MAKANAN BERGIZI DALAM HADITS
google.com, pub-8131506556461982, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Bagian I
MAKANAN BERGIZI DALAM HADITS
A.
Latar Belakang Masalah
Hadits sebagai pedoman dalam kehidupan manusia,
di dalamnya terdapat banyak hadits yang
mengajak manusia untuk berpikir dengan beragam redaksi. Ajakan berpikir itu
dibatasi hanya pada ciptaan Allah dan bukan terhadap zat Allah. Menurut Abu
Abdullah Muhammad ibn Isma'il ibn Ibrahim ibn al Mughirah bin Barnizbah, di dalam
kitab Shahih Bukhari mencurahkan akal untuk memikirkan zat Allah adalah
suatu pemborosan energi akal, mengingat pengetahuan tentang zat Allah tidak
mungkin dicapai oleh akal manusia. Dalam hal ini, potensi akal manusia
ditumpukan pada ciptaan Allah, baik yang ada dilangit, dibumi, bahkan yang ada
dalam diri manusia.
Dalam
hal ini, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ
أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَدُ اللَّهِ مَلْأَى
لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَقَالَ أَرَأَيْتُمْ
مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا
فِي يَدِهِ وَقَالَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَبِيَدِهِ الْأُخْرَى الْمِيزَانُ يَخْفِضُ
وَيَرْفَعُ . [1](رواه البخارى).
|
Menurut firman Allah pula:
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ
مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ
مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ . (الروم: 8)
Artinya:
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah
tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan
dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya
kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.
(Q.S Al-Rum: 8).
Allah
Swt. menciptakan langit dan bumi beserta isinya dengan seluruh keteraturan dan
ketelitian penciptaannya yang menunjukkan bahwa penciptaan langit dan bumi
beserta seluruh isinya merupakan suatu hikmah, bukan suatu kesia-siaan.[2]
Allah berfirman:
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا…
(آل عمران: 191)
Artinya: Ya Allah Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia
(Q.S Al-Imran: 191).
Segala ciptaan Allah Swt. tersebut, diperuntukkan
kepada manusia, guna kepentingan hidupnya. Dengan potensi ilmu dan akal yang
dianugerahkan Allah Swt. serta kemampuan berfikir yang dimilikinya, manusia
diperintahkan untuk mempelajari dan memanfaatkan alam. Secara tegas dan
berulang-ulang hadits menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan
Allah Swt. untuk manusia.[3]
Sebagaimana
terdapat dalam hadits yang berikutnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
adalah:
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي شَرِيكٌ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بِتُّ فِي بَيْتِ مَيْمُونَةَ وَالنَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فَلَمَّا كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ
الْآخِرُ أَوْ بَعْضُهُ قَعَدَ فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَقَرَأَ {إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ [4]
.
Artinya:
Ibnu
Abu Maryam telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far berkata; telah
mengabarkan Syarik kepadaku dari Kuraib dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma dia
berkata; "Aku pernah bermalam di rumah Maimunah, sedangkan Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam berada di sisinya, tatkala di sepertiga malam
terakhir atau sebagian malam, beliau duduk dan memandang ke arah langit sambil
membaca: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal.", QS Al- Imran;
190. (H.R. Bukhari).
Keterangan
dan urutan yang seperti ini juga terdapat dalam hadits-hadits Nabi Saw, yang
menyebut periode-periode penciptaan manusia dan sumber kehidupannya, yaitu
makanan dan minuman. Di samping memberikan suatu dorongan kepada manusia untuk
memikirkan segala yang ada di alam ini untuk kepentingan hidup manusia.
Di antara sekian banyak informasi alam dalam
hadis terdapat beberapa matan hadis yang berkaitan dengan makanan dan minuman,
dimana pada matan hadits membicarakan tentang gizi yang berada dalam makanan.
Lalu tergambar pula dalam matan hadis tersebut bagaimana Allah Swt, memberikan
dan menjadikan di dalam makanan dan minuman yang kemudiannya diproses menjadi
gizi.[5]
Dalam hal makanan dan minuman
ini, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam al-Jaami’ul Kabiir
dan al-Hakim dari Ummi Abdullah binti ukhti Syaddad bin Aus r.a dalam
sanadnya sebagaimana berikut:
حَدَّثَنَا
سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدِ ، حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةِ اَلدَّمْشِقِيْ ،حَدِّثَنَا
مَحَمَّدُ بْنُ اْلمُبَارَكِ ، حَدَّثَنَا اَلْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمْ، عَنْ أَبِي بَكٍْر بِنْ أَبِي مَرْيَمْ, فَقَالَ النَّبِيَُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ أُمْرَتِ
الرَّسُلُ أَنْ لاَ تَأْكُلُ إِلاَ طَيِّبًا وَلاَ تَعْمَلِ إِلاَ صَالحًِا .(رواه
الطبراني ).
Artinya: Telah menceritakan Sulaiman bin Ahmad,
diceritakan Abu Zar’ah al-al-Damsyiqi, diceritakan Muhammad
bin al-Mubaraq, diceritakan al-Walid bin Muslim, dari Abi Bakar bin Abi Maryam
“Rasul-rasul itu diperintahkan agar tidak memakan sesuatu kecuali makanan yang
baik dan tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan pekerjaan (amal) yang saleh.”[6] (H.R. Athabari).
Sebagaimana firman Allah Swt.:
فَلْيَنْظُرِ الإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ
(24) أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (25) ثُمَّ شَقَقْنَا الأَرْضَ شَقًّا (26)
فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (27) وَعِنَبًا وَقَضْبًا (28) وَزَيْتُونًا وَنَخْلا
(29) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (30) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (31) مَتَاعًا لَكُمْ وَلأَنْعَامِكُمْ
(32). (عبس: 24-32).
Artinya: (Kalaulah ia
tidak memikirkan asal dan kesudahan dirinya), maka hendaklah manusia melihat kepada makanannya (bagaimana Kami
mentadbirkannya) Sesungguhnya Kami telah mencurahkan hujan dengan curahan yang
menakjubkan. Kemudian Kami belah-belahkan bumi dengan belahan yang sesuai
dengan tumbuh-tumbuhan, lalu Kami tumbuhkan pada bumi biji-bijian, dan buah
anggur serta sayur-sayuran, dan zaitun serta pohon-pohon kurma, dan taman-taman
yang menghijau subur, dan berbagai buah-buahan serta bermacam-macam rumput, Untuk
kegunaan kamu dan binatang-binatang ternak kamu.(Q.S ‘Abasa: 24-32).
Keunikan
kehidupan alam ini, merupakan gejala alam yang sangat mengagumkan. Meskipun
informasi tersebut telah ada sejak 14 abad yang lalu, namun secara ilmiah baru
dapat dibuktikan di akhir abad 19. Hingga sekarangpun para pakar dari berbagai
bidang ilmuan terus mengkaji keistimewaan kehidupan alam khususnya dalam hal
makanan yang bergizi.
Makanan
dan minuman yang halalan thoyyibah atau halal dan baik serta bergizi
tentu sangat berguna bagi manusia, baik untuk kebutuhan jasmani dan rohani.
Apabila makanan dan minuman yang didapatkan dari hasil yang halal dan bergizi
tentu sangat berguna untuk manusia dan keluarga. Hasil dari makanan dan minuman
yang halal dan bergizi
sangat membawa berkah, barakah bukan bererti jumlahnya banyak, meskipun
sedikit, namun uang itu cukup untuk
mencukupi kebutuhan sahari-hari dan juga bergizi tinggi. Bermanfaat bagi
pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak. Lain halnya dengan hasil dan jenis
barang yang memang haram, meskipun banyak sekali, tapi tidak barakah,
maka Allah Swt. menyulitkan baginya rahmat sehingga uangnnya terbuang
banyak hingga habis dalam waktu singkat.
Diantara
beberapa manfaat menggunakan makanan dan minuman halal dan bergizi, yaitu:
1).
Membawa ketenangan hidup dalam kegiatan sehari-hari,
2). Dapat
menjaga kesehatan jasmani dan rohani,
3).
Mendapat perlindungan dari Allah Swt,
4).
Mendapatkan iman dan ketaqwaan kepada Allah Swt,
5).
Tercermin kepribadian yang jujur dalam hidupnya dan sikap apa adanya,
6).
Rezeki yang diperolehnya membawa barakah dunia akhirat.[7]
Dalam sebuah hadits Nabi Saw, disebutkan:
خَالِدٌ كَأَنَّكَ تَقْذَرُهُ قَالَ أَجَلْ
قَالَتْ أَلَا أُسْقِيكُمْ مِنْ لَبَنٍ أَهْدَتْهُ لَنَا فَقَالَ بَلَى قَالَ فَجِيءَ
بِإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَشَرِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَنَا عَنْ يَمِينِهِ وَخَالِدٌ عَنْ شِمَالِهِ فَقَالَ لِي الشَّرْبَةُ لَكَ وَإِنْ
شِئْتَ آثَرْتَ بِهَا خَالِدًا فَقُلْتُ مَا كُنْتُ لِأُوثِرَ بِسُؤْرِكَ عَلَيَّ أَحَدًا
فَقَالَ مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ طَعَامًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ
وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ
بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُجْزِئُ مَكَانَ الطَّعَامِ
وَالشَّرَابِ غَيْرَ اللَّبَنِ. [8]
Artinya: “ Barangsiapa diberikan rezeki oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa makanan, maka
ucapkanlah, “Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah keberkahan pada makanan kami dan
berikanlah kami makanan yang lebih baik darinya.’ Barangsiapa diberikan minuman
berupa susu oleh Allah, maka ucapkanlah, ‘Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah
keberkahan pada minuman kami dan tambahkanlah’. Tidak ada suatu makanan dan
minuman yang dapat mencukupi kebutuhan kesehatan selain susu.”(H.R. Ahmad).
Berdasarkan keterangan
di atas, penulis tertarik untuk mengkaji hadits yang merupakan salah satu matan
hadis yang merekam fakta ilmiah, yang
khusus membahas tentang makanan bergizi. Di dalamnya manusia tidak hanya diajak
untuk memperoleh gizi makanan yang berhasil di dalamnya, namun lebih jauh lagi,
manusia diajak untuk berinteraksi dengan norma-norma tentang makanan bergizi.
Apalagi dewasa ini telah banyak timbul ketimpangan sosial yang cukup
memprihatinkan, seolah-olah manusia telah menanggalkan predikatnya sebagai
makhluk yang bermoral dan berakal. Ada baiknya manusia kembali mencari suatu
formula yang dapat mengembalikan manusia pada posisi yang sebenarnya, sesuai
dengan pentunjuk Allah Swt.
B.
Rumusan Masalah
Agar penulisan ini terarah,
maka terdapat beberapa pokok permasalahan yang harus di pertegaskan sebagai
berikut:
1.
Bagaimana konsep makanan
bergizi menurut hadits Nabi baik dilihat dari qauli maupun fi’linya
Nabi.
2.
Bagaimanakah kondisi makanan
pada masa sekarang.
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini
adalah untuk lebih fokus pada permasalahan ini. Tujuan penelitian sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana konsep makanan
bergizi menurut hadits Nabi baik di lihat dari qauli maupun fi’linya
Nabi.
2. Untuk mengetahui bagaimana kondisi makanan pada
masa sekarang yang sesuai dengan hadits Nabi.
D.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian
yang terdapat dalam skripsi ini perlu dijelaskan sebagaimana berikut:
1. Bagi Ilmu Pengetahuan
Dengan adanya penulisan
skripsi ini, penulis mengharapkan dapat memberi sumbangan dan masukan guna
mengembangkan serta peranan gizi di dalam arus pembangunan bangsa di masa depan
umat Islam. Di samping pengambilan makanan bergizi dan perkembangan
ekonomi-sosial dalam dunia umat Islam, khususnya dalam pengambilan makanan yang
sehat.
2. Bagi Masyarakat
Dengan adanya penulisan
skripsi ini dapat memberikan informasi dan masukan pada masyarakat umat Islam
seluruh dunia yang berhubungan dengan pentingnya pengambilan makanan bergizi menurut hadits Nabi.
3. Bagi Diri Sendiri
Untuk
menambah ilmu pengetahuan khususnya dalam penelitian gizi makanan menurut hadis
Nabi.[9]
E.
Kajian Kepustakaan
Masalah yang menjadi topik penelitian ini sudah
pernah dikaji sebelumnya oleh penulis-penulis lain, akan tetapi ada sisi yang
peneliti perhatikan belum tuntas kajiannya berkaitan dengan makanan bergizi
menurut hadits Nabi (Kajian Maudhu’i). Kajian yang belum sempurna yang
dimaksudkan peneliti adalah
berkaitan dengan metode takrij,
yaitu dengan mengeluarkan atau menghimpun serta mengelompokan hadits-hadits dan
member keterangan dan penjelasan dari penelitian tentang pengambilan makanan
bergizi menurut hadits Nabi.
Hal-hal
yang berkaitan dengan masalah makanan dan minuman telah diteliti sebelumnya
yaitu yang berkaitan dengan nikmatnya hidup sehat meneladani Nabi dalam
memelihara kesehatan jasmani yang dibahaskan oleh Imron Rosadi, S.Ag. Di
samping itu juga, Indra Kusumah, telah menguraikan panduan diet ala Rasulullah Saw, serta Abdul Basith
Muhammad As-Sayyid, telah menguraikan pola makan Rasulullah Saw, seperti kenapa
Rasulullah Saw, mengambil berat tentang hal makan dan minum dan sebagainya. Di
dalam kitab-kitab hadits maupun fikih sudah diuraikan secara terperinci
mengenai hal makan dan minum yang baik, halal dan bergizi. Mahir Hasan Mahmud
dalam bukunya mukjizat kedokteran Nabi yang membahaskan makanan antara
kedokteran dan Islam dan sebagainya.
Dalam
hasil kajian pustaka ini, peneliti mendapati tidak ada penelitian tentang
makanan bergizi yang dilihat dari perspektif hadits Nabi. Inilah yang menjadi
titik temu untuk kajian penelitian di dalam skripsi ini terhadap permasalahan
makanan bergizi menurut hadits Nabi (Kajian Maudhu’i).
F.
Metode Penelitian
1.
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan
penelitian kepustakaan (library research) yaitu mengumpulkan data dari pelbagai
literatur yang ada hubungan dengan penulisan ini yang selanjutnya
diformulasikan ke dalam bentuk karya ilmiah.
2.
Sumber Data
Pengumpulan
data dilakukan melalui kepustakaan berupa kitab, buku-buku dan karya tulis
lainya yang terkait dengan pembahasan, sumber data terbagi dua, yaitu sumber
primer dan sumber sekunder. Sumber primer berupa kitab-kitab hadits, dan
referensi-referensi lain yang berkaitan dengan penelitian ini, untuk
mendapatkan informasi tentang hadis yang diteliti. Sedangkan sumber sekunder
berupa karya-karya ilmiah atau jurnal yang berisi komentar dan kajian yang
terkait dengan penelitian.
3. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara pembacaan untuk menentukan yang akan diteliti. Dalam hal ini perkara
yang akan diteliti adalah hadits tentang
makanan bergizi (zat
makanan sehat). Kemudian mencari hadits-hadits
yang berkaitan dari berbagai kitab hadits melalui metode takhrij dengan
menggunakan kata kunci “ طعام ” serta menggunakan
program Software Maktabah Syamilah sebagai bantuan dan pengelompokan hadits.
4. Analisis Data
Kemudian melakukan penyusunan karya ilmiah ini, penulis menggunakan
metode maudhu’i (tema), yaitu dengan membahas hadits-hadits sesuai
dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Hadits yang berkaitan akan dikaji
secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya. Semua
akan dijelaskan dengan rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau
fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,[10] baik
argumen itu berasal dari hadits, ayat Al-Qur’an dan pandangan para Ulama
muta’qaddimin dan muta’akhirin.[11]
Penulis juga akan menggunakan metode-metode lain seperti:
Metode Diskriptif: yaitu yang
diteliti tidak hanya terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data, akan tetapi
akan meliputi analisa dan interprestasi tentang arti data itu, karena data
itulah maka dapat sebuah penyelidikan diskriptif membandingkan persamaan dan
perbedaan fenomena tertentu, lalu mengambil suatu hukum yang konkrit.[12]
Sementara obyek kajian fiq’hul hadits, supaya manusia mengerti dan memahami
tentang hadits berlandaskan hukum syara’ dalam segala perbuatan. Selanjutnya,
penulis menjelaskan bagaimana pemahaman tekstual serta pemahaman kontektual
hadits yang berhubungan fiq’hul hadits.
Metode kebahasaan: Yaitu, penulis
meneliti tehadap kata kunci dasar pembahasan skripsi ini, dengan menggunakan
pemahaman bahasa arab yang terdapat di dalam hadits tersebut. Selain itu,
penulis juga meneliti penggunaan bahasa dari sisi penetapan hukum larangan,
peringatan dan amaran yang digunakan dalam hadits tersebut.
Selanjutnya data yang telah
terkumpul dianalisis dengan metode-metode tertentu, maka seterusnya dengan
membahas permasalahan yang timbul sekarang, untuk dianalisis pemecahannya
berdasarkan buku-buku dan sumber-sumber yang berkaitan.[13]
G.
Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan bagi pembaca dalam menelusuri isi
uraian selanjutnya, penulis memandang perlu adanya uraian singkat sebagai garis
besar pembahasan skripsi melalui bab dari bab yang akan di uraikan disini yaitu:
Bab I, sebagai pendahuluan akan diisi dengan
pembahasan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan. Hal ini
diperlukan kerana sebagai pembuka terhadap seluruh hasil penelitian yang
dilakukan dalam pendahuluan akan tergambar secara keseluruhan isi penelitian
dan tujuan akhir yang hendak di capai dalam penelitian ini.
Bab II, menyangkut tentang makanan bergizi menurut
hadis Nabi, sebagaimana yang telah diketahui antaranya dalil-dalil makanan
bergizi menurut as-sunnah, pengertian dan hukum makanan bergizi, pandangan
islam terhadap pentingnya makanan bergizi bagi kesehatan, syarat-syarat
pengambilan makanan sehat (bergizi), manfaat makanan bergizi dan etika islam
dalam hal makanan dan minuman.
Bab III, membahas tentang kondisi makanan pada masa sekarang yang sesuai
dengan hadits Nabi, yang mana
menjelaskan tentang makanan bergizi menurut ilmu kesehatan, kandungan yang
terdapat pada produk makanan dan minuman (positif / negatif), nilai makanan, teknologi
pengawetan makanan, dan analisis perbandingan
penulis menyangkut makanan begizi dalam hadits Nabi Saw, dan implimentasi
konteks masa kini.
Bab IV, yaitu kesimpulan dan memberikan saran-saran
yang dianggap perlu.
[1] Imam Abi Abdillah Muhammad
bin Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mugirah bin Bardizbah al-Bukhari, Shahih
al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Fikr, 1981), hal. 386.
[2] Yusuf Qardhawy, Al-Qur’an Berbicara Tentang
Akal dan Ilmu Pengetahuan, Pent. Abdul Hayyie, Iffan Salaim, Lc dan
Sochimien M. H. Lc, Cet. I, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), hal. 42.
[3] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka
Mizan, 1997), hal. 143.
[4] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim
Ibn al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari, Shahih…, hal. 1684/131.
[6] Ibnu
Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi Ad Damsyiqi, Asbabul Wurud Latar Belakang Historis
Timbulnya Hadits-Hadits Rasul, Cet. III, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005). hal.
372.
[7] Hamdun Hasan Ruqaith, Nikmatnya…, hal.
103.
[8] Imam Ahmad Bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad Bin Hambal,
Cet. II, Jilid. III, (Beirut: Mua’sasah al-Risalah, 1999), hal. 440.
[10] Nasir
Budiman, Dkk., Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan
Disertasi), Cet. 1, (Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004), hal. 22.
[11] Ulama
Muta’qaddimin disebut juga dengan ulama salaf: Iaitu ulama-ulama dimasa lampau
(Pada zaman Rasulallah Saw, Sahabat, Tabi’in). Ulama Muta’akhirin disebut
dengan ulama terkemudian, zaman baru (Tabi’ Tabi’in dan selanjutnya).
[12] Chairani, Skripsi Penafsiran Ilimiah
Al-Quran Terhadap Ayat Kejadian Manusia, Cet. 1, ( Banda Aceh : IAIN
Ar-Raniry, 2004.) hal. 9.


Komentar
Posting Komentar
Komentar