HUKUM MENGAMBIL, MENJUAL, MENGALIHKAN, MENGUBAH DAN MENGHILANGKAN (‘AIN) HARTA WAKAF



HUKUM MENGAMBIL, MENJUAL, MENGALIHKAN, MENGUBAH DAN MENGHILANGKAN (‘AIN) HARTA WAKAF

 

1)           Apakah boleh tanah yang sudah diwakafkan tersebut ditarik kembali menjadi hak milik pribadi? Para ulama menjawab, tidak bisa ditarik kembali akad wakaf tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Miizan al-Kubraa, II/99 dan kitab Asnaa al-Mathaalib, II/470. 

 

أسنى المطالب، ج ٢ ، ص ٤٧، ونصه: فلا يصح الرجوع عنه سواء أحكم به حاكم أم لا

 Artinya:

“Asnaa al-Mathaalib juz II halaman 47: Tidak sah (artinya batal) menarik kembali barang yang telah diwakafkan, baik yang telah diputuskan oleh pemerintah atau pejabat yang berwenang maupun belum (diputuskan)”. 

  

  وَوَقَفَ عُمَرُ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُ - أَرْضًا أَصَابَهَا بِخَيْبَرَ بِأَمْرِهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَشَرَطَ فِيهَا شُرُوطًا مِنْهَا أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُورَثُ وَلَا يُوهَبُ وَأَنَّ مَنْ وَلِيَهَا يَأْكُلُ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يُطْعِمُ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ  

 

Artinya:

“Sahabat Umar mewakafkan tanah yang beliau dapatkan saat perang Khaibar atas perintah Nabi. Umar mensyaratkan di dalamnya beberapa syarat, di antaranya tidak boleh dijual pangkalnya, tidak boleh diwariskan, tidak boleh dihibahkan, orang yang mengurusnya boleh memakan darinya dengan baik atau memberi makan kerabatnya dengan nominal sewajarnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).


2)           Hukum mengambil, menjual, mengalihkan dan menghilangkan harta wakaf? Matan dalam Kitab Fath al-Mu’in dan I’anah al-Thalibin, sebagai berikut:

  

وَلاَ يُبَاعُ مَوْقُوْفٌ وَإِنْ خَرُبَ) ... فَإِنْ تَعَذَّرَ اْلاِنْتِفَاعُ بِهِ إِلاَّ بِاْلإِسْتِهْلاَكِ كَأَنْ صَارَ لاَ يُنْتَفَعُ بِهِ إِلاَّ بِاْلإِحْرَاقِ اِنْقَطَعَ الْوَقْفُ أَيْ وَيَمْلِكُهُ) الْمَوْقُوْفُ عَلَيْهِ حِيْنَئِذٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ... (وَسُئِلَ) شَيْخُنَا عَمَّا اِذَا عُمِّرَ مَسْجِدٌ بِآلآتٍ جُدُدٍ وَبَقِيَتْ الْآلَةُ الْقَدِيْمَةُ فَهَلْ يَجُوْزُ عِمَارَةُ مَسْجِدٍ آخَرَ قَدِيْمٍ بِهَا أَوْ تُبَاعُ وَ يُحْفَظُ ثَمَنُهَا (فَأَجَابَ) بِأَنَّهُ يَجُوْزُ عِمَارَةُ مَسْجِدٍ قَدِيْمٍ وَحَادِثٍ بِهَا حَيْثُ قُطِعَ بِعَدَمِ احْتِيَاجِ مَا هِيَ مِنْهُ إِلَيْهَا قَبْلَ فَنَائِهَا وَلاَ يَجُوْزُ بَيْعُهُ بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوْهِ .   )قَوْلُهُ وَلاَ يُبَاعُ مَوْقُوْفٌ) أَيْ وَلاَ يُوْهَبُ لِلْخَبَرِ الْمَآرِّ أَوَّلَ الْبَابِ وَكَمَا يَمْتَنِعُ بَيْعُهُ وَهِبَتُهُ يَمْتَنِعُ تَغْيِيْرُ هَيْئَتِهِ كَجَعْلِ الْبُسْتَانِ دَارًا 

Artinya :

"Barang wakaf tidak boleh dijual meski sudah rusak … Maka bila sudah tidak bisa difungsikan, kecuali dengan pemanfaatan yang menghabiskannya, seperti tidak akan termanfaatkan kecuali dengan dibakar, maka -sifat- wakafnya terputus. Maskudnya maka dalam kondisi seperti ini mauquf ‘alih (pihak yang diwakafi) bisa memilikinya menurut qaul mu’tamad. Guruku (Ibn Hajar al-Haitami) pernah ditanya tentang mesjid yang direnovasi dengan bahan bangunan baru, dan bahan bangunan yang lama (tidak digunakan lagi). Maka apakah boleh merenovasi mesjid lain yang kuno dengan bahan bangunan yang sudah tidak digunakan itu?   Maka beliau menjawab: “Boleh merenovasi mesjid lama atau membangun mesjid baru yang lain dengan bahan bangunan yang sudah tidak digunakan tersebut, sekiranya sudah dipastikan mesjid yang direnovasi dengan bahan bangunan baru (dalam soal) tidak membutuhkannya sebelum bahan bangunan yang sudah tidak digunakan itu rusak total. Dan tidak boleh menjualnya sama sekali. (Syekh Zainuddin al-Malibari dan Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatha, Fath al-Mu’in dan Hasyiyah I’anah al-Thalibin, juz 3, hal. 179-182).

  

Dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, disebutkan:

 

 فِي مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِي بَيْعِ الْعَيْنِ اَلْمَوْقُوفَةِ ذَكَرْنَا اَنَّ مَذْهَبَنَا بُطْلَانُ بَيْعِهَا سَوَاءٌ حَكَمَ بِصِحَّتِهِ حَاكِمٌ اَوْلَا وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَاَحْمَدُ وَالْعُلَمَاءُ كَافَّةً اِلَّا أَبَا حَنيِفَةَ فَقَالَ يَجُوزُ بَيْعُهُ مَا لَمْ يَحْكُمْ بِصِحَّتِهِ حَاكِمٌ 

 Artinya:

“Pandangan para ulama mengenai hukum jual-beli benda yang diwakafkan. Kami telah menyebutkan bahwa madzhab kami (madzhab syafi’i) berpendapat bahwa jual-beli harta-benda wakaf adalah batal baik kesahannya telah ditetapkan oleh pihak pemerintah (hakim) atau belum. Inilah pandangan yang dipegangi imam Malik, imam Ahmad dan seluruh ulama kecuali imam Abu Hanifah dimana beliau berpendapat bolehnya jual-beli herta-benda wakaf selama belum ditetapkan kesahannya oleh hakim” (Lihat Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Bairut-Dar al-Fikr, juz, IX, h. 246).

Dalam kitab I’anah al-Thalibin:  

  وخرج بقوله ولم تصلح الخ ما إذا أمكن أن يتخذ منه نحو ألواح، فلا تباع قطعا، بل يجتهد الحاكم ويستعمله فيما هو أقرب لمقصود الواقف.قال السبكي حتى لو أمكن استعماله بإدراجه في آلات العمارة، امتنع بيعه فيما يظهر.  

 Artinya:

 “Dikecualikan dari ucapan Syekh Zainuddin; dan tidak layak kecuali untuk dibakar; yaitu ketika masih mungkin menjadikan dari harta wakaf itu semisal papan, maka tidak boleh dijual secara pasti. Bahkan hakim wajib berijtihad dan menggunakannya untuk pemanfaatan yang lebih dekat dengan tujuan pewakaf. Al-Imam al-Subki berkata; bahkan bila mungkin menggunakannya dengan memasukan harta wakaf dalam alat-alat pembangunan, maka tercegah menjualnya menurut pendapat yang jelas.” (Syekh Abu Bakr 'Utsman bin Muhammad Syatha' Al-Bakri, I’anah al-Thalibin, juz 3, hal.  212).


Kemudian:

 وكما يمتنع بيعه وهبته يمتنع تغيير هيئته كجعل البستان دارا…أفاده محمد الرملي. (إعانة الطالبين ، ج ٣ ص ١٧٩)

 Artinya:

“Sebagaimana terlarang menjual dan menghibahkan wakaf, terlarang pula mengubah bentuk/keberadaannya, seperti mengubah kebun menjadi rumah/perkampungan….Demikian dijelaskan oleh Muhammad Ramli (I'aanah al-Thalibiin, juz III halaman 179).

 

 Hukum mengubah fungsi harta wakaf

Mengubah fungsi barang wakaf tidak dibenarkan, sebagaimana mengubah wakaf rumah menjadi taman, atau bahkan menjadi toilet, atau sebaliknya. Kecuali memang pewakaf mensyaratkan untuk diperbolehkan mengubah fungsi wakaf oleh nadzir (Raudlatu al-Thalibin, Juz. 7. hal. 422. Shamela).

 

Berkata Imam al-Subuki “Tidak boleh mengubah bentuk barang wakaf atau tidak menghancurkan barang wakaf tersebut. (Hasyiyah Qalyubi wa Umairah, Juz. 3. hal. 109. Dar Ibn Ashahah).

 

كِتَابُ اْلوَقْفِ هُوَ لُغَةً اَلْحَبْسُ وَشَرْعًا حَبْسُ مَالٍ يُمْكِنُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ بِقَطْعِ التَّصَرُّفِ فِي رَقَبَتِهِ عَلَى مَصْرِفٍ مُبَاحٍ

 

Artinya:

“Bab tentang wakaf. Secara bahasa wakaf artinya menahan (al-habs), sedang menurut syara` wakaf adalah menahan harta-benda yang bisa diambil manfaatnya untuk hal yang diperbolehkan berserta tetap utuhnya harta-benda itu sediri dengan cara tidak mentasharufkan dzatnya. (
Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahhab bi Syarhi Manhaj ath-Thullab, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418 H, juz, I, h. 440).


Dikatakan oleh Syekh Bafadlal,  pakar Fiqh terkenal dari Tarim Yaman, mengatakan:  

 

 ويؤخذ من جواب السائل أنه إن أمكن حفظ الأطيان المذكورة في السؤال الى وقت حاجة المسجد التي هي منه لها فيجب على الناظر حفظها ولم يجز بيعها ولا صرفها في عمارة مسجد آخر  

 

Artinya:

“Diambil dari jawaban penanya bahwa bila memungkinkan menjaga material-material (wakaf) tersebut dalam pertanyaan sampai waktu kebutuhan masjid, maka wajib atas nadzir menjaganya, tidak boleh menjualnya, tidak boleh mengalokasikannya untuk pembangunan masjid yang lain.” (Syekh Bafadlal, Mawahib al-Fadl min Fatawa Ba Fadlal, hal.  137).

 

Begitu pula mengubah fungsi harta/barang wakaf tidak dibenarkan, sebagaimana mengubah wakaf rumah menjadi taman, atau bahkan menjadi toilet, atau sebaliknya. Kecuali memang pewakaf mensyaratkan untuk diperbolehkan mengubah fungsi wakaf (Referensi: Raudlatu al-Thalibin, Juz. 7. hal. 422).

 

Wallahu’alam…

 

Komentar

Postingan Populer