JUDUL SKRIPSI GAMBARAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP PELAYANAN DOKTER DI PUSKESMAS
GAMBARAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP
PELAYANAN DOKTER DI PUSKESMAS
1.1. Latar Belakang Masalah
Menciptakan kehidupan
masyarakat yang sehat secara jasmani dan rohani adalah suatu hal yang telah diamanahkan
dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 yang harus dilaksanakan oleh pemerintah. Tidak
hanya itu, pembangunan kesehatan mempunyai visi
“Indonesia sehat“, di antaranya dilaksanakan melalui pelayanan kesehatan oleh
puskesmas dan rumah sakit.
Selama ini pemerintah telah membangun
puskesmas dan jaringannya di seluruh Indonesia rata-rata setiap kecamatan
mempunyai 2 puskesmas, setiap 3 desa mempunyai 1 puskesmas pembantu. Puskesmas
telah melaksanakan kegiatan dengan hasil yang nyata, status kesehatan
masyarakat makin meningkat, ditandai dengan makin menurunnya angka kematian
bayi, ibu, makin meningkatnya status gizi masyarakat dan umur harapan hidup
(Kepmenkes, 2004).
Di Aceh misalnya, amanah
tersebut semakin diprakarsai dan didukung pula adanya alokasi dana migas dari
pusat yang diusul mencapai 70%, sehingga menjadi peluang besar dalam mewujudkan
cita-cita luhur tersebut. Maka itu, terhitung pada 29 Nopember 2010 pemerintahan
Aceh meresmikan pencanangan program JKA yang bekerjasama dengan PT. Askes
(Persero) untuk saat ini diganti dengan nama Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh (JKRA).
Dengan JKRA ini terdapat program unggul dimana pembiayaan pengobatan pasien
dibiayai juga dengan uang transpotasi.
Adanya program demikian
di satu sisi tentu semakin terjamin hak-hak yang dimiliki oleh masyarakat Aceh
(masyarakat Trumon) terutama masyarakat miskin, meski sederetan hak-hak lainnya
masih belum mampu diwujudkan secara utuh dan berkelanjutan. Namun di sisi lain
program tersebut ternyata tidak seutuhnya dapat berjalan sesuai harapan
sebagaimana diharapkan.
Pada kondisi yang sangat mendukung ini,
pelayanan prima merupakan elemen utama di
rumah sakit dan unit kesehatan (pukesmas). Pukesmas dituntut dapat memberikan
pelayanan kesehatan yang memenuhi standar pelayanan yang optimal, medukung
pelaksanaan tersebut banyak dana yang telah dialokasikan oleh pemerintahan Aceh.
Hal tersebut sebagai akuntabilitas supaya mampu bersaing dengan unit kesehatan
lainnya. Sebab pukesmas adalah bentuk organisasi pelayanan kesehatan yang
bersifat komprehensif, mencakup aspek promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif, serta sebagai pusat rujukan kesehatan masyarakat (Wike,
2009: 3)
Hakikat dasar dari pukesmas adalah
pemenuhan kebutuhan dan tuntutan pasien yang mengharapkan penyelesaian masalah kesehatannya.
Pasien memandang bahwa Pukesmas mampu memberikan pelayanan medis sebagai upaya penyembuhan
dan pemulihan atas rasa sakit yang dideritanya. Pasien mengharapkan pelayanan
yang siap, cepat, tanggap dan nyaman serta menyenangkan terhadap keluhan
penyakit pasien. Dalam memenuhi kebutuhan pasien tersebut, pelayanan prima
menjadi utama dalam pelayanan. Namun harus diingat bahwa pelayanan prima di Pukesmas
akan tercapai jika sumber daya manusia di Pukesmas mempunyai ketrampilan
khusus, diantaranya memahami produk secara mendalam, berpenampilan menarik,
bersikap ramah dan bersahabat, responsif (peka) dengan pasien, menguasai pekerjaan,
berkomunikasi secara efektif dan mampu menanggapi keluhan pasien secara
professional (Agus, 2012)
Kepuasan pasien tergantung pada kualitas
pelayanan. Maka itu dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah puas; merasa senang;
perihal (hal yang bersifat puas, kesenangan, kelegaan dan sebagainya)
(Poewadarminta, 2006). Kepuasan dapat diartikan sebagai perasaan puas, rasa
senang dan kelegaan seseorang karena mengonsumsi suatu produk atau jasa untuk
mendapatkan pelayanan suatu jasa. Kepuasan pasien juga diartikan sebagai keadaan saat keinginan, harapan dan kebutuhan pasien
dapat dipenuhi dan suatu pelayanan dinilai memuaskan bila pelayanan tersebut
dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pasien (Wike, 2009). Jadi kepuasan atau
ketidakpuasan adalah kesimpulan dari interaksi antara harapan dan pengalaman
sesudah memakai jasa atau pelayanan yang
diberikan.
Pelayanan
merupakan semua upaya yang dilakukan untuk memenuhi keinginan
pelanggannya dengan jasa yang akan diberikan. Suatu pelayanan dikatakan baik
oleh pasien, ditentukan oleh kenyataan apakah jasa yang diberikan bisa memenuhi
kebutuhan pasien, dengan menggunakan persepsi pasien tentang pelayanan yang
diterima (memuaskan atau mengecewakan, juga termasuk lamanya waktu pelayanan).
Kepuasan dimulai dari penerimaan terhadap pasien dari pertama kali datang,
sampai pasien meninggalkan rumah sakit. Pelayanan dibentuk berdasarkan lima
prinsip service quality yaitu
kecepatan, ketepatan, keramahan dan kenyamanan layanan (Wike, 2009: 4).
Menurut Lupiyoadi yang
dikutip dari Hendroyono (2008) mengemukakan bahwa pasien dalam mengevaluasi
kepuasan terhadap jasa pelayanan yang diterima mengacu pada beberapa aspek
yaitu, kualitas produk atau jasa, kualitas pelayanan, faktor emosional, dan harga.
Berdasarkan hasil penelusuran sementara melalui situs online disebutkan Oleh Hashim
bahwa perempuan lebih mudah merasa puas terhadap pelayanan kesehatan di
Pukesmas yang mencapai (63%). Didukung juga dengan penelitian Ramadanura
menunjukkan perempuan lebih mudah puas dibandingkan laki-laki dalam halnya
pelayanan di Pukesmas. Berbeda dengan hasil penelitian Haydar Sur yang
menyatakan bahwa pria mudah merasa puas terhadap pelayanan kesehatan di
Pukesmas terutama pelayanan gigi dan mulut dan hal ini didukung pula oleh
penelitian Suhamiarti yang menyatakan bahwa laki-laki lebih mudah merasa puas yang
mencapai (67,1%).
Selain itu kepuasan
pasien terhadap pelayanan kesehatan juga dipengaruhi oleh karakteristik pasien
yaitu umur/usia yang lebih tua (>60) cenderung lebih puas dari pada pasien
yang lebih muda. Penelitian Suhamiarti melaporkan bahwa kepuasan terbanyak
ditemukan pada kelompok umur 55-64 tahun. Tidak hanya itu kepuasan pasien
terhadap pelayanan kesehatan juga dipengaruhi oleh karakteristik pasien yang
mencakup:
1. Umur; dimana penelitian Stege mengemukakan bahwa pasien
golongan umur yang lebih tua (>60 tahun) cenderung lebih puas sementara Ramadanura
menunjukkan bahwa golongan umur muda (23-39 tahun) mudah merasa puas.
2. Jenis kelamin; sebagaimana penelitian Hashim menyatakan
perempuan lebih mudah merasa puas emncapai (63%).
3. Tingkat pendidikan; hal ini sebagaimana penelitian Suhamiarti
menunjukkan bahwa pasien yang tidak mempunyai ijazah lebih mudah merasa puas
dibandingkan yang berpendidikan SD-SMP dan SMU ke atas, sementara penelitian
Ramadanura menunjukkan pasien berpendidikan rendah mudah puas.
4. Sumber biaya; juga mempengaruhi kepuasaan pasien sebagaimana
penelitian Zulfa menunjukkan pasien pengguna Jamkesmas tidak puas terhadap
pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit (78,6%) dan pasien umum yang
menyatakan puas (21,4%).
5. Pekerjaan sebagaimana penelitian Ramadanura menunjukkan bahwa
pasien dengan pekerjaan buruh lebih mudah puas.
6. Kunjungan; penelitian Lumenta menunjukkan pasien lama lebih
puas daripada pasien yang baru pertama kali berkunjung sementara penelitian
Rumondang mengemukakan sebesar 93 % pasien Askes yang berobat ke poliklinik
gigi RSUD Dr. Djasamen Saragih tidak
melakukan kunjungan ulang karena tidak puas terhadap pelayanan yang diberikan.
Hasil
penelitian-penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasaan terhadap pelayanan di
unit kesehatan atau Pukesmas belum dapat dikatakan memadai seutuhnya. Jelas ini
merupakan suatu tindakan pengabaian yang berlebihan dari waktu ke waktu
sepanjang sejarah pelayanan kesehatan di Negara ini. Jika diteliti lebih jauh masalah
ini sudah melanggar ketentuan undang-undang yang seharusnya pelayanan kesehatan
bagi masyarakat dapat terlayani dengan baik dan akuntabel.
Tingkat kepuasan pasien itu berbeda-beda dan dapat diklasifikasikan
dalam beberapa tingkatan sebagai berikut, yaitu:
1. Sangat puas merupakan ukuran subjektif hasil hasil penilaian
perasaan pasien yang menggambarkan pelayanan kesehatan sepenuhnya atau sebagian
besar sesuai kebutuhan atau keinginan pasien, seperti sangat bersih (untuk
prasarana), sangat ramah dan lainnya.
2. Agak puas merupakan ukuran subjektif hasil penilaian perasaan pasien yang menggambarkan pelayanan kesehatan tidak
sepenuhnya atau sebagian sesuai kebutuhan atau keinginan seperti tidak terlalu
bersih (sarana), agak kurang cepat administrasi dan sejenisnya.
3. Tidak puas merupakan ukuran subjektif hasil penilaian
perasaan pasien yang rendah yang menggambarkan pelayanan kesehatan tidak sesuai
kebutuhan atau keinginan.
Menyangkut dengan
persoalan ini Amin Widjaya (2000:
6) menyebutkan bahwa dalam suatu kepengurusan organisasi sudah sewajarnya
memiliki sistem pengendalian manajemen yang berupa (1) adanya penentuan sasaran
yang jelas untuk performa aktivitas atau fungsi yang membantu mengarahkan, (2)
menentukan standar performa untuk setiap sasaran, (3) perlu adanya pemonitoran,
(4) adanya review agar dapat
membandingkan aktual dengan yang direncanakan. Adanya strategi yang di atur
oleh Amin Widjaya ini untuk menjamin berlangsungnya program secara baik dan
mencapai hasil yang diinginkan.
Seiring perjalanan
waktu ternyata pelayanan kesehatan di banyak Pukesmmas terhadap pasien masih
menyisakan masalah yang terkesan sulit diselesaikan bahkan lebih memilukan lagi
persoalan-persoalan yang muncul bebarengan dengan semakin banyaknya dana
alokasi yang dilimpahkan oleh pemerintah Aceh untuk menjamin terlaksananya
pelayanan kesehatan yang maksimal. Contoh kasus yang menimpa banyak pasien yang
menunggu jadwal operasi di RSU. Zainoel Abidin menjadi kenyataan yang sulit
dilupakan oleh mereka, dimana disaat banyaknya pasien yang akan dioperasi
disaat itu pula padatnya kegiatan dokter di luar, sehingga pasien mengalami
antrean panjang (Serambi, 6/9/2013).
Terlebih situasinya di
Pusat Kesehatan Masyarakat (Pukesmas) yang ada di setiap kecamatan di Aceh, kemungkinan-kemungkinan
besar lebih memprihatinkan. Misalnya pukesmas Ladang Rimba Kecamatan Trumon
Tengah, yang bahwa hasil pengamatan sementara di wilayah tersebut dapat
diterangkan, tenaga medis yang bertugas di pukesmas dimaksud telah mengalami penambahan
sehingga ruang poli kian terfungsikan. Hal ini bukan tidak mungkin masalah
kesehatan terlayani secara baik pada masyarakat, dengan kata lain tidak ada
lagi persoalan yang menimbulkan kesan tidak merasa puas pada masyarakat. Sebab menurut
M. Yani (2012) pelayanan kesehatan saat ini merupakan strategi reformasi sistem
pembiayaan pelayanan kesehatan di Aceh yang digratiskan. Dengan strata sosial
praktis dibebaskan dari beban financial saat mengakses fasilitas pelayanan
kesehatan di Pukesmas hingga rumah sakit rujukan dalam dan luar Aceh.
Namun demikian pelaksanaannya belum begitu
sempurna, di Pukesmas Ladang Rimba Kecamatan Trumon Tengah misalnya, konsep
dimaksud di atas belum sepenuhnya teradopsi, terutama menyangkut masalah
pelayanan. Petugas kesehatan/dokter terkadang cenderung tidak berada di ruang
disaat ada pasien yang mendadak dan pada saat jam tugas ada beberapa petugas/dokter
sering tidak di tempat. Kondisi ini ternyata tidak dapat diterima oleh pasien
dalam memperoleh pelayanan kesehatan, sehingga muncul perasaan kecewa dan
kurang puas terhadap kondisi seperti ini terutama orang dewasa yang usianya di
atas 35 tahun, di tambah lagi sopir ambulance
juga tidak tersedia secara khusus sehingga terpaksa pasien yang mencarinya meskipun
dalam keadaan mendadak.
Untuk menuntaskan persoalan sebagaimana
dimaksud di atas, sesuai dengan pembahasannya maka judul yang diangkat dalam
tulisan ini adalah, ”Gambaran Kepuasan
Pasien Rawat Inap terhadap Pelayanan Dokter di Pukesmas Ladang Rimba Kecamatan
Trumon Tengah Kabupaten Aceh Selatan”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, yang
menjadi rumusan dalam penelitian ini adalah;
- Bagaimana pelayanan
dokter terhadap pasien rawat inap di Pukesmas Ladang Rimba Kecamatan
Trumon Tengah Aceh Selatan?
- Apa faktor
penghambat dan pendukung terhadap pelayanan dokter pada pasien rawat inap
di Pukesmas Ladang Rimba Kecamatan Trumon Tengah Aceh Selatan?
- Bagaimana langkah
penyelesaian masalah terhadap pelayanan yang kurang memuaskan dialami oleh
pasien rawat inap di Pukesmas Ladang Rimba Kecamatan Trumon Tengah?

Komentar
Posting Komentar
Komentar