HASIL PENELITIAN MANAJEMEN PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA

 


HASIL PENELITIAN

MANAJEMEN PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA

 

A. Gambaran Umum Perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan

Perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan, merupakan salah satu perpustakaan yang dimanfaatkan untuk menunjang proses belajar pada santri/siswa di dayah itu sendiri. Sebagai perpustakaan dayah bahan dan koleksinya tentu senantiasa harus terlestarikan sebaik mungkin dan di samping itu diharuskan lebih peka dan siap terhadap pemenuhan kebutuhan para pemakai yang memiliki latarbelakang pendidikan berbeda.  Dalam tataran sederhanan Ibrahim Bafadal menjelaskan bahwa unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan pustaka baik buku ataupun non-buku yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakai.[1]

            Seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan dayah itu sendiri, pertumbuhan perpustakaan ini banyak hal yang tampaknya telah mengalami peningkatan dimana salah satunya adalah telah memiliki ruang dan fasilitas yang memadai meski tidak seperti perpustakaan besar lainnya, di samping itu koleksi yang tersedia juga telah banyak yang diperbaharui dan struktur kepengurusan setidaknya memiliki manajemen pelestarian bahan pustaka yang baik dan terorganisir. Sebagaimana dikatakan oleh kepala perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan bahwa, perpustakaan yang dipimpinnya saat ini telah mengalami perubahan yang baik meski masih terdapat kekurangan di sana sini, namun upaya untuk melestarikan bahan pustaka akan selalu dilakukan. Selain itu, perpustakaan Dayah Darul Ihsan ini memiliki peraturan yang ketat terhadap pengguna perpustakaan. Tujuan peraturan ini sengaja diterapkan agar kenyamanan, ketertiban dapat dirasakan oleh pengguna lainnya.[2]

            Disebutkan bahwa, jumlah koleksi yang ada di perpustakaan ini berjumlah 3.000 eks, yang terdiri dari;

1.     Al-Qur’an dan Hadits

2.     Kitab Kuning

3.     Fiqh

4.     Aqidah Akhlaq

5.     Sejarah Kebudayaan Islam

6.     Bahasa Arab

7.     Bahasa Indonesia

8.     Bahasa Inggris

9.     Fisika

10.                       Biologi

11.                       Geografi

12.                       Ekonomi

13.                       Sejarah

14.                       PPKn

15.                       Penjaskes

16.                       Matematika

17.                       TIK

 

Selain itu, diperpustakaan ini tersedia juga koleksi fiksi, lebih kurang berjumlah 2.000 eks, dengan demikian jumlah koleksi yang tersedia secara keseluruhan di perpustakaan tersebut adalah sebanyak 5.000 eks. Untuk menunjang kelangsungan pelestarian bahan pustaka, ada beberapa alat pendukung yang disediakan di perpustakaan ini, yaitu gunting sebanyak 3 buah, 2 buah pisau, 2 buah hekter (klip), sebuah lem dan sebuah isolasi.[3]

            Selain itu adapun bahan lainnya yang tersedia di ruang perpustakaan ini yaitu, rak buku, rak koleksi bahan pustaka digital, meja tempat membaca, meja petugas, kursi, lemari arsip, computer, kipas anggin, vas bunga beserta bunga, lemari penitipan tas, buku daftar anggota, buku tamu, buku peminjaman dan pengembalian, daftar buku masuk, buku administrasi formulir, sofa, dispenser dan gorden.[4]

            Kelengkapan fasilitas dan alat untuk menunjang operasional perpustakaan tersebut tampaknya sudah memadai, untuk selanjutnya yang harus diupayakan adalah melaksanakan manajemen pelestarian bahan pustaka dengan konsep dan tujuan yang jelas agar setiap usaha, tugas bahkan kebijakan dalam pelestarian koleksi dapat terealisasi secara cermat dan bijaksana dengan pengetahuan dan cara yang terorganisir. Karena manajemen perpustakaan memiliki makna sebagai usaha atau pengelolaan yang dilakukan oleh setiap kepustakawanan dalam menjalankan tugas-tugasnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik menyangkut persoalan perpustakaan maupun persoalan pemustaka.

Perpustakaan tersebut memiliki dua layanan yaitu layanan sirkulasi dimana suatu kegiatan pelayanan pencatat dalam pemamfaatan dan penggunaan koleksi bahan pustaka dengan tepat guna dan tepat waktu untuk kepentingan pengguna perpustakaan. yang kedua layanan referensi yaitu suatu pelayanan untuk membantu pemakai/pengguna perpustakaan menemukan informasi dengan cara menjawab pertanyaan dengan menggunakan koleksi referensi, serta memberi bimbingan untuk menemukan dan memakai koleksi referensi. Kegaiatan-kegiatan tersebut seperti, kegiatan mencatat buku-buku yang baru masuk, pengolahan, penjilitan dan pemeliharaan bahan pustaka. Pun demikian, pemeliharaan bahan pustaka dilakukan di ruangan sirkulasi, sebagaimana diketahui perpustakaan tersebut tidak tersedia ruang khusus.

B.  Faktor-faktor yang Menyebabkan Kerusakan Bahan Pustaka di MTsS Dayah Darul Ihsan     

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa, manajemen pelestarian bahan pustaka sedemikian rupa harus dijalankan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak mudah terjadi kerusakan pada bahan pustaka. Maka itu dalam hal ini Lasa, menjelaskan bahwa, manajemen yang baik itu sifatnya selalu mengalami perubahan, sehingga hakikat dari manajemen itu adalah (1) cepat artinya lugas dalam bertindak dan efektif dalam memberi jasa, (2) tepat artinya setiap kebijakan yang diambil benar-benar mampu memberikan dukungan dan motivasi bagi pengguna dalam memanfaatkan koleksinya di perpustakaan, dan (3) Benar artinya setiap hal yang berkenaan dengan perpustakaan selalu dalam bentuk kewajaran dan tidak berlebihan, baik itu dalam pengadaan koleksi maupun dalam penggunaa anggaran perpustakaan.[5]

Berdasarkan hasil penelitian telah dilakukan, disebtukan bahwa ada beberapa hal yang sering menyebabkan koleksi perpustakaan mudah mengalami kerusakan, yaitu;

1.  Tidak adanya kekompakan antara pustakawan

Keadaan atau situasi seperti ini dapat dilihat dari sistem kerja para pustakawan, dimana pustakawan belum memiliki kekompakan yang memuaskan, tidak saing membantu satu sama lain, para pustakawan sering kerja secara sendiri-sendiri sehingga dalam kondisi ini banyak kegiatan yang dilakukan tidak berdasarkan kerjasama dan tidak berdasarkan prioritas akibatnya terjadi manajemen yang tidak teratur dalam melakukan pelestarian bahan pustaka.[6] Bila kondisi ini terus berlanjut lebih kacau lagi adalah penataan ruangan bakal tidak menyenangkan para pemakai, letak koleksipun bakal terjadi amburadul karena sesama mereka tidak memiliki keseragaman dalam melakukan pelestarian koleksi.

 

2. Tidak memiliki alat yang memadai

Biasanya dalam pelestarian bahan pustaka ini memerlukan alat khusus dalam melakukannya, agar pelestarian bahan pustaka yang rusak dapat segera diperbaik, seperti buku yang tersobek, buku yang tidak memiliki sampul, terkena kelembaban, kotoran serangga dan lainnya, tidak cukup dengan alat gunting dan hekter (klip), namun sampul buku, kertas buku merupakan yang mesti disediakan. Sebagaimana dikatakan oleh pengelola perpustakaan MTsS Dayah darul Ihsan ini yaitu, bahwa alat untuk melakukan pelestarian ini masih sederhana sehingga banyak bahan pustakan yang tersobek tidak bisa dilakukan perbaikan secara sempurna akibatnya mudah terjadi kerusakan kembali.[7]

Disebutkan bahwa, alat untuk pelestarian bahan pustaka hanya tersedia alat sederhana saja, seperti gunting, pisau, hekter, isolasi dan lem. Padahal alat untuk pelestarian koleksi yang terjadi kerusakan pada bahan pustaka sebenarnya tidak cukup dengan itu saja, kertas penyampul untuk koleksi sebenarnya juga diperlukan dan mesin pres juga diperlukan. Tampaknya di perustakaan ini alatnya masih sangat sederhana.

 

3.     Kurangnya dana yang disediakan

Masalah dana ini hampir semua perpustakaa sekolah merasakannya, bahkan di perpustakaan lembaga tinggi sekalipun, baik dalam pengembangan koleksi maupun dalam pelestarian bahan pustaka, masalah dana selalu menjadi kendala, hal ini seolah-olah tidak ada pengertian apapun dari lembaga itu sendiri. Di MTsS Dayah Darul Ihsan, masalah dana untuk pengembangan koleksi ini dirasakan masih sangat rendah, pihak sekolah masih minim menganggarkannya.[8]

Untuk menutupi kendala ini, seyogyanya pihak perpustakaan perlu mencari alternatif lain untuk agar bisa memenuhi kelengkapan bahan pelestarian bahan pustaka yang dibutuhkan. Alternatif tersebut seperti melakukan kerjasama dengan peprustakaan lain yang telah memiliki alat pelestarian yang lengkap, maupun meminta bantuan langsung dari pihak pemerintah terkait. Bila kondisi ini masih dibiarkan terutama koleksi tidak dibenahi, maka fungsi perpustakaan akan semakin tidak efektif bagi siswa dalam memenuhi kebutuhan informasinya dan bahan pustaka yang sudah mengalami kerusakan akan slulit diperbaiki sehingga lam kelamaan cepat tidak bisa untuk dimanfaatkan lagi.

4.     Kurangnya dukungan dari pihak sekolah

Pihak sekolah dalam emmberi dukungan terhadap pelestarian bahan pustaka yang dilakukan oleh pengelola perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan tampaknya masih sangat kurang diberikan oleh pihak sekolah, sehingga mau tidak mau pengelola perpustakaan bekerja dalam kondisi dukungan lemah. Disebutkan oleh pustakawan bahwa, dukungan terhadap pengelola perpustakaan dalam melakukan pelestarian bahan pustaka masih rendah, sekolah kurang perhatian terhadap perpustakaan sehingga banyak hal yang harus dilakukan dengan memakai biaya sendiri yang kadang kala tidak digantikan.[9] Bisa dipastikan bahwa penyebab terjadi ketidak kompakan antara pustakawan (ada yang bekerja ada pula yang hanya menghabiskan waktu dengan bermain game atau membaca), dalam melakukan pelestarian bahan pustaka karena sekolah kurang memberi dukungan penuh terhadap mereka, sehingga ada hal-hal yang dilakukan terpaksa menggunakan biaya sendiri.

Perlu diketahui bahwa, faktor penyebab kerusakan bahan pustaka bermacam-macam bisa disebabkan oleh manusia, tikus, serangga dan juga oleh karena suhu/cuaca dingin. Penggunaan sistem pengumpanan, peracunan hama buku, penuangan larutan racun ke dalam lubang rayap, memberikan lapisan plastik pada lantai dan menempatkan kapur barus di rak merupakan. Tentu saja keberhasilan pencegahan akan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi perpustakaan.

 

C. Upaya Peningkatan Pelestarian Bahan Pustaka MTsS Dayah Darul Ihsan       

            Sebagaimana telah dijelaskan bahwa, pelestarian bahan pustaka ini merupakan upaya untuk menyelamatkan agar bahan pustaka selalu terlestarikan dan baik sehingga terhindar dari kerusakan. Karena bahan pustaka merupakan sebagai unsur penting dalam sistem perpustakaan, maka itu bahan pustaka harus dilestarikan karena memiliki nilai informasi yang mahal. Pemeliharaan bahan pustaka tidak hanya secara fisik saja, namun juga meliputi isinya yang berbentuk informasi yang terkandung di dalamnya. Pemliharaan merupakan kegiatan mengusahakan agar bahan pustaka yang kita kerjakan tidak cepat mengalami kerusakan, awet dan bisa dipakai lebih lama serta bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan.

            Dalam upaya peningkatan pelestarian bahan pustaka di MTsS Dayah Darul Ihsan, ada beberapa hal yang dilakukan, yaitu;

1.     Memberlakukan denda

Untuk menunjang dan meningkatkan pelestarian bahan pustaka di perpustakaan ini oleh kepala perpustakaan memberlakukan denda bagi pemakai. Denda ini diberlakukan bagi yang telah melewati batas pengembalian buku-buku yang dipinjamnya. Hasil denda ini digunakan oleh perpustakaan untuk mendukung meningkatkan pelestarian bahan pustaka yang telah mengalami kerusakan. Biasanya uang ini dikumpulkan dalam tiga bulan sekali.[10] Perlu diketahui bahwa, berharap banyak dari uang denda tidaklah cukup untuk mencukupi biaya pelestarian bahan pustaka, untuk mendukungnya pelestarian ini tentunya memerlukan biaya agar sedikit banyak, mulai dari perlengkapan hingga konsumsi pustakawan serta biaya honornya bila ada.

2.     Berusaha meningkatkan kemampuan pustaka

Upaya lain yang dilakukan yaitu meningkatkan kemampuan pustakawan dalam bidang sumber daya dan ilmu perpustakaan dengan cara memilih mereka yang memang benar lulusan dari disiplin ilmu perpustakaan. Disebutkan oleh kepala perpustakaan bahwa, untuk meningkatkan pelestarian bahan pustaka ini, pustakawan senantiasa selalu diebritahu agar mendalami dan meningkatkan kemampuannya dalam bidang pelestarian, hal ini bisa dilakukan dengan cara mempelajari tata cara pelestarian bahan pustaka melalui buku-buku yang telah tersedia.[11]

 

3.     Meningkatkan jumlah waktu pelestarian

Disebutkan bahwa, untuk meningkatkan pelestarian bahan pustaka pihak perpustakaan telah menambah jumlah waktu untuk melakukan pelestarian bahan pustaka, bahkan dilakukan dalam seminggu sekali.[12] Hal ini sebenarnya pihak sekolah tidakah berlebihan bila apresiasi diberikan lebih banyak, mengingat kinerja para pustakawan telah ditingkatkan dengan baik. Melakukan peningkatan koleksi dalam seminggu sekali bukanlah pekerjaan yang sulit, pekerjaan ini bisa membawa pada rasa bosan, maka itu perhatian dan dukungan secara penuh dari pihak sekolah sangat diharapkan.

Maka itu perpustakaan sekolah merupakan unit kerja dan sebagai perangkat mutlak (complement) dari sekolah yang bersangkutan. Adanya pelestarian bahan pustaka dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Bahkan perpustakaan sekolah dapat dikatakan sebagai “jantungnya” pelaksanaan pendidikan pada lembaga itu sendiri. Sedangkan fungsi utamanya yaitu sebagai pusat sumber belajar ,pusat sumber informasi dan pusat bacaan rekreasi dan pengisi waktu senggang. Untuk selanjutnya perpustakaan itu sebagai tempat membina minat dan bakat siswa, menuju belajar sepanjang hayat.[13]

 

D. Manajemen Pelestarian Bahan Pustaka MTsS Dayah Darul Ihsan           

            Manajemen ini merupakan salah satu aspek penting dalam setiap lembaga ataupun organisasi, manajemen yang baik dapat menentukan ahsil yang baik pula. Begitu dengan pelestarian bahan pustaka, bila baik manajemen maka baik pula hasil yang diperoleh. Dalam tatanan yang lebih luas menajemen terhadap pelestarian bahan pustaka selalu selalu berhadapan dengan kualitas yang diharapkan, maka itu konsep dalam pelestarian ini hendaklah selalu berpdemoman pada aspek tujuan dan fungsi perpustakaan sekolah.

            Disebutkan oleh kepala perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan bahwa, tata cara melakukan pelestarian bahan pustaka di perpustakaan tersebut dilakukan tanpa harus ada instruksi atau arahan dari kepala perpustakaan, namun bila pelestarian itu dilakukan dalam jumlah banyak, biasanya dilakukan berdasarkan hasil musyawarah para pengelola perpustakaan.[14] Disebutkan bahwa, pemeliharaan bahan pustaka di MTsS Dayah Darul Ihsan dilakukan dengan cara sederhana seperti buku yang rusak (tersobek) hanya lem saja, bila ada halaman buku yang banyak tersobek tidak bisa dilakukan perbaikan karena tidak ada alat yang cukup untuk memperbaiki buku yang rusak. Sementara buku yang berdebu hanya  disapu/dilap saja.[15]

Dalam masalah ini perlu diketahui bahwa, maksud pelestarian ialah mengusahakan agar bahan pustaka yang tidak cepat mengalami kerusakan dan bahan pustaka yang mahal, diusahakan agar awet, bisa dipakai lebih lama dan bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan. Lebih jelas, tujuan pelestarian bahan pustaka adalah menyelamatkan nilai informasi dokumen, menyelamatkan fisik dokumen, mengatasi kendala kekurangan ruang dan mempercepat perolehan informasi.[16] Maka itu menggunakan alat yang mutakhir dalam pelestarian bahan pustaka tidaklah berlebihan, karena fasilitas pelestarian ini di samping mengefesiensi waktu juga mencegah agar bahan pustaka tidak tergores dengan sentuhan tangan pengelola yang meungkin saja sesekali dilakukan dengan sentuhan yang keras dan tidak teratur. Tampaknya sangat cocok bila perpustakaan ini menyediakan alat penghisap debu dari pada dilap yang kadang bisa membuat buku rusak.

Di sisi lai, tata cara pelestarian bahan pustaka ini dilakukan juga dengan cara memperbaharui kembali buku yang telah tersobek dan mengaturnya kembali buku tersebut agar tidak lagi tercecer.[17] Langkah ini tergolong masih dalam tatanan langkah sederhana dan secara keseluruhan perpustakaan juga menggunakan cara demikian. Perlu diingat bahwa, tidak semua buku mengalami kerusakan yang sama ada yang tingkat kerusakan masih rendah dan tidak sedikit koleksi yang telah mengalami kerusakan berat.

Selain manusia dan hewan, debu, jamur, zat kimia dan alam semesta juga bisa merusak bahan pustaka. Agar bahan pustaka tidak lekas rusak, setiap pustakawan harus mengetahui cara-cara merawat bahan pustaka. Karena itu, setiap pustakawan hendaknya mengetahui cara menyusun kembali dan mengangkut buku untuk dikembalikan ke rak, cara mengontrol buku yang dikembalikan oleh pembaca apakah pembaca merusakkan buku atau tidak. Mencegah masuknya binatang mengerat dan serangga ke perpustakaan juga merupakan hal penting yang harus diketahui seorang pustakawan. Begitu pula cara menghindari debu masuk ke perpustakawan cara, mengontrol suhu dan kelembaban ruangan.

Tempatkan kapur barus dan akar “loro setu” di antara buku-buku agar serangga segan menghampirinya. Yang paling baik ialah menyediakan ruangan khusus untuk perbaikan bahan pustaka dengan petugasnya sekaligus, sehingga kalau diperlukan perbaikan bahan pustaka, dapat dikerjakan dengan cepat. Jangan menunggu kerusakan menjadi lebih berat. Cepatlah bertindak, jagalah selalu kebersihan dan kerapihan sehingga mengundang pembaca untuk memakai perpustakaan dengan baik, dan bagi pustakawan sendiri akan semakin senang bekerja dengan baik.

Maka itu kerjasama dan dukungan langsung dari sekolah merupakan hal penting dan wajar dilakukan oleh sekolah. Perpustakaan sekolah bagiamanapun bila sekolah tidak melakukan kerjasama dan tidak mendukung program perpustakaan tentu perpustakaan tidak bisa berjalan sendiri tanpa bebarengan dengan pihak sekolah. kekuatan peprustakaan sekolah itu secara umum terletak pada sekolah karena manajemen dan potensi keuangan terletak pada sekolah.

 

 

 



 

[1] Ibrahim Bafudal, Pengelolaan Perpustakaan dalam Mengembangkan Masyarakat Informasi,(Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 7.

 

[2] Asniah, S.Ag, Kepala Perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan, wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[3] Asniah, S.Ag, Kepala Perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan, wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[4] Nursidah, Pustakawan Perpustakaan MTSsN Dayah Darul Ihsan,  wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[5] LASA Hs. (dkk). Pengaruh Model Kepemimpinan dan Manajemen terhadap Kinerja Perpustakaan Perguruan Tinggi, Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Vol. I, Nomor 2. 2004. Beberapa pengertian di atas juga memiliki kesamaan dalam A. Ridwan Siregar, Perpustakaan Energi Pembangunan Bangsa, (Medan : USU Press, 2004), hlm. 38.

 

[6] Asniah, S.Ag, Kepala Perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan, wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[7] Nursidah, Pustakawan Perpustakaan MTSsN Dayah Darul Ihsan,  wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[8] Asniah, S.Ag, Kepala Perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan, wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[9] Nursidah, Pustakawan Perpustakaan MTSsN Dayah Darul Ihsan,  wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[10] Nursidah, Pustakawan Perpustakaan MTSsN Dayah Darul Ihsan,  wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[11] Asniah, S.Ag, Kepala Perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan, wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[12] Asniah, S.Ag, Kepala Perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan, wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[13] Mujito, Pembinaan Minat Baca, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1993), hlm. 45

 

[14] Asniah, S.Ag, Kepala Perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan, wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[15] Asniah, S.Ag, Kepala Perpustakaan MTsS Dayah Darul Ihsan, wawancara, tanggal 25 Mei 2012

 

[16] Martoatmojo dan Karmidi. Pelayanan Bahan Pustaka. (Jakarta: Universitas Terbuka, 1993), hlm. 28.

 

[17] Nursidah, Pustakawan Perpustakaan MTSsN Dayah Darul Ihsan,  wawancara, tanggal 25 Mei 2012


Komentar

Postingan Populer