KTI EVALUASI PELAYANAN PERPUSTAKAAN
KTI EVALUASI PELAYANAN PERPUSTAKAAN
A.
Latar Belakang Masalah
Tulisan ini beranjak dari asumsi bahwa perpustakaan sebagai salah
satu wahana masyarakat yang di dalamnya memiliki peran sebagai penyedia
informasi atau lebih penting lagi peran yang dimiliki yaitu berusaha untuk
mencerdaskan masyarakat. Peran melekat pada perpustakaan secara umum, tidak
terkecuali pada perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena.
Seiring perkembangan teknologi dan
informasi, semakin tinggi saja pengguna perpustakaan itu sendiri, hal ini
ditambah lagi telah banyaknya masyarakat yang cerdas dan memerlukan berbagai
pengetahuan tambahan, baik itu akademisi, praktisi, pengamat, mahasiswa dan
siswa sekalipun. Fenomena ini pula dituntut pada setiap perpustakaan untuk
selalu bersaing sesuai dengan tuntunan era globalisasi seperti saat sekarang,
yang semuanya menuntut keterbukaan semua pihak, terhadap berbagai persoalan pengetahuan.
|
Untuk memperbaiki atau membenahi terhadap sesuatu ketertinggalan,
perlu cara yang efektif untuk mengetahuinya, terhadap apa-apa yang patut dan
penting segera dibenahi. Karena bila tidak menempuh cara yang tepat untuk
melihat berbagai kekurangan, maka akan tidak sempurna pula terhadap apa yang
akan diperbaiki, dan sebelum memperbaiki atau membenahi sebuah perpustakaan
perlu pula melihat kembali secara teliti. Adapun upaya yang dianggap efektif
terhadap pembenahan perpustakaan secara umum, yaitu dengan cara melakukan
evaluasi perpustakaan.
Evaluasi ini semakin penting dilakukan terhadap sebuah
perpustakaan mengingat eskalasinya semakin hari semakin tinggi penggunanya.
Bila evaluasi ini menjadi sebuah persoalan yang dianggap sepele atau tidak
begitu penting, secara tidak langsung perpustakaan dan user itu sendiri akan mendapatkan pula persoalan lainnya yang
merupakan keluhan terhadap ketidakpuasannya pada perpustakaan, bagitu pula pada
perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena, yang ada di Banda Aceh.
Maka itu, evaluasi adakalanya wajib “hukumnya” dilakukan secara
terus menerus dan berkelanjutan. Namun pendanaan untuk evaluasi ini juga harus
dipikirkan kembali. Oleh karena itu, perpustakaan sekaligus pustakawan harus
memiliki kemampuan untuk melakukan evaluasi diri atas kondisi dan kemampuan
perpustakaannya. Selain itu, juga harus memiliki kemampuan untuk menyusun
program pengembangan yang berbasis kompetisi.
Suatu institusi dalam menyusun rencana pengembangan harus
melakukan evaluasi diri (self evaluation)
untuk mengetahui kondisi perkembangan dan kemajuan pada saat ini (state of the art review). Dalam
evaluasi diri ini beberapa pendekatan dapat dilakukan, antara lain pendekatan
analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (KKPA, atau SWOT: strength, weakness, opportunity, dan threat). Analisis ini penting dilakukan
untk memiliki kekuatan dan potensi untuk berkembang yang seyogyanya.[1]
Analisis terhadap evaluasi ini dapat dilaksanakan menurut
aspek-aspek tertentu yang dianggap penting dalam menilai penyelenggaraan
perpustakaan. Aspek-aspek pengembangan yang dapat dilakukan, dengan penjabaran
sebagai berikut:[2]
1.
Scientific Orientation, yaitu berorientasi kepada pengembangan suasana keilmuan,
2.
Comprehensiveness, yaitu perpustakaan yang selalu
mengupayakan koleksinya mencakup seluruh bidang ilmu secara proporsional,
3.
Uptodateness, perpustakaan selalu
mengupayakan agar koleksinya mutakhir,
4.
Relevancy, perpustakaan selalu mengupayakan
agar koleksinya sesuai dengan
kebutuhan pengguna,
5.
Efficiency and effectiveness, yaitu perpustakaan yang selalu
mengupayakan penyelenggaraan layanan yang efektif dan efesien,
6.
Leadership, yaitu yang didasarkan pada
sistem manajemen yang jelas, dan
7.
Trendy, perpustakaan harus senantiasa
mengikuti tuntutan kemajuan iptek.
Di perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena, setidak ada lima hal
yang masih menjadi tantangan terhadap pelayanan dan pengembangan perpustakaan
itu sendiri atau tepatnya perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena masih
dihadapkan beberapa kekurangan terhadap perpustakaan itu sendiri. Lima hal
tersebut yaitu, 1) banyaknya koleksi yang tidak terawat secara baik “tidak
tersampul”, 2) letak koleksi tidak berdasarkan urutan, 3) ditambah lagi
penomoran yang tidak teratur adanya, 4) koleksi yang tersedia juga masih banyak
yang tidak lengkap, 5) pengguna perpustakaan belum sepenuhnya beretika kepada
pustakawan “berbahasa yang tidak patut bila mereka di atur dalam hal memakai
jasa perpustakaan”. Meski perpustakaan ini telah banyak melakukan evaluasi,
namun pelaksanaan pelayanan terkesan tidak berubah, masih banyak menyisakan
berbagai kekurangan-kekurangannya. Tidaklah berlebihan bila disebutkan bahwa,
perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena masih banyak yang salah.
Padahal Jain, telah mengatakan bahwa, untuk menghadapi segala
kemungkinan-kemungkinan yang tidak baik, suatu organisasi perlu mengetahui
sejauh mana kinerja organisasinya dan bagaimana meningkatkan kinerjanya atau
mencoba melihat apakah organisasinya lebih baik dari organisasi sejenis
lainnya, maka organisasi tersebut melakukan patokan nilai. Istilah ini
merupakan terjemahan bebas dari Benchmark
yang telah lama digunakan oleh kalangan bisnis dan industri. Perangkat ini
ditujukan sebagai usaha untuk bertahan dari krisis dengan cara meningkatkan
kualitias.[3]
Secara sederhana istilah benchmark
diartikan sebagai target atau standar yang akan diukur proses dan kinerja
layanan.
Dari permasalahan di atas, perlu penelitian lebih lanjut untuk
menjawab permasalahan tersebut, dari asumsi mendasar ini penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tentang; Evaluasi pelayanan perpustakaan STIKIP Bina
Bangsa Getsampena.
B.
Tujuan Pembahasan
Sementara tujuan pembahasan pada
penelitian ini yaitu;
1.
Untuk
mengetahui evaluasi layanan perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena?
2.
Untuk
mengetahui tujuan evaluasi yang dilakukan perpustakaan STIKIP Bina Bangsa
Getsampena?
3.
Untuk
mengetahui faktor penghambat terhadap pelaksanaan hasil evaluasi perpustakaan
STIKIP Bina Bangsa Getsampena?
C.
Penjelasan Istilah
Menjelaskan beberapa istilah dalam penulisan merupakan upaya untuk
mencegah menimbulkan kekeliruan dalam pemahaman istilah yang digunakan dalam
suatu tulisan. Adapun yang menjadi istilah-istilah dalam tulisan ini yaitu
sebagai berikut:
1.
Evaluasi layanan
Sebelum menjelaskan pengertian
dari evaluasi layanan, perlu dijelaskan terlebih dahulu pengertian masing kata
tersebut, yaitu, evaluasi ini cenderung digunakan oleh kalangan bisnis dan
industri. Perangkat ini ditujukan sebagai usaha untuk bertahan dari krisis
dengan cara meningkatkan kualitas.[4]
Foot, mendefenisikan evaluasi sebagai “benchmark”.
Istilah benchmark ini diartikan
sebagai jati diri perpustakaan. Untuk mengungkapakan jati diri tersebut,
perpustakaan perlu melakukan evaluasi dengan cara mengukur hasil pencapaian
(kinerja) yang telah dilakukan.[5]
Di lain hal, evaluasi diartikan sebagai suatu proses untuk membandingkan diri
sendiri dengan orang lain, mengukur proses dan kinerja layanan yang telah
diberikan secara sistematis dibandingkan dengan layanan yang diberikan orang
lain yang ditujukan untuk memperoleh hasil yang terbaik.[6]
Sementara kata “layanan”, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
dijelaskan bahwa pelayanan merupakan sebagai usaha melayani kebutuhan orang
lain.[7]
Sementara pengertian melayani yaitu, membantu menyiapkan (mengurus) apa yang
diperlukan seseorang.[8]
Kep. Menpan No. 81/93 disebutkan bahwa, pelayanan umum adalah segala bentuk
pelayanan yang diberikan oleh pemerintah pusat/daerah/BUMN/BUMD, dalam rangka
pemenuhan kebutuhan masyarakat, dan atau peraturan perundang-undangan yang
berlaku.[9]
Soeatminah dalam bukunya, perpustakaan, kepustakawanan dan
pustakawan menyebutkan, pelayanan adalah kegiatan kerja yang berupa
pemberian bantuan kepada pemakai perpustakaan dalam proses peminjaman dan
pengembalian pustaka, yang disebutkan dengan istilah “sirkulasi”, yang
mengandung makna mengedarkan koleksi perpustakaan kepada pemakainya.[10]
Dapat ditarik kesimpulan bahwa, evaluasi layanan adalah serangkain
kegiatan yang dilakukan untuk melihat kembali dan menilai kembali terhadap
kinerja yang dilakukan selama ini atau layanan yang diberikan selama ini kepada
pengguna perpustakaan, baik dari aspek koleksi, staf, ruang, fasilitas dan
lain-lain, yang tujuannnya agar sedianya setiap perpustakaan selalu dapat
berbenah dalam menyesesuaikan diri dengan tuntutan zaman yang semakin komplit
baik itu pengetahuan maupun teknologi, sehingga perlu merehab kembali hal-hal
yang diangga penting pada sebuah perpustakaan.
2.
Perpustakaan
STIKIP Bina Bangsa Getsampena
Kata “perpustakaan” berasal dari kata dasar “pustaka”, yang
mendapat imbuhan “per” dan “an”, sehingga menjadi “perpustakaan” yang berarti
tempat atau kumpulan bahan pustaka.[11]
Sementara bahan pustaka adalah wadah informasi, dapat berupa buku dan non-buku
atau hasil rekaman informasi yang tertulis atau tercetak, seperti buku teks
atau monografi, majalah, brosur dan lain-lain, sedangkan non-buku adalah hasil
rekaman informasi berupa suara atau gambar pada pita, film, dan lain-lain
sejenisnya.[12]
Perpustakaan STIKIP
Bina Bangsa Getsampena, merupakan perpustakaan yang tergabung pada sebuah penguruan tinggi, dikelola
sepenuhnya oleh perguruan
yang
bersangkutan, dengan tujuan utama membantu segenap mahasiswa, akademsi,
praktisi perguruan tinggi untuk mencapai tujuan khusus perguruan tinggi dan tujuan
pendidikan pada umumnya. Tujuan khusus tersebut yaitu, membantu mahasiswa atau
civitas perguruan tinggi tersebut untuk mencapai tujuannya yang diinginkan
terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
3.
STIKIP Bina
Bangsa Getsampena
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bina Bangsa Getsampena
yang disingkat (STIKIP Bina Bangsa Getsampena), merupakan salah satu dari
sekian banyak perguruan tinggi yang ada di Banda Aceh, yang beralamat di Jln.
Chik Ditiro Peuniti Banda Aceh. Perguruan tinggi STIKIP Bina Bangsa Getsampena
ini hanya membuka jurusan untuk keguruan saja.
D.
Metode pembahasan
Metode
sebagai suatu cara yang dilakukan dalam suatu penelitian, patut diperhatikan,
karena metode ini mendukung peneliti mendapatkan data yang baik, benar, jujur,
terorganisir, tuntas dan sistematis. Dalam kaitannya menulis kertas karya
ilmiah ini digunakan dua cara, yaitu:
Library research, yang dilakukan melalui bacaan bahan
pustaka yang berhubungan dengan topik bahasan yaitu tentang perkembangan
perpustakaan, yang dapat digunakan sebagai landasan teoritis demi mendukung
keilmiahan tulisan ini.
Field research yang dilakukan melalui interview,
mewawancarai kepala perpustakaan STIKIP Bina Bangsa Getsampena, Muhammad, S.IP,
sekaligus merangkap sebagai pustakawan dan Raudhatul Jannah. Wawancara ini dilakukan
berkaitan dengan permasalahan yang diteliti, yaitu tentang evaluasi pelayanan
pepustakaan, ± 2 Jam selama 2 (dua) hari. Wawancara dilakukan pada saat Latihan
Kerja Perpustakaan (LKP) selama 3 (tiga) bulan, dimulai dari tanggal 14 Maret
s.d. 14 Juni 2011.
[2] IFLA. Measuring quality: international guidelines for performance measurement in academic libraries, Munich, Saur, 1996
[3] Jain, Priti. Strategic human resource development in public libraries in Botswana, Bradford: Library Management, Edisi. 6, 2005, hlm.336.
[4] Ibid., hlm.336.
[5] Jain, Pritty., Op. cit., hlm. 336-338.
[6]
Wilson, Frankie dan
Town, J. Stephen. Benchmarking and
library quality maturity; Performance
Measurement and Metrics, Vol. 7 No.
2, 2006, hlm. 75-82.
[8] Ibrahim Bafudal, Pengelolaan Perpustakaan dalam Mengembangkan Masyarakat Informasi, Jakarta: Bumi Aksara, 2005, hlm. 26.
[10] Soeatminah, Perpustakaan, Kepustakaan dan Pustakawan, Cet. 1, Yogyakarta: Karnisius, 1992, hlm. 138-139.
[11] Ibid.
[12] Ibid., hlm. 32.


Komentar
Posting Komentar
Komentar