KEMAMPUAN GURU MENERAPKAN ALAT PERAGA SEBAGAI PENUNJANG PROSES PEMBALAJARAN

 

KEMAMPUAN GURU MENERAPKAN ALAT PERAGA SEBAGAI PENUNJANG PROSES PEMBALAJARAN

 

2.1  Pembahasan Teori

2.1.1. Efektivitas

Banyak para ahli memberi pengertian tentang efektivitas termasuk dengan efektivitas  dalam proses pembelajaran.). Menurut Uzer Usman (1990 : 1) bahwa " efektivitas suatu yang menggambarkan suatu kualitas yang dimiliki  suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. "

Burton (Daud Yusuf, 1982 :4) mangatakan bahwa efektivitas adalah " kemudahan, seseorang dalam peningkatan kualitas dan kuantitas  dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. ".

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1996 : 49) efektivitas adalah   " suatu keadaan yang lebih berhasil untuk melakukan sesuatu pekerjaan dalam  upaya peningkatan mutu sesuatu".

            Efektivitas adalah kemudahan, keberhasilan dalam  melaksanakan tugas yang dibebankan kepadany untuk mencapai tujuan.    

Seorang guru yang baik dan berkompetensi dalam mengajar dapat dilihat dari sikap, gaya dan cara dalam menciptakan kondisi dan situasi proses belajar mengajar di sekolah. Guru yang profesional berarti berusaha mengelola program pengajaran secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pembelajaran.  

 

2.1.2. Proses Pembelajaran

Inti dari proses pendidikan secara formal adalah  mengajar, sedangkan inti dari proses pengajaran adalah siswa belajar. Karena guru mengajar selalu berkaitan dengan siswa belajar, maka dalam peristilahan kependidikan kita mengenal istilah belajar-mengajar atau disingkat PBM.

Jika menganalisis proses belajar-mengajar maka akan tertumpu pada satu persoalan yaitu, bagaimana guru memberikan kemungkinan bagi siswa agar terjadi kegiatan belajar yang efektif dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mohamad Ali (1988 : 1) mengemukakan syarat agar proses belajar-mengajar dapat berlangsung secara efektif yaitu:

1. Guru harus mempunyai pegangan kuat tentang mengajar dan dasar-dasar teori belajar.

2. Guru harus dapat mengembangkan sistem pengajaran.

3. Guru harus mampu melakukan proses belajar-mengajar yang efektif sesuai dengan kurikulum.

4. Guru harus mampu melaksanakan penilaian hasil belajar sebagai dasar umpan balik bagi seluruh proses yang ditempuh.

 

 

Persyaratan-persyaratan ini merupakan penegasan bahwa guru harus memiliki kemampuan profesional yang tinggi agar mampu menciptakan pembelajaran yang efektif. Kemampuan profesional meliputi, kemampuan merencanakan proses belajar-mengajar, kemampuan melaksanakan proses belajar-mengajar, dan kemampuan mengevaluasikan proses dan hasil belajar.

Dalam praktek, pengajaran merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Agar setiap proses belajar-mengajar dapat mencapai tujuan yang telah direncanakan guru perlu mempertimbangkan strategi belajar yang akan dipergunakan. Tujuan utama pelaksanaan proses belajar-mengajar adalah siswa belajar. Untuk itu guru harus berusaha  menciptakan proses belajar-mengajar yang disenangi dan mau diikuti oleh para siswa. Proses belajar-mengajar tidak terjadi jika hanya guru yang aktif sedangkan siwa tidak mau mengikuti atau tidak bersedia untuk belajar. Mohamad Ali (1988 : 10) mengemukakan dua macam pendekatan dalam strategi mengajar yang dapat dipilih oleh guru yaitu : (1) strategi mengajar kelompok, dan (2) startegi mengajar individual.

            Strategi mengajar kelompok dan individual agar efektif guru perlu memahami konsep Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Konsep ini merupakan  landasan untuk mengembangkan strategi pembelajaran pendekatan kelompok dan juga individual. Untuk mengembangkan pola pengajaran yang menyenangkan bagi siswa sehingga mereka dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang disampaikan guru.

Untuk memahami lebih jauh tentang masalah proses belajar-mengajar, guru-guru perlu dibekali dengan pengetahuan tentang belajar dan mengajar.

 

2.1.3. Prinsip-prinsip Umum Belajar dan Mengajar

Para ahli pendidikan telah mengembangkan sejumlah teori tentang masalah belajar dan mengajar. Untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal, kegiatan pembelajaran harus dilaksanakan atas dasar sejumlah prinsip. Mohamad Ali (1988 : 13) mengemukakan prinsip umum tentang belajar dan mengajar sebagai berikut :

 

2.1.3.1. Prinsip umum tentang belajar

Dari teori-teori belajar yang dikembangkan para ahli  dapat ditemukan prinsip-prinsip umum tentang belajar sebagai berikut :

a. Proses Belajar adalah kompleks namun terorganisasi.

b. Motivasi sangat penting dalam belajar.

c. Belajar berlangsung dari yang sederhana meningkat kepada yang kompleks.

d. Belajar melibatkan proses pembedaan dan penggeneralisasian berbagai respon.

 

 

Prinsip-prinsip ini merupakan pegangan atau panduan bagi guru-guru dalam mengembangkan proses belajar-mengajar yang efektif dan sesuai dengan kondisi siswa. Berdasarkan prinsip-prinsip umum belajar dapat dirumuskan pula prinsip-prinsip umum tentang mengajar sebagai berikut :

 

2.1.3.2. Prinsip umum tentang mengajar

Prinsip-prinsip umum yang harus dijadikan pegangan bagi guru-guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar adalah sebagai berikut :

a. Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki siswa.

b. Pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.

c. Mengajar harus memperhatikan perbedaan individu setiap siswa.

d. Kesiapan (readiness) dalam belajar harus dijadikan landasan dalam  mengajar.

e. Tujuan pengajaran harus diketahui oleh siswa.

f. Mengajar harus mengikuti prinsip psikologis tentang belajar yaitu :

1) Dari yang sederhana kepada yang kompleks (rumit)

2) Dari konkrit kepada yang abstrak

3) Dari umum (general) kepada yang khusus (special)

4) Dari yang sudah diketahui (fakta) kepada yang belum diketahui (konsep yang bersifat abstrak)

5) Dengan menggunakan induksi kepada deduksi dan sebaliknya

6) Sering mempergunakan penguatan (reinforcement).

 

2.1.4. Pengertian Guru

     Sebagaimana diketahui  pada suatu lembaga pendidikan diperlukan beberapa faktor penting dalam memajukan lembaga pendidikan itu sendiri, untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Diantara faktor yang terpenting adalah orang-orang yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian semua orang yang terlibat sebagai guru adalah pendidik, pengajar atau seorang guru dapat diartikan sebagai tenaga edukatif yang berfungsi mendidik dan mengajar anak didiknya di sekolah. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hadari Nawawi (1982 : 65) sebagai berikut : "tentang tehnis tenaga profesional atau tenaga edukatif atau guru/dosen, pengajar adalah personal pelaksana mengajar dan belajar serta kegiatan pendidikan lainnya".

     Pada suatu lembaga pendidikan di sekolah dasar diharapkan harus dapat memberikan latihan dan kecakapan serta kemampuan dasar yang dibutuhkan oleh anak didik dan masyarakat. Disinilah kenyataannya mengapa Sekolah Dasar harus merupakan suatu lembaga pusat kebudayaan. hal ini karena pada akhirnya para lulusan inilah yang akan diserahi tugas mengayomi masyarakat pada masa yang akan datang.

     Guru atau tenaga pengajar haruslah berusaha membawa perubahan tingkah laku yang baik atau kecenderungan untuk merubah tingkah laku murid-murid yang merupakan suatu bukti bahwa guru harus memutuskan membuat atau merumuskan tujuan juga harus memikirkan bagaimana bentuk atau cara penyajian materi pelajaran dalam proses belajar mengajar serta bagaimana menciptakan kondisi-kondisi, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi edukatif. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Roestijah N.K. (1982 : 24) adalah sebagai berikut :

     Mengajar dapat dilukiskan sebagai  membuat  keputusan (decission making) dalam interaksi, dan unsur dari  keputusan guru adalah jawaban murid atau sekelompok murid kepada siapa guru berinteraksi. Tanggungjawab guru meliputi :

     a. Memberikan bantuan kepada anak didik dengan menceritakan sesuatu yang baik yang dapat menjamin kehidupannya itu adalah  ide-ide yang bagus.

     b. Memberikan  jawaban langsung pada pertanyaan yang diminta oleh anak-anak.

     c. Memberikan kesempatan untuk berpendapat.

     d. Memberi evaluasi.

     e. Memberikan kesempatan  untuk menghubungkan dengan

        pengalamannya sendiri.

     Guru juga berfungsi sebagai administrator yang baik dalam melaksanakan tugasnya terhadap semua bentuk lembaga pendidikan, oleh karenanya ia mempunyai ciri-ciri antara lain :

a. Guru bukan penguasa  yang  membuat keputusan sendiri akan tetapi yang lebih berhasil bila guru itu dapat mengambil sesuatu tindakan haruslah bersifat demokrasi juga bertingkah laku sederhana seperti anggota lain dalam kelompok masyarakat tanpa adanya hak-hak istimewa, kekuasaan khusus dan peraturan yang khusus pula.

b. Guru  sebagai tenaga edukatif harus membantu anggota kelompok maupun group itu sendiri untuk menemukan, merumuskan dan menjelaskan sesuatu masalah yang dipelajari dengan membagi tanggungjawab seluas mungkin dalam usaha kerjanya sebagai potensi yang membangun dan dia selalu mempunyai pendapat yang konstan bahwa setiap orang mampu mengembangkan pikiran walaupun kadang-kadang berbeda dengan apa yang diharapkan.

c. Guru harus memelihara dan menerima kritik pada dirinya dengan mengevaluasi diri sendiri dalam kelompok. Sebagai seorang pemimpin dan pembimbing anak dalam proses belajar mengajar ia harus kerapkali menyertakan dirinya untuk lahir dalam kelompok itu, dengan mengadakan pengawasan karena tanpa pengawasan proses belajar mengajar tidak dapat berfungsi dengan baik.

     Guru adalah seorang pendidik untuk anak didiknya, maka kepadanya dimintakan kesungguhan dan kesediaannya dalam bekerja serta bertanggungjawab, karena dalam tangan merekalah terletak nasib sesuatu bangsa pada masa yang akan datang.

            A. Muri Yusuf (1982 :53) mengemukakan tentang pengertian guru adalah sebagai berikut :  Guru adalah individu yang mampu melaksanakan tindakanmendidik dalam suatu situasi pendidikan.  Individu yang mampu adalah orang dewasa yang bertanggungjawab, sehat rohani dan jasmani dan mampu menanggung resiko dari segala perbuatannya. Karena itu pertama dan utama yang dituntut dari seorang pendidik adalah kesediaan dan kerelaan seseorang untuk menerima tanggungjawab sebagai pendidik haruslah seorang yang dewasa, jujur sehat rohani dan jasmani, susila, ahli,      adil, luas pandangannya, terampil dan kasih sayang.

            Orang yang berpredikat sebagai guru adalah individu-individu yang telah benar-benar diseleksi sedemikian rupa untuk melaksanakan tugasnya dalam menciptakan kepribadian anak didik khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Oleh karena itu timbul berbagai pandangan dan pendapat tentang pengertian guru sesuai dengan titik pandangannya masing-masing  yaitu:

a. Pandangan tradisional, yang mengemukakan pengertian gu-ru adalah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada murid-murid.

b. Pandangan yang mengatakan bahwa  guru seorang yang me-nyebabkan orang lain mengetahui atau mampu melaksanakan sesuatu atau orang yang memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada orang lain.

c. Pandangan N.E.A. (National Education Association), me-ngemukakan bahwa guru adalah semua pihak yang langsung terlibat dalam tugas-tugas kependidikan.

     Guru  bukan hanya sekedar pemberi ilmu pengetahuan kepada semua muridnya di depan kelas, melainkan juga seorang tenaga profesional yang menjadikan murid mampu merencanakan, menganalisis dan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya.

            Jabatan guru sebagai suatu profesi tidak saja mulia karena berhubungan  langsung dengan masalah pendewasaan anak-anak, akan tetapi juga merupakan suatu tugas yang cukup berat yang hanya dapat diwujudkan oleh orang-orang yang memiliki kecintaan pekerjaan mendidik.

 

2.1.5. Pengertian Penggunaan

     Banyak para ahli mengemukakan tentang pengertian menerapkan. Perbedaan pengertian terhadap sesuatu didasarkan pada pandangan atau sudut tinjauannya. Menurut Ahmad Charis (1987:20) bahwa Penggunaan adalah "sesuatu pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang harus dikerjakan atau dilaksanakan dalam kehidupan seseorang".

Menurut Suparman (1992:61) bahwa penggunaan adalah usaha seseorang melaksanakan sesuatu pengetahuan yang telah dimilikinya.

            Penggunaan adalah suatu usaha  yang dilakukan seseorang termasuk guru dalam melaksanakan seuatu pengetahuan dan ketrampilan (keahlian)  yang dimilikinya  dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi penggunaan adalah upaya seseorang untuk melaksanakan pengetahuan dan ketrampilannya  yang telah dimilikinya guna pekerjaan yang dilakukan efektif dan efesien sehingga tujuan yang telah ditetapkan lebih mudah tercapai.

 

2.1.6. Pengertian Alat Peraga

     Pada umumnya setiap guru yang mengajar selalu membutuhkan bermacam-macam alat peraga yang dapat membantunya, agar terciptanya suasana belajar mengajar yang lebih baik.

Dalam hal ini alat peraga merupakan salah satu alat yang dapat menunjang proses penyampaian materi pelajaran kepada murid-murid di sekolah. Alat peraga berbeda dengan alat pelajaran, yang merupakan suatu alat yang dipakai oleh guru untuk menyampaikan pelajaran, sedangkan alat peraga adalah alat untuk membantu dalam mengkongkritkan materi pelajaran.

     Berbagai istilah telah digunakan oleh para ahli untuk membicarakan alat peraga ini, yang dalam bahasa asing dikenal dengan istilah "audio visual". Akan tetapi dewasa  ini sering disebut dengan "media pendidikan". Namun kedua istilah tersebut mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu alat yang digunakan untuk penyampaian pelajaran kepada anak didik. Dalam hal ini penulis lebih cenderung menggunakan istilah "alat peraga pengajaran" karena istilah tersebut telah lama dikenal di sekolah-sekolah walaupun belum semua guru menggunakannya dalam proses belajar mengajar.

              Banyak definisi telah dikemukakan oleh para ahli tentang pengertian alat peraga antara lain :     A. Muri Yusuf (1982 :49), memberikan batasan tentang alat peraga yaitu: "Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perhatian dan kemauan siswa atau murid sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar mengajar pada diri siswa".

Rochman Natawidjaja (1985 : 28) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan alat peraga adalah "semua peralatan atau perlengkapan yang digunakan oleh guru dalam berkomunikasi dengan siswa ".

`Oemar Hamalik (1985 : 23) juga mengemukakan pengertian alat peraga adalah: "Suatu alat, metode dan tehnik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran".

Guru menggunakan alat peraga tersebut untuk memudahkan pemahaman anak didik terhadap sesuatu yang sedang diajarkan oleh guru kepadanya. Jika ingin pengajaran pelajaran itu lebih bermutu, maka guru ketika mengajarkan pelajaran di sekolah harus memberikan kesempatan kepada murid-murid agar mereka dapat menggunakan inderanya, karena pengalaman manusia lebih banyak diperoleh melalui panca indera dibandingkan dengan organ tubuh lainnya.

Alat peraga bukanlah dimaksudkan sebagai alat untuk menggantikan guru mengajar. Akan tetapi merupakan pelengkap atau pembantu guru dalam mengajar atau membantu anak didik dalam mempelajari sesuatu sehingga ia berhasil baik. Hal ini berarti bahwa alat peraga itu mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses penyampaian materi pelajaran.

Para pendidik haruslah berhati-hati bahwa pemakaian alat peraga itu harus sesuai denga bahan yang sedang diajarkan. Misalnya saja guru sedang mengajarkan tentang ilmu tumbuh-tumbuhan padi, maka alat peraga yang harus dipakai adalah padi asli (benda aslinya) atau gambar padi, sehingga murid-murid  dapat mengamatinya secara aktif dan kongkrit.

Selanjutnya guru harus pula memperhatikan bahwa alat peraga yang digunakan itu harus indah dan menarik, agar dapat menimbulkan perhatian anak didik secara lebih optimal. Karena jika anak didik merasa tertarik perhatiannya terhadap alat peraga yang digunakan, maka kemungkinan besar dapat memudahkan pemahamannya yang semaksimal mungkin dan lebih tahan lama. Dengan demikian alat peraga itu merupakan suatu alat yang bukan hanya dibutuhkan oleh guru semata-mata akan tetapi dapat menciptakan daya ingat anak didik lebih tahan lama.

 

2.1.7. Peranan Guru Dalam Menggunakan Alat Peraga Dalam Proses Pembelajaran

     Dalam uraian di atas telah dijelaskan bahwa orang yang berpredikat guru adalah individu-individu yang telah memenuhi persyaratan tertentu. Oleh karena itu peranan guru sangat penting terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan mempunyai tanggungjawab seperti halnya seorang dokter yang bertugas menolong orang sakit sehingga menjadi sembuh. Demikian juga halnya tentang peranan guru adalah menolong anak-anak yang belum mengerti sesuatu menjadi manusia yang pandai atau anak yang malas menjadi manusia yang rajin dan jujur.

            Dalam kaitannya dengan peranan guru, seorang pemimpin Negara Inggris ketika Negaranya dilanda perang dunia II, memerintahkan kepada seluruh penduduknya untuk diungsikan ke Negara lain kecuali orang-orang sakit, anak-anak sekolah dan guru-guru. Pendidikan tidak boleh berhenti sesaatpun walaupun bom-bom Jerman terus menerus dijatuhkan.

             Sudah menjadi suatu bukti dan kenyataan bahwa peranan guru tidak dapat dianggap rendah, melainkan sangat besar peranannya dalam kegiatan membangun sesuatu bangsa atau negara. Akan tetapi sangatlah disayangkan hal ini belum ada suatu kesadaran yang lebih mendalam, sehingga kedudukan guru di negara kita belum seperti yang diharapkan.

              Admiral (1890 :1905) pada parade kemenangan perang dengan Rusia, mengakhiri pidatonya dengan kata-kata bahwa "Dainippon telah mendapat kemenangan yang gilang-gemilang di Selat Tsuchima adalah karena semangat putra-putra bangsa yang digembleng oleh guru-guru yang baik.

            Pernyataan ini dapat dianalisis bahwa tidak ada perbaikan dalam masyarakat atau tidak ada pembangunan dalam masyarakat yang tidak didasari pendidikan.

            Thomas Gordon (1984 : 37) menegaskan tentang peranan guru dalam proses belajar mengajar sebagai berikut : Guru itu harus memperkenalkan hal-hal penggunaan proses kreatif terhadap semua penemuan, dia lebih mengutamakan masalah penemuan (ciptaan) dari pada hanya mengulang kembali data-data yang ada atau masalah-masalah yang telah usang atau lama (yang telah menjadi pengetahuan biasa). Sebab masalah baru akan lebih sering dipecahkan antara lain asal usul penemuannya, kenapa demikian ditemukannya, dalam keadaan bagaimana ditemukan, baikkah hal yang diciptakan itu dan dapatkah dipakai dalam situasi sekarang.

Guru selain memegang peranan utama dalam proses kegiatan belajar mengajar, juga seorang guru dalam melaksanakan tugas profesinya harus dapat menentukan suatu proses kreatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan siswa.

Munandar (1974 : 207) menegaskan bahwa :Peranan guru harus ditingkatkan sedemikian rupa jika kreatifitas belajar mengajar hendak ditingkatkan.

 Dalam sistem pendidikan di Indonesia, maka disamping kemampuan daya ingatan, lebih banyak perhatian harus diberikan terhadap kemampuan berpikir kreatif dalam merumuskan sasaran pendidikan. Peratama-tama sasaran pendidikan dan kurikulum perlu dianalisa untuk mengetahui semua fungsi-fungsi mental apakah yang dituju dalam pendidikan dan diusahakan agar kurikulum itu harus meliputi fungsi mental yang luas, termasuk pemikiran yang kreatif, disamping itu cara-cara baru dalam penyajian bahan pelajaran. Guru dapat merangsang proses belajar mengajar misalnya dengan memberi kesempatan kepada murid untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memikirkan alternatif penyelesaian maslah-masalah.

Seorang guru harus menganalisa fungsi mental apakah yang dituju dan daya cipta yang bagaimana yang lebih ideal, fleksibel dan universal sehingga kemampuan menciptakan yang demikian tidaklah sia-sia melainkan lebih bermakna. Selain itu guru harus memberikan rangsangan sekaligus menggunakan metode-metode yang tepat agar siswa dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan psykhologisnya. Dalam hal ini yang sangat penting adalah meninggalkan pesan dan kesan bahwa prestasi itu atau karyanya adalah baik. Dengan demikian jika guru tidak memiliki kreatifitas dan kemampuan mendorong timbulnya peningkatan proses belajar mengajar, maka dengan sendirinya anak didik tidak akan mampu menciptakan daya imajinasi yang lebih baik.

 Roestijah (1982 :23) mengemukakan peranan guru dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan kreatifitas anak didik yaitu :

           a. Guru berperan sebagai penyampaian kebudayaan kepa-da anak didik berupa kepandaian dan pengalaman-pengalaman.

           b. Membentuk kepribadian anak didik menjadi warga negara yang baik sesuai    dengan Undang-undang Pendidikan yang merupakan ketetapan MPR.

        c. Dalam proses belajar mengajar guru  hanya sebagai perantara, anak didik harus berusaha mendapatkan sesuatu pengertian sehingga timbul perubahan dalam pengetahuan, sikap dan tingkah laku.

        d. Membentuk  kepribadian  anak yang harmonis sesuai dengan cita-cita dasar negara kita.

        e. Guru berperan sebagai  penghubung  antara sekolah dan masyarakat, hal ini dapat dirasakan bila anak-anak yang dididik oleh guru itu nantinya akan bekerja dan mengabdikan diri dalam masyarakat.

        f. Sebagai pembimbing untuk membawa anak ke arah kedewasaan.

          g. Guru  berperan sebagai penegak disiplin, oleh ka-rena itu ianya menjadi  contoh dalam segala hal.

      h. Disamping tugasnya sebagai pendidik guru berperan juga sebagai administrator dan menejer.

      i. Guru berperan sebagai penanggungjawab dalam banyak situasi untuk membimbing dan membina anak-anak ke arah pemecahan soal, membentuk keputusan dan menghadapkan anak-anak pada masalah-masalah.

          j. Guru sebagai perencana kurikulum.

          k. Guru berperan sebagai sponsor dalam semua kegiatan anak-anak.

 

Pekerjaan guru adalah sebagai suatu profesi. Tugas guru bukan suatu pekerjaan yang ringan, akan tetapi merupakan panggilan hati sehingga dapat menunaikan tugasnya dengan baik dan karena itu harus mendapatkan hak-hak yang lain untuk mengembangkan pengetahuannya maupun hak-hak yang bersifat material dan pantas pula mendapat penghargaan yang lebih tinggi dari masyarakat.

 

2.1.8. Fungsi Alat Peraga

     Alat peraga yang dipergunakan sebagai alat komunikasi dalam proses belajar mengajar, mempunyai beberapa fungsi diantaranya :

1. Sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar.

2. Memperbesar perhatian siswa.

3. Menghindari verbalisme.

4. Membuat pelajaran lebih tahan lama.

5. Membantu tumbuhnya pengertian.

Berikut ini penulis uraikan lebih terperinci tentang fungsi alat peraga sebagaimaan tersebut di atas.

 

2.1.8.1. Sebagai Alat Bantu Dalam Proses Pembelajaran

            Alat peraga dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada murid secara kongkrit dari pada yang disampaikan dengan kata atau secara lisan saja, sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud dengan baik. Dengan demikian untuk mencapai target pendidikan di sekolah, alat peraga merupakan alat bantu yang sangat penting fungsinya karena dengan penggunaan alat peraga tersebut dapat memudahkan guru dalam menerangkan materi pelajarannya dan memudahkan pula anak didik dalam menerima pelajaran tersebut.

 

2.1.8.2. Memperbesar Perhatian Murid

     Setiap guru mengharapkan agar setiap anak didik selalu aktif dan berhasil dalam mengikuti pelajaran yang diajarkan olehnya. Salah satu cara membangkitkan perhatian murid dalam proses belajar mengajar adalah dengan menggunakan alat peraga pada saat guru menjelaskan materi pelajaran dalam kelas. Sehubungan dengan ini, maka Rochman Natawidjaja (1985 : 29) menegaskan bahwa : Alat  peraga  memungkinkan belajar lebih cepat segera bersesuaian  antara yang ada di kelas dengan yang di luar kelas. Alat peraga menjadi jembatan antara keduanya sehingga  para siswa mendapat pengalaman yang baik.

Memperbesar perhatian murid-murid dan mendorong minatnya terhadap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru yaitu dengan cara menyajikan materi pelajaran yang menarik serta bervariasi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat peraga dalam proses belajar mengajar.

Darwis A. Soelaiman (1980 : 278) mengemukakan bahwa : "alat peraga adalah alat yang dapat memperjelas atau membuat pelajaran itu menjadi lebih kongkrit dan dapat membuat murid-murid lebih terdorong untuk belajar serta membuat situasi pengajaran lebih bervariasi".

 

2.1.8.3. Menghindari Verbalisme

            Verbalisme adalah dapat mengucapkan sesuatu tetapi tidak mengetahui akan artinya. Verbalisme terjadi akibat para guru pada setiap kegiatan mengajar, tidak pernah menggunakan alat peraga atau memperagakan apa yang diajarkan itu. Sehingga murid-murid hanya dapat menghafalkan kata-kata saja tanpa terlintas dalam ingatannya bagaimana bentuk benda atau arti dari sesuatu yang sedang dijelaskan oleh guru tersebut. Hal yang demikian bukan saja memudahkan timbulnya verbalisme, akan tetapi kurang menarik perhatian anak didik itu sendiri, sehingga murid-murid akan menjadi lebih pasif dalam memahaminya serta penjelasan-penjelasan yang disampaikan guru akan diabaikan begitu saja. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menghindbelajar mengajar guru harus menggunakan alat peraga untuk mengkongkritkan materi pelajaran kepada anak didik dalam kelas.

 

2.1.8.4. Membuat Pelajaran Lebih Tahan Lama

             Mengajar adalah memberikan pengertian kepada murid yang merupakan salah satu kewajiban seorang guru. Dalam memberikan pengertian ini, murid-murid dapat mengalami kesukaran dalam menerima pelajaran dengan hanya mendengar dan menghayati semata-mata. Hal ini dapat mengakibatkan cepatnya proses kelupaan daya ingat anak didik terhadap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut.

            Sebagai jalan keluar yang akan ditempuh dalam hal ini adalah hendaknya guru dalam menyampaikan sesuatu disiplin ilmu pengetahuan kepada anak didik selalu menggunakan alat-alat peraga pengajaran. Kerana dengan pemakaian alat peraga tersebut murid-murid akan dapat memahami pelajaran yang diajarkan itu dengan mudah serta sukar untuk dilupakan. Dengan kata lain pelajaran yang diperoleh murid-murid dapat terjamin akan keuletannya dan tahan lama.

 

2.1.8.5. Membantu Tumbuhnya Pengertian

            Sebagaimana telah diketahui bahwa alat peraga dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran, dan membantu murid-murid dalam memahami atau menerima pelajaran tersebut.

             Menggunakan alat peraga itu, akan menghasilkan cara belajar murid-murid yang lebih baik dan aktif dalam setiap pelajaran yang diajarkan kepadanya. Karena dengan mengwujudkan materi pelajaran itu secara langsung pada bendanya, maka murid akan lebih cepat memahaminya sehingga guru tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjelaskan sesuatu masalah.

             Fungsi-fungsi alat peraga, Oemar Hamalik (1985 : 23) mengemukakan beberapa fungsi dari alat peraga yaitu :

a. Fungsi edukatif

b. Fungsi sosial

c. Fungsi ekonomis

d. Fungsi politis

e. Fungsi seni budaya.

 

 

 

ad.a. Fungsi Edukatif

     Fungsi utama dari setiap penggunaan alat peraga adalah untuk mendidik, oleh karena dalam mendidik ini ter-dapat unsur pemberian pengaruh-pengaruh pendidikan. Pendidikan dapat dibagi dalam dua pengertian yaitu dalam arti sempit dan arti luas. Demikian juga halnya dengan penggunaan alat peraga dalam setiap komunikasi antara siswa dan murid di sekolah, mempunyai fungssi dalam arti yang luas dan arti sempit.

            Dalam arti luas, alat peraga ini memberikan pengaruh-pengaruh atau nilai-nilai yang baik kepada masyarakat luas. Pendidikan bukan saja berlangsung di dalam sekolah-sekolah akan tetapi juga berlangsung di luar sekolah yakni dalam semua interaksi sosial. Misalnya saja surat kabar sebagai media, berfungsi mendidik masyarakat agar dapat berpikir kritis, berita berkala tentang keluarga berencana, tentang bimas dan lain-lain, dapat mendidik masyarakat untuk mengikuti  hal serupa tersebut. Selanjutnya poster, pameran, dan spanduk bermaksud mendidik masyarakat agar berpartisipasi dalam pembangunan dan sebagainya. Jadi fungsi dari alat peraga tersebut dapat mendidik masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

            Dalam arti sempit, alat peraga yang digunakan dalah hubungan komunikasi di sekolah juga berfungsi untuk mendidik anak-anak di sekolah. Sebagai alat peraga yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan  materi pelajaran kepada anak didik, maka selain sebagai alat bantu belajar bagi anak didik dapat pula memberikan pengalaman pendidikan yang bermakna bagi anak murid itu sendiri.

ad. b. Fungsi Sosial

            Selain berfungsi memberikan informasi kepada masyarakat luas, alat peraga atau media pendidikan juga dapat memberikan konsep yang sama kepada setiap orang. Hal ini sangat bermanfaat bagi perluasan pergaulan hidup dan memupuk rasa saling menghargai dan persatuan di kalangan masyarakat. Seperti radio, televisi, film, merupakan con-toh kongkrit diantara alat-alat peraga pengajaran yang da-pat menimbulkan dampak positif dalam pergaulan sosial ma-syarakat.

ad. c. Fungsi Ekonomis

            Pada masyarakat yang telah maju, penggunaan media komunikasi dikerjakan secara intensif, terutama dalam bidang perdagangan dan industri. Para pengusaha dan industriawan tidak segan-segan menyediakan anggaran biaya yang cukup besar dalam usaha mengembangkan dan memajukan perusahaannya. Media ini mereka pergunakan baik dalam rangka meningkatkan produksi melalui pembinaan prestasi kerja secara maksimal maupun dalam rangka mempromosikan hasil produksi ke seluruh penjuru dunia.

ad.d. Fungsi Politis

            Adapun yang dimaksudkan dengan segi politis dalam hal ini adalah politik pembangunan. Pembangunan meliputi baik pembangunan dari segi pisik material maupun pembangunan mental spritual. Pembangunan itu dilaksanakan baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat regional sampai ke pedesaan.

            Suksesnya pembangunan ini sangat tergantung pada banyak faktor, anatra lain adanya partisipasi masyarakat dalam usaha pembangunan itu.  Ada tidaknya dan besar kecilnya partisipasi itu sangat tergantung pada tingkat pemahaman sikap masyarakat terhadap pembangunan tersebut. Dalam hubungan ini peranan media tersebut turut sekali menentukan. Seperti siaran radio, pertunjukan film, diadakannya pameran-pameran pembangunan, koran dan terbitan lainnya adalah sangat berfungsi sekali dalam pembangunan.

ad. e. Fungsi Seni Budaya

            Di atas telah dikemukakan bahwa, berkat perkembangan ilmu dan teknologi yang sedemikian pesat, maka menimbulkan ciptaan-ciptaan baru termasuk pula usaha penciptaan tehnologi di bidang produksi alat-alat peraga pengajaran. Berkat kemajuan dalam bidang kemediaan ini maka secara te-pat dan mantap mendorong timbulnya perubahan dalam kehidupan maupun cara belajar itu sendiri pada lembaga-lembaga pendidikan.

2.1.8.6. Macam-macam Alat Peraga

     Sejalan dengan perkembangan atau pertumbuhan pengetahuan dan tehnologi yang sedemikian pesat dewasa ini, maka berbagai macam alat peraga sudah dapat dipergunakan oleh guru dalam menyampaikan sesuatu materi pelajaran kepada anak didik.

            Secara garis besar alat peraga dapat dibagi dalam ti-ga jenis yaitu :

1. Alat peraga audio (alat peraga yang didengar), seperti : radio, tape recorder atau rekaman radio pendidikan.

2. Alat peraga visual (alat peraga yang dilihat), seperti gambar, slide, film, strip, bagan dan model.

3. Alat peraga audio visual (alat peraga yang didengar dan dilihat) seperti : televisi, film bersuara gambar hidup dan radio.

     Jenis-jenis alat-alat peraga seperti yang penulis uraikan di atas adalah terlalu luas bila diuraikan keseluruhannya disini. Berikut ini akan diuraikan beberapa dian-taranya alat-alat peraga tersebut yang dianggap sering atau dapat dipergunakan oleh guru-guru dalam menyampaikan pelajaran di sekolah dasar. Adapun media pembelajaran yang akan diuraikan adalah sebagai berikut :

 1. Rekaman radio pendidikan

 2. Slide, film dan strip

 3. Model

 4. Poster

 5. Gambar dan foto

 6. Bagan

 7. Grafik

 8. Globe

 9. Peta

10. Papan tulis

11. Papan planel

12. Papan tempel

 

2.1.8.7. Rekaman Radio Pendidikan

            Berkat kemajuan dalam bidang teknologi dewasa ini maka tape recorder bukan merupakan barang mewah lagi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses kegiatan belajar mengajar.

             Dengan alat bantu ini dapat direkam siaran radio yang ada hubungan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan guru di sekolah dasar. Rekaman radio pendidikan sangat co-cok dipergunakan dalam pengajaran bahasa, karena dapat di-ulang berkali-kali sehingga dapat membantu anak didik untuk menguasai bahasa yang baik dan benar.

             Rekaman radio pendidikan baik sekali dipergunakan dalam setiap penyampaian materi pelajaran kepada anak  didik dalam kelas, karena banyak mengandung nilai-nilai pendidikan. Menurut Oemar Hamalik (1985 : 119) bahwa nilai rekaman radio pendidikan dalam pengajaran antara lain :

a.      Rekaman memberikan bermacam-macam bahan  pelajaran kepada kelas.

Karena bermacam-macam isi pelajaran dapat diperoleh melalui alat rekaman ini misalnya, tentang ritme, cerita, pelajaran tentang musik daN   lain-lain sehingga alat rekaman ini  sangat  fungsional untuk semua kelas dan setiap tingkatan umur anak didik serta para pelajar  yang  belajar  pada  lembaga pendidikan tinggi.

b.     Menjadikan pelajaran lebih kongkrit.

  Melalui bunyi rekaman para pendengarnya akan  memperoleh pengalaman langsung dari pendengaran.  Pelajaran demikian akan  lebih  kongkrit  dari  pada    membaca buku yang biasanya telah usang.

c.      Masyarakat dapat dibawa ke dalam kelas melalui rekaman.

Apa yang dapat direkam dari masyarakat, semuanya dapat disampaikan segera kepada  anak didik dalam kelas.

d. Mendorong berbagai kegiatan belajar.

 Rekaman pendidikan dapat memberikan  keterangan-keterangan yang faktual terhadap sesuatu permasalahan. Oleh karenanya setelah mendengar rekaman, maka akan timbul dorongan untuk mengadakan trip, menonton dan lain-lain.

e. Bahan yang diperoleh adalah asli.

        Hal-hal yang direkam ke dalam rekaman radio pendidikan, adalah berasal dari sumber yang sebenarnya. Dengan demikian akan memberikan keterangan dan pengalaman yang sesungguhnya yang mana akan bermanfaat bagi pendidikan anak didik di waktu kelak.

f. Rekaman memberikan latihan.

              Di atas telah dijelaskan bahwa dengan menggunakan rekaman, maka memudahkan segi pemahamannya maupun penguasaan bahan rekaman itu sendiri, karena dapat  diulang berkali-kali. Hal yang demikian akan men-jadikan pelajaran lebih baik, karena dapat menghilangkan kesalahan akan penafsirannya dan penguasaan bahan tersebut akan menjadi baik.

h. Mendorong motivasi belajar.

            Melalui rekaman ini akan memudahkan penerimaan keterangan-keterangan, karena itu rekaman dapat memberi rangsangan-rangsangan bagi perhatian dan minat anak didik. Dengan demikian akan mendorong keinginan atau minat anak didik untuk memperluas cakrawala pemikirannya.

 

 

2.2 Kajian Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian Yusuf Aziz (1983 : 9) mengungkapkan bahwa : alat peraga berfungsi sebagai alat bantu dalam belajar yang dapat memberikan pengalaman pendidikan yang bermakna bagi murid-murid itu sendiri.

  Menurut hasil penelitian M. Razi  (1991 : 47) bahwa :

fungsi alat peraga tersebut, secara umum mengandung beberapa keuntungan atau kegunaan adalah; dapat meletakkan dasar-dasar yang kongkrid untuk berfikir dan mengurangi verbalisme, memperbesar dasar-perhatian siswa, meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar yang membuat pelajaran lebih menetap, membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu perkembangan kemampuan berbahasa.

 

Alat peraga salah satu alat yang dipergunakan guru untuk membantu kelancaran proses belajar mengajar yang lebih efektif untuk tercapainya tujuan dimaksud.  Dalam usaha jual beli atau dalam pengertian yang lebih luas yaitu dalam usaha dagang sering dijumpai barang-barang kurang menarik perhatian pembeli, kalau tidak ada suatu peragaan yang menunjukkan kwalitas yang baik.  Dengan adanya peragaan yang menunjukkan kwalitas yang baik dapat mempengaruhi keadaan pembeli, keadaan semacam ini hanya dapat dipakai oleh padagang-pedagang saja, bagi murid-murid di sekolah hanya dimengerti semua sebagai alat komersil saja.

Pendidikan yang dialami murid-murid sekarang ini sudah menuju tingkat kemajuan teknologi, sehingga murid-murid dapat terdorong dan menimbulkan ciptaan baru apabila mereka sering dihadapkan dengan pengajaran melalui alat peraga yang sifatnya mekanis.

 

2.3. Kerangka Pemikiran dan Argumentasi Keilmuan

Dalam penyajian pelajaran di sekolah baik di sekolah dasar maupun di sekolah menengah masih terdapat hambatan-hambatan dan kesukaran-kesukaran, sehingga tujuan pengajaran sulit mencapai tujuan kurikulum yang ada.

Untuk adanya jalan keluar dari hambatan-hambatan tersebut penulis mempunyai suatu anggapan bahwa bagi setiap guru harus dapat menggunakan alat peraga dalam setiap penyajian berbagai materi pelajaran di sekolah lanjutan tingkat pertama.  Dengan pertolongan alat peraga pengalaman belajar akan lebih nyata dan tidak mudah dilupakan oleh siswa.  Sebaliknya bila hanya materi pelajaran, hanya dengan mendengarkan akan menimbulkan verbalisme bagi siwa itu sendiri.

Sebaiknya pelajaran diberikan oleh guru secara langsung yang dapat diamati, dihayati, diteliti dan dikerjakan sendiri oleh siswa, sehingga pelajaran yang diberikan akan menimbulkan kesan yang lama dan tidak mudah dilupakan.  Selain itu, dengan berkembangnya pendidikan dan kemasyarakatan, disadari dan dirasakan manfaatnya keperagaan, karena masyarakat yang lemah pemahamannya akan lebih mudah belajar sesuatu yang kongkridt.

Alat peraga memegang peranan, yaitu peragaan memberikan pengalaman kongkrit hingga apa yang diajarkan akan dipelajari dengan lebih mudah.  Mengajar dengan meragakan adalah salah satu cara yang memperbaiki dan mengembangkan pengajaran.

Suatu hal yang harus diperhatikan bagi seorang guru yaitu memberikan materi pelajaran jangan terlalu abstrak, hendaknya materi pelajaran yang disajikan dengan mempergunakan bantuan alat peraga tau dengan usaha-usaha lain.  Seorang guru harus berusaha hal-hal yang abstrak diusahakan sedemikian rupa menjadi kongkrit.

Dalam penyajian suatu materi pelajaran, seorang guru harus berusaha dengan sungguh-sungguh sehingga siswa tidak mudah dihinggapi penyakit verbalisme, hal yang demikian dapat menjurus siswa untuk suka menghafal pelajaran tanpa memiliki suatu pengertian.  Contoh; dalam pelajaran Geografi di kelas IV Sekolah Dasar, yaitu memperkenalkan jenis-jenis uang, mungkin saja saja siswa  hanya dapat mengenal   uang yang sedang mereka pakai dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan jenis uang lainnya siswa hanya mengenal sebutan saja.  salah satu tehnik yang harus diusahakan guru adalah sebelum ia mengajar dalam ruangan kelas ada baiknya mempersiapkan beberapa jenis mata uang yang akan diperkenalkan kepada siswa, sehingga materi pelajaran yang diberikan menjadi lebih kongkrit, sekaligus dapat menghilangkan verbalisme bagi siswa itu sendiri.

Satu hal yang sering membingungkan guru dalam ruangan kelas yaitu terjadinya keributan, siswa sering berbicara dengan teman-temannya sewaktu guru menerangkan pelajaran. 

Guru selalu mencoba menetramkan keributan keributan yang dilakukan siswa, sehingga perhatian mereka dapat dipusatkan pada pelajaran yang diberikan guru.  Sehingga guru dalam mengajar dapat didengar oleh semua siswa, dengan kata lain guru menerangkan pelajaran dapat ditanggapinya.

Keributan, ketidak tenangan dalam suatu kelas dapat dicegah dengan jalan materi pelajaran yang disajikan guru dapat dimengerti langsung oleh siswa, guru harus berusaha meragakan materi pelajaran sedemikian rupa, sehingga dapat memperbesar perhatian siswa kepada pelajaran.  dalam hal ini harus diingat oleh seorang guru bahwa meragakan haruslah sesuai dengan materi yang diberikan.

Seorang guru yang akan mengajar pada  Sekolah Dasar dengan materi pelajaran memperkenalkan lingkungan Nasional, tentu siswa sama sekali tidak dapat mengenal apa yang diberikan, jika hanya penyajian pelajaran tanpa mempergunakan alat peraga yang berkenaan dengan materi yang diberikan.  Sehingga dengan usaha jalan demikian apa yang kita duga sebelumnya yaitu terjadinya keributan, semua ini dapat dicegah dengan adanya perhatian siswa yang tertuju kepada pelajaran dengan adngan memperhatikan penjelasan yang disampaikan guru. 

 

2.4. Hipotesis

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menetapkan hipotesis  dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

2.4.1. Jika guru  mampu memilih dan menggunakan alat peraga dalam mengajar, maka murid lebih mudah menerima pelajaran yang diberikan. 

2.4.2. Jika guru berupaya menyediakan alat peraga, maka proses pembelajaran akan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

 

2.5. Definisi Operasional Variabel Penelitian

2.5.1.  Guru mampu memilih dan menggunakan adalah kesanggupan dan keahlian guru dalam menentukan alat peraga yang tepat dalam proses pembelajaran

2.5.2. Alat peraga adalah alat yang digunakan agar proses pembelajaran lebih berhasil.

2.5.3. Mengajar adalah kemampuan guru menyampaikan pengetahuan, sikap dan ketrampilan pada murid.

 2.5.4. Murid lebih mudah menerima pelajaran yang diberikan guru dalam proses pembelajaran adalah murid lebih mengerti dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh guru dalam proses pembelajaran.

2.5.5. Upaya guru menyediakan alat peraga adalah usaha yang dilakukan guru untuk mempersiapkan alat peraga dalam proses pembelajaran secara tepat dan benar.

2.5.6. Proses pembelajaran akan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan adalah kegiatan pembelajaran berlangsung  dengan baik sehingga tujuan yang telah ditetapkan lebih berhasil untuk dicapai.

 

Komentar

Postingan Populer