HASIL PENELITIAN EVALUASI PELAYANAN PERPUSTAKAAN

 



HASIL PENELITIAN EVALUASI PELAYANAN PERPUSTAKAAN

 

 

A.    Gambaran Umum Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena

STIKIP Bina Bangsa atau Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan merupakan salah satu dari sekian banyak perguruan tinggi swasta yang ada di Banda Aceh. Sekolah atau perguruan ini hanya memfokuskan pada bidang pendidikan saja tanpa membuka pendidikan atau ilmu lain. Perguruan tinggi ini, keberadaanya terletak di lingkungan gedung Cut Mutia, yang beralamat di Jln. Tgk. Chiek Ditiro Peuniti Banda Aceh.

22

 
Dilihat dari sudut pandang historis, perpustakaan ini termasuk dalam kategori perpustakaan yang baru berdiri, yaitu pada tahun 2003 dan mulai dimanfaat secara maksimal pada tahun 2009. Pada awal beridirinya perpustakaan ini, banyak hal yang tidak mencukupi atau dengan kata lain perpustakaan ini pada tahun 2003 masih sangat rendah koleksi yang dimilikinya, sehingga tidak efektif berjalan. Kadangkala, disaat sedang beropreasi, dihadapkan lagi oleh berbagai kekurangan yang terdapat di sana sini, baik itu pustakawan yang tidak teratur, dana yang tidak seimbang bahkan koleksi yang tersedia pun sangat terbatas adanya. Dengan berbagai kekurangan inilah perpustakaan ini terkesan tidak berjalan dan macet.

Pada saat perpustakaan ini mulai beroperasi, yaitu tahun 2003 hingga 2006, perpustakaan ini termasuk dalam kategori perpustakaan yang tidak aktif, pengguna perpuastakaan hanya sedikit yang terlihat, kebanyakan dari mahasiswa sekolah tersebut mencari bahan koleksinya di beberapa perpustakaan besar yang ada di Banda Aceh, seperti puswil, perpustakaan induk IAIN Ar-Raniry dan perpustakaan induk Unsyiah.[1]

Melihat kondisi yang terus menrus tidak mengalami peningkatan, kepala perpustakaann  mencoba membahas masalah tersebut dengan pimpinan Yayasan. Akhir dari usaha tersebut, tahun 2008, koleksinya pun mulai mengalami penambahan dan ruangan kian ditata secara rapi. Keadaan ini pada tahun 2011 ini, koleksi yang tersedia bisa dikategorikan memadai.  Mulai berkembang perpustakaan ini menurut pengakuan dari kepala perpustakaan, yaiu dimulai sejak tahun 2008, di mana tahun-tahun sebelumnya perpustakaan ini nyaris tidak beroperasi.[2]

            Bila melihat dari aspek fungsional perpustakaan, tujuan berdirinya perpustakaan STIKIP BIna Bangsa Getsampena tersebut tidak ada perbedaan dengan tujuan berdirinya perpustakaan lain, di mana secara umum tujuannya adalah untuk menjadi sumber informasi dan sumber untuk mencarai data penelitian yang dimanfaatkan untuk pengguna, maka tujuan diadakannya perpustakaan ini juga memiliki kesamaan dengan perpustakaan lainnya. lebih khsusus, tujuan didirikannya perustakaan ini yaitu untuk membantu mahasiswa dan mahasiswi STIKIP Bina Bangsa Getsampena serta staf pengajar/dosen dalam menyelesaikan tugas-tugas penting yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan dan proses belajar mengajar.

Untuk saat ini, perpustakaan STIKIP Bina bangsa telah banyak yang memanfaatkan koleksinya. Pemnafaatan koleksinya tidak hanya digunakan oleh mahasiswa STIKIP Bina Bangsa, namun mahasiswa yang di luar STIKIP tersebut juga menggunakannya, seperti mahasiswa dari Universitas Serambi, mahasiswa Depkes, dan mahasiswa lainnya. Terhadap bahan koleksi yang tersedia di perpustakaan tersebut, bagi pemakai diperbolehkan untuk meminjamnya, dengan cara memperlihatkan atau menyerahkan Kartu Tanda Mahasiswa yang masih berlaku.

Untuk pustakawan di perpustakaan ini sampai saat ini masih dikelola oleh dua orang, yaitu Muhammad, S.IP, menjabat sebagai kepala perpustakaan sementara anggotanya yaitu Raudhatul Jannah.  Terhadap operasional perpustakaan, merekalah yang mengerjakannya. Pengelolaan tersebut berupa inventaris, klasifikasi, katalogisasi, koleksi, pelayanan referensi dan pelayanan sirkulasi.

            Ruangan perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Gertsampena ini, terletak di atas mushalla yang berukuran 10X10 meter. Jumlah koleksi perpustakaan di perpustakaan ini, melebihi dari 1500 koleksi, selain itu juga ada bahan-bahan referensi seperti skripsi, laporan, kamus, majalah dan Al-Qur’an. Jumlah 1500 koleksi tersebut terdiri dari karya fiksi, seperti buku cerita dan sejenisnya dan karya non fiksi, seperti buku sejarah, pendidikan agama Islam, bahasa Indonesia, pendidika dan lain-lainnya.[3]

Sementara  perlengkapan atau fasilitas yang dimiliki oelh perpustakaan STIKIP Bina Bangsa ini yaitu;

1.     8 rak buku,

2.     3 lemari kaca untuk koleksi referensi,

3.     4 unit meja baca dan 10 kursi,

4.     Meja dan kursi petugas sebanyak 3 buah meja dan 2 dua kursi,

5.     Satu unit computer,

6.     Satu set sofa beserta mejanya,

7.     5 unit kipas angin,

8.     1 unit tape recorder,

9.     1 unit dispenser,

10.           10 set gorden,

11.           Alat perekat, dan

12.           Alat-alat tulis kantor lainnya hingga pada guntingan.[4]

 

 

B.    Hal-hal yang Dievaluasi pada Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena

Pada pembahasan dahulu telah disebutkan bahwa evaluasi ini sesuatu hal wajib dilakukan oleh sebuah perpustakaan. Evaluasi ini bukan semata-mata untuk memperumit masalah namun untuk melihat kembali hal-hal yang belum terbenahi dan belum sesuai dengan keadaan yang telah berkembang seperti saat sekarang ini. Evaluasi ini dapat juga dimaknai sebagai umpan balik dari setiap program yang telah berjalan. Dengan adanya umpan balik ini, akan lahir sebuah harapan-harapan yang patut direncanakan untuk masa ke depan.

Dari hasil wawancara yang telah disebutkan dahulu, bahwa perpustakaan STIKIP ini sempat terhenti dan nyaris tidak ada operasional apapun. Tidak tanggung-tanggung, terhentinya perpustakaanini mencapai lima tahun lebih. Keadaan ini diperparah lagi oleh ketidaktersedianya sumber daya pengelola perpustakaan tersebut dan kondisi dana yang tidak teratur atau konkritnya dana sama sekali tidak mencukupi untuk melakukan segala kegiatan yang berkenaan tentang perpustakaan.

Melihat kenyataan ini, perlu secara tuntas menyelesaikan masalah yang rumit seperti ini. Penyelesaian masalah ini dapat saja ditempuh melalui dua jalur, jalur pertama yaitu dengan cara melakukan penelitian ulang terhadap perkembangan dan factor terhadap tidak jalannya sebuah organisasi perpustakaan, jalur kedua melalui upaya evaluasi, dengan evaluasi ini akan terlihat pula faktor-faktor yang menyebabkan perpustakaan ini terkendala dalam ooperasionalnya.

Perlu dikatehui bahwa, keberadaan sebuah perpustakaan di perguruan tinggi menjadi kebutuhan primer dari serangkain kebutuhan lainnya. Karena perpustakaan dapat dijadikan sebagai salah satu media/alat peraga yang bisa digolongkan sebagai kebutuhan mendesak dalam dunia pendidikan itu sendiri. Melalui perpustakaan pengembangan bakat dan minat peserta didik/mahasiswa dapat didukung secara efektif dan tepat.

Pada bagian kedua telah diuraikan tentang hal-hal yang patut dan penting untuk dievaluasi. Adapun aspek-aspek yang penting untuk dievaluasi tersebut yaitu, evaluasi yang berpusat pada koleksi, evaluasi yang berpusat pada penggunaan, dan evaluasi yang berpusat pada layanan. Keseluruhan aspek ini merupakan aspek yang masih umum, karena di dalam masing aspek tersbut mengandung banyak hal yang patut di evaluasi. Hal ini senada dengan apa yang telah diuarikan oleh Ridwan Siregar dalam tulisannya Perpustakaan energi pembangunan bangsa, yang diterbitkan oleh Universitas Sumatera Utara Medan.[5]

Menyimak uraian terhadap aspek yang dijelaskan oleh Ridwan, sebenarnya bisa menjadi tolak ukur terhadap evaluasi yang akan dilakukan oleh perpustakaan STIKIP Bina Bangsa ini. Di mana, pelaksaan evaluasi tidak hanya berpusat pada satu bagian saja yaitu koleksi. Akan tetapi lebih dari itu, evaluasi ini patut diperhatikan lagi dan disusun proses evaluasinya secara matang. Bila tidak, peprustakaan STIKIP ini besar kemungkinan akan mengalami hal yang sama seperti yang pernah dialami pada tahun 2003 s.d. 2006 dahulu.

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan dengan kepala perpustakaan STIKIP Bina Bangsa, disebutkan bahwa, untuk saat ini pelaskanaan evaluasi ini tidak sepenuhnya. Pelaksanaan evaluasi ini hanya berpusat pada koleksi dan ruangan saja.

1.     Evaluasi pada koleksi

Perlu diketahui bahwa, evaluasi pada koleksi di sini memang sesuatu hal yang mejadi pokok dalam persoalan evaluasi. Karena, yang menandakan sebuah perpustakaan atau bukan sangat erat kaitannya dengan koleksi. Di samping itu koleksi inilah yang akan menjadi tumpuan pengguna ketika ke perpustakaan. Namun evaluasi ini tidak hanya cukup dilakukan pada koleksi saja, pelayanan dan hal lain juga menjadi hal penting untuk dibenahi pada perpustakaan.

Di perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena ini, evaluasi dilakukan dalam kapasitas yang sederhana. Evaluasi koleksi ini berupa; menyampul buku-buku atau bahan bacaan yang belum tersampul sama sekali, selanjutnya merapikan kembali atau menata kembali koleksi yang letaknya tidak pada posisi masing-masing atau koleksi yang berserakan di atas meja. Merapikan dan menata kembali koleksi di perpustakaan tersebut sekaligus membuat klasifikasi masing-masing.[6]

 

2.     Evaluasi ruangan baca

Evaluasi ruang baca ini bisa dikategorikan sebagai langkah yang tidak mendesak seperti mendesaknya untuk melakukan evaluasi pada koleksi. Evaluasi pada ruangan di sini, menurut pustakawan di STIKIP Bina Bangsa Getsampena, yaitu dengan melakukan penataan kembali ruangan yang tidak teratur, merapikan meja dan kursi baca pada pemakai. Disebutkan lagi, evaluasi yang dilakukan ini juga dalam kapasitas yang sederhana.[7]

Dari hasil pengamatan dan wawancara yang telah dilakukan pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa ini, secara umum dapat dikategorikan bahwa, usaha koleksi yang dilakukan oleh perpustakaan tersebut belum mencapai prospek dan taget seperti yang diinginkan. Karena bila evaluasi hanya berpusat pada koleksi dan ruangan maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam pelaksanaan operasional perpustakaan, dan bila ini terus menerus terjadi dalam hal evaluasi maka tidak hanya perpustakaan STIKIP ini, perpustakaan lain juga akan mengalami keterbelakangan dibandingkan dengan perpustakaan lainnya bila evaluasi hanya pada koleksi saja.

 

C.     Kelanjutan Program Evaluasi Layanan yang Dilakukan

Dalam setiap hal, baik itu dalam sebuah pertemuan, dalam sebuah keputusan, dalam suatu kesepakatan/ikatan, dalam suatu perjanjian, dan dalam hal lainnya, suatu hal yang penting dilakukan, diperhatikan dan diperjelas kembali adalah, kelanjutan dari suatu program yang telah direncanakan. Dalam hal ini, kelanjutan program yang perlu diperhatikan yaitu hasil evaluasi pada setiap aspek yang telah dilakukan oleh pengelola.

Seperti yang diketahui, evaluasi pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa ini, hanya berorientasi pada koleksi saja. Namun demikian, hakikat ketersediaan koleksi itu juga akan menyentuh pelayanan itu sendiri. Semakin baik dan tepatnya koleksi berarti semakin baik layanan yang diusahakan kepada pengguna perpustakaan itu sendiri. Maka itu evaluasi pada koleksi ini juga memiliki hubungan dengan pelayanan.

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Muhammad, kepala perpustakaan STIKIP, bahwa evaluasi hanya sebagian kecil dilakukan evaluasi pada layanan, untuk tahap pertama ini lebih cenderung pelaksanaan evaluasi pda koleksi. Terhadap kelanjutan program dari suatu evaluasi ini diupayakan untuk dilaksanakan secara tuntas tanpa tumpang tindih. Hasil evaluasi terhadap layanan yang telah dilakukan oleh pustakawan akan dicoba bahas dengan ketua Yayasan STIKIP, agar hasil evaluasi ini tidak tersia-siakan. Dan segala yang perlu dibenahi, akan diupayakan juga untuk dilaksanakan secara cepat dan tepat agar segala hal yang bekaitan dengan perpustakaan ini tidak terkesan tumpang tindih, sehingga akan mempengaruhi terhadap operasional perpustakaan tersebut. Bahkan, bila patut, akan diupayakan untuk menjalin kerjasama dengan perpustakaan terkemuka yang ada di Banda Aceh.[8]

Dari hasil wawancara ini, dapat dipahami bahwa, upaya untuk memperbaharui terhadap hasil evaluasi yang dilakukan pada perpustakaan STIKIP ini, selalu diupayakan untuk bisa dibenahi kembali tehadap hal-hal yang dianggap penting untuk dibenahi.

Suatu hal yang perlu diketahui bahwa, bila hasil evaluasi ini benar-benar diupayakan untuk dilanjutkan dan dibenahi, maka perkembangan perpustakaan STIKIP ini telah dapat dirasakan oleh setiap pengguna. Sehingga evaluasi selanjutnya dapat dialihkan ke aspek yang dianggap penting, seperti evaluasi terhadap sumber daya manusia, fasilitas dan hal lainnya. Secara tidak langsung evluasi yang dilakukan dengan bentuk bertahap dan berkala ini akan mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi oleh perpustakaan. Evaluasi berkala dan bertahap ini, memudahkan pengelola untuk membenahi terhadap yang patut dibenahi, sehingga kelanjutan program yang akan dilakukan dapat dituntaskan dan tidak terasa terbeban oleh hal-hal yang penting lainnya.

 

D.    Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Penerapan Hasil Evaluasi

Setiap perpustakaan memang acapkali menghadapi kendala atau berbagi faktor-faktor dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai perpustakaan dan juga dalam pemanfaatan koleksi perpustakaan, tidak terkecuali perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh. Perpustakaan ini juga menghadapi berbagai faktor yang menyebabkan kelanjutan program dari evaluasi perpustakaan yang tidak berjalan lancar, sebagaimana visi, misi dan tujuan perpustakaan itu sendiri.

Di setiap perpustakaan, faktor yang melatarbelakangi terhadap pelaksanaan evaluasi ini yang memang sering terjadi, bahkan faktor tersebut secara umum adalah sama. Kesamaan ini terltak pada ketersediaan dana dan kemampuan sumber daya manusianya yaitu sumber daya pustakawan. Selain itu dipengaruhi juga oleh akses informasi yang tidak terbuka terhadap upaya penyelesaian masalah, baik antara pustakawan dengan kepala perpustakaan maupun dengan lembaga lainnya.[9]

Disebutkan oleh kepala perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena, bahwa yang menjadi factor yng sangat crussial dalam pelaksanaan program evaluasi adalah, terhadap persoalan dana. STIKIP tidak menganggarkan dana setiap tahunnya sesuai dengan kebutuhan. Persoalan ini yang menjadi hal rumit untuk melanjutkan segala hasil program evaluasi yang dilakukan. Di samping itu, ketersediaan sumber daya manusia diperpustakaan tersebut juga sangat rendah. Sehingga menjadi tambah rumit dalam pelaksanaan program evaluasi yang akan direncanakan. Bila sumber daya tidak tercukupi, maka sistem dan proses pelaksanaan programpun akan mengalami kendala-kendala yang berarti.[10]

Pernyataan Muhammad, diperkuat lagi oleh hasil wawancara yang telah dilakukan dengan Raudhatul Jannah, sebagai pustakawan di perpustakaan tersebut. Disebutkan olehnya yang bahwa, hal yang melatar belakangi terhdap pelaksaan hasil dari program evaluasi yaitu, sangat terkendala pada terbatasnya penyediaan dana oleh Yayasan STIKIP ini. Kemudian ditambah lagi oleh kurangnya pustakawan atau kurang tersedianya sumber daya manusia yang mamadai.[11]

Mencermati persoalan yang dihadapi oleh perpustakaan STIKIP ini kadang kala terlintas dipikiran yang bahwa persoalan yang dialami oleh perpustakaan tersebut adalah sesuatu hal yang sangat rumit. Namun bila melihat dari aspek kebutuhan, perpustakaan menjadi tolak ukur terhadap mutu sumber daya dari pendidikan STIKIP.

Bila melihat dari aspek kebutuhan, maka upaya untuk melanjutkan program tersebut menjadi hal yang patut dan perlu segera dibenahi meskipun mengalami kendala-kendala dalam pelaksanaanya. Karena, jika dibiarkan dalam kondisi seperti ini, atau sikap pustakawan yang kurang respon dalam mencari alternatif dan upaya peneyelesaiannya, maka tidak diragukan lagi bahwa ke depan persoalan ini akan menjadi lebih rumit bila tidak bisa diselesaikan masa saat sekarang.

 



 

[1] Hasil wawancara dengan Muhammad, S.IP, Kepala Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, tanggal 4 Juni 2011.

 

[2] Hasil wawancara dengan Muhammad, S.IP, Kepala Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, tanggal 4 Juni 2011.

 

[3]  Hasil wawancara dengan Raudhatul Jannah, pustakawan pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, pada tanggal 5 Juni 2011.

 

[4] Hasil wawancara dengan Raudhatul Jannah, pustakawan pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, pada tanggal 5 Juni 2011.

[5] A. Ridwan Siregar, Perpustakaan Energi Pembangunan Bangsa, Medan: USU, 2006,hlm.78.

 

[6] Hasil wawancara dengan Muhammad, S.IP, Kepala Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, tanggal 4 Juni 2011.

 

[7] Hasil wawancara dengan Raudhatul Jannah, pustakawan pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, pada tanggal 5 Juni 2011.

 

[8] Hasil wawancara dengan Muhammad, S.IP, Kepala Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, tanggal 4 Juni 2011.

[9] HS, Lasa, Membina Perpustakaan Madrasah dan Sekolah Islam. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2002.

 

[10] Hasil wawancara dengan Muhammad, S.IP, Kepala Perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, tanggal 4 Juni 2011.

[11] Hasil wawancara dengan Raudhatul Jannah, pustakawan pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena Banda Aceh, pada tanggal 5 Juni 2011.

 


Komentar

Postingan Populer