PELESTARIAN BAHAN PERPUSTAKAAN
PELESTARIAN
BAHAN PERPUSTAKAAN
A. Pengertian Manajemen, Pelestarian dan Bahan Pustaka
1. Pengertiaan Manajemen
Dalam pengertian ini, manajemen diartikan sebagai suatu
ilmu pengetahuan maupun seni. Menurut Mary
Parker Follet disebutkan bahwa, manajemen
adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain.
Definisi dari Mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para
manajer mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang
lain untuk melaksanakan apa saja yang perlu dalam pekerjaan itu, bukan dengan
cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.[1]
Manajemen
merupakan salah satu kegiatan penting dari sekian banyak hal penting.
Adakalanya manajemen ini menjadi tolak ukur terhadap sebuah keberhasilan
perpustakaan. oleh karena itu, prinsip manajemen hendaklah efektif, efesien,
tepat dan bermanfaat. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Soeatminah, yaitu
manajemen yang baik itu sifatnya selalu mengalami perubahan, sehingga hakikat
dari manajemen itu adalah;
a. Cepat
artinya lugas dalam bertindak dan efektif dalam memberi jasa,
b. Tepat
artinya setiap kebijakan yang diambil benar-benar mampu memberikan dukungan dan
motivasi bagi pengguna dalam memanfaatkan koleksinya di perpustakaan, dan
c. Benar artinya
setiap hal yang berkenaan dengan perpustakaan selalu dalam bentuk kewajaran dan
tidak berlebihan, baik itu dalam pengadaan koleksi maupun dalam penggunaa
anggaran perpustakaan.[2]
Mengingat manajemen itu merupakan suatu hal yang penting,
maka setiap kebijakan yang sifatnya berasal dari manajemen, haruslah dikaji dan
dianalisis kembali sebelum dilaksanakan di area perpustakaan. Maka itu, George,
membagi fungsi perpustakaan itu menajdi empat bagian, yaitu planning,
arganizing, actuating dan controlling.[3] Henry,
mengemukakan fungsi-fungsi manajemen perpustakaan, meliputi planning,
organizing, staffing, directing, coordinating, reporting dan budgeting.[4] Namun perlu
diketahui ahwa, hakikat dari manajemen itu bukanlah semata-mata untuk menambah
koleksi pada perpustakaan, namun hakikat dari manajemen perpustakaan itu adalah
untuk memperoleh sisi baik dari berbagai hal yang dianggap perlu untuk dikelola
dan diatur secara kontinue dan integral. Dalam konteks ini, manajemen berfungsi
selaku organ dalam perpustakaan. Sebagaimana Peter, mengemukakan bahwa
manajemen itu bertugas mengembangkan setiap kegiatan kerja untuk menjadi
produktif. Tidak mubazir dan membuat agar setiap kerja selalu berprestasi.[5]
Jadi, manajemen perpustakaan sekolah pada dasarnya adalah
proses mengoptimalkan kontribusi manusia, material, anggaran untuk mencapai
tujuan perpustakaan. Perpustakaan sekolah masih mengalami berbagai hambatan,
sehingga belum bisa berjalan sebagaimana mestinya. Hambatan tersebut berasal
dan dua aspek. Pertama, aspek struktural, yaitu keberadaan perpustakaan sekolah
kurang memperoleh perhatian dari pihak manajemen sekolah. Kedua aspek teknis
artinya keberadaan perpustakaan sekolah belum ditunjang oleh aspek-aspek
bersifat teknis yang sangat dibutuhkan oleh perpustakaan sekolah seperti
tenaga, dana, serta sarana dan prasarana.
2. Pengertian Pelestarian
Bahan pustaka merupakan unsur penting dalam
sistem perpustakaan, dimana bahan pustaka harus dilestarikan karena memiliki
nilai informasi yang mahal. Bahan pustaka berupa terbitan buku, berkala (surat
kabar dan majalah), dan bahan audio visual seperti audio kaset, video, slide,
CD-Rom dan sebagainya.
Pelestarian atau pemeliharaan bahan pustaka
tidak hanya secara fisik saja, namun juga meliputi isinya yang berbentuk informasi
yang terkandung di dalamnya. Pelestarian merupakan kegiatan mengusahakan
agar bahan pustaka yang kita kerjakan tidak cepat mengalami kerusakan, awet,
dan bisa dipakai lebih lama serta bisa menjangkau lebih banyak pembaca
perpustakaan.[6]
Pelestarian
bahan pustaka ialah mengusahakan agar bahan pustaka tetap terjaga dan tidak
cepat mengalami kerusakan dan diusahakan agar awet, bisa dipakai lebih lama dan
bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan, yang memiliki tujuan untuk menyelamatkan
nilai informasi dokumen, menyelamatkan fisik dokumen, mengatasi kendala
kekurangan ruang dan mempercepat perolehan informasi.[7] Sementara Sulistyo
menjelaskan bahwa pelestarian bahan pustaka adalah, proses memastikan bahwa
kebutuhan informasi kepada pemakai terpenuhi secara tepat waktu dan guna dalam
memanfaatkan sumber-sumber informasi yang dihimpun oleh perpustakaan.[8]
Pemeliharaan bahan pustaka pada dasarnya ada cara yang
cenderung dilakukan, yaitu;
1. Pemeliharaan kondisi lingkungan bahan
pustaka, yang meliputi; mencegah kerusakan bahan pustaka dari pengaruh cahaya,
mencegah kerusakan bahan pustaka dari pengaruh suhu udara dan kelembaban udara,
mencegah kerusakan dari faktor kimia, partikel debu, dan logam dari udara,
mencegah kerusakan dari faktor biota dan jamur, mencegah kerusakan dari faktor
air, mencegah kerusakan dari faktor kebakaran, melakukan fumigasi ; tindakan
pengasapan yang bertujuan mencegah, dan mengobati dan mensterilkan bahan
pustaka,[9]
2. Pemeliharan
kondisi fisik bahan pustaka meliputi;
a. Menambal dan
menyambung yaitu dengan cara menambal dengan bubur kertas, menambal dengan
potongan kertas, menambal dengan kertas tisu dan menyambung dengan kertas tisu,
b. Laminasi,
yaitu melalui; laminasi dengan tangan, laminasi
dengan mesin pres panas, laminasi dengan filmoplast,
c. Enkapsulasi
(memberikan bahan pelindung dengan film atau kertas plastik polyester) dan
d.
Penjilid dan
dan perbaikan.[10]
3. Pengertian Bahan Pustaka
Bahan pustaka sering
juga diartikan sebagai koleksi, atau buku-buku. Lebih lengkapnya pengertian bahan
pustaka atau koleksi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kumpulan
(gambar, benda bersejarah, lukisan, dan sebagainya) yang sering dikaitkan
dengan minat atau hobi objek (yangg lengkap) atau disebut juga sebagai kumpulan
yang berhubungan dengan studi penelitian. Koleksi juga diartikan sebagai acuan koleksi rujukan atau bahan
pustaka yang jarang digunakan, disimpan di lemari tertutup, tetapi dapat
dipinjam jika diperlukan.[11] Koleksi dalam pengertian ini yaitu sebagai bahan pustaka atau
buku-buku. Koleksi menurut
Soeatminah mempunyai
makna kumpulan bahan-bahan yang berhubungan dengan studi penelitian.[12]
Atau dapat dipahami juga sebagai bahan informasi kepada pemakai dari berbagai
sumber informasi yang dihimpun oleh perpustakaan.[13]
Menyangkut dengan bahan pustaka ini, bahwa salah satu tugas
perpustakaan adalah menyediakan bahan pustaka agar siap untuk dipergunakan oleh
pengguna yang membutuhkannya. Adapun upaya untuk membuat bahan pustaka agar
siap digunakan oleh pengguna, biasanya disebut pengolahan bahan pustaka.
Berkenaan dengan itu, Sutarno menjelaskan bahwa pengolahan bahan pustaka mesti
dilakukan sejak masuknya bahan pustaka ke perpustakaan sehingga siap digunakan
atau dipinjam pengguna perpustakaan. Kegiatan
pengolahan bahan pustaka ialah kegiatan yang diawali sejak koleksi diterima di
perpustakaan sampai dengan penempatan di rak atau tempat tertentu yang telah
disediakan. Untuk kemudian siap dipakai oleh pemakai. Pekerjaan pengolahan
bahan pustaka yang berbentuk tercetak (printed matter) dan terekam (recorded
matter) dibedakan dan dipisahkan, meskipun ada pekerjaan yang memiliki
kesamaan.[14]
B. Tujuan
Manajemen
Pelestarian Pustaka
Sebagaimana telah dijelaskan
bahwa manajemen memang sangat penting diperhatikan. Dengan adanya manajemen
memungkinkan bahan perpustakaan dapat terawat dan terjaga secara baik. Selanjutnya
dengan itu tujuan utama dari manajemen pelestarian bahan pustaka adalah;
1.
Untuk mempermudah pengaturan koleksi yang ada
agar siap pakai dan berdaya guna secara optimal,
2.
Agar semua koleksi dapat ditemukan/ditelusur
dan dipergunakan dengan mudah oleh
pemakai, karena pengolahan bahan pustaka merupakan pekerjaan yang berurutan,
mekanis dan sistematik.[15]
Di samping itu, pengolahan bahan pustaka sebagai prosedur yang berupaya mengolah
koleksi bahan pustaka, agar perpustakaan menjadi lebih berstruktur. Oleh karena
itu setiap bahan pustaka atau informasi yang dibutuhkan oleh pengguna sedapat
mungkin harus disediakan oleh perpustakaan. Sebagaimana yang dikatakan oleh
Razak, bahwa dalam kaitan ini perpustakaan harus mampu menjamin bahwa setiap
informasi atau koleksi yang berbentuk apapun mudah diakses oleh masyarakat pemustaka
yang membutuhkan.[16] Manajemen pengelolaan bahan pustaka ini bertujuan agar informasi atau
bahan pustaka di perpustakaan dapat dimanfaatkan atau ditemukan kembali dengan
mudah, maka dibutuhkan sistem pengelolaan dengan baik dan sistematis yang biasa
disebut dengan kegiatan pengolahan (processing of library materials)
atau pelayanan teknis (technical service).[17]
Selanjutnya pelestarian mengusahakan agar bahan pustaka yang kita kerjakan tidak
cepat mengalami kerusakan. Bahan pustaka mahal, diusahakan agar awet, bisa
dipakai lebih lama dan bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan. Tujuan
pelestarian bahan pustaka dapat disimpulkan sebagai berikut;
1.
Untuk menyelamatkan nilai informasi dokumen,
2.
Untuk menyelamatkan fisik
dokumen,
3.
Untuk mengatasi kendala kekurangan ruang, dan
4.
Untuk mempercepat
perolehan informasi.[18]
Di sisi lain, terhadap pelestarian bahan
pustaka memiliki beberapa fungsi yang tidak terlepas dari tujuan perpustakaan
itu sendiri yaitu, melindungi, pengawetan,
kesehatan, pendidikan, kesabaran, sosial, ekonomi, keindahan serta
rekreasi,[19]
Berbagai unsur penting yang perlu dipertimbangkan dalam pelestarian bahan pustaka
adalah manajemen, tenaga yang merawat bahan pustaka, laboratorium dan dana. Sementara
jenis pelestarian menurutnya memiliki tiga jenis, yaitu;
1.
Pustakawan untuk pelestarian, yang mengepalai bagian
pelestarian di perpustakaan,
2.
Konservator, yaitu orang yang langsung bertanggung
jawab untuk memperbaiki dokumen,
3.
Teknisi bidang konservasi.[20]
Sebagai pustakawan memang harus
dapat memperbaiki dokumen yang rusak, baik itu kerusakan kecil maupun kerusakan
yang berat. Perpustakaan sebaiknya memiliki ruangan khusus untuk melakukan
pekerjaan ini. Menambal buku berlubang oleh larva kutu buku penyebab lainnya,
menyambung kertas yang robek, atau menambal halaman buku yang koyak adalah
pekerjaan yang mesti dapat dikerjakan. Mengganti sampul buku yang rusak total,
menjilid kembali, atau mengencangkan penjilidan yang kendur adalah pekerjaan
yang harus dikuasai oleh restaurator. Berbagai
macam kerusakan yang lain yang mungkin terjadi, tidak boleh ditolak oleh bagian
pelestarian ini. Bahan-bahan yang diperlukan, serta cara mengerjakan perbaikan
ini akan dijelaskan.
C. Prinsip Manejemen
Pelestarian Pustaka
Beberapa prinsip secara khusus terhadap manajemen
pelestarian bahan pustaka, yaitu;
1.
Kebijakan
pengembangan koleksi
Kebijakan pengembangan koleksi
yaitu proses memastikan bahwa kebutuhan informasi dari para pengguna jasa
perpustakaan akan terpenuhi secara tepat waktu dan tepat guna dengan
memanfaatkan sumber-sumber informasi yang dihimpun oleh perpustakaan.
2.
Seleksi bahan
pustaka
Seleksi
dapat diartikan secara umum sebagai tindakan, cara atau proses memilik. Dalam
hubungannya dengan pengembangan koleksi bahan pustaka dimaksudkan bahwa
kegiatan mengidentifikasi rekaman informasi yang akan ditambahkan pada koleksi
yang sudah ada diperpustakaan.Dalam seleksi bahan pustaka yang
perlu diperhatikan seperti; 1) tujuan, cakupan dan kelempok pembaca; 2) Tingkat
koleksi; 3) otoritas dan kredibilitas pengarang; 4) harga; 5) Kemutahiran; 6)
penyajian fisik buku; 7) Struktur dan metode penyajian; 8) indek dan abstrak.
3.
Sumber-sumber
seleksi (alat bantu seleksi)
Sumber-sumber seleksi bahan
pustaka atau alat bantu dalam menyelsi bahan pustaka yang akan diadakan oleh
perpustakaan antara lain : Katalog penerbit, bibliografi, tokoh buku serta
judul-judul buku yang diambil di internet dan sebagainya.
4.
Pengadaan
bahan pustaka
Pengadaan bahan pustaka adalah
merupakan proses pembelian bahan pustaka yang dibutuhkan oleh perpustakaan yang
biasanya berdasarkan kebutuhan para pengguna jasa perpustakaan.
5. Invetarisasi
Inventarisasi adalah merupakan pencatatan bahan pustaka baik yang didapat dari
pembelian, hadiah, wakaf, tukar menukar kedalam buku induk. Tujuan
infentarisasi adalah : 1) mempermudah pustakawan dalam pengadaan bahan pustaka
berikutnya, 2) memudahkan pustakawan untuk mengawasi terhadap koleksi yang
dimiliki, 3) memudahkan pustakawan dalam pelaporan tahunan tentang jumlah
koleksi yang dimiliki.
6.
Pemberian stempel
perpustakaan.
Pemberian
stempel perpustakaan bertujuan untuk memberikan identitas tentang koleksi bahan
pustaka yang dimilki oleh perpustakaan. Dalam pemberian stempel ini terdiri
dari stempel hak milik dan stempel inventarisasi yang letaknya sesuai dengan
standar perpustakaan.
7. Katalogisasi
Proses katalogisasi merupakan pembuatan identitas atau data bibliografi bahan
pustaka dengan tujuan mempermudah pengguna jasa perpustakaan untuk temu kembali
informasi bahan pustaka. Data bibliografi tersebut biasanya terdiri dari,
pengarang, pengarang tambahan, judul, anak judul, judul seragam, penerbit,
tempat terbit, edisi, tahun terbit,bibliografi, jumlah halam dll. Catalog ini
pada umumnya terbagi atas catalog judul, pengarang dan subyek.
8.
Pemasangan
kelengkapan bahan pustaka
9. Pemasangan
kelengkapan , bahan pustaka adalah pekerjaan pemasangan beberapa identitas buku
seperti : label buku, lembaran tanggal kembali, kartu buku, kantong buku.
10.
Klasifikasi
Kalsifikasi
merupakan pengelompokan disiplin ilmu berdasarkan sistim tertentu.[21]
Pada awalnya sudah dijelaskan bahwa, kebijakan pelestarian
bahan pustaka itu sangat terasa penting dikarenakan dengannya proses memastikan
bahwa kebutuhan informasi dari para pengguna jasa perpustakaan akan terpenuhi
secara tepat waktu dan tepat guna dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi
yang dihimpun oleh perpustakaan dapat diketahui dan bisa dilakukan dengan
cepat. Berbicara prinsip, pikiran kita tertuju pada namanya sebuah kepastian
atau lebih dekat lagi pada sebuah makna komitmen. Artinya prinsip ini mungkin
juga disebut sebagai sebuah komitmen yang harus selalu dijaga dan
dipertahankan. Menanamkan prinsip manajemen pelestarian itu pada dasarnya
memang penting untuk dipertahankan.
Perpustakaan bukanlah sebagai lembaga bisnis tapi non
bisnis, yang merupakan organ yang dibentuk dan difungsikan untuk memenuhi
maksud tertentu yang dimiliki oleh masyarakat serta untuk memuaskan kebutuhan
pengguna. Secara umum prinsip dari
manajemen pelestarian itu adalah untuk meningkatkan kualitas dari sebuah
perpustakaan itu sendiri, sehingga perpustakaan saban hari terus mengalami
perubahan dan terbenahi terhadap berbagai kekurangan dan ketidaksempurnaan.
Atau lebih sederhana lagi, prinsip manajemen koleksi perpustakaan itu adalah
untuk selalu mencari yang terbaik agar berprestasi dalam bidang kerja sebagai
pengelola perpustakaan.[22]
Salah satu proses vital dalam manajemen pelestarian bahan
perpustakaan adalah pemilahan bahan pustaka (klasifikasi). Proses ini begitu
penting dan merupakan kunci mendasar bagi proses-proses lainnya untuk bisa
berjalan secara sistematis. Pemilahan bahan pustaka bertujuan untuk membagi
bahan-bahan pustaka yang ada menjadi berbagai kelompok sesuai dengan tema,
judul, penulis, dan parameter-parameter lainnya yang akan memudahkan penempatan
bahan-bahan pustaka tersebut dalam rak-rak buku, serta yang lebih penting lagi
adalah untuk memudahkan proses pemanggilan kembali (recalling) ketika buku-buku
tersebut dibutuhkan.
Di dunia perpustakaan internasional, dikenal banyak
sekali ragam sistem klasifikasi bahan pustaka, dari yang tradisional sampai
yang paling modern, keselurahannya ini terbentuk adanya manajemen pelestarian
bahan pustaka yang dilakukan secara baik. Ragam sistem tersebut yaitu, Library
of Congress Classification, Dewey Decimal Classifivation, Dickinson Classification, Brinkler
Classification, Colon Classification,
Cutter Expansive Classification, dan lain sebagainya. Tapi secara umum,
aneka sistem klasifikasi tersebut bisa digolongkan ke dalam 3 tipe sistem,
yaitu (1) enumerative, yaitu yang
menyediakan sebuah daftar kode alfabetik yang diasoisiasikan dengan daftar
tema, (2) hierarchical, yaitu yang
membagi aneka tema secara hirarkis dari yang paling umum ke yang paling
spesifik, dan (3) faceted atau
analytico-synthetic, yaitu yang membagi aneka tema ke dalam aspek-aspek
terpisah yang dipadukan.[23]
Perlu
diingat bahwa, setiap manajemen pelestarian ini harus dilaksanakan dengan
menggunakan atau memberdayakan orang-orang dan sumber daya lainnya secara
efektif dan efesien, selain itu manajemen ini harus terjamin pula
pencapaiannya, tidak boleh menggunakan sumber daya yang ada tanpa hasil yang
konkrit. Lebih lanjut bahwa, pada dasarnya prinsip manajemen pelestarian itu adalah;
1. Semua koleksi
dapat dimanajemenkan dengan baik,
2. Bahan
pustaka yang ada dapat diberdayakan secara efektif dan efesien,
3. Dengan
adanya manajemen pelestarian ini, tujuan perpustakaan tercapai sebagaimana
mestinya.[24]
Tiga poin di atas sebagai prinsip pada setiap manajemen pelstarian
bahan pustaka, dan berlaku pada semua perpustakaan, baik itu perpustakaan
sekolah, perpustakaan perguruan tinggi maupun perpustakaan nasional dan
perpustakaan lainnya. keseluruhannya mengambarkan hakikat yang dicapai dari
setiap manajemen perpustakaan. Ketiga prinsip tersebut dapat dijadikan sebagai
tolak ukur terhadap perpustakaan dan harus mendapat hasil sebagaimana prinsip
dari manajemn itu sendiri.
Dari beberapa
prinsip manajemen pelestarian pustaka yang telah dijelaskan di atas, dapat
disimpulkan bahwa prinsip manajemen pelestarian ini penting untuk dipelajari
kembali oleh setiap pustakawan dalam bertugas di perpustakaan, tak terkecuali kepala
perpustakaan, yang memilki kebijakan penuh terhadap manajemen perpustakaan. Agar
manajemen yang telah dijalankan meski tidak mencapai hasil yang diharapkan
paling tidak perpustakaan mengalami perubahan yang lebih baik. Jadi, menanamkan
prinsip pada sebuah perpustakaan adalah penting untuk dinalisis kembali.
D. Hal yang Harus
Diperhatikan Terhadap Manajemen Pelestarian Pustaka
Membahas tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam
setiap manajemen pelestarian bahan pustaka banyak hal yang harus diperhatikan,
mulai dari koleksi yang tersedia hingga fasilitas layanan. Namun demikian banyak hal yang harus
diperhatikan secara khsusus terhadap manajemen itu sendiri. Beberapa hal penting
yang harus diperhatikan dalam setiap manajemen perpustakaan adalah sebagai berikut;[25]
1.
Struktur
organisasi perpustakaan
2.
Departementasi
3.
Staffing
4.
Directing
5.
Koordinasi
6.
Reporting
7.
Budgeting
8.
Pelayanan
Sebagai kepala perpustakan, hal inilah yang penting untuk
diperhatikan sebagai pemegang manajemen perpustakaan. Bila hal ini luput dari
perhatian terhadap manajemennya, tidak tertutup kemungkinan berbagai hal
terjadi dalam tubuh perpustakaan seperti lambannya penyampaian laporan koleksi,
pustakawan dan ketidaksingkronan antara satu sama lainnya dalam menjalankan
tugas.
Konkritnya adalah, setiap hal yang berkenaan dengan aspek
manajemen, maka tumpuan seorang kepala perpustakaan yang harus dilihat adalah
beberapa kelompok tersebut sebagaimana yang tersebut di atas. Selanjutnya hal yang harus diperhatikan dalam manajemen pelestarian
bahan pustaka adalah;
1. Inventarisasi
Inventarisasi
dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah pencatatan atau pendaftaran milik
kantor (sekolah, rumah tangga dan lain-lain) yang dipakai dalam melaksanakan
tugas.[26]
Pengertian lainnya, pencatatan atau pengumpulan data tentang kegiatan, hasil
yang dicapai dan lain-lain. Kegiatan inventarisasi terutama bertujuan agar
perpustakaan dapat mengontrol pemilikannya. Dengan inventarisasi perpustakaan
dapat membuat laporan, menyusun statistik, memeriksa khasanah bahan pustaka
yang dimiliki atau mengetahui bahan pustaka yang belum atau sudah dimiliki.
Selain itu
dapat diketahui jumlah bahan pustaka yang dimiliki suatu perpustakaan pada
kurun waktu tertentu dan mengetahui bahan pustaka yang hilang. Dalam
melaksanakan kegiatan inventarisasi bahan pustaka diperlukan; buku induk atau
buku inventarisasi, cap atau stempel inventarisasi dan cap atau stempel
perpustakaan.[27]
2.
Penentuan Tajuk Subjek
Menentukan
tajuk subjek adalah suatu kegiatan menentukan subjek atau isi buku dalam bentuk
kata. Penentuan tajuk subjek bertujuan untuk dapat memudahkan menembukan bahan
pustaka yang membahas suatu pokok masalah tertentu yang sedang kita butuhkan.
Menurut Suwarno, tajuk subjek adalah mendaftarkan dibawah satu kata atau frase
yang seragam semua bahan pustaka tentang satu subjek tertentu yang dimiliki
oleh perpustakaan. Dalam pemilihan kata atau istilah yang akan ditetapkan untuk
menjadi suatu subjek hendaknya disesuaikan dengan istilah yang lazim
dipergunakan oleh pemakai, dengan demikian istilah yang digunakan dapat membantu
memudahkan pengguna dalam melakukan penelusuran suatu subjek yang dibutuhkan
melalui katalog.[28]
3.
Klasifikasi
Klasifikasi
merupakan pengelompokan yang sistematis daripada sejumlah objek, gagasan, buku
atau benda benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan
ciri-ciri yang sama. Menurut Suwarno, klasifikasi adalah pengelompokan
barang-barang atau objek berdasarkan tingkat persamaannya. Dengan demikian,
klasifikasi merupakan kegiatan pemisahan benda-benda atau objek lain
berdasarkan tingkat perbedaannya. Fungsi klasifikasi adalah untuk mempermudah
dalam penelusuran terhadap benda-benda yang ingin kita peroleh secara cepat dan
tepat..[29]
4.
Pelabelan
Pelabelan
dilakukan untuk mempermudah pengguna mengenali bahan pustaka. Dengan kata lain
pelabelan merupakan suatu pekerjaan member perlengkapan pada buku yang terutama
juga untuk dipergunakan sebagai alat perlengkapan dalam tugas perpustakaan
melayani peminjaman dan pengembalian buku. Menurut Suwarno, pelabelan adalah
pemasangan label pada punggung buku yang berisi call number sesuai dengan yang
tertulis dalam Katalog. Pelabelan ini sebaiknya diketikpada kertas label putih,
atau pada kertas HVS biasa yang digunting satu ukuran (seragam), sesuai dengan
kebutuhan perpustakaan. Dengan
demikian sebelum label ditempel.[30]
5.
Pemasangan Kantong Kartu Buku
Kantong
kartu buku dibuat dari kertas yang agak lebih tebal dan dibuat dengan perkiraan
bisa untuk tempat kartu buku. Kantong ini berfungsi sebagai tempat kartu buku
yang ditempel di bagian belakang (sampul) dalam buku. Kantong ini ada baiknya
jika ditandai pula dengan keterangan, seperti call number, nama pengarang dan
judul buku yang berfungsi sebagai kontrol untuk kartu buku yang tidak sesuai. [31]
6.
Penyampulan
Penyampulan
merupakan bagian dari kegiatan pengolahan bahan pustaka. Setelah buku selesai
dilabel ada baiknya jika buku tersebut diberi sampul, agar buku tidak mudah
rusak dan terlihat rapi. Biasanya proses penyampulan ini menggunakan plastik
bening, agar buku terlihat jelas.[32]
7.
Penyusunan Buku
Penyusunan buku merupakan
kegiatan menempatkan buku yang sudah selesai diolah dan telah dilengkapi dengan
label di dalam rak buku, disusun berurutan sesuai dengan nomor klas buku.
Dengan kata lain penyusunan buku adalah kegiatan menempatkan buku-buku yang
sudah selesai diolah dan telah dilengkapi dengan label di dalam rak/lemari. Buku diatur
sesuai dengan sandi buku yang merupakan kode kelompok subjek/isi buku. Dengan
demikian dalam penyusunan buku di rak selalu diperhatikan nomor panggil buku
karena fungsinya sebagai petunjuk tempat dan nomor urut dimana nomor urut
ditempatkan.[33]
[1] Bennet Silalahi, Manajemen integrative, (Jakarta: LPMI, 2001), hlm. 11. Pengertian manajemen
tersebut juga memiliki kesamaan dalam George R. Terry, terj. Winardi, Azas-azas Manajemen, (Bandung: Alumni, 2010), hlm. 15.
[2] LASA Hs. (dkk). Pengaruh
Model Kepemimpinan dan Manajemen terhadap Kinerja Perpustakaan Perguruan Tinggi,
Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Vol. I, Nomor 2. 2004. Beberapa
pengertian di atas juga memiliki kesamaan dalam A. Ridwan Siregar, Perpustakaan Energi Pembangunan Bangsa,
(Medan : USU Press, 2004), hlm. 38.
[3] Syukri Nur, M.L.I.S, dkk, Manajemen Perpustakaan, (Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004),
hlm. 4.
[4] Ibid.
[6] Moedzakir, Pemeliharaan Buku dan Menjilid,
(Yogyakarta: Pusdiklat Perpustakaan IKIP, 1980), hlm 12.
[7]
Sujana, Janti G dan Yulia, Yuyu, Modul Pengembangan Koleksi, (Jakarta:
Universitas Terbuka, 2006), hlm. 15.
[9] Mohammadin Razak, Pelestarian bahan pustaka dan arsip, (Jakarta :
Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip, 1992), hlm. 10.
[12] Ibid., hlm. 538
[14] Sutarno NS, Tanggung Jawab Perpustakaan Dalam Mengembangkan Masyarakat Informasi, (Jakarta: Panta Rei, 2005),
hlm. 179.
[17] Ibid.
[18] Pakde Sofa,
Pelestarian, Macam Sifat Bahan Pustaka, dan Latar Belakang Sejarahnya, diakses
pada tanggal 23 Maret 2012, melalui situs http://massofa.wordpress.com/ 2008/02 /03/
pelestarian-macam-sifat-bahan-pustaka-dan-latar-belakang-sejarahnya/
[21]
Ketut Wdiasa, Manajemen Pengelolaan Bahan Pustaka, diakses tanggal 23
Maret 2012 melalui situs http://manajemenbahanpustaka.blogspot.com/
[23] Ketut Widiasa, Manajemen Pengelolaan Bahan Pustaka, diakses
tanggal 23 Maret 2012 melalui situs http://manajemenbahanpustaka.blogspot.com/
[25] Syukri Nur, M.L.I.S. dkk, Manajemen Perpustakaan, hlm. 22-39.
[27] Wiji Suwarno, Perpustakaan dan Buku: Wacana penulisan
& Penerbitan. (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2011), hlm. 47.
[28] Ibid., hlm. 106.
[31] Ibid., hlm. 110.

Komentar
Posting Komentar
Komentar