحْشِىُّ بْنُ حَرْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ.(رواه أبي داود).[64]

Artinya: “Telah menceritakan Ibrahim bin Musa al-Razi, telah menceritakan al- Walid bin Muslim, telah menceritakan Wahsyin bin Harbin, dari bapanya, dari sahabat, Rasulullah Saw, apabila makan beliau makan tidak sampai kenyang.” (H.R. Abu Daud).

 

            Perut manusia diciptakan untuk menegakkan tulang punggung karena mendapatkan asupan gizi yang cukup dari makanan yang ia makan. Sedangkan bila ia memenuhi perutnya, maka hal ini berdampak merusak agama dan dunianya. Penjelasannya sebagai berikut: Tidaklah seseorang biasa memenuhi perutnya, kecuali bila ia telah dikuasai oleh sifat keserakahan dan ambisi dunia. Dan kedua perangai ini berakibat buruk bagi pelakunya. Rasa kenyang yang berkepanjangan, menjerumuskan pelakunya ke dalam kesesatan dan menjadikannya merasa malas. Akibatnya ia selalu malas untuk beribadah, dan tubuhnya dipenuhi oleh timbunan zat-zat yang tidak ia butuhkan. Bila telah demikian, ia menjadi mudah marah, dikuasai syahwat birahi, dan ambisinya menjadi meluap, sehingga iapun terobsesi untuk menumpuk harta benda yang tidak ia perlukan."

            Dari penjelasan tersebut jelaslah bahwa memberikan waktu istirihat yang cukup bagi lambung untuk mencerna makanan adalah cara yang efektif untuk memperbaiki kondisi tubuh.

 

C. Pandangan Islam terhadap Pentingnya Makanan Bergizi bagi Kesehatan

            Dalam pandangan Islam, menyangkut makanan bergizi bagi kesehatan, merupakan salah satu karunia dan nikmat terbesar, setelah nikmat keimanan yang dianugerahkan Allah Swt kepada manusia. Karena, hanya orang yang sehat akal dan jasmani yang dapat belajar, bekerja, berjuang untuk memuliakan agama Allah Swt. memelihara kehormatan, harta benda, dan tanah airnya, dan melaksanakan segala kewajiban agama dan urusan dunia dengan sebaik-baiknya.[65]

            Sementara orang yang sakit tidak dapat melaksanakan segala kewajiban agama dan dunianya dengan baik. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Rasulullah Saw memadukan nikmat keimanan dengan kesehatan dalam sebuah hadits yang berbunyi:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ يُونُسَ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ لَمْ يُعْطَوْا فِي الدُّنْيَا خَيْرًا مِنْ الْيَقِينِ وَالْمُعَافَاةِ فَسَلُوهُمَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ . (رواه أحمد).

Artinya: Telah menceritakan Ismail bin Ibrahim, dari Yunus dari Hassan bahwa Abu Bakar r.a berbicara berkata Rasulullah Saw: “Umat manusia di dunia tidak diberikan nikmat yang lebih baik daripada keyakinan (keimanan) dan kesehatan. Maka mohonlah keduanya kepada Allah Azza Wa Jalla.” (H.R. Ahmad).[66]

 

            Islam telah mengingatkan kaum muslim agar jangan lalai dan lengah dalam memanfaatkan kesehatan dengan baik-baiknya. Rasulullah Saw bersabda:

أَخْبَرَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ هُوَ ابْنُ سَعِيدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ يُحَدِّثُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الصِّحَّةَ وَالْفَرَاغَ نِعْمَتَانِ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ. (رواه الدارمى).

Artinya: Telah menceritakan al-Makiyyu bin Ibrahim, diceritakan Abdullah bin Sa’id, mendengar ayahnya dari Ibni Abbas, berkata Rasulullah Saw: “Dua nikmat yang sering diabaikan umat manusia adalah nikmat sehat dan waktu luang.” (H.R. Al-Darimi).[67]

 

            Islam telah menyeru kaum muslim untuk meraih manfaat kesehatan sebelum terlambat dan sebelum datang serangan penyakit. Rasulullah Saw, bersabda:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ، أَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ ، عَنْ زِيَادِ بْنِ الْجَرَّاحِ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ الأَوْدِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ : اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ (رواه الشهاب).[68]

Artinya: Telah menceritakan Abdullah bin al-Mubaaraq, diceritakan Jaa’far bin Barqan dari Zi’ad bin Jarah, dari Amru bin Maimun al-Audyyu, berkata Rasulullah Saw: “Raihlah lima hal sebelum datangnya lima hal, yaitu masa mudamu sebelum datangnya masa tuamu, kesehatanmu sebelum datang sakitmu, dan masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang ajalmu. (H.R. al-Syihab).

 

            Kesadaran tentang kesehatan makanan bergizi dalam ajaran Islam bersifat universal dan global. Oleh sebab itu, semua kaum muslim; tua dan muda, lelaki dan perempuan pasti akan dapat mengetahuinya dengan mudah. Hal itu disebabkan, kesehatan dalam ajaran Islam saling berkait dengan kewajiban, etika, dan petunjuk syariat Islam yang di bawa oleh Rasulullah Saw.[69]

            Di antara permohonan seorang hamba kepada Allah Swt. adalah memohon supaya dilimpahkan kesehatan dan kesejahteraan selama hidupnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kita sering menemukan doa-doa yang berasal dari Rasulullah, seperti sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِى نَضْرَةَ عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ جِبْرِيلَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ فَقَالَ « نَعَمْ ». قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ.(رواه مسلم).

Artinya: Telah menceritakan Abdul Aziz, bin Suhaib dari Abi Nadharah, dari Abi Sa’id bahwa Jibril datang kepada Nabi Saw. dan berkata wahai Muhammad, beliau Menjawab “Ya” dan berkata Rasulullah Saw: “Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah kesehatan pada tubuhku. Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah kesehatan pada pendengaranku. Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah kesehatan pada penglihatanku.” (HR. Muslim).[70]

 

            Penjelasannya sebagai berikut: Islam memandang pentingnya makanan bergizi bagi manusia adalah dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi maka setiap anggota tubuh akan selalu sehat dan memperoleh energi yang luar biasa dan tidak mudah terkena serangan penyakit, bahkan dapat melaksanakan amal ibadah kepada Allah Swt dengan sempurna dan tanpa sebarang gangguan.

 

D. Syarat-Syarat Pengambilan Makanan Sehat

            Apabila kita makan, makanan pertama kali dicerna di dalam mulut, dengan cara dikunyah. Makanan di haluskan kemudian didorong ke lambung dengan gerak peristaltik. Di dalam lambung zat makanan diproses dengan bantuan pepsin, kemudian dicerna dengan bantuan enzim pencernaan. Enzim tersebut adalah yang berfungsi mencerna zat pati atau karbohidrat yang terkandung dalam sesuatu makanan terutama yang bergizi.

            Setelah mempelajari fungsi makanan dan jenis bahan makanan, maka sekarang dapat disusun syarat-syarat yang harus dipenuhi zat makanan. Makanan yang sehat adalah makanan yang banyak mengandung gizi. Makanan sehat dan bergizi yaitu makanan yang tidak mengandung kuman penyakit dan tidak boleh bersifat meracuni tubuh serta lezat rasanya. Syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:

a.       Harus cukup mengandung kalori.

b.      Protein, vitamin, garam mineral dan air.

c.       Perbandingan yang baik antara sumber karbohidrat, protein dan lemak.

d.      Mudah dicerna oleh alat pencernaan.

e.       Bersih, tidak mengandung bibit penyakit, karena hal ini tentu akan membahayaan kesehatan tubuh serta tidak bersifat racun bagi tubuh.

f.        Jumlah yang cukup tidak berlebihan. Serta tidak terlalu panas pada saat disantap.[71]

            Mengapa jumlah makanan yang disantap seseorang tidak boleh berlebihan? Apabila kita makan berlebihan, maka sisa bahan makanan yang tidak digunakan untuk pertumbuhan,  pemeliharaan sel, dan energi akan berubah menjadi lemak.

 

E. Manfaat Makanan Bergizi

            Untuk menjelaskan manfaat makanan bergizi bagi tubuh manusia, yaitu adalah sebagai sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Manfaat makanan satu sebagai sumber zat tenaga, dapat diibaratkan seperti bensin yang diperlukan oleh mobel untuk bisa dijalankan. Manusia harus makan agar memiliki energi untuk bergerak, bekerja, belajar, berpikir, dan sebagainya.

            Manfaat makanan yang kedua sebagai sumber zat pembangun, dapat digambarkan sebagai tanaman yang perlu pupuk agar dapat tumbuh menjadi suatu pohon yang besar dan kokoh. Jadi manusia perlu makanan supaya dapat tumbuh. Makanan sumber zat pembangun biasanya dalam pola makan kehidupan manusia termasuk golongan lauk-pauk, kacang tanah, telur, ikan, daging, dan lain sebagainya.

            Manfaat makanan yang ketiga sebagai sumber zat pengatur, ibarat seorang polisi lalu lintas yang mengatur semua kendaraan yang lewat agar teratur dan tertib. Maka manusia memerlukan makanan supaya semua bagian tubuh, dapat melaksanakan tugasnya secara baik dan teratur. Maka bahan makanan seperti sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan sumber zat pengatur yang utama untuk membangkitkan daya tahan tubuh bagi setiap manusia.[72]

 

F. Etika Islam dalam Hal Makanan dan Minuman

            Islam tidak hanya mengetengahkan prinsip dasar tentang sikap adil dan tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan dan minuman, tetapi ajaran Islam juga menentukan jenis makanan yang baik untuk kesehatan tubuh manusia dan perilaku sopan ketika menyantap makanan dan minuman.

            Pada prinsipnya, semua jenis makanan, baik yang berasal dari hewan, tumbuh-tumbuhan, maupun dari buah-buahan, halal dan baik dikonsumsi, kecuali yang diharamkan oleh agama. Allah Swt. berfirman:

$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=à2 `ÏB ÏM»t6ÍhŠsÛ $tB öNä3»oYø%yu (#rãä3ô©$#ur ¬! bÎ) óOçFZà2 çn$­ƒÎ) šcrßç7÷ès? ÇÊÐËÈ  

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! makanlah dari benda-benda Yang baik (yang halal) yang telah Kami berikan kepada kamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika betul kamu hanya beribadat kepadaNya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 172).

 

            Begitu pula dengan minuman, karena pada prinsipnya semua minuman halal, kecuali ada keterangan dari Al-Qur’an atau hadits Nabi yang mengharamkannya. Namun ada beberapa yang termasuk kategori minuman haram karena dapat merusak kesehatan tubuh dan memabukkan, sehingga dapat merusak akal yaitu semua minuman yang memabukkan karena mengandung alkohol, dan sesuatu yang dihisap, seperti rokok, ganja, dan syisyah (cerutu besar dari Turki dan telah memasyarakat di kalangan Negara Arab).[73]

            Selain itu, Rasulullah Saw telah memberikan suri teladan dan bimbingan yang baik kepada kaum muslim dalam hal menyantap makanan dan minuman secara baik dan sopan. Petunjuk dan bimbingan Rasulullah  Saw diantaranya:

            Rasulullah menyuap makanan ke mulut dalam ukuran kecil. Setelah itu beliau mengunyahnya berulang-ulang, lalu barulah menyuap makanan yang lain. Ketika hendak menyantap makanan, Rasulullah duduk dalam posisi yang sopan dan serius antaranya:

Membaca Basmalah Ketika Hendak Makan

            Sebagaimana sabdanya:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لاَ مَبِيتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ ».[74] (رواه مسلم).

Artinya: Dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya dia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila seseorang masuk ke dalam rumahnya, lalu ia menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika menghadapi makanannya, maka syetan akan berkata kepada teman-temannya, ‘Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada pula makan malam untuk kalian. Tetapi, sebaliknya, apabila ia masuk ke dalam rumah tanpa menyebut nama Allah pada waktu masuknya, maka syetan pun akan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam.’ Dan apabila ia tidak menyebut nama Allah pada saat menghadapi makanannya, maka syetan pun akan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam dan sekaligus makan malam. (H.R Muslim).

 

Berwudhu Sebelum Dan Setelah Makan

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا قَيْسٌ عَنْ أَبِى هَاشِمٍ عَنْ زَاذَانَ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قَرَأْتُ فِى التَّوْرَاةِ أَنَّ بَرَكَةَ الطَّعَامِ الْوُضُوءُ قَبْلَهُ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « بَرَكَةُ الطَّعَامِ الْوُضُوءُ قَبْلَهُ وَالْوُضُوءُ بَعْدَهُ) [75].رواه ألترمذي).

Artinya: Telah menceritakan musa bin Ismail, Diceritakan Qais dari Ibnu Hasyim dari Za’adan dari Sulman berkata: Rasulullah Saw, beliau selalu menganjurkan untuk berwudhu sebelum dan selepas makan.” (H.R. Al-Turmizi).

 

            Kemudian para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan berwudhu di sini adalah mencuci kedua tangan.

 

Rasulullah Juga Tidak Pernah Mencela Makanan,

            Rasulullah juga tidak pernah mencela makanan, sebagaimana sabdanya:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى حَازِمٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- طَعَامًا قَطُّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ.(رواه البخاري).

Artinya: Dari Abi Hurairah r.a Apabila suka, maka beliau langsung memakannya, tetapi jika tidak suka maka beliau meninggalkannya. (H.R. Bukhari).

 

Makan Dengan Menggunakan Tangan Kanan

            Rasulullah Saw juga makan dengan menggunakan tangan kanan, sebagaimana sabdanya:

عَنْ اِبْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ ».[76] (رواه مسلم).

Artinya: Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah Saw telah besabda, “Apabila seseorang di antaramu makan, maka hendaklah ia makan dengan menggunakan tangan kanannya; dan apabila ia minum, maka hendaklah ia minum dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya syetan itu makan dan minum dengan tangan kiri.” (H.R. Muslim).

 

Menjilati Jari Jemari Dan Piring,

            Rasulullah Saw selesai makan beliau menjilat jari-jemari dan piring, sebagaimana sabdanya:

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِلَعْقِ الأَصَابِعِ وَالصَّحْفَةِ وَقَالَ « إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِى أَيِّهِ الْبَرَكَةُ ».[77] (رواه مسلم).

Artinya: Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Saw, telah memerintahkan kita untuk menjilati jari-jari dan nampan. Selain itu, beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di mana berkah tersebut ada.” (H.R Muslim).

 

 

 

 

Larangan Untuk Bernafas Dalam Tempat Minum

            Rasulullah Saw ketika minum beliau selalu menarik nafas ketika minum. Dan melarang untuk menghembuskan nafas di dalam tempat minum. Sebagaimana Sabdanya:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَتَنَفَّسُ فِى الشَّرَابِ ثَلاَثًا وَيَقُولُ « إِنَّهُ أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ ». قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أَتَنَفَّسُ فِى الشَّرَابِ ثَلاَثًا.[78](رواه مسلم).

Artinya: Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasalam. selalu menarik nafas sebanyak tiga kali ketika minum, seraya berkata, “Yang demikian itu lebih segar, lebih sehat,dan lebih nyaman.” Anas berkata, “Maka saya pun sering menarik nafas ketika minum sebanyak tiga kali.” (H.R. Muslim).

 

            Kemudian para ulama menafsirkan juga bahwa, Rasulullah tidak pernah makan makanan yang sangat panas. Rasulullah melarang untuk meniup makanan atau bernapas pada tempat makanan. Rasulullah selalu menganjurkan untuk bersiwak (menyikat gigi dan mulut).[79]

            Rasulullah menyuap makanan ke mulutnya dengan menggunakan tiga jari. Kadang beliau juga menggunakan empat jari, dan Rasulullah makan jika merasa lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.[80]

            Menurut analisa penulis menyangkut perkara diatas adalah, menerangkan dan memaparkan secara jelas tentang orientasi kaum muslim dalam pola makan, yang biasanya terangkum dalam beberapa kategori, diantaranya tidak berlebihan-lebihan, tidak perlu berpenampilan mewah, memiliki corak yang beraneka ragam, mengkonsumsi makanan yang masih segar, tidak serakah, dan menjalankan diet dengan berpuasa.

            Apabila pola makan tersebut diperhatikan dan dijalankan secara teratur, maka tubuh pasti memperoleh elemen-elemen makanan utama yang sangat di butuhkannya, seperti protein, karbohidrat, vitamin, garam, dan air dengan baik. Selain itu. Jika elemen-elemen tersebut dapat direalisasikan dan diterapkan secara baik dengan metode yang seimbang, maka tidak akan menimbulkan kerusakan apapun. Oleh karena itu makanan yang seimbang senantisa akan menghasilkan makanan yang sehat pula. Al-Qur’an telah mengingatkan kaum muslim untuk menjaga dan memelihara kesehatan dalam pola makanan. Ajaran Islam sangat memperhatikan kebaikan, kebersihan, kesehatan, dan kemudahan makanan untuk kaum muslim. Maka setiap amal ibadah dapat dikerjakan dengan sempurna mengikut petunjuk Rasulullah Saw. berpandukan al-Qur’an dan hadits Rasulullah Saw.

 



[1] Hamdun Hasan Ruqaith, ar-Ri’ayah as-Shihhiyyah Wa ar-Riyaadhiyah Fi al-Islam, Terj. Imron Rosadi, S.Ag, Cet. 1, (Jakarta: Najla Press, 2004), hal. 19.

                [2] Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majar Ar-Rabi’i Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, Jilid. 2, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), hal. 985.

[3] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid. 8, (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1334 H), hal. 56.

 

                [4] Abu Abdur Rahman Ahmad bin Ali bin Syu’aib Ibn Ali Ibn Sinan Ibn Bahar Al-Khurasani Al-Qadi, Sunan Nasa’I, (Dar Kutub Al-Ilmiah, 1411-1991), hal. 176.

                [5] Mahir Hasan Mahmud, Al-Thib Al-Badil, Al-Tsimar Wa Al-A’syab Al-Waridat Fi Al-Qur’an Al-Karim Wa al-Sunnah al-Nabawiyah, Terj. Hamzah Hasan, Lc, Cet.1, (Jakarta: Qultummedia, 2007), hal. 6.

                [6] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn Al-Mugirah bin Bardizbah Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, (Beirut: Dar Ibnu Katsir Al-Yamamah, 1407-1987), hal. 2062.

[7] Mahir Hasan Mahmud, Al-Thib Al-Badil…, hal. 6.

                [8] Abu Al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid. 6, (Beirut: Dar Al-Jill, T.t), hal. 123.

 

[9] Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majar Ar-Rabi’i Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), hal. 1142.  

[10] Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Al-Mishbaahul Muniir fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Terj. Abu Ihsan al-Atsari, Cet. 2, (Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2006). hal. 213.

[11] Dr.Muhammad Saqa Al-‘Id, Al-‘Ilaj Bi Al-Asal, Terj. Faisal Saleh, Lc, M.Si, Cet. 1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hal. 7-8.

                [12] Indra Kusumah, Panduan, Diet Ala Rasulullah, Cet. 1, (Jakarta: Qultummedia, 2009), hal. 111.

[13] Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Al-Mishbaahul Muniir Fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Terj. Abu Ihsan al- Atsari, Cet. 2, (Bongor: Pustaka Ibnu Katsir, 2006), hal. 216.

[14] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah al-Bukhary, Shahih al-Bukhary, Jilid. 6, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), hal. 2154.

[15] Zaghlul An-Najjar, Al-I’Jaz Al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah al-Juz’u al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 120.

[16] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), hal. 342.

[17]Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Al-Mishbaahul Muniir Fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir…, hal. 586.

[18] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid. 6, (Beirut: Dar al-Jill, 204-261 H/ 820-875 M), hal. 123.

[19] Zaki Rakhmawan, Kupas Tuntas Khasiat Kurma, Cet.1, (Bogor: Media Tarbiah, 2006), hal. 45.

                [20] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), hal. 334.

                [21] Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad bin Hambal, Cet. 2, Jilid. 3, (Beirut: Mua’sasah al-Risalah, 1999), hal. 440.

                [22] Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Al-Mishbaahul Muniir Fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir,…hal. 20.

[23] Abdul Basith Muhammad As-Sayyid. at-Taghdziyah an-Nabawiyah Al-Ghadzan Baina ad-Daa Wa ad-Daw, Terj. M. Abdul Ghaffar H.M. Iqbal Haetami, Lc. Cet. 1 (Jakarta: Al Mahira, 2006), hal. 154.

                [24] Abu Isa Muhammad bin Musa bin Ad-Dhahha’ Al-Sulmani Al-Tirmizi, Sunan Turmuzi, Jilid. 4, (Beirut: Dar Ihya’ al-Tharasi al-Arabi), hal. 285.

                [25] Abdul Basith Muhammad As-Sayyid. at-Taghdziyah an-Nabawiyah al-Ghadzan Baina ad-Daa Wa ad-Daw, Terj. M. Abdul Ghaffar H.M. Iqbal Haetami, Lc. Cet. 1 (Jakarta: Al Mahira, 2006), hal. 144.

[26]Zaghlul an-Najjar, al-I’Jaz al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah al-Juz’u al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 120, 173.

                [27] Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majar ar-Rabi’i Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, Jilid. 2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), hal. 1099.

[28] Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid. at-Taghdziyah an-Nabawiyah Al-Ghadzan Baina ad-Daa Wa ad-Daw, Terj. M. Abdul Ghaffar H.M. Iqbal Haetami, Lc. Cet.1, (Jakarta: Al Mahira, 2006), hal. 166.

[29] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), hal. 247-248.

                [30] Indra Kusumah. Panduan Diet Ala Rasulullah, Cet.1, (Jakarta: Qultummedia, 2009), hal. 90.

[31] Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majar Ar-Rabi’i Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, Jilid. 2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), hal. 1102.  

[32] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), hal. 370.

                [33] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, ath-Thib an-Nabawi, Terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani, Cet. 1, (Jakarta: Griya Ilmu, 2004), hal. 359.

                [34] Muhammad Nashiruddin Al Albani, Mukhtashar Shahih Muslim, Terj. Subhan Imron Rosadi, Cet. 1, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hal. 101.

                [35] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah al-Bukhary, Shahih al-Bukhari, Jilid. 4, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), hal. 1627.

                [36] Zaghlul An-Najjar, Al-I’Jaz Al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah Al-Juz’u Al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 110.

                [37] Ahmad bin Ali bin Hajar Abu Al-Fadhil Al-Asqalani Al-Sya’fie, Lisan Al-Mizan, Jilid. 6, (Beirut: Mua’sasah al-A’laami, 1986), hal. 23.

                [38] Dr. Abdul Basith Muhammad al-Sayyid. at-Taghdziyah an-Nabawiyah al-Ghadzan Baina ad-Daa Wa ad-Daw, Terj. M. Abdul Ghaffar H.M. Iqbal Haetami, Lc. Cet. 1, (Jakarta: Al Mahira, 2006), hal. 150.

                [39] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid 6, (Beirut: Dar al-Jill), hal. 121.

                [40]Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, ath-Thib an-Nabawi, Terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani, Cet. 1, (Jakarta: Griya Ilmu, 2004.), hal. 493.

[41] Indra Kusumah. Panduan Diet Ala Rasulullah, Cet. 1, (Jakarta: Qultummedia, 2009), hal. 108.

[42] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn Al-Mugirah bin Bardizbah Al-Bukhary, Shahih Al-Bukhary, Jilid. 5, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), hal. 2067.

[43] Mahir Hasan Mahmud. al-Thib al-Badil, al-Tsimar Wa al-A’syab al-Waridat Fi al-Qur’an al-Karim Wa - al-Sunnah al-Nabawiyah, Terj. Hamzah Hasan, Lc, Cet.1 (Jakarta: Qultummedia, 2007), hal. 144.

                [44] Zaghlul An-Najjar, al-I’Jaz al-‘Ilmly Fi as-Sunnah an-Nabawiyyah al-Juz’u al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 83.

                [45] Sulaiman bin Ahmad bin Ayub Abu al-Qaasim At-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabir, Jilid. 20, (al-Mausul: Maktabah al-Ulum, 1404-1983), hal. 96

                [46] Zaghlul An-Najjar, al-I’Jaz al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah al-Juz’u al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 86, 88.

[47] Alaa Ei Din Ali bin Hossam Ei Din Almottagi Al-Hindi Al-Burhani Fauri, Kanzul Amal Fi Sunan Al-Aqwali Wal Aff’al, Jilid.10 (Beirut: Mua’sasah Al-Risalah, 1981), hal. 49. 

                [48] Zaghlul An-Najjar, Al-I’Jaz Al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah Al-Juz’u Al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 76.

[49] Sulayman bin Al-Asy’at Ibn Ishaq Al-Azdi Al-Sijistani, Sunan Abu Daud, Jilid. 3, (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, T.t), hal. 423.

 

                [50] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ath-Thib an-Nabawi, Terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani, Cet. 11, (Jakarta: Griya Ilmu, 2009), hal. 363.    

                [51] Indra Kusumah. Panduan Diet Ala Rasulullah, Cet.1 (Jakarta: Qultummedia, 2009), hal.  100.

 

                [52] Abdullah bin Abdul Rahman  Abu Muhammad al-Darimi, Sunan al-Darimi, Jilid. 2, (Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi, 1407), hal. 157.

                [53]  Mahir Hasan Mahmud. al-Thib al-Badil, al-Tsimar Wa al-A’syab al-Waridat Fi al-Qur’an al-Karim Wa - al-Sunnah al-Nabawiyah, Terj. Hamzah Hasan, Lc, Cet. I (Jakarta: Qultummedia, 2007). hal. 118.

                [54]  Ibid…, 120.

[55] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ath-Thibbun Nabawi, Terj. Abu Umar Basyir Al-Maidani, Cet. 1, (Jakarta: Griya Ilmu, 2004), hal. 414.

                [56] Mahir Hasan Mahmud, al-Thib al-Badil, al-Tsimar Wa al-A’syab al-Waridat Fi al-Qur’an al-Karim Wa al-Sunnah al-Nabawiyah, Terj. Hamzah Hasan, Lc., (Jakarta: Qultum media, 2007), hal. 119.

                [57] Rohi Baalbaki, Al-Mawrid A Modern Arabic- English Dictionary, (Beirut: Dar El-Ilm Lilmalayin, 1995), hal. 796.

[58] Kus Irianto, Gizi Dan Pola Hidup Sehat Cet. 1, (Bandung: Yrama Widya, 2004), hal. 16.

               

[59] Imam Syafi’i Abu Abdullah Muhammad bin Idris, Mukhtashar Kitab Al-Umm fil Fiqhi, Terj. Mohammad Yasir Abd Mutholib, Cet. 2, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2004), hal. 767.

                [60] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah al-Bukhary, Shahih…, hal. 858.

                [61] Imam Syafi’i Abu Abdullah Muhammad bin Idris, Mukhtashar Kitab Al-Umm fill Fiqhi…, hal. 769.

[62] Hamdun Hasan Ruqaith, ar-Ri’ayah as-Shihhiyyah Wa ar-Riyaadhiyah Fi al-Islam, Terj. Imron Rosadi, S.Ag. Cet. 1, (Jakarta: Najla Press, 2004), hal. 80.

[63] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah al-Bukhari, Shahih…,hal. 749.

                [64] Sulayman bin Al-Asy’at Ibn Ishaq Al-Azdi Al-Sijistani, Sunan Abu Daud, Jilid. 3 (Beirut:  Dar al-Kitab al-Arabi, 202-275 H/ 817-889 M), hal. 406.

                [65] Hamdun Hasan Ruqaith, ar-Ri’ayah as-Shihhiyyah…, hal. 31.

                [66] Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad bin Hambal, Cet. 1, Jilid. 1, (Beirut: Mua’sasah al-Risalah, 1420-1999), hal. 212.

[67] Abdullah bin Abdul Rahman  Abu Muhammad Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi, Jilid. 2, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Arabi, 1407), hal. 385.

                [68] Muhammad bin Salamah bin Ja’far Abu Abdullah al-Qadha’i, Musnad al-Syihab, Jilid. 1, (Beirut: Mu’asasah al-Risalah, 1407-1987), hal. 425.

                [69] Hamdun Hasan Ruqaith, ar-Ri’ayah as-Shihhiyyah…, hal. 33.

[70] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid 7, (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 204-261 H/ 820-875), hal. 13.

[71] Kus Irianto, Gizi Dan Pola Hidup Sehat Cet. 1, (Bandung: Yrama Widya, 2004),  hal. 68.

                [72] Suhardjo, Berbagai Cara Pendidikan Gizi, Cet. 2, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hal. 134.

                [73] Hamdun Hasan Ruqaith, ar-Ri’ayah as-Shihhiyyah…,  hal. 65.

                [74] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid 6, (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 204-261 H/ 820-875 M), hal. 108.

                [75] Abu Isa Muhammad bin Musa bin ad-Dhahha’ al-Sulmani al-Tirmizi, Sunan al-Turmuzi, Jilid. 4, (Beirut: Dar Ihya’ al-Tharasi al-Arabi, T.t), hal. 281.

                [76] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim…, hal. 109 .

                [77] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim…, hal. 114 .

                [78] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim…, hal. 111 .

                [79] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet. 1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999),  hal. 247.

[80] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad,…, hal.205


Komentar

Postingan Populer