Bab II MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS DENGAN METODE PAKEM
BAB II
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PELAJARAN BAHASA INDONESIA MATERI
MENULIS METODE PAKEM
A. Pengertian Prestasi
Belajar, Menulis dan Metode PAKEM
1.
Prestasi
belajar
Pengertian
prestasi belajar ini kebanyakan orang beranggapan sebagai nilai-nilai yang
dimiliki oleh siswa di sekolah. Pandangan yang demikian itu terlalu sempit
untuk dijadikan suatu pandangan, dimana prestasi belajar itu bukan hanya
membicarakan tentang nilai melainkan juga semua perubahan dalam bidang
pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap seseorang siswa dalam belajar.
Winkel (1986 : 102) bahwa prestasi belajar hasil dari proses belajar yang
berupa perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pengalaman dalam bidang
keterampilan dalam bidang nilai, dan bidang sikap seseorang dalam belajar.
Menurut
Depdikbud (1997: 8) prestasi belajar adalah: perpaduan antara proses dan hasil
belajar yang dinyatakan oleh sejumlah perkalian antara nilai yang diperoleh
dengan kredit yang diambil dalam caturwulan, semester itu. Prestasi belajar
menunjukkan kemampuan dan sekaligus bobot uupaya belajar seseorang siswa dalam
suatu program tertentu. Menurut Pendapat Slameto (2000 : 112) prestasi adalah
hasil pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dalam batas waktu yang telah
ditetapkan. Prestasi dalam hal ini berfungsi sebagai standar atau ukuran
keberhasilan yang sicapai oleh seseorang.
Nilai adalah
salah satu aspek yang termasuk ke dalam prestasi seseorang dalam belajar.
Dengan demikian prestasi belajar itu adalah hasil dari proses belajar seseorang
siswa yang berupa perubahan-perubahan, baik dalam bidang pengetahuan/
pengalaman, keterampilan, nilai, maupun dalam bidang sikap. Prestasi belajar
itu berbeda-beda sifatnya, tergantung dari bidang yang didalamnya siswa
menunjukkan prestasi. Misalnya dalam pengetahuan/pengalaman dan bidang kognitif
Prestasi
belajar adalah hasil dari proses belajar yang berupa perubahan-perubahan dalam
bidang pengetahuan, bidang keterampilan, bidang nilai dan bidang sikap
seseorang yang belajar. Prestasi belajar itu berbeda-beda sifatnya, tergantung
dari bidang yang dialami murid, misalnya dalam bidang pengetahuan atau
kognitif.
2. Pengertian menulis
Menulis merupakan hasil dari
mengarang yang ditulis oleh pengarang dengan melahirkan berbagai macam ide, pengalaman, dan kreativitas
yang menarik untuk diamati (Tommi, 2003: 21). Dalam Suriamiharja (2003: 830),
karangan disebut sebagai menulis dan menyusun cerita, buku, sajak dan
sejenisnya yang berbentuk tulisan.
Beberapa argumentasi di atas, dapat diartikan bahwa
mengarang sebagai suatu kegiatan/rangkaian dalam menuangkan segala rasa baik
kenyataan maupun khayalan, yang disusun menjadi sebuah cerita, buku maupun
sajak yang baik dan dinikmati pembaca. Di lain hal, karangan dapat juga diberi
pengertian yaitu, suatu hasil dari mengarang
yang berupa cerita yang diperoleh dari pengalaman maupun imajinasi.
Pada umumnya, tidak semua orang mampu menuangkan ide dan
gagasannya secara lisan. Melalui kegiatan menulis, sesorang mampu menuangkan
ide atau gagasannya tersebut dengan bahasa tulis. Dengan demikian, keterampilan
menulis menjadi salah satu cara berkomunikasi, karena dalam pengertian tersebut
muncul satu kesan adanya pengiriman dan penerimaan pesan dari penulis kepada
pembaca.
3. Metode PAKEM
PAKEM adalah
singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan. Pola PAKEM tentunya merupakan sebuah pendekatan yang sungguh
berpihak kepada anak, karena didalamnya terkandung unsur partisipasi anak yang
menunjang tumbuh kembang anak menjadi lebih baik dan seimbang.
Aktif, dimaksudkan
bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa
sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun
pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru
tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa
untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat
belajar (Haryanto, 2007: 47). Peran
aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif,
yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif, juga
dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga
memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa (Haryanto, 2007: 49).
Efektif, yaitu
tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran
berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang
harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak
efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa (Haryanto,
2007: 51).
Menyenangkan,
adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan
perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya
tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti
meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika
proses pembelajaran tidak efektif (Haryanto, 2007: 56).
Secara
garis besar, PAKEM dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1) Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan
pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar
melalui berbuat.
2) Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam
membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar
untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
3)
Guru mengatur kelas dengan memajang
buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok bacaan,
4)
Guru menerapkan cara mengajar yang
lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok
5)
Guru mendorong siswa untuk menemukan
caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya,
dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya (Haryanto,
2007: 97).
B. Aspek Penting yang harus
Diperhatikan dalam PAKEM
Manusia
memperoleh sebagaian besar dari kemampuannya melalui belajar. Belajar adalah
suatu peristiwa yang terjadi didalam kondisi-kondisi tertentu yang dapat
diamati, diubah dan dikontrol (Ahmad, 2004: 57). Kemampuan manusia yang
dikembangkan melalui belajar yaitu: pertama; ketrampilan intelektual, informasi
verbal, strategi kognitif, ketrampilan motorik, dan sikap.
Pendidik
dituntut untuk menyediakan kondisi belajar untuk peserta didik untuk mencapai
kemampuan-kemampuan tertentu yang harus dipelajari oleh subyek didik. Dalam hal
ini peranan desain pesan dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena
desain pesan pembelajaran menunjuk pada proses memanipulasi, atau merencanakan
suatu pola atau signal dan lambang yang dapat digunakan untuk menyediakan
kondisi untuk belajar.
Makalah
ini akan diuraikan tentang aplikasi desain pesan dalam pembelajaran PAKEM yang
menekankan pada aspek pemerolehan kemampuan berdasarkan teori Gagne dalam (Agus,
1997: 59) yaitu ketrampilan intelektual,
informasi verbal, strategi kognitif, ketrampilan motorik, dan sikap.
1. Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada
dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi.
Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau
anak bukan Indonesia selama mereka normal, terlahir memiliki kedua sifat itu.
Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir
kritis dan kreatif (Haryanto, 2007: 103). Kegiatan
pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur
bagi berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut. Suasana pembelajaran
yang ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan
pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan
percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.
2. Mengenal
anak secara perorangan
Para siswa
berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang
berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan)
perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan
pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang
sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang
memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah “tutor
sebaya” (Haryanto, 2007: 106). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat
membantunya bila mendapat kesulitan sehingga anak tersebut belajar secara
optimal.
3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian
belajar
Sebagai
makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan
atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam
pengorga-nisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak
dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak
akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk
seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun
demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat
individunya berkembang (Haryanto, 2007: 106).
4. Mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan
memecahkan masalah
Pada
dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal tersebut memerlukan kemampuan
berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif
untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut,
kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya
ada pada diri anak sejak lahir (Haryanto, 2007: 109). Oleh karena itu, tugas
guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sesering-seringnya memberikan
tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan
kata-kata apa yang terjadi jika lebih baik daripada yang dimulai dengan
kata-kata. Apa, berapa, kapann, yang umumnya tertutup (jawaban betul
hanya satu).
5. Mengembangkan
ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang
kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disaran-kan dalam PAKEM. Hasil
pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu.
Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk
bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan
dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat
berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan
sebagainya (Slameto,
1988: 76). Ruang kelas yang penuh dengan
pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru
dalam KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai
sumber belajar
Lingkungan
(fisik, sosial, atau budaya) me-rupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan
belajar anak. Lingkungan dapat ber-peran sebagai media belajar, tetapi juga
sebagai objek kajian (sumber belajar). Peng-gunaan lingkungan sebagai sumber
belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan
menggunakan ling-kungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan
dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pe-manfaatan
lingkungan dapat mengembang-kan sejumlah keterampilan seperti meng-amati
(dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis,
mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram (Underwoood, 2000: 48) .
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan
kegiatan belajar
Mutu
hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian
umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara
guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada
kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara
santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi
tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan
siswa dan memberikan komentar dan catatan (Underwood, 2000: 56).
Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan
diri siswa daripada hanya sekedar angka.
8. Membedakan
antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak
guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja
dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk
saling ber-hadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM.
Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya,
mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan
tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya
perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut
dimarahi jika salah (Haryanto, 2007: 127). Oleh karena itu, guru hendaknya
menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu
sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan
dengan PAKEM.
C.
Pengelolaan Kelas PAKEM dalam Belajar Menulis
Seting
kelas yang konstruktif didasarkan pada nilai-nilai konstruktif dalam proses
belajar, termasuk kolaborasi, otonomi individu, refleksi, relevansi pribadi dan
pluralisme. Seting kelas yang konstruktif akan memberikan kesempatan aktif
belajar. Mengacu pada pendekatan holistik dalam pendidikan, seting kelas
konstruktif merefleksikan asumsi bahwa proses pengetahuan dan pemahaman
akuisisi adalah benar-benar melekat pada konteks sosial dan emosional saat
belajar. Karakteristik seting kelas konstruktif untuk belajar adalah
terkondisikannya belajar secara umum, instruksi, dan belajar bersama.
Lima
metode kunci untuk merancang seting kelas yang konstruktif , yaitu;
1. Melindungi pemelajar dari kerusakan praktik instruksional
dengan mengembangkan otonomi dan kontrol pemelajar, mendorong pengaturan diri
dan membuat instruksi secara pribadi yang relevan dengan pemelajar.
2. Menciptakan konteks belajar yang mendorong pengembangan
otonomi pribadi;
3. Mengkondisikan pemelajar dengan alasan-alasan belajar dalam
aktivitas belajar;
4. Mendorong pengaturan diri dengan pengembangan keterampilan
dan tingkah laku yang memungkinkan pemelajar meningkatkan tanggung jawab dalam
belajarnya; dan
5. Mendorong kesadaran belajar dan pengujian kesalahan (Harjanto,
2000:94).
Penataan
dan atau pengelolaan kelas dalam PAKEM perlu mempertimbangkan enam elemen Constructivist
Learning Design (CDL) yang dikemukakan oleh Gagnon and Collay, yaitusituation,
groupings, bridge, questions, exhibit, and reflections (Haryanto, 2007: 128).
Situation, terkait dengan hal-hal berikut; apa tujuan episode
pembelajaran yang akan dicapai, apa yang diharapkan setelah siswa keluar
ruangan kelas, bagaimana mengetahui bahwa siswa telah mencapai tujuan, tugas
apa yang diberikan kepada siswa untuk mencapai tujuan, bagaimana deskripsi
tugas tersebut (as a process of solving problems, answering question,
creating metaphors, making decisions, drawing conclusions, or setting goals).
Grouping, dapat dilakukan berdasarkan karakteristik siswa atau
didasarkan pada karakteristik materi (Haryanto, 2007: 131).
Bridge, terkait dengan; aktivitas apa yang dipilih untuk
menjembatani atara pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya dengan
pengetahuan baru yang akan dibangun siswa (Haryanto, 2007).
Question, pertanyaan apa yang dapat membangkitkan tiap elemen desain
(panduan pertanyan apa yang dapat mengintrodusir situasi, menata pengelompokan,
dan membangun jembatan), pertanyaan klarifikasi apa yang digunakan untuk
menengetahui cara berpikir dan aktivitas belajar siswa (Haryanto, 2007: 136).
Exhibit, bagaimana siswa merekan dan memamerkan kreasi
mereka melalui demonstrasi cara berpikir mereka dalam menyelesaikan dan atau
memenuhi tugas Underwood, 2000:
143).
Reflections, bagaimana siswa melakukan refleksi dalam menyelesaikan
tugas mereka, apakah siswa ingat tentang (feeling, images, and language of
their thought), apa sikap, proses, dan konsep yang akan dibawa siswa
setelah keluar kelas (Underwood, 2000).
D. Pembelajaran Menulis dengan Metode PAKEM
Menulis kadang kala menjadi pekerjaan rumit bila anak
didik tidak diperkenalkan dengan pola menulis yang baik. Maka itu penting untuk
mengetahui rumusan mengarang. Kecakapan menggunakan bahasa merupakan bekal
utama dalam kegiatan mengarang. Di sekolah diberikan modal pengetahuan bahasa,
bahkan dilatih pula untuk menggunakannya dalam kegiatan menulis atau mengarang.
Semua itu merupakan modal yang sangat berharga, dan modal itu harus
dikembangkan lebih lanjut dalam kehidupan berbahasa yang sesungguhnya. Dalam
masyarakat, mengarang tidak hanya dituntut pengetahuan teori saja, melainkan
prakteknya dalam tulis menulis.
Lie, Charlie
(2005: 14-29), menulis itu adalah keterampilan. Jadi, latihan adalah kuncinya.
Makin sering kita latihan menulis, maka tulisan kita bukan saja menarik, tapi
juga hidup dan bisa mencerahkan pembacanya. Ada beberapa kiat praktis untuk
pemula agar tulisan kita menarik:
- Kuasai huruf-huruf agar kita bisa menuliskan kata.
Jangan sampe ketukar dalam penulisan “f”, “p” dan “v” misalnya. Yang benar
adalah “foto” bukan “poto”; “televisi” bukan “telepisi” apalagi
“telefisi”. “Fatamorgana”, bukan “patamorgana” apalagi “vatamorgana”. Yang
benar adalah “favorit”, bukan “vaporit” apalagi “paporit”.
- Kuasai kata agar kita bisa menuliskan kalimat.
Banyak kata yang ada dalam kamus. Jangan gunakan kata-kata untuk
menunjukkan makna yang sama dengan satu kata itu. Eksplorasi banyak kata supaya
tulisan itu lebih cerdas. Misalnya, kata “semakin”, sekali-kali kita
menuliskannya dengan “kian”. Kata “lalu” boleh bergantian ditulis dengan
“kemudian” atau “seterusnya”. Kata “Terkadang”, boleh juga ditukar
sekali-kali dengan “adakalanya”. Kata “seandainya”, boleh juga digilir
dengan “andaikata” dll.
- Mel;atih membuat kalimat agar bisa menciptakan
paragraf. Dan, biasakanlah menulis banyak paragraf agar menjadi satu
tulisan utuh yang bisa dibaca. Kemampuan kita menguasai huruf, kata,
kalimat dan paragraf akan semakin bagus manakala kita latihan terus.
- Tema yang diambil yang sedang jadi bahan pembicaraan
banyak orang. Sedang menjadi tren untuk jangka waktu tertentu. Misalnya
tentang DBD, Pesentase kelulusan siswa SD di Aceh, Tsunami, dll. Atau bisa
juga tema-tema sederhana yang dekat dengan lingkungan kita sehari-hari.
Tentang kucing di rumah kita yang lucu-lucu. Kita bisa menuliskan banyak
hal dari kucing kesayangan; cara larinya, suaranya, bulu-bulunya, matanya,
dan hal unik lainnya. Atau bisa juga tentang kondisi ruangan kelas:
berantakan, asri, nyaman, catnya keren, lantainya bersih dll,
- Setelah mengambil tema, maka siapkan bahan
tulisannya. Biasanya data-data pendukung. Bisa dari sumber lain: koran,
televisi, radio, internet, tabloid, majalah dan sejenisnya. Bisa juga dari
pengamatan langsung yang bisa dilihat dan dirasakan. Atau bahkan kita
terlibat di dalamnya. Ini akan diperlukan untuk memoles tulisan kita
menjadi lebih kuat dan hidup karena ada data pendukung.
- Selain memaparkan fakta, jangan lupa solusinya.
Sebab, tulisan yang bagus memaparkan fakta tapi solusinya mengada-ada atau
hampir mustahil untuk dicerna pembaca, juga jadi tidak menarik.
Pada prinsipnya fungsi menulis adalah sebagai alat
komunikasi segala gagasan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Di samping
itu, menulis dapat memudahkan kita merasakan dan menikmati hubungan-hubungan,
memperdalam daya tanggap, memecahkan masalah yang dihadapi, menyusun urutan
bagi pangalaman (Fatimah, 1993, : 77).
Sementara tujuan menulis secara sederhana dapat diartikan
memproyeksikan sesuatu mengenai diri seseorang. Setiap penulis harus
mengungkapkan dengan jelas tujuan penulisan yang akan dikerjakannya. Perumusan
tujuan penulisan sangat penting dan harus ditentukan terlebih dahulu karena hal
ini merupakan titik tolak dalam seluruh kegiatan menulis. Rumusan tujuan
penulisan adalah suatu gambaran penulis dalam kegiatan menulis selanjutnya.
Dengan menentukan tujuan penulisan, akan diketahui apa yang harus dilakukan
pada tahap penulisan.
Sehubungan dengan tujuan menulis, Hartig (dalam Underwood,
2000:24) menyatakan tujuan menulis sebagai berikut.
- Tujuan penugasan (assigment
purpose), yaitu menulis sesuatu karena ditugaskan bukan atas kemauan
sendiri;
- Tujuan altruistik (altruistic
purpose), yaitu untuk menyenangkan para pembaca, ingin menolong para
pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat
hidup para pembaca lebih mudah dan menyenangkan dengan karangannya;
- Tujuan persuasif (persuasive
purpose), yaitu untuk meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan
yang diutarakan, supaya pembaca tertarik akan tulisan yang dibuat;
- Tujuan informasional (intermational
purpose), yaitu untuk memberi informasi, keterangan, penerangan kepada
pembaca;
- Tujuan pernyataan diri (self
expresive purpose), yaitu untuk memperkenalkan diri sebagai pengarang
bagi pembaca,
- Tujuan pemecahan masalah (problem
solving purpose), yaitu untuk mencerminkan atau menjelajahi
pikiran-pikiran agar dapat dimengerti oleh pembaca, dan
- Tujuan kreatif (creative
purpose), yaitu untuk mencapai nilai-nilai artistik dan nilai-nilai
kesenian.
Melihat
realitas pembelajaran apresiasi terhadap menulis seperti di atas maka
pembelajaran menulis perlu adanya perubahan untuk meminimalkan peran guru dan
memaksimalkan peran siswa dalam belajar. Oleh karena itu metode yang relevan
dengan keadaan di atas yaitu metode PAKEM. Metode PAKEM kepanjangan dari
pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Pembelajaran aktif yaitu
guru memantau kegiatan belajar siswa dan siswa mempertanyakan gagasannya
(Depdiknas, 2005).
Kreatif
pembelajaran dengan mengembangkan kegiatan yang beragam sehingga siswa bisa
menulis. Efektif pembelajaran dengan sarana dan prasarana seadanya bisa mencapai
tujuan pembelajaran. Menyenangkan bisa menciptakan suasana yang menyenangkan
sehingga membuat anak berani bertanya dan mengemukakan gagasannya. Dengan
menggunakan metode PAKEM bisa bermanfaat bagi guru dan siswa. Penerapan PAKEM
dalam pengelolaan kelas akan membawa situasi belajar siswa ke dalam dunianya
sendiri, dunia bermain yang penuh denan keasyikan belajar tanpa adanya tekanan
dan paksaan terhadap siswa (Depdiknas, 2005: 69).
Pembelajaran
yang disajikan akan lebih aktif dan menyenangkan. Sehingga dalam pengajaran
apresiasi dongeng dengan menggunakan metode PAKEM memiliki beberapa kelebihan:
1) siswa bisa belajar sambil bermain, 2) siswa banyak memberikan respon dengan
bertanya, 3) memaksimalkan sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah, 4) dalam
pembelajaran guru hanya sekedar pemantau (Lie Charlie, 2005: 119).
E. Faktor yang
Mempengaruhi Belajar Menulis
Melihat
realitas pembelajaran menulis seperti di atas maka, menulis perlu adanya
perubahan untuk meminimalkan peran guru dan memaksimalkan peran siswa dalam
belajar. Oleh karena itu metode yang relevan dengan keadaan di atas yaitu
metode PAKEM. Metode PAKEM kepanjangan dari pembelajaran aktif, kreatif,
efektif dan menyenangkan. Pembelajaran aktif yaitu guru memantau kegiatan
belajar siswa dan siswa mempertanyakan gagasannya (Depdiknas, 2005: 77). Kreatif
pembelajaran dengan mengembangkan kegiatan yang beragam sehingga siswa bisa
mengarang atau menulis. Efektif pembelajaran dengan sarana dan prasarana
seadanya bisa mencapai tujuan pembelajaran. Menyenangkan bisa menciptakan
suasana yang menyenangkan sehingga membuat anak berani bertanya dan
mengemukakan gagasannya.
Dengan
menggunakan metode PAKEM bisa bermanfaat bagi guru dan siswa. Penerapan PAKEM
dalam pengelolaan kelas akan membawa situasi belajar siswa ke dalam dunianya
sendiri, dunia bermain yang penuh denan keasyikan belajar tanpa adanya tekanan
dan paksaan terhadap siswa. Di satu sisi guru bahasa harus dapat menyelesaikan target
kurikulum yang harus dicapai dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Di sisi
lain porsi waktu yang disediakan untuk pelajaran mengarang relatif terbatas,
padahal untuk pelajaran mengarang seharusnya dibutuhkan waktu yang cukup
panjang, karena diperlukan latihan-latihan yang cukup untuk memberikan siswa
dalam karang-mengarang (Tommi, 2003: 63).
Ada juga faktor yang mempengaruhi mengarang itu sendiri.
Faktor-faktor
yang dapat memppengaruhi
balajar siswa tersebut yaitu;
1. Faktor Internal
a. Faktor Jasmaniah (Fisik)
Faktor jasmaniah merupakan faktor yang berasal dari diri
individu itu sendiri yang berkaitan dengan keadaan fisik dan panca indra (Suryabrata,
2002: 179).
b. Faktor Rohani (Jiwa)
Faktor rohani atau kejiwaan merupakan segala bentukkemampuan yang berpusat pada otak dan akal yang turut mempengaruhi kompetensi belajar siswa, yaitu berupa faktot, intelegensi (kemampuan intelaktual), bakat, minat, motivasi, perhatian (Suryabrata, 2002: 182).
2. Faktor Eksternal
Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar
anak, faktor ini dapat dibagi dari tiga sudut pandang, yaitu: faktor keluarga,
lingkungan sekolah, lingkungan msyarakat. (Suryabrata, 2002: 175).
Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian, Jakarta:
Rineka Cipta.
Djajasudarma, Fatimah, 1993. Linguistik; Suatu
Pengantar. Bandung: Angkasa.
Deppdiknas. 2005. Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Djamarah, Saiful Bahri. 2006. Strategi
Belajar-Mengajar, Rineka Cipta: Jakarta.
Depdikbud Dikdasmen. 1997. Petunjuk Pelaksanaan Proses
Belajar Mengajar. Jakarta: 1997.
Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta:
ANDI.
Haryanto. 2007. Bahan Ajar Pelatihan Strategi
Pembelajaran Berbasis PAKEM. Yogyakarta: FIP UNY.
HM, Ahmad, R. 2004. Pengelolaan Pengajaran, Jakarta:
Rineka Cipta.
Keraf, Gorys. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa
Indonesia. Jkaarta: Gramedia.
Kridalaksana, Harimurti. 1983. Kamus Linguistik. Jakarta:
Gramedia.
Lie, Charlie. 2005. Jadi Penulis Ngetop itu Mudah. Bandung:
Nexx Media. Inc.
Maleong, J. Lexy. 2007. Metodelogi Penelitian Ilmu
Kumulatif. Bandung: Remaja Roesdakarya.
Suryabrata, S. 2002. Proses Belajar dan Mengajar di
Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumardi & Nur Anggraeni. 2005. Terampil Berbahasa
Indonesia Untuk SMA. Jakarta: Erlangga.
Sagala, Saiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran.Bandung:
Alfabeta.
Soejanto, Agoes. 1997. Bimbingan ke Arah Belajar yang
Sukses. Surabaya: Rineka Cipta.
Suriamiharja, Agus, dkk. 1997. Petunjuk Praktis
Menulis. Jakarta: Dekdikbud.
Slameto. 2000. Belajar dan Faktor-faktor Yang
mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menulis sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Underwood, Mary. 2000. Pengelolaan Kelas yang Efektif.
Jakarta: Arean.
Winkel, WS. 1986. Psikologi Pengajaran. Jakarta:
Grasindo.
Yuniawan, Tommi. 2003. No. 2. Peningkatan Kompetensi
Menulis melalui Pemgembangan Rancangan Perkuliahan Menulis 2 pada Mahasiswa
Jurusan Bahasa dan sastra Indonesia. Lembaran Ilmu Kependidikan. Semarang:
Unnes.


Komentar
Posting Komentar
Komentar