Teori Pembelajaran Aqidah Akhlaq

 




TEORI TENTANG PEMBELAJARANAQIDAH AKHLAK

 

 

A.       Pengertian dan Tujuan Pendidikan Aqidah Akhlak

 

Berbicara masalah aqidah akhlak, tentu pikiran tertuju pada yang namanya keyakinan dan tingkah laku seseorang atau pola hidup sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal. Sebagaimana firman Allah SWT, dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 93, yaitu:

 

 

 


Artinya: “Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (Q.S. Al-Maidah: 92)

 

Ayat ini merupakan seruan kepada setiap manusia untuk mempercayai dan mentaati segala yang diperintah Allah SWT tidak menyekutukannya. ayat ini menegaskan tentang aqidah, yaitu sebuah keyakinan yang wajib ditumbuhkan dalam hati dan jiwa seseorang, yang meyakini bahwa itu ada.

 

 

 

Dalam kamus Al-Munawar, kata “aqidah” berasal dari bahasa arab, yaitu ‘aqida jamaknya ‘aqidah. Dalam bahasa Indonesia bermakna “keyakinan”. Menurut loghat, aqidah adalah kepercayaan oleh hati dan dianut oleh manusia serta dipercayai.[1]

Menurut batasan Hasbi Ash-Shidiqy dalam bukunya Sejarah pengantar ilmu tauhid, aqidah mengandung makna sesuatu yang dipegang teguh dan kuat di lubuk hati (jiwa) dan tidak dapat beralih daripadanya.[2] Dapat pula dimaknai, aqidah suatu kekuatan hati yang meyakini tentang ke Esaan Allah, dan tidak ada yang sekutu bagi-Nya, sesungguhnya Allah Maha segala-galanya.

Hamka, mengemukakan pengertian aqidah yaitu: “bahwa kita mengikat hati sendiri dengan sesuatu kepercayaan dan tidak hendak kita tukar dengan yang lain, jiwa raga kita, pandangan hidup telah terikat oleh aqidah kita, tidak dapat dibebaskan lagi dan aqidah itulah yang menentukan kehidupan ini.[3] Bertitik tolak dengan beberapa pengertian yang telah disebutkan maka, aqidah Islam itu adalah aqidah tauhid, yaitu fitrah manusia yang diciptakan oleh Allah bahwa manusia ini cenderung beragama Islam.

Akhlak, secara etimologi berasal dari kata “khalaqa” akar katanya khuluqun, artinya perangai, adat, tabi’at atau perilaku yang dibuat.[4] Sedangkan menurut istilah, yang dimaksud dengan akhlak yaitu sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan baik dan buruk tanpa melakukan pemikiran dan pertimbangan. Sedangkan menurut Ali Hasan, mengemukakan bahwa, perkataan akhlak berasal dari bahasa arab yang berarti budi pekerti, tingkah laku , perangai dan adat kebiasaan”.[5]

Menurut pendapat kaum salaf, akhlak, merupakan suatu hakikat atau bentuk dari sesuatu jiwa yang benar-benar telah meresap dan dari situlah timbulnya berbagai perbuatan dengan cara spontan dan mudah, tanpa dibuat-buat dan membutuhkan pemikiran atau angan-angan.[6] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak diidentikkan dengan moral, artinya bila berprilaku baik, maka disebut sebagai bermoral atau kebiasaan berbuat baik, kebiasaan berbuat baik ini diartikan juga sebagai akhlaq yang baik atau hasil perbuatan yang baik.[7]

Setelah mengetahui beberapa pengertian tentang “aqidah” dan “akhlak”, sebagaimana tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa aqidah akhlak yaitu kekuatan atau serangkaian keyakinan terhadap ajaran-ajaran agama dan pengamalannya secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari dengan bimbingan akhlak yang mulia, baik dalam hubungan dengan Allah, sesama manusia dan dengan makluk lainnya

Aqidah akhlak termasuk salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar, lanjutan, menengah dan perguruan tinggi, dengan harapan menjadi media dalam mewujudkan para pelajar menjadi manusia yang mampu mengaplikasikan nilai-nilai moral yang sempurna sesuai dengan ajaran Islam dalam kehidupan.

Mata pelajaran aqidah akhlak tidak diterapkan begitu saja dan tidak dijadikan sebagai pelengkap kurikulum semata, namun lebih dari itu, pengetahuan aqidah akhlak ini didesain sedemikian rupa terhadap materi dengan tujuan agar siswa mampu membentuk pribadi yang berakhlak mulia. Tujuannya yaitu, sesuatu yang ingin dicapai setelah usaha atau kegiatan proses belajar menagajar selesai yang dirumuskan dari bahan pelajaran pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang diajarkan guru.[8]

Melihat dari tujuan tersebut, maka akan terlihat dengan jelas suatu yang diharapkan, karena pendidikan Islam mempunyai peranan penting di dalam berbagai bentuk kehidupan manusia, aqidah akhlak di sini mempunyai tujuan:

1.    Pembentukan aqidah yang benar dan ibadah serta pelaksanaannya

            Pendidikan Islam dengan berbagai konsep dan institusinya harus mengarah pada pembentukan aqidah yang benar terutama dalam keluarga, mesjid, sekolah/madrasah, maupun komunitas masyarakat lainnya. Sebagaimana firman Allah SWT:

 

 

 

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dan juga agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”. (Q.S. Al-Bayyinah: 5)

Ayat di atas menuntut kepada manusia untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan, menjauhi segala larangannya, agar memperoleh derajat sebagai mukmin yang sejati. Sesungguhnya Allah SWT meridhai agama Islam. Di sinilah perlu pembentukan aqidah yang baik di dalam jiwa sehingga hidup ini selalu dilandasi nilai-nilai syariat dan mempunyai akhlak yang sempurna dalam kehidupan sehari-hari.

2.                                 Membentuk manusia sosial

            Manusia sosial adalah manusia yang dapat mengimbangi sikap dan peranannya dan berkomitmen terhadap sesama manusia lain, karena hakikatnya hidup selalu tidak terlepas dari hubungan dengan pihak lain lain (interaksi).[9] Sebagaimana diketahui, makhluk sosial merupakan makhluk yang mempunyai ketergantugan dengan individu lain, selama ia hidup tidak akan lepas dari pengaruh masyarakat, selain itu pada manusia ada dorongan untuk berhubungan. Dalam hal ini, manusia dituntut selalu memperhatikan keadaan orang lain, saling membantu, menasehati dalam segala kekurangan yang dimiliki.

3.             Membentuk manusia yang menyeru kepada Allah SWT

Karena pada dasarnya, setiap manusia muslim dan muslimah harus selalu berada dalam menyeru untuk beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana yang telah tercantum dalam firman-Nya:

 

 

 

 


Artinya: “Dan Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepada-Ku”. (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)                    

            Pendidikan aqidah akhlak memegang peranan penting dalam rangka penanaman nilai iman dan taqwa kepada Allah SWT, dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Untuk lebih jelas, berikut adalah tujuan khusus dari pendidikan aqidah akhlak di Madrasah Tsanawiyah, yaitu:

Pelajaran Aqidah Akhlak bertujuan untuk menanamkan keimanan kepada peserta didik yang diwujudkan dalam akhlaknya yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan peserta didik tentang Aqidah dan Akhlak, sehingga menjadi manusia yang baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[10]

Tujuan ini meliputi seluruh aspek kemanusiaan seperti sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan yang harus dapat tergambar pada pribadi seseorang yang sudah di didik walaupun dalam ukuran kecil dan mutu yang rendah.[11]

Cara yang lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan ialah pengajaran, karena itu pengajaran sering diidentifikasikan dengan pendidikan meskipun istilah ini sebenarnya tidak sama. Pengajaran ialah proses membuat jadi terpelajar (tahu, mengerti, menguasai, ahli, tetapi belum tentu menghayati dan meyakini).[12] Sedangkan pendidikan ialah membuat orang jadi terdidik (berkepribadian menjadi adat kebiasaan).[13] Sangatlah sesuai bahkan pantas bila pengajaran aqidah akhlaq seyoqyanya mencapai tujuan dari sebuah pendidikan yang diinginkan.

Pada prinsipnya pendidikan akhlak adalah mendidik manusia menjadi yang paling mulia. Dengan adanya akhlak menjadikan manusia bertingkah laku yang baik, dan membedakan antara yang hak dan bathil. Agar manusia selalu berada di jalan yang telah digariskan oleh Allah SWT, dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.[14]

Di sini perlu pananaman akhlak pada siswa agar siswa mengetahui antara yang baik dan buruk sehingga tercemin dalam kehidupannya. Dengan adanya akhlak akan melahirkan generasi yang baik.

Setelah membahas seputar tujuan pendidikan aqidah akhlak, ditinjau dari fungsi, dapat dikatakan fungsi bidang studi aqidah akhlak di Madrasah, yaitu sebagai berikut, yaitu:

1.      Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat;

2.      Mengembangkan keimanan dan takwa kepada Allah SWT serta akhlak mulia yang telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluarga;

3.      Mencegah peserta didik dari hal-hal yang negatif dari lingkungannya atau dari budaya asing yang akan dihadapinya sehari-hari;[15]

Dengan landasan Al Qur’an dan Sunnah siswa mampu menjaga kemurnian aqidah Islamiyah; memiliki keimanan yang kokoh yang dilandasi dengan dalil-dalil naqli (Al Qur’an dan Hadist), dalil aqli, serta menjadi komitmen baik untuk keluarga, masyarakat maupun bangsanya, dengan tetap menjaga terciptanya kerukunan hidup beragama yang dinamis.

Pelajaran aqidah akhlak sebagaimana terungkap dalam kurikulum sekolah tingkat menengah pertama adalah memberikan kemampuan kepada siswa tentang aqidah Islam dan mengembangkan kehidupan beragama sehingga menjadi muslim yang beriman kepada Allah SWT,dan berakhlak mulia,. Kemampuan-kemampuan dasar ini yang dipersiapkan untuk mengikuti pendidikan tingkat atas dan tingkat perguruan tinggi.[16]

Sebab, aqidah yang benar itu harus berupa keyakinan yang kuat, maka sumber-sumbernya harus diyakini kebenarannya. Berdasarkan hal itu, maka semua urusan dari berbagai masalah aqidah Islam yang wajib diimani oleh seseorang hamba adalah bersifat ghaib. Seperti iman kepada Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya dan hari Akhir, taqdir dan siksa kubur serta yang ghaib lainnya.

 

B.     Materi-materi Aqidah Akhlak

Ada tiga prinsip besar dalam Islam; diketahui, dipahami dan diamalkan, sebagai bekal untuk menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Artinya, mengetahui segala sesuatu pekerjaan itu adalah wajib, maka pahamilah bagaimana cara mengerjakan setelah mengetahui bagaimana mengerjakan, maka amalkanlah segala yang diperintahkan oleh Allah SWT, baik kecil maupun besar.

Sebagaimana Firman Allah SWT;

!$tBur ãNä39s?#uä ãAqß§9$# çnräãsù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 ÇÐÈ

 

Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Q.S. Al-Hasyr: 7)

 

Materi yang dimaksud adalah kerangka atau bahan pelajaran yang disampaikan kepada siswa.[17] Sedangkan menurut Ibrahim,  materi pelajaran adalah suatu yang disajikan guru untuk diolah dan kemudian dipahami oleh siswa, dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan intruksional yang telah ditetapkan.[18]

Materi bidang studi aqidah akhlak merupakan salah satu materi yang diperlukan dalam upaya mengarahkan siswa ke jalan yang benar dan membentuk budi pekerti yang mulia sehingga nantinya mereka mampu menyesuaikan diri dimanapun mereka berada.[19] Adapun standar kompetensi dan standar kompetensi dasar aqidah akhlaq yang digunakan saat ini di MTsN Model Banda Aceh adalah sebagaimana tersebut di bawah, yaitu:[20]

 

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR

AQIDAH AKHLAK KELAS VII SEMESTER I

 

No

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   2  .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Memahami dasar dan tujuan akidah islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meningkatkan keimanan epada Allah melalui pemahaman sifat-sifat-Nya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menerapkan akhlak terpuji kepada Allah SWT

1.1

 

 

1.2

 

 

1.3

 

 

  1.4

 

 

  2.1

 

 

 

 

  2.2

 

 

 

  2.3

 

 

  2.4

 

 

 

 

 

  3.1

 

 

3.2

 

 

  3.3

 

 

 

  3.4

Menjelaskan dasar dan tujuan akidah Islam

 

Menunjukkan dalil tentang dasar dan tujuan akidah Islam

 

Menunjukkan hubungan Iman, Islam, dan Ihsan

 

Menunjukkan dalil tentang Iman, Islam dan Ihsan

 

Mengidentifikasikan sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiyah.

 

Menunjukkan bukti/dalil naqli dan aqli dari sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani, dan ma’nawiyah.

 Menguraikan sifat-sifat mustahil dan jaiz bagi Allah SWT

Menunjukkan ciri-ciri/tanda perilaku orang beriman kepada sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari

 

Menjelaskan pengertian dan pentingnya ikhlas, taat, khauf dan taubat

Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat.

Menunjukkan nilai-nilai positif dari perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat dalam fenomena kehidupan.

Membiasakan perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat dalam kehidupan sehari-hari

 

KELAS VII SEMESTER II

 

No

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Memahami al-asma’ al-husna

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meningkatkan keimanan kepada malaikat-malaikat Allah SWT dan makhluk gaib selain malaikat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menghindari akhlak tercela kepada Allah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.1

 

 

 

 

 

 1.2

 

 

 

 

 

 

 

 1.3

 

 

 

 

 

 

 

 1.4

 

 

 

 

 

 

 

 

  2.1

 

 

 

 2.2

 

 

 

 

 

 

 

 2.3

 

 

 

 2.4

 

 

 

 

 

 3.1

 

 3.2

 

 

 3.3

 

 

 

 

 3.4

Menguraikan 10 al-asma’ al-husna (al-Aziiz, al-Ghaffar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Baar, al-Ghaffaar, al-Fattah, al-’Adl, al-Qayyum)

 

Menunjukkan bukti kebenaran tanda-tanda kebesaran Allah melalui pemahaman terhadap 10 al-asma’ al-husna (al-Aziiz, al-Ghaffar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Baar, al-Ghaffaar, al-Fattah, al-’Adl, al-Qayyum)

Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan 10 al-asma’ al-husna (al-Aziiz, al-Ghaffar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Baar, al-Ghaffaar, al-Fattah, al-’Adl, al-Qayyum)

 

Meneladani sifat-sifat Allah yang terkandung dalam 10 al-asma’ al-husna (al-Aziiz, al-Ghaffar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Baar, al-Ghaffaar, al-Fattah, al-’Adl, al-Qayyum)dalam kehidupan sehari-hari

 

Menjelaskan pengertian iman kepada malaikat Allah SWT dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan

Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya malaikat Allah dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan

 

 

 

Menjelaskan tugas, dan sifat-sifat malaikat Allah serta makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan

Menerapkan perilaku beriman kepada malaikat Allah dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan dalam fenomena kehidupan

 

Menjelaskan pengertian riya’ dan nifaaq

Mengidentifikasi  bentuk dan contoh-contoh perbuatan riya’ dan nifaaq

Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan riya’ dan nifaaq  dalam fenomena kehidupan

 

Membiasakan diri untuk menghindari perbuatan riya’ dan nifaaq  dalam kehidupan sehari-hari

 

 

KELAS VIII SEMESTER I

 

No

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meningkatkan keimanan kepada kitab-kitab Allah SWT.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menerapkan akhlak terpuji kepada diri sendiri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menghindari akhlak tercela kepada diri sendiri

 

 

 

 

 

1.1

 

 

 1.2

 

 

1.3

 

 

 1.4

 

 

 

2.1

 

 

 

2.2

 

 

 

 2.3

 

 

 

 2.4

 

 

 

3.1

 

 

3.2

 

 

 

 

3.3

 

 

 

  3.4

Menjelaskan pengertian beriman kepada kitab-kitab Allah SWT.

Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya kitab-kitab Allah SWT

Menjelaskan macam-macam, fungsi, dan isi kitab Allah SWT

Menampilkan perilaku yang mencerminkan beriman kepada kitab Allah SWT

 

Menjelaskan pengertian dan pentingnya tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah

Mengidentifikasikan bentuk dan contoh-contoh perilaku tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah

Menunjukkan nilai-nilai positif dari tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah

dalam fenomena kehidupan

Menampilkan perilaku tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah

 

Menjelaskan pengertian ananiah, putus asa, ghadab, tamak dan takabur

Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perbuatan ananiah, putus asa, ghadab, tamak dan takabur

 

Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan   ananiah, putus asa, ghadab, tamak dan takabur

Membiasakan diri menghindari perilaku ananiah, putus asa, ghadab, tamak dan takabur

 

 

KELAS VIII SEMESTER II

 

No

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Meningkatkan keimanan kepada Rasul Allah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Memahami mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash)

 

 

 

 

 

 

 

Menerapkan akhlak terpuji kepada sesama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menghindari akhlak tercela kepada sesama

 1.1

 

 

1.2

 

 

1.3

 

 1.4

 

 

 

 

 

 2.1

 

 

 

 2.2

 

 

 

 

 

 3.1

 

 

 

 3.2

 

 

 

 

 

 3.3

 

 

 

 3.4

 

 

 

 

 4.1

 

 

 4.2

 

 

 4.3

 

 

 

 4.4

Menjelaskan pengertian dan pentingnya beriman kepada Rasul Allah SWT

Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya Rasul Allah SWT

Menguraikan sifat-sifat Rasul Allah SWT

Menampilkan perilaku yang mencerminkan beriman kepada Rasul dan mencintai Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan

 

Menjelaskan pengertian mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash)

Menunjukkan hikmah adanya mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash) bagi Rasul Allah dan orang-orang pilihan Allah

Menjelaskan pengertian dan pentingnya husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun

Mengidentifikasi bentuk dan contoh perilaku husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun

 

 

Menunjukkan nilai-nilai positif dari husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun dalam fenomena kehidupan

Membiasakan perilaku husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun dalam kehidupan sehari-hari

 

 Menjelaskan pengertian hasad, dendam, ghibah, fitnah, dan namiimah

Mengidentifikasi bentuk perbuatan hasad, dendam, ghibah, fitnah, dan namiimah

Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan hasad, dendam, ghibah, fitnah, dan namiimah

Membiasakan diri menghindari perilaku hasad, dendam, ghibah, fitnah, dan namiimah dalam kehidupan sehari-hari

 

 


KELAS IX SEMESTER I

 

No

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meningkatkan keimanan kepada hari akhir dan alam gaib yang masih berhubungan dengan hari akhir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menerapkan akhlak terpuji kepada diri sendiri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.1

 

1.2

 

 

1.3

 

 

  1.4

 

 

  1.5

 

 

 

2.1

 

 

  2.2

 

 

 

  2.3

 

 

 

 2.4

 

Menjelaskan pengertian beriman kepada hari akhir.

Menunjukkan bukti/dalil kebenaran akan terjadinya hari akhir

Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan dengan hari akhir

Menjelaskan macam-macam alam gaib yang berhubungan dengan hari akhir

Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap hari akhir

 

Menjelaskan pengertian dan pentingnya berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif

Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif

Menunjukkan nilai-nilai positif dari berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif dalam fenomena kehidupan

Membiasakan perilaku berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif dalam kehidupan sehari-hari

 

KELAS IX SEMESTER II

 

No

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meningkatkan keimanan kepada Qada dan Qadar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menerapkan akhlak terpuji dalam pergaulan remaja

 

1.1

 

 

1.2

 

 

1.3

 

 

  1.4

 

 

  1.5

 

 

 

2.1

 

 

2.1

 

 

2.3

 

 

 

 

2.4

 

Menjelaskan pengertian beriman kepada Qada dan Qadar

Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya Qada dan Qadar

Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan adanya Qada dan Qadar

Menunjukkan ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada Qada dan Qadar Allah

Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan

kepada Qada dan Qadar Allah

 

Menjelaskan pengertian dan pentingnya akhlak terpuji dalam pergaulan remaja

Mengidentifikasi bentuk dan contoh perilaku akhlak terpuji dalam pergaulan remaja

Menunjukkan nilai negatif akibat perilaku pergaulan remaja yang tidak sesuai dengan akhlak Islam dalam fenomena kehidupan

Menampilkan perilaku akhlak terpuji dalam pergaulan remaja dalam kehidupan sehari-hari.

 

Materi ini disajikan sesuai dengan materi yang tercantum dalam GBPP aqidah akhlak Madrasah Tsanawiyah dengan menggunakan buku pedoman pelajaran Aqidah akhlak, materi yang ada merupakan awal pengajaran dalam meningkatkan kemampuan siswa.[21]

Dengan adanya meteri di atas,memudahkan bagi guru untuk membuat rancangan pembelajaran yang akan di sampaikan kepada siswa, dengan silabus di atas mempermudah bagi siswa dalam belajar aqidah akhlak.

 


C.            Metode pembelajaran Aqidah Akhlak

Dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 152, disebutkan:

 

 

 

 

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Nahl: 125)

 

Dari ayat di atas berkaitan dengan cara atau metode yang di pergunakan dalam mengajar, misalnya sebelum melakukan sesuatu, memikirkan apa yang mungkin akan terjadi dan menimbangnya, maka di sinilah pentingnya hikmah dan ketelitian dalam bekerja.[22]

Dalam psikologi kognitif, metode diartikan sebagai prosedur mental yang berbentuk tatanan tahapan yang memerlukan alokasi, atau pilihan-pilihan kebiasaan belajar yang mampu menumbuhkan semangat dalam belajar sukar.[23]

Menurut Bahri, metode adalah cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[24] Metode pembejaran adalah salah satu komponen dalam proses belajar mengajar, tanpa ada metode yang tepat proses belajar mengajar tidak mungkin berhasil dengan efektif dan efisien.[25] Metode pembelajaran mempunyai andil yang  cukup besar dalam kegiatan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran akan dapat dicapai  dengan penggunaan metode yang tepat.[26]

Cara merupakan teknik, pola, taktik dan upaya serta  usaha yang digunakan dalam melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.. Menurut Poerwadarminta, cara adalah strategi yang dilakukan seseorang dalam mecapai tujuan yang telah ditetapkan.[27]

            Setiap metode mempunyai sifat atau  ciri tertentu baik segi kelemahannya atau kebaikannya.  Dalam mengajar jarang ditemukan guru hanya menggunakan  satu macam metode saja tetapi  guru menggunakan kombinasi beberapa metode. Pemakaian metode pembelajaran dalam suatu mata pelajaran tertentu perlu dipertimbangkan beberapa komponen yang terikat dalam proses belajar mengajar.[28] Diantaranya adalah: tujuan, materi, siswa, situasi, kelas dan guru sebagai operator dalam pemakaian metode mengajar, pemakaian metode yang tepat akan dapat meningkatkan motivasi belajar.[29] Sedangkan penggunaan metode yang tidak tepat akan menjadi hambatan yang paling besar dalam  proses belajar mengajar.[30]Dalam proses pembelajaran aqidah akhlak metode-metode yang tepat digunakan antara lain sebagai berikut:

1. Metode Ceramah

Yang dimaksud dengan metode ceramah, menurut Team Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya ialah: “Penerangan atau penuturan secara lisan oleh guru kepada siswanya”.[31] Metode ini lebih di fokuskan pada guru sedangkan murid dalam hal ini hanya mendengarkan dengan teliti serta mencatat pokok penting yang dikemukakan oleh guru.

Metode ceramah juga diartikan sebagai suatu cara  penyajian atau penyampaian suatu informasi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap siswanya.[32] Dengan kata lain metode ceramah ini murid mendengar dan siswa menyimpulkan sendiri menurut kamampuannya.

Dalam surat Yusuf ayat 3, disebutkan:

ß`øtwU Èà)tR y7øn=tã z`|¡ômr& ÄÈ|Ás)ø9$# !$yJÎ/ !$uZøym÷rr& y7øs9Î) #x»yd tb#uäöà)ø9$# bÎ)ur |MYà2 `ÏB ¾Ï&Î#ö7s% z`ÏJs9 šúüÎ=Ïÿ»tóø9$# ÇÌÈ

Artinya:   Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran Ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum Mengetahui. (QS. Yusuf: 3)

Dalam belajar aqidah akhlak metode ceramah ini tepat untuk dilaksanakan, karena metode ini menjelaskan secara detail dan jelas tentang sesuatu topik yang dibahas secara luas, mendalam dan sistematis. Apalagi bila guru memiliki keterampilan berbicara yang dapat menarik perhatian siswa.[33] Dalam memberikan pengertian tentang tauhid dan keimanan misalnya, sebagaimana diketahui menjelaskan tentang keimanan dan tauhid sulit untuk diperagakan.sebagaimana firman Allah dalam surat Yusuf ayat, 3.

Metode ceramah mempunyai kebaikan dan kelemahan-kelemahan. Adapun kelebihan metode ceramah pada pelajaran aqidah akhlak, yaitu:

1.      Siswa mendapatkan informasi tentang suatu pokok atau persoalan tertentu bila tidak memiliki bahan bacaan tentang aqidah akhlaq,

2.      Guru lebih mudah mengawasi ketertiban siswa dalam mendengarkan pelajaran,Anak-anak serempak mendengarkan penjelasan guru,

3.      Guru sepenuh perhatian dapat memusatkan pada kelas yang sedang bersam-sama mendegarkan pelajaran.[34]

 

Sementara kelemahan metode ceramah yaitu:

 

1.      Guru tidak mampu untuk mengontrol sejauh mana siswa telah memahami uraiannya yang telah dijelaskan,

2.      Membuat siswa hanya mampu mendengar terhadap materi yang disampaikan tidak memberi kemungkinan aktif,

3.      Siswa kurang memahami bila ada sesuatu yang penting untuk diperagakan.[35]

 

2. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh anak didik.[36] Karena dalam metode ini seorang guru bertanya kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca sambil memperhatikan berfikir diantara murid-murid [37]. Dalam melaksanakan metode tanya jawab, pertanyaan dapat diajukan oleh guru atau murid dan demikian juga jawabannya dapat diberikan oleh guru atau murid pula. Dengan kata lain, guru bertanya dan murid menjawab, murid bertanya guru manjawab atau murid yang satu bertanya  dan murid yang lainnya memberikan jawaban. Misalnya tentang materi Tauhid (Keesaan Allah), tentang rukun iman dan tentang muamalah.

     Kelebihan metode Tanya jawab yaitu:

1.      Tanya jawab dapat memperoleh sambutan yang lebih aktif bila dibandingkan dengan hasil dari metode ceramah,

2.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan hal-hal yang belum jelas atau dimengerti sehingga guru dapat memperjelas kembali,

3.      Mengetahui perbedaan pendapat antara siswa dengan guru, dan akan membawa ke arah diskusi.     

            Dalam pembelajaran aqidah akhlak juga mampu memperjelas kembali terhadap materi yang belum dikuasai atau belum jelas, seperti materi Tauhid misalnya, bagaimanapun materi ini agak sulit untuk dipahami, karena materinya berkenaan tentang Allah, dari itu perlu usaha tanya jawab untuk memperjelas kembali. Adapun kelemahan metode ini yaitu;

1.  Dapat menyimpang dari pokok persoalan yang sedang di pelajari,

2. Sukar membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat kemampuan       siswa,

3.  Siswa takut dalam memberikan jawaban atau pertanyaan.


     3. Metode Diskusi

            Metode diskusi adalah cara penyampaian pelajaran dimana para siswa dihadapkan pada masalah yang bisa berupa pertanyaan untuk dipecahkan bersama.[38] Dalam metode diskusi ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling memberi informasi, pendapat, membuat kesimpulan atau pemecahan masalah. Yang perlu mendapatkan perhatian ialah hendaknya para siswa berpartisipasi secara aktif di dalam forum diskusi, semakin banyak siswa terlibat dan menyumbangkan fikirannya, semakin banyak pula yang dapat mereka pelajari.[39]

            Dalam surat An-Nahl ayat 125 menerangkan:

Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr&  ÇÊËÎÈ

Artinya: “…dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl: 125).

Dalam pembelajaran aqidah akhlak, metode ini baik bila digunakan, artinya siswa mampu memahami dan memperoleh informasi baru dari semua teman sekelasnya. Misalnya mendiskusikan tentang hal bertetangga dalam Islam, bergaul yang dituntun dalam Islam. Kelebihan dalam penerapan metode ini yaitu:[40]

1.  Membuat siswa lebih aktif di dalam kelas dan membuat suasana lebih      hidup

2.    Membuat siswa berfikir secara ilmiah dalam memberikan gagasan

3.    Membiasakan anak didik bersifat toleran.

Sementara kelemahan metode ini yaitu,

1.    Sulit bagi guru untuk mengarah penyelesaian diskusi.

2.    Sulit bagi siswa untuk berfikir ilmiah

Dalam belajar aqidah akhlak metode ini perlu di gunakan, misalnya tentang beriman kepada Rasul, melatih murid untuk berani dalam mengeluarkan pendapat, metode ini merupakan lapangan yang bersedia untuk mendidik anak berfikir, belajar bermusyawarah dan membiasakan sifat toleran.[41]

     4. Metode Demontrasi

          Metode demontrasi merupakan metode yang menggunakan alat peraga yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Dalam pelaksanaan pendidikan agama dan pembinaan akhlak, metode demontrasi dipergunakan dalam mempraktekkan bagaimana sikap seorang guru dalam kesehariannya yang mencerminkan akhlak alkarimmah seperti sopan santun dan berbuat baik terhadap sesama manusia maupun akhlak terhadap lingkungannya.

Dalam metode ini, juga memiliki kelebihan dan kekurangan, adapun sisi kelebihan dalam penerapan metode ini adalah;

1.      Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya proses kerja suatu benda,

2.      Memudahkan berbagai jenis penjelasan sebuah penggunaan bahasa sehingga dapat lebih terbatas, dan

3.      Kesalahan yang tejadi dari hasil metode ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh konkrit yang dilakukan pada metode demontrasi,[42]

 


Semetara kekurangan dalam penerapan metode ini adalah;[43]

1.      Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukan,

2.      Tidak sesuai benda dapat didemontrasikan, dan

3.      Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai materi apa yang didemonstrasikan.

 

Dalam pembelajaran aqidah akhlak metode ini perlu karena memudahkan siswa dalam memahami pelajaran, misalnya tentang akhlak terpuji, di mana kita harus mempraktek kepada siswa bagaimana cara kita saling tolong menolong, bertoleransi dengan teman agar mereka mudah dalam mempraktekkannya dalam kehidupan.

      5. Metode Resitasi

Metode resitasi yaitu pemberian tugas terhadap materi telah dipelajari atau menguraikan kembali pelajaran sebagaimana yang telah ditugaskan oleh guru”. [44]

Metode ini merupakan metode pemberian tugas kepada siswa agar siswa belajar dan  mengulang kembali pelajaran yang telah di pelajari di sekolah. Metode ini perlu dalam pembelajaran aqidah akhlak yaitu tentang materi Al-asma al-husna. Sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman; 13

øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia member pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaziman yang besar.” (Q.S Luqman : 13 )

Metode Resitasi mempunyai tujuan tersendiri, baik pada proses belajar mengajar di sekolah maupun di luar sekolah. Adapun kelebihan metode ini adalah:

1.      Murid-murid mempunyai tanggung jawab serta berdiri sendiri.

2.      Pengetahuan yang diterima di dalam kelas menjadi lebih mantap dengan mengerjakan kembali tugas-tugas tersebut di rumah,[45]

3.      Pengetahuan yang telah diperoleh akan dapat diingat lebih lama.

Semetara kekurangan dalam metode ini adalah;

1.      Siswa sering melakukan penipuan, di mana hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mahu bersusah payah,

2.      Terkadang tugas dikerjakan oleh orang lain, dan

3.      Sukar memberikan tugas perbedaan individual.[46]

 

Metode pemberian tugas sangat cocok dalam proses belajar mengajar aqidah akhlak, yang mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar untuk menguatkan apa-apa yang telah dipelajarinya. Metode ini merangsang anak untuk selalu aktif belajar, baik secara individu maupun secara kelompok, yang mempunyai tujuan untuk mendidik siswa supaya bertanggung jawab ata segala tugasnya.

 

 

     6. Metode Drill

Kata drill berasal dari bahasa Inggris yang berarti latihan, yaitu suatu cara penyajikan bahan pelajaran dengan melatih atau membiasakan siswa menguasai pelajaran dan terampil dalam pelaksanaan tugas latihan yang diberikan. Dalam pembinaan akhlak, anak didik dilatih supaya memiliki akhlak yang mulia yaitu melatih untuk menghormati dan bersikap sopan santun kepada orang tua, sesama teman, guru dan yang lainnya.[47]

Metode drill bertujuan untuk menguji kemampuan siswa dalam hal melakukan kegiatan intelektual siswa. Seperti dalam menghafal mata pelajaran yang memerlukan hafalan.

Pelajaran aqidah akhlak mengandung pembahasan tentang dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Sehingga menjadi penting penerapan metode ini, agar siswa menguasai secara keseluruhan terhadap topik yang dibahas beserta dalil. Latihan dalam metode ini bisa saja di ruangan kelas, bisa juga dilakukan sebagai latihan rumah.

 Sebagaimana Rasulullah SAW, bersabda:

              قال رضى عنه النبي صلى الله عليه و سلم قال أكمل المؤمنين إيمان أحسنهم خلقا

 

Artinya: “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya”.[48]

D.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran Aqidah Akhlak

Kegiatan apapun yang dilakukan manusia selalu dipengaruhi oleh faktor tertentu, karena faktor inilah seseorang berinterakasi dan melakukan sesuatu, begitu pula halnya dengan guru dalam menggunakan metode pada proses belajar mengajar di sekolah, pasti dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu, sehingga guru harus menggunakan metode tertentu, tepat dan sesuai dengan materi yang.

Untuk mencapai hasil yang baik dalam pembelajaran perlu diperhatikan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi belajar siswa tersebut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:

1.      Faktor tujuan yang berbagai-bagai jenis dan fungsinya,

2.      Faktor anak didik yang berbagai tingkat kematangannya,

3.      Faktor fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitasnya, dan

4.      Faktor pribadi guru serta kemampuan guru yang berbeda-beda.[49]

Dari beberapa faktor di atas saling berhubungan sehingga menjadi hambatan pada saat berlangsungnya pelajaran aqidah akhlak, baik dari siswa maupun dari guru. Pelajaran aqidah dan akhlak merupakan salah satu mata pelajaran yang mengantarkan peserta didik untuk menguasai pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran Islam dan dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain faktor di atas juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, yaitu sebagaimana tersebut di bawah:

 

 

  1. Faktor Internal

Faktor internal merupakan semua faktor yang berasal dari dalam diri individu yang belajar, baik yang berkenaan dengan jasmani maupun rohani, psikologi dan faktor kelelahan”.[50] Contoh dalam faktor ini, seperti membiasakan sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam yang terkandung dalam Al Qur’an dan Hadist serta dicontohkan oleh para ulama. Faktor jasmaniah sama dengan faktor biologis, faktor psikologis berupa faktor yang bersifat rohaniah dan kelelahan menyertai keduanya.

عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه        و سلم: إن فيك لخلقين يحبهما الله: الحلم و الأناة 

 

Artinya: Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Allah sukai; sifat santun dan tidak tergesa-gesa”.[51]

a.       Faktor Jasmaniah (Fisik)

           Faktor jasmani merupakan faktor yang berasal dari diri individu itu sendiri yang berkaitan dengan keadaan fisik dan panca indra. Dalam proses belajar mengajar faktor jasmani sangat berperan, keadaan jasmani yang tidak normal dapat mengganggu kegiatan belajar. Selain itu juga akan cepat lelah, kurang semangat, ngantuk dan gangguan-gangguan fungsi alat indranya. Karena itu hendaknya bisa dihindari atau dicegah berbagai penyakit yang bisa mengganggu kesehatan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Sumadi Suryabrata: “ Penyakit seperti flu, sakit gigi, batuk dan sejenisnya, itu biasanya yang diabaikan karena dipandang tidak cukup serius untuk mendapatkan perhatian dan pengobatan. Akan tetapi kenyataan penyakit-penyakit seperti itulah yang sangat mengganggu aktivas belajar”.[52]

            Keadaan jasmani yang kurang sehat dapat mempengaruhi seseorang dalam belajar. Sebagaimana yang dikatakan Djamarah, bawa :

“Tubuh adalah fisik yang terbatas daya tahannya, tubuh yang sehat bila tidak dijaga akan mengalami sakit dan kelelahan dan sungguhpun demikian kelelahan sewaktu-waktu pasti terjadi atas diri seseorang terutama jika dipakai untuk kerjaan yang berat-berat, hal ini dapat mempengaruhi kegiatan belajar seseorang”.[53]

 

Disamping itu adanya gangguan emosional, rasa tidak senang serta adanya gangguan dalam proses berpikir juga berpengaruh terhadap kemajuan proses belajar seseorang. Hamalik, mengatakan bahwa :

“Badan yang sering sakit-sakitan dan kurang vitamin, merupakan faktor yang bisa menghambat kemajuan studi seseorang, adanya gangguan emosional, rasa tidak tenang, kuatir, mudah tersinggung, sikap agresif, gangguan dalam proses berpikir semua menjadikan kegiatan belajar terganggu”.[54]

Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa faktor kesehatan jasmani dan kesehatan rohani turut menentukan apakah studi akan lancar atau tidak belajar aqidah akhlak. Maka jelaslah bahwa faktor kesehatan memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan studi seseorang dan prestasi belajar dapat dicapai seperti apa yang diharapkan.

          Di samping itu, hal yang tidak kalah pentingnya yaitu kondisi panca indra, dimana panca indra yang paling memegang peranan penting dalam belajar merupakan mata dan telinga. Normalnya kondisi pancra indra merupakan syarat mutlak untuk memperoleh pengetahuan secara jelas dan tepat bahwa

 Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh Suryabrata, (2006:230) bahwa “Pancaindra dapat dimisalkan sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh ke dalam individu, orang mengenal dunia sekitarnya dan belajar dengan mempergunakan pancaindranya. Baiknya pancaindra merupakan syarat dapatnya belajar itu dengan baik”.[55] Pancaindra yang memegang peranan penting adalah mata dan telinga. Bahwa berfungsi pancaindra merupakan syarat untuk dapat berlangsungnya belajar dengan baik dan kesehatan jasmani dan rohani seseorang turut menentukan apakah studi seseorang akan lancar atau kelancaran dari proses belajar-mengajar, sehingga untuk mencapai hasil belajar yang maksimal perlu kiranya untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan rohani agar dapat berfungsi sebaik-baiknya.

b.      Faktor Rohani

Faktor rohani atau kejiwaan merupakan segala bentuk kemampuan yang berpusat pada otak dan akal yang turut mempengaruhi kompetensi belajar siswa, yaitu berupa faktor:

(a)  Intelegensi (Kemampuan Intelektual)

Dalam proses belajar aqidah akhlak intelegensi sangat berperan, mempunyai kemampuaan tinggi besar kemungkinan akan maju dalam belajar sehingga dengan mudah dapat mencapai prestasi yang tinggi, tidak sama dengan siswa yang kecerdasannya lebih rendah meskipun usaha dan belajarnya sama.

M. Ngalim Poerwanto, menyatakan bahwa: “Intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, kemungkinan seseorang berbuat dengan cara tertentu”.[56]

Kecerdasan adalah kemampuan seseorang dalam mencapai prestasi baik itu di sekolah, keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Guru sebagai pendidik dalam membimbing siswa memperhatikan tingkat kemampuan seorang siswa dalam memahami mata pelajaran yang diajarkan dan akan mencapai prestasi belajar yang memuaskan.

Dalam belajar aqidah akhlak guru berperan untuk memadukan metode yang tepat sehingga siswa menyukai belajar pelajaran aqidah akhlak.

(b)  Bakat

Bakat merupakan kemampuan dasar seseorang yang dibawa anak sejak lahir dan dapat dikembangkan bila seseorang memperoleh pengaruh luar dan kesempatan.[57] Bakat merupakan salah faktor yang mempunyai peranan penting terhadap keberhasilan belajar seseorang. Seperti yang dikemukakan ole Suryabrata yaitu: “Seseorang akan lebih berhasil kalau ia belajar dalam lapanngan yang sesuai dengan bakatnya, demikian juga dengan lapangan kerja”.[58]

Bakat juga suatu kecenderungan yang tampak pada tingkah laku manusia pada bidang keahlian tertentu, bakat juga dapat mempengaruhi belajar seseorang. Suryabrata mengatakan bahwa: “Bakat itu terutama pada kemampuan individu untuk melakukan suatu tugas sedikit sekali memerlukan latihan tentang hal itu”.[59]

(c)   Minat

Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena apabila tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.[60]  Tidak adanya minat seseorang dalam mempelajari suatu pelajaran bisa menimbulkan kesulitan belajarnya. Seperti diungkapkan oleh Mudzakir bahwa, “Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan tipe-tipe khusus anak banyak menimbulkan problema pada dirinya, karena itu tidak pernah terjadi proses dalam otak, akibatnya timbul kesulitan”.[61]

Ada tidak minatnya terhadap suatu pelajaran dapat dilihat dari cara anak mengikuti mata pelajaran, mau atau tidaknya menyelesaikan tugas yang diberikan dengan melihat catatannya. Maka dari petunjuk itu kita dapat menemukan apakah kesulitan belajarnya disebabkan karena tidak adanya minat atau sebaliknya.

(d)  Motivasi

Dalyono menjelaskan bahwa, “Motivasi sebagai faktor batin berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya”.[62]

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memotivasinya besar, akan giat belajar untuk meningkatkan prestasinya, sebaliknya jika dalam kegiatan belajar tidak ada motivasi bisa berakibat pada kesulitan dalam belajar bahkan sering meninggalkan pelajaran.

(e)  Perhatian

Prestasi belajar yang baik dapat terjamin bila anak didik punya suatu perhatian terhadap bahan pelajaran yang dipelajarinya. Dalam proses belajar aqidah akhlak guru harus bisa menarik perhatian siswa agar siswa menyukainya dan tidak membuat suasana jenuh.[63]

 

  1. Faktor Eksternal

Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar anak, faktor ini dapat dibagi dari tiga sudut pandang, yaitu:

a.       Faktor Keluarga

Faktor keluarga adalah faktor salah satu faktor yang paling penting dan turut berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama kali dikenal oleh anak, anak mulai menerima nilai-nilai baru dari dalam keluarga dan dari keluargalah anak mulai mensosialisasikan diri[64]. Didalam keluarga anak mulai tumbuh sejak kecil. Sebagaimana hadits di bawah ini:

عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه و سلم: كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودان أو ينصرانه أو يمجسانه… (رواه مسلم)

Artinya : “Dari Abu Hurairah R.a berkata bahwa nabi Saw bersabda; Setiap anak dilahirkan atas dasar fitrah , maka tergantung pada kedua orang tuanya yang menjadikan anak sebagai yahudi, nasrani, dan majusi”.[65]

 

Hadits di atas menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara anak dengan lingkungan sekitarnya terutama orang tua. Anak tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa peran orang tua. Jadi orang tua bertanggung jawab dalam membimbing, mengarahkan perkembangan ( pendidikan ) anak agar tercapainya apa yang dicita-citakan anak.

Slameto, mengatakan bahwa: “Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama, keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan kecil tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia”.[66].

Sebuah keluarga yang baik akan memberikan rasa aman, tentram, dan harmonis bagi anak-anaknya. Perhatian dan pengertian orang tua akan mendorong dan memotivasi anak agar lebih aktif belajar. Keluarga yang tidak harmonis merupakan salah satu faktor utama terjadinya masalah dikalangan pelajar baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dimana anak menjadi nakal, memberontak dan sukar di didik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tuanya, sehingga mempengaruhi perkembangan pendidikan anak, akibatnya prestasi yang dicapai juga rendah.

 

 

b.      Lingkungan Sekolah

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Sekolah merupakan sumber ilmu dan bekal tempat menimba ilmu pengetahuan.[67] Dengan menitipkan anak –anaknya kesekolah , orang tua mengharapkan pihak sekolah dapat membimbing dan mengarahkan putra putrinya dengan materi yang diajarkan di sekolah tersebut.Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat Ali Imran ; 159

$yJÎ6sù 7pyJômu z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $ˆàsù xáÎ=xî É=ù=s)ø9$# (#qÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym ( ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó$#ur öNçlm; öNèdöÍr$x©ur Îû ͐öDF{$# ( #sŒÎ*sù |MøBztã ö@©.uqtGsù n?tã «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

 

Dalam hal ini lingkungan sekolah sebagai tempat anak belajar dapat mempengaruhi pelaksanaan pendidikan agama pada anak didik di sekolah. Oleh karena itu, orang tua hendaknya memilih sekolah yang mampu mendidik dan memotivasi anak untuk mencintai pelajaran agama sejak dini.

 

 

c.       Lingkungan Masyarakat

Masyarakat adalah faktor yang tidak kalah pentingnya dalam belajar. Masyarakat dalam pengertian yang luar adalah lingkungan pendidikan yang besar

pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi seseorang.[68] Masyarakat merupakan pendidikan di luar sekolah dan keluarga yang merupakan pusat pendidikan yang ketiga. Allah berfirman dalam surat At-Tahrim ; 6

$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#yÏ© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

 

Lingkungan masyarakat ini dapat pula berpengaruh terhadap perkembangan peserta didik baik menguntungkan maupun merugikan, sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari lingkungan masyarakat. Ia harus berhubungan dengan masyarakat hakikat kemanusiaan, hanya bisa muncul dalam pergaulan antara manusia.

Dalam hal ini apabila lingkungan masyarakat di sekitarnya baik akan mendukung kegiatan lingkungannya, sebaliknya bila lingkungan masyarakatnya tidak baik maka akan mempengaruhi aktifitas belajarnya, sehingga mengakibatkan kemunduran dalam prestasi belajar.

 

E. Sistem Evaluasi Pembelajaran Aqidah Akhlak 

Evaluasi merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran pada khususnya dan sistem pendidikan pada umumnya, artinya evaluasi merupakan suatu kegiatan yang tidak mungkin dielakkan dalam setiap proses pembelajaran. Dalam setiap proses pembelajaran evaluasi penting untuk dilakukan guna mengetahui sejauh mana daya serap siswa terhadap pelajaran yang disajikan. Begitu pula halnya dengan pengajaran mata pelajaran aqidah akhlak, hendaknya seorang guru mengadakan evaluasi terhadap hasil belajar siswa.

Oemar Hamalik, menyatakan bahwa “Evaluasi sebagaimana kita lihat adalah sistem yang mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk menetapkan apakah di dalam fakta (kenyataan) yang tertentu perubahan-perubahan telah terjadi di dalam proses belajar baik untuk menetapkan jumlahnya atau kadar/tingkat perubahan siswa secara individual”.[69]

Berdasarkan pendapat di atas bahwa evaluasi merupakan penilaian yang diajukan terhadap seluruh aspek pribadi murid, dalam seluruh situasi pendidikan yang dialaminya. Untuk itu diperlukan evaluasi untuk mengetahui berhasil tidaknya seorang siswa dalam pekerjaannya. Dengan mengukur hasil pekerjaannya, maka dapat diketahui batas kesanggupan, penguasaan tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam menyelesaikan suatu tugas yang dibebankan kepadanya.

 Oleh karena itu, kemampuan guru menyusun alat dan melaksanakan evaluasi merupakan bagian dari kemampuan penyelenggarakan proses pembelajaran secara keseluruhan.[70]

Proses belajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran khusus. Untuk melihat keberhasilan tersebut juga perlu melakukan berbagai evaluasi, sehingga dapat diketahui akan kekurangan yang ditimbulkan. Fungsi penilaian/evaluasi ini untuk memberikan umpan balik dalam rangka memperbaiki proses belajar dan melaksanakan program bagi siswa.

Adapun tujuan evaluasi adalah:

1.      Untuk mengetahui sejauhmana tingkat kemampuan kecerdasan yang dimiliki siswa.

2.      Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam proses belajar.

3.      Untuk mengetahui hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses belajar mengajar.[71]

 

Menurut Muchtar Bukhari, tugas khusus dari evaluasi pendidikan ada dua, yaitu:[72]

1.      Untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik setelah ia menyadari pendidikan pendidikan selama jangka waktu tertentu,

2.      Untuk mengetahui tingkat efesien metode-metode pendidikan yang dieprgunakan pendidikan selama jangka waktu tertentu.

 

Bertitik tolak dari kutipan di atas , jelaslah bahwa evaluasi adalah untuk mengukur keberhasilan pencapaian tujuan dan membangkitkan gairah belajar siswa serta untuk mengetahui kemampuan siswa dan kegunaan serta kekurangan usaha pendidikan. Setiap proses belajar mengajar yang berakhir harus selalu diikuti dengan evaluasi. Karena dengan melalui evaluasi itu dapat diketahui hasil belajar siswa dan hasil mengajar guru. Untuk itu perlu adanya bekal ilmu yang berkaitan dengan evaluasi.

Teknik evaluasi pengajaran aqidah akhlak merupakan alat yang digunakan dalam rangka melakukan evaluasi hail belajar siswa. Dalam konteks evaluasi hasil belajar siswa di sekolah, dikenal ada dua macam teknik evaluasi yaitu tes dan non tes. Dengan teknik tes , maka hasil proses pembelajaran di sekolah itu dilakukan dengan jalan menguji peserta didik , sebaliknya dengan teknin non tes evaluasi dilakukan tanpa menguji peserta didik misalnya dengan observasi terkontrol.

Berikut adalah beberapa macam tes yang dibagi dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:

a.       Tes Awal (Pre tes)

Tes ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana materi atau bahan pelajaran aqidah akhlak yang diajarkan telah dapat dikuasai oleh siswa. Jadi tes awal ialah tes yang dilakukan sebelum bahan pelajaran diberikan kepada siswa. Maksudnya adalah untuk memfokuskan perhatian obyek didik pada informasi pelajaran yang akan diberikan, dengan kata lain menciptakan suasana agar mereka siap baik fisik, mental maupun emosi untuk menerima pelajaran. Untuk itu maka pada saat mulai pelajaran, disampaikan pertanyaan-pertanyaan yang ada kaitannya atau relevansi dengan pelajaran yang diberikan.[73]

b.      Tes Akhir (Tes sumatif)

Yaitu, yang dilakukan pada akhir semester, yang bertujuan mengukur kemampuan atau keberhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh.[74] Tes akhir dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang telah diajarkan telah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh peserta didik (siswa). Maksudnya adalah untuk mengetahui sejauh mana daya tangkap/serap siswa terhadap pelajaran yang bersangkutan.[75]

c.       Tes Formatif

Yaitu, tes yang dilakukan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Isinya mencakup semua unit pengajaran yang telah diajarkan. Tujuan utamanya untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar.[76] Tes ini digunakan untuk mengetahui penguasaan peserta didik terhadap bahan pelajaran aqidah akhlak setelah mengikuti proses pembelajaran dalam waktu tertentu. Dalam kedudukannya tes formatif dapat dipandang sebagai tes diagnosis pada akhir pelajaran. Hasil tes ini untuk memperbaiki proses belajar mengajar bahan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Tes ini pada umumnya dilakukan dalam proses belajar mengajar atau pada saat tertentu selama priode pelajaran berlangsung. Maksudnya adalah untuk mendapat umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar itu sendiri dan perbaikan cara belajar siswa yang bersangkutan.[77]

d.      Tes Sumatif

Tes sumatif dilaksanakan untuk mengukur kemampuan siswa terhadap bahan yang telah diajarkan selama satu semester. Tujuannya untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar anak didik dalam satu periode belajar tertentu. Hasil dari tes sumatif ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyususn peringkat atau rangking. Dalam pelaksanaan di sekolah tes sumatif dapat dilaksanakan denagn ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada akhir semester.

Setelah mengetahui makna dan tujuan pendidikan aqidah akhlak pada siswa, betapa begitu penting pendidikan atau pelajaran aqidah akhlak ini diberikan atau diajari pada setiap siswa semakin baik pula cara hidup yang dimiliki oleh siswa. Karena sebagaimana diketahui aqidah ini merupakan sebuah keyakinan yang melekat pada hati seseorang yang tidak akan bisa hilang begitu saja.[78] Sangat ideal bila pelajaran ini terus menerus diajari dengan baik dan terarah, agar salah satu tujuan dari pelajaran ini, yaitu membentuk jati diri manusia yang baik dan berkualitas di sisi Allah Swt, masyarakat, negara dan keluarga sebagaimana yang dituntut dalam islam. Diakui atau tidak, tanpa aqidah dan akhlak pada diri manusia akan semakin sulit pula membentuk jati diri yang kokoh dan berkualitas ketaqwaan.

 



 

[1] A.W. Minawar, Kamus Al-Munawar. (Surabaya: Pustaka Progesit, 1985). hal. 1024

 

[2]  Hasbi Ash- Shadiqy, Sejarah Pengantar Ilmu Tauhid. (Jakarta: Bulan Bintang, 1983). hal. 43.

 

[3] Abdul Malik Karim Abdullah (Hamka), Studi Islam. (Surabaya : Pustaka, 1992). hal. 53.

 

[4] Abu Ahmadi dan Nur Salimi, Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal. 198.

[5] M. Ali Hasan. Tuntunan Akhlak,( Jakarta : Bulan Bintang, Cet II, 1982 ).hal. 10.

 

[6] Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin; Bimbingan mencapai mukmin, (Al-Maktabah At-Tijjariyyah Al-Kubro), hal. 505.

 

[7] W.J.S Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), hal. 14.

 

[8] Darwia A. Soelaiman, Pengantar Kepada Teori dan Praktek Pengajaran, (Jakarta: Gramedia, 1979), hal. 36.

 

[9] Elly M. Setiadi, dkk, Ilmu Sosial dan Budaya dasar, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 64.

 

[10] Ibid.

 

[11] Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 57.

 

[12] Ibid., hal. 59.

 

[13] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 13.

 

[14] Husni Rahim., Op. cit., hal. 72-73.

 

[15] Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama dan Bahasa Arab di Madrasah

 

[16] Tim Penyusun Kurikulum, Kurikulum Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar,( NAD Dinas Pendidikan, 2001 ). hal.39.

 

[17] Wina Sanjana  Strategi pembelajaran Berorientasi standar proses pendidikan (jJakarta :Kencana 2007), hal. 52.

 

[18] R. Ibrahim, Nana Syaodih. Perencanaan Pengajaran,( Jakarta : Rineka Cipta, 2002), hal. 100.

 

[19] Omar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal. 57.

 

[20] Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah.

[21] Ibid.

 

[22] Fariq bin Qasim Anuz, Fikih Nasehat, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2005),Cet II,  hal. 84.

 

[23] Djamarah S. B. dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 14.

 

[24] Saiful Bahri Djamarah dan Azwar Zein, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka cipta,1996), hal.53.

[25] Dimyati, Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hal. 47.

 

[26] Hamalik, Oemar, Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar, (Bandung: Tarsito, 1983), hal. 28.

 

[27] Poerwadarminta, W.J.S., Op. cit., hal. 206.

 

[28] Romayulis, Metodelogi Pengajaran Agama Islam. (Jakarta : Kalam Mulia, 1994), hal. 125.

 

[29] Daryanto. Tujuan, Metode dan Satuan Pelajaran dalam Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Tersito. 1983), hal. 31. 

 

[30] Daryanto., Op. cit., hal. 32.

[31] Team Didaktik Metodik Kurikulum, (Surabaya: IKIP, 1976), hal. 41.

 

[32] Romayulis., Op. cit., hal.129.

[33] Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001) cet VI, hal. 137.

 

[34] Ibid., hal. 138.

 

[35] Ibi., hal. 139.

 

[36] Syaiful Bahri Djamarah,  Guru dan Anak didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta:  Rineka Cipta, 2000), hal.203.

 

[37] Ramayulis., Op. cit., hal. 129.

 

[38] Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,1995), hal.309.

 

[39]  Ibid., hal. 309-341.

 

[40] Hasan, Husen., Op. cit., hal. 28.

 

[41] Ramayulis., Op. cit., hal. 143.

 

[42] Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif suatu Pendekatan Teoritis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005),  hal. 239.

 

[43] Ibid., hal. 239-240.

[44] Hasan, Husen., Op. cit., hal. 33.

 

[45] Ibid., hal. 32.

 

[46] Ibid., hal. 236.

 

[47] Ibid., hal. 33.

 

[48] Muhammad Nashiruddin Albani, Shahih Sunan Abu Daud, (Jakarta: Pustaka Azzam,  2007),Cet I, hal. 324

[49] Hasan, Husen., Op. cit., hal. 33.

 

[50] Slameto,  Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya,  (Jakarta : Rineka Cipta, 2007 ).hal.54.

 

[51] Muhammad Nashiruddin Albani., Op. cit., hal. 232

 

[52] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan. ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002 ), hal. 74.

 

[53] Djamarah S. B. dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 36.

 

[54] Hamalik, Oemar, Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar, (Bandung: Tarsito, 1983), hal. 40.

 

[55] Surya Brata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Raka Grafindo Persada, 2002), hal. 230.

 

[56] M. Ngalim Poerwanto,  Psikologi Pendidikan.  (Bandung: Remaja Karya, 1987), hal.547.

 

[57] Sonarto, Perkembangan Peserta Didik ( Jakarta : PT Asdi Mahasatya, 2002 ), hal. 120.

 

[58] Suryabrata., Op. cit., hal.167.

 

[59] Ibid., hal. 160.

 

[60] Ibid..hal. 57.

 

[61] Ahman Mudzakir,  Joko Sutrisno, Psikologi Pendidikan, (Bandung : Pustaka Setia, 1997), hal. 159.

 

[62] M.Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1997), hal. 235.

 

[63] Ahmad Muzakkir, Joko Sutrisno., Op. cit., hal. 162.

 

[64] Alisuf Sabri,  Ilmu Pendidikan, ( Jakarta : CV Pedoman Ilmu Jaya, 1999 ), hal. 15.

 

[65] Imam Muslim, Sahih Muslim, JuzII, (Bandung : Dahlan), hal.458.

 

[66] Slameto., Op. cit., hal. 61.

 

[67] Muhammad Ali Quthbi, Sang Anak dalam Naungan Pendidikan Islam, ( Bandung : CV Diponegoro, 1993 ), hal.92.

 

[68] Fuad Ikhsan,  Dasar-dasar pendidikan,( Jakarta : Rineka Cipta , 2001), hal. 32.

 

[69] Oemar Hamalik.,Op. cit., hal. 2.

 

[70] Abuddin Nata,  Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos, 1997), hal.131.

 

[71] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta : Logos, 1999), hal.177.

 

[72] Mucktar Bukhari, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Jenmars, 2001), hal. 121.

 

[73] Nurkancana, Wayan, P.P.N. Sunarta, (1982), Evaluasi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hal. 132.

 

[74] M. Chabib Thoha, Teknis Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 48.

 

[75] Nurkancana Wayan., Op. cit., hal. 133.

 

[76] M. Chabib Thoha., Op. cit., hal. 47.

 

[77] Ibid., hal. 133-1134.

 

[78] Ibid., hal. 135.


Komentar

Postingan Populer