MAKANAN BERGIZI DALAM HADITS

 google.com, pub-8131506556461982, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bagian I


MAKANAN BERGIZI DALAM HADITS

 

A.                 Latar Belakang Masalah

            Hadits sebagai pedoman dalam kehidupan manusia, di dalamnya terdapat banyak  hadits yang mengajak manusia untuk berpikir dengan beragam redaksi. Ajakan berpikir itu dibatasi hanya pada ciptaan Allah dan bukan terhadap zat Allah. Menurut Abu Abdullah Muhammad ibn Isma'il ibn Ibrahim ibn al Mughirah bin Barnizbah, di dalam kitab Shahih Bukhari mencurahkan akal untuk memikirkan zat Allah adalah suatu pemborosan energi akal, mengingat pengetahuan tentang zat Allah tidak mungkin dicapai oleh akal manusia. Dalam hal ini, potensi akal manusia ditumpukan pada ciptaan Allah, baik yang ada dilangit, dibumi, bahkan yang ada dalam diri manusia.

            Dalam hal ini, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَقَالَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ وَقَالَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَبِيَدِهِ الْأُخْرَى الْمِيزَانُ يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ . [1](رواه البخارى).

   1

 
Artinya:  Abu al-Yaman Telah menceritakan kepada kami telah mengabarkan kepada kami, Syu'aib telah menceritakan kepada kami Abuz Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tangan Allah selalu penuh, tidak kurang karena memberi nafkah, dan selalu dermawan baik siang maupun malam." Beliau bersabda lagi: "Bukankah kalian telah melihat apa yang dibelanjakan-Nya semenjak Dia mencipta langit dan bumi, dan tidak berkurang sedikit pun apa yang di tangan-Nya?" Beliau bersabda lagi: "Arsy-Nya di atas air, dan tangan-Nya yang lain memegang timbangan, yang terkadang Ia rendahkan atau Ia tinggikan." ( H.R. Bukhari).

 

Menurut firman Allah pula:

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ . (الروم: 8)

Artinya: Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (Q.S Al-Rum: 8).

 

Allah Swt. menciptakan langit dan bumi beserta isinya dengan seluruh keteraturan dan ketelitian penciptaannya yang menunjukkan bahwa penciptaan langit dan bumi beserta seluruh isinya merupakan suatu hikmah, bukan suatu kesia-siaan.[2]

Allah berfirman:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا(آل عمران: 191)

Artinya: Ya Allah Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan  sia-sia (Q.S Al-Imran: 191).

 

Segala ciptaan Allah Swt. tersebut, diperuntukkan kepada manusia, guna kepentingan hidupnya. Dengan potensi ilmu dan akal yang dianugerahkan Allah Swt. serta kemampuan berfikir yang dimilikinya, manusia diperintahkan untuk mempelajari dan memanfaatkan alam. Secara tegas dan berulang-ulang hadits menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan Allah Swt. untuk manusia.[3]

Sebagaimana terdapat dalam hadits yang berikutnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari adalah:

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي شَرِيكٌ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بِتُّ فِي بَيْتِ مَيْمُونَةَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فَلَمَّا كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ أَوْ بَعْضُهُ قَعَدَ فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَقَرَأَ {إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ   [4] .

Artinya:  Ibnu Abu Maryam telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far berkata; telah mengabarkan Syarik kepadaku dari Kuraib dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma dia berkata; "Aku pernah bermalam di rumah Maimunah, sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada di sisinya, tatkala di sepertiga malam terakhir atau sebagian malam, beliau duduk dan memandang ke arah langit sambil membaca: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.", QS Al- Imran; 190. (H.R. Bukhari).

 

Keterangan dan urutan yang seperti ini juga terdapat dalam hadits-hadits Nabi Saw, yang menyebut periode-periode penciptaan manusia dan sumber kehidupannya, yaitu makanan dan minuman. Di samping memberikan suatu dorongan kepada manusia untuk memikirkan segala yang ada di alam ini untuk kepentingan hidup manusia.

Di antara sekian banyak informasi alam dalam hadis terdapat beberapa matan hadis yang berkaitan dengan makanan dan minuman, dimana pada matan hadits membicarakan tentang gizi yang berada dalam makanan. Lalu tergambar pula dalam matan hadis tersebut bagaimana Allah Swt, memberikan dan menjadikan di dalam makanan dan minuman yang kemudiannya diproses menjadi gizi.[5]

Dalam hal makanan dan minuman ini, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam al-Jaami’ul Kabiir dan al-Hakim dari Ummi Abdullah binti ukhti Syaddad bin Aus r.a dalam sanadnya sebagaimana berikut:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدِ ، حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةِ اَلدَّمْشِقِيْ ،حَدِّثَنَا مَحَمَّدُ بْنُ اْلمُبَارَكِ ، حَدَّثَنَا اَلْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمْ، عَنْ أَبِي بَكٍْر بِنْ أَبِي مَرْيَمْ, فَقَالَ النَّبِيَُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ أُمْرَتِ الرَّسُلُ أَنْ لاَ تَأْكُلُ إِلاَ طَيِّبًا وَلاَ تَعْمَلِ إِلاَ صَالحًِا .(رواه الطبراني ).

Artinya: Telah menceritakan Sulaiman bin Ahmad, diceritakan Abu Zar’ah al-al-Damsyiqi, diceritakan Muhammad bin al-Mubaraq, diceritakan al-Walid bin Muslim, dari Abi Bakar bin Abi Maryam “Rasul-rasul itu diperintahkan agar tidak memakan sesuatu kecuali makanan yang baik dan tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan pekerjaan (amal) yang saleh.”[6] (H.R. Athabari).

 

Sebagaimana firman Allah Swt.:

فَلْيَنْظُرِ الإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (24) أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (25) ثُمَّ شَقَقْنَا الأَرْضَ شَقًّا (26) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (27) وَعِنَبًا وَقَضْبًا (28) وَزَيْتُونًا وَنَخْلا (29) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (30) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (31) مَتَاعًا لَكُمْ وَلأَنْعَامِكُمْ (32). (عبس: 24-32).

Artinya: (Kalaulah ia tidak memikirkan asal dan kesudahan dirinya), maka hendaklah manusia  melihat kepada makanannya (bagaimana Kami mentadbirkannya) Sesungguhnya Kami telah mencurahkan hujan dengan curahan yang menakjubkan. Kemudian Kami belah-belahkan bumi dengan belahan yang sesuai dengan tumbuh-tumbuhan, lalu Kami tumbuhkan pada bumi biji-bijian, dan buah anggur serta sayur-sayuran, dan zaitun serta pohon-pohon kurma, dan taman-taman yang menghijau subur, dan berbagai buah-buahan serta bermacam-macam rumput, Untuk kegunaan kamu dan binatang-binatang ternak kamu.(Q.S ‘Abasa: 24-32).

 

Keunikan kehidupan alam ini, merupakan gejala alam yang sangat mengagumkan. Meskipun informasi tersebut telah ada sejak 14 abad yang lalu, namun secara ilmiah baru dapat dibuktikan di akhir abad 19. Hingga sekarangpun para pakar dari berbagai bidang ilmuan terus mengkaji keistimewaan kehidupan alam khususnya dalam hal makanan yang bergizi.

Makanan dan minuman yang halalan thoyyibah atau halal dan baik serta bergizi tentu sangat berguna bagi manusia, baik untuk kebutuhan jasmani dan rohani. Apabila makanan dan minuman yang didapatkan dari hasil yang halal dan bergizi tentu sangat berguna untuk manusia dan keluarga. Hasil dari makanan dan minuman yang halal dan bergizi sangat membawa berkah, barakah bukan bererti jumlahnya banyak, meskipun sedikit, namun uang itu cukup untuk mencukupi kebutuhan sahari-hari dan juga bergizi tinggi. Bermanfaat bagi pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak. Lain halnya dengan hasil dan jenis barang yang memang haram, meskipun banyak sekali, tapi tidak barakah, maka Allah Swt. menyulitkan baginya rahmat sehingga uangnnya terbuang banyak hingga habis dalam waktu singkat. 

Diantara beberapa manfaat menggunakan makanan dan minuman halal dan bergizi, yaitu:

  1). Membawa ketenangan hidup dalam kegiatan sehari-hari,

  2). ­­­Dapat menjaga kesehatan jasmani dan rohani,

  3). Mendapat perlindungan dari Allah Swt,

  4). Mendapatkan iman dan ketaqwaan kepada Allah Swt,

  5). Tercermin kepribadian yang jujur dalam hidupnya dan sikap apa adanya,

  6). Rezeki yang diperolehnya membawa barakah dunia akhirat.[7]

            Dalam sebuah hadits Nabi  Saw, disebutkan:

خَالِدٌ كَأَنَّكَ تَقْذَرُهُ قَالَ أَجَلْ قَالَتْ أَلَا أُسْقِيكُمْ مِنْ لَبَنٍ أَهْدَتْهُ لَنَا فَقَالَ بَلَى قَالَ فَجِيءَ بِإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَشَرِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا عَنْ يَمِينِهِ وَخَالِدٌ عَنْ شِمَالِهِ فَقَالَ لِي الشَّرْبَةُ لَكَ وَإِنْ شِئْتَ آثَرْتَ بِهَا خَالِدًا فَقُلْتُ مَا كُنْتُ لِأُوثِرَ بِسُؤْرِكَ عَلَيَّ أَحَدًا فَقَالَ مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ طَعَامًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُجْزِئُ مَكَانَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ غَيْرَ اللَّبَنِ. [8]

Artinya: “ Barangsiapa diberikan rezeki oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa makanan, maka ucapkanlah, “Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah keberkahan pada makanan kami dan berikanlah kami makanan yang lebih baik darinya.’ Barangsiapa diberikan minuman berupa susu oleh Allah, maka ucapkanlah, ‘Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah keberkahan pada minuman kami dan tambahkanlah’. Tidak ada suatu makanan dan minuman yang dapat mencukupi kebutuhan kesehatan selain susu.”(H.R. Ahmad).

 

Berdasarkan keterangan di atas, penulis tertarik untuk mengkaji hadits yang merupakan salah satu matan hadis yang  merekam fakta ilmiah, yang khusus membahas tentang makanan bergizi. Di dalamnya manusia tidak hanya diajak untuk memperoleh gizi makanan yang berhasil di dalamnya, namun lebih jauh lagi, manusia diajak untuk berinteraksi dengan norma-norma tentang makanan bergizi. Apalagi dewasa ini telah banyak timbul ketimpangan sosial yang cukup memprihatinkan, seolah-olah manusia telah menanggalkan predikatnya sebagai makhluk yang bermoral dan berakal. Ada baiknya manusia kembali mencari suatu formula yang dapat mengembalikan manusia pada posisi yang sebenarnya, sesuai dengan pentunjuk Allah  Swt.

 

B.                 Rumusan Masalah

Agar penulisan ini terarah, maka terdapat beberapa pokok permasalahan yang harus di pertegaskan sebagai berikut:

1.      Bagaimana konsep makanan bergizi menurut hadits Nabi baik dilihat dari qauli maupun fi’linya Nabi.

2.      Bagaimanakah kondisi makanan pada masa sekarang.

 

C.                  Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk lebih fokus pada permasalahan ini. Tujuan penelitian sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui bagaimana konsep makanan bergizi menurut hadits Nabi baik di lihat dari qauli maupun fi’linya Nabi.

2.      Untuk mengetahui bagaimana kondisi makanan pada masa sekarang yang sesuai dengan hadits Nabi.

 

D.                 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang terdapat dalam skripsi ini perlu dijelaskan sebagaimana berikut:

1.      Bagi Ilmu Pengetahuan

Dengan adanya penulisan skripsi ini, penulis mengharapkan dapat memberi sumbangan dan masukan guna mengembangkan serta peranan gizi di dalam arus pembangunan bangsa di masa depan umat Islam. Di samping pengambilan makanan bergizi dan perkembangan ekonomi-sosial dalam dunia umat Islam, khususnya dalam pengambilan makanan yang sehat.

2.      Bagi Masyarakat

Dengan adanya penulisan skripsi ini dapat memberikan informasi dan masukan pada masyarakat umat Islam seluruh dunia yang berhubungan dengan pentingnya pengambilan makanan bergizi menurut hadits Nabi.

 

 

3.      Bagi Diri Sendiri

Untuk menambah ilmu pengetahuan khususnya dalam penelitian gizi makanan menurut hadis Nabi.[9]

 

E.                  Kajian Kepustakaan

            Masalah yang menjadi topik penelitian ini sudah pernah dikaji sebelumnya oleh penulis-penulis lain, akan tetapi ada sisi yang peneliti perhatikan belum tuntas kajiannya berkaitan dengan makanan bergizi menurut hadits Nabi (Kajian Maudhu’i). Kajian yang belum sempurna yang dimaksudkan  peneliti adalah berkaitan  dengan metode takrij, yaitu dengan mengeluarkan atau menghimpun serta mengelompokan hadits-hadits dan member keterangan dan penjelasan dari penelitian tentang pengambilan makanan bergizi menurut hadits Nabi.

            Hal-hal yang berkaitan dengan masalah makanan dan minuman telah diteliti sebelumnya yaitu yang berkaitan dengan nikmatnya hidup sehat meneladani Nabi dalam memelihara kesehatan jasmani yang dibahaskan oleh Imron Rosadi, S.Ag. Di samping itu juga, Indra Kusumah, telah menguraikan panduan  diet ala Rasulullah Saw, serta Abdul Basith Muhammad As-Sayyid, telah menguraikan pola makan Rasulullah Saw, seperti kenapa Rasulullah Saw, mengambil berat tentang hal makan dan minum dan sebagainya. Di dalam kitab-kitab hadits maupun fikih sudah diuraikan secara terperinci mengenai hal makan dan minum yang baik, halal dan bergizi. Mahir Hasan Mahmud dalam bukunya mukjizat kedokteran Nabi yang membahaskan makanan antara kedokteran dan Islam dan sebagainya.

            Dalam hasil kajian pustaka ini, peneliti mendapati tidak ada penelitian tentang makanan bergizi yang dilihat dari perspektif hadits Nabi. Inilah yang menjadi titik temu untuk kajian penelitian di dalam skripsi ini terhadap permasalahan makanan bergizi menurut hadits Nabi (Kajian Maudhu’i).

 

F.                  Metode Penelitian

1.      Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yaitu mengumpulkan data dari pelbagai literatur yang ada hubungan dengan penulisan ini yang selanjutnya diformulasikan ke dalam bentuk karya ilmiah.

2.      Sumber Data

Pengumpulan data dilakukan melalui kepustakaan berupa kitab, buku-buku dan karya tulis lainya yang terkait dengan pembahasan, sumber data terbagi dua, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer berupa kitab-kitab hadits, dan referensi-referensi lain yang berkaitan dengan penelitian ini, untuk mendapatkan informasi tentang hadis yang diteliti. Sedangkan sumber sekunder berupa karya-karya ilmiah atau jurnal yang berisi komentar dan kajian yang terkait dengan penelitian.

3.      Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara pembacaan untuk menentukan  yang akan diteliti. Dalam hal ini perkara yang akan diteliti adalah  hadits tentang makanan bergizi (zat makanan sehat). Kemudian mencari  hadits-hadits yang berkaitan dari berbagai kitab hadits melalui metode takhrij dengan menggunakan kata kunci طعام serta menggunakan program Software Maktabah Syamilah sebagai bantuan dan pengelompokan  hadits.

4.      Analisis Data

Kemudian melakukan penyusunan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode maudhu’i (tema), yaitu dengan membahas hadits-hadits sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Hadits yang berkaitan akan dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya. Semua akan dijelaskan dengan rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,[10] baik argumen itu berasal dari hadits, ayat Al-Qur’an dan pandangan para Ulama muta’qaddimin dan muta’akhirin.[11]

Penulis juga akan menggunakan metode-metode lain seperti:

Metode Diskriptif: yaitu yang diteliti tidak hanya terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data, akan tetapi akan meliputi analisa dan interprestasi tentang arti data itu, karena data itulah maka dapat sebuah penyelidikan diskriptif membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu, lalu mengambil suatu hukum yang konkrit.[12] Sementara obyek kajian fiq’hul hadits, supaya manusia mengerti dan memahami tentang hadits berlandaskan hukum syara’ dalam segala perbuatan. Selanjutnya, penulis menjelaskan bagaimana pemahaman tekstual serta pemahaman kontektual hadits yang berhubungan fiq’hul hadits.

Metode kebahasaan: Yaitu, penulis meneliti tehadap kata kunci dasar pembahasan skripsi ini, dengan menggunakan pemahaman bahasa arab yang terdapat di dalam hadits tersebut. Selain itu, penulis juga meneliti penggunaan bahasa dari sisi penetapan hukum larangan, peringatan dan amaran yang digunakan dalam hadits tersebut.

Selanjutnya data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode-metode tertentu, maka seterusnya dengan membahas permasalahan yang timbul sekarang, untuk dianalisis pemecahannya berdasarkan buku-buku dan sumber-sumber yang berkaitan.[13]

 

G.                 Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan bagi pembaca dalam menelusuri isi uraian selanjutnya, penulis memandang perlu adanya uraian singkat sebagai garis besar pembahasan skripsi melalui bab dari bab yang akan di uraikan  disini yaitu:

Bab I, sebagai pendahuluan akan diisi dengan pembahasan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan. Hal ini diperlukan kerana sebagai pembuka terhadap seluruh hasil penelitian yang dilakukan dalam pendahuluan akan tergambar secara keseluruhan isi penelitian dan tujuan akhir yang hendak di capai dalam penelitian ini.

Bab II, menyangkut tentang makanan bergizi menurut hadis Nabi, sebagaimana yang telah diketahui antaranya dalil-dalil makanan bergizi menurut as-sunnah, pengertian dan hukum makanan bergizi, pandangan islam terhadap pentingnya makanan bergizi bagi kesehatan, syarat-syarat pengambilan makanan sehat (bergizi), manfaat makanan bergizi dan etika islam dalam hal makanan dan minuman.

Bab III, membahas tentang kondisi makanan pada masa sekarang yang sesuai dengan hadits Nabi, yang mana menjelaskan tentang makanan bergizi menurut ilmu kesehatan, kandungan yang terdapat pada produk makanan dan minuman (positif / negatif), nilai makanan, teknologi pengawetan makanan, dan  analisis perbandingan penulis menyangkut makanan begizi dalam hadits Nabi Saw, dan implimentasi konteks masa kini.

Bab IV, yaitu kesimpulan dan memberikan saran-saran yang dianggap perlu.

 



[1] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Fikr, 1981), hal. 386.

[2] Yusuf Qardhawy, Al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Pent. Abdul Hayyie, Iffan Salaim, Lc dan Sochimien M. H. Lc, Cet. I, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), hal. 42.

[3] M. Quraish Shihab, Wawasan  Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Mizan, 1997), hal. 143.

[4] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari, Shahih…, hal. 1684/131.

                [5] Hamdun Hasan Ruqaith, Nikmatnya Hidup Sehat, Cet. I,  (Jakarta: Najla Press, 2004), hal. 75-77.

                [6] Ibnu Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi Ad Damsyiqi, Asbabul Wurud Latar Belakang Historis Timbulnya Hadits-Hadits Rasul, Cet. III, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005). hal. 372.

[7] Hamdun Hasan Ruqaith, Nikmatnya…, hal. 103.

[8] Imam Ahmad Bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad Bin Hambal, Cet. II, Jilid. III, (Beirut: Mua’sasah al-Risalah, 1999), hal. 440.

                [9] Fatchur Rahman, Ikhtishar Mustalahul Hadis, Cet. VII, (Bandung: Al-Ma Arif, 1991), hal. 6.

                [10] Nasir Budiman, Dkk., Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi), Cet. 1, (Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004), hal. 22.

                [11] Ulama Muta’qaddimin disebut juga dengan ulama salaf: Iaitu ulama-ulama dimasa lampau (Pada zaman Rasulallah Saw, Sahabat, Tabi’in). Ulama Muta’akhirin disebut dengan ulama terkemudian, zaman baru (Tabi’ Tabi’in dan selanjutnya).

[12] Chairani, Skripsi Penafsiran Ilimiah Al-Quran Terhadap Ayat Kejadian Manusia, Cet. 1, ( Banda Aceh : IAIN Ar-Raniry,  2004.) hal.  9.

                [13] Chairani, Skripsi Penafsiran Ilimiah Al-Quran Terhadap Ayat Kejadian Manusia, Cet. 1, ( Banda Aceh : IAIN Ar-Raniry,  2004.) hal.  9.


Komentar

Postingan Populer