PENGELOLAAN KONFLIK DAN JENISNYA
MAKALAH
PENGELOLAAN KONFLIK DAN JENISNYA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap kelompok dalam
satu organisasi, dimana didalamnya terjadi interaksi antara satu dengan
lainnya, memiliki kecenderungan
timbulnya konflik. Konflik sangat erat kaitannya dengan perasaan
manusia, termasuk perasaan diabaikan, disepelekan, tidak dihargai, ditinggalkan, dan juga
perasaan jengkel karena kelebihan beban kerja. Perasaan-perasaan tersebut
sewaktu-waktu dapat memicu timbulnya
kemarahan. Keadaan tersebut akan mempengaruhi seseorang dalam
melaksanakan kegiatannya secara langsung, dan dapat menurunkan produktivitas
kerja organisasi secara tidak langsung dengan melakukan banyak kesalahan yang
disengaja maupun tidak disengaja. Dalam
suatu organisasi, kecenderungan
terjadinya konflik, dapat
disebabkan oleh suatu perubahan secara tiba-tiba, antara lain: kemajuan
teknologi baru, persaingan ketat, perbedaan kebudayaan dan sistem nilai, serta
berbagai macam kepribadian individu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan konflik?
2. Sebutkan jenis-jenis konflik beserta penjelasannya!
3. Bagaimana metode pengelolaan konflik?
4. Apa yang dimaksud dengan konflik structural dan konflik lini-staf?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Konflik
Robbins (1996) dalam “Organization Behavior” menjelaskan
bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya
ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas
pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.
Sedang menurut Luthans (1981) konflik adalah kondisi yang
ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentengan. Kekuatan-kekuatan
ini bersumber pada keinginan manusia. Istilah konflik sendiri diterjemahkan
dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan.
Secara umum konflik dapat di definisikan sebagai segala macam interaksi pertentangan atau antagonisti antara dua atau lebih pihak. Konflik organisasi adalah ketidak sesuaian antara dua atau lebih anggota atau kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya-sumber daya yang terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja dan/atau karena kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, niali atau persepsi.
Peranan Konflik
a)
Konflik hanya merugikan
organisasi, karena itu harus dihindarkan dan ditiadakan.
b)
Konflik ditimbulka
karena perbedaan kepribadian dan karena kegagalan dalam kepemimpinan.
c)
Konflik diselesaikan
melalui pemisahan fisik atau dengan intervensi manajemen tingkat yang lebih
tinggi.
Dalam pandangan modern ini konflik bisa jadi merupakan sumber energi dan kreativitas yang positif apabila dikelola dengan baik. Misalnya, konflik dapat menggerakan suatu perubahan :
- Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.
- Memberikan saluran baru untuk komunikasi.
- Menumbuhkan semangat baru pada staf.
- Memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi.
- Menghasilkan distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam organisasi.
Apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada penurunan efektivitas kerja dalam organisasi baik secara perorangan maupun kelompok, berupa penolakan, resistensi terhadap perubahan, apatis, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa demonstrasi.
Faktor yang Mempengaruhi
konflik
Dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu
faktor intern dan factor ekstern. Dalam faktor intern dapat disebutkan beberapa
hal :
1.
Kemantapan organisasi
Organisasi
yang telah mantap lebih mampu menyesuaikan diri sehingga tidak mudah terlibat
konflik dan mampu menyelesaikannya. Analoginya dalah seseorang yang matang
mempunyai pandangan hidup luas, mengenal dan menghargai perbedaan nilai dan
lain-lain.
2.
Sistem nilai
Sistem
nilai suatu organisasi ialah sekumpulan batasan yang meliputi landasan maksud
dan cara berinteraksi suatu organisasi, apakah sesuatu itu baik, buruk, salah
atau benar.
3.
Tujuan
Tujuan
suatu organisasi dapat menjadi dasar tingkah laku organisasi itu serta para
anggotanya.
4.
Sistem lain dalam
organisasi
Seperti
sistem komunikasi, sistem kepemimpinan, sistem pengambilan keputusan, sistem
imbalan dan lain-lain. Dlam hal sistem komunikasi misalnya ternyata persepsi
dan penyampaian pesan bukanlah soal yang mudah.
Sedangkan faktor ekstern
meliputi :
- Keterbatasan
sumber daya
Kelangkaan
suatu hal yang dapat menumbuhkan persaingan dan seterusnya dapat berakhir menjadi
konflik.
- Kekaburan
aturan/norma di masyarakat
Hal ini memperbesar peluang
perbedaan persepsi dan pola bertindak.
- Derajat
ketergantungan dengan pihak lain
Semakin tergantung satu pihak
dengan pihak lain semakin mudah konflik terjadi.
- Pola interaksi
dengan pihak lain
Pola
yang bebas memudahkan pemamparan dengan nilai-nilai ain sedangkan pola tertutup
menimbulkan sikap kabur dan kesulitan penyesuaian diri.
Penyebab Terjadinya Konflik
Penyebab terjadinya konflik dikelompokkan menjadi 2
kategori yaitu karakteristik individual dan factor situasi
- Karakteristik Individual
Berikut
ini merupakan perbedaan individual antar orang-orang yang mungkin dapat
melibatkan seseorang dalam konflik.
! Nilai, Sikap dan Kepercayaan (Values, Attitude, and
Believe)
Perasaan
kita tentang apa yang benar dan apa yang salah, dan predisposisi untuk
bertindak positif maupun negatif terhadap suatu kejadian, dapat dengan mudah
menjadi sumber terjadinya konflik. Nilai-nilai yang dipegang dapat menciptakan
ketegangan-ketegangan di antara individual dan group dalam suatu organisasi.
Sebagai contoh, ketua serikat pekerja cenderung untuk memiliki nilainilai yang
berbeda dengan para manager. Di satu sisi ketua serikat pekerja mengutamakan
kesejahteraan tenaga kerja, sedangkan di sisi yang lain manager memandang
maksimalisasi profit sebagai prioritas utama. Nilai juga bisa menjadi alasan
kenapa orang tertarik untuk bergabung dalam suatu struktur organisasi tertentu.
Orang-orang yang bekerja dalam susunan organisasi yang birokrasi memiliki sikap
yang berbeda dengan orang yang bekerja dalam struktur organisasi yang dinamis.
Dalam organisasi birokrat, orang-orang cenderung memiliki toleransi yang rendah
terhadap keterbukaan interprestasi, individualisme, dan nilai-nilai profesional.
Mereka cenderung tidak suka berhadapan dengan informasi vang kompleks serta
menilai otoritas hierarki dan kekuasaan berdasarkan posisi dalam organisasi.
! Kebutuhan dan Kepribadian (Needs and Personality)
Konflik
muncul karena adanya perbedaan yang sangat besar antara kebutuhan dan
kepribadian setiap orang, yang bahkan dapat berlanjut kepada perseteruan antar
pribadi. Sering muncul kasus di mana orang-orang yang memiliki kebutuhan
kekuasaan dan prestasi yang tinggi cenderung untuk tidak begitu suka
bekerjasama dengan orang lain, karena mereka menganggap prestasi pribadi lebih
penting, sehingga hat ini tentu mempengaruhi pihak-pihak lain dalam organisasi
tersebut.
! Perbedaan Persepsi (Persptual Differences)
Misalnya
saja, jika kita menganggap seseorang sebagai ancaman, kita dapat berubah
menjadi defensif terhadap orang tersebut. Di satu sisi, ia juga nganggap kita
tidak bersahabat, sehingga potensial terjadinya konflik muncul dengan
sendirinya. Konflik juga dapat timbul jika orang memiliki persepsi yang salah,
misalnya dengan menstereotype orang lain atau mengajukan tuduhan fundamental
yang salah. Perbedaan perstual sering di dalam situasi yang samar. Kurangnya
informasi dan pengetahuan mengenai suatu situasi mendorong persepsi untuk
mengambil alih dalam memberikan penilaian terhadap situasi tersebut.
- Faktor Situasi
! Kesempatan dan Kebutuhan Barinteraksi (
Kemungkinan
terjadinya konflik akan sangat kecil jika orang-orang terpisah secara fisik dan
jarang berinteraksi. Sejalan dengan meningkatnya assosiasi di antara
pihak-pihak yang terlibat, semakin mengikat pula terjadinya konflik. Dalam
bentuk interaksi yang aktif dan kompleks seperti pengambilan keputusan bersama
(joint decision-making), potensi terjadinya koflik bahkan semakin meningkat.
! Kebutuhan untuk Berkonsensus (Need for Consensus)
! Ketergantungan satu pihak kepada Pihak lain (Dependency of
One Party to Another)
Dalam
kasus seperti ini, jika satu pihak gagal melaksanakan tugasnya, maka yang lain
juga terkena akibatnya, sehingga konflik lebih sering muncul.
! Perbedaan Status (Status Differences)
Apabila
seseorang bertindak dalam cara-cara yang kongruen dengan statusnya, konflik
dapat muncul. Sebagai contoh dalam bisnis konstruksi, para insinyur secara
tipikal sering menolak ide-ide inovatif yang diajukan oleh diajukan oleh juru
gambar (Draftsmen) karena meraka menganggap juru gambar memiliki status yang
lebih rendah, sehingga tidak sepantasnya juru gambar menjadi sejajar dalam
proses desain suatu konstruksi.
! Rintangan Komunikasi (Communication Barriers)
Komunikasi
sebagai media interaksi diantara orang-orang dapat dengan mudah menjadi basis
terjadinya konflik. Bisa dikatakan komunikasi oleh pedang bermata dua: tidak
adanya komunikasi dapat menyebabkan terjadinya konflik, tetapi disisi lain,
komunikasi yang terjadi itu sendiri dapat menjadi potensi terjadinya konflik.
Sebagai contoh, informasi yang diterima mengenai pihak lain akan menyebabkan
orang dapat mengindentifikasi situasi perbedaan dalam hal nilai dan kebutuhan.
Hal ini dapat memulai konflik, sebenarnya dapat dihindari dengan komunikasi
yang lebih sedikit.
! Batas-batas tanggung jawab dan Jurisdiksi yang tidak jelas
(Ambiguous
tesponsibilites and Jurisdictions)
Orang-orang
dengan jabatan dan tanggung ajwab yang jelas dapat mengetahui apa yang dituntut
dari dirinya masing-masing. Ketika terjadi ketidakjelasan tanggung jawab dan
jurisdiksi, kemungkinan terjadinya konflik jadi semakin besar. Sebagai contoh,
departemen penjualan terkadang menemukan dan memesan material di saat
departemen produksi mengklaim bahwa hal tersebut tidak diperlukan. Bagian
produksi kemudian akan menuduh departemen penjualan melangkahi jurisdiksi
mereka, sehingga konflik pun muncul tak henti-hentinya. Hal ini dapat
menyebabkan terlambatnya dipenuhi permintaan pasar, hilangnya pelanggan, bahkan
mogok kerja.
Perubahan Pandangan Tentang
Konflik
|
Pandangan Lama |
Pandangan Baru |
|
Konflik dapat dihindarkan |
Konflik tidak dapat dihindarkan |
|
Konflik disebabkan oleh kesalahn manajemen dalam
perancangan dan pengelolaan organisasi atau oleh pengacau |
Konflik timbul karena banyak sebab, termasuk struktur organisasi,
perbedaan tujuan yang tidak dihindarkan, perbedaan dalam persepsi dll |
|
Konflik mengganggu organisasi dan menghalangi pelaksanaan
optimal |
Konflik dapat membantu atau menhambat pelaksanaan
kegiatan organisasi dalam berbagai derajat |
|
Tugas manajemen adalah menghilangkan konflik |
Tugas manajemen adalah mengelola tingkat konflik dana
penyelesaiannya |
|
Pelaksanaan kegiatan organisasi yang optimal membutuhkan
penghapusan konflik |
Pelaksanaan kegiatan organisasi yang optimal membutuhkan
tingkat konflik yang moderat |
B. Jenis-Jenis Konflik
Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada
1)
Konflik Intrapersonal
Konflik
intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi
bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin
dipenuhi sekaligus.
Sebagaimana
diketahui bahwa dalam diri seseorang itu biasanya terdapat hal-hal sebagai
berikut:
§ Sejumlah kebutuhan-kebutuhan dan peranan-peranan yang
bersaing
§ Beraneka macam cara yang berbeda yang mendorong
peranan-peranan dan kebutuhan-kebutuhan itu terlahirkan.
§ Banyaknya bentuk halangan-halangan yang bisa terjadi di
antara dorongan dan tujuan
§ Terdapatnya baik aspek yang positif maupun negatif yang
menghalangi tujuantujuan yang diinginkan.
a)
Konflik
pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang
sama-sama menarik.
b)
Konflik pendekatan –
penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama
menyulitkan.
c)
Konflik
penghindaran-penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada satu hal yang
mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus.
2)
Konflik Interpersonal
Konflik
Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena
pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua
orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik
interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku
organisasi. Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari
beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses
pencapaian tujuan organisasi tersebut.
3)
Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok
Hal
ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan
untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja
mereka. Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat dihukum
oleh kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas
kelompok dimana ia berada.
4)
Konflik interorganisasi
Konflik
intergrup merupakan hal yang tidak asing lagi bagi organisasi manapun, dan
konflik ini meyebabkan sulitnya koordinasi dan integrasi dari kegiatan yang
berkaitan dengan tugas-tugas dan pekerjaan. Dalam setiap kasus, hubungan
integrup harus di
manage
sebaik mungkin untuk mempertahankan kolaborasi dan menghindari semua
konsekuensidisfungsional dari setiap konflik yang mungkin timbul.
Contoh
seperti di bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain
dianggap sebagai bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan
persaingan. Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan
timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru,
harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
C. Metode-Metode Pengelolaan Konflik
1. Metode Stimulasi Konflik
Metode stimulasi konflik meliputi : pemasukan atau penempatan orang dari luar ke dalam kelompok, penyusunan kembali organisasi, penawaran bonus, penawaran insentif dan penghargaan untuk mendorong persaingan, pemilihan manajer-manajer yang tepat serta perlakuan yang berbeda dengan kebiasaan
2. Metode Pengurangan konflik
Metode ini mengelola tingkat konflik melalui pendinginan suasana tetapi tidak menangani masalah-masalah yang semula menimbulkan konflik. Terdapat dua metode yang dapat digunakan untuk mengurangi konflik yaitu
a) Metode Efektif I
Dengan mengganti tujuan yang menimbulkan persaingan dengan tujuan yang lebih bias diterima kedua kelompok
b) Metode Efektif II
Mempersatukan kedua kelompok yang bertentangan untuk menghadapi ancaman atau musuh yang sama
3. Metode Penyelesaian Konflik
q Menghindar
Menghindari
konflik dapat dilakukan jika isu atau masalah yang memicu konflik tidak terlalu
penting atau jika potensi konfrontasinya tidak seimbang dengan akibat yang akan
ditimbulkannya. Penghindaran
merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak yang berkonfrontasi untuk
menenangkan diri. Manajer perawat yang terlibat didalam konflik dapat
menepiskan isu dengan mengatakan “Biarlah kedua pihak mengambil waktu untuk
memikirkan hal ini dan menentukan tanggal untuk melakukan diskusi”
q Mengakomodasi
Memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah, khususnya apabila isu tersebut penting bagi orang lain. Hal ini memungkinkan timbulnya kerjasama dengan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat keputusan. Perawat yang menjadi bagian dalam konflik dapat mengakomodasikan pihak lain dengan menempatkan kebutuhan pihak lain di tempat yang pertama.
q Kompromi atau Negosiasi
Masing-masing memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu yang bersamaan, saling memberi dan menerima, serta meminimalkan kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak.
q Memecahkan Masalah atau Kolaborasi
üPemecahan sama-sama menang dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kerja yang sama.
ü Perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan satu sama lainnya.
q Pemecahan Masalah Integratif
Dengan
metode ini, konflik antara kelompok diubah menjadi situasi pemecahan masalah
bersama yang dapat diselesaikan melalui teknik pemecahan masalah.
1) Konsensus, dimana pihak-pihak yang sedang bertentanganbertemu bersama untuk mencari penyelesaian terbaik masalah mereka
2) Konfrontasi, dimana pihak yang saling berhadapan menyatakan pendapatnya secara langsung satu sama lain
3) Penggunaan tujuan-tujuan yang lebih tinggi (supoer ordinate goals) bila tujuan tersebut disetujui bersama.
D. Konflik Struktural
Dalam organisasi klasik terdapat 4 daerah structural di mana konflik sering timbul antara lain
a) Konflik Hierarki, yaitu konflik antara berbagai tingkatan organisasi.
b) Konflik Fungsional, yaitu konflik antara berbagai departemen fungsional organisasi
c) Konflik Lini-Staf, sebagai akibat perbedaan-perbedaan yang melekat pada personalia lini dan staf
d) Konflik Formal-Informal, antara organisasi formal dan informal
E.
Konflik
Lini dan Staf
Pandangan Lini
a. Staf melangkahi wewenangnya
Karena manajer garis merupakan pemegang tanggung jawab atas hasil akhir, mereka cenderung menolak rongrongan staf atas wewenangnya
b. Staf tidak memberi nasehat yang bermanfaat
c. Staf menumpang keberhasilan lini
d. Staf memiliki pandangan sempit
Pandangan Staf
- Lini kurang memanfaatkan staf
Manajer lini menolak bantuan staf ahli, karena mereka ingin mempertahankan wewenangnya atas bawahan atau karena mereka tidak berani secara terbuka mengakui bahwa mereka membutuhkan bantuan. Sebagai akibatnya, staf hanya diminta bantuannya bila situasi benar-benar sudah kritis
- Lini menolak gagasan-gagasan baru
Anggota staf biasanya yang pertama berkepentingan dengan penggunaan inovasi dalam bidang keahlian mereka. Manajer garis mungkin menolak perubahan tersebut
- Lini memberi wewenang terlalu kecil kepada staf
Anggota staf sering merasa bahwa mereka mempunyai penyelesaian masalah yang paling baik dalam spesialisasinya. Oleh sebab itu mereka kecewa bila saran-sarannya tidak didukung dan diimplementasikan oleh manajer lini
Penanggulangan Konflik Lini
dan Staf
1. Tanggung jawab lini dan staf harus ditegaskan
Secara umum, para anggota lini bertanggung jawab atas keputusan-keputusan operasional organisasi. Di lain pihak para anggota staf harus bebas untk memberikan saran bila mereka merasa hal itu diperlukan tidak hanya bila anggota lini memintanya
2. Mengintegrasikan kegiatan-kegiatan lini dan staf
Saran-saran staf akan lebih realistik bila berkonsultasi terlebih dahulu dengan anggota lini dalam proses penyusunan saran-saran mereka. Konsultasi staf-lini ini juga akan membuat para anggota lini bersedia mengimplementasikan gagasan-gagasan staf
3. Mengajarkan lini untuk menggunakan staf
Manajer lini akan lebih efektif memanfaatkan keahlian staf bila mereka mengetahui kegunaan staf spesialis bagi mereka
4. Mendapatkan pertanggung-jawaban staf atas hasil-hasil
F.
STUDI
KASUS
STUDI KASUS
PERUSAHAAN McDONNELL DOUGLAS
Pada tahun 1994, McDonnell Douglas (MDC) menunjuk
Harry Stonecipher sebagai CEO baru. The Wall Street Journal memperkirakan jika
Stonecipher akan membawa cara agresif dan konfrontatif pada suatu perusahaan
yang selama ini menerapkan keputusan yang menghindari kekerasan. Stonecipher
menggambarkan dirinya sebagai seorang penganut pembangun politik, suatu
Permasalahan di Mcdonnell Douglas dimulai pada
permulaan tahun 1989. Perusahaan kehilangan $58 juta dollar pada 6 bulan
pertama tahun tersebut. Kontrak dengan
BAB III
PENUTUP
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa secara sederhana dapat dikatakan bahwa manager sudah seharusnya memiliki keterampilan komunikasi dan penanganan konflik yang tentunya dapat membantu mereka mengimplementasikan keputusan-keputusan untuk mendukung proses pencapaian tujuan suatu organsiasi. Untuk dapat mencapai hal ini, manager harus dapat mengenali hambatan-hambatan yang dapat mengganggu efektivitas komunikasi yang dapat memacu terjadinya konflik. Keterampilan komunikasi yang baik dapat mengklarifikasi konflik yang timbul serta dapat memperkecil konsekuensi negatif dari konflik itu sendiri terhadap individual dan organsiasi.
Manager dituntut untuk memahami akar dari sebuah konflik,
mendiagnosis situasi konflik untuk dapat menemukan substansi spesifik dan
perbedaan emosional lainnya yang mendasari terjadinya konflik tersebut sehingga
dapat ditemukan sebabsebab dari perbedaan ini. Orang menangani konflik dengan
berbagai cara, tetapi hanya pendekatan penyelesaian masalah yang dapat
menghasilkan resolusi konflik yang murni. Berbagai strategi manajer konflik
harus diketahui oleh seorang manager, sehingga dapat diputuskan strategi mana
yang cocok untuk berbagai macam konflik yang dihadapi. Pada akhirnya, hubungan
interpersonal seorang manager menghadirkan kesempatan untuk meningkatkan atau
malah mengurangi kesuksesannya dalam menangani konflik. Terlatihnya seorang
manager dalam komunikasi dan proses konflik akan menempatkan posisinya sebagai
salah satu titik yang paling penting dalam kesuksesan suatu organisasi atau
perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Handoko, Hani. 2003. Manajemen Edisi Kedua. BPFE :
www.wordpress.com


Komentar
Posting Komentar
Komentar