Bab II Teori tentang Hasil Belajar, Mengarang dan Metode Demonstrasi
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Hasil Belajar, Mengarang dan
Metode Demonstrasi
- Pengertian hasil belajar
Secara
sederhana belajar dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan
untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan, yang memiliki proses dan tujuan.
Sementara hasil belajar merupakan suatu nilai yang diperoleh dari umpan balik
terhadap belajar. Sementara Mulyono (2003: 14) dalam tulisannya Pendidikan
bagi Anak Berkesulitan Belajar disebutkan bahwa; belajar dan mengajar
sebagai suatu proses mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan yakni, tujuan
pengajaran (intruksional), pengalaman (proses belajar mengajar) dan prestasi
belajar yang sering disebut dengan hasil belajar. Dalam hal ini, untuk
membuktikan berhasil tidaknya proses belajar mengajar dapat dilihat dari
prestasi belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam bentuk angka (skor).
Di lain hal,
Soemanto (2003:104) mengatakan bahwa, belajar adalah proses dari perkembangan
hidup manusia melalui perubahan-perubahan sehingga tingkah lakunya dapat
berkembang. Selanjutnya Sardiman A.M (2006: 20) mengatakan bahwa, belajar itu
merupakan perubahan tingkah laku atau keterampilan dengan serangkaian kegiatan
misalnya: dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.
Sementara
prestasi belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil yang
dicapai siswa dengan kriteria tertentu
setelah terjadinya proses belajar-mengajar (Suryabrata, 2002: 23). Di
lain hal. Abdurrahman (1999:37), mengatakan bahwa hasil belajar (prestasi belajar)
adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui kegiatan belajar.
Mengingat
belajar perlu menghasilkan suatu nilai dan kualitas, sebagai seorang guru perlu
menetapkan tujuan belajar sesuai dengan kapasitas intelegensi anak dan mempergunakan
bahan yang telah dikuasai anak sebagai bahan apresiasi untuk menguasai
pelajaran baru, serta guru perlu memberikan kebebasan kepada siswa untuk
memberikan pendapatnya. Dalam hal ini berarti guru perlu menetapkan tujuan
instrukional sesuai dengan keadaan lingkungan siswa agar lebih mudah dalam
memahami pelajaran yang diajarkan, pada akhirnya akan mempengaruhi hasil
belajar yang diperolehnya.
Pengertian
lain terhadap hasil belajar Dimyati (2002: 243) mengatakan bahwa, kemampuan
berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar.
Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar, ia menunjukkan bahwa
dirinya telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil
belajar.
- Pengertian mengarang
Menurut KBBI (1990: 390) karangan
adalah hasil mengarang, tulisan, cerita, artikel, buah pena. Menurut The Liang
Gie (2002:5) karangan adalah hasil imajinasi yang diolah dan diciptakan kembali
oleh pengarang. Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat diuraikan bahwa pada dasarnya
karangan itu merupakan hasil olah pikiran,
pengalaman yang bisa berupa cerita atau tulisan yang mengandung arti khusus.
Karangan juga merupakan hasil dari
mengarang yang ditulis oleh pengarang dengan melahirkan berbagai macam ide, pengalaman, dan kreativitas
yang menarik untuk diamati (Tommi, 2003: 21). Dalam Kamus Pelajar SLTP (2003:
830), karangan disebut sebagai menulis dan menyusun cerita, buku, sajak dan
sejenisnya yang berbentuk tulisan.
Beberapa argumentasi di atas, dapat diartikan bahwa
mengarang sebagai suatu kegiatan/rangkaian dalam menuangkan segala rasa baik
kenyataan maupun khayalan, yang disusun menjadi sebuah cerita, buku maupun
sajak yang baik dan dinikmati pembaca. Di lain hal, karangan dapat juga diberi
pengertian yaitu, suatu hasil dari mengarang
yang berupa cerita yang diperoleh dari pengalaman maupun imajinasi.
- Metode demonstrasi
Demonstrasi merupakan metode yang dianggap efektif, dalam
metode ini membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan
fakta atau data yang benar (Muhammad Ali, 2007: 43). Metode demonstrasi dapat
dikatakan juga sebagai penyajian pelajaran dengan memperagakan dan
mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu,
baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan (Hamzah, 2001: 67). Sebagai metode
penyajian, demonstrasi tentu tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh
guru. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung
keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
Penggunaan metode ini sangat menunjang proses interaksi belajar di
ruangan, yang diperoleh juga besar. Metode
ini bisa kita katakan sejenis dengan metode eksperimen hanya saja
demontrasi tidak melakukan percobaan. Jadi metode ini merupakan cara mengajar
dimana seorang instruktur/tim menunjukkan sesuatu proses berlangsung, misalnya cara
menulis puisi, sajak dan lainnya, atau seperti mempraktekkan membuka dan
memasangkan kembali baterai laptop. Muhammad Ali, (2007: 52) melalui Guru dalam Proses
Belajar Mengajar, menyebutkan bahwa keuntungan yang diperoleh dari metode
demonstrasi ini yaitu;
1.
Perhatian
peserta lebih dapat terpusatkan pada bahan ajar/masalah yang sedang
berlangsung, dan
2.
Kesalahan yang
terjadi dapat diatasi melalui pengamatan atau contoh kongkrit.
Dengan metode ini, peserta
didik dapat berpartisipasi lebih giat dan aktif, karena memperoleh pengalaman
langsung dari pengajar terhadap aspek yang sedang dipelajari yang pada
gilirannya nanti mampu mengembangkan kecakapannya.
Di lain hal Abu Ahmadi, (2005: 124),
menyebutkan bahwa sebagai suatu metode pembelajaran, demonstrasi memiliki
beberapa kelebihan, yaitu;
- Melalui
metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa
disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
- Proses
pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi
juga melihat peristiwa yang terjadi.
- Dengan
cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk
membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan
demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.
Di samping beberapa kelebihan, metode demonstrasi juga
memiliki beberapa kelemahan, diantarannya;
- Metode
demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan
yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini
tidak efektif lagi. Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukan
suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih
dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak.
- Demonstrasi
memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti
penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan
dengan ceramah.
- Demonstrasi
memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru
dituntut untuk bekerja lebih profesional. Di samping itu demonstrasi juga
memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses
pembelajaran siswa (Abu Ahmadi, 2005: 134).
B. Tujuan Belajar Mengarang
Mengarang selalu berhubungan dengan bahasa. Hanya bahasa
satu-satunya rumusan untuk mengarang. Itu sebabnya kacakapan menggunakan bahasa
merupakan bekal utama dalam kegiatan mengarang. Di sekolah diberikan modal
pengetahuan bahasa, bahkan dilatih pula untuk menggunakannya dalam kegiatan
menulis atau mengarang. Semua itu merupakan modal yang sangat berharga, dan
modal itu harus dikembangkan lebih lanjut dalam kehidupan berbahasa yang
sesungguhnya. Dalam masyarakat, mengarang tidak hanya dituntut pengetahuan
teori saja, melainkan prakteknya dalam tulis menulis.
Pada prinsipnya fungsi mengarang adalah sebagai alat
komunikasi segala gagasan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Di samping
itu, karangan dapat memudahkan kita merasakan dan menikmati hubungan-hubungan,
memperdalam daya tanggap, memecahkan masalah yang dihadapi, menyusun urutan
bagi pangalaman (Tarigan, 1985:3).
Lebih jelas Keraf (1980:104) mencoba menguraikan
jenis-jenis karangan yang menurutnya sebagai kategori karangan, yaitu sebagai
berikut:
- Karangan argumentasi adalah, yaitu
suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat
orang lain, agar mereka percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa
yang diinginkan penulis atau pengarang.
- Karangan eksposisi menurut Keraf
(1985:3) yaitu, salah satu bentuk tulisan atau retorika yang berusaha
untuk menerangkan dan menguraikan sesuatu pengetahuan seseorang yang
membaca uraian tersebut.
- Karangan persuasi adalah suatu
keahlian untuk mencapai persetujuan atau kesesuaian kehendak pembicara dan
yang diajak bicara, merupakan proses untuk meyakinkan orang lain supaya
orang itu menerima apa yang diinginkan pembicara atau penulis (Keraf,
1985:120).
- Karangan deskripsi yang diartikan
sebagai deskripsi memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan
manusia sehari-hari, karena setiap saat dalam hidup ini seseorang selalu
berusaha untuk mendeskripsikan sesuatu dengan sejelas-jelasnya. Sehingga
orang lain seolah mendengar, merasakan, dan melihat secara langsung yang
dideskripsikan. Keraf (1980:93) berpendapat, karangan deskripsi adalah
sebuah karangan yang bertalian dengan usaha-usaha para pengarang untuk
memberikan perincian dari objek yang sedang dibicarakan.
- Karangan narasi adalah, suatu
bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalin dan
dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu kesatuan
waktu. Atau dengan kata lain, narasi adalah suatu bentuk wacana yang
berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu
peristiwa yang telah terjadi (1985:136).
Sementara tujuan menulis secara sederhana dapat diartikan
memproyeksikan sesuatu mengenai diri seseorang. Setiap penulis harus
mengungkapkan dengan jelas tujuan penulisan yang akan dikerjakannya. Perumusan
tujuan penulisan sangat penting dan harus ditentukan terlebih dahulu karena hal
ini merupakan titik tolak dalam seluruh kegiatan menulis. Rumusan tujuan
penulisan adalah suatu gambaran penulis dalam kegiatan menulis selanjutnya.
Dengan menentukan tujuan penulisan, akan diketahui apa yang harus dilakukan
pada tahap penulisan.
Sehubungan dengan tujuan menulis, Hartig (dalam Tarigan
1983:24) menyatakan tujuan menulis sebagai berikut.
- Tujuan penugasan (assigment
purpose), yaitu menulis sesuatu karena ditugaskan bukan atas kemauan
sendiri;
- Tujuan altruistik (altruistic
purpose), yaitu untuk menyenangkan para pembaca, ingin menolong para
pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat
hidup para pembaca lebih mudah dan menyenangkan dengan karangannya;
- Tujuan persuasif (persuasive
purpose), yaitu untuk meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan
yang diutarakan, supaya pembaca tertarik akan tulisan yang dibuat;
- Tujuan informasional (intermational
purpose), yaitu untuk memberi informasi, keterangan, penerangan kepada
pembaca;
- Tujuan pernyataan diri (self
expresive purpose), yaitu untuk memperkenalkan diri sebagai pengarang
bagi pembaca,
- Tujuan pemecahan masalah (problem
solving purpose), yaitu untuk mencerminkan atau menjelajahi
pikiran-pikiran agar dapat dimengerti oleh pembaca, dan
- Tujuan kreatif (creative purpose), yaitu untuk
mencapai nilai-nilai artistik dan nilai-nilai kesenian.
Pendapat lain dikemukakan oleh Suriamiharja (1997:2) yang
menjelaskan tujuan menulis adalah agar tulisan yang dibuat dapat dibaca dan
dipahami orang lain dan mempunyai kesamaan pengertian terhadap bahasa yang
dipergunakan.
Pada umumnya, tidak semua orang mampu menuangkan ide dan
gagasannya secara lisan. Melalui kegiatan menulis, sesorang mampu menuangkan
ide atau gagasannya tersebut dengan bahasa tulis. Dengan demikian, keterampilan
menulis menjadi salah satu cara berkomunikasi, karena dalam pengertian tersebut
muncul satu kesan adanya pengiriman dan penerimaan pesan dari penulis kepada
pembaca.
Pendapat lain dikemukakan oleh The Liang Gie (2002:10)
mendefinisikan mengenai tujuan menulis atau mengarang bermacam-macam sejalan
dengan aneka ragamnya keinginan orang seperti ingin terkenal, mendapat
honorarium, memengaruhi orang lain, mencerdaskan masyarakat, menghibur
kanak-kanak, menyenangkan kalbu, menyampaikan pengetahuan, atau sekadar
menghabiskan waktu senggang.
Sejalan dengan pendapat di atas, Yuniawan (2003:179)
menjelaskan tujuan menulis adalah;
- Untuk memperkaya perbendaharaan
kata,
- Melatih melahirkan pikiran dan
perasaan atau ekspresi jiwa,
- Melatih memaparkan
pengalaman-pengalaman dengan tepat,
- Membantu menguasai bahasa secara
benar.
Seseorang akan dengan mudah menulis apabila berlatih
secara terus-menerus seiring dengan bertambahnya pula tingkat kepercayaan
dirinya. Kesesuaian antara tulisan dan tujuan menulis perlu diperhatikan agar
tulisan yang dihasilkan dapat diterima dengan baik oleh pembaca.
Sehubungan dengan tujuan menulis, Lie (2005:111)
mengemukakan bahwa terdapat tujuh tujuan menulis sebagai berikut;
Pertama, memberi
(menjual) informasi artinya sebagian besar tulisan dihasilkan dengan tujuan
memberi informasi, teristimewa bila hasil karya tulis tersebut
diperjualbelikan.
Kedua, mencerahkan
jiwa artinya bacaan sudah menjadi salah satu kebutuhan manusia modern, sehingga
karya tulis selain sebagai komoditi juga layak dipandang sebagai salah satu
sarana pencerahan pikiran dan jiwa.
Ketiga, mengabadikan
sejarah artinya sejarah harus dituliskan agar abadi sampai ke generasi
selanjutnya.
Keempat, ekspresi diri
artinya tulisan juga merupakan sarana mengespresikan diri, baik bagi perorangan
maupun kelompok.
Kelima, mengedepankan idealisme artinya idealisme
umumnya dituangkan dalam bentuk tertulis supaya memiliki daya sebar lebih cepat
dan merata.
Keenam, mengemukakan
opini dan teori artinya buah pikiran pun hampir selalu diabadikan dalam bentuk
tulisan.
Ketujuh, ”menghibur”
artinya baik temanya humor atau bukan, tulisan umumnya juga bersifat
”menghibur”.
Dari
beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan menulis bertujuan untuk
mengekspresikan perasaan dan emosi, merangsang imajinasi dan daya pikir,
memberi informasi kepada pembaca, meyakinkan pembaca dan untuk memberikan
hiburan serta melatih untuk terampil menulis kreatif.
C. Aspek Penting yang Harus Diperhatikan
dalam Mengarang
Ada
dua macam kegiatan mengarang yang dilakukan dalam metode demonstrasi, yaitu
karangan yang bersifat fiksi dan karangan yang bersifat nonfiksi. Fiksi lebih
kearah khayalan sedangkan nonfiksi lebih ke arah kejadian nyata (benar-benar
terjadi).
Penulisan karya tulis merupakan salah satu
contoh karangan nonfiksi karena kejadiannya yang benar-benar dialami, atau
dikerjakan. Sedangkan karangan fiksi contoh nyatanya
adalah cerita pendek yang terkadang berupa cerita yang tidak mungkin terjadi.
Pada dasarnya, untuk menyusun karangan
dibutuhkan langkah-langkah awal untuk membentuk kebiasaan teratur dan
sistematis yang memudahkan kita dalam mengembangkan karangan.
Menurut Lie (2005: 117-124) langkah langkah-langkah
mengarang melalui metode demonstrasi yaitu
1. Menentukan tema dan
judul
Sebelum anda mau melangkah, pertama kali
dipikirkan adalah mau kemana kita berjalan? lalu bila menulis, apa yang akan
kita tulis? Tema adalah pokok persoalan, permasalahan, atau pokok pembicaraan
yang mendasari suatu karangan. Sedangkan yang dimaksud dengan judul adalah
kepala karangan. Kalau tema cakupannya lebih besar dan menyangkut pada
persoalan yang diangkat sedangkan judul lebih pada penjelasan awal (penunjuk
singkat) isi karangan yang akan ditulis.
Tema sangat terpengaruh terhadap wawasan penulis.
Semakin banyak penulis membiasakan membaca buku, semakin banyak aktifitas
menulis akan memperlancar penulis memperoleh tema. Namun, bagi pemula perlu
memperhatikan beberapa hal penting agar tema yang diangkat mudah dikembangkan.
diantaranya :
a. Jangan mengambil tema yang bahasannya
terlalu luas,
b. Pilih tema yang kita sukai dan kita yakini
dapat kita kembangkan,
c. Pilih tema yang sumber atau bahan-bahannya
dapat dengan mudah kita peroleh (Lie, 2005: 120).
Terkadang memang dalam menentukan tema tidak
selamanya selalu sesuai dengan syarat-syarat diatas. Contohnya saat lomba
mengarang, tema sudah disediakan sebelumnya dan kita hanya bisa
memakainya.Ketika tema sudah didapatkan, perlu diuraikan atau membahas tema
menjadi suatu bentuk karangan yang terarah dan sistematis. Salah satu caranya
dengan menentukan judul karangan. Judul yang baik adalah judul yang dapat
menyiratkan isi keseluruhan karangan kita.
2.
Mengumpulkan bahan
Setelah punya tujuan, dan mau melangkah, lalu apa
bekal anda? Sebelum melanjutkan menulis, perlu ada bahan yang menjadi bekal dalam
menunjukkan eksistensi tulisan. Bagaimana ide, dan inovasi dapat diperhatikan
kalau tidak ada hal yang menjadi bahan ide tersebut muncul. Buat apa ide
muluk-muluk kalau tidak diperlukan. Perlu ada dasar bekal dalam melanjutkan
penulisan (Lie, 2005: 121).
Untuk membiasakan, kumpulkanlah kliping-kliping
masalah tertentu (biasanya yang menarik penulis) dalam berbagai bidang dengan
rapi. Hal ini perlu dibiasakan calon penulis agar ketika dibutuhkan dalam
tulisan, penulis dapat membuka kembali kliping yang tersimpan sesuai bidangnya.
Banyak cara mengumpulkannya, masing-masing penulis mempunyai cara sesuai juga
dengan tujuan tulisannya (Lie, 2005: 121).
3.
Menyeleksi bahan
Setelah ada bekal, dan mulai berjalan, tapi bekal
mana yang akan dibawa? agar tidak terlalu bias dan abstrak, perlu dipilih
bahan-bahan yang sesuai dengan tema pembahasan. Polanya melalui klarifikasi
tingkat urgensi bahan yang telah dikumpulkan dengan teliti dan sistematis.
berikut ini petunjuk-petunjuknya:
a. Catat hal
penting semampunya,
b. Jadikan
membaca sebagai kebutuhan,
c. .Banyak diskusi, dan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah (Lie, 2005: 122).
4.
Membuat kerangka
Bekal ada, terpilih lagi, terus melangkah yang
mana dulu? Perlu kita susun selangkah demi selangkah agar tujuan awal kita
dalam menulis tidak hilang atau melebar ditengah jalan. Kerangka karangan menguraikan tiap topik atau masalah menjadi
beberapa bahasan yang lebih fokus dan terukur.
Kerangka karangan belum tentu sama dengan daftar isi,
atau uraian per bab. Kerangka ini merupakan catatan kecil yang sewaktu-waktu
dapat berubah dengan tujuan untuk mencapai tahap yang sempurna. Berikut fungsi kerangka karangan;
a. Memudahkan pengelolaan susunan karangan agar teratur dan sistematis
b. Memudahkan penulis dalam menguraikan
setiap permasalahan.
c. Membantu menyeleksi materi yang penting
maupun yang tidak penting (Lie, 2005: 122)
Adapun tahapan dalam menyusun kerangka karangan yaitu;
a. Mencatat gagasan. Alat yang mudah
digunakan adalah pohon pikiran (diagram yang menjelaskan gagasan2 yang timbul)
b. Mengatur urutan gagasan,
c. Memeriksa kembali yang telah diatur dalam
bab dan sub bab,
d. Membuat kerangka yang terperinci dan
lengkap (Lie, 2005: 122)
Merangka karangan yang baik adalah kerangka yang
urut dan logis. Bila terdapat ide yang bersilangan, akan mempersulit proses
pengembangan karangan. (karangan tidak mengalir)
5.
Mengembangkan kerangka karangan
Proses pengembangan karangan tergantung sepenuhnya
pada penguasaan kita terhadap materi yang hendak kita tulis. Jika benar-benar
memahami materi dengan baik, permasalahan dapat diangkat dengan kreatif,
mengalir dan nyata. Terbukti pula kekuatan bahan materi yang kita kumpulkan
dalam menyediakan wawasan untuk mengembangkan karangan (Lie,
2005: 120).
Pengembangan karangan
juga jangan sampai menumpuk dengan pokok permasalahan yang lain. Untuk itu
pengembangannya harus sistematis, dan terarah. Alur pengembangan juga harus
disusun secara teliti dan cermat. Semakin sistematis, logis dan relevan pada
tema yang ditentukan, semakin berbobot pula tulisan yang dihasilkan.
D. Faktor yang Mempengaruhi Belajar Mengarang
Pelajaran mengarang begitu penting diberikan kepada murid
untuk melatih menggunakan bahasa secara aktif. Disamping itu pengajaran
mengarang di dalamnya secara otomatis mencakup banyak unsur kebahasaan termasuk
kosa kata dan keterampilan penggunaan bahasa itu sendiri dalam bentuk bahasa
tulis. Akan tetapi dalam hal ini guru bahasa Indonesia dihadapkan pada dua
masalah yang sangat dilematis. Di satu sisi guru bahasa harus dapat
menyelesaikan target kurikulum yang harus dicapai dalam kurun waktu yang telah
ditentukan. Di sisi lain porsi waktu yang disediakan untuk pelajaran mengarang
relatif terbatas, padahal untuk pelajaran mengarang seharusnya dibutuhkan waktu
yang cukup panjang, karena diperlukan latihan-latihan yang cukup untuk
memberikan siswa dalam karang-mengarang.
Di lain hal, ada juga faktor yang mempengaruhi mengarang
itu sendiri. Faktor-faktor
yang dapat memppengaruhi balajar siswa tersebut yaitu;
1. Faktor Internal
Faktor Internal merupakan semua faktor yang berasal dari
dalam diri individu yang belajar, baik yang berkenaan dengan jasmani maupun
rohani. Menurut Slameto (2007: 54), bahwa faktor-faktor dari dalam diri peserta
didik yang sangat mempengaruhi belajar antara lain,faktor jasmani, faktor
psikologi dan Faktor kelelahan. Faktor jasmaniah sama dengan faktor biologis,
faktor psikologis berupa faktor yang bersifat rohaniah dan kelelahan menyertai
keduanya.
a. Faktor Jasmaniah (Fisik)
Faktor jasmaniah merupakan faktor yang berasal dari diri
individu itu sendiri yang berkaitan dengan keadaan fisik dan panca indra.
Faktor jasmani ini sangat mempengaruhi kegiatan belajar siswa sekaligus hasil
belajarnya. Keadaan jasmani yang tidak normal dapat mengganggu kegiatan
belajar, sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit. Sebagaimana
dikemukakan oleh Sumadi Suryabrata (2002: 35), bahwa penyakit seperti flu,
sakit gigi, batuk dan sejenisnya, itu biasanya yang diabaikan karena di pandang
tidak cukup serius untuk mendapatkan perhatian dan pengobatan, akan tetapi
kenyataan penyakit-penyakit seperti itulah yang sangat mengganggu aktivitas
belajar.
b. Faktor Rohani (Jiwa)
Faktor rohani atau kejiwaan merupakan segala bentuk kemampuan
yang berpusat pada otak dan akal yang turut mempengaruhi kompetensi belajar
siswa, yaitu berupa faktot
1. Intelegensi (kemampuan intelaktual)
Dalam proses belajar intelegensi sangat berperan, mempunyai kemampuan tinggi besar kemungkinan akan maju dalam belajar sehingga dengan mudah dapat mencapai prestasi yang tinggi, tidak sama dengan siswa yang kecerdasannya lebih rendah meskipun usaha dan belajarnya sama. M. Ngalim Poerwanto (1987: 547) menyatakan bahwa, intelegensi adalah kemampuan yang di bawa sejak lahir, kemungkinan seseorang berbuat dengan cara tertentu.
2. Bakat
Bakat merupakan kemampuan
dasar seseorang yang di bawa anak sejak lahir dan dapat dikembangkan bila
seseorang memperoleh pengaruh luar dan kesempatan. Bakat merupakan salah satu
faktor yang mempunyai peranan penting terhadap keberhasilan belajar seseorang.
Seperti yang di kemukakan oleh Suryabrata (2002: 167) yaitu, seseorang akan
lebih berhasil kalau kalau ia belajar dalam lapangan yang sesuai dengan
bakatnya, demikian juga dengan lapangan kerja.
3. Minat
Minat merupakan
kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan
(Slameto, 2007: 57). Tidak adanya minat seseorang dalam mempelajari suatu
pelajaran bisa menimbulkan kesulitan belajarnya, karena seseorang iti tidak
akan ada daya tarik baginya untuk mempelajari pelajaran tersebut. Seperti yang
diungkapkan oleh Mudzakir (1997: 159) bahwa, belajar yang tidak ada minatnya
mungkin tidak sesuai dengan tipe-tipe khusus anak banyak menimbulkan problema
pada dirinya, karena itu tidak pernah terjadi proses dalam otak, akibatnya
timbul kesulitan.
4. Motivasi
Dalyono (1997: 135), menjalaskan
bahwa, motivasi sebagai faktor batin berfungsi menimbulkan, mendasari,
mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam
mencapai tujuan, sehingga semakin bsar motivasinya akan semakin besar
kesuksesan belajarnya.
5. Perhatian
Prestasi belajar yang baik
dapat terjamin nila belajar anak didik punya suatu perhatian terhadap bahan
pelajaran yang dipelajarinya. Jika suatu bahan pelajaran tidak dapat terjadi
perhatian anak didik, jelas akan timbul kebosanan dalam mempelajarinya. Untuk
dapat diperoleh hasil belajar yang baik, maka seseorang anak harus
memperhatikan bahan yang diajarkan, sebab tidak akan menimbulkan kebosanan,
sehingga anak didik lebih menyukai mengikuti mata pelajaran Suryabrata (2002:
168).
2. Faktor Eksternal
Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar
anak, faktor ini dapat dibagi dari tiga sudut pandang, yaitu:
a. Faktor Keluarga
Faktor keluarga adalah faktor salah satu faktor yang
paling penting dan turut berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan.
Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama kali dikenal oleh anak, anak
mulai menerima nilai-nilai (Slameto, 2007: 59).
b. Lingkungan sekolah
Sebagaimana kita ketahui
bersama bahwa “ Sekolah merupakan sumber ilmu dan bekal tempat menimba ilmu
pengetahuan”. Dengan menitipkan anak-anaknya kesekolah, orang tua mengharapkan
pihak sekolah dapat membimbing dan mengarahkan putra putrinya dengan materi yang
diajarkan di sekolah tersebut (Slameto, 2007: 62).
Apabila
di sekolah tempat mereka menimba ilmu pengetahuan dapat membimbing mereka
kearah yang baik maka surga dunia dan akhirat akan ia miliki, begitu juga
sebaliknya
c. Lingkungan Msyarakat
Masyarakat
adalah faktor yang tidak kalah pentingnya dalam belajar. Masyarakat dalam
pengertian yang luar adalah lingkungan di luar sekolah dan keluarga yang
merupakan pusat pendidikan yang ketiga. Lingkungan masyarakat ini dapat pula
berpengaruh terhadap perkembangan peserta didik baik menguntungkan maupun
merugikan, sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari
lingkungan masyarakat. Ia harus berhubungan dengan masyarakat hakikat kemanusiaan, hanya bisa
muncul dalam pergaulan antara manusia Suryabrata (2002: 175).
Pustaka
Erman Suherman.
2001. Strategi Pembelajaran Matematika Komtemporer. Bandung: Jica.
Simajuntak,
Lisnawati. 1993. Metode Mengajar Matematika. Jakarta: Rineka Cipta.
Widdiharto. 2004. Model-model
Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Widyaiswara PPPG Matematika
Yogyakarta.
Hamzah. 2001.
Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Ambary, Abdullah,
dkk. 1999. Penuntun Terampil berbahasa Indonesia dan Petunjuk guru. Bandung:
Trigenda Karya.
Arikunto,
Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bandung: Reneksa
Cipta.
Abdurrahman,
Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar, Jakarta,
PT. Rineka
Cipta.
Ali Muhammad. 2007.
Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Ahmad, Abu, dkk.
2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia.
Dimyati, Mudiono.
2002. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, PT. Rineka Cipta
Depdiknas. 2005.
Bahasa Dan Sastra Indonesia : direktorat Pendidikan Dasar Dan Menengah.
Djamrah, Syaiful
Bahri dan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cifta Jakarta.
Gie, The Liang.
2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: ANDI.
Hamzah. 2001.
Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cifta.
Kridalaksana, Harimurti. 1983. Kamus Linguistik. Jakarta:
Gramedia.
Keraf, Gorys. 1991.
Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. Jkaarta: Gramedia Mulyono
Abdurrahman, Pendidikan Bagi Ank Barkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka Cifta,
2003), hal. 252.
Lie,
Charlie. 2005. Jadi Penulis Ngetop itu Mudah. Bandung: Nexx Media. Inc.
Yuniawan, Tommi. 2003. No. 2. Peningkatan Kompetensi Menulis melalui Pengembangan Rancangan
Perkuliahan Menulis 2 pada Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Lembaran Ilmu Kependidikan. Semarang Unnes.
Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menulis sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Sukmadinata, Nana
Syaodih. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sumardi & Nur
Anggraeni. 2005. Terampil Berbahasa Indonesia Untuk SMA. Jakarta: Erlangga.
Sardiman. 2000. Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Soemanto, Wasti.
2003. Psikologi Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta:PT.
Rineka Cipta.
Suryabrata, S.
2002. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cifta.
Suriamiharja, Agus, dkk. 1997. Petunjuk Praktis
Menulis. Jakarta: Dekdikbud.
Sardiman. 2000. Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Soemanto, Wasti.
2003. Psikologi Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta:PT.
Rineka Cipta.
W.J.S.
Poerwadarmita. 1990. Kamus Besar Bahasa Indoensia. Jakarta: Balai
Pustaka.


Komentar
Posting Komentar
Komentar