PROPOSAL SKRIPSI TENTANG RAGAM DIALEK BAHASA ACEH DALAM MASYARAKAT ACEH

 google.com, pub-8131506556461982, DIRECT, f08c47fec0942fa0


PROPOSAL SKRIPSI

TENTANG

RAGAM DIALEK BAHASA ACEH DALAM MASYARAKAT GUE GAJAH

 

1. 1 Latar Belakang Masalah

Pada hakikatnya, manusia hidup tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, senantiasa membutuhkan orang lain, yang pada akhirnya hidup secara bersama dan berkelompok, ada yang dimulai dari proses asosiatif, yaitu dalam lingkungan sederhana, seperti keluarga dan sekolah, ada juga melalui proses dissasosiatif, yaitu dalam lingkungan yang lebih luas. Proses interaksi ini  berjalan sedemikian rupa didukung oleh lambang atau simbol sebagai jembatan untuk memahami pengertian-pengertian dalam kehidupan sosial, salah satunya adalah bahasa.Oleh karena itu bahasa sebagian orang menamakan sebagai alat interaksi yang sempurna dan mudah dipahami daripada menggunakan tangan, simbol atau isyarat lainnya. Bahasa lisan itulah yang dimaksud sebagai alat atau simbol yang mudah dipahami. Makanya memahami bahasa orang bisu yang sering menggunakan tangan sebagai isyarat, terasa sangat rumit untuk memahaminya, hanya orang yang terbiasa dengan pola isyarat yang mampu memahaminya.

Menurut Ismaun, (1981: 24) bahasa merupakan identitas atau jati diri yang menunjukkan pada ciri-ciri yang melekat pada seseorang atau kelompok masyarakat. Maka tidak heran, bahasa adalah sebagai identitas yang mudah diketahui dan dipahami dalam menentukan daerah asal seseorang, begitu juga dengan ciri bahasanya, ada yang keras ada juga yang lembut. Bentuk bahasa ini pula yang memperlihatkan salah satu ciri kelompok masyarakat pesisir dan pegunungan serta yang membedakan masyarakat desa dan kota. Di lain hal, dari ciri khas bahasa dapat diketahui pula sikap atau moral seseorang, baik atau tidaknya seseorang. Melalui pemahaman bahasa secara pragmatis, seseorang dapat mengetahui keinginan, kemauan atau kehendaklain. Karena tidak semua bahasa/kata-kata mengandung pengertian atau makna yang sama sebagai ucapan, sehingga untuk memahaminya memerlukan linguistik pragmatis, seperti kalimat; “Panas sekali ruangan ini”, ini mengandung makna, keinginannya agar pintu atau jendela dibukakan, atau keinginannya agar dihidupkan kipas angin/AC, sehingga udara tidak terasa panas. Oleh karena itu untuk mengetahui hal demikian ada cabang ilmu tersendiri, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang disusun oleh Team Pustaka Phoenix, (2007: 190) disebutkan, cabang linguistik yang digunakan untuk menyelidiki tentang ragam bahasa “dialek” disebut dengan dialektologi.

Sebagaimana diketahui, disaat menjalankan tugas sehari-hari, entah sebagai guru bahasa, penulis, penerjemah, wartawan, penyusun kamus, atau sebagai apapun yang berkenaan dengan bahasa, tentu akan dihadapkan dengan masalah-masalah linguistik atau paling tidak punya keterkaitan/berkaitan dengan linguistik. Tanpa pengetahuan yang memadai mengenai bahasa (linguistik), besar kemungkinan mereka akan mendapatkan kesulitan dalam melaksanakan tugas yang menjadi kegiatan rutinitas sehari-hari. Akan tetapi , bila memahami masalah-masalah linguistik, tentu akan memudahkan pula dalam melaksanakan tugas sehari-hari.Oleh karena itu, di sinilah letak pentingnya penguasaan linguistik pada diri seseorang, sehingga mampu memberi pemahaman mengenai hakikat dari bahasa yang merupakan sebagai satu-satunya alat komunikasi terbaik yang hanya dimiliki oleh manusia.Disamping itu, dengan bahasa itu pula seseorang mampu menjalankan perannya dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam suatu wadah organisasi.

Linguistik itu adalah ilmu bahasa sebagai objek atau lebih tepat lagi seperti dikatakan Martinet (1987: 19) telaah ilmiah mengenai bahasa manusia. Linguistik ini tidak sama dengan dialek, pada dialek inilah yang menjadi objek kajian dalam tulisan ini, yang akan diangkat dalam beberapa sub poin. Dialek, menurut Hasan Basry, (1994: 204) dalam Kamus Umum Indonesia-Aceh, disebutkan bahwa dialek merupakan logat (Aceh: lôrat). Pengertian dialek ini, lain lagi yang dimaknai oleh Team Pustakan Phoenix, (2007: 190) yang disebutkan sebagai logat atau bahasa yang dipakai di suatu tempat atau daerah yang berbeda dengan bahasa daerah tempat lain.

Poerwadarminta, (2006: 290) menyebutkan, bahwa dialek ini mengandung makna bahasa yang dipakai di suatu tempat atau daerah yang agak berbeda dengan bahasa yang umum. Artinya, bahasa yang digunakan dalam suatu daerah tertentu tidak memiliki kesamaan bahasa umum yang dipakai di daerah itu, sehingga terjadi variasi yang sangat menonjol antara bahasa asli tempat suatu daerah dengan bahasa yang diucapkan. Seperti yang terjadi di desa Guegajah Kec. Darul Imarah Kab. Aceh Besar.

Di Guegajah, ragam dialek bahasa sangat meluas, bahkan nyaris tidak terkontrol dengan bahasa pemakaian yang umum digunakan oleh masyarakat setempat, sehingga banyak bahasa yang tidak memiliki kesamaan secara umum sebagaimana yang dipakai oleh masyarakat Guegajah. Variasi-variasi ini sangat menonjol, eskalasinya tidak hanya terlihat pada orang dewasa, anak-anak juga mulai menggunakan ragam dialek ini dalam kehidupan sehari-harinya.

Pergulatan panjang terhadap ragam bahasa ini, sebenarnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Guegajah. Bagi kehidupan sosial yang telah mengalami keterbukaan atau pada masyarakat terbuka, perpaduan bahasa sudah pasti terjadi, karena keterbukaan masyarakat inilah yang mengakibatkan terjadinya pembauran proses sosial sehingga terjadi pula percampuran bahasa dengan berbagai variasi dalam sebuah masyaraka.Percampuran bahasa memang tidak bisa dipungkiri lagi, bagaimanapun hidup dalam suatu masyarakat terus mengalami perubahan, baik secara sengaja maupun secara tidak dan terus terjadi pergaulan/interaksi secara sengaja dengan masyarakat lain. Karena pergaulan antara individu dengan individu lainnya, ragam dialekpun tidak terhindarkan lagi. Seiring dengan itu, upaya meniru dan usaha mempertahankan bahasa sendiri dengan bahasa lain adalah sebagai alternatif/inisiatif dari pribadi seseorang.

Sebagai interaksi itu tidak bisa dicegah, ragam dialek pun akan semakin rumit diserasikan.Oleh karena itu di sinilah perlunya pemahaman untuk melestarikan kebudayaan lokal secara arif. Mungkin terbayang di benak kita, antar logat Aceh yang berulang bunyi sehingga berubah menjadi logat tidak berulang bunyi, seperti; (Aceh: Lôn lônjak u Mata Ie), subyek bahasa Aceh sering terjadi pengulangan suku kata. Dalam bahasa Melayu, kalimat tersebut tidak mungkin diartikan; (Melayu: Saya saya pergi ke Mata Ie). Perubahan ini sangat besar pengaruhnya terhadap kosakata bahasa Melayu dalam bahasa Aceh, sehingga terjadi perubahan dari kalimat utuh menjadi; Lôn jak u Mata Ie, dalam bahasa Melayu; saya pergi ke mata ie.

Begitu juga halnya dengan bahasa yang sering diucapkan oleh masyarakat Guegajah, seperti kata “peuë”, (Melayu: apa) merupakan kata yang letaknya di awal kalimat, yang merupakan logat masyarakat Aceh Rayek, Aceh Barat, Aceh Selatan dan Pidie.Di samping kata “peuë”, juga kata “puë”, yang artinya juga “apa”. Dalam percakapan sehari-hari kata-kata tersebut acapkali diadopsi oleh masyarakat setempat sehingga ragam bahasa “dialek” pun tidak terhindarkan. Kemudian logat kata “belah”, bagi masyarakat Guegajah Aceh Besar, belah dalam bahasa Aceh adalah plah, namun kata “plah”, ini sering tergantikan oleh kata “proh” yang artinya juga belah. Kemudian lagi, bila arti dalam bahasa Melayunya adalah kamu peluk, terjadi ragam dialek bahasa, seperti “kawa”, “neuwa” dan “neu um”, keseluruhan ini mempunyai arti yang sama yaitu kamu peluk. Kemudian kata “keuë”, (Melayu: depan) terjadi juga dialek bahasa menjadi “di keuë” dan “u keuë”, yang memiliki arti dalam bahasa Melayu adalah depan atau di depan. Kemudian kata ganti untuk menunjukkan nama, seperti “drôen”, terjadi dialek bahasa yaitu “kèë”, yang artinya adalah saya, dan kata “idroë” yang artinya untuk saya, terjadi dialek bahasa menjadi “ikèë”, yang artinya untuk aku, dan menjadi “ilông”, yang memiliki arti untuk saya (Ilyas, dkk, 2008: 21-45).

Rentannya dialek yang terjadi dan dialami oleh masyarakat Guegajah, mengakibatkan pula identitas bahasa khas setiap masyarakat yang telah dianggap baku secara perlahan tergantikan dengan bahasa dan suku kata yang lain, berbeda dengan bahasa penduduk setempat, secara tidak langsung, bahasa sebagai salah satu identitas pada masyarakat sebagai tanda pengenal lambat laun, secara tidak terkontrol akan pupus dalam penggunaan atau dalam percakapan sehari-hari di saat berinteraksi. Apa yang akan muncul selanjutnya terhadap ragam dialek bahasa, yaitu unsur-unsur komponen akan tidak tersusun dengan teratur menurut pola tertentu dalam membentuk satu kesatuan. Dalam keadaan seperti inilah masyarakat sebagai pengguna bahasa sebagai budayanya mesti memiliki pengetahuan tentang bahasa, karena sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa setiap individu disaat menjalankan tugas sehari-hari, tentu akan dihadapkan dengan masalah-masalah bahasa. Tanpa pengetahuan yang memadai mengenai bahasa (linguistik), besar kemungkinan mereka akan mendapatkan kesulitan dalam melaksanakan tugas yang menjadi kegiatan rutinitas sehari-hari, kontrol terhadap bahasa pun makin hari akan terlihat sangat tidak terurus.

Dari beberapa penjelasan di atas yang telah menjadi rentetan masalah, penulis tertarik mengangkat satu judul dalam penyusunan skripsi ini yaitu, “Ragam Dialek Bahasa Aceh Masyarakat Desa Guegajah”

 

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, maka batasan dan perumusan masalah penelitian ini adalah:

1.2.1  Bagaimanakah ragam dialek Bahasa Aceh pada masyarakat Guegajah?

1.2.2  Apakah faktor penyebab terjadinya ragam dialek bahasa Aceh pada  masyarakat Guegajah?

 

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah diuraikan, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1.3.1 Untuk mengetahui bagaimana ragam dialek Bahasa Aceh pada masyarakat Guegajah

1.3.2  Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya ragam dialek bahasa Aceh pada masyarakat Guegajah.

 

1.4 Anggapan Dasar dan Hipotesis

1.4.1 Anggapan Dasar

 Menurut Winarno Surakhmad  (1982 :  89) bahwa anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik.  Berdasarkan pendapat tersebut maka anggapan dasar penelitian ini:

1.4.1.1  Ragam dialek bahasa yang terjadi pada suatu komunitas masyarakat mampu mengubah bahasa umum pada masyarakat asli.

1.4.1.2  Keragaman dialek bahasa Aceh tertinggi terdapat di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar,terjadi karena banyaknya pendatang selama masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam

1.4.2 Hipotesis Penelitian

1.4.2.1 Ragam dialek yang tejadi pada masyarakat desa Guegajah dapat mengubah bahasa masyarakat asli.

1.4.2.2 Banda Aceh dan Aceh Besar khususnya masyarakat desa Guegajah merupakan wilayh tertinggi terjadi dialek bahasa.

 

1.5. Manfaat Penelitian

Ada beberapa manfaat yang diharapkan dalam penelitan ini;

1.5.1 Penelitian ini dapat menjadi pedoman bagi pihak-pihak yang berkompenten seperti masyarakat, komunitas yang mempunyai profesi bidang linguistik, para tokoh budayawan dalam membina dan melestarikan budaya.

1.5.2 Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi para pegiat masalah budaya dan bagi individu yang memiliki profesi yang berhubungan dengan bahasa dalam membina serta mengelola bahasa sebagai identitas diri.

 

1.6. Organisasi Laporan Penelitian

Bab  I    Yaitu bab pendahuluan yang berisi latar belakang  masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, anggapan dasar dan hipotesis, manfaat penelitian dan organisasi laporan penelitian.

Bab II   Yaitu bab teoritis yang ada hubungannya dengan permasalahan yang akan diteliti, yang meliptui; pengertian dialek, ragam bahasa, sub ini mencakup; ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis, hakikat bahasa, klasifikasi bahasa yang mencakup; pendekatan genetis, pendekatan tipologis, pendekatan areal dan pendekatan sosioliguistik, dan tataran bahasa pembahasannya mencakup; tataran bahasa fonologi, tataran linguistik morfologi, tataran linguistik sintaksis dan tataran linguistik semantik.

Bab III  Bab metode penelitian, yang meliputi, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpulan data serta tehnik pengolahan dan analisis data.

Bab IV Yaitu bab hasil penelitian yang terdiri dari; hasil penelitian mencakup; gambaran umum lokasi penelitian, gambaran hasil penelitian, analisis hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian memiliki sub; ragam dialek bahasa Aceh pada masyarakat desa Guegajah dan faktor penyebab terjadinya ragam dialek bahasa Aceh pada masyarakat desa Guegajah.

Bab V            Yaitu bab penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.

 

 

 


Komentar

Postingan Populer