KEMARAU PANJANG SEJAK MASA NABI MALAPETAKA UNTUK SIAPA?
KEMARAU PANJANG SEJAK MASA NABI MALAPETAKA UNTUK SIAPA?
KEMARAU YANG PANJANG MALAPETAKA UNTUK SIAPA?
1. Kemarau juga terjadi pada masa Nabi Hud as, tidak ada tanaman yang bisa tumbuh, sumber air kering, banyak hewan ternak mati, bangunan hancur. Sebelumnya daerah al-Ahqaf ini dikenal subur dan kehidupan mereka makmur. Saat kemarau, semua musnah, hidup kelaparan. Umatnya tidak mau beriman, Allah SWT pun menimpa lagi dengan badai yang dahsyat. Nabi Hud as, dan orang-orang yang beriman hijrah ke Hadramaut sementara kaum ‘Ad celaka dan binasa.
2. Pada masa Nabi Yusuf as, kemarau selama 7 tahun, akibat kedhaliman penguasa yang memenjarakannya atas dasar fitnah tanpa bukti nyata. Umatnya pun kala itu lalai dari mengingat Allah SWT. Hingga kemudian ia dilepaskan oleh raja karena berhasil memberi tafsir mimpi raja secara benar, hal tentu atas petunjuk Allah SWT.
3. Pada masa Nabi Musa as, lama kemarau 2 tahun, sungai Nil kekeringan. Umatnya sombong, enggan beriman, tidak mau membersihkan diri dengan bertaubat. Nabi Musa as, bersama umatnya melaksanakan shalat istisqa, hujan tidak juga turun. Nabi Musa as, mengadu kepada Allah, ternyata di antara orang yang ikut shalat istisqa ada yang suka mengadu domba, melakukan dosa selama bertahun-tahun dan enggan bertaubat kepada Allah SWT.
4. Kemarau juga melanda wilyah kerajaan Nabi Sulaiman as. Kekeringan menimbulkan penyakit, kelaparan dan pertanian hancur. Umatnya meminta untuk berdoa agar diturunkan hujan oleh Allah SWT. Artinya, "Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah SAW, bercerita, “Nabi Sulaiman as, pernah melakukan ibadah istisqa, tetapi ia melihat seekor semut berposisi telentang dan mengangkat tangan dan kakinya sambil berdoa, “Ya Allah, kami adalah salah satu makhluk-Mu. Kami tidak dapat berlepas ketergantungan dari anugerah air-Mu”. Menyaksikan ini, Nabi Sulaiman as, mengatakan kepada rakyatnya, “Mari kita pulang, kalian telah di (mintakan) anugerahkan air oleh doa makhluk hidup selain kalian." (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Imam Al-Hakim). Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam Ibanatul Ahkam, mengemukakan: Artinya, "(Hadits ini menunjukkan) pensyariatan keluar rumah untuk melakukan istisqa di tanah lapang. Istisqa merupakan syariat bagi umat terdahulu. Alangkah baiknya membawa serta binatang ternak dalam melakukan istisqa karena binatang itu memiliki potensi yang berkaitan dengan makrifat, zikir dan permohonan hajat mereka terhadap-Nya dengan bahasa yang dipahami oleh Allah dan tidak dipahami oleh bangsa manusia," (Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 132).
5. Pada masa Nabi Ilyas as, kemarau selama 3 tahun. Mata air sungai dan sumur-sumur kering, pepohonan, tanaman layu mati, pertanian, perkebunan hancur, ternak mati dan manusia kelaparan. Umatnya meminta kepada Nabi Ilyas as, untuk memohon kepada Allah SWT, agar hujan diturunkan. Nabi Ilyas as, meminta umatnya agar bertaubat dan mengikuti ajaran yang dibawanya. Umatnya mendengar dan bertaubat, hujan pun Allah SWT, turunkan dengan berkah doa Nabi Ilyas as. Sungai kembali mengalirkan air dan sumber-sumber mata air memancarkan air. Umatnya berbahagia karena pertanian, perkebunan dan peternakan mereka kembali mendatangkan hasil yang banyak.
6. Kisah kemarau pernah terjadi ketika Rasulullah SAW, berusia sekitar 8 tahun. Mekkah dilanda musim paceklik, kekeringan dan kelaparan di mana-mana. Pemuka Quraisy berkumpul mencari jalan keluar. Mereka akhirnya sepakat untuk meminta doa kepada Abu Thalib, paman Rasulullah SAW, karena beliau dikenal sebagai orang yang baik, dihormati dan dekat dengan Rasulullah SAW. Hujan pun turun, pertanian kembali bisa dipanen rakyat hidup makmur.

Komentar
Posting Komentar
Komentar