Teori Pembelajaran Aqidah Akhlaq
TEORI TENTANG PEMBELAJARANAQIDAH AKHLAK
A.
Pengertian dan Tujuan Pendidikan
Aqidah Akhlak
Berbicara masalah aqidah akhlak, tentu pikiran tertuju pada yang
namanya keyakinan dan tingkah laku seseorang atau pola hidup sebagai makhluk ciptaan
Tuhan yang berakal. Sebagaimana firman Allah SWT, dalam Al-Qur’an Surah
Al-Maidah ayat 93, yaitu:

Artinya:
“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan
berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya
kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (Q.S.
Al-Maidah: 92)
Ayat ini merupakan seruan kepada
setiap manusia untuk mempercayai dan mentaati segala yang diperintah Allah SWT
tidak menyekutukannya. ayat ini menegaskan tentang aqidah, yaitu sebuah
keyakinan yang wajib ditumbuhkan dalam hati dan jiwa seseorang, yang meyakini
bahwa itu ada.
Dalam kamus Al-Munawar, kata “aqidah” berasal dari bahasa arab,
yaitu ‘aqida jamaknya ‘aqidah. Dalam bahasa Indonesia bermakna
“keyakinan”. Menurut loghat, aqidah adalah kepercayaan oleh hati dan dianut
oleh manusia serta dipercayai.[1]
Menurut batasan Hasbi Ash-Shidiqy dalam bukunya Sejarah pengantar
ilmu tauhid, aqidah mengandung makna sesuatu
yang dipegang teguh dan kuat di lubuk hati (jiwa) dan tidak dapat beralih
daripadanya.[2]
Dapat pula dimaknai, aqidah suatu kekuatan hati yang meyakini tentang ke Esaan
Allah, dan tidak ada yang sekutu bagi-Nya, sesungguhnya Allah Maha segala-galanya.
Hamka, mengemukakan pengertian aqidah yaitu: “bahwa kita mengikat
hati sendiri dengan sesuatu kepercayaan dan tidak hendak kita tukar dengan yang
lain, jiwa raga kita, pandangan hidup telah terikat oleh aqidah kita, tidak
dapat dibebaskan lagi dan aqidah itulah yang menentukan kehidupan ini.[3]
Bertitik tolak dengan beberapa pengertian yang telah disebutkan maka, aqidah
Islam itu adalah aqidah tauhid, yaitu fitrah manusia yang diciptakan oleh Allah
bahwa manusia ini cenderung beragama Islam.
Akhlak, secara etimologi berasal dari kata “khalaqa” akar katanya khuluqun,
artinya perangai, adat, tabi’at atau perilaku yang dibuat.[4]
Sedangkan menurut istilah, yang dimaksud dengan akhlak yaitu sifat yang
tertanam dalam jiwa yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan baik dan
buruk tanpa melakukan pemikiran dan pertimbangan. Sedangkan menurut Ali Hasan, mengemukakan
bahwa, perkataan akhlak berasal dari bahasa arab yang berarti budi pekerti,
tingkah laku , perangai dan adat kebiasaan”.[5]
Menurut pendapat kaum salaf, akhlak, merupakan suatu hakikat atau
bentuk dari sesuatu jiwa yang benar-benar telah meresap dan dari situlah
timbulnya berbagai perbuatan dengan cara spontan dan mudah, tanpa dibuat-buat
dan membutuhkan pemikiran atau angan-angan.[6] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak
diidentikkan dengan moral, artinya bila berprilaku baik, maka disebut sebagai
bermoral atau kebiasaan berbuat baik, kebiasaan berbuat baik ini diartikan juga
sebagai akhlaq yang baik atau hasil perbuatan yang baik.[7]
Setelah mengetahui beberapa pengertian tentang “aqidah” dan “akhlak”,
sebagaimana tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa aqidah akhlak yaitu kekuatan
atau serangkaian keyakinan terhadap ajaran-ajaran agama dan pengamalannya
secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari dengan bimbingan akhlak yang mulia,
baik dalam hubungan dengan Allah, sesama manusia dan dengan makluk lainnya
Aqidah akhlak termasuk salah satu mata pelajaran yang diajarkan di
sekolah dasar, lanjutan, menengah dan perguruan tinggi, dengan harapan menjadi
media dalam mewujudkan para pelajar menjadi manusia yang mampu mengaplikasikan
nilai-nilai moral yang sempurna sesuai dengan ajaran Islam dalam kehidupan.
Mata pelajaran aqidah akhlak tidak diterapkan begitu saja dan
tidak dijadikan sebagai pelengkap kurikulum semata, namun lebih dari itu, pengetahuan
aqidah akhlak ini didesain sedemikian rupa terhadap materi dengan tujuan agar
siswa mampu membentuk pribadi yang berakhlak mulia. Tujuannya yaitu, sesuatu
yang ingin dicapai setelah usaha atau kegiatan proses belajar menagajar selesai
yang dirumuskan dari bahan pelajaran pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang
diajarkan guru.[8]
Melihat dari tujuan tersebut,
maka akan terlihat dengan jelas suatu yang diharapkan, karena pendidikan Islam
mempunyai peranan penting di dalam berbagai bentuk kehidupan manusia, aqidah akhlak
di sini mempunyai tujuan:
1.
Pembentukan aqidah
yang benar dan ibadah serta pelaksanaannya
Pendidikan Islam
dengan berbagai konsep dan institusinya harus mengarah pada pembentukan aqidah
yang benar terutama dalam keluarga, mesjid, sekolah/madrasah, maupun komunitas
masyarakat lainnya. Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya: “Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dan juga agar mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”. (Q.S.
Al-Bayyinah: 5)
Ayat di
atas menuntut kepada manusia untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan,
menjauhi segala larangannya, agar memperoleh derajat sebagai mukmin yang sejati.
Sesungguhnya Allah SWT meridhai agama Islam. Di sinilah perlu pembentukan
aqidah yang baik di dalam jiwa sehingga hidup ini selalu dilandasi nilai-nilai
syariat dan mempunyai akhlak yang sempurna dalam kehidupan sehari-hari.
2.
Membentuk
manusia sosial
Manusia sosial adalah manusia yang
dapat mengimbangi sikap dan peranannya dan berkomitmen terhadap sesama manusia
lain, karena hakikatnya hidup selalu tidak terlepas dari hubungan dengan pihak
lain lain (interaksi).[9]
Sebagaimana diketahui, makhluk sosial merupakan makhluk yang mempunyai
ketergantugan dengan individu lain, selama ia hidup tidak akan lepas dari
pengaruh masyarakat, selain itu pada manusia ada dorongan untuk berhubungan.
Dalam hal ini, manusia dituntut selalu memperhatikan keadaan orang lain, saling
membantu, menasehati dalam segala kekurangan yang dimiliki.
3.
Membentuk manusia
yang menyeru kepada Allah SWT
Karena pada dasarnya, setiap manusia muslim dan muslimah harus
selalu berada dalam menyeru untuk beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana yang
telah tercantum dalam firman-Nya:
![]()
Artinya: “Dan
Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepada-Ku”.
(Q.S. Adz-Dzariyat: 56)
Pendidikan aqidah
akhlak memegang peranan penting dalam rangka penanaman nilai iman dan taqwa
kepada Allah SWT, dan mengamalkannya dalam kehidupan.
Untuk lebih jelas, berikut adalah tujuan khusus dari pendidikan
aqidah akhlak di Madrasah
Tsanawiyah, yaitu:
Pelajaran Aqidah Akhlak bertujuan untuk menanamkan keimanan kepada
peserta didik yang diwujudkan dalam akhlaknya yang terpuji, melalui pemberian
dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan peserta didik tentang Aqidah
dan Akhlak, sehingga menjadi manusia yang baik dalam kehidupan pribadi,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[10]
Tujuan ini meliputi seluruh aspek kemanusiaan seperti sikap,
tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan yang harus dapat tergambar
pada pribadi seseorang yang sudah di didik walaupun dalam ukuran kecil dan mutu
yang rendah.[11]
Cara yang lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan ialah
pengajaran, karena itu pengajaran sering diidentifikasikan dengan pendidikan
meskipun istilah ini sebenarnya tidak sama. Pengajaran ialah proses membuat
jadi terpelajar (tahu, mengerti, menguasai, ahli, tetapi belum tentu menghayati
dan meyakini).[12]
Sedangkan pendidikan ialah membuat orang jadi terdidik (berkepribadian menjadi
adat kebiasaan).[13]
Sangatlah sesuai bahkan pantas bila pengajaran aqidah akhlaq seyoqyanya mencapai tujuan dari
sebuah pendidikan yang
diinginkan.
Pada prinsipnya pendidikan akhlak adalah mendidik manusia menjadi
yang paling mulia. Dengan adanya
akhlak menjadikan manusia bertingkah laku yang
baik, dan
membedakan antara yang hak dan bathil. Agar manusia selalu berada di jalan yang telah digariskan oleh
Allah SWT, dan
mendapatkan kebahagiaan
dunia dan akhirat.[14]
Di sini
perlu pananaman akhlak pada siswa agar siswa mengetahui antara yang baik dan
buruk sehingga tercemin dalam kehidupannya. Dengan adanya akhlak akan
melahirkan generasi yang baik.
Setelah
membahas seputar tujuan pendidikan aqidah akhlak, ditinjau dari fungsi, dapat
dikatakan fungsi bidang
studi aqidah
akhlak di Madrasah, yaitu sebagai berikut, yaitu:
1.
Penanaman
nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat;
2.
Mengembangkan
keimanan dan takwa kepada Allah SWT serta akhlak mulia yang telah ditanamkan
lebih dahulu dalam lingkungan keluarga;
3.
Mencegah peserta didik dari hal-hal yang negatif dari lingkungannya
atau dari budaya asing yang akan dihadapinya sehari-hari;[15]
Dengan landasan Al Qur’an dan Sunnah siswa mampu menjaga kemurnian
aqidah Islamiyah; memiliki keimanan yang kokoh yang dilandasi dengan
dalil-dalil naqli (Al Qur’an dan Hadist), dalil aqli, serta menjadi komitmen
baik untuk keluarga, masyarakat maupun bangsanya, dengan tetap menjaga
terciptanya kerukunan hidup beragama yang dinamis.
Pelajaran aqidah akhlak sebagaimana terungkap dalam kurikulum
sekolah tingkat menengah pertama adalah memberikan kemampuan kepada siswa
tentang aqidah Islam dan mengembangkan kehidupan beragama sehingga menjadi
muslim yang beriman kepada Allah SWT,dan berakhlak mulia,. Kemampuan-kemampuan
dasar ini yang dipersiapkan untuk mengikuti pendidikan tingkat atas dan tingkat
perguruan tinggi.[16]
Sebab,
aqidah yang benar itu harus berupa keyakinan yang kuat, maka sumber-sumbernya
harus diyakini kebenarannya. Berdasarkan hal itu, maka semua urusan dari
berbagai masalah aqidah Islam yang wajib diimani oleh seseorang hamba adalah
bersifat ghaib. Seperti iman kepada Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya
dan hari Akhir, taqdir dan siksa kubur serta yang ghaib lainnya.
B.
Materi-materi Aqidah Akhlak
Ada tiga prinsip besar dalam
Islam; diketahui, dipahami dan diamalkan, sebagai bekal untuk menyelamatkan
manusia di dunia dan akhirat. Artinya, mengetahui segala sesuatu pekerjaan itu
adalah wajib, maka pahamilah bagaimana cara mengerjakan setelah mengetahui
bagaimana mengerjakan, maka amalkanlah segala yang diperintahkan oleh Allah SWT,
baik kecil maupun besar.
Sebagaimana
Firman Allah SWT;
!$tBur… ãNä39s?#uä ãAqß§9$# çnräãsù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù …4 ÇÐÈ
Artinya: “…Apa yang
diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka
tinggalkanlah…”. (Q.S.
Al-Hasyr: 7)
Materi yang
dimaksud adalah
kerangka atau bahan pelajaran yang disampaikan kepada siswa.[17]
Sedangkan menurut Ibrahim, materi
pelajaran adalah suatu yang disajikan guru untuk diolah dan kemudian dipahami
oleh siswa, dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan intruksional yang telah
ditetapkan.[18]
Materi bidang studi aqidah akhlak merupakan salah satu materi yang
diperlukan dalam upaya mengarahkan siswa ke jalan yang benar dan membentuk budi
pekerti yang mulia sehingga nantinya mereka mampu menyesuaikan diri dimanapun
mereka berada.[19]
Adapun standar kompetensi
dan standar kompetensi dasar aqidah akhlaq yang digunakan saat ini di MTsN
Model Banda Aceh adalah
sebagaimana tersebut di bawah, yaitu:[20]
STANDAR
KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR
AQIDAH
AKHLAK KELAS VII SEMESTER I
|
No |
Standar Kompetensi |
Kompetensi Dasar |
|
|
1. 2 . 3 |
Memahami
dasar dan tujuan akidah islam Meningkatkan
keimanan epada Allah melalui pemahaman sifat-sifat-Nya Menerapkan
akhlak terpuji kepada Allah SWT |
1.1 1.2 1.3 1.4 2.1 2.2 2.3 2.4 3.1 3.2 3.3 3.4 |
Menjelaskan dasar dan tujuan akidah Islam Menunjukkan dalil tentang dasar dan tujuan akidah Islam Menunjukkan hubungan Iman, Islam, dan Ihsan Menunjukkan dalil tentang Iman, Islam dan Ihsan Mengidentifikasikan sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiyah. Menunjukkan bukti/dalil naqli
dan aqli dari sifat-sifat wajib
Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani, dan
ma’nawiyah. Menguraikan sifat-sifat mustahil
dan jaiz bagi Allah SWT Menunjukkan ciri-ciri/tanda perilaku orang beriman kepada sifat-sifat
wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari Menjelaskan pengertian dan pentingnya ikhlas, taat, khauf dan taubat Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku ikhlas, taat, khauf,
dan taubat. Menunjukkan nilai-nilai positif dari perilaku ikhlas, taat, khauf, dan
taubat dalam fenomena kehidupan. Membiasakan perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat dalam kehidupan
sehari-hari |
KELAS VII SEMESTER II
|
No |
Standar Kompetensi |
Kompetensi Dasar |
|
|
1. 2 3 |
Memahami al-asma’ al-husna Meningkatkan keimanan kepada malaikat-malaikat Allah
SWT dan makhluk gaib selain malaikat Menghindari akhlak tercela kepada Allah |
1.1 1.2 1.3 1.4 2.1 2.2 2.3 2.4 3.1 3.2 3.3 3.4 |
Menguraikan 10 al-asma’ al-husna
(al-Aziiz, al-Ghaffar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Baar,
al-Ghaffaar, al-Fattah, al-’Adl, al-Qayyum) Menunjukkan bukti kebenaran tanda-tanda kebesaran Allah melalui pemahaman
terhadap 10 al-asma’ al-husna
(al-Aziiz, al-Ghaffar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Baar,
al-Ghaffaar, al-Fattah, al-’Adl, al-Qayyum) Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan 10 al-asma’ al-husna (al-Aziiz, al-Ghaffar, al-Baasith, an-Naafi’,
ar-Ra’uuf, al-Baar, al-Ghaffaar, al-Fattah, al-’Adl, al-Qayyum) Meneladani sifat-sifat Allah yang terkandung dalam 10 al-asma’ al-husna (al-Aziiz, al-Ghaffar,
al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Baar, al-Ghaffaar, al-Fattah, al-’Adl,
al-Qayyum)dalam kehidupan sehari-hari Menjelaskan pengertian iman kepada malaikat Allah SWT dan makhluk gaib
lainnya seperti jin, iblis, dan setan Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya malaikat Allah dan makhluk gaib
lainnya seperti jin, iblis, dan setan Menjelaskan tugas, dan sifat-sifat malaikat Allah serta makhluk gaib
lainnya seperti jin, iblis, dan setan Menerapkan perilaku beriman kepada malaikat Allah dan makhluk gaib
lainnya seperti jin, iblis, dan setan dalam fenomena kehidupan Menjelaskan pengertian riya’
dan nifaaq Mengidentifikasi bentuk dan
contoh-contoh perbuatan riya’ dan nifaaq Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan riya’ dan nifaaq dalam fenomena kehidupan Membiasakan diri untuk menghindari perbuatan riya’ dan nifaaq dalam kehidupan sehari-hari |
KELAS VIII SEMESTER I
|
No |
Standar Kompetensi |
Kompetensi Dasar |
|
|
1. 2 3 |
Meningkatkan keimanan kepada kitab-kitab Allah SWT. Menerapkan akhlak terpuji kepada diri sendiri Menghindari akhlak tercela kepada diri sendiri |
1.1 1.2 1.3 1.4 2.1 2.2 2.3 2.4 3.1 3.2 3.3 3.4 |
Menjelaskan pengertian beriman kepada kitab-kitab Allah SWT. Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya kitab-kitab Allah SWT Menjelaskan macam-macam, fungsi, dan isi kitab Allah SWT Menampilkan perilaku yang mencerminkan beriman kepada kitab Allah SWT Menjelaskan pengertian dan pentingnya
tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah Mengidentifikasikan bentuk dan contoh-contoh perilaku tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan
qana’ah Menunjukkan nilai-nilai positif dari tawakkal,
ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah dalam fenomena kehidupan Menampilkan perilaku tawakkal,
ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah Menjelaskan pengertian ananiah, putus
asa, ghadab, tamak dan takabur Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perbuatan ananiah, putus asa, ghadab,
tamak dan takabur Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan ananiah,
putus asa, ghadab, tamak dan
takabur Membiasakan diri menghindari perilaku
ananiah, putus asa, ghadab, tamak
dan takabur |
KELAS VIII SEMESTER II
|
No |
Standar Kompetensi |
Kompetensi Dasar |
|
|
1 2 3 4 |
Meningkatkan
keimanan kepada Rasul Allah Memahami mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash) Menerapkan akhlak terpuji kepada sesama Menghindari akhlak tercela kepada sesama |
1.1 1.2 1.3 1.4 2.1 2.2 3.1 3.2 3.3 3.4 4.1 4.2 4.3 4.4 |
Menjelaskan pengertian dan pentingnya beriman kepada Rasul Allah SWT Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya Rasul Allah SWT Menguraikan sifat-sifat Rasul Allah SWT Menampilkan perilaku yang mencerminkan beriman kepada Rasul dan
mencintai Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan Menjelaskan pengertian mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash) Menunjukkan hikmah adanya mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash) bagi Rasul Allah dan
orang-orang pilihan Allah Menjelaskan pengertian dan pentingnya husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun Mengidentifikasi bentuk dan contoh perilaku husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun Menunjukkan nilai-nilai positif dari husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun dalam fenomena kehidupan Membiasakan perilaku husnuzh-zhan,
tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun
dalam kehidupan sehari-hari Menjelaskan pengertian hasad, dendam, ghibah, fitnah, dan namiimah Mengidentifikasi bentuk perbuatan hasad,
dendam, ghibah, fitnah, dan namiimah Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan hasad, dendam, ghibah, fitnah,
dan namiimah Membiasakan diri menghindari perilaku hasad, dendam, ghibah, fitnah,
dan namiimah dalam kehidupan
sehari-hari |
KELAS IX SEMESTER I
|
No |
Standar Kompetensi |
Kompetensi Dasar |
|
|
1. 2 |
Meningkatkan keimanan kepada hari akhir dan alam gaib yang masih
berhubungan dengan hari akhir Menerapkan akhlak terpuji kepada diri sendiri |
1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 2.1 2.2 2.3 2.4 |
Menjelaskan pengertian beriman kepada hari akhir. Menunjukkan bukti/dalil kebenaran akan terjadinya hari akhir Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan dengan hari
akhir Menjelaskan macam-macam alam gaib yang berhubungan dengan hari akhir Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap hari akhir Menjelaskan pengertian dan pentingnya berilmu, kerja keras, kreatif, dan
produktif Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku berilmu, kerja keras,
kreatif, dan produktif Menunjukkan nilai-nilai positif dari berilmu, kerja keras, kreatif, dan
produktif dalam fenomena kehidupan Membiasakan perilaku berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif dalam
kehidupan sehari-hari |
KELAS IX SEMESTER II
|
No |
Standar Kompetensi |
Kompetensi Dasar |
|
|
1 2 |
Meningkatkan keimanan kepada Qada dan Qadar Menerapkan akhlak terpuji dalam pergaulan remaja |
1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 2.1 2.1 2.3 2.4 |
Menjelaskan pengertian beriman kepada Qada dan
Qadar Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya Qada dan Qadar Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan adanya Qada dan
Qadar Menunjukkan ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
Allah Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qada dan Qadar Allah Menjelaskan pengertian dan pentingnya akhlak terpuji dalam pergaulan
remaja Mengidentifikasi bentuk dan contoh perilaku akhlak terpuji dalam
pergaulan remaja Menunjukkan nilai negatif akibat perilaku pergaulan remaja yang tidak
sesuai dengan akhlak Islam dalam fenomena kehidupan Menampilkan perilaku akhlak terpuji dalam pergaulan remaja dalam
kehidupan sehari-hari. |
Materi ini disajikan sesuai dengan materi yang tercantum dalam
GBPP aqidah akhlak Madrasah Tsanawiyah dengan menggunakan buku pedoman
pelajaran Aqidah akhlak, materi yang
ada merupakan awal pengajaran dalam meningkatkan kemampuan siswa.[21]
Dengan adanya meteri di atas,memudahkan bagi guru untuk membuat
rancangan pembelajaran yang akan di sampaikan kepada siswa, dengan silabus di
atas mempermudah bagi siswa dalam belajar aqidah akhlak.
C.
Metode pembelajaran Aqidah Akhlak
Dalam Al-Qur’an
surah An-Nahl ayat 152, disebutkan:
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Nahl: 125)
Dari
ayat di atas berkaitan dengan cara atau metode yang di pergunakan dalam
mengajar, misalnya sebelum melakukan sesuatu, memikirkan apa yang mungkin akan
terjadi dan menimbangnya, maka di sinilah pentingnya hikmah dan ketelitian
dalam bekerja.[22]
Dalam
psikologi kognitif, metode diartikan sebagai prosedur mental yang berbentuk
tatanan tahapan yang memerlukan alokasi, atau pilihan-pilihan kebiasaan belajar
yang mampu menumbuhkan semangat dalam belajar sukar.[23]
Menurut Bahri, metode adalah cara yang dipergunakan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[24]
Metode pembejaran adalah salah satu komponen dalam proses belajar mengajar, tanpa ada metode yang tepat
proses belajar mengajar tidak mungkin berhasil dengan efektif dan efisien.[25]
Metode pembelajaran mempunyai andil yang
cukup besar dalam kegiatan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran akan dapat
dicapai dengan penggunaan metode yang
tepat.[26]
Cara merupakan teknik, pola, taktik dan upaya serta usaha yang digunakan dalam melakukan sesuatu
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.. Menurut Poerwadarminta, cara
adalah strategi yang dilakukan seseorang dalam mecapai tujuan yang telah
ditetapkan.[27]
Setiap
metode mempunyai sifat atau ciri
tertentu baik segi kelemahannya atau kebaikannya. Dalam mengajar jarang ditemukan guru hanya
menggunakan satu macam metode saja
tetapi guru menggunakan kombinasi beberapa
metode. Pemakaian metode pembelajaran dalam suatu mata pelajaran tertentu perlu
dipertimbangkan beberapa komponen yang terikat dalam proses belajar mengajar.[28]
Diantaranya adalah: tujuan, materi, siswa, situasi, kelas dan guru sebagai
operator dalam pemakaian metode mengajar, pemakaian metode yang tepat akan
dapat meningkatkan motivasi belajar.[29]
Sedangkan penggunaan metode yang tidak tepat akan menjadi hambatan yang paling besar
dalam proses belajar mengajar.[30]Dalam proses pembelajaran aqidah
akhlak metode-metode yang tepat digunakan antara lain sebagai berikut:
1.
Metode Ceramah
Yang dimaksud dengan metode ceramah, menurut Team Didaktik Metodik
Kurikulum IKIP Surabaya ialah: “Penerangan atau penuturan secara lisan oleh
guru kepada siswanya”.[31]
Metode ini lebih di fokuskan pada guru sedangkan murid dalam hal ini hanya
mendengarkan dengan teliti serta mencatat pokok penting yang dikemukakan oleh
guru.
Metode ceramah juga diartikan sebagai suatu cara penyajian atau penyampaian suatu informasi
melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap siswanya.[32]
Dengan kata lain metode ceramah ini murid mendengar dan siswa
menyimpulkan sendiri menurut kamampuannya.
Dalam
surat Yusuf ayat 3, disebutkan:
ß`øtwU Èà)tR y7øn=tã z`|¡ômr& ÄÈ|Ás)ø9$# !$yJÎ/ !$uZøym÷rr& y7øs9Î) #x»yd tb#uäöà)ø9$# bÎ)ur |MYà2 `ÏB ¾Ï&Î#ö7s% z`ÏJs9 úüÎ=Ïÿ»tóø9$# ÇÌÈ
Artinya: “Kami
menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran Ini
kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk
orang-orang yang belum Mengetahui.” (QS. Yusuf: 3)
Dalam
belajar aqidah akhlak metode
ceramah ini tepat untuk dilaksanakan, karena metode ini menjelaskan secara
detail dan jelas tentang sesuatu topik yang dibahas secara luas, mendalam dan sistematis. Apalagi
bila guru memiliki keterampilan berbicara yang dapat menarik perhatian siswa.[33]
Dalam memberikan pengertian tentang tauhid dan keimanan misalnya, sebagaimana
diketahui menjelaskan tentang keimanan dan tauhid sulit untuk diperagakan.sebagaimana
firman Allah dalam surat Yusuf ayat, 3.
Metode ceramah mempunyai kebaikan dan kelemahan-kelemahan. Adapun
kelebihan metode ceramah pada pelajaran aqidah akhlak, yaitu:
1.
Siswa
mendapatkan informasi tentang suatu pokok atau persoalan tertentu bila tidak
memiliki bahan bacaan tentang aqidah akhlaq,
2.
Guru lebih
mudah mengawasi ketertiban siswa dalam mendengarkan pelajaran,Anak-anak
serempak mendengarkan penjelasan guru,
3.
Guru sepenuh
perhatian dapat memusatkan pada kelas yang sedang bersam-sama mendegarkan pelajaran.[34]
Sementara kelemahan metode
ceramah yaitu:
1.
Guru tidak
mampu untuk mengontrol sejauh mana siswa telah memahami uraiannya yang telah
dijelaskan,
2.
Membuat
siswa hanya mampu mendengar terhadap materi yang disampaikan tidak memberi
kemungkinan aktif,
3.
Siswa kurang
memahami bila ada sesuatu yang penting untuk diperagakan.[35]
2.
Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu
cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang perlu dijawab
oleh anak didik.[36] Karena dalam metode ini seorang guru bertanya kepada murid tentang
bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca sambil
memperhatikan berfikir diantara murid-murid [37].
Dalam melaksanakan metode tanya jawab, pertanyaan dapat diajukan oleh guru atau
murid dan demikian juga jawabannya dapat diberikan oleh guru atau murid pula.
Dengan kata lain, guru bertanya dan murid menjawab, murid bertanya guru
manjawab atau murid yang satu bertanya
dan murid yang lainnya memberikan jawaban. Misalnya tentang materi
Tauhid (Keesaan Allah), tentang rukun iman dan tentang muamalah.
Kelebihan metode
Tanya jawab yaitu:
1.
Tanya jawab
dapat memperoleh sambutan yang lebih aktif bila dibandingkan dengan hasil dari
metode ceramah,
2.
Memberi
kesempatan kepada siswa untuk menggunakan hal-hal yang belum jelas atau
dimengerti sehingga guru dapat memperjelas kembali,
3. Mengetahui perbedaan pendapat
antara siswa dengan guru, dan akan membawa ke arah diskusi.
Dalam pembelajaran aqidah akhlak
juga mampu memperjelas kembali terhadap materi yang belum dikuasai atau belum
jelas, seperti materi Tauhid misalnya, bagaimanapun materi ini agak sulit untuk
dipahami, karena materinya berkenaan tentang Allah, dari itu perlu usaha tanya
jawab untuk memperjelas kembali. Adapun kelemahan metode ini yaitu;
1. Dapat menyimpang dari pokok persoalan yang
sedang di pelajari,
2. Sukar
membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa,
3. Siswa takut dalam memberikan jawaban atau
pertanyaan.
3. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah cara penyampaian
pelajaran dimana para siswa dihadapkan pada masalah yang bisa berupa pertanyaan
untuk dipecahkan bersama.[38] Dalam metode diskusi ini, guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling memberi informasi, pendapat,
membuat kesimpulan atau pemecahan masalah. Yang perlu mendapatkan perhatian
ialah hendaknya para siswa berpartisipasi secara aktif di dalam forum diskusi,
semakin banyak siswa terlibat dan menyumbangkan fikirannya, semakin banyak pula
yang dapat mereka pelajari.[39]
Dalam
surat An-Nahl ayat 125 menerangkan:
Oßgø9Ï»y_ur… ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& ÇÊËÎÈ…
Artinya:
“…dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl: 125).
Dalam pembelajaran aqidah akhlak, metode ini baik bila digunakan, artinya
siswa mampu memahami dan memperoleh informasi baru dari semua teman sekelasnya.
Misalnya mendiskusikan tentang hal bertetangga dalam Islam, bergaul yang
dituntun dalam Islam. Kelebihan dalam penerapan metode ini yaitu:[40]
1. Membuat siswa lebih aktif di dalam kelas dan
membuat suasana lebih hidup
2. Membuat siswa berfikir secara ilmiah dalam
memberikan gagasan
3. Membiasakan anak didik
bersifat toleran.
Sementara kelemahan metode ini yaitu,
1. Sulit bagi guru untuk mengarah penyelesaian
diskusi.
2. Sulit bagi siswa untuk
berfikir ilmiah
Dalam belajar aqidah akhlak metode ini perlu di gunakan, misalnya
tentang beriman kepada Rasul, melatih murid untuk berani dalam
mengeluarkan pendapat, metode ini
merupakan lapangan yang bersedia untuk mendidik anak berfikir, belajar
bermusyawarah dan membiasakan sifat toleran.[41]
4. Metode Demontrasi
Metode demontrasi merupakan metode yang
menggunakan alat peraga
yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Dalam pelaksanaan pendidikan agama dan
pembinaan akhlak, metode demontrasi dipergunakan dalam mempraktekkan bagaimana
sikap seorang guru dalam kesehariannya yang mencerminkan akhlak alkarimmah
seperti sopan santun dan berbuat baik terhadap sesama manusia maupun akhlak
terhadap lingkungannya.
Dalam
metode ini, juga memiliki kelebihan dan kekurangan, adapun sisi kelebihan dalam
penerapan metode ini adalah;
1. Membantu
anak didik memahami dengan jelas jalannya proses kerja suatu benda,
2. Memudahkan
berbagai jenis penjelasan sebuah penggunaan bahasa sehingga dapat lebih
terbatas, dan
3. Kesalahan
yang tejadi dari hasil metode ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan
contoh konkrit yang dilakukan pada metode demontrasi,[42]
Semetara
kekurangan dalam penerapan metode ini adalah;[43]
1. Anak
didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukan,
2. Tidak sesuai
benda dapat didemontrasikan, dan
3. Sukar
dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai materi apa
yang didemonstrasikan.
Dalam
pembelajaran aqidah akhlak metode ini perlu karena memudahkan siswa dalam
memahami pelajaran, misalnya tentang akhlak terpuji, di mana kita harus
mempraktek kepada siswa bagaimana cara kita saling tolong menolong,
bertoleransi dengan teman agar mereka mudah dalam mempraktekkannya dalam
kehidupan.
5. Metode Resitasi
Metode resitasi yaitu pemberian tugas terhadap materi telah
dipelajari atau menguraikan kembali pelajaran sebagaimana yang telah ditugaskan
oleh guru”. [44]
Metode ini merupakan metode pemberian tugas kepada siswa agar
siswa belajar dan mengulang kembali
pelajaran yang telah di pelajari di sekolah. Metode ini perlu dalam pembelajaran
aqidah akhlak yaitu tentang materi Al-asma al-husna. Sebagaimana firman Allah
dalam surat Luqman; 13
øÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏèt ¢Óo_ç6»t w õ8Îô³è@ «!$$Î/ ( cÎ) x8÷Åe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOÏàtã ÇÊÌÈ
Artinya: “Dan
(ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia member pelajaran
kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaziman yang besar.” (Q.S Luqman : 13 )
Metode Resitasi mempunyai tujuan tersendiri, baik pada proses
belajar mengajar di sekolah maupun di luar sekolah. Adapun kelebihan metode ini
adalah:
1.
Murid-murid mempunyai
tanggung jawab serta berdiri sendiri.
2.
Pengetahuan
yang diterima di dalam kelas menjadi lebih mantap dengan mengerjakan kembali
tugas-tugas tersebut di rumah,[45]
3.
Pengetahuan
yang telah diperoleh akan dapat diingat lebih lama.
Semetara kekurangan dalam metode ini adalah;
1.
Siswa sering
melakukan penipuan, di mana hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mahu
bersusah payah,
2.
Terkadang
tugas dikerjakan oleh orang lain, dan
3.
Sukar
memberikan tugas perbedaan individual.[46]
Metode pemberian tugas sangat cocok dalam proses belajar mengajar
aqidah akhlak, yang mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan
kegiatan belajar untuk menguatkan apa-apa yang telah dipelajarinya. Metode ini
merangsang anak untuk selalu aktif belajar, baik secara individu maupun secara
kelompok, yang mempunyai tujuan untuk mendidik siswa supaya bertanggung jawab
ata segala tugasnya.
6. Metode Drill
Kata drill berasal dari bahasa Inggris yang berarti latihan, yaitu
suatu cara penyajikan bahan pelajaran dengan melatih atau membiasakan siswa
menguasai pelajaran dan terampil dalam pelaksanaan tugas latihan yang
diberikan. Dalam pembinaan akhlak, anak didik dilatih supaya memiliki akhlak
yang mulia yaitu melatih untuk menghormati dan bersikap sopan santun kepada orang
tua, sesama teman, guru dan yang lainnya.[47]
Metode drill bertujuan untuk menguji kemampuan siswa dalam hal
melakukan kegiatan intelektual siswa. Seperti dalam menghafal mata pelajaran
yang memerlukan hafalan.
Pelajaran
aqidah akhlak mengandung pembahasan tentang dalil-dalil yang bersumber dari
Al-Qur’an dan Hadits. Sehingga menjadi penting penerapan metode ini, agar siswa
menguasai secara keseluruhan terhadap topik yang dibahas beserta dalil. Latihan
dalam metode ini bisa saja di ruangan kelas, bisa juga dilakukan sebagai
latihan rumah.
Sebagaimana Rasulullah SAW, bersabda:
قال رضى عنه النبي صلى الله عليه و سلم قال
أكمل المؤمنين
إيمان أحسنهم خلقا
Artinya: “Mukmin
yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya”.[48]
D.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Pembelajaran Aqidah Akhlak
Kegiatan apapun yang dilakukan manusia selalu dipengaruhi oleh
faktor tertentu, karena faktor inilah seseorang berinterakasi dan melakukan
sesuatu, begitu pula halnya dengan guru dalam menggunakan metode pada proses
belajar mengajar di sekolah, pasti dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu,
sehingga guru harus menggunakan metode tertentu, tepat dan sesuai dengan materi
yang.
Untuk mencapai hasil yang baik dalam pembelajaran perlu
diperhatikan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi belajar siswa tersebut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:
1.
Faktor
tujuan yang berbagai-bagai jenis dan fungsinya,
2.
Faktor anak
didik yang berbagai tingkat kematangannya,
3.
Faktor
fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitasnya, dan
4.
Faktor
pribadi guru serta kemampuan guru yang berbeda-beda.[49]
Dari beberapa faktor di atas saling berhubungan sehingga menjadi
hambatan pada saat berlangsungnya pelajaran aqidah akhlak, baik dari siswa
maupun dari guru. Pelajaran aqidah dan akhlak merupakan salah satu mata pelajaran
yang mengantarkan peserta didik untuk menguasai pengetahuan dan pemahaman
tentang ajaran Islam dan dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain faktor di atas juga dipengaruhi oleh faktor internal dan
eksternal, yaitu sebagaimana tersebut di bawah:
- Faktor Internal
Faktor internal merupakan semua faktor yang berasal dari dalam
diri individu yang belajar, baik yang berkenaan dengan jasmani maupun rohani,
psikologi dan faktor kelelahan”.[50]
Contoh dalam faktor ini, seperti membiasakan sikap dan perilaku yang baik yang
sesuai dengan ajaran Islam yang terkandung dalam Al Qur’an dan Hadist serta
dicontohkan oleh para ulama. Faktor jasmaniah sama dengan faktor biologis,
faktor psikologis berupa faktor yang bersifat rohaniah dan kelelahan menyertai
keduanya.
عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه و سلم: إن فيك
لخلقين يحبهما الله: الحلم و الأناة
Artinya: “Sesungguhnya
dalam dirimu ada dua sifat yang Allah sukai; sifat santun dan tidak
tergesa-gesa”.[51]
a.
Faktor
Jasmaniah (Fisik)
Faktor jasmani merupakan faktor yang berasal
dari diri individu itu sendiri yang berkaitan dengan keadaan fisik dan panca
indra. Dalam proses belajar mengajar faktor jasmani sangat
berperan, keadaan
jasmani yang tidak normal dapat mengganggu kegiatan belajar. Selain itu juga
akan cepat lelah, kurang semangat, ngantuk dan gangguan-gangguan fungsi alat
indranya. Karena itu hendaknya bisa dihindari atau dicegah berbagai penyakit
yang bisa mengganggu kesehatan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Sumadi
Suryabrata: “ Penyakit seperti flu, sakit gigi, batuk dan sejenisnya, itu
biasanya yang diabaikan karena dipandang tidak cukup serius untuk mendapatkan
perhatian dan pengobatan. Akan tetapi kenyataan penyakit-penyakit seperti
itulah yang sangat mengganggu aktivas belajar”.[52]
Keadaan jasmani yang kurang sehat
dapat mempengaruhi seseorang dalam belajar. Sebagaimana yang dikatakan Djamarah,
bawa :
“Tubuh adalah fisik yang terbatas
daya tahannya, tubuh yang sehat bila tidak dijaga akan mengalami sakit dan
kelelahan dan sungguhpun demikian kelelahan sewaktu-waktu pasti terjadi atas
diri seseorang terutama jika dipakai untuk kerjaan yang berat-berat, hal ini
dapat mempengaruhi kegiatan belajar seseorang”.[53]
Disamping itu adanya gangguan emosional, rasa tidak senang serta
adanya gangguan dalam proses berpikir juga berpengaruh terhadap kemajuan proses
belajar seseorang. Hamalik, mengatakan bahwa :
“Badan yang sering sakit-sakitan
dan kurang vitamin, merupakan faktor yang bisa menghambat kemajuan studi
seseorang, adanya gangguan emosional, rasa tidak tenang, kuatir, mudah
tersinggung, sikap agresif, gangguan dalam proses berpikir semua menjadikan
kegiatan belajar terganggu”.[54]
Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa faktor kesehatan
jasmani dan kesehatan rohani turut menentukan apakah studi akan lancar atau
tidak belajar aqidah akhlak. Maka jelaslah bahwa faktor kesehatan memegang
peranan penting dalam menentukan keberhasilan studi seseorang dan prestasi
belajar dapat dicapai seperti apa yang diharapkan.
Di samping itu, hal yang tidak kalah
pentingnya yaitu kondisi panca indra, dimana panca indra yang paling memegang
peranan penting dalam belajar merupakan mata dan telinga. Normalnya kondisi
pancra indra merupakan syarat mutlak untuk memperoleh pengetahuan secara jelas
dan tepat bahwa
Hal ini sebagaimana yang
diutarakan oleh Suryabrata, (2006:230) bahwa “Pancaindra dapat dimisalkan
sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh ke dalam individu, orang mengenal dunia
sekitarnya dan belajar dengan mempergunakan pancaindranya. Baiknya pancaindra
merupakan syarat dapatnya belajar itu dengan baik”.[55]
Pancaindra yang memegang peranan penting adalah mata dan telinga. Bahwa
berfungsi pancaindra merupakan syarat untuk dapat berlangsungnya belajar dengan
baik dan kesehatan jasmani dan rohani seseorang turut menentukan apakah studi
seseorang akan lancar atau kelancaran dari proses belajar-mengajar, sehingga
untuk mencapai hasil belajar yang maksimal perlu kiranya untuk menjaga
kesehatan dan keseimbangan rohani agar dapat berfungsi sebaik-baiknya.
b.
Faktor
Rohani
Faktor rohani atau kejiwaan merupakan segala bentuk kemampuan yang
berpusat pada otak dan akal yang turut mempengaruhi kompetensi belajar siswa,
yaitu berupa faktor:
(a)
Intelegensi
(Kemampuan Intelektual)
Dalam proses belajar aqidah akhlak intelegensi sangat berperan,
mempunyai kemampuaan tinggi besar kemungkinan akan maju dalam belajar sehingga
dengan mudah dapat mencapai prestasi yang tinggi, tidak sama dengan siswa yang
kecerdasannya lebih rendah meskipun usaha dan belajarnya sama.
M. Ngalim Poerwanto, menyatakan bahwa: “Intelegensi adalah
kemampuan yang dibawa sejak lahir, kemungkinan seseorang berbuat dengan cara
tertentu”.[56]
Kecerdasan adalah kemampuan
seseorang dalam mencapai prestasi baik itu di sekolah, keluarga maupun di
lingkungan masyarakat. Guru sebagai pendidik dalam membimbing siswa
memperhatikan tingkat kemampuan seorang siswa dalam memahami mata pelajaran
yang diajarkan dan akan mencapai prestasi belajar yang memuaskan.
Dalam belajar aqidah akhlak guru berperan untuk memadukan metode
yang tepat sehingga siswa menyukai belajar pelajaran aqidah akhlak.
(b)
Bakat
Bakat merupakan kemampuan dasar seseorang yang dibawa anak sejak
lahir dan dapat dikembangkan bila seseorang memperoleh pengaruh luar dan
kesempatan.[57]
Bakat merupakan salah faktor yang mempunyai peranan penting terhadap
keberhasilan belajar seseorang. Seperti yang dikemukakan ole Suryabrata yaitu:
“Seseorang akan lebih berhasil kalau ia belajar dalam lapanngan yang sesuai
dengan bakatnya, demikian juga dengan lapangan kerja”.[58]
Bakat juga suatu kecenderungan yang tampak pada tingkah laku
manusia pada bidang keahlian tertentu, bakat juga dapat mempengaruhi belajar
seseorang. Suryabrata mengatakan bahwa: “Bakat itu terutama pada kemampuan
individu untuk melakukan suatu tugas sedikit sekali memerlukan latihan tentang
hal itu”.[59]
(c)
Minat
Minat
besar pengaruhnya terhadap belajar, karena apabila tidak sesuai dengan minat
siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya
tarik baginya.[60]
Tidak adanya minat seseorang dalam mempelajari suatu pelajaran
bisa menimbulkan kesulitan belajarnya. Seperti diungkapkan oleh Mudzakir bahwa,
“Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan tipe-tipe khusus
anak banyak menimbulkan problema pada dirinya, karena itu tidak pernah terjadi
proses dalam otak, akibatnya timbul kesulitan”.[61]
Ada tidak minatnya terhadap suatu pelajaran dapat dilihat dari
cara anak mengikuti mata pelajaran, mau atau tidaknya menyelesaikan tugas yang
diberikan dengan melihat catatannya. Maka dari petunjuk itu kita dapat
menemukan apakah kesulitan belajarnya disebabkan karena tidak adanya minat atau
sebaliknya.
(d)
Motivasi
Dalyono menjelaskan bahwa, “Motivasi sebagai faktor batin
berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat
menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, sehingga semakin besar
motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya”.[62]
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
seseorang yang memotivasinya besar, akan giat belajar untuk meningkatkan
prestasinya, sebaliknya jika dalam kegiatan belajar tidak ada motivasi bisa
berakibat pada kesulitan dalam belajar bahkan sering meninggalkan pelajaran.
(e)
Perhatian
Prestasi belajar yang baik dapat terjamin bila anak didik punya suatu
perhatian terhadap bahan pelajaran yang dipelajarinya. Dalam
proses belajar aqidah akhlak guru harus bisa menarik perhatian siswa agar siswa menyukainya dan tidak
membuat suasana jenuh.[63]
- Faktor Eksternal
Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar anak, faktor
ini dapat dibagi dari tiga sudut pandang, yaitu:
a.
Faktor
Keluarga
Faktor keluarga adalah faktor salah satu faktor yang paling
penting dan turut berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan. Lingkungan
keluarga adalah lingkungan yang pertama kali dikenal oleh anak, anak mulai
menerima nilai-nilai baru dari dalam keluarga dan dari keluargalah anak mulai
mensosialisasikan diri[64].
Didalam keluarga anak mulai tumbuh sejak kecil. Sebagaimana hadits di bawah ini:
عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال
النبي صلى الله عليه و سلم: كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودان أو ينصرانه أو
يمجسانه… (رواه مسلم)
Artinya : “Dari Abu Hurairah R.a berkata bahwa nabi Saw
bersabda; Setiap anak dilahirkan atas dasar fitrah , maka tergantung pada kedua
orang tuanya yang menjadikan anak
sebagai yahudi, nasrani, dan majusi”.[65]
Hadits
di atas menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara anak dengan lingkungan
sekitarnya terutama orang tua. Anak tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan
sendirinya tanpa peran orang tua. Jadi orang tua bertanggung jawab dalam membimbing, mengarahkan perkembangan (
pendidikan ) anak agar
tercapainya apa yang dicita-citakan anak.
Slameto, mengatakan bahwa: “Keluarga adalah lembaga pendidikan
pertama dan utama, keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan kecil
tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara
dan dunia”.[66].
Sebuah keluarga yang baik akan memberikan rasa aman, tentram, dan
harmonis bagi anak-anaknya. Perhatian dan pengertian orang tua akan mendorong dan
memotivasi anak agar
lebih aktif belajar. Keluarga
yang tidak harmonis merupakan salah satu faktor utama terjadinya masalah
dikalangan pelajar baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dimana anak menjadi nakal, memberontak
dan sukar di didik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih
sayang orang tuanya, sehingga mempengaruhi perkembangan pendidikan anak,
akibatnya prestasi yang dicapai juga rendah.
b.
Lingkungan
Sekolah
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Sekolah merupakan sumber
ilmu dan bekal tempat menimba ilmu pengetahuan.[67]
Dengan menitipkan anak –anaknya kesekolah , orang tua mengharapkan pihak
sekolah dapat membimbing dan mengarahkan putra putrinya dengan materi yang diajarkan di sekolah tersebut.Sebagaimana
dalam firman Allah dalam surat Ali Imran ; 159
$yJÎ6sù 7pyJômu z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $àsù xáÎ=xî É=ù=s)ø9$# (#qÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym ( ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó$#ur öNçlm; öNèdöÍr$x©ur Îû ÍöDF{$# ( #sÎ*sù |MøBztã ö@©.uqtGsù n?tã «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari
Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap
keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah
membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)
Dalam hal ini lingkungan sekolah sebagai tempat anak belajar dapat
mempengaruhi pelaksanaan pendidikan agama pada anak didik di sekolah. Oleh
karena itu, orang tua hendaknya memilih sekolah yang mampu mendidik dan
memotivasi anak untuk mencintai pelajaran agama sejak dini.
c.
Lingkungan
Masyarakat
Masyarakat adalah faktor yang tidak kalah pentingnya dalam
belajar. Masyarakat dalam pengertian yang luar adalah lingkungan
pendidikan yang besar
pengaruhnya
terhadap perkembangan pribadi seseorang.[68]
Masyarakat merupakan pendidikan
di luar sekolah dan keluarga yang merupakan pusat pendidikan yang ketiga. Allah
berfirman dalam surat At-Tahrim ; 6
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydßqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pkön=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâxÏî ×#yÏ© w tbqÝÁ÷èt ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtur $tB tbrâsD÷sã ÇÏÈ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Lingkungan masyarakat ini dapat pula berpengaruh terhadap
perkembangan peserta didik baik menguntungkan maupun merugikan, sebagai makhluk
sosial manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari lingkungan masyarakat. Ia
harus berhubungan dengan masyarakat hakikat kemanusiaan, hanya bisa muncul
dalam pergaulan antara manusia.
Dalam hal ini apabila lingkungan masyarakat di sekitarnya baik
akan mendukung kegiatan lingkungannya, sebaliknya bila lingkungan masyarakatnya
tidak baik maka akan mempengaruhi aktifitas belajarnya, sehingga mengakibatkan
kemunduran dalam prestasi belajar.
E. Sistem Evaluasi Pembelajaran
Aqidah Akhlak
Evaluasi merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran pada
khususnya dan sistem pendidikan pada umumnya, artinya evaluasi merupakan suatu
kegiatan yang tidak mungkin dielakkan dalam setiap proses pembelajaran. Dalam setiap proses pembelajaran
evaluasi penting untuk dilakukan
guna mengetahui sejauh mana daya serap siswa terhadap pelajaran yang disajikan.
Begitu pula halnya dengan pengajaran mata pelajaran aqidah akhlak, hendaknya
seorang guru mengadakan evaluasi terhadap hasil belajar siswa.
Oemar Hamalik, menyatakan bahwa “Evaluasi sebagaimana kita lihat
adalah sistem yang mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk menetapkan apakah di
dalam fakta (kenyataan) yang tertentu perubahan-perubahan telah terjadi di
dalam proses belajar baik untuk menetapkan jumlahnya atau kadar/tingkat
perubahan siswa secara individual”.[69]
Berdasarkan pendapat di atas bahwa evaluasi merupakan penilaian
yang diajukan terhadap seluruh aspek pribadi murid, dalam seluruh situasi
pendidikan yang dialaminya. Untuk itu diperlukan evaluasi untuk mengetahui
berhasil tidaknya seorang siswa dalam pekerjaannya. Dengan mengukur hasil
pekerjaannya, maka dapat diketahui batas kesanggupan, penguasaan tentang
pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam menyelesaikan suatu tugas yang
dibebankan kepadanya.
Oleh karena itu, kemampuan
guru menyusun alat dan melaksanakan evaluasi merupakan bagian dari kemampuan
penyelenggarakan proses pembelajaran secara keseluruhan.[70]
Proses
belajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran
khusus. Untuk melihat keberhasilan tersebut juga perlu melakukan berbagai
evaluasi, sehingga dapat diketahui akan kekurangan yang ditimbulkan. Fungsi
penilaian/evaluasi ini untuk memberikan umpan balik dalam rangka memperbaiki
proses belajar dan melaksanakan program bagi siswa.
Adapun tujuan evaluasi adalah:
1.
Untuk
mengetahui sejauhmana tingkat kemampuan kecerdasan yang dimiliki siswa.
2.
Untuk
mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam proses belajar.
3.
Untuk
mengetahui hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses
belajar mengajar.[71]
Menurut
Muchtar Bukhari, tugas khusus dari evaluasi pendidikan ada dua, yaitu:[72]
1.
Untuk mengetahui kemajuan belajar peserta
didik setelah ia menyadari pendidikan pendidikan selama jangka waktu tertentu,
2.
Untuk mengetahui tingkat efesien
metode-metode pendidikan yang dieprgunakan pendidikan selama jangka waktu
tertentu.
Bertitik tolak dari kutipan di atas , jelaslah bahwa evaluasi
adalah untuk mengukur keberhasilan pencapaian tujuan dan membangkitkan gairah
belajar siswa serta untuk mengetahui kemampuan siswa dan kegunaan serta
kekurangan usaha pendidikan. Setiap proses belajar mengajar yang berakhir harus
selalu diikuti dengan evaluasi. Karena dengan melalui evaluasi itu dapat diketahui
hasil belajar siswa dan hasil mengajar guru. Untuk itu perlu adanya bekal ilmu
yang berkaitan dengan evaluasi.
Teknik evaluasi pengajaran aqidah akhlak merupakan alat yang
digunakan dalam rangka melakukan evaluasi hail belajar siswa. Dalam konteks
evaluasi hasil belajar siswa di sekolah, dikenal ada dua macam teknik evaluasi
yaitu tes dan non tes. Dengan teknik tes , maka hasil proses pembelajaran di
sekolah itu dilakukan dengan jalan menguji peserta didik , sebaliknya dengan
teknin non tes evaluasi dilakukan tanpa menguji peserta didik misalnya dengan
observasi terkontrol.
Berikut
adalah beberapa macam tes yang
dibagi dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:
a.
Tes Awal (Pre
tes)
Tes ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana
materi atau bahan pelajaran aqidah akhlak yang diajarkan telah dapat dikuasai
oleh siswa. Jadi tes
awal ialah tes yang dilakukan sebelum bahan pelajaran diberikan kepada siswa. Maksudnya adalah untuk
memfokuskan perhatian obyek didik pada informasi pelajaran yang akan diberikan,
dengan kata lain menciptakan suasana agar mereka siap baik fisik, mental maupun
emosi untuk menerima pelajaran. Untuk itu maka pada saat mulai pelajaran,
disampaikan pertanyaan-pertanyaan yang ada kaitannya atau relevansi dengan
pelajaran yang diberikan.[73]
b.
Tes Akhir (Tes
sumatif)
Yaitu, yang dilakukan pada akhir semester, yang bertujuan mengukur
kemampuan atau keberhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh.[74]
Tes akhir dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi
pelajaran yang telah diajarkan telah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh
peserta didik (siswa). Maksudnya adalah untuk mengetahui sejauh mana daya
tangkap/serap siswa terhadap pelajaran yang bersangkutan.[75]
c.
Tes Formatif
Yaitu, tes yang
dilakukan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Isinya mencakup
semua unit pengajaran yang telah diajarkan. Tujuan utamanya untuk mengetahui keberhasilan
dan kegagalan proses belajar mengajar.[76]
Tes ini digunakan untuk
mengetahui penguasaan peserta didik terhadap bahan pelajaran aqidah akhlak
setelah mengikuti proses pembelajaran dalam waktu tertentu. Dalam kedudukannya
tes formatif dapat dipandang sebagai tes diagnosis pada akhir pelajaran. Hasil tes ini untuk memperbaiki
proses belajar mengajar bahan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Tes ini
pada umumnya dilakukan dalam proses belajar mengajar atau pada saat tertentu
selama priode pelajaran berlangsung. Maksudnya adalah untuk mendapat umpan
balik bagi perbaikan proses belajar mengajar itu sendiri dan perbaikan cara
belajar siswa yang bersangkutan.[77]
d.
Tes Sumatif
Tes sumatif dilaksanakan untuk mengukur kemampuan siswa terhadap
bahan yang telah diajarkan selama satu semester. Tujuannya untuk menetapkan
tingkat atau taraf
keberhasilan belajar anak didik dalam satu periode belajar tertentu. Hasil dari
tes sumatif ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyususn peringkat atau
rangking. Dalam pelaksanaan di sekolah tes sumatif dapat dilaksanakan denagn
ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada akhir semester.
Setelah
mengetahui makna dan tujuan pendidikan aqidah akhlak pada siswa, betapa begitu
penting pendidikan atau pelajaran aqidah akhlak ini diberikan atau diajari pada
setiap siswa semakin baik pula cara hidup yang dimiliki oleh siswa. Karena
sebagaimana diketahui aqidah ini merupakan sebuah keyakinan yang melekat pada
hati seseorang yang tidak akan bisa hilang begitu saja.[78]
Sangat ideal bila pelajaran ini terus menerus diajari dengan baik dan terarah,
agar salah satu tujuan dari pelajaran ini, yaitu membentuk jati diri manusia
yang baik dan berkualitas di sisi Allah Swt, masyarakat, negara dan keluarga
sebagaimana yang dituntut dalam islam. Diakui atau tidak, tanpa aqidah dan
akhlak pada diri manusia akan semakin sulit pula membentuk jati diri yang kokoh
dan berkualitas ketaqwaan.
[2] Hasbi
Ash- Shadiqy, Sejarah Pengantar Ilmu
Tauhid. (Jakarta: Bulan Bintang, 1983). hal. 43.
[3] Abdul Malik
Karim Abdullah (Hamka), Studi Islam.
(Surabaya : Pustaka, 1992). hal. 53.
[4] Abu Ahmadi dan Nur Salimi, Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam, (
Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal. 198.
[5] M. Ali Hasan. Tuntunan Akhlak,( Jakarta : Bulan Bintang, Cet II, 1982 ).hal. 10.
[6] Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin; Bimbingan mencapai mukmin, (Al-Maktabah
At-Tijjariyyah Al-Kubro), hal. 505.
[8] Darwia A. Soelaiman, Pengantar Kepada Teori dan Praktek
Pengajaran, (Jakarta: Gramedia, 1979), hal. 36.
[15] Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia
Nomor 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi
Pendidikan Agama dan Bahasa Arab di Madrasah
[16] Tim Penyusun Kurikulum, Kurikulum Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar,( NAD Dinas
Pendidikan, 2001 ). hal.39.
[17] Wina Sanjana Strategi pembelajaran
Berorientasi standar proses pendidikan (jJakarta :Kencana 2007), hal. 52.
[19] Omar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal. 57.
[20] Peraturan Menteri
Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan
dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah.
[21] Ibid.
[23] Djamarah S. B. dan Aswan Zein, Strategi
Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 14.
[24] Saiful Bahri Djamarah dan Azwar Zein, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta:
Rineka cipta,1996), hal.53.
[25] Dimyati,
Mujiono, Belajar dan Pembelajaran,
(Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hal. 47.
[26] Hamalik, Oemar, Metode
Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar, (Bandung: Tarsito, 1983), hal. 28.
[29] Daryanto. Tujuan, Metode dan Satuan Pelajaran dalam Proses Belajar Mengajar.
(Bandung: Tersito. 1983), hal. 31.
[30] Daryanto., Op. cit., hal. 32.
[31] Team Didaktik Metodik Kurikulum, (Surabaya:
IKIP, 1976), hal. 41.
[33] Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001) cet VI,
hal. 137.
[34] Ibid.,
hal. 138.
[36] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak didik Dalam
Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2000), hal.203.
[40] Hasan, Husen., Op. cit., hal. 28.
[42] Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam
Interaksi Edukatif suatu Pendekatan Teoritis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hal.
239.
[44] Hasan, Husen., Op. cit., hal. 33.
[46] Ibid., hal. 236.
[48] Muhammad Nashiruddin Albani, Shahih
Sunan Abu Daud, (Jakarta: Pustaka Azzam,
2007),Cet I, hal. 324
[49] Hasan, Husen., Op. cit., hal. 33.
[50] Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Jakarta : Rineka Cipta, 2007 ).hal.54.
[53] Djamarah S. B. dan Aswan Zein, Strategi
Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 36.
[54] Hamalik, Oemar, Metode
Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar, (Bandung: Tarsito, 1983), hal. 40.
[61] Ahman Mudzakir, Joko
Sutrisno, Psikologi Pendidikan, (Bandung
: Pustaka Setia, 1997), hal. 159.
[62] M.Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1997), hal. 235.
[64] Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan, ( Jakarta : CV Pedoman
Ilmu Jaya, 1999 ), hal. 15.
[67] Muhammad Ali Quthbi, Sang Anak dalam Naungan Pendidikan Islam, ( Bandung : CV
Diponegoro, 1993 ), hal.92.
[71] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta : Logos, 1999), hal.177.
[73] Nurkancana, Wayan, P.P.N.
Sunarta, (1982), Evaluasi Pendidikan,
(Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hal. 132.
[74] M. Chabib Thoha, Teknis Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003),
hal. 48.
[75] Nurkancana Wayan., Op. cit., hal. 133.
[76] M. Chabib Thoha., Op. cit., hal. 47.
[78] Ibid.,
hal. 135.


Komentar
Posting Komentar
Komentar