HASIL PENELITIAN EVALUASI PELAYANAN PERPUSTAKAAN
HASIL PENELITIAN
EVALUASI PELAYANAN PERPUSTAKAAN
A.
Gambaran
Umum Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena
STIKIP Bina Bangsa atau Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu
Pendidikan merupakan salah satu dari sekian banyak perguruan tinggi swasta yang
ada di Banda Aceh. Sekolah atau perguruan ini hanya memfokuskan pada bidang
pendidikan saja tanpa membuka pendidikan atau ilmu lain. Perguruan tinggi ini,
keberadaanya terletak di lingkungan gedung Cut Mutia, yang beralamat di Jln.
Tgk. Chiek Ditiro Peuniti Banda Aceh.
|
Pada saat perpustakaan ini mulai beroperasi, yaitu tahun 2003
hingga 2006, perpustakaan ini termasuk dalam kategori perpustakaan yang tidak
aktif, pengguna perpuastakaan hanya sedikit yang terlihat, kebanyakan dari
mahasiswa sekolah tersebut mencari bahan koleksinya di beberapa perpustakaan
besar yang ada di Banda Aceh, seperti puswil, perpustakaan induk IAIN Ar-Raniry
dan perpustakaan induk Unsyiah.[1]
Melihat kondisi yang terus menrus tidak mengalami peningkatan,
kepala perpustakaann mencoba membahas
masalah tersebut dengan pimpinan Yayasan. Akhir dari usaha tersebut, tahun
2008, koleksinya pun mulai mengalami penambahan dan ruangan kian ditata secara
rapi. Keadaan ini pada tahun 2011 ini, koleksi yang tersedia bisa dikategorikan
memadai. Mulai berkembang perpustakaan
ini menurut pengakuan dari kepala perpustakaan, yaiu dimulai sejak tahun 2008,
di mana tahun-tahun sebelumnya perpustakaan ini nyaris tidak beroperasi.[2]
Bila melihat dari aspek fungsional
perpustakaan, tujuan berdirinya perpustakaan STIKIP BIna Bangsa Getsampena
tersebut tidak ada perbedaan dengan tujuan berdirinya perpustakaan lain, di
mana secara umum tujuannya adalah untuk menjadi sumber informasi dan sumber
untuk mencarai data penelitian yang dimanfaatkan untuk pengguna, maka tujuan
diadakannya perpustakaan ini juga memiliki kesamaan dengan perpustakaan
lainnya. lebih khsusus, tujuan didirikannya perustakaan ini yaitu untuk
membantu mahasiswa dan mahasiswi STIKIP Bina Bangsa Getsampena serta staf
pengajar/dosen dalam menyelesaikan tugas-tugas penting yang berkenaan dengan
ilmu pengetahuan dan proses belajar mengajar.
Untuk saat ini, perpustakaan STIKIP Bina bangsa telah banyak yang
memanfaatkan koleksinya. Pemnafaatan koleksinya tidak hanya digunakan oleh
mahasiswa STIKIP Bina Bangsa, namun mahasiswa yang di luar STIKIP tersebut juga
menggunakannya, seperti mahasiswa dari Universitas Serambi, mahasiswa Depkes,
dan mahasiswa lainnya. Terhadap bahan koleksi yang tersedia di perpustakaan
tersebut, bagi pemakai diperbolehkan untuk meminjamnya, dengan cara
memperlihatkan atau menyerahkan Kartu Tanda Mahasiswa yang masih berlaku.
Untuk pustakawan di perpustakaan ini sampai saat ini masih
dikelola oleh dua orang, yaitu Muhammad, S.IP, menjabat sebagai kepala
perpustakaan sementara anggotanya yaitu Raudhatul Jannah. Terhadap operasional perpustakaan, merekalah
yang mengerjakannya. Pengelolaan tersebut berupa inventaris, klasifikasi,
katalogisasi, koleksi, pelayanan referensi dan pelayanan sirkulasi.
Ruangan perpustakaan STIKIP Bina
Bangsa Gertsampena ini, terletak di atas mushalla yang berukuran 10X10 meter.
Jumlah koleksi perpustakaan di perpustakaan ini, melebihi dari 1500 koleksi,
selain itu juga ada bahan-bahan referensi seperti skripsi, laporan, kamus,
majalah dan Al-Qur’an. Jumlah 1500 koleksi tersebut terdiri dari karya fiksi,
seperti buku cerita dan sejenisnya dan karya non fiksi, seperti buku sejarah,
pendidikan agama Islam, bahasa Indonesia, pendidika dan lain-lainnya.[3]
Sementara perlengkapan atau
fasilitas yang dimiliki oelh perpustakaan STIKIP Bina Bangsa ini yaitu;
1.
8 rak buku,
2.
3 lemari
kaca untuk koleksi referensi,
3.
4 unit meja
baca dan 10 kursi,
4.
Meja dan
kursi petugas sebanyak 3 buah meja dan 2 dua kursi,
5.
Satu unit
computer,
6.
Satu set
sofa beserta mejanya,
7.
5 unit kipas
angin,
8.
1 unit tape
recorder,
9.
1 unit
dispenser,
10.
10 set
gorden,
11.
Alat
perekat, dan
12.
Alat-alat
tulis kantor lainnya hingga pada guntingan.[4]
B.
Hal-hal
yang Dievaluasi pada Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena
Pada
pembahasan dahulu telah disebutkan bahwa evaluasi ini sesuatu hal wajib dilakukan
oleh sebuah perpustakaan. Evaluasi ini bukan semata-mata untuk memperumit
masalah namun untuk melihat kembali hal-hal yang belum terbenahi dan belum
sesuai dengan keadaan yang telah berkembang seperti saat sekarang ini. Evaluasi
ini dapat juga dimaknai sebagai umpan balik dari setiap program yang telah
berjalan. Dengan adanya umpan balik ini, akan lahir sebuah harapan-harapan yang
patut direncanakan untuk masa ke depan.
Dari hasil
wawancara yang telah disebutkan dahulu, bahwa perpustakaan STIKIP ini sempat
terhenti dan nyaris tidak ada operasional apapun. Tidak tanggung-tanggung,
terhentinya perpustakaanini mencapai lima tahun lebih. Keadaan ini diperparah
lagi oleh ketidaktersedianya sumber daya pengelola perpustakaan tersebut dan
kondisi dana yang tidak teratur atau konkritnya dana sama sekali tidak
mencukupi untuk melakukan segala kegiatan yang berkenaan tentang perpustakaan.
Melihat
kenyataan ini, perlu secara tuntas menyelesaikan masalah yang rumit seperti
ini. Penyelesaian masalah ini dapat saja ditempuh melalui dua jalur, jalur
pertama yaitu dengan cara melakukan penelitian ulang terhadap perkembangan dan
factor terhadap tidak jalannya sebuah organisasi perpustakaan, jalur kedua
melalui upaya evaluasi, dengan evaluasi ini akan terlihat pula faktor-faktor
yang menyebabkan perpustakaan ini terkendala dalam ooperasionalnya.
Perlu
dikatehui bahwa, keberadaan sebuah perpustakaan di perguruan tinggi menjadi
kebutuhan primer dari serangkain kebutuhan lainnya. Karena perpustakaan dapat
dijadikan sebagai salah satu media/alat peraga yang bisa digolongkan sebagai
kebutuhan mendesak dalam dunia pendidikan itu sendiri. Melalui perpustakaan
pengembangan bakat dan minat peserta didik/mahasiswa dapat didukung secara
efektif dan tepat.
Pada bagian
kedua telah diuraikan tentang hal-hal yang patut dan penting untuk dievaluasi.
Adapun aspek-aspek yang penting untuk dievaluasi tersebut yaitu, evaluasi yang
berpusat pada koleksi, evaluasi yang berpusat pada penggunaan, dan evaluasi
yang berpusat pada layanan. Keseluruhan aspek ini merupakan aspek yang masih
umum, karena di dalam masing aspek tersbut mengandung banyak hal yang patut di
evaluasi. Hal ini senada dengan apa yang telah diuarikan oleh Ridwan Siregar
dalam tulisannya Perpustakaan energi pembangunan bangsa, yang
diterbitkan oleh Universitas Sumatera Utara Medan.[5]
Menyimak uraian
terhadap aspek yang dijelaskan oleh Ridwan, sebenarnya bisa menjadi tolak ukur
terhadap evaluasi yang akan dilakukan oleh perpustakaan STIKIP Bina Bangsa ini.
Di mana, pelaksaan evaluasi tidak hanya berpusat pada satu bagian saja yaitu
koleksi. Akan tetapi lebih dari itu, evaluasi ini patut diperhatikan lagi dan
disusun proses evaluasinya secara matang. Bila tidak, peprustakaan STIKIP ini
besar kemungkinan akan mengalami hal yang sama seperti yang pernah dialami pada
tahun 2003 s.d. 2006 dahulu.
Dari hasil
wawancara yang telah dilakukan dengan kepala perpustakaan STIKIP Bina Bangsa, disebutkan
bahwa, untuk saat ini pelaskanaan evaluasi ini tidak sepenuhnya. Pelaksanaan
evaluasi ini hanya berpusat pada koleksi dan ruangan saja.
1.
Evaluasi
pada koleksi
Perlu
diketahui bahwa, evaluasi pada koleksi di sini memang sesuatu hal yang mejadi
pokok dalam persoalan evaluasi. Karena, yang menandakan sebuah perpustakaan
atau bukan sangat erat kaitannya dengan koleksi. Di samping itu koleksi inilah
yang akan menjadi tumpuan pengguna ketika ke perpustakaan. Namun evaluasi ini
tidak hanya cukup dilakukan pada koleksi saja, pelayanan dan hal lain juga
menjadi hal penting untuk dibenahi pada perpustakaan.
Di
perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena ini, evaluasi dilakukan dalam
kapasitas yang sederhana. Evaluasi koleksi ini berupa; menyampul buku-buku atau
bahan bacaan yang belum tersampul sama sekali, selanjutnya merapikan kembali
atau menata kembali koleksi yang letaknya tidak pada posisi masing-masing atau
koleksi yang berserakan di atas meja. Merapikan dan menata kembali koleksi di
perpustakaan tersebut sekaligus membuat klasifikasi masing-masing.[6]
2.
Evaluasi
ruangan baca
Evaluasi
ruang baca ini bisa dikategorikan sebagai langkah yang tidak mendesak seperti
mendesaknya untuk melakukan evaluasi pada koleksi. Evaluasi pada ruangan di
sini, menurut pustakawan di STIKIP Bina Bangsa Getsampena, yaitu dengan
melakukan penataan kembali ruangan yang tidak teratur, merapikan meja dan kursi
baca pada pemakai. Disebutkan lagi, evaluasi yang dilakukan ini juga dalam
kapasitas yang sederhana.[7]
Dari hasil
pengamatan dan wawancara yang telah dilakukan pada perpustakaan STIKIP Bina
Bangsa ini, secara umum dapat dikategorikan bahwa, usaha koleksi yang dilakukan
oleh perpustakaan tersebut belum mencapai prospek dan taget seperti yang
diinginkan. Karena bila evaluasi hanya berpusat pada koleksi dan ruangan maka
akan terjadi ketidakseimbangan dalam pelaksanaan operasional perpustakaan, dan
bila ini terus menerus terjadi dalam hal evaluasi maka tidak hanya perpustakaan
STIKIP ini, perpustakaan lain juga akan mengalami keterbelakangan dibandingkan
dengan perpustakaan lainnya bila evaluasi hanya pada koleksi saja.
C.
Kelanjutan
Program Evaluasi Layanan yang Dilakukan
Dalam setiap
hal, baik itu dalam sebuah pertemuan, dalam sebuah keputusan, dalam suatu
kesepakatan/ikatan, dalam suatu perjanjian, dan dalam hal lainnya, suatu hal
yang penting dilakukan, diperhatikan dan diperjelas kembali adalah, kelanjutan
dari suatu program yang telah direncanakan. Dalam hal ini, kelanjutan program
yang perlu diperhatikan yaitu hasil evaluasi pada setiap aspek yang telah
dilakukan oleh pengelola.
Seperti yang
diketahui, evaluasi pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa ini, hanya
berorientasi pada koleksi saja. Namun demikian, hakikat ketersediaan koleksi
itu juga akan menyentuh pelayanan itu sendiri. Semakin baik dan tepatnya
koleksi berarti semakin baik layanan yang diusahakan kepada pengguna perpustakaan
itu sendiri. Maka itu evaluasi pada koleksi ini juga memiliki hubungan dengan
pelayanan.
Sebagaimana
yang telah disebutkan oleh Muhammad, kepala perpustakaan STIKIP, bahwa evaluasi
hanya sebagian kecil dilakukan evaluasi pada layanan, untuk tahap pertama ini
lebih cenderung pelaksanaan evaluasi pda koleksi. Terhadap kelanjutan program
dari suatu evaluasi ini diupayakan untuk dilaksanakan secara tuntas tanpa
tumpang tindih. Hasil evaluasi terhadap layanan yang telah dilakukan oleh
pustakawan akan dicoba bahas dengan ketua Yayasan STIKIP, agar hasil evaluasi
ini tidak tersia-siakan. Dan segala yang perlu dibenahi, akan diupayakan juga
untuk dilaksanakan secara cepat dan tepat agar segala hal yang bekaitan dengan
perpustakaan ini tidak terkesan tumpang tindih, sehingga akan mempengaruhi
terhadap operasional perpustakaan tersebut. Bahkan, bila patut, akan diupayakan
untuk menjalin kerjasama dengan perpustakaan terkemuka yang ada di Banda Aceh.[8]
Dari hasil
wawancara ini, dapat dipahami bahwa, upaya untuk memperbaharui terhadap hasil
evaluasi yang dilakukan pada perpustakaan STIKIP ini, selalu diupayakan untuk
bisa dibenahi kembali tehadap hal-hal yang dianggap penting untuk dibenahi.
Suatu hal
yang perlu diketahui bahwa, bila hasil evaluasi ini benar-benar diupayakan
untuk dilanjutkan dan dibenahi, maka perkembangan perpustakaan STIKIP ini telah
dapat dirasakan oleh setiap pengguna. Sehingga evaluasi selanjutnya dapat
dialihkan ke aspek yang dianggap penting, seperti evaluasi terhadap sumber daya
manusia, fasilitas dan hal lainnya. Secara tidak langsung evluasi yang
dilakukan dengan bentuk bertahap dan berkala ini akan mampu menjawab berbagai
persoalan yang dihadapi oleh perpustakaan. Evaluasi berkala dan bertahap ini,
memudahkan pengelola untuk membenahi terhadap yang patut dibenahi, sehingga
kelanjutan program yang akan dilakukan dapat dituntaskan dan tidak terasa
terbeban oleh hal-hal yang penting lainnya.
D.
Faktor-faktor
yang Melatarbelakangi Penerapan Hasil Evaluasi
Setiap perpustakaan memang acapkali menghadapi kendala atau
berbagi faktor-faktor dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai perpustakaan
dan juga dalam pemanfaatan koleksi perpustakaan, tidak terkecuali perpustakaan STIKIP
Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh. Perpustakaan ini juga menghadapi berbagai
faktor yang menyebabkan kelanjutan program dari evaluasi perpustakaan yang
tidak berjalan lancar, sebagaimana visi, misi dan tujuan perpustakaan itu
sendiri.
Di setiap perpustakaan, faktor yang melatarbelakangi terhadap
pelaksanaan evaluasi ini yang memang sering terjadi, bahkan faktor tersebut
secara umum adalah sama. Kesamaan ini terltak pada ketersediaan dana dan
kemampuan sumber daya manusianya yaitu sumber daya pustakawan. Selain itu
dipengaruhi juga oleh akses informasi yang tidak terbuka terhadap upaya
penyelesaian masalah, baik antara pustakawan dengan kepala perpustakaan maupun
dengan lembaga lainnya.[9]
Disebutkan oleh kepala perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena,
bahwa yang menjadi factor yng sangat crussial dalam pelaksanaan program evaluasi
adalah, terhadap persoalan dana. STIKIP tidak menganggarkan dana setiap
tahunnya sesuai dengan kebutuhan. Persoalan ini yang menjadi hal rumit untuk
melanjutkan segala hasil program evaluasi yang dilakukan. Di samping itu,
ketersediaan sumber daya manusia diperpustakaan tersebut juga sangat rendah.
Sehingga menjadi tambah rumit dalam pelaksanaan program evaluasi yang akan
direncanakan. Bila sumber daya tidak tercukupi, maka sistem dan proses
pelaksanaan programpun akan mengalami kendala-kendala yang berarti.[10]
Pernyataan Muhammad, diperkuat lagi oleh hasil wawancara yang
telah dilakukan dengan Raudhatul Jannah, sebagai pustakawan di perpustakaan
tersebut. Disebutkan olehnya yang bahwa, hal yang melatar belakangi terhdap
pelaksaan hasil dari program evaluasi yaitu, sangat terkendala pada terbatasnya
penyediaan dana oleh Yayasan STIKIP ini. Kemudian ditambah lagi oleh kurangnya
pustakawan atau kurang tersedianya sumber daya manusia yang mamadai.[11]
Mencermati persoalan yang dihadapi oleh perpustakaan STIKIP ini
kadang kala terlintas dipikiran yang bahwa persoalan yang dialami oleh
perpustakaan tersebut adalah sesuatu hal yang sangat rumit. Namun bila melihat
dari aspek kebutuhan, perpustakaan menjadi tolak ukur terhadap mutu sumber daya
dari pendidikan STIKIP.
Bila melihat dari aspek kebutuhan, maka upaya untuk melanjutkan
program tersebut menjadi hal yang patut dan perlu segera dibenahi meskipun
mengalami kendala-kendala dalam pelaksanaanya. Karena, jika dibiarkan dalam
kondisi seperti ini, atau sikap pustakawan yang kurang respon dalam mencari
alternatif dan upaya peneyelesaiannya, maka tidak diragukan lagi bahwa ke depan
persoalan ini akan menjadi lebih rumit bila tidak bisa diselesaikan masa saat
sekarang.
[1] Hasil wawancara dengan Muhammad, S.IP, Kepala Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, tanggal 4 Juni 2011.
[2] Hasil wawancara dengan Muhammad, S.IP, Kepala Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, tanggal 4 Juni 2011.
[3] Hasil wawancara dengan Raudhatul Jannah, pustakawan pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, pada tanggal 5 Juni 2011.
[4] Hasil wawancara dengan Raudhatul Jannah, pustakawan pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, pada tanggal 5 Juni 2011.
[5] A. Ridwan Siregar, Perpustakaan Energi Pembangunan Bangsa, Medan: USU, 2006,hlm.78.
[6] Hasil wawancara dengan Muhammad, S.IP, Kepala Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, tanggal 4 Juni 2011.
[7] Hasil wawancara dengan Raudhatul Jannah, pustakawan pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, pada tanggal 5 Juni 2011.
[8] Hasil wawancara dengan Muhammad, S.IP, Kepala Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, tanggal 4 Juni 2011.
[9] HS, Lasa, Membina Perpustakaan Madrasah dan Sekolah Islam. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2002.
[10] Hasil wawancara dengan Muhammad, S.IP, Kepala Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, tanggal 4 Juni 2011.
[11] Hasil wawancara dengan Raudhatul Jannah, pustakawan pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, pada tanggal 5 Juni 2011.


Komentar
Posting Komentar
Komentar