KEMAMPUAN SISWA MENGUASAI MATERI AQIDAH AKHLAK
KEMAMPUAN SISWA MENGUASAI MATERI AQIDAH AKHLAK
A.
Latar Belakang Masalah
Tulisan ini beranjak dari asumsi
bahwa pendidikan merupakan sebagai salah satu alat untuk membentuk kelangsungan
hidup suatu bangsa, karena maju atau tidaknya suatu bangsa sangat dipengaruhi
oleh tingkat kemajuan pendidikan yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri.
Demikian halnya di Indonesia, pendidikan juga sebagai alat untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa. Hal ini sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional, yaitu:
“Untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan,
keterampilan, mempertinggi budi pekerti, disiplin, memiliki integritas,
bertanggung jawab, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan
agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun bangsa”.[1]
Berdasarkan tujuan Pendidikan Nasional di atas, maka pendidikan merupakan sesuatu
yang terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Karena pendidikan itu diyakini
sebagai proses pembentukan manusia yang memungkinkan tumbuh dan berkembang
dengan segenap potensi dan kemampuannya, membentuk manusia dari tidak
berpengetahuan menjadi manusia yang berpengetahuan dan membentuk manusia
menjadi manusia yang berakhlak.[2]
Selain itu, membina kepribadian seseorang, maka dapat dikembangkan nilai-nilai
budaya serta mampu membawa masyarakat maju dan hidup sejahtera.[3]
Sampai di sini, semakin terlihat bahwa pendidikan itu telah
menjadi suatu kebutuhan dalam meciptakan perubahan dan meningkatkan kapasitas
hidup sebagai manusia yang bermoral.
Pendidikan yang dimaksudkan di sini yaitu pendidikan agama
Islam, di mana mengandung makna suatu upaya pendidikan untuk menanam
nilai-nilai agama yang pertama sekali adalah menanamkan aqidah Islam. Karena
aqidah ini merupakan keyakinan yang tidak mungkin hilang dalam hati dan jiwa
seseorang. Aqidah yang dimaksud di sini yaitu, suatu keyakinan atau kepercayaan
yang melekat pada hati dalam meyakini rukun iman yaitu; Percaya dan yakin bahwa
Allah SWT, benar-benar ada dan Allah melihat dan mengetahui segala tindakan dan
perbuatan manusia bahkan isi hati manusia sekalipun, percaya kepada malaikat,
percaya kepada Rasul sebagai utusan Allah SWT, percaya kepada kitab Allah,
percaya bahwa hari pembalasan atau hari
kiamat itu benar-benar dan pasti ada, terakhir percaya kepada qadha dan qadar, artinya untung baik da untuk jahat itu datangnya dari Allah
SWT.
Untuk memahami hakikat yang sebenar-nya tentunya tidak hanya sampai di
sini, dari itu perlu pendidikan agama yang lebih dalam agar mampu mengetahui
dengan sebenar-benarnya tentang hakikat rukun iman ini agar tidak dipandang
keliru dalam memaknainya. Pendidikan agama yang lebih dalam dan komprehensif
yang mampu memberi pemahaman tentang keyakinan ini. Karena bagaimanapun,
pendidikan agama merupakan usaha sadar untuk memberi pengetahuan dan
nilai-nilai ajaran agama yang diberikan oleh guru kepada siswa dengan baik dan
benar secara komprehensif tanpa putus-putus terhadap suatu yang sedang dikaji
dan dibahas.
Dalam Islam, manusia dituntut untuk membekali dirinya dengan ilmu
pengetahuan agama, agar kehidupannya selalu dilandasi dengan nilai-nilai dan
spirit Islam sehingga menjadi orang yang berguna dan bahagia dunia dan akhirat
kelak. Dengan pendidikan agama ini manusia akan memahami antara haq dan yang
bathil, antara baik dan buruk, antara halal dan haram, antara perintah dan
larangan serta antara kebenaran dan kekufuran. Hal ini sebagaimana firman Allah
SWT, dalam Al-Qur’an Surah Al-Anfal ayat 22, disebutkan bahwa; Sesungguhnya
binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang
yang pekak dan tuli[4] yang tidak mengerti apa-apapun.
Tujuan pertama Nabi Muhammad SAW, diutus ke permukaan bumi oleh Allah SWT,
adalah untuk memperbaiki akhlak manusia dan untuk menimba tatanan kehidupan
manusia yang telah sempurna, sebagaimana Rasulullah SAW, bersabda:
عن ابي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول
الله صل الله عليه
وسلم إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق…(رواه
بيهقى)
Artinya :
Dari Abu Hurairah ra, berkat:
Bersabda Rasulullah Saw; “Sesungguhnya aku di utus kepermukaan bumi untuk
menyempurnakan aklhak mulia”.[5]
Oemar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibani, mengatakan; Pendidikan Islam adalah
usaha mengubah tingkah laku seseorang dilandasi oleh nilai-nilai Islam dalam
kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya serta kehidupan dalam
alam sekitar melalui proses pendidikan.[6]
Sesuai dengan pendapat Oemar tersebut, maka sangatlah tepat bahwa tujuan
pendidikan dalam Islam itu yaitu, untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia,
mampu memahami nilai-nilai yang terkadung dalam Islam dan untuk persiapan
kehidupan dunia dan akhirat sehingga selalu bertaqwa kapada Allah dan
mencipatakan generasi-generasi yang mandiri.
Dari hadits di atas Nabi Muhammad
merupakan contoh bagi umat manusia dalam mengarungi hidup ini, dengan adanya
akhlak yang baik akan menentukan kehidupan dunia dan akhirat. Aqidah merupakan
fondasi yang harus diyakini oleh umat Islam sejak lahir, dengan adanya
keyakinan yang ditanamkan oleh orang tua kapada anak maka dia akan melahirkan
akhlak yang baik pula baik itu dalam keluarga, sekolah dan masyarakat, tetapi
apabila sejak kecil tidak ditanamkan aqidah yang benar maka anak akan berakhlak
buruk.
Di dalam Al-Qur’an Surah
Al-Baqarah ayat 177, juga disebutkan lagi bahwa; Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya
kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang
memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan)
hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang
menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang
benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.[7]
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa disadari atau tidak,
pendidikan agama merupakan salah satu yang wajib dipahami oleh setiap individu
muslim itu, karena selain merupakan ajaran agama yang dianut, di dalamnya juga
terdapat nilai-nilai kemusiaan antara hubungan manusia dengan Allah SWT,
hubungan sesamanya dan juga hubungan manusia dengan lingkungannya, sehingga
dalam mewujudkan hubungan ketiga-tigannya ini di sinilah letaknya aqidah dan akhlak
yang baik dan benar pada diri manusia sebagai makhluk yang berakal.
Di sekolah Madrasah Tsanawiyah terdapat salah satu mata pelajaran Aqidah
akhlak yang memegang peranan penting bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Di
mana mata pelajaran ini siswa dituntun dan dibina agar dapat membentuk akhlak
atau moral dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan tuntunan Islam dan
mampu mengabdikan amal perbuatannya untuk mencari rahmat dan keridhaan Allah
SWT.
Dalam kegiatan pembelajaran
disekolah, berhasil atau tidaknya tujuan pendidikan yang ingin dicapai sangat
tergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar berlangsung. Karena pelaksanaan
pengajaran merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap usaha-usaha
dalam mencapai tujuan pendidikan.
Di samping itu dalam pengajaran
di sekolah ada beberapa faktor yang ikut berperan dalam menentukan tercapainya
tujuan pendidikan, antara lain seperti guru, dalam hal ini dituntut agar mampu
menguasai bahan ajar yang akan diberikan kepada siswa, metode, kurikulum, serta
sarana yang terdapat disekolah, siswa
juga dituntut mampu memahami terhadap pelajaran yang diberikan oleh guru,
selanjutnya mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. dan situasi
(lingkungan belajar) juga memungkinkan siswa mampu mencerna setiap bahan ajar
yang dipelajari di dalam ruangan kelas. Bila semua terpenuhi secara baik,
paling tidak mampu mendukung tercapainya tujuan pendidikan, setiap guru mampu
mengikuti perubahan kurikulum yang telah diperbaharui oleh lembaga pendidikan
di negeri ini. Selain itu, tercapainya tujuan pendidikan juga dipengaruhi oleh
faktor keluarga dan masyarakat.
Karena itu, belajar bertujuan
membina rentetan pengalaman yang dapat menjadi sumbu pengetahuan dan
keterampilan siswa; pengalaman tidak selalu dapat dilalui secara riil, sehingga
di sinilah perlunya situasi buatan. Keduanya saling melengkapi dan dipertinggi
efektivitasnya dengan berbagai cara, tanpa demikian seperti sulit dicapai.[8]
Guru memegang peranan penting dan
dituntut harus benar-benar mendidik sehingga siswa mampu memahami dan mengerti
tentang materi yang diajarkan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Sulaiman,
bahwa; “Guru merupakan salah satu faktor yang memungkinkan proses itu
berlangsung yaitu proses siswa berinteraksi dengan siswa lain”.[9]
Dalam mengajar aqidah akhlak guru
juga harus memperhatikan tingkat kemampuan siswa, agar bahan dan cara belajar
siswa sesuai dengan kondisi siswa. Keluasaan dan kedalaman bahan ajar perlu
disesuaikan dengan kamampuan dan perkembangan siswa, sehingga memudahkan siswa
dalam memahami materi aqidah akhlak sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan. Inilah
yang disebut sebagai belajar yang efektif dan efesien dalam sebuah sekolah
terhadap mata pelajaran aqidah akhlak. Masalah ini dapat dipahami oleh setiap
guru sebagai pengajar mata pelajaran aqidah akhlak.
Ada sebagian siswa yang kurang
menanggapi tentang materi yang dipelajari, hal ini jelas terlihat pada hasil evaluasi
yang diperoleh oleh siswa dalam belajarnya. Di sisi lain, masalah yang terjadi
pada siswa, yaitu, rendahnya tingkat kemampuan siswa dalam memahami materi pelajarannya
atau sering disebut bahan ajar, sehinggga menurunkan prestasi belajarnya. Tidak
hanya itu, keadaan yang nyaris tidak terkontrol yang dilakukan oleh siswa,
membuat kita prihatin melihatnya, hal yang sudah dianggap biasa terhadap
perkataan-perkataan mereka yang tidak sopan ketika berbicara, baik dengan teman
seusianya dan teman sekelasnya maupun dengan orang dewasa. Di samping perkataan
yang diucapkan tidak baik, perilaku atau cara berteman yang dilakoni sebagian
mereka dengan temannya nyaris tidak pupus dari nilai aqidah dan akhlak itu
sendiri. Cara berpakaian seragam siswa di sekolah banyak di antara mereka yang
tidak mengikuti aturan yang ditetapkan. Prilaku saling mengganggu ketenangan
belajar teman di dalam kelas. Akibat dari prilaku yang telah diluar batas ini
perkelahian antar kelompok pun sering terjadi. Tidak sedikit di antara mereka
yang berprilaku menyimpang, baik antara sesamanya maupun terhadap guru yang
mendidiknya, etika baik atau moral yang baik, nyaris pupus sebagaimana yang
diharapkan dalam pendidikan aqidah akhlaq itu sendiri.
Dalam hal ini tentunya menuntut
keterbukaan semua pihak di sekolah untuk mencari solusi terhadap permasalahan
yang sedang terjadi, agar cita-cita yang diharapkan dalam dunia pendidikan
tercapai sebagaimana mestinya. Guru sebagai pendidik dituntut lebih pro aktif
dalam membina dan membimbing siswanya agar mampu memahami tatanan kehidupan
yang baik dan mengandung nilai-nilai aqidah akhlak.
Seyogyanya materi aqidah akhlak ini
mampu memberikan pengetahuan pada siswa untuk selalu berprilaku sesuai
nilai-nilai dan spirit Islam, mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah
SWT, menguasainya secara menyeluruh sebagaimana yang dipelajari, karena
berpijak salah satu tujuan pendidikan itu adalah mewujudkan manusia dari yang
tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak berakhlaq menjadi manusia yang berakhlaq
dan beradab. Siswa diharapkan benar-benar mampu menguasai materi aqidah akhlak,
apabila siswa tersebut benar-benar memahami materi yang diajarkan dan bisa
menyelesaikan evaluasi yang berkaitan dengan materi aqidah akhlak, selain itu
mampu melaksanakan apa yang dianjurkan dalam nilai aqidah dan akhlak yang telah
dipelajari. Mengerti antara haq dan bathil, baik dan buruk, dan lain-lainnya.
Berdasarkan latar belakang di atas
maka masalah yang ingin diteliti adalah bagaimana kemampuan siswa dalam
menguasai materi aqidah akhlak.
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, maka kita
mengetahui masalah yang akan kita teliti dengan menggunakan pertanyaan sebagai
berikut:
1.
Metode apa
yang digunakan guru MTsN Model agar siswa lebih mudah menguasai materi aqidah
akhlak?
2.
Bagaimana
penggunaan media belajar yang digunakan guru MTsN Model?
3.
Bagaimana
sistem evaluasi yang digunakan guru MTsN Model dalam pelajaran aqidah akhlak?
4.
Bagaimana
kemampuan aqidah akhlaq merancang RPP?
5.
Kendala-kendala
apa saja yang dihadapi guru aqidah akhlak dalam proses belajar mengajar?
Sehubungan dengan masalah
tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Kemampuan
Siswa Menguasai Materi Aqidah Akhlak di MTsN Model”. Melalui penelitian ini
diharapkan akan dapat ditemukan jawaban-jawaban terhadap berbagai masalah yang
terjadi.
C.
Penjelasan Istilah
Istilah sering membuat orang
salah tafsir dan salah faham dalam penafsirannya, maka untuk menghilangkan
kesalah pahaman dan keraguan pembaca, maka penulis mencoba menjelaskan
istilah-istilah yang ada dalam judul “skripsi ini yaitu:
1.
Kemampuan
siswa
Menurut W.J.S. Poerwadarminta[10]
“Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan kita berusaha dengan diri sendiri“.
Kemampuan juga bermakna sebagai
sesuatu keadaan mampu untuk melakukan sesuatu berdasarkan pendidikan,
pengetahuan, pengalaman dan pelatihan dalam upaya meningkatkan mutu sesuatu”.[11]
Siswa adalah pelajar pada suatu
sekolah Madrasah yang sedang menuntut ilmu pengetahuan.[12]
Siswa yang penulis maksud di sini adalah siswa Madrasah yang mempunyai kendala
dalam mempelajari aqidah akhlak. Jadi kemampuan siswa adalah kesanggupan,
kecakapan siswa dalam menguasai materi Aqidah akhlak. Kemampuan siswa adalah
kesanggupan siswa dalam menguasai materi-materi pelajaran yang ada di
pelajarinya dengan usha sendiri.
2.
Materi
Materi adalah sesuatu yang
menjadi bahan untuk difikirkan, dibicarakan dan sebagainya.[13]
Adapun materi yang dimaksud
disini adalah bahan yang dipelajari siswa pada pelajaran aqidah akhlak.
3. Aqidah Akhlak
Aqidah akhlak adalah gabungan
dari dua kata yaitu aqidah dan akhlak.
Aqidah secara etimologis berarti ikatan atau sangkutan. Secara terminologi
berarti keyakinan hidup. Sedangkan akhlak berarti budi pekerti, perangai,
tabi’at atau tingkah laku. Jadi akhlak adalah suatu yang emnentukan bata antara
baik dan buruk, terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia
lahir dan batin.[14]
Sedangkan menurut GBPP mata
pelajaran aqidah akhlak adalah sub mata pelajaran yang membahas ajaran agama
Islam dalam segi aqidah dan akhlak yang merupakan bagian dari mata pelajaran
pendidikan agama Islam yang memberikan bimbingan kepada siswa agar memahami,
menghayati, meyakini kebenaran ajaran Islam, serta bersedia mengamalkannya
dalam kehidupan sehari-hari.[15]
Adapun aqidah akhlak yang penulis
maksud dalam pembahasan tulisan ini adalah sebuah mata pelajaran kelompok
pendidikan agama yang menjadi ciri khas Islam
di Madrasah Tsanawiyah yang didalamnya memuat ajaran Islam yang bertujuan untuk
membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
D.
Tujuan Penelitian
Suatu penelitian ilmiah memiliki
tujuan-tujuan tertentu karena itu merupakan hal yang sangat penting untuk dapat
melihat arah dan pembahasan sehingga apa yang akan dibahas mudah untuk
dipahami.
Adapun yang menjadi tujuan
penelitian ini adalah sebagai pengembangan ilmu pengetahuan yang diharapkan
dapat bermanfaat bagi khalayak ramai sebagai tujuan khusus penelitian ini
adalah:
1.
Untuk
mengetahui metode apa yang diterapkan guru MTsN Model agar siswa lebih mudah
menguasai materi aqidah akhlak?
2.
Untuk
mengetahui bagaimana penggunaan media belajar di MTsN Model?
3.
Untuk
mengetahui sistem evaluasi yang digunakan guru MTsN Model dalam pelajaran
aqidah akhlak?
4.
Untuk
mengetahui kemampuan guru aqidah akhlaq dalam merancang RPP?
5.
Untuk
mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi guru aqidah akhlaq dalam
proses belajar mengajar?
E.
Postulat dan Hipotesis
Postulat sering disebut dengan
anggapan dasar yang menjadi tumpuan segala pandangan dan kegiatan terhadap
masalah yang dihadapinya.[16]
Menurut Winarno Surachman Postulat adalah segala pandangan yang menjadi tindak
pangkal yaitu untuk titik di dimana tidak ada lagi keragu – raguan bagi para
penyelidik.[17]
Adapun yang menjadi anggapan
dasar (postulat) dalam skripsi ini adalah:
- Metode yang diterapkan guru
sangat berpengaruh dalam meningkatkan keberhasilan siswa.
- Penggunaan media belajar
merupakan salah satu sarana yang efektif dalam proses belajar mengajar.
- Sistem evaluasi mampu
mendeteksi atau mengetahui sejauh mana siswa telah memahami materi aqidah
akhlak.
- Rancangan Proses
Pembelajaran (RPP) yang tepat, akan tercapai pula tujuan yang diinginkan.
- Kendala-kendala yang
dihadapi merupakan salah satu faktor penghambat tercapainya tujuan yang
diharapkan.
Hipotesis adalah dugaan sementara
terhadap masalah penelitian yang sebenarnya harus diuji secara emperis atau
merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap
paling munkin dan paling tinggi kebenarannya.[18]
Adapun yang menjadi hipotesis
dalam penelitian ini adalah:
1.
Metode yang
digunakan dalam pelajaran aqidah akhlak belum tepat karena lebih di titik
beratkan pada metode ceramah.
2.
Penggunaan
media belajar belum efektif difungsikan dalam proses belajar mengajar.
3.
Sistem evaluasi terhadap materi aqidah akhlak
belum tepat digunakan.
4.
Kemampuan guru aqidah akhlaq dalam merancang
RPP belum tepat.
5.
Banyaknya kendala-kendala dalam proses belajar mengajar aqidah
akhlaq.
[1] Imansjah Alipande, Didaktik Metodik pendidikan Umum, (Surabaya: Usaha Nasional, 1984), hal. 11.
[2] Yusuf A. Muri, Mengajar Dengan Sukses, (Jakarat: Gunung, 1982), hal. 49.
[3] Arifin, Cara Membina Kehidupan Anak Anda, (Bandung: Indah Jaya, 1982), hal. 108
[4] Maksudnya:
manusia yang paling buruk di sisi Allah ialah yang tidak mau mendengar,
menuturkan dan memahami kebenaran.
[5] Imam Baihaqi, Sukma Kubra, JUZ 10, (Bairut: Darul Fikri), hal. 192.
[6] Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal, 9.
[7] Dalam
suatu riwayat dikemukakan bahwa Qatadah menerangkan tentang kaum Yahudi yang
menganggap bahwa yang baik itu shalat menghadap ke barat, sedang kaum Nashara
mengarah ke timur, sehingga turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 177). (Diriwayatkan
oleh Abdur-razzaq dari Ma'mar, yang bersumber dari Qatadah. Diriwayatkan pula
oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil 'Aliyah.)
Dalam
riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 177) sehubungan dengan
pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah SAW tentang
"al-Bir" (kebaikan). Setelah turun ayat tersebut di atas (S. 2. 177)
Rasulullah SAW memanggil kembali orang itu, dan dibacakannya ayat tersebut
kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi sebelum diwajibkan shalat fardhu. Pada
waktu itu apabila seseorang telah mengucapkan "Asyhadu alla ilaha illalah,
wa asyhadu anna Muhammadan 'Abduhu wa rasuluh", kemudian meninggal di saat
ia tetap iman, harapan besar ia mendapat kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi
menganggap yang baik itu ialah apabila shalat mengarah ke barat, sedang kaum
Nashara mengarah ke timur.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Qatadah.)
[8] Burhanuddin, Cara Belajar di Perguruan Tinggi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal.
7.
[9] Sulaiman A. Darwis, Pengajaran kepada teori dan praktekPengajaran, (Semarang: IKIP, 1997), hal, 109.
[10] W.J.S Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), hal. 694.
[11] Depdikbud, Kurikulum Sekolah Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 1990), hal. 49
[12] Muhammad Ali, Kamus Besar Bahasa Indonesia Modern, (Jakarta: Pustaka Amini), hal. 452.
[13] Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hal. 566.
[14] Barmawi Umary. Materi Akhlak, (Jakarta: Gramedia, 1997), hal. 1.
[15] Departemen Agama RI, GBPP Aqidah Akhlak MTsN, Jakarta: hal .2.
[16] W.J.S Poewardarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia
(Jakarta: Balai Pustaka, 1976)
[17] Winarno Suracman, Pengantar Penelitian Ilmiah (Bandung: Tarsito, 1982), hal. 82.
[18] Sumardi Surya Brata, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta: Rajawali Press, 1999), hal. 75.


Komentar
Posting Komentar
Komentar