Makanan Bergizi dalam Hadits dan Manfaatnya bagi Kehidupan Manusia

 

MAKANAN BERGIZI DAN APLIKASINYA

BAGI KEHIDUPAN MANUSIA

 

 

 

1.     Madu

 

 


 

حَدَّثَنَا مَحْمُوْدُ بْنُ خَدَاشِ. حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ زَكْرِيَاءِ اَلْقُرَشِي . حَدَّثَنَا اَلزُّبِيْرُ بْنُ سَعِيْدُ الهْاَشِمِيُّ عَنْ عَبْدِ الْحُمَيْدُ بْنُ سَالِمْ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةِ قَالَ, قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: ( مَنْ لُعَقِّ الْعَسَلِ ثَلاَثِ غُدْوَاتِ كُلِّ شَهْرٍ لَمْ يُصِبَهُ عَظِيْمُ مِنَ اْلبَلاَءِ ). (رواه إبن ماجه).

 

Artinya: Telah menceritakan Mahmud bin Khaddaash. Diriwayatkan Said bin Zakaria al-Quraish. Diceritakan Al-Zubair bin Sa'id al-Hashimi dari Abdul Hamid Bin Salem dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw berkata : Barangsiapa meminum tiga sendok madu dalam tiga pagi saja setiap bulan, niscaya ia tidak akan terkena penyakit berat.[1] (H.R Ibn Majah).

 

            Madu adalah cairan yang keluar dari perut lebah dan mengandung obat serta gizinya yang menyembuhkan bagi manusia. Allah Swt, berfirman:

 

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (68) ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (69). (النحل: 68-69).

 

Artinya: Dan Tuhanmu menginspirasi lebah: "Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung dan di pepohonan, dan juga di bangunan-bangunan yang didirikan oleh manusia. kemudian makanlah dari Segala jenis bunga-bungaan dan buah-buahan (yang Engkau sukai ), dan ikutilah jalan-jalan peraturan Tuhanmu Yang diilhamkan dan dimudahkannya kepadamu ". (dengan itu) akan keluarlah dari Dalam badannya minuman (madu) yang berbeda warnanya, yang memiliki penawar bagi manusia (dari berbagai penyakit). Sesungguhnya pada yang demikian itu, ada tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memikirkan. (Q.S Al-Nahl: 68-69).

 

            Unsur-unsur yang terdapat dalam madu adalah sebagai berikut:

Air 16,09%, Protein 0,3%, Frucktosa 41%, Glukosa 34%, Sukrosa 1,9%, Nitrogen 0,04%, Karbon 0,81%, Dextrin 1,7%, Zat lainnya 3,4%. Hampir seluruh vitamin yang dibutuhkan tubuh manusia terkandung dalam madu seperti:

Vitamin A, Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B3, Vitamin B5, Vitamin B6, Vitamin D, Vitamin K, Vitamin E, Vitamin H.

 

 

2.     Habbatus Sauda'

 

 


 

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بَكِيْرُ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِى أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ فِى الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ السَّامَ ». وَالسَّامُ الْمَوْتُ. وَالْحَبَّةُ السَّوْدَاءُ الشُّونِيزُ. (رواه البخارى).

Artinya:  Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah dan Sa'id bin Musayyib bahwa Abu Hurairah telah mengabarkan kepada keduanya, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dalam habbatus sauda' (jintan hitam) terdapat obat dari segala penyakit kecuali kematian." Ibnu Syihab berkata; "Maksud dari kematian adalah maut sedangkan habbatus sauda' adalah pohon syuniz."[2] (H.R. Bukhari).

 

            Habbatus Sauda’ adalah buah tanaman rumput-rumput yang tumbuh tahunan, dan termasuk dalam famili anemone. Tanaman ini tumbuh di lembah Laut Tengah, dan dibudidayakan di berbagai belahan dunia. Nama ilmiahnya adalah nigella sativa.        Namun, ia memiliki nama-nama lokal di berbagai negara. Di Mesir tanaman ini dikenal dengan nama Habbah Barakah, di Syam dengan nama Quzhah, di Yaman dengan Qahthah, di Moroko dengan nama Sanuj, Sinuj, dan Zarrarah. Sementara di Persia(Iran), tanaman ini dikenal dengan nama Syuniz, Syiniz, atau Siyahdanah. Habbatus Sauda’ adalah biji belah, hitam, beraroma tajam, dan biasa digunakan sebagai salah satu bumbu yang ditambahkan pada makanan untuk menyedapkan rasa.[3]

                        Tidak ada seorang pun pada masa lalu yang menyadari bahwa habbatus sauda’ memiliki hubungan yang sangat erat dengan sistem kekebalan tubuh, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits Rasulullah Saw, bahwa di dalamnya terkandung gizi dan obat bagi segala macam penyakit selain kematian.

            Hasil penelitian yang dibuat dan terbukti bahwa habbatus sauda’ mengandung minyak tetap dengan persentase 33% dan minyak yang mudah menguap sebanyak 1,5%. Minyak habbatus sauda’ ternyata juga mengandung zat gizi yang ampuh yang berfungsi menguatkan sistem kekebalan yang kemudian diberi dengan nama ilmiah biji berkah (Nigella Sativa), yaitu zat gizi “nigellone”)

            Berbagai penelitian membuktikan bahwa zat gizi nigellon memiliki peran yang efektif dalam meningkatkan kemampuan pertahanan bagi sistem kekebalan tubuh manusia. Fakta ini belum terjamah disiplin ilmu kecuali baru pada beberapa dekade terakhir abad ke-20, pada hal Nabi Saw, telah mengisyaratkannya empat belas abad yang silam bahwa tubuh manusia sangat memerlukan zat gizi, hal ini karena, tanpa zat gizi yang cukup maka sistem kekebalan tubuh manusia akan lemah.[4]

 

 

3.     Kurma

 

 


 

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجُوعُ أَهْلُ بَيْتٍ عِنْدَهُمْ التَّمْرُ. (رواه مسلم).

Artinya:   Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Daarimi, telah   mengabarkan kepada kami Yahya bin Hassan, Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak akan lapar penghuni rumah yang memiliki kurma."[5] ( H.R. Muslim).

 

            Rasulullah Saw sering kali menyebutkan tentang kurma dan beliau menjelaskan tentang keutamaan dan khasiat buah ini, antaranya sebagaimana yang telah dijelaskan pada hadits di atas. [6]

            Kurma adalah jenis nutrisi yang baik, terutama bagi orang yang makanan sehari-hariannya mengandung kurma seperti penduduk Madinah. Kurma merupakan buah yang paling bergizi untuk badan manusia, karena mengandung intisari panas dan kelembaban. Kurma merupakan buah-buahan yang bergizi dan sekaligus makanan, sebagai obat dan minuman serta manisan.[7]

            Komposisi buah kurma terdiri atas 70% zat gula, 20% protein, dan 3% lemak. Buah kurma kaya dengan zat garam mineral yang menetralisasi asam, seperti Kalsium, Potassium (unsur kimia yang halus dan berwarna putih), dan zat besi. Buah kurma mengandung sejumlah vitamin A dan B.

           

 

4.     Susu

 

 


 

حَدَّثَنَا عَبْدُ الله حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ أَنَّا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنِيُّ عَمْرُ بْنُ أَبِي حُرْمَلَةُ عَنِ بْنُ عَبَّاسِ قَالَ: دَخَلْتُ أَنَّا وَخَالِدُ بْنُ اَلْوَلِيْدً مَعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فَقُلْتُ مَا كُنْتُ لِأُوثِرَ بِسُؤْرِكَ عَلَيَّ أَحَدًا فَقَالَ مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ طَعَامًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُجْزِئُ مَكَانَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ غَيْرَ اللَّبَنِ. (رواه أحمد بن حنبل).

Artinya: Diceritakan Abdullah, Diceritakan Ismail dari Ali bin Ziad Telah menceritakan Umar bin Abi Harmalah dari Ibni Abbas berkata telah masuk Khalid bin Awwalid dengan Rasulullah Saw, dan berkata:   Barangsiapa diberikan rezeki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa makanan, maka ucapkanlah, “Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah keberkahan pada makanan kami dan berikanlah kami makanan yang lebih baik darinya.’ Barangsiapa diberikan minuman berupa susu oleh Allah, maka ucapkanlah, ‘Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah keberkahan pada minuman kami dan tambahkanlah’. Tidak ada suatu makanan dan minuman yang dapat mencukupi kebutuhan kesehatan selain susu.[8] (H.R Imam Ahmad Bin Hambal).

 

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan: Rasulullah Saw. pernah disuguhi satu mangkuk khamer (arak) dan satu mangkuk susu pada malam Isra, lalu Nabi melihat keduanya dan beliau mengambil susu. Jibril berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberimu hidayah menuju fitrah. Jika saja engkau mengambil arak (khamer), niscaya umatmu akan sesat.”

            Sekalipun susu rasanya biasa-biasa saja, tapi susu mengandung unsur-unsur yang murni dan alami. Susu merupakan makanan alami yang keluar dari payudara hewan mamalia tanpa tambahan apapun. Ia akan keluar setelah mamalia melahirkan.

            Susu mengandung 87.4% air. Ini adalah kadar yang tepat menjadi unsur-unsur lainnya berbentuk lendir seperti protein atau berbentuk gumpalan seperti lemak atau berbentuk larutan seperti garam laktosa. Sementara proses pembentukan susu tidak mungkin terjadi, kecuali dalam bentuk cairan. Allah

 

 

5.     Zaitun

 

 


 

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوا بِهِ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ وَكَانَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ يَضْطَرِبُ فِي رِوَايَةِ هَذَا الْحَدِيثِ فَرُبَّمَا ذَكَرَ فِيهِ عَنْ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُبَّمَا رَوَاهُ عَلَى الشَّكِّ فَقَالَ أَحْسَبُهُ عَنْ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُبَّمَا قَالَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلًا حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ مَعْبَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعَمَرٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ عُمَرَ. (رواه الترمذي).

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari Umar bin Al Khaththab ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya (pergunakan untuk selain makan), karena dia dihasilkan dari pohon yang diberkahi." Berkata Abu 'Isa: Ini merupakan hadits yang tidak kami ketahui kecuali dari haditsnya Abdurrazzaq dari Ma'mar, dan Abdurrazzaq mengalami Idlthirab dalam meriwayatkan hadis ini, terkadang dia menyebutkan dari Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan terkadang meriwayatkannya dengan ragu-ragu dengan berkata, "Pekiraan saya, diriwayatkan dari Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam." Atau ia berkata: "Dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara mursal. Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Sulaiman bin Ma'bad, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam semisalnya, namun di dalam sanadnya ia tidak menyebutkan; Dari Umar.[9] (H.R.  Turmizi).

 

            Zaitun (sebagai buah) dan minyak zaitun telah disebut dalam Al-Qur’an sebanyak tujuh kali. Allah pun pernah bersumpah dengan menggunakan media zaitun pada salah satu dari ketujuh tempat tersebut (Demi buah tin dan buah zaitun), padahal Allah adalah zat yang tidak butuh sumpah.

 

Allah juga mengisyaratkan pohon zaitun dengan isyarat yang indefinitive dalam firman-Nya:

وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِنْ طُورِ سَيْنَاءَ تَنْبُتُ بِالدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِلآكِلِينَ. (المؤمنون: 20). 

Artinya: Dan (Kami juga menumbuhkan untuk kamu) pokok Yang asal tumbuhnya di kawasan Gunung Tursina (pohon zaitun), Yang mengeluarkan minyak dan lauk bagi orang-orang Yang makan. (Q.S. Al-Mu’minum: 20(.

 

            Unsur-unsur yang terkandung dalam buah zaitun adalah zaitun mengandung 67% air, 23% minyak, 5% protein, 1% garam mineral, terutama garam kalsium dan besi. Buah ini juga mengandung beberapa jenis vitamin. Karena buah ini mengandung minyak, sehingga mengandung unsur-unsur vitamin A, D dan E, ketiganya biasa ada pada minyak. Zaitun termasuk buah yang memiliki fungsi kesehatan,karena mengandung vitamin B dan C.[10]

           

 

6.     Daging

 

 


 

حَدَّثَنَا اَلْعَبَّاسِ بْنُ اَلْوَلِيْدً اَلْخِلاَلِ اَلدَّمْشِقِي . حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صًالِحً . حَدَّثَنَي سُلَيْمَانِ ابْنُ عَطَاِء َالْجَزَرِيُّ. حَدَّثَنِيُّ مُسَلَّمَةُ بْنُ عَبْدِ اللهُ الجَهَنِيُّ عَنْ عُمِّهِ أَبِي مُشَجَّعَةِ عَنْ أَبِي اَلدَّرْدَاءِ قَالَ, قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ ( سَيِّدُ طَّعَامِ أَهْلُ الدُّنْيَا وَأَهْلُ الْجَنَّةِ اَلْلَّحْمِ ). (رواه إبن ماجه).

Artinya: Diceritakan al-Abbas bin Al-Walid al-Khalal al-Damsyiqi. Diceritakan Yahya bin Saleh. Diceritakan Sulaiman Ibnu Atha’i al-Jazari.  Diceritakan Musalamah bin Abdullah al-Juhani untuk mendorong pamannya Abu Darda berkata: Rasulullah Allah semoga Allah memberkati dia dan memberinya damai “Rajanya makanan penduduk dunia dan penduduk syurga adalah  daging.”[11] (H.R. Ibn Majah).

 

            Daging hewan merupakan satu-satunya sumber protein yang cukup memadai, karena di dalamnya mengandung asam amino utama yang dapat membangun jaringan tubuh dan otot. Protein nabati tidak dapat mengimbangi unsur-unsur yang ada dalam protein hewani. Protein hewani satu-satunya makanan yang dapat memberikan imunitas pada tubuh dan dapat menyerang bakteria juga mikroba. Oleh karena itu, jika kekurangan protein hewani ini, maka tubuh akan memiliki daya tahan yang lemah dan mudah terkena penyakit.[12]

            Daging yang paling baik adalah yang sedikit unsur minyaknya. Oleh karena itu, bagian pundak  dan lengan merupakan bagian yang paling baik, paling enak, paling lembut dan mudah untuk dicerna. Dalam riwayat Bukhari Muslim juga disebutkan bahwa Nabi Saw. menyukai bagian ini.[13] Dan unsur-unsur kandungan gizi yang terdapat dalam daging adalah sebagai berikut: air dengan kandungan sekitar75% berat timbangannya, protein garam mineral khususnya fosfat potasium dengan bekas dari garam sodium, kels, maniza seperti zat pemerah butiran darah merah yang terdiri dari zat besi, lemak, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, Asam Nikotinat, Besi, Fosfor.[14]

 

 

7.     Ikan

 

 


 

حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ). (رواه إبن ماجه).

Artinya: Diceritakan Abu Musab al. Diriwayatkan oleh Abdul Rahman bin Zaid bin Aslam dari-Nya ayah Umar bin Abdullah bahwa Rasulullah perdamaian Allah atas dia berkata: “Dihalalkan untuk kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai adalah ikan dan belalang,

               sedangkan dua darah adalah hati dan limpa. [15] (H.R Ibn Majah).

 

            Ikan yang terbaik adalah yang paling lezat rasanya. Ukurannya sedang tipis kulitnya dagingnya tidak keras dan tidak kering, di samping itu juga ikan tersebut hidup dalam air tawar yang mengalir dan subur, mengonsumsi tumbuh-tumbuhan, bukan kotoran. Tempat yang terbaik untuk ikan adalah dalam sungai yang berair baik, ada batu-batu karang tempat ikan tersebut bersembunyi, berpasir, di air-air yang tawar dan tidak penuh kotoran serta tidak terlalu panas, tidak banyak berombak dan bergelombang, di samping juga terbuka sehingga terkena udara dan sinar matahari.

            Ikan laut memang baik, lembut dan nikmat. Yang masih segar bersifat dingin dan lembab, justeru memberikan campuran gizi yang baik. Ikan laut muda menyuburkan tubuh, menambah hormon serta bisa memperbaiki sistem pencernaan yang panas.[16]

            Adapun ikan asin yang terbaik adalah yang baru saja diasinkan. Sifatnya panas dan kering. Semakin lama semakin kering dan semakin panas. Bila masih dalam keadaan segar, ikan dapat melemaskan otot perut, dan bisa membersihkan saluran pernapasan hingga paru-paru serta memperindah suara. Dan bisa berkhasiat mengeluarkan Amnio serta ampas makanan dari dalam tubuh melalui energi penghisap yang dimilikinya.[17]

            Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir bin Abdullah, diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Nabi Saw pernah mengutus tiga ratus pengendara dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah sebagai pemimpinnya di antara kami. Sampailah kami di sebuah pantai. Kami merasa lapar sekali sehingga kami terpaksa menyantap apa saja. Tiba-tiba seekor ikan besar terlempar dari laut ke arah kami, yakni yang dikenal sebagai ikan paus. Selama setengah bulan kami menyantap ikan tersebut, bahkan kami menjadikan lemaknya sebagai lauk pula sehingga tubuh kami menjadi kuat. Abu Ubaidah mengambil salah satu tulang rusuk ikan tersebut, lalu beliau memboncengkan seorang lelaki di atas untanya sementara tulang itu beliau tancapkan sehingga beliau lewat di sampingnya.[18]

 

8.     Cendawan

 


 

 

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَمْأَةُ مِنْ الْمَنِّ وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ. (رواه البخاري).

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Abdul Malik dari 'Amru bin Huraits dari Sa'id bin Zaid radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Al Kam-at (cendawan) adalah sejenis manna (sejenis makanan yang diturunkan Allah Ta'ala kepada Bani Israil), airnya mengandung obat bagi penyakit mata."[19] (H.R. Bukhari).

 

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (Kitab Tafsir Al-Quran), dengan redaksi sebagai berikut. Kami mendapat hadits dari Abu Nu’aim, tuturnya: Kami mendapat hadis dari Sufyan, dari Abdul Malik, dari Amru bin Huraits, dari Sa’id bin Zaid ra. Ia mengatakan: Rasulullah Saw, bersabda: Cendawan termasuk anugerah, dan airnya dapat menyembuhkan (sakit) mata.

Imam Muslim juga meriwayatkan hadis ini dalam Shahih-nya dari Sa’id bin Zaid r.a Tuturnya: Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Cendawan termasuk anugerah, dan airnya dapat menyembuhkan (sakit) mata. Hadits serupa dengan nash yang sama diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi dari Abu Hurairah.

Cendawan yang dalam bahasa Arabnya disebut Ram’ah (bentuk tunggalnya: Ram) adalah benjolan jamur akar yang tumbuh dibawah tanah melalui simbiosis dengan akar tumbuhan tertentu. Cendawan tumbuh dibawah tanah sampai kedalam 30 cm.

Cendawan merupakan sumber protein penting di antara tanaman-tanaman gurun. Benjolan cendawan mengandung 77% air dan 23% di antaranya terdiri dari berbagai macam zat, antara lain: 60% karbohidrat, 7% lemak, 4% serat, 18% zat-zat protein, 11% sisanya abu sisa pembakaran. Dalam protein cendawan diketahui ada 17 macam asam yang tidak berbahaya.[20]

Pernyataan Rasulullah Saw. bahwa cendawan adalah anugerah merupakan ungkapan ekspresif bahwa cendawan tumbuh dengan sendirinya atas karunia dan anugerah dari Allah Swt. Selain itu, cendawan juga tidak butuh bahan makanan benih atau pengairan. Dari sinilah ia kemudian dianggap sebagai anugerah. Sedangkan pada waktu sekarang pula, cendawan dapat tumbuh dengan menggunakan proses teknologi modern, dengan mengambil anak keturunannya dan di tanam di tempat yang ditentukan untuk penanaman anak benih di samping penggunaan baja yang ditentukan untuk cendawan untuk proses pembesaran anak benih. Dari sinilah ia kemudian dianggap sebagai anugerah dari Allah Swt.

 

 

9.      Buah Delima

 

 


 

حَدَّثَنَا جَعْفَرِ بْنُ مُحَمَّدُ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَلِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ مَا مِنْ رُمَّانَةِ إِلاَّ وَفِيْهَا حَبَّةِ مِنْ رُمَّانِ الْجَنَّةِ. (رواه المذان).

Artinya: “ Telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Muhammad dari ayahnya Ali ra dengan dia bahwa Nabi saw mengatakan. Tidak ada satu delima pun kecuali di dalamnya terdapat satu biji dari delima surga.”[21]

 

            Delima termasuk dalam buah-buahan surga. Sebagaimana firman Allah Swt:

فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ. (الرحمن: 68)    

Artinya: Pada keduanya juga terdapat buah-buahan, serta pohon-pohon kurma dan delima. (Q.S. Al-Rahman: 68).

 

            Untuk pengetahuan manusia juga bahwa kulit buah delima mengandung asam tanic atau Tannic acid. Asam ini merupakan unsur pengontrol. Unsur ini juga terdapat dalam buahnya. Di samping unsur-unsur pengontrol, air buah delima juga mengandung gula mentol dan jenis gula lainnya. Selain itu, buah ini juga kaya unsur zat (gizi) besi.

            Dan kandungan gizi buah delima sangat penting bagi pembentukan sel darah merah. Oleh karena itu, ia sangat bermanfaat bagi mereka yang kekurangan darah (anemia).

          Delima dan madu dapat digunakan untuk mengobati  luka di sekitar kuku atau pada luka yang bernanah. Oleh yang demikian bahwa terbukti buah delima mempunyai gizi dan sangat butuh untuk membangkitkan daya kesehatan tahan tubuh bagi setiap manusia.[22]

 

10. Buah Labu

 

 


 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ دَعَا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَانْطَلَقْتُ مَعَهُ فَجِىءَ بِمَرَقَةٍ فِيهَا دُبَّاءٌ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْكُلُ مِنْ ذَلِكَ الدُّبَّاءِ وَيُعْجِبُهُ - قَالَ - فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ جَعَلْتُ أُلْقِيهِ إِلَيْهِ وَلاَ أَطْعَمُهُ. قَالَ فَقَالَ أَنَسٌ فَمَا زِلْتُ بَعْدُ يُعْجِبُنِى الدُّبَّاءُ. (رواه مسلم).

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Kureb Diceritakan Abu Osama dari Sulaiman bin Al-Muqirah dari sa’bit Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Pada suatu ketika, seorang sahabat pernah mengundang Rasulullah SAW. Lalu saya pun pergi berangkat bersama beliau. Kemudian Rasulullah dihidangkan kuah sayur berisi labu. Maka beliau memakannya dan sangat menyukainya. Melihat hal itu, saya pun memberikan bagian kuah sayur labu saya kepada beliau dan saya tidak memakannya. Selanjutnya Anas berkata, “Setelah kejadian itu, maka saya pun menyukai labu.”[23] (H.R. Muslim).

 

            Labu bersifat dingin dan lembab, bisa memberikan suntikan gizi ringan, mudah masuk ke dalam perut, meskipun belum rusak sebelum dicerna, bisa menimbulkan ampas yang baik. Dia antara khasiatnya adalah memberikan serat yang baik serasi dengan vitamin yang dikandungnya. Kalau dimakan dengan biji sawi atau jintam hitam, bisa menimbulkan rasa pedas. Bila dicampur garam, bisa menimbulkan ampas asin. Bila dicampur dengan unsur yang mengikat, bisa melahirkan ampas yang mengikat. Kalau dimasak dengan sejenis jambu-jambuan, bisa memberikan suntikan gizi yang amat baik terhadap tubuh.[24]

            Labu air termasuk suku timun-timunan yang bergizi tinggi karena ia mengandung vitamin A. Labu mengandung 90,7% air, 0,02% lemak, 1,1% protein, 6,45% zat tepung, dan 1,73% karbon. Selain itu, labu air juga mengandung zat besi dan zat kapur.[25]

 

 

11. Bubur Gandum (Talbinah)

 

 


 

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلَّا أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِينَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِينَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ التَّلْبِينَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيضِ تَذْهَبُ بِبَعْضِ الْحُزْنِ). (رواه البخاري).

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, tuturnya: Kami mendapat hadits dari Al-Laits; dari Uqail; dari Ibnu Syihab; dari Urwah; dari Aisyah ra.; bahwasanya jika ada salah seorang anggota keluarganya yang meninggal dunia, lalu para wanita berkumpul kemudian bubar (ke rumah masing-masing), kecuali keluarga dan orang-orang terdekatnya, maka ia pun memerintahkan untuk mengambil seperiuk bubur talbinah, lalu dimasak, kemudian dibuatlah remukan-remukan roti, lantas dituangkanlah bubur itu keatasnya. Selanjutnya ia berkata, makanlah. Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Bubur talbinah dapat melegakan hati orang yang sakit dan menghilangkan beberapa kesedihan.”[26] (H.R. Bukhari).

 

            Talbinah atau talbin adalah bubur lembut seperti susu, yang terbuat dari gandum yang dimasak dengan kulitnya sekaligus. Dinamakan demikian karena menyerupai susu perahan, putih, dan lembut. Gandum sendiri merupakan tanaman rumput yang berumur musiman.

            Kadar karbohidratnya antara 60-66%, protein 9,7% hingga 15,57%, lemaknya 1,28%-2,66%, ini di samping seratnya memiliki kadar dan sebagian asam,juga mengandung estrol. Dan memiliki manfaat kesehatan seperti mengurangi kolesterol, mengurangi sakit penderita kanker usus, dan penyakit lambung, diabetes, dan dapat menekan tekanan darah dan kadar lemak.[27]

            Dan terapi penyembuhannya adalah dengan cara mengonsumsi makanan yang bisa mengatasi ketidakseimbangan ini seperti bubur gandum yang kaya akan zat-zat gizinya yang berguna untuk kondisi tubuh.[28]

 

12. Hulbah

 


 


حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ اَلنَّضَرِ اَلْعَسْكَرِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ سَلَمَةْ اَلْخَبَائِرِيُّ حَدَّثَنَا عُتْبَةُ بْنُ اَلسُّكَنِ اَلْفُزَّارِيُّ حَدَّثَنَا ثُّوْرِ بْنِ يَزِيْدُ عَنْ خَالِدُ بْنُ مَعْدَانِ عَنْ مُعَاذِ بْنُ جَبَلِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِيُّ مَالَهَا فِي اَلْحُلْبَةِ لاَ سَتَرِدُهَا وَلَوْ بِوَزِنُهَا ذَهَبًا.[29] (رواه الطبرانى).

Artinya: Diceritakan Ahmad bin Nadar idola tentera Sulaiman bin Salamah bin Al-Khabaairi, Uthabah bin Al-Sakan, Al-Fazari Thor bin Yazid dari Khalid bin Ma'dan Maz bin Jabal berkata: Nabi Saw, bersabda: Jikalau umatku mengetahui (khasiat) apa yang terkandung di dalam hulbah, niscaya mereka akan membelinya walaupun harus menimbangnya dengan emas. (H.R. Athabrani).

 

            Hulbah adalah tanaman herbal biji-bijian yang tergabung dalam ordo Rosales. Hulbah adalah tumbuhan rumput-rumputan, daunnya bertumpuk (berangkai), berbulu, palmar, dan terdiri atas tiga rangkaian (berbelah tiga). Hulbah memiliki buah kacang-kacangan (buncis) dan bijiannya tidak memiliki indusbrem.

            Hulbah memiliki banyak khasiat, antara lain meningkatkan susu ibu yang sedang menyusui, (ASI), meningkatkan nafsu makan, melancarkan pencernaan (susah buang air besar), mengobati segala macam peradangan, juga dapat mengobati sakit persendian dan mengobati berbagai macam luka.

            Hulbah juga dapat menyeimbangkan gula dalam darah. Biji hulbah mengandung 29% materi protein, 6% minyak yang tetap dan mengambang, juga memiliki kandungan vitamin B1 dan B2 yang tinggi, zat niasi, asam pantonin, asam trigonellin, asam kolin, asam sabunin, zat diosganin, dan amino bermethy tiga yang merupakan zat yang berperan dalam siklus bulanan pada gadis-gadis baligh. Di samping masih banyak lagi sejumlah unsur lain, seperti besi, fosfor, enzim, hormon, dan getah (gum).[30]

            Fakta ilmiah tentang tanaman hulbah ini baru benar-benar mengkristal pada abad ke-20 dan akhir-akhir ini, itupun masih secara terbatas. Pertanyaannya adalah, siapakah yang mengajari Nabi Muhammad Saw, pengetahuan ini, sehingga beliau menyabdakan hadits seperti itu jika bukan Allah Swt, siapakah yang mendorong Nabi Saw mendalami pesoalan-pesoalan ilmiah yang tidak dikenal pada masanya, dan pada masa-masa setelahnya seperti manfaat medis tanaman hulbah jika hal itu bukan wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya, supaya manusia mendapatkan faedah ilmu yang akan tetap terpelihara hingga hari kiamat, sebagai saksi atas kenabian dan kerasulan bagi Nabi Muhammad Saw.



13. Buah Tin

 



حَدَّثَنَا اِبْنُ السِنىَ ، وَأَبُوْ نَعِيْمُ ، وَالدَّيْلَمِى عَنْ أَبِى ذَرِّ " كُلُّوْا اَلتِّيْنُ فَلَوْ قُلْتُ إِنَّ فَاكِهَةٍ نُزُلَتْ مِنَ الْجَنَّةِ بَلاَ عَجْمِ لَقُلْتُ هِيَ اَلتَّيْنُ، وَإِنَّهُ يَذْهَبُ بِالْبَوَاسِيْرُ وَيَنْفَعُ مِنَ النُّقْرَسِ". (رواه السُّيوطي، جلال الدين).

Artinya: Diceritakan Ibn al-Sunni dan Abu Na’im dan al-Daylami dari Abu Darda’ Radhiyallah hu anhu. Meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: Seandainya saya boleh mengatakan bahwa sesungguhnya ada buah yang turun dari surga, maka saya akan mengatakan (itu adalah) buah tin, karena buah surga tidak berbiji buah. Makanlah buah tin, sesungguhnya ia dapat menyembuhkan wasir dan mengobati encok.[31] (H.R. al-Syuthi, Jalaluddin).

 

            Pohon Tin (Ficus carica) merupakan salah satu anggota tumbuh-tumbuhan yang bernama family maraceae. Tin adalah tumbuhan yang gugur daunnya pada musim gugur dan dingin. Tumbuhan ini tumbuh di Lembah Laut Tengah, khususnya di Turki dan wilayah Syam (Suriah, Lebanon, dan Palestina). Pohon tin memiliki keistimewaan dapat hidup di daerah kering dan dapat menyimpan air. Karena unsur susu yang terkandung dalam senyawa (komposisi) buah tin dapat digunakan sebagai obat cuci perut dan dapat juga digunakan sebagai penghilang kuntil. Sebagai buah, tin adalah buah yang tersusun atas ratusan butir yang mengandung minyak segar, memiliki rasa manis, dan dipenuhi dengan bulir-bulir biji.

            Telah terbukti melalui analisis kimiawi yang detail bahwa buah tin memiliki kandungan kimia baik yang besar (sekitar 18,5%), kandungan maksimal karbohidrat termasuk di dalamnya gula tunggal, komposisi tepung (53%), protein (3,6%), dan berbagai macam garam yang berasal dari beberapa unsur seperti potassium, kalsium, magnesium, fosfor, besi, tembaga, seng, belerang, sodium, klor, dan juga berbagai macam vitamin, enzim, asam, serta beberapa, unsur pembersih, gel, dan kandungan besar air.

            Demikian juga pada buah tin terdapat manfaat besar dalam mengobati wasir, senbelit, encok, penyakit, dada, ganguan haid, epilepsi, borok mulut, radang gusi, amandel tenggorokan, mengobati penyakit balak, menghilangkan kutil, menyembuhkan luka dan borok, karena dalam buah tin terdapat unsur pembunuhan kuman, antibakteria, antivirus, dan anticacing, selain itu juga terdapat unsur yang dapat memperlancarkan susu.[32]

           

14. Keju

 

 


 

 

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى الْبَلْخِىُّ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَنْصُورٍ عَنِ الشَّعْبِىِّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أُتِىَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم- بِجُبْنَةٍ فِى تَبُوكَ فَدَعَا بِسِكِّينٍ فَسَمَّى وَقَطَعَ. (رواه سنن أبى داود).

Artinya: Dari Ibnu Umar, dia berkata: Pada waktu perang Tabuk, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, disuguhi keju, maka beliau meminta diberi pisau. Beliau lalu mengucapkan bismillah dan memotongnya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh sangat menyukai keju.”[33] (H.R. Abu Daud).

 

            Rasulullah Saw. menyukai keju yang terbuat dari susu sapi dan domba. Keju mengandung berbagai manfaat dan keistimewaan yang biasanya terkandung juga dalam susu (87% air, 4% protein, 3% lemak, 4% karbohidrat, dan 7% vitamin dan mineral). Keju juga mengandung energi panas tinggi yang dihasilkan dari unsure lemak di dalamnya.

            Keju sangat bermanfaat untuk mengobati saluran darah, batuk-batuk, dan kanker. Namun, keju mengandung banyak asam lemak yang dapat meningkatkan kolesterol dalam darah sehingga tidak dianjurkan mengonsumsinya secara berlebihan.

            Ibnu Qayyim menjelaskan, “Keju itu bersifat panas dan basah. Di dalamnya terdapat berbagai manfaat. Di antara manfaatnya adalah menyembuhkan kanker yang berada di dekat dua telinga, kanker mulut, dan seluruh kanker yang menimpa wanita dan anak kecil. Keju juga bermanfaat menyembuhkan perdarahan pada paru-paru.”[34]

            Keju dapat melembutkan saraf dan kanker keras yang terjadi pada empedu hitam dan beriak. Keju juga bermanfaat menghilangkan dehidrasi pada tubuh. Jika keju itu dibalurkan ke gusi-gusi bayi, niscaya hal itu akan membantu tumbuhnya gigi bayi. Keju pun berkhasiat mengobati batuk yang disebabkan oleh flu serta menghaluskan kulit.[35]

 

15. Buah Anggur

 

 


 

 

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيْرٍ عَنِ اْلأَوْزَاعِيِّ عَنِ يَّحْيَى بْنُ أَبِيْ عَمْرُوْ اَلشَّيْبَانِي عَنْ عَبْدُ اللهِ بْنُ اَلدَّيْلَمِيِّ عَنْ أَبِيْهِ: اَنَّ أَبَاهِ أَوْ رَجُلاَ مِنْهُمْ سَأَلَ النَِّبيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهُ وَسَلَّمْ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اَنَّا قَدْ خَرَجْنَا مِنْ حَيْثُ عَلِمْتُ وَنَزَّلَنَا بَيْنَ ظَهَرَانِي مِنْ قَدْ عَلِمْتُ فَمَنْ وَلِيِّنَا قَالَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّا كُنَّا أَصْحَابِ كَرَمِ وَخَمْرُ وَاِنَّ اللهَ قَدْ حَرَمَ الْخَمْرُ فَمَا نُصَنْعِ بِالْكَرَمِ قَالَ اِصَّنَعُوْهُ زَبِيْبَا قَاُلوْا فَمَا نُصَنْعِ بِالزَّبِيْبً قَالَ اِنَّقَعُوْا فِيْ اَلشِّنَانِ اِنَّقَعُوْهُ عَلَى غَدَائِكُمْ وَاُشْرِبُوْهَ عَلَى عِشَائِكُمْ وَاِنَّقَعُوْهِ عَلَى عِشَائِكُمْ وَاُشْرِبُوْهُ عَلَى غَدَائِكُمْ فَإِنَّهُ إِذًا أَتَى عَلَيْهِ الْعُصْرَانِ كَانَ حَلاً قَبْلَ اَنْ يَكُوْنَ خَمْرًا. (رواه الدارمي).

Artinya: Muhammad bin Katsir mengabarkan kepada kami dari Al-Auza’I, dari Yahya bin Abu Amr Asy-Syaibani, dari Abdullah bin Ad-Dailami, dari ayahnya, bahwa ayahnya atau seorang pria dari kalangan mereka bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami telah keluar dari tempat yang telah engkau ketahui, kemudian kami singgah di tempat orang yang (juga) telah engkau ketahui. (Jika demikian, siapakah yang menjadi wali kami?” Beliau menjawab, “Allah dan Rasul-Nya.” Mereka berkata lagi, “Ya Rasulullah, dahulu kami adalah orang-orang yang suka meminum anggur dan khamer, sementara Allah telah mengharamkan khamer. Lalu apa yang (harus) kami lakukan dengan anggur?” Beliau menjawab, “Jadikanlah ia anggur kering.” Mereka berkata, “Lalu, apa yang (harus) kami lakukan dengan anggur kering.” Beliau menjawab, “Rendamlah ia di dalam wadah yang besar. Rendamlah di waktu makan siang kalian, dan minumlah di waktu makan malam kalian. Rendamlah di waktu makan malam kalian, dan minumlah saat makan siang kalian. Sebab jika dia telah melewati dua waktu tersebut, maka dia akan menjadi cuka (minuman fermentasi atau asam) sebelum menjadi khamer.”[36] (H.R. al-Darimi).

 

            Anggur merupakan salah satu tanaman yang dikenal umat manusia sejak lama.  Menurut Thalbah, anggur sudah dikenal sejak masa Nabi Nuh as. Tanaman yang berbuah manis dan lezat itu tumbuh merambat ke atas, berlawanan arah dengan ujung kuncupnya, dan searah dengan penopang anggur. "Anggur juga telah diketahui oleh orang-orang kuno sebagai tanaman berkhasiat tinggi dan memiliki manfaat sangat banyak. Kesimpulannya, anggur adalah salah satu buah yang paling banyak manfaatnya".[37]

            Buah anggur ini, sangat baik untuk dimakan, baik ketika masih segar ataupun sudah kering. Anggur merupakan buah yang mudah dicerna, dapat menggemukan, dan dapat menyuplai gizi yang yang cukup. Anggur hijau maupun merah memiliki khasiat yang sama, keduanya bisa dimanfaatkan untuk menjadi buah, makanan, minuman, maupun sebagai obat.

            Anggur dalam medis modern telah diteliti dan ditemukan bahwa anggur mengandung potasium, mangan, kalsium, magnesium, sodium, besi, khlor, fosfor, dan yodium dalam kadar tinggi. Anggur kaya dengan vitamin A, B, dan C. juga mengandung 1 kilo dari 120-150 gram gula murni, kadarnya bertambah 15% ketika anggur semakin masak. Unsur lain yang dikandung adalah seperti ASI yang berfungsi sebagai makanan efektif, sudah mencukupi hanya dengan mengonsumsinya dalam bulan-bulan pertama dari kehidupan bayi. Dengan demikian, anggur dipandang buah-buahan yang sempurna dan kaya dengan bahan-bahan gizi. Oleh karena itu, makanlah anggur maka setiap manusia akan sehat dari penyakit.[38]

           

 

Syarat-Syarat Pengambilan Makanan Sehat

a.       Harus cukup mengandung kalori.

b.      Protein, vitamin, garam mineral dan air.

c.       Perbandingan yang baik antara sumber karbohidrat, protein dan lemak.

d.      Mudah dicerna oleh alat pencernaan.

e.       Bersih, tidak mengandung bibit penyakit, karena hal ini tentu akan membahayaan kesehatan tubuh serta tidak bersifat racun bagi tubuh.

f.        Jumlah yang cukup tidak berlebihan. Serta tidak terlalu panas pada saat disantap.[39]

 



 

[1] Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majar Ar-Rabi’i Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), hal. 1142.  

[2] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah al-Bukhary, Shahih al-Bukhary, Jilid. 6, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), hal. 2154.

[3] Zaghlul An-Najjar, Al-I’Jaz Al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah al-Juz’u al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 120.

[4] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), hal. 342.

[5] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid. 6, (Beirut: Dar al-Jill, 204-261 H/ 820-875 M), hal. 123.

[6] Zaki Rakhmawan, Kupas Tuntas Khasiat Kurma, Cet.1, (Bogor: Media Tarbiah, 2006), hal. 45.

                [7] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), hal. 334.

                [8] Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad bin Hambal, Cet. 2, Jilid. 3, (Beirut: Mua’sasah al-Risalah, 1999), hal. 440.

                [9] Abu Isa Muhammad bin Musa bin Ad-Dhahha’ Al-Sulmani Al-Tirmizi, Sunan Turmuzi, Jilid. 4, (Beirut: Dar Ihya’ al-Tharasi al-Arabi), hal. 285.

                [10] Abdul Basith Muhammad As-Sayyid. at-Taghdziyah an-Nabawiyah al-Ghadzan Baina ad-Daa Wa ad-Daw, Terj. M. Abdul Ghaffar H.M. Iqbal Haetami, Lc. Cet. 1 (Jakarta: Al Mahira, 2006), hal. 144.

                [11] Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majar ar-Rabi’i Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, Jilid. 2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), hal. 1099.

[12] Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid. at-Taghdziyah an-Nabawiyah Al-Ghadzan Baina ad-Daa Wa ad-Daw, Terj. M. Abdul Ghaffar H.M. Iqbal Haetami, Lc. Cet.1, (Jakarta: Al Mahira, 2006), hal. 166.

[13] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), hal. 247-248.

                [14] Indra Kusumah. Panduan Diet Ala Rasulullah, Cet.1, (Jakarta: Qultummedia, 2009), hal. 90.

[15] Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majar Ar-Rabi’i Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, Jilid. 2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), hal. 1102.  

[16] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zadul Ma’ad, Terj. Masturi Irham, Cet.1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1999), hal. 370.

                [17] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, ath-Thib an-Nabawi, Terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani, Cet. 1, (Jakarta: Griya Ilmu, 2004), hal. 359.

                [18] Muhammad Nashiruddin Al Albani, Mukhtashar Shahih Muslim, Terj. Subhan Imron Rosadi, Cet. 1, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hal. 101.

                [19] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah al-Bukhary, Shahih al-Bukhari, Jilid. 4, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), hal. 1627.

                [20] Zaghlul An-Najjar, Al-I’Jaz Al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah Al-Juz’u Al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 110.

                [21] Ahmad bin Ali bin Hajar Abu Al-Fadhil Al-Asqalani Al-Sya’fie, Lisan Al-Mizan, Jilid. 6, (Beirut: Mua’sasah al-A’laami, 1986), hal. 23.

                [22] Dr. Abdul Basith Muhammad al-Sayyid. at-Taghdziyah an-Nabawiyah al-Ghadzan Baina ad-Daa Wa ad-Daw, Terj. M. Abdul Ghaffar H.M. Iqbal Haetami, Lc. Cet. 1, (Jakarta: Al Mahira, 2006), hal. 150.

                [23] Abu al-Husayn Muslim Ibn Husayn Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid 6, (Beirut: Dar al-Jill), hal. 121.

                [24]Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, ath-Thib an-Nabawi, Terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani, Cet. 1, (Jakarta: Griya Ilmu, 2004.), hal. 493.

[25] Indra Kusumah. Panduan Diet Ala Rasulullah, Cet. 1, (Jakarta: Qultummedia, 2009), hal. 108.

[26] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn Al-Mugirah bin Bardizbah Al-Bukhary, Shahih Al-Bukhary, Jilid. 5, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), hal. 2067.

[27] Mahir Hasan Mahmud. al-Thib al-Badil, al-Tsimar Wa al-A’syab al-Waridat Fi al-Qur’an al-Karim Wa - al-Sunnah al-Nabawiyah, Terj. Hamzah Hasan, Lc, Cet.1 (Jakarta: Qultummedia, 2007), hal. 144.

                [28] Zaghlul An-Najjar, al-I’Jaz al-‘Ilmly Fi as-Sunnah an-Nabawiyyah al-Juz’u al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 83.

                [29] Sulaiman bin Ahmad bin Ayub Abu al-Qaasim At-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabir, Jilid. 20, (al-Mausul: Maktabah al-Ulum, 1404-1983), hal. 96

                [30] Zaghlul An-Najjar, al-I’Jaz al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah al-Juz’u al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 86, 88.

[31] Alaa Ei Din Ali bin Hossam Ei Din Almottagi Al-Hindi Al-Burhani Fauri, Kanzul Amal Fi Sunan Al-Aqwali Wal Aff’al, Jilid.10 (Beirut: Mua’sasah Al-Risalah, 1981), hal. 49. 

                [32] Zaghlul An-Najjar, Al-I’Jaz Al-‘Ilmly fi as-Sunnah an-Nabawiyyah Al-Juz’u Al-Awwal, Terj. Zainal Abidin, Syakirun Ni’am, Cet. 1, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 76.

[33] Sulayman bin Al-Asy’at Ibn Ishaq Al-Azdi Al-Sijistani, Sunan Abu Daud, Jilid. 3, (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, T.t), hal. 423.

 

                [34] Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ath-Thib an-Nabawi, Terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani, Cet. 11, (Jakarta: Griya Ilmu, 2009), hal. 363.    

                [35] Indra Kusumah. Panduan Diet Ala Rasulullah, Cet.1 (Jakarta: Qultummedia, 2009), hal.  100.

 

                [36] Abdullah bin Abdul Rahman  Abu Muhammad al-Darimi, Sunan al-Darimi, Jilid. 2, (Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi, 1407), hal. 157.

                [37]  Mahir Hasan Mahmud. al-Thib al-Badil, al-Tsimar Wa al-A’syab al-Waridat Fi al-Qur’an al-Karim Wa - al-Sunnah al-Nabawiyah, Terj. Hamzah Hasan, Lc, Cet. I (Jakarta: Qultummedia, 2007). hal. 118.

                [38]  Ibid…, 120.

[39] Kus Irianto, Gizi Dan Pola Hidup Sehat Cet. 1, (Bandung: Yrama Widya, 2004),  hal. 68.

Komentar

Postingan Populer