HASIL PENELITIAN TENTANG PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAQ

 




HASIL PENELITIAN TENTANG PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAQ 



A.     Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Madrasah Tsanawiyah Negeri Banda Aceh merupakan salah satu sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam kelulusan dan dapat diterima di sekolah-sekolah unggulan baik di provinsi maupun tingkat nasional. Adapun sekolah MTsN model letaknya sangat strategis karena dikelilingi dengan TK, MIN, dan MAN. MTsN Model berbatasan dengan:

1.         Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Kelurahan Kampung Keramat,

2.         Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Syiah Kuala,

3.         Sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Pocut Baren,

4.            Sebelah selatan berbatasan dengan Yayasan AMI/ SMIA Banda Aceh.

 

Madrasah ini didirikan pada tahun 1950, yang awalnya diberi nama SMI (Sekolah Menengah Islam), berlokasi di Kodam Iskandar Muda, keberadaannya di bawah naungan dan koordinasi Yayasan Pendidikan Umat Islam (YPUI), dipimpin oleh A. Gani Usman. Beliau adalah salah seorang putera Selimuem. Pada tahun 1953 sekolah ini ditempatkan di lokasi BHP (Badan Pengurus Harian), yang dijabat oleh Suwandi, tidak lama setelah dipimpin oleh suwandi, dilanjutkan lagi oleh Tgk. M. Hasan.

Pada tahun 1955, sekolah ini dipindahkan lagi ke lokasi MI, yang dipimpin oleh Tgk. Usman Lampanah. Berselang setahun, sekolah tersebut dijabat oleh Ghazali Ibrahim,selanjutnya pada tahun 1961, dikepalai oleh Tgk. Ibrahim Amin. Pada tahun 1968 sekolah MTsN ini dinegerikan, namanya yang dulu SMI diubah menjadi MTsAIN, dipimpin oleh M. Ali Budiman. Kemudian pada tahun 1976 berubah menjadi MTsN, yang dipimpin oleh Drs. Ibrahim Samsuddin, selanjutnya oleh Drs. M. Isa Rahmat. Pada tahun 1998 dipimpin oleh Drs. Jamaluddin Husin (Alm),kemudian dilanjutkan oleh Drs. Muhammad, hingga saat ini. Sekolah ini beralamat di jalan Pocut Baren No 114 Kota Banda Aceh, Kelurahan Keuramat, Kecamatan Kuta Alam.

            Adapun jumlah siswa sampai sekarang ini secara keseluruhan yaitu, 1147 siswa. Sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini, jumlah dalam tabel tersebut diklasifikasi berdasarkan kelas secara umum:

Tabel 4.1 Jumlah siswa di MTsN Model Banda Aceh.

  No     Kelas           Siswa laki-laki        Siswa perempuan                Jumlah

1.        Kelas I               163 siswa                   236 siswa                    399 orang

2.        Kelas II              159 siswa                  232 siswa                   391 orang

3.         Kelas III           137 siswa                  220 siswa                   357 orang

Jumlah                          459 siswa                  688 siswa                   1147 

Smber data : Dokumentasi MTsN Model Banda Aceh pada tanggal 10 Mei 2010.

 

            Dari jumlah 1147, jumlah siswa laki-laki secara keseluruhan sebanyak 459 siswa, sementara siswi perempuan sebanyak 688 siswi. Sementara jumlah guru di MTsN Model Banda Aceh sebanyak 67 orang guru, yang terdiri dari 57 guru PNS. Dari 57 guru PNS yang ada, guru laki-laki sebanyak 17 orang guru, guru perempuan sebanyak 40 orang guru. Sementara 10 orang guru lainnya adalah guru non PNS, yaitu guru laki-laki sebanyak 7 orang, sedangkan perempuan sebanyak 3 orang guru.

             Dilihat dari fasilitas yang ada, sekolah ini termasuk lengkap, di mana fasilitas yang tersedia telah memadai sebagaimana layaknya yang diharapkan. Adapun fasilitas yang tersedia di sekolah MTsN model ini adalah;

Tabel 4.2 Fasilitas sekolah MTsN Model Banda Aceh

  No       Fasilitas                                                Jumlah

1.            Ruang kepala sekolah                      1          buah

2.            Ruang pengajaran                            1          buah

3.            Ruang guru                                       1          buah

4.            Ruang kelas                                      32         buah  

5.            Lab bahasa                                       1          buah

6.            Lab computer                                   1          buah

7.            Lab IPA                                              1          buah 

8.            Pustaka                                              1          buah 

9.            Mushalla                                            1          buah

10.        Ruang uks                                         1          buah

11.        Ruang  bimpen                                 1          buah

12.        Fasilitas olah raga                            1          buah

13.        Kantin.                                                2          buah

           Jumlah                                                45         buah

 Sumber data : Dokumen MTsN Model Banda Aceh, 2009/2010

 

 

B.       Metode Pembelajaran Aqidah Ahklak di MTsN Model

 

Sebagaimana telah dijelaskan pada bab terdahulu bahwa metode merupakan sesuatu yang sangat penting diperhatikan dan dicermati dengan bijak, karena tercapai atau tidaknya tujuan yang diharapkan sangat tergantung dari guru dan cara guru memberi pengetahuan kepala siswanya. Disadari atau tidak, metode adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Harus juga dipahami, bahwa setiap metode yang ada, mempunyai sifat atau  ciri tertentu baik segi kelemahan dan kebaikannya.  Pemakaian metode pembelajaran dalam pelajaran tertentu diharapkan patut dipertimbangkan. Metode sangat menentukan terhadap pencapaian tujuan yang diharapkan, salah pilih metode hasilnya menyimpang dari tujuan.

            Untuk melihat metode apa yang digunakan guru MTsN Model dalam proses belajar mengajar agar siswa lebih mudah menguasai materi aqidah akhlak, dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

 

Tabel 4.3 Metode yang digunakan guru selama proses belajar mengajar aqidah akhlak di MTsN Model Banda Aceh.

 

No       Alternatif                                                        F                      (%)

1          Metode ceramah                                            30                      37,5 %

2          Metode tanya jawab                                      38                      47,5 %

3          Metode kelompok atau diskusi                      12                      15    %

                           Jumlah                                             80                      100  %

Sumber; Angket siswa

 

Dalam tabel di atas terlihat bahwa sebanyak 47,5% responden menjawab metode tanya jawab sebagai metode yang sering digunakan guru aqidah akhlak di MTsN Model dan sebanyak 37,5% responden menjawab metode ceramah serta sebanyak 15% responden menjawab metode kelompok/diskusi sebagai metode yang digunakan guru aqidah akhlak dalam proses belajar mengajar di MTsN Model Banda Aceh.

Sementara hasil wawancara dengan tiga orang guru aqidah akhlak di MTsN Model menjawab metode yang digunakan guru adalah bermacam-macam, mulai metode ceramah, tanya jawab, metode diskusi juga diterapkan dalam proses belajar aqidah akhlak di MTsN tersebut. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memudahkan siswa dalam memahami belajar. Cara belajar tidak mungkin cukup dan memadai dengan satu metode saja, namun banyak metode banyak kesempatan siswa untuk menguasai materi.[1]

Dalam hal ini, guru beranggapan bahwa penerapan metode belajar mengajar aqidah akhlak tidaklah cukup dengan satu metode saja, perlu penggunaan metode lain untuk membantu dan memudahkan proses belajar mengajar pada bidang studi aqidah akhlak.

 

Tabel 4.4 Metode yang digemari siswa terhadap metode yang diterapkan oleh guru aqidah akhlak

 

No       Alternatif                                                  F                   (%)

1          Metode ceramah                                      16                 20    %

2          Metode tanya jawab                                26                 32,5 %

3          Metode kelompok atau diskusi                38                 47,5 %

                           Jumlah                                       80                 100  %

Sumber; Angket siswa

Berdasarkan tabel di atas  bahwa sebanyak  47,5% responden menyukai metode belajar kelompok atau diskusi, 32,5% responden menyukai metode tanya jawab dan 20% reponden menjawab menyukai metode ceramah.

Keadaan seperti ini membuktikan bahwa, siswa MTsN Model Banda Aceh, lebih menyukai metode belajar kelompok atau diskusi dari pada belajar dalam bentuk metode ceramah dan tanya jawab. Hasil responden ini, berbeda sebagaimana yang dipahami oleh guru, sebanyak 2 orang guru di antara mereka menyebutkan bahwa metode ceramah merupakan metode yang digemari siswa dan metode yang efektif dalam pembelajaran, karena bisa mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi dan juga bisa melatih anak. Sementara seorang guru lagi menjawab metode yang efektif diterapkan dalam proses pembelajaran aqidah akhlak adalah metode renitasi atau latihan, karena cara tersebut untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menguasai materi aqidah akhlak.[2]

Penerapan metode antara yang diterapkan guru dan yang diinginkan siswa tentu sangat berpengaruh terhadap tujuan dari pembelajaran aqidah akhlak ini atau paling tidak dikhawatirkan tidak mampu mencapai unsur yang diinginkan dalam pembelajaran itu sendiri, guru juga harus memperhatikan metode yang diinginkan oleh siswa, agar tercapai tujuan yang diinginkan. Cara seorang siswa dalam menguasai materi sangat ditentukan oleh metode yang efektif atau cara yang digunakan akan lebih bisa memahami dan menguasai materi yang diberikan. Perbedaan-perbedaan  ini yang perlu dipahami secara bijak oleh seorang guru aqidah akhlak dalam proses belajar mengajar siswa.

 

C.      Penggunaan media belajar Aqidah Akhlak di MTsN Model

 

Dalam proses belajar mengajar aqidah akhlak media mempunyai arti yang cukup penting, dengan adanya media membantu guru dalam menyampaikan materi yang rumit dan dapat disederhanakan dengan bantuan media, sehingga emmudahkan siswa memahami pelajaran.

            Namun peranan media tidak terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran, tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Akhirnya, dapat dipahami bahwa media pembelajaran aqidah akhlak adalah alat bantu yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran aqidah akhlak itu sendiri.

Terhadap penggunaan media pembelajaran di MTsN Model Banda Aceh pada pelajaran aqidah akhlak, berikut adalah hasil penelitian yang telah dilakukan pada responden yang dirumuskan dalam bentuk tabel.

 

Tabel 4.5 Sering tidaknya guru menggunakan alat peraga.

 

No       Alternatif                                                  F                         (%)

1          Sering                                                      12                       15 %

2          Jarang                                                      16                       20 %

3          Tidak pernah                                            52                       65 %

                     Jumlah                                             80                      100 %

Sumber; Angket siswa

 

Dari tabel di atas, sebanyak 15% responden yang menjawab sering, 20% menjawab jarang dan sebanyak 65% responden menjawab tidak pernah terhadap penggunaan media belajar oleh guru aqidah akhlak dalam proses belajar mengajar. Dari hasil wawancara dengan 3 orang guru aqidah akhlak, bahwa penggunaan media pada pembelajaran aqidah akhlak sangat penting digunakan dalam belajar, namun dalam proses belajar mengajar sangat jarang menggunakan alat peraga.[3] Karena media belum mencukupi sabagaimana seharusnya. Pada prinsipnya, media mampu memberi kenyataan langsung pada siswa dalam proses belajar mengajar, melalui media juga siswa dapat mempraktekkannya secara bersamaan, seperti praktek shalat lima waktu misalnya dan praktek bagaimana cara mengucapkannya.

 

Tabel 4.6 Media yang sering digunakan guru aqidah ahklak.

No       Alternatif                                                  F                       (%)

1          Audio Visual                                            21                   26,25 %

2          Auto Visual                                              11                   13,75 %

3          Tidak ada/tidak pernah                             48                   60      %

                      Jumlah                                             80                   100   %

Sumber; Angket siswa

 

Hasil tabel di atas menunjukkan, dari 80 siswa yang menjadi responden, sebanyak 26,25% responden menjawab audio visual dan 13,75% responden menjawab auto visual serta 60% responden menjawab tidak ada/tidak pernah.

Data tersebut di atas menunjukan masih minimnya penggunaan media oleh guru aqidah akhlak, sebagaimana hasil yang tertera pada tabel 4.7 di atas. Media audio visual (dalam bentuk suara) hanya 26 % di antara mereka yang mengatakan ada, sementara auto visual (dalam bentuk gambar) juga demikian.

Dari 3 orang responden guru, mereka menjawab bahwa media jarang digunakan, media yang digunakan yaitu dalam bentuk suara, yang diperdengarkan pada siswa, seperti memperdengarkan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan Makhraj huruf.[4]

Sebagaimana hasil penelitian menunjukkan bahwa masih minimnya penggunaan media sebagai sarana belajar bagi siswa. Media yang tersedia hanya buku paket, itupun masih ada yang kurang, dari kurangnya ketersediaan media yang ada di sekolah guru menggantikannya dengan lembaran kerja siswa (LKS), sebagai pengganti sarana media.

 

Tabel 4.7 Mudah/tidaknya siswa menerima materi pembelajaran aqidah akhlak.

 

No       Alternatif                                               F                        (%)

1          Mudah                                                 45                       56,25  %

2          Kadang-kadang                                   32                       40       %

3          Tidak mudah                                         3                          3,75  %

                 Jumlah                                            80                        100     %

Sumber; Angket siswa

 

            Dalam tabel di atas terlihat bahwa sebanyak 56,25 responden menjawab bahwa mudah, sebanyak 40% responden yang menjawab kadang-kadang dan 3,75% responden yang menjawab tidak mudah.

            Ini menunjukkan bahwa media pembelajaran sebagai alat yang mempermudah bagi siswa dalam memahami dan menguasai materi menjadi sebuah kenyataan pada siswa MTsN Model Banda Aceh, di mana penggunaan media memudahkan bagi mereka dalam memahami materi. Sebanyak 45 siswa atau 56,25%, mengakui bahwa media pembelajaran merupakan salah satu media yang memudahkan bagi siswa menguasai materi. Keadaan ini diperkuat oleh responden guru yang mengakui bahwa media pembelajaran bagi siswa MTsN Model Banda Aceh, terhadap pembelajaran aqidah akhlaq sangatlah penting, karena memudahkan siswa dalam menguasai materi.

 

 

 

 

Tabel 4.8 Banyaknya guru menggunakan media dalam menyampaikan meteri aqidah akhlak.

 

No       Alternatif                                               F                   (%)

1          Seminggu sekali                                    15                18,75 %

2          Sebulan sekali                                       17                21,25 %

3          Tidak pernah                                         48                60      %

                     Jumlah                                         80                 100    %

Sumber; Angket siswa

             Dalam tabel di atas tersebut menyebutkan sebanyak 60% responden  menjawab tidak pernah, 18,75% responden menjawab seminggu sekali sementara 21,25% responden menjawab sebulan sekali.            Hasil dari beberapa tabel di atas berkenaan dengan penggunaan media menunjukkan bahwa, guru aqidah akhlak di MTsN Model Banda Aceh, secara umum, masih minim menggunakan media bagi siswa dalam belajar aqidah akhlak.. Untuk menutupi kekurangan seperti ini, guru memberikan beberapa tugas atau latihan bagi mereka yang berupa LKS sebagai pengganti dari kurangnya media.

 

D.   Sistem Evaluasi Pembelajaran Aqidah Akhlak di MTsN Model

 

Evaluasi adalah penilaian yang diajukan terhadap seluruh aspek pribadi murid, dalam seluruh situasi pendidikan yang dialaminya. Selain itu evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui berhasil tidaknya siswa dalam belajar. Dengan mengukur hasil pekerjaannya, dapat diketahui batas kesanggupan, penguasaan tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam menyelesaikan suatu tugas yang dibebankan kepadanya.

Oleh karena itu, kemampuan guru menyusun alat dan melaksanakan evaluasi pada pelajaran aqidah akhlak merupakan bagian dari  proses pembelajaran aqidah akhlak secara keseluruhan. Sehingga belajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran khusus. Berikut adalah hasil penelitian terhadap sistem evaluasi pembelajaran aqidah akhlak di MTsN Model Banda Aceh.

 

Tabel 4.9 Sering/tidaknya guru mengulangi materi yang telah lalu.

 

No       Alternatif                                              F                   (%)

1         Sering                                                    48                  60  %

2         Jarang                                                    24                  30  %

3         Tidak pernah                                           8                  10  %

             Jumlah                                                 80                 100 %

Sumber; Angket siswa

 

            Tabel di atas menunjukkan sebanyak 60% responden  menjawab sering, sebanyak 30% responden yang menjawab jarang serta 10% menjawab tidak pernah terhadap ada tidaknya guru aqidah akhlak mengulangi materi yang lalu.

Dapat disimpulkan bahwa guru bidang studi aqidah akhlak sebelum memulai pelajaran atau materi baru dalam belajar aqidah akhlak, sering mengulangi materi yang telah lalu. Hal ini untuk mendukung dan membangkitkan kembali pengetahuan yang telah dijelaskan agar siswa kembali ingat terhadap sesuatu topic yang sedang dibahas.

Mengulangi materi yang telah lalu merupakan sebuah metode yang sangat mendukung daya ingat siswa terhadap materi yang telah dijelaskan, paling tidak siswa ingat garis besar yang menjadi pokok permasalahan terhadap materi yang telah dipelajarinya. Selain itu juga mampu memotivasi siswa dalam menguasai bahan ajarnya, sehingga ketertarikannya terhadap mata pelajaran aqidah akhlak pun semakin meningkat, hal ini dipengaruhi oleh semakin dikuasainya bahan ajar yang telah diberikan. Karena pada prinsipnya, semakin banyak pengetahuan tehadap materi aqidah akhlak, semakin menarik pula untuk dipelajari lebih dalam.

 

Tabel 4.10 Ada/tidaknya guru mengadakan tes disaat berlangsungnya proses belajar mengajar aqidah akhlak.

 

No       Alternatif                                             F                     (%)

1         Selalu                                                   20                     25    %

2         Kadang-kadang                                   54                     67,5 %

3         Tidak pernah                                          6                       7,5 %

                Jumlah                                             80                    100   %

Sumber; Angket siswa

 

Dari tabel di atas terlihat bahwa, sebanyak 25% responden menjawab selalu, sebanyak 67,5% responden menjawab kadang-kadang dan sebanyak 7,5% responden menjawab tidak pernah terhadap ada tidaknya guru mengadakan tes disaat berlangsungnya proses belajar mengajar aqidah akhlak di MTsN Model Banda Aceh.

Ini menunjukkan, dalam halnya proses belajar menajar aqidah akhlak, bisa dikategorikan guru tidak selalu mengadakan tes kepada siswa dalam proses belajar mengajar di ruang kelas. Ini dibuktikan dari hasil angket siswa yang menjawab kadang-kadang mencapai 67,5% dibandingkan dengan selalu dan tidak pernah.

Dari wawancara dengan 3 orang guru aqidah akhlaq, mengatakan bahwa sebelum dilakukannya pembahasan materi baru aqidah akhlaq sering  mengadakan tes kemampuan pada siswa terhadap meteri yang telah dipelajari, namun sangat jarang melakukan tes pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar.[5] Dalam belajar, evaluasi perlu diterapkan secara teratur dan terarah, karena evaluasi sebagai langkah untuk mengetahui ada tidaknya pemahaman terhadap materi yang telah diajarkan, selain itu juga meningkatkan daya ingat siswa terhadap sesuatu topic yang telah dipelajari.

 

Tabel 4.11 Ada/tidaknya guru mengadakan post tes pada akhir proses belajar mengajar aqidah akhlak.

 

No       Alternatif                                               F                     (%)

1         Selalu                                                     29                   36,25  %

2         Kadang-kadang                                     42                   52,5    %

3         Tidak pernah                                            9                   11,25  %               

                Jumlah                                             80                    100   %

Sumber ; Angket siswa

 

Tabel di atas menunjukkan, sebanyak 36,25% responden menjawab selalu, 52,5% responden menjawab kadang-kadang dan 11,25% responden menjawab tidak pernah mengadakan post tes pada akhir belajar aqidah akhlak.

Data di atas menandakan post tes pada akhir pembelajara aqidah akhlak jarang dilakukan oleh guru terhadap pembelajaran aqidah akhlaq. Dari 3 orang guru aqidah akhlaq yang menjadi responden dalam penelitian ini, 2 orang yang menjawab bahwa post tes dilakukan selama 1 bulan sekali dan setiap satu semester sekali, 1 guru lagi menjawab post tes dilakukan setiap selesai materi yang diberikan.[6]

Sebagaimana diketahui bahwa, post tes pada akhir setiap pembelajaran yang dilakukan oleh guru aqidah akhlaq merupakan suatu yang penting dilakukan, karena cara tersebut dilakukan agar siswa agar siswa benar-benar ingat dan paham terhadap materi yang telah diberikan oleh guru aqidah akhlaq itu sendiri, sekaligus mengevaluasi sejauh mana siswa telah menguasai materi yang telah diberikan. Setelah mengetahui kemampuan siswa, guru juga mengetahui hal-hal apa saja yang susah dimengerti oleh siswa. Dengan cara ini juga guru tahu bagaimana atau hal apa saja yang mesti dilakukan agar siswa memahami terhadap materi yang telah diberikan.

 

Tabel 4.12 Tuntas/tidaknya guru materi aqidah akhlak dalam setiap semester.

 

No       Alternatif                                               F                     (%)

1         Tuntas                                                    65                   91,7    %

2         Kurang tuntas                                        15                     8,3    %

3         Tidak tuntas                                            -                      -        %              

                Jumlah                                             80                    100   %

Sumber; Angket siswa

Tabel di atas menunjukkan bahwa, sebanyak 91,7% responden menjawab tuntas dan 8,3% responden menjawab kurang tuntas dan 0% yang menjawab tidak tuntas. Dapat disimpulkan bahwa, guru aqidah akhlak mampu menuntaskan keseluruhan materi atau silabus yang direncanakan dalam proses belajar mengajar pada siswa MTsN Model Banda Aceh. Selain itu, dari 3 orang guru aqidah akhlak yang menjadi responden juga menjawab bahwa semua materi atau silabus yang direncanakan terealisasi semuanya pada siswa artinya semua  materi tercapai pada target yang diinginkan.[7] Ini bisa dikatakan juga guru aqidah akhlak berhasil merapkan silabus sebagaimana yang ditargetkan sebelumnya.

Terhadap perencanaan program pembelajaran aqidah akhlak di MTsN Banda Aceh, para guru sendiri yang membuat silabusnya dengan berpedoman pada panduan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini dibuktikan bahwa, sebanyak 3 orang guru yang menjadi responden, semuanya menjawab bahwa perencanaan program pembelajaran dan silabus dirancang oleh guru itu sendiri.[8]

 

E.        Kemampuan Siswa Menguasai Materi Aqidah Akhlak di MTsN Model

 

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu, pendidikan aqidah akhlaq meruapakan pendidikan yang pertama diperoleh seseorang dalam keluarga dan juga diterima dalam lingkungan masyarakat bahkan di sekolah. Pendidikan aqidah akhlak ini bertujuan membentuk kepribadian seseorang, sebab pendidikan ini mengarahkan seseorang kepada yang baik yang bersumber dari kitab suci dan hadits serta ijmak. mengarahkan manusia kepada yang kebenaran, dan sesuai dengan menurut perintah Allah SWT.

Sehingga tidak berlebihan bila pendidikan menjadi salah satu yang patut dan wajib untuk dipelajari oleh setiap siswa. Dalam kaitannya di sini adalah terhadap kemampuan siswa MTsN Model Banda Aceh dalam menguasai materi aqidah akhlak. Sejauh yang diketahui, pendidikan ini merupakan pendidikan yang mengarah pada pembentukan sikap yang baik dan bermoral sehingga benar-benar mendapatkan perhatian dari pihak guru yang bersangkutan. Berikut adalah hasil penelitian yang telah dilakukan.

 

Tabel 4.13  Menguasai/tidaknya terhadap materi aqidah akhlak yang  diberikan.              

 

No       Alternatif                                               F                      (%)

1          Menguasai                                            30                     37,5   %

2          Kurang menguasai                               45                     56,25 %

3          Tidak menguasai                                    5                       6,25 %

                Jumlah                                              80                     100   %

Sumber; Angket siswa

 

Dari tabel di atas menunjukkan, dari 80 siswa yang menjadi responden,  sebanyak 37,5% responden menjawab menguasai terhadap materi aqidah akhlak yang diberikan, 56,25% yang menjawab kurang menguasai dan sebanyak 23,75% yang menjawab tidak menguasai.

            Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa, proses belajar mengajar aqidah akhlak yang berlangsung di MTsN Model Banda Aceh, siswa belum sepenuhnya menguasai terhadap materi yang diberikan. Ini dibuktikan dari hasil responden yang menjawab kurang menguasai mencapai 56,25% meskipun tingkat menguasai berbeda. Banyaknya  siswa yang  kurang menguasai materi aqidah akhlaq di MTsN Model Banda Aceh, dipengaruhi oleh  media serta faktor kemampuan yang dimiliki oleh siswa.

 

Tabel 4.14 Mampu/tidaknya menjawab semua soal

 

No       Alternatif                                                F                        (%)

1          Mampu                                                  37                    72,5    %

2          Kurang mampu                                      40                    50       %

3          Tidak mampu                                           3                      3,75  %

                Jumlah                                                80                     100   %

Sumber; Angket siswa

 

Hasil tabel di atas terlihat, sebanyak 72,5% responden  menjawab mampu terhadap kemampuan menjawab materi tes yang diberikan guru, sebanyak 50% menjawab kurang mampu dan  yang menjawab kurang mampu dan sebanyak 3,75 responden yang menjawab tidak mampu dalam menjawab soal tes yang diberikan guru.

            Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa, siswa MTsN Model kurang mampu menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru terhadap materi aqidah akhlaq. Jawaban kurang mampu ini diperoleh dari angket yang disebarkan kepada siswa sebanyak 80 siswa, dari jumlah sampel ini sebanyak 50% responden menjawab kurang mampu. Dari hasil penelitian ini bisa dikatakan, siswa MTsN Model kurang mampu menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru aqidah akhlak.

 

Tabel 4.15 Pernah/tidaknya remedial dalam evaluasi aqidah akhlak

 

No       Alternatif                                                  F                     (%)

1         Selalu                                                          0                     0    %

2         Tidak pernah                                             38                   47,5 %                 

3         Kadang-kadang                                        42                   52,25%

                Jumlah                                                 80                    100  %

Sumber; Angket siswa

 

Tabel di atas, sebanyak 80 responden yang disebarkan angket, sebanyak 47,5% menjawab tidak pernah remedial terhadap materi tes atau hasil tes/evaluasi aqidah akhlak, 52 responden menjawab kadang-kadang dan 0% yang menjawab selalu.

            Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 47,5% responden  tidak pernah remedial terhadap tes atau evaluasi yang dilakukan oleh guru dan sebanyak 52,25%) responden menjawab kadang-kadang. Melalui hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa siswa MTsN Model Banda Aceh telah menguasai materi aqidah akhlak yang diberikan oleh guru, ini dilihat dari kemampuan siswa dalam menjawab soal-soal/tes yang diberikan oleh guru aqidah akhlak, sebagaimana pada tabel di atas.

            Terhadap banyaknya jawaban sisiwa yang menjawab kurang mampu atau kurang menguasai terhadap materi aqidah akhlak yang diberikan guru, di satu sisi ni menjadi suatu kenyataan yang tidak mungkin dipermasalahkan, yang dikarenakan masih kurangnya sarana media yang tersedia dalam proses belajar mengajar serta masih kurang penggunaan media belajar yang dilakukan oleh guru.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di MTsN Model Banda Aceh terhadap kemampuan guru aqidah akhlak dalam merancang RPP, berdasarkan dari data tabel di atas menunjukkan, guru aqidah akhlak di MTsN Model Banda Aceh dapat dikategorikan belum tepat. Kemampuan guru aqidah akhlak ini terlihat dari kurangnya kesanggupan siswa dalam menguasai/memahami materi aqidah akhlak yang diberikan pada saat proses belajar mengajar, selain itu pada saat evaluasi yang dilakukan guru, siswa juga kurang mampu menjawab terhadap materi tes yang diberikan, kemampuan siswa dalam menjawab materi tes, diukur pula dari kurangnya persentase yang lulus terhadap materi tes aqidah akhlak dibandingkan dengan lulus. Hal ini sebagaimana terlihat pada tabel; 4.14 dan 4.25.

 

F.        Kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran Aqidah Ahklak     di MTsN Model

 

Sesuatu yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam proses belajar mengajar aqidah akhlak pada MTsN Model, selalu dipengaruhi oleh faktor, baik itu penghambat maupun pendukung, karena faktor inilah seseorang melakukan sesuatu yang membuat guru dan siswa selalu menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungan, tidak hanya pada dua kelompok ini, pada manusia lain juga dirasakan hal yang sama, sehingga guru dan siswa menggunakan metode atau cara tertentu, tepat dan sesuai dengan dasar utama terbebas dari faktor yang menghalanginya. Faktor yang mempengaruhi belajar diistilahkan sebagai faktor motivasi, sehingga perlu diperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi belajar siswa tersebut. Berikut adalah hasil penelitian yang telah dilakukan pada siswa MTsN Model Banda Aceh dan pada guru aqidah akhlak terhadap proses belajar mengajar.

 

Tabel 4.17 Kendala-kendala yang dihadapi siswa dalam pembelajaran aqidah akhlak.

No       Alternatif                                                              F                     (%)

1       Kurangnya ketersediaan buku paket                      27                    33,75 %

2       Kurangnya penggunaan media dalam PBM           36                    45      %

3       Kurangnya perhatian pihak sekolah

         terhadap sarana belajar                                           17                    25,25 %

                            Jumlah                                                  80                    100 %

Sumber; Angket siswa

 

            Dari tabel di atas terlihat sebanyak 33,75% responden menjawab kurang ketersediaan buku paket dalam proses belajar mengajar aqidah akhlak, sebanyak 45% responden yang menajwab kurangnya penggunaan media dalam proses belajar mengajar aqidah akhlak dan sebanyak 21,25% yang menjawab kurangnya perhatian pihak kepala sekolah terhadap sarana belajar aqidah akhlak.

            Dari data di atas menunjukkan bahwa kendala yang acap kali melekat pada siswa ada tiga hal, sebagaimana yang tersebut di atas, ketiga faktor tersebut memiliki persentase yang hampir sama tingginya. Meskipun persentase didominasi pada jawaban kurangnya penggunaan media dalam PBM, namun kurangnya ketersediaan buku paket dan kurangnya perhatian pihak sekolah terhdap sarana belajar juga memiliki persentase yang lumayan berbobot.

 

Tabel. 4.18 Hubungan antara gurudan siswa

No       Alternatif                                       F                     (%)

1       Harmonis                                        46                    57,5     %

2       Kurang                                            31                    38,75   %

3       Tidak sama selaki                             3                       3,75   %

          Jumlah                                            80                    100  %

Sumber; Angket siswa

 

            Dari tabel di atas terlihat bahwa sebanyak 57,5% responden yang menjawab harmonis terhadap hubungan guru dengan siswa, sebanyak 38,75% responden yang menjawab kurang dan sebanyak 3,75% yang menjawab tidak sama sekali.

            Data di atas menunjukkan bahwa, diantara sekian banyak siswa belajar aqidah akhlak di MTsN Model tersebut masih banyak juga siswa yang memang mempunyai hubungan kurang harmonis dengan guru. Keadaan dan hubungan seperti ini tidaklah membawa dampak positif pada tujuan pendidikan itu sendiri.

Banyaknya siswa yang kurang hamonis ini hampir mencapai persentase pada hubungan harmonis, yaitu berkisar antara 18,75%. Meskipun jarak ini masih kategori jauh, namun jumlah persentase sebanyak 80% terhadap yang harmonis belumlah cukup dalam tujuan sebuah pendidikan itu sendiri. Bisa dimaklumi bila persentasenya berkisar antara 97-98% terhadap yang menyatakan harmonis, dengan persentase demikian bisa dikategorikan guru aqidah akhlak disenangi oleh siswa aqidah akhlak. Akan tetapi bila persentasenya hanya 80% dari jumlah 100%, ini bisa dikategorikan masih banyaknya siswa yang kurang menyenangi pada guru aqidah akhlak.

 

Tabel 4.19 Upaya siswa dalam menanggulangi hambatan ketika belajar aqidah akhlak.

No       Alternatif                                       F                     (%)

1       Terus berusaha belajar                      48                     60     %

2       Belajar kelompok                              29                    36,25 %

3       Tidak peduli sama sekali                     3                      3,75 %

         Jumlah                                               80                    100    %

Sumber; Angket siswa

 

            Dari tabel di atas sebagaimana terlihat bahwa, sebanyak 60% responden  menjawab terus belajar terhadap upaya dalam menanggulangi hambatan yang dihadapi dalam belajar aqidah akhlak, sebanyak 36,25% responden yang menjawab belajar kelompok dan sebanyak 3,75% responden yang menjawab tidak peduli sama sekali terhadap hambatan-hambatan yang dialami.

            Data di atas menunjukkan bahwa, meski ada hambatan dalam belajar aqidah akhlak yang dirasakan oleh siswa namun mereka mencari jalan keluar terhadap kendala-kendala yang dihadapi. Usaha yang dilakukan oleh siswa tersebut seperti belajar berkelompok dan berupaya untuk terus belajar dalam berbagai kendala yang ada.

            Dalam hal ini sebagai guru aqidah akhlak hendaklah mampu memberi dukungan sepenuhnya terhadap keinginan belajar mereka. Sebagaimana hasil wawancara dengan guru aqidah akhlak, mereka mengakui bahwa kendala memang dirasakan oleh guru tersebut seperti kekurang media misalnya. seperti suasana yang tidak nyaman, belum tersedianya sarana pendukung belajar.

            Usaha-usaha yang dilakukan oleh guru aqidah akhlak yaitu dengan cara memberi tugas kepada siswa, cara ini diakui sedikit membantu dalam mengatasi kendala-kendala yang ada.[9] Untuk mengurangi kendala sebaiknya dikonsultasi dengan pihak kepala sekolah dan guru lainnya, karena ini semua mengingat masih tingginya minat belajar aqidah akhlak pada siswa MTsN Model Banda Aceh.

            Selain itu, penggunaan metode juga harus diperbaiki dan dievaluasi ulang terhadap penerapan metode selama ini, artinya kenyataan telah menyebutkan bahwa umumnya siswa lebih tertarik belajar dalam kelompok atau diskusi dibandingkan belajar menggunakan metode ceramah dan Tanya jawab. Kurangnya menguasai materi aqidah akhlak pada siswa MTsN tersebut juga perlu dipertimbangkan terhadap cara menjelaskan kepada siswa.

 

 

F. Analisis Hipotesis

         Adapun lima hipotesis yang di ajukan pada bab satu di atas, kelima hipotesis tersebut dianalisis, apakah terjawab atau tertolak dari lima hipotesis yang di ajukan tersebut;

            Hipotesis pertama adalah, metode yang digunakan guru MTsN Model agar siswa lebih mudah menguasai materi aqidah akhlak, dalam hal ini terlihat guru menggunakan beragam metode, dimulai dengan metode ceramah sampai kediskusi sebagaimana yang ada pada tabel 4.3. berdasarkan wawancara dan angket hipotesis ini ditolak.

Hipotesis kedua, penggunaan media belajar yang digunakan guru MTsN Model dalam proses belajar mengajar, dalam hal ini terlihat bahwa, penggunaan media belajar oleh guru aqidah akhlak bisa dikategorikan tidak pernah dilakukan oleh guru yang bersangkutan,sebagaiman telah disebutkan pada table 4.6, 4.7 dan  tabel 4.8. Berdasarkan penjelasan di atas maka hipotesis ditolak.

            Hipotesis ketiga, sistem evaluasi yang digunakan guru MTsN Model dalam pelajaran aqidah akhlak, dalam hal ini terlihat telah memadai, evaluasi tersebut ada berupa tes maupun post tes pada pelajaran aqidah akhlak. Sebagaimana dengan hasil wawancara dengan guru dan tabel 4.11 dan 4.12, yang diberikan oleh siswa.

            Hipotesis keempat, kemampuan guru aqidah akhlak dalam merancang RPP, berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan telah tepat, hal ini sebagaimana terlihat pada tabel 4.16. Di mana setiap materi yang yang diajarkan kepada siswa terlihat tuntas. Terhadap jumlah kemampuan siswa yang masih kurang menguasai terhadap materi aqidah akhlak, bukanlah dipengaruhi oleh faktor intelgensi yang ada pada siswa itu sendiri. Berdasarkan hasil penelitian maka hipotesis ditolak.

            Hipotesis kelima, kendala-kendala yang dihadapi guru aqidah akhlak dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh bahwa kendala-kendala yang dihadapi dalam proses belajar mengajar, yaitu ada empat; kurangnya penggunaan media, kurangnya ketersediaan buku paket dan kurang perhatian pihak sekolah terhadap sarana belajar dan penggunaan metode yang kurang tepat. Berdasarkan hasil penelitian, maka hipotesis ini diterima.



[1] Hasil wawancara dengan tiga orang  guru aqidah akhlak di MTsN Model Banda Aceh, pada tanggal 17.Mei 2010.

[2] Hasil wawancara dengan tiga orang guru aqidah akhlak di MTsN Model Banda Aceh, pada tanggal …..Mei 2010.

[3] Hasil angket dan wawancara dengan tiga orang guru aqidah akhlak di MTsN Model Banda Aceh, pada tanggal 17 Mei 2010.

[4] Hasil angket dan wawancara dengan tiga orang guru aqidah akhlak di MTsN Model Banda Aceh, 10 Mei 2010.

[5] Hasil Penelitian yang telah dilakukan terhadap guru aqidah akhlaq di MTsN Model Banda Aceh, sebanyak tiga orang guru, pada tanggal 10 Mei 2010.

[6] Hasil Penelitian yang telah dilakukan terhadap guru aqidah akhlaq di MTsN Model Banda Aceh, sebanyak tiga orang guru, pada tanggal 10 Mei 2010.

[7] Hasil wawancara dengan tiga orang guru aqidah akhlak di MTsN Model Banda Aceh, pada tanggal 17 Mei 2010.

[8] Hasil wawancara dengan tiga orang guru aqidah akhlaq di MTsN Model Banda Aceh, pada tanggal 17 Mei 2010.

[9] Hasil wawancara dengan tiga orang guru aqidah akhlak di MTsN Model Banda Aceh, pada tanggal  17 Mei 2010.


Komentar

Postingan Populer