SKRIPSI TENTANG IPK MAHASISWA JURUSAN IPA DAN IPS

 google.com, pub-8131506556461982, DIRECT, f08c47fec0942fa0


BAB II TENTANG

PERBANDINGAN IPK MAHASISWA JURUSAN IPA DAN IPS

           

2.1. Perbandingan IPK

     2.1.1. Pengertian Perbandingan

            Menjelaskan istilah “perbandingan” ini tentu saja beragam, sebab dimensi dan aspek  perbandingan itu tidak saja pada bentuk sifat namun juga dalam bentuk benda, sehingga maknanya begitu komplit tergantung dari cara orang memandang. Namun dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), perbandingan ini diistilahkan dengan  “perbedaan (selisih) kesamaan, persamaan atau suatu ibarat, ada pula istilah lain dari perbadingan yaitu pedoman pertimbangan”.[1] Pengertian memberi kesimpulan bahwa perbandingan adalah suatu ketentuan yang sering digunakan untuk menjelaskan pengibaratan sehingga perbandingan ini dapat memperjelas suatu perbedaan yang lebih akurat.

8

 
Perbandingan adalah “membandingkan dua nilai atau lebih dari suatu besaran yang sejenis dan dinyatakan dengan cara yang sederhana. Misalnya Perbandingan (a)  ke (b) dinyatakan dalam suatu bentuk tertentu”.[2] Disisi lain, perbandingan juga merupakan suatu hal yang sangat penting dalam matematika, demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, tidak lepas dari perbandingan. Sementara “skala adalah perbandingan ukuran pada gambar (cm) dengan ukuran sebenarnya (cm) Tampak bahwa skala menggunakan satuan cm untuk dua besaran yang dibandingkan”.[3]

Dalam pembahasan ini, yang dimaksud dengan perbandingan adalah usaha untuk memberi perbedaan sebagai ketentuan ketidaksamaan antara IPK mahasiswa IPA dan mahasiswa IPS terhadap hasil perolehan nilai pada setiap semesternya setelah melalui proses evaluasi. Perbandingan ini nantinya akan dilakukan terhadap nilai kedua kelompok mahasiswa dimaksud (antara mahasiswa jurusan IPA dan IPS) pada jurusan S-1 Geografi al-Washliyah Banda Aceh.

 

     2.1.2. Pengertian IPK

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) merupakan berisi catatan prestasi tiap-tiap mata kuliah selama menempuh studi, dari semester pertama sampai terakhir. Ibarat nilai rapor saat duduk di bangku sekolah. “Nilai IPK mulai dari 1,00 (satu koma nol nol) hingga 4,00 (empat koma nol nol). Jika mampu konsisten meraih IP 3,5 di setiap semester hingga lulus, maka dapat dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi dengan predikat cumlaude”.[4]

Indeks prestasi, biasa disingkat IP, adalah salah satu alat ukur prestasi di bidang akademik/pendidikan. Meskipun bernama "indeks", IP sebenarnya bukanlah indeks dalam pengertian sebenarnya, melainkan semacam reratater boboti. Penggunaan IP di Indonesia memiliki perbedaan untuk tingkat dasar-menengah dan tingkat pendidikan tinggi. Arti singkatan IPK adalah “singkatan dari kata Indeks Prestasi Kumulatif apabila disingkat yaitu menjadi IPK. Akronim  IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) merupakan singkatan/akronim dalam bahasa Indonesia”.[5]

 

     2.1.3. Klasifikasi IPK

IPK merupakan nilai akhir yang diperoleh mahasiswa yang dihitung secara keseluruhannya. Sebelum IPK terlebih dahulu IP yaitu daftar nilai yang dihimpun dalam satu semester, setelah genap dua semester kemudian dihitung secara keseluruhannya maka dapat ditentukan IPK. Jadi, IPK adalah penggabungan dari dua IP (dua semester) nilai mahasiswa. Nilai akhir mata kuliah sudah lazim hanya 5 kemungkinan saja, yaitu A, B, C, D, dan E. Nilai E sudah pasti tidak lulus, nilai D bisa lulus bisa tidak (di Institut Tehnologi Bandung, untuk S1, nilai-nilai tahap sarjana tidak boleh D, dengan kata lain D = tidak lulus). Nilai huruf ini biasanya diekivalenkan dengan nilai numerik sehingga kita dapat menghitung indeks prestasi (IP dan IPK) mahasiswa. Sementara di STKIP al-Washliyah, kriteria penilainnya lazim menggunakan (A, B, C, D, dan E). Untuk criteria kelulusan hanya nilai A, B dan C, criteria D dianggap tidak lulus dan wajib ulang sementara E adalah gagal total. Pedoman ini berbeda dengan kriteria  kelulusan pada perguruan tinggi negeri semisal UIN ar-Raniry dan Unsyiah, untuk kriteria nilai D masih dianggap lulus jika memiliki nilai IPK minimal 3,00.[6]

Namun ada pula aturan lain yang mengatur nilai mahasiswa dengan kriteria yang sempurna sehingga dapat memperbedakan antara nilai khusus dengan nilai umumnya. Sebagian tempat termasuk Universitas Syiah Kuala variasi indeks nilai akhir tidak hanya 5 macam, tetapi bisa lebih.

Jadi, dalam menentukan nilai akhir kita dapat membuat ketentuan nilai sebagai berikut:

Nilai akhir > 81 ==> indeks nilai = A
Nilai akhir: 75,5 s/d 81 ==> indeks nilai = B+
Nilai akhir: 71 s/d 75,5 ==> indeks nilai = B-
Nilai akhir: 65,5 s/d 71 ==> indeks nilai = C+
Nilai akhir: 55,5 s/d 65,5 ==> indeks nilai = C-
Nilai akhir: 45,5 s/d 55,5 ==> indeks nilai = D
Nilai akhir kurang dari 45,5 ==> indeks nilai = E.

Indeks prestasi di Perguruan Tinggi dihitung sebagai rerata norma nilai yang diperoleh seorang mahasiswa pada mata sesuatu kuliah setelah diberi bobot dengan “angka kredit”. Norma nilai berkisar antara 4 (A, terbaik) sampai 0 (E, gagal). Angka Kredit ditentukan besarnya (biasanya 1 sampai 4 Satuan Kredit Semester/SKS) berdasarkan bobot setiap mata kuliah. Bobot ini ditentukan berdasarkan pentingnya mata kuliah tersebut dalam membentuk kompetensi lulusan.

 

2.1.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi IPK

Pada perguruan tinggi untuk melihat keberhasilan seorang mahasiswa, dapat diketahui dengan nilai indeks prestasi (IP). Indeks prestasi (IP) adalah nilai kredit rata-rata yang merupakan satuan nilai akhir yang menggambarkan nilai proses belajar tiap semester atau dapat diartikan juga sebagai besaran atau angka yang menyatakan prestasi keberhasilan dalam proses belajar mahasiswa pada satu semester.

Mahasiswa yang memperoleh indeks prestasi tinggi mengindikasikan bahwa mahasiswa tersebut mampu mengikuti kuliah dengan baik dan sebaliknya semakin rendah indeks prestasi yang diperoleh menunjukkan bahwa mahasiswa tersebut tidak mampu mengikuti kuliah dengan baik. Pada dasarnya ada banyak manfaat atau benefit yang didapat mahasiswa dengan memperoleh indeks prestasi yang baik, antara lain mempercepat masa kuliah, bahkan memungkinkan memperoleh beasiswa.

Pada era globalisasi ini, banyak perusahaan yang merekrut dengan mencari calon pegawai yang memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan perusahaan, salah satunya adalah nilai indeks prestasi kumulatif yang harus memenuhi nilai minimal tertentu. Berkaitan dengan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) yang disyaratkan saat melamar pekerjaan, tidak heran bila perusahaan mencantumkan nilai indeks prestasi kumulatif yang cukup tinggi sebagai salah satu persyaratan untuk melamar pekerjaan di instansi bersangkutan.

Setiap mahasiswa menginginkan prestasi belajar yang tinggi, oleh karena itu mahasiswa harus memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh pada prestasi belajar. sebagaimana pendapat Nugroho,Prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal”.[7] Menurut Nugroho, faktor internal meliputi:

(1) faktor fisiologi, misalnya mengalami sakit, cacat tubuh atau perkembangan tidak sempurna, dan (2) faktor psikologis, misalnya intelegensi, konsep diri, motivasi berprestasi, minat, persepsi, sikap, bakat, kemandirian belajar, kebiasaan belajar, dan lain-lain. Faktor eksternal seperti lingkungan, kurikulum, bahan ajar, administrasi manajemen, pendidik, sarana, dan fasilitas.[8]

 

Menurut Tidjan, dkk faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dikelompokkan menjadi dua yaitu:

  1. Faktor individu yang belajar, faktor ini meliputi faktor fisiologis dan psikis. Faktor fisiologis meliputi fisiologis permanen (intelegensi yang terbatas, hambatan penglihatan, pendengaran, dan masalah persepsi), fisiologis kontemporer (masalah makanan, kecenderungan, kecapaian). Sedangkan faktor psikis yaitu motif, minat, konsentrasi, intelegensi, dan ingatan.
  2. Faktor lingkungan yang dibagi menjadi lingkungan alami (keadaan suhu, kelembaban udara berpengaruh terhadap belajar), lingkungan sosial (harapan orang tua yang tinggi, konflik keluarga, persaingan dan sebagainya) dan faktor materi.[9]

 

Faktor intern antara lain jenis kelamin, intelegensi, makanan, minat, motif, bakat, kematangan, kesiapan, persepsi, konsentrasi, ingatan, dan faktor ekstern seperti persaingan, keadaan alami (suhu dan kelembaban udara), faktor keluarga, masyarakat, sekolah. Faktor yang akan menjadi fokus penelitian ini adalah faktor jasmani (faktor intern) yang dalam penelitian ini adalah jenis kelamin dan faktor persaingan (faktor ekstern) yang dalam penelitian ini adalah jalur masuk.

Agar sukses dalam pendidikan dan berhasil menerapkan ilmu yang diperolehnya, mahasiswa harus menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya serta mengatur stategi yang jitu. Namun sayangnya, banyak juga mahasiswa gagal dalam perkuliahannya. Padahal mahasiswa yang duduk di perguruan tinggi telah terseleksi kemampuannya pada jenjang-jenjang sebelumnya. Jarang mahasiswa yang gagal karena kurangnya kemampuan, sebaliknya berkaitan dengan masalah motivasi. Para pengajar dan pembimbing tugas akhir di perguruan tinggi sering mengeluh bahwa mahasiswa tidak memiliki motivasi.

 

2.2. Mahasiswa Jurusan IPA dan IPS

2.2.1. Pengertian Mahasiswa         

            Mahasiswa adalah pelajar yang sedang menuntut ilmu di universitas tertentu. Biasanya mahasiswa berumur antara tujuh belas sampai dengan dua puluh tiga tahun yang bisa digolongkan dewasa muda atau sedang tumbuh menjadi kedewasaan. Menurut Santrock bahwa “orang dewasa muda termasuk dalam transisi, baik secara fisik, intelektual, maupun peran sosial”.[10] Ia tidak lagi tergantung secara ekonomis, psikologis ataupun psikologis orangtuanya. Mereka justru tertantang untuk membuktikan kepribadian mereka yang dewasa dan mandiri.

Menurut Burhanuddin, mahasiswa adalah:

“Seseorang yang sedang dalam proses menimba ilmu ataupun belajar dan terdaftar sedang menjalani pendidikan pada salah satu bentuk perguruan tinggi yang terdiri dari akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas mahasiswa dapat didefinisikan sebagai individu yang sedang menuntut ilmu ditingkat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta atau lembaga lain yang setingkat dengan perguruan tinggi”.[11]

 

Jadi, mahasiswa dinilai memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, kecerdasan dalam berpikir dan kerencanaan dalam bertindak. Berpikir kritis dan bertindak dengan cepat dan tepat merupakan sifat yang cenderung melekat pada diri setiap mahasiswa, yang merupakan prinsip yang saling melengkapi. Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Bab VI bagian ke empat pasal 19 bahwasanya “ mahasiswa ” itu sebenarnya hanya sebutan akademis untuk siswa/ murid yang telah sampai pada jenjang pendidikan tertentu dalam masa pembelajarannya.

Mahasiswa menurut etimologi atau asal-usul katanya, secara sederhananya adalah berasal dari dua suku kata yaitu, kata “maha” dan “siswa”. Kata “maha” berarti besar, paling, ter dan sangat, sedangkan siswa berasal dari kata “murid”, yaitu orang yang mencari pengetahuan di tingkat sekolah dasar, menengah. Jadi mahasiswa ialah seseorang yang lebih tinggi, baik tingkat tempat dimana dia belajar (SD,SMP,SMP) maupun tingkat intelektualnya.

Zidni, mengemukakan bahwa mahasiswa adalah “sebagian kecil dari generasi muda Indonesia yang mendapat kesempatan untuk mengasah kemampuannya di perguruan tinggi”. [12] Tentunya sangat diharapkan mendapat manfaat yang sebesar-besarnya dalam pendidikan agar kelak mampu menyumbangkan kemampuannya untuk memperbaiki kualitas hidup bangsa Indonesia yang saat ini belum pulih sepenuhnya dari krisis yang dialami pada akhir abad ke-20

Mahasiswa mengatakan bahwa mereka telah mempersiapkan segala kebutuhan belajar, bahan bacaan lengkap, situasi kamar mendukung untuk belajar, namun mereka tetap tidak termotivasi untuk belajar. Selain itu, di dalam kelas masalah besar yang juga sering dialami oleh pengajar dan siswa adalah motivasi. Para pengajar berharap agar setiap siswa menggunakan bakat dan waktunya selama di sekolah sehingga tujuan belajar terjadi secara maksimum.

 

2.2.2. Tugas Mahasiswa

Agar sukses dalam pendidikan dan berhasil menerapkan ilmu yang diperolehnya, mahasiswa harus menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya serta mengatur stategi yang jitu. Namun sayangnya, banyak juga mahasiswa gagal dalam perkuliahannya. Padahal mahasiswa yang duduk di perguruan tinggi telah terseleksi kemampuannya pada jenjang-jenjang sebelumnya. Jarang mahasiswa yang gagal karena kurangnya kemampuan. Oleh karena itu Nasution mengemukakan bahwa “kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya”.[13] Ini menunjukkan bahwa tugas mahasiswa dipandang sebagai seorang terpelajar untuk meningkatkan pengetahuannya secara sistematis dan akurat sehingga dapat membawa manfaat besar bagi manusia lainnya dan alam.

Dari pengertiannya yang telah disebutkan dahulu bahwa semua strata (Diploma, S.1-S.2-S.3)  adalah orang yang harus terus secara konsisten terhadap bidangnya. Dalam menghadapi permasalahan, harus melakukan analisa terhadap masalah itu. Mencari bahan pendukung untuk lebih memahami permasalahan tersebut. Kemudian memunculkan alternatif solusi dan memilih satu solusi dengan pertimbangan yang matang, akhirnya mampu mempresentasikan solusi yang dipilih ke orang lain untuk mempertanggung jawabkan pemilihan solusi tersebut.

1.      Mahasiswa mengasah kemampuan reflektif

Dalam mengembangkan perannya, perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak efektif. Perubahan hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi (action) secara sekaligus. Menurut Nasution “daya refleksi dibangun berdasarkan bacaan baik dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat”.[14]

2.      Mahasiswa membangun kebiasaan bertindak efektif

Di samping kemampuan reflektif, mahasiswa juga perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Oleh sebab itu, “kemajuan bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, “public discourse”, tetapi juga agenda aksi yang nyata”.[15]

3.      Melatih kemampuan kerja teknis

Hal lain yang juga perlu dikembangkan menjadi kebiasaan bagi mahasiswa untuk bekerja teknis, detail atau rinci. Bahkan dalam suasana sistem demokrasi yang membuka luas ruang kebebasan dewasa ini Bruhanuddin menuntut “kaum mahasiswa diharapkan dapat bertindak dan berperan produktif di masa depan”.[16]

4.      Kesadaran berkonstitusi

Yang dimaksudkan yaitu “sebagai mahasiswa sebenarnya dirinya telah bersumpah sebagai pemuda bangsa untuk persatuan bahasa Indonesia dan mahasiswa dapat bersatu dalam keragaman”.[17]

5.      Mahasiswa sebagai perubahan

Mahasiswa sama-sama diidentikkan dengan “agent of change”. Dari mahasiswalah ditumpukan besarnya harapan, harapan untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang yang ada di negeri ini. Tugasnyalah melaksanakan dan merealisasikan perubahan positif, sehingga kemajuan di dalam sebuah negeri bisa tercapai dengan membanggakan.
oleh sebab itu pula “peran sentral perjuanganya sebagai kaum intelektualitas muda memberi secercah sinar harapan untuk bisa memperbaiki dan memberi perubahan-perubahan positif di negeri ini”.[18]

6.      Mahasiswa pelopor sejarah bangsa

Mahasiswa telah terbukti selalu menjadi pelopor dalam sejarah suatu bangsa, dimana “pada konteks Indonesia, pengalaman empirik juga membenarkan sekaligus mempertegas realitas tersebut”.[19] Maka itu, catatan sejarah memperlihatkan bahwa dengan kemahirannya dalam menjalankan fungsi sebagai Intellectual Organic, mahasiswa telah berhasil menumbangkan rezim Orde Baru dan menghantarkan Indonesia kedalam suatu era yang saat ini sedang bergulir, yakni Orde Reformasi.

7.      Peranan mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Mahasiswa merupakan sebuah status yang disandang seseorang ketika ia menjalani pendidikan formal pada sebuah perguruan tinggi. “Ternyata dibalik statusnya itu, masih banyak sekali peranan seorang yang menyandang status mahasiswa untuk menunjukkan peranannya pada kehidupan masyarakat terlebih lagi pada tingkat kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sejarah membuktikan bagaimana kekuatan mahasiswa dalam pergantian rezim yang diktator menuju perubahan kearah lebih baik”.[20]

8.      Peranan dan fungsi mahasiswa dalam era reformasi

Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Dalam masanya “suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara mereka sendiri” .[21]

 

Dalam hal ini, secara umum mahasiswa menyandang tiga fungsi strategis, yaitu:

a.       Sebagai penyampai kebenaran (agent of social control)

b.      Sebagai agen perubahan (agent of change)

c.       Sebagai generasi penerus masa depan (iron stock).[22]

Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa adalah tumpuan harapan bangsa yang paling besar, baginya menyimpan pesa moral yang mulia dalam melanjutkan bangsa di masa mendatang. Sebab sebagai mahasiswa selain sebagai pemuda ia juga sebagai calon ilmuan ke depan yang telah memiliki pengetahuan dan teknis yang baik menurut bidang dan latar belakang pendidikannya. Dari keseluruhan keterampilan dan kemampuan mahasiswa sat ini sebagai bekal dalam melanjutkan pembangunan bangsa ini.

 

2.2.3. Pengertian Jurusan IPA dan Mata Pelajarannya

            Dilihat dari definisinya maka IPA dapat diterjemahkan menjadi Ilmu Pengetahun Alam. Secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu, dalil-dalil atua konsep yang mengurai dan menjelaskan terhadap masalah alamiah yang menyangkut erat  dengan alam, yang meliputi makluk hidup, tumbuhan, hewan dan lingkungannya bahkan juga melingkupi ilmu pengetahuan alam tentang ruang dan waktu yang dipandang secara alamiah yang menimbulkan reaksi.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains menurut sebagai pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal.

IPA merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu “dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain”.[23]
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan dididapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus di sempurnakan.

Dalam pembelajaran IPA mencakup semua materi yang terkait dengan objek alam serta persoalannya. Ruang lingkup IPA yaitu makhluk hidup, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya. IPA terdiri dari tiga aspek yaitu Fisika, Biologi dan Kimia. Pada aspek Fisika IPA lebih memfokuskan pada benda-benda tak hidup. Pada sapek Biologi IPA mengkaji pada persoalan yang terkait dengan makhluk hidup serta lingfkungannya. Sedangkan pada aspek Kimia IPA mempelajari gejala-gejala kimia baik yang ada pada makhluk hidup maupun benda tak hidup yang ada di alam.

Dari uraian di atas mengenai pengertian pendidikan dan IPA maka pendidikan IPA merupakan penerapan dalam pendidikan dan IPA untuk tujuan pembelajaran termasuk pembelajaran di SMP. Pendidikan IPA menurut merupakan usaha untuk menggunakan tingkah laku siswa hingga siswa memahami proses-proses IPA, memiliki nilai-nilai dan sikap yang baik terhadap IPA serta menguasi materi IPA berupa fakta, konsep, prinsip dan teori IPA. Pendidikan IPA menurut J. Drost merupakan “suatu ilmu pegetahuan sosial yang merupakan disiplin ilmu bukan bersifat teoritis melainkan gabungan (kombinasi) antara disiplin ilmu yang bersifat produktif”.[24]

Dari kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan IPA merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengungkap gejala-gejala alam dengan menerapkan langkah-langkah ilmiah serta untuk membentuk kepribadian atau tingkah laku siswa sehingga siswa dapat memahami proses IPA dan dapat dikembangkan di masyarakat.

Pendidikan IPA menjadi suatu bidang ilmu yang memiliki tujuan agar setiap siswa terutama yang ada di SMP memiliki kepribadian yang baik dan dapat menerapkan sikap ilmiah serta dapat mengembangkan potensi yang ada di alam untuk dijadikan sebagai sumber ilmu dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian pendidikan IPA bukan hanya sekedar teori akan tetapi dalam setiap bentuk pengajarannya lebih ditekankan pada bukti dan kegunaan ilmu tersebut.

 

2.2.4. Pengertian Jurusan IPS dan Mata-mata Pelajarannya

Sebagaimana rumusan pelajaran IPA, maka Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dapat diartikan pula sebagai ruang lingkup pembahasan terhadap aspek sosial, yang meliputi budaya (antropologi), kemasyarakatan (sosiologi), rumah tangga (ekonomi) dan lainnya. Rumusan tentang pengertian IPS telah banyak dikemukakan oleh para ahli IPS atau social studies. Di sekolah-sekolah Amerika pengajaran IPS dikenal dengan social studies. Jadi, istilah IPS merupakan “terjemahan social studies.
Dengan demikian IPS dapat diartikan dengan penelaahan atau kajian tentang masyarakat”.[25]

Dalam mengkaji masyarakat, guru dapat melakukan kajian dari berbagai perspektif sosial, seperti kajian melalui pengajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik-pemerintahan, dan aspek psikologi sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pengembangan IPS di Indonesia banyak mengambil ide-ide dasar dari pendapat-pendapat yang dikembangkan di Amerika Serikat tersebut. Tujuan, materi, dan penanganannya dikembangkan sendiri sesuai dengan tujuan nasional dan aspirasi masyarakat Indonesia.

Hal ini didasarkan pada realitas, gejala, dan problem sosial yang menjadi kajian IPS yang tidak sama dengan negara-negara lain. Setiap negara memiliki perkembangan dan model pengembangan social studies yang berbeda.
Berikut pengertian IPS yang dikemukakan oleh beberapa ahli pendidikan dan IPS di Indonesia, yaitu sebagai berikut;[26]

1.        Moeljono Cokrodikardjo mengemukakan bahwa IPS adalah perwujudan
dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. Ia merupakan
integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni sosiologi, antropologi
budaya, psikologi, sejarah, geokrafi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi
manusia, yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi
dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.

2.        Nu’man Soemantri menyatakan bahwa IPS merupakan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk pendidikan tingkat SD, SLTP, dan
SLTA. Penyederhanaan mengandung arti: a) menurunkan tingkat
kesukaran ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di universitas menjadi
pelajaran yang sesuai dengan kematangan berfikir siswa siswi sekolah
dasar dan lanjutan, b) mempertautkan dan memadukan bahan aneka
cabang ilmu-ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi
pelajaran yang mudah dicerna.

3.        S. Nasution mendefinisikan IPS sebagai pelajaran yang merupakan fusi
atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS
merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peran
manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek sejarah,
ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, dan psikologi sosial.

4.        Tim IKIP Surabaya mengemukakan bahwa IPS merupakan bidang studi
yang menghormati, mempelajari, mengolah, dan membahas hal-hal yang
berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benarbenar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk yang terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, kemudian disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolah-sekolah.

 

Dengan demikian, IPS bukan ilmu sosial dan pembelajaran IPS yang
dilaksanakan baik pada pendidikan dasar maupun pada pendidikan tinggi tidak menekankan pada aspek teoritis keilmuannya, tetapi aspek praktis dalam mempelajari, menelaah, mengkaji gejala, dan masalah sosial masyarakat, yang bobot dan keluasannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing.

Kajian tentang masyarakat dalam IPS dapat dilakukan dalam lingkungan yang terbatas, yaitu lingkungan sekitar sekolah atau siswa dan siswi atau dalam lingkungan yang luas, yaitu lingkungan negara lain, baik yang ada di masa sekarang maupun di masa lampau. Dengan demikian “siswa dan siswi yang mempelajari IPS dapat menghayati masa sekarang dengan dibekali pengetahuan tentang masa lampau umat manusia”.[27]

Dengan bertolak dari uraian di depan, kegiatan belajar mengajar IPS
membahas manusia dengan lingkungannya dari berbagai sudut ilmu sosial pada masa lampau, sekarang, dan masa mendatang, baik pada lingkungan yang dekat maupun lingkungan yang jauh dari siswa dan siswi. Oleh karena itu, guru IPS harus sungguh-sungguh memahami apa dan bagaimana bidang studi IPS itu. 

 

 

2.3. Prestasi Belajar Mahasiswa

2.3.1. Pengertian Prestasi Belajar Mahasiswa

Proses belajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran khusus. Dan untuk melihat keberhasilan tersebut juga perlu melakukan berbagai evaluasi, sehingga dapat diketahui akan kekurangan yang ditimbulkan. Fungsi penilaian/evaluasi ini untuk memberikan umpan balik dalam rangka memperbaiki proses belajar dan melaksanakan program bagi mahasiswa.

Suatu proses belajar dinyatakan berhasil apabila memenuhi hal-hal berikut:

a)      Daya serap terhadap bahan yang dipelajari mencapai potensi tinggi, baik individual maupun kelompok,

b)      Perilaku yang digariskan dalam pengajaran telah dicapai baik secara individu maupun kelompok.[28]

2.3.2. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Mahasiswa

Proses belajar selalu diiringi oleh pengalaman-pengalaman, pemahaman, penguatan serta diperlukan juga ganjaran-ganjaran agar proses belajar-mengajar menjadi lebih berkesan.  Walaupun demikian proses belajar-mengajar tidaklah selalu dapat berjalan dengan mulus dalam mewujudkan tujuan dari hasil belajar.

Menurut Suryabrata bahwa :

 

“Kita tahu belajar adalah suatu proses yang komplek. Setiap anak mempunyai cara tersendiri dalam belajar. Misalnya ada anak yang membaca dengan suara keras-keras, dengan cara ini pelajaran yang dihafal akan lebih cepat dimengerti, kalau dia disuruh membaca dalam hati, maka ia akan mendapat hasil yang minim dari pelajaran itu. Namun sebaliknya yang bisa belajar dalam keadaan tenang, disamping itu ada juga anak yang biasa belajar malam hari, tetapi ada juga yang sebaliknya”. [29]

 

Proses belajar dalam diri seseorang itu tidak sama, sehingga timbullah keinginan para ahli untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar seseorang. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang sehingga setiap orang mempunyai prestasi yang berbeda.

Sardiman A.M. mengatakan bahwa “belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku si subjek belajar ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya”. [30] Dari banyak faktor tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua faktor yaitu faktor intern merupakan faktor yang berasal dari dalam diri sisubjek belajar dan faktor ekstern merupakan faktor yang berasal dari luar si subjek belajar”.

2.3.3. Kendala-kendala dalam Pencapaian Prestasi Belajar Mahasiswa

            Berbicara masalah kendala dalam belajar tentu bukan hal yang mudah untuk diselesaikan, sebab hampir setiap orang mengalami kendala dalam belajar meskipun dalam bentuk sederhana dan tidak terlalu besar sebagaimana masalah atau kendala yang dihadapi oleh orang lain. meski berbagai kendala ini dirasakan oleh semua orang, namun ada kendala yang sifatnya mudah diselesaikan dan adapula yang sulit untuk dihilangkan. Berikut ini akan diuraikan beberapa kendala-kendala yang sering muncul pada seseorang dalam belajarnya baik itu orang dewasa (mahasiswa) maupun pada taraf anak-anak (murid/siswa).

      1. Faktor Intern

Faktor intern adalah faktor yang bersumber dari dalam individu itu sendiri yang dapat berpengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai yang terdiri dari faktor psikologis dan fisiologis, yaitu sebagai berikut:

  1. Faktor Psikologis

           

            Faktor psikologis adalah faktor yang bersumber dari dalam diri manusia yang banyak berkenaan dengan aspek kejiwaan yang merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi prestasi belajar individu yang erat kaitannya dengan segala bentuk kemampuan yang berpusat pada otak. Faktor ini berpengaruh terhadap hasil belajar seseorang. Adapun yang termasuk faktor ini psikologis adalah:

a)      Kecerdasan (intelegensi) yaitu merupakan salah satu aspek  yang sangat penting dan sangat menentukan seseorang dalam mempelajari sesuatu. M. Dalyono mengatakan “seseorang yang mempunyai intelegensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasil belajar pun cenderung baik, sebaliknya orang yang intelegensinya rendah, cenderung mengalami kesukaran dalam belajar, lamban berpikir sehingga prestasinya rendah”.[31]

b)      Minat dan perhatian merupakan “keinginan yang dapat menimbulkan perhatian akibat adanya sesuatu perhatian yang menarik dalam proses belajar mengajar, bahkan minat dan perhatian dalam belajar mempunyai hubungan yang erat sekali”.[32]

c)      Bakat adalah suatu kecenderungan yang tampak pada tingkah laku manusia pada bidang keahlian tertentu, bakat juga dapat mempengaruhi belajar seseorang. Suryabrata mengatakan bahwa “bakat itu terutama pada kemampuan individu untuk melakukan suatu tugas sedikit sekali memerlukan latihan tentang hal itu”.[33] Selanjutnya Chatarina mengatakan bahwa “bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberi kesempatan untuk dikembangkan melalui kegiatan belajar akan menjadi kecakapan yang nyata”.[34]

d)     Motivasi/kesungguhan merupakan dorongan yang mendasari dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Motivasi dalam belajar ada dua yaitu “motivasi intrinsik adalah yang berasal dari dalam diri seseorang dalam melakukan kegiatan belajar atas dasar kesadaran diri sendiri dan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar diri seseorang untuk melakukan kegiatan belajarnya”. [35]

 

  1. Faktor Psikologis merupakan faktor yang berasal dari dalam individu yang erat hubungannya dengan kesehatan jasmani dan kesempurnaan pancaindra. Keadaan jasmani harus diperhatikan dengan baik karena keadaan jasmani yang kurang baik atau sakit akan mengganggu kegiatan belajar, seperti:

a)      Keadaan jasmani yang kurang sehat dapat mempengaruhi seseorang dalam belajar. Seperti mengatakan bawa “tubuh adalah fisik yang terbatas daya tahannya, tubuh yang sehat bila tidak dijaga akan mengalami sakit dan kelelahan dan sungguhpun demikian kelelahan sewaktu-waktu pasti terjadi atas diri seseorang terutama jika dipakai untuk kerjaan yang berat-berat, hal ini dapat mempengaruhi kegiatan belajar seseorang”. [36]

b)      Keadaan pancaindra merupakan bagian jasmani seseorang, kesempurnaan pancaindra sangat mendukung kelancaran belajar seseorang dan dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Normalnya kondisi pancaindra merupakan syarat mutlak untuk dapat memperoleh pengetahuan secara jelas dan tepat. Hal ini sesuai dengan pendapat Suryabrata mengatakan bahwa “pancaindra dapat dimisalkan sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh ke dalam individu, orang mengenal dunia sekitarnya dan belajar dengan mempergunakan pancaindranya. Baiknya pancaindra merupakan syarat dapatnya belajar itu dengan baik”. [37]

 

 

 

      2. Faktor Ekstern

               Faktor ekstern adalah faktor yang bersumber dari luar individu yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar seseorang baik yang bersumber dari lingkungan manusia maupun bukan dari lingkungan manusia, terdiri dari:

  1. Faktor lingkungan keluarga mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang, karena orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pendidikan anaknya. Menurut Djamarah “perkembangan dan aspirasi individu maupun masyarakat menyebabkan peran keluarga terhadap pendidikan anak-anaknya juga mengalami perubahan, keluargalah yang terutama berperan baik aspek pembudayaan maupun penguasaan keterampilan dan pengetahuan”.[38]
  2. Faktor lingkungan sekolah merupakan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tempat terjadinya interaksi antara guru dengan murid, murid dengan murid serta murid dengan lingkungannya. Menurut Djamarah “diantara tiga pusat pendidikan, sekolah merupakan sarana yang dirancang khusus untuk melaksanakan proses pendidikan, semakin maju masyarakat semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masa proses pembangunan dalam masyarakat”.[39]
  3. Faktor lingkungan masyarakat dimana secara tidak langsung masyarakat juga ikut mempengaruhi anak dalam belajar, karena melalui masyarakat anak dapat mengembangkan sifat-sifat yang perlu dalam masyarakat, seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan bergaul serta nilai-nilai yang perlu dari masyarakat tersebut. Ada empat faktor yang dapat mempengaruhi atau menghambat proses belajar anak yaitu:

a)      Media seperti: radio, TV, Majalah, komik, buku dan lain-lain.

b)      Teman bergaul seperti orang yang tidak baik juga membawa pengaruh yang tidak baik.

c)      Aktivitas siswa dalam masyarakat terlalu banyak tugas dalam organisasi akan membawa pengaruh terhadap anak dalam belajar.

d)     Bentuk kehidupan dalam masyarkat seperti lingkungan bertetangga, yang suka berjudi, mencuri dan kebiasaan lainnya.[40]

 

Dari kutipan di atas maka faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Jadi jika mess itu baik maka akan memberi pengaruh baik pula terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya jika mess media itu jelek sumber beritanya tidak sesuai dengan tingkat kematangan anak akan membawa pengaruh negatif terhadap anak yang bersangkutan. Prestasi belajar seorang siswa kendatipun pengaruh itu kecil, namun kendalanya juga dapat membawa ke arah yang lebih besar. Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seseorang tidak semata-mata  bertopang pada diri siswa, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya maupun sekolah.

 

2.4. Perbandingan IPK Mahasiswa IPA dan IPS

Beragamnya asal jurusan mahasiswa akan berdampak pada pemahaman mata kuliah yang di dapatkan di akademi, terutama pada semester awal. Dimana mata kuliah semester awal bersifat umum/dasar di samping itu perlu banyak adaptasi dengan mata kuliah tentang Geografi. IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil obervasi dan eksperimen.

Melihat hal tersebut “sebagian mahasiswa yang masuk ke Geografi sebagian besar berasal dari jurusan IPA yang umumnya berfikir dapat melatih siswa untuk mengembangkan pikiran baik secara rasional, logis, realistis dan melatih siswa untuk menyelesaikan masalah sehingga lebih menguasai mata kuliah yang berhubungan dengan kesehatan geografi dibandingkan dengan IPS dan Kejuruan”.[41]

Kemampuan mahasiswa banyak dipengaruhi aktifitas yang dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri dalam mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan di akademi. Ahmadi, menegaskan bahwa “setiap aktifitas yang dilakukan oleh seseorang tentu ada faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik yang cenderung mendorong maupun yang menghambat. Demikian juga dialami belajar, faktor yang mempengaruhi prestasi belajar”.[42] Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor intern yaitu kecedarsan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi. Faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.

Kuliah seorang mahasiswa dapat dilihat dari prestasi akademik yang dicapai, potensi yang dimiliki juga motivasi tinggi yang ada dalam dirinya. Secara akademik, keberhasilan seorang mahasiswa ditunjukan dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).  Bimo Walgito menyatakan bahwa “prestasi belajar tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana prasarana belajar dan kualitas proses pembelajaran saja, tetapi juga ditentukan oleh kualitas peserta yang masuk/input”.[43] Mahasiswa Geografi yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Pada kegiatan perkuliahan banyak mahasiswa yang terlibat baik laki-laki maupun perempuan.

Hal tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara jurusan IPA dan IPS yang lebih kuat. Perbedaan ini dianggap berpengaruh pada perkembangan emosional dan kapasitas intelektual masing-masing. Calon mahasiswa dari dua jurusan yang menjadi mahasiswa Geografi diterima dalam gelombang dan waktu berbeda namun angkatan sama,hal ini menunjukkan adanya persaingan para calon mahasiswa. Berbagai bentuk persaingan harus ditempuh para calon mahasiswa untuk diterima di Geografi al-Washliyah Banda Aceh.

 

2.5. Motivasi Belajar Akademik yang Baik bagi Mahasiswa

            Dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 pada alinea pertama telah disebutkan yang bahwa faktor penunjang pembangunan itu tertumpu pada enam bagian yaitu ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, kesehatan dan pertahanan. Keseluruhannya saling keterkaitan dan ketergantungan, akan tetapi yang lebih utama  diantara semuanya yaitu pendidikan dimana ia merupakan sebagai faktor esensial penunjang keseluruhannya.

            Pendidikan disini yang menjadi objek kajian adakalanya siswa, pelajar dan mahasiswa. Keseluruhannya merupakan aset negara yang harus selalu dipertahankan kelangsungannya.  Mahasiswa bisa diartikan sebagai kelompok tertinggi diantara siswa dan pelajar, yang mempunyai tanggung jawab moral terhadap perubahan masyarakat yang berkedudukan di perguruan tinggi atau sekolah tinggi.

               Menurut Miftha Thoha pelaku organisasi (mahasiswa aktif) adalah suatu studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku manusia dalam suatu oranisasi atau kelompok.[44] Menurut Sutopo mahasiswa aktif adalah “sekelompok orang atau lebih yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama  untuk mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan”.[45]  Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan mahasiswa aktif adalah mahasiswa yang bergabung dalam suatu kelompok atau lembaga dan juga mempersatukan masyarakat secara formal dalam mencapai sebuah tujuan baik secara individu maupun kelompok.

               Gambaran seorang mahasiswa yang sebenarnya adalah memiliki semangat dan kemauan tinggi, serta akan betah dan biasa jika dalam organisasi sehingga ia ditempatkan pada posisi yang mulia dalam kultural masyarakat. Beragam tawaran dan model organisasi, ternyata belum begitu membuat mahasiswa tertarik untuk bergabung melakukan kegiatan-kegiatan sosial masyarakat sebagai Tri Dharma mahasiswa di pernguruan tinggi dan mengkonsentrasikan dirinya terhadap organisasi yang ada. Kurangnya minat mahasiswa seperti ini akan berpengaruh terutama pada proses pengkaderan dan regenerasi dengan demikian semakin kurang pula perhatian mahasiswa terhadap realitas sosial berbentuk pengabdian dan pengembangan pada/di dalam kehidupan masyarakat.

Untuk melihat bagaimana peran mahasiswa tentu melihat dari sisi sejarah, dimana ada beberapa hal penting dan besar yang memang dilakukan langsung oleh mahasiswa seperti mengusung reformasi 1998, tuntutan pencabutan DOM, aksi massa menuntut referendum, membantu pengungsi yang tersebar di seluruh pelosok Aceh dan lainnya. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa mahasiswa mampu mengubah masyarakat lebih baik terutama bagi mahasiswa yang aktif dalam berbagai organisasi.

Disadari atau tidak, aktif dan tidak aktifnya mahasiswa dalam suatu organisasi tetap membawa sisi positif dan negatif, namun jika mampu dipelajari dengan baik dan mendalam organisasi justru membawa sisi yang sangat positif, kemungkinan sangat kecil sisi negatif yang timbul, inipun jika memang mampu dimanajement dengan baik terhadap kehidupannya dalam organisasi.

Untuk lebih mendalami pembahasan terhadap mahasiswa yang aktif dalam organisasi, berikut akan penulis jelaskan sisi positif terhadap mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi, yaitu:

1.      Mahasiswa terlihat lebih peka terhadap gejala sosial kemasyarakatan yang sedang terjadi, dalam peristiwa banjir dan kebakaran misalnya, dengan adanya wadah organisasi mahasiswa mampu memberikan tanggung jawab sosialnya secara penuh dengan cara melakukan penggalangan dana di setiap persimpangan jalan, sudut kota dan tempat keramaian untuk bisa mebantu masyarakat korban, setelah dana terkumpul dibagikan pada masyarakat korban sebagaimana yang mereka peroleh. Realitas ini tentu berbeda dengan mahasiswa yang non-aktif dalam organisasi. 

2.      Mahasiswa mampu memahami proses administrasi pemerintahan dengan baik dan benar,

3.      Mahasiswa mampu menjawab masalah serta mampu juga dalam mencari solusi terhadap hal-hal yang terjadi,

4.      Mahasiswa mampu merancang program/kegiatan dengan cara sistematis dan terarah,

5.      Mahasiswa juga mampu berbicara di depan forum dikarenakan keterbiasaannya dalam organisasi, dan

6.   Selain itu mahasiswa juga mampu membentuk  bakat kepemimpinannya dan kewibawaannya sebagai mahasiswa.[46]

 

Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa adalah orang yang masih berusia muda dan sedang dalam pendidikan pada perguruan tinggi. Pada dirinya melekat beberapa tanggungjjawab besar sebagai penerus bangsa. Selain perkuliahan, mahasiswa juga dituntut agar bisa bersosialisasi dengan masyarakat luas secara terbuka untuk mengaplikasikan kedisiplinan ilmunya dan ia juga dituntut peka terhadap isu-isu terkini sebagai respon dalam penyelesaian masalah.



[1] W.J.S Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Roesda Karya: Bandung, 2006), hlm. 1452

 

[2] Perbandingan, diakses melalui situs https://id. wikibooks. org/ wiki/ Subjek: Matematika/ Materi: Perbandingan, tanggal 2 Juni 2015

[3] Perbandingan, diakses melalui situs http:// zidofa. weebly. com/ perbandingan. html, pada tanggal 2 Juni 2015

 

[4] IPK diakses melalui situs, http://stmikbpn.ac.id/web/2012/08/28/istilah-istilah-dalam-dunia-kampus-bagi-mahasiswa-baru.html, tanggal 5 Juni 2015, Pukul 11: 13 WIB

[6] Arsip dan Dokumentasi Akademik STKIP al-Washliyah Banda Aceh, data diperoleh tangga 13 Agustus 2015

[7] Fajar Adi Nugroho, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Pemasangan Dasar Instalasi Listrik Siswa Kelas X Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK Negeri 1 Sedayu. (Skripsi) (Yogyakarta: UNY, 2012), hlm. 4.

 

[8] Fajar Adi Nugroho, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar…,hlm. 5.

 

[9] Tidjan, dkk. Bimbingan dan konseling untuk Sekolah, (Yogyakarta: UPP-UNY, 2000), Slameto, Belajar dan Factor-Faktor…, hlm. 78

[10] Sardiman, A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar…, hlm. 177.

[11] Burhanuddin, Cara Belajar di Perguruan Tinggi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 38

[12] Zidni Imawan Muslimin. (2012). Prestasi Belajar Mahasiswa Ditinjau dari Jalur Penerimaan Mahasiswa Baru, Asal Sekolah, dan Tes Potensi Akademik. Jurnal Penelitian Psikologi Vol 03 No. 01.Versi Elektronik, 2012, hlm. 108

[13] Nasution, S, Berbagai Proses Pendekatan Dalam Belajar dan Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm 88

 

[14] Burhanuddin, Cara Belajar di Perguruan Tinggi...hlm. 55

 

[15] Burhanuddin, Cara Belajar di Perguruan Tinggi…,hlm. 57

[16] Burhanuddin, Cara Belajar di Perguruan Tinggi…,hlm.58

 

[17] Diakses melalui, https:// sh0likhin. wordpress. com/2010/03/24/ makalah- peranan- mahasiswa- dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/tanggal 3 Juli 2015

 

[18] Diakses melalui, https:// sh0likhin. wordpress. com/2010/03/24/ makalah- peranan- mahasiswa- dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/tanggal 3 Juli 2015

 

[19] Diakses melalui, https:// sh0likhin. wordpress. com/2010/03/24/ makalah- peranan- mahasiswa- dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/tanggal 3 Juli 2015

[20] Diakses melalui, https:// sh0likhin. wordpress. com/2010/03/24/ makalah- peranan- mahasiswa- dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/tanggal 3 Juli 2015

[21] Diakses melalui, https:// sh0likhin. wordpress. com/2010/03/24/ makalah- peranan- mahasiswa- dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/tanggal 3 Juli 2015

[22] Diakses melalui, https:// sh0likhin. wordpress. com/2010/03/24/ makalah- peranan- mahasiswa- dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/tanggal 3 Juli 2015

[23] J. Drost, Masalah IPA dan IPS (Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman), (Yogyakarta:  Kanisius, 2001),  hlm. 79

[24] J. Drost, Masalah IPA dan IPS (Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman…hlm. 117

[25] J. Drost, Masalah IPA dan IPS (Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman…hlm. 121

[26] Sumaatmadja. Konsep Pembelajaran Non IPA, (Jakarta: Kanisius, 2000), halm. 73

[27] Sumaatmadja. Konsep Pembelajaran Non IPA, (Jakarta: Kanisius, 2000), hlm. 78

[28] Abu Ahmadi, Widodo Supriyono, Psikologi (Jakarta: Rineka Cipta, Cet II, 2004). hlm. 63

 

[29] Sumadi Suryabrata, Psikologi Keperibadian, (Jakarta: Rajawali, 2006), hlm. 249

[30] Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta:Rajawali Press, 2002),, hlm. 39

[31] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Cet I, (Jakarta : Logos, 1999), hlm. 153

 

[32] Dimyati & Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 50

 

 

[33] Dryden G; & Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar…, hlm. 63

 

[34] Anni, Catharina Tri, Psikologi Belajar, (Semarang: UPT Unnes Press, 2002), hlm. 89

 

[35] Dryden G; & Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar…, hlm. 63

 

 

[36] Djamarah S. B. dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000

[38] Djamarah S. B. dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar…, hlm. 44

[39] Djamarah S. B. dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar …,hlm. 48

[40] Ibid…hlm. 52

[41] N4J4’S BLOG, 2009, Aku IPA maka aku ada, aku IPS maka aku tak ada (http://n4jm4. wordpress.com/2009/09/10/%E2%80%9Caku-ipa-maka-aku-ada-aku-ipsmaka-aku-tak-da%E2% 80% 9D/) 07 maret 2010 jam 21:22

 

[42] Ahmadi, Abu, Administrasi Pendidikan, (Toha Putra: Semarang, 1999), hlm. 72

[43] Walgito, Bimo, Psikologi Sosial,  (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas UGM, 2000), hlm. 383

[44] Mifthah Thoha, Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasi (Jakarta : Grapindo Persada,       2004), hlm. 53

 

[45] Sutopo, Admistrasi Manajemen dan Organisasi, Edisi II, (LAN RI, Jakarta : 2000), hlm. 23

[46] Sutopo, Admistrasi Manajemen dan Organisasi, Edisi II...,hlm. 25


Komentar

Postingan Populer