KTI EVALUASI PELAYANAN PERPUSTAKAAN 1

 



EVALUASI PELAYANAN PERPUSTAKAAN

 

A.    Pengertian dan Tujuan Evaluasi Pelayanan Perpustakaan

Seiring dengan perubahan situasi dan kondisi, berbagai kebiasaan-kebiasaanpun ikut berubah. Begitu pula dengan perpustakaan itu sendiri, Kebutuhan untuk koleksi perpustakaan juga bertambah, bahkan sampai pada sistem pelayanan juga berubah. Untuk melihat kembali sejauh mana kesesuaian sebuah perpustakaan dengan pertumbuhan zaman dan kebutuhan user, perpustakaan perlu melakukan kontrol dan evaluasi diri perpustakaan itu sendiri.

Evaluasi itu penting dilakukan bahkan menjadi sebuah program terhadap visi dan misi perpustakaan. Adanya evaluasi menjadikan organisasi sebuah perpustakaan itu untuk berbenah dan memperbaiki diri terhadap segala ketertinggalan dan ketidaksesuaiannya. Evaluasi ini perlu dilakukan segera, mengingat belum jelas eksistensi dan kedudukan sebuah perpustakaan dengan perpustakaan lain.

Camp, mencoba memberikan pengertian tentang pengertian evaluasi, yaitu sebagai target atau standar yang akan diukur. Foot,  mendefenisikan evaluasi sebagai benchmark”. Istilah benchmark ini diartikan sebagai jati diri perpustakaan. Untuk mengungkapakan jati diri tersebut, perpustakaan perlu melakukan evaluasi dengan cara mengukur hasil pencapaian (kinerja) yang telah dilakukan.[1]

Di lain hal, evaluasi diartikan sebagai suatu proses untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, mengukur proses dan kinerja layanan yang telah diberikan secara sistematis dibandingkan dengan layanan yang diberikan orang lain yang ditujukan untuk memperoleh hasil yang terbaik.[2]

Untuk menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi,  suatu organisasi “perpustakaan”, perlu mengetahui sejauh mana kinerjanya dan bagaimana meningkatkan kinerjanya atau mencoba melihat apakah organisasinya lebih baik dari organisasi sejenis lainnya. Maka organisasi tersebut perlu melakukan patokan nilai. Evaluasi ini cenderung digunakan oleh kalangan bisnis dan industri. Perangkat ini ditujukan sebagai usaha untuk bertahan dari krisis dengan cara meningkatkan kualitas.[3]

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa, dengan mengetahui kinerja yang diperoleh maka perpustakaan akan mampu merencanakan pengembangan perpustakaan dengan lebih baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan pemakai yang semakin hari semakin berkembang. Sebagaimana diketahui bahwa, evaluasi itu merupakan sesuatu yang penting dilakukan, bahkan perpustakaan apapun evaluasi ini harus dijadikan sebagai program kerja.

Ketegasan pernyataan di atas terhadap  pentingnya program evaluasi pada setiap perpustakaan, perpustakaan sekolah dan perpustakaan perguruan tinggi, setidaknya ada tiga hal yang menjadi alasan terhadap peryataan yang telah dijelaskan di atas, yaitu;

1.     Untuk mengembangkan program pengadaan yang cerdas dan realistis berdasarkan pada data koleksi yang sudah ada,

2.     Untuk menjadi bahan pertimbangan pengajuan anggaran untuk pengadaan layanan dan koleksi berikutnya,

3.     Untuk menambah pengetahuan staf pengembangan koleksi terhadap keadaan di dalam perpustakaan.[4]

 

Ini member pengertian bahwa, evaluasi itu bertujuan untuk menilai hal-hal yang berkaitan erat dengan perpustakaan, seperti koleksi, layanan, pemanfaatan, segi ketersediaan koleksi dan lain-lainnya. Dalam “Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi”, disebutkan bahwa, tinjauan perpustakaan untuk melakukan evaluasi itu adalah;

1.     Mengetahui mutu, lingkup, dan kedalaman koleksi

2.     Menyesuaikan koleksi dengan tujuan dan program perguruan tinggi

3.     Mengikuti perubahan, perkembangan sosial budaya, ilmu dan teknologi

4.     Meningkatkan nilai informasi

5.     Mengetahui kekuatan dan kelemahan koleksi

6.     Menyesuaikan kebijakan penyiangan koleksi.[5]

 

Walaupun tujuan yang disebutkan di atas untuk perpustakaan perguruan tinggi, namun materi tersebut bisa digunakan untuk perpustakaan jenis yang lain, karena aspek penilaian terhadap perpustakaan dan aspek evaluasi adalah sama secara umum, tujuan tersebut juga berlaku untuk perpustakaan yang lain.

Sebelum melakukan evaluasi ada banyak hal yang harus diperhatikan, baik itu tujuan yag dicapai, program pelaksanaan hasil evaluasi dan hal-hal yang harus dievaluasi sekaligus persiapan istrumen untuk melakukan evaluasi. Satu keuntungan bila sudah ditentukan tujuan dan kriteria nilai-nilai sebelumnya, sehingga interpretasi hasil bisa dilakukan dengan lebih mudah. Hal itu juga akan membantu memperkecil perbedaan dalam pemikiran tentang hasil-hasil yang diperoleh dari evaluasi.

 

B.    Macam-macam Evaluasi Pelayanan Perpustakaan

Bila evaluasi pelayanan pada perpustakaan ingin dilakukan secara objektif, maka diperlukan serangkaian riset untuk mendukung pengambilan keputusan. Diakui bahwa tugas evaluasi koleksi itu sulit, dan sering kali hasilnya bersifat subjektif. Jadi seorang pelaksana evaluasi koleksi harus bisa menyatakan apa adanya tentang koleksi.

Melakukan evaluasi memang menyita banyak waktu, tetapi dari hasil evaluasi ini akan diketahui kekuatan dan kelemahan dan kekurangan pada perpustakaan terhadap aspek pelayanan. Bila evaluasi pada setiap perpustakaan telah dilakukan secara rutin, akan terasa semakin ringannya tugas ini, terlebih bila diingat bahwa proses ini akan membawa perpustakaan semakin dekat dengan kebutuhan komunitas yang dilayani yang sesuai dengan pertumbuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berikut ini adalah beberapa metode dalam evaluasi yang tentunya telah banyak dibahas dalam berbagai tulisan tentang perpustakaan, untuk memilihnya tergantung pada tujuan dan kedalaman dari proses evaluasi. George Bonn, memberikan lima pendekatan umum terhadap evaluasi, yaitu:

1.     Pengumpulan data statistik semua koleksi yang dimiliki

2.     Pengecekan pada daftar standar seperti katalog dan bibliografi

3.     Pengumpulan pendapat dari pengguna yang biasa datang ke perpustakaan

4.     Pemeriksaan koleksi langsung

5.     Penerapan standar, pembuatan daftar kemampuan perpustakaan dalam penyampaian dokumen, dan pencatatan manfaat relatif dari kelompok khusus.[6]

Terhadap evaluasi perpustakaan, American Library Association (ALA's) Guide to the Evaluation of Library Collections, membagi ke dalam beberapa macam evaluasi yang berdasarkan ukuran pada penggunaan. Adapun macam-macam evaluasi tersebut yaitu;

1.     Evaluasi yang berpusat pada koleksi yaitu, evaluasi yang dilakukan dengan cara;

a.      Pencocokan terhadap daftar tertentu, bibliografi, atau katalog

b.     Penilaian dari pakar,     

c.      Perbandingan data statistik,

d.     Perbandingan pada berbagai standar koleksi.[7]

2.     Evaluasi yang berpusat pada penggunaan, yaitu evaluasi yang dilakukan terhadap;

a.      Melakukan kajian sirkulasi,

b.     Meminta pendapat pengguna,

c.      Menganalisis statistik pinjam antar perpustakaan,

d.     Melakukan kajian sitiran,

e.      Melakukan kajian penggunaan di tempat (ruang baca),

f.       Memeriksa ketersediaan koleksi di rak.[8]

 

3.     Evaluasi yang dilakukan pada layanan, yaitu yang berpusat pada sistem pelayanan pada pemakai. Ada beberapa dimensi yang harus diperhatikan pada evaluasi layanan ini, yaitu;

a.      Tangibles (berwujud), ruangan dan peralatan,

b.     Reliability (kehandalan), kinerja pustakawan,

c.      Responsiveness (daya tanggap atau keresponsifan), kepada pemakai

d.     Competence (pengetahuan dan keterampilan),

e.      Acces (kemudahan hubungan),

f.       Courtesy (perilaku), prilku pustakawan dalam melayani pengguan

g.      Communication (komunikasi), komunikasi untuk mendengarkan suara, keinginan atau aspirasi,

h.     Credibility (kredibilitas atau kejujuran),

i.        Security (keamanan),

j.        Understanding the Customer (memahami atau mengerti kebutuhan masyarakat pengguna).[9]

 

Perpustakaan yang baik dapat diukur dari keberhasilannya dalam menyajikan pelayanan yang berkualitas  kepada masyarakat pemakainya. Lengkapnya fasilitas yang ada, besarnya dana yang disediakan dan banyaknya tenaga pustakawan tidak berarti apa-apa bila perpustakaan tersebut tidak mampu menyediakan pelayanan yang berkualitas. Agar kualitas layanan dapat dicapai. Maka itu evaluasi setiap perpustakaan hendaknya dilakukan sesering mugnkin. Philip Kotler  dalam J Supranto, mengemukan lima prinsip yang harus diperhatikan bagi pelayan publik,. lima prinsip tersebut yaitu;[10]

1.     Tangible, artinya sesuatu yang bisa dilihat, dirasakan dan didengarkan. Seperti: kemampuan petugas dalam melayani, komunikasi yang baik, peralatan yang menunjang pelayanan.

2.     Realible (handal), yaitu kemampuan membentuk pelayanan yang dijanjikan dengan tepat dan memiliki keajegan.

3.     Responsiveness (pertanggungjawaban), yaitu rasa tanggung jawab terhadap mutu pelayanan.

4.     Assuranse (jaminan), yaitu adanya jaminan keamanan atau bebas dari resiko bagi para pemakai.

5.     Emphaty, arinya adanya perhatian kepada konsumen atau individu.

Di samping persyaratan di atas, pustakawan dalam memberikan layanan kepada pemakai perpustakaan juga harus memperhatikan hal-hal berikut;

1.     Mengetahui kebutuhan pemakainya.

2.     Menerapkan persyaratan manajemen untuk mendukung penampilan (kinerja)

3.     Mudah dalam pengurusan bagi yang berkepentingan (prosedur sederhana).

4.     Mendapat pelayanan yang wajar.

5.     Mendapat pelayanan yang sama tanpa pilih kasih.

6.     Mendapat perlakuan jujur dan terus terang (transparan).[11]

C.     Hal yang Harus Diperhatikan dalam Evaluasi Pelayanan Perpustakaan         

Sebagai lembaga layanan informasi, perpustakaan mempunyai prospek yang cukup luas dalam pembangunan, karena ia sebagai sumber informasi sehingga diharapkan tidak hanya sekedar melayani masyarakat untuk mendapatkan informasi ilmu pengetahuan saja, akan tetapi perpustakaan diharapkan dapat mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pelayanan informasi serta dapat meningkatkan kualitas layanan yang ada. Hal tersebut akan dapat terlaksana apabila dudukung oleh pustakawan-pustakawan yang handal, yang tidak saja profesional dalam bidang ilmu perpustakaan tetapi juga terampil dalam bidang ilmu pengetahuan lain  yang dapat meningkatkan jati diri pustakawan  dan tentunya untuk peningkatan kualitas layanan perpustakaan.

Dalam memberikan layanan kepada penggunanya perpustakaan masih perlu belajar  dan melihat lembaga lain seperti bank, hotel, rumah sakit dan biro-biro jasa lain yang sama–sama memberikan jasa layanan kepada masyarakat. Untuk itu agar kesan pegawai perpustakaan galak, tidak ramah, sombong, angker tidak lagi disandang sebagai gelar yang selalu melekat pada penyelenggara perpustakaan, maka perlunya diusahakan langkah-langkah perbaikan untuk peningkatan kualitas layanan perpustakaan.

Untuk mendapatkan sebuah perpustakaan yang baik dan disukai pemakai, lagi-lagi perlu melihat hal-hal yang memang belum tertata secara benar atau berdasarkan tauran yang wajar, baik itu persoalan tenaga pustakwan, koleksi maupun pelayanan.

Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan evaluasi perpustakaan agar evaluasi benar-benar bermanfaat dan mejadi umpan balik bagi pustakawan itu sendriri. Aspek yang perlu diperhatikan itu yaitu;

1.     Koleksi

Koleksi perpustakaan khusus difokuskan pada koleksi muktahir di dalam subyek yang menjadi tujuan perpustakaan tersebut atau untuk mendukung kegiatan badan induknya. Koleksi suatu perpustakaan khusus adalah tidak terletak dalam banyaknya jumlah bahan pustaka atau jenis terbitan lainnya melainkan ditekankan kepada kualitas koleksinya, agar dapat mendukung jasa penyebaran informasi muktahir serta penelusuran informasi.[12]

Pembinaan koleksi perpustakaan khusus menekankan pada beberapa jenis bahan pustaka seperti referensi, buku teks, majalah, jurnal ilmiah, hasil penelitian dan sejenisnya dalam bidang khusus, baik dalam bentuk tercetak maupun media rekam lainnya.

 

2.     Sumber Daya Manusia

Penanganan perpustakaan khusus memerlukan seorang “ahli” dalam bidang/subyek yang ditangani. Hal ini akan mempermudah perpustakaan dalam memberikan apa yang menjadi tuntutan dan kebutuhan pemakainya. Untuk itu biasanya dalam perpustakaan khusus ini dibutuhkan seorang pustakawan yang mengerti dan paham akan bidang kerja/bidang yang ditangani oleh lembaga induknya.  Sehingga kebutuhan akan “pustakawan khusus” adalah penting.

 

3.     Pengolahan

Proses pengolahan dalam perpustakaan khusus pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan perpustakaan pada umumnya. Hanya biasanya dalam proses pengolahan dituntut untuk lebih memberhatikan kecepatan dalam temu kembali informasi dan penyajian. Sehingga terkadang dalam klasifikasi contohnya disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter perpustakaan tersebut.

 

4.     Pengguna

Perpustakaan khusus dalam pemilihan dan setting pengelolaan sangat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik penggunanya. Hubungan antara pengguna dan pengelola perpustakaan sangat erat terutama apabila dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan dan pengembangan perpustakaan itu sendiri. Tidak sedikit pengguna akan ikut andil dalam menentukan pola pengelolaan dan juga penentuan koleksi/informasi yang perlu disediakan oleh perpustakaan. Pengguna mempunyai arti penting karena pengguna merupakan faktor penting mengapa perpustakaan khusus itu ada.

 

5.     Layanan

Layanan perpustakaan khusus harus dapat memberikan nilai lebih kepada pengguna dan organisasi/badan induk yang membawahinya. Untuk itu pengelola perpustakaan perlu selalu memberikan alternatif-alternatif dalam penyampaian informasi kepada penggunanya. Aspek layanan menjadi penting untuk diperhatikan dikarenakan tuntutan kebutuhan penyajian informasi yang cepat, tepat dan terbaru selalu ada.

Jenis layanan perpustakaan khusus dapat bersifat terbuka maupun tertutup, tergantung pada kebijakan organisasi, pengelola dan tipe penggunanya. Namun kebanyakan perpustakaan khusus menerapkan sistem terbuka dengan akses terbatas. Hal ini untuk lebih memberikan peluang kepada penggunaan yang lebih luas namun tetap terkontrol. Terbuka artinya siapapun dapat memanfaatkan koleksi yang ada, sedangkan akses terbatas adalah pengaturan terhadap proses pemanfaatan koleksi seperti fasilitas pinjam, fasilitas baca, fotokopi, dan sebagainya.

 

 



[1] Jain, Priti. Strategic human resource development in public libraries in Botswana, Bradford: Library Management, Edisi. 6, 2005, hlm.336.

[2] Wilson, Frankie dan Town, J. Stephen. Benchmarking and library quality maturity;  Performance Measurement and Metrics,  Vol. 7 No. 2, 2006, hlm. 75-82.

 

[3] Jain, Priti., Op. cit.,  hlm.336.

 

[4] Dwi Surtiawan, Kepuasan Pemakai dan Peningkatan Kualitas Berbasis Pemakai: Pendekatan Manajemen Pemasaran sebagai Paradigma Baru Perpustakaan, Yogyakarta: Gajah Mada Universitas press, 2006, hlm. 28.

[5] Ade Kohar, Perpustakaan Perguruan Tinggi; Buku Pedoman, . ed. ke 3. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional RI, 2005, hlm. 45.

[6] Evans, G. Edward and Zarnosky, Margaret R., Developing Library and Information Center Collections. Colorado Englewood: Libraries Unlimited, 2000. Dikutip dari, Pedoman Perpustakaan Perguran Tinggi, oleh Ade Kohar, hlm. 47.

[7] IFLA. Measuring quality: international guidelines for performance measurement in academic libraries, Munich, Saur, 1996., hlm. 28

 

[8] Ibid. hlm. 29.

[9] A. Ridwan Siregar, Perpustakaan Energi Pembangunan Bangsa, Medan: USU, 2006,hlm.78.

[10]Supranto.  J,  Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan; UntukMmenaikkan Pangsa Pasar. Jakarta: Rineka Cipta, 2006, hlm. 231.

[11] Moenir. H.A.S,  Manajemen Pelayanan Umum Di Indonesia. Jakarta: Bumi Akssara, 2001, hlm. 32.

[12] Panduan Koleksi Perpustakaan Khusus, Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 1992.


Komentar

Postingan Populer