PENGARUH TELEVISI TERHADAP PERILAKU ANAK USIA DINI
PROPOSAL SKRIPSI
TENTANG
PENGARUH TAYANGAN ULTRAMAN TERHADAP PERILAKU
ANAK USIA DINI
A. Latar
Belakang Masalah
Pendidikan anak usia dini merupakan jenjang pendidikan yang sangat penting bagi setiap manusia untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangannya, maka itu dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 14, disebutkan pendidikan awal bagi anak usia dini ditujukan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini juga dimaksudkan untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki seorang anak supaya dapat berkembang dengan baik dan maksimal (Animous, 2010).
Pada usia dini, anak-anak masih memiliki kesempatan untuk dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan dan potensinya, karena dalam usia ini anak-anak masih mudah menerima, mengikuti, melihat dan mendengar segala sesuatu yang dicontohkan, diperdengarkan serta diperlibatkan. Oleh karena itu pendidikan anak usia dini sangat penting dan merupakan pondasi pertama dalam mengembangkan aspek perkembangan anak dalam menghadapi perkembangan selanjutya.
Perkembangan kognitif adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah dan merencanakan masa depan (Desmita, 2009: 97-98).
Senada dengan pendapat Robert Gagne (Slamet Suyanto, 2005:86) menyebutkan dalam teori kognitif bahwa belajar adalah proses memperoleh informasi, mengolah informasi, menyimpan informasi dan mengingat kembali informasi yang dikontrol dalam otak. Salah satu aspek kognitif yang harus dikembangkan dalam perkembangan kognitif anak adalah Memori.
Memori merupakan unsur inti dari
perkembangan kognitif. Dengan memori yang dimiliki, individu dimungkinkan untuk
dapat menyimpan informasi yang di terima sepanjang waktu (Desmita, 2009: 121).
Memori anak usia dini masih sangat bersih dan belum ternoda oleh berbagai
kesalahan kesalahan. Oleh karena itu perlu pemberian rangsangan dan pengetahuan
yang dapat meningkatkan memori anak. Bimo Walgito (2004: 144) mengatakan bahwa,
ingatan merupakan alih bahasa dari memory, disamping ada yang
menggunakan istilah ingatan ada pula yang menggunakan istilah memori sesuai
dengan ucapan dari memory.
Daya ingat adalah kemampuan mengingat kembali data-data yang telah tersimpan didalam memori (Masagus, 2015: 48). Ingatan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksikan kesan–kesan (Sumadi Suryabrata, 2006: 44). Cara yang dapat dilakukan dalam meningkatkan daya ingat ini dengan cara menghafal. Amirulloh Syarbini dan Heri Gunawan, (2014) mengungkapkan bahwa usia golden age atau umrun dzahabiyun ini ditandai dengan tingkat kecerdasan dan hafalanya yang kuat. Oleh karenanya, anak akan sangat mudah menghafal, walaupun ia belum paham sekalipun. Fungsi pendidikan Al-Quran terhadap perkembangan kognitif dan afektif anak secara umum ialah meningkatkan perkembangan moral dan kemampuan anak untuk menghafal Al-Quran sehingga secara tidak langsung akan mengembangkan daya ingat anak.
Menghafal Al-Quran adalah menyimpan kata demi kata di dalam benak dan hati (Dina Y Sulaeman, 2007: 132). Menurut Winkel (Masagus, 2015) ciri khas hafalan adalah reproduksi secara harfiah dan terbentuknya skema kognitif dalam ingatan yang dapat diputar kembali saat dibutuhkan. Memori anak yang masih bersih dan belum banyak menyimpan memori akan lebih mudah dalam menghafal. Kekuatan otak dan daya ingat anak yang sangat luar biasa, akan lebih mudah menangkap dan mengingat materi rangsangan yang diberikan oleh pendidik.
Maimunah Hasan (Muhammad Fadillah dan Lilif Muakifatu Khorida, 2013: 48) berpendapat bahwa pada usia dini, 90% dari fisik otak anak sudah terbentuk. Oleh sebab itu potensi yang ada dalam diri setiap anak dan kemampuan anak sangat penting untuk dioptimalkan. Masa golden age ini sebagai upaya untuk pembinaan, pengarahan, pengajaran serta pembimbingan agar anak memiliki kemampuan yang maksimal.
TK Masyithoh Al-Iman Bandung Jetis terletak di Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. TK Masyithoh Al- Iman Bandung Jetis merupakan sebuah lembaga Islam yang dinaungi oleh Yayasan Muslimat NU Kecamatan Sewon. TK Masyithoh Al-Iman ini merupakan lembaga Islam yang mengedepankan pendidikan karakter yang sesuai nilai-nilai Islam dan budaya. Peneliti melakukan observasi pada saat pembelajaran berlangsung serta wawancara dengan guru kelas di Kelompok B1 TK Masyithoh Al-Iman Bandung Jetis.
Dari hasil observasi yang dilakukan menunjukkan anak yang mengalami kesulitan dalam mengingat hafalannya. Masih terdapat anak yang belum dapat mengulangi hafalan yang diberikan oleh guru sampai tiga kali pengulangan. Masih banyak anak yang tidak bisa urut membacakan dari ayat 1 sampai selesai. Guru masih sering memancing awalan ayat kemudian anak melanjutkanya. Hanya terdapat beberapa anak yang sudah lancar dan dapat membacakan urut sesuai urutan ayat per ayat dalam hafalannya sampai selesai. Ketika guru menunjuk beberapa anak maju kedepan kelas untuk mengulangi dan membacakan hafalannya seperti yang telah dilakukan guru, anak masih banyak yang mengalami kelupaan.
Kegiatan pembelajaran menghafal di TK Masyithoh Al-Iman Bandung Jetis yang berlangsung umumnya dilakukan dengan menggunakan metode mulut ke mulut yang dipimpin langsung oleh guru. Kegiatan lainnya dalam menghafal yang lebih menyenangkan seperti dengan menggunakan kegiatan bermain agar anak tidak bosan sesuai dengan pembelajaran anak usia dini pun tidak ada, guru hanya membaca ayatnya kemudian anak-anak menirukan guru. Hal ini dilakukan secara terus menerus yang menyebabkan anak menjadi bosan dalam kegiatan menghafal yang terbukti banyak anak yang tidak berkonsentrasi dan memilih untuk ramai sendiri saat kegiatan menghafal.
Kegiatan menghafal dilakukan dengan posisi guru duduk di depan dan sekali-kali guru berdiri dengan harapan anak mendengarkan dan menirukan bacaan guru, namun masih ada anak yang tidak terkondisikan dan tidak menirukan bacaan guru. Anak susah dalam berkosentrasi untuk memperhatikan guru. Lebih banyak anak yang ramai dari pada menirukan bacaan guru. Hal ini yang menyebabkan anak susah menyimpan hafalan ke dalam memorinya dan anak kesulitan mengingat dalam pembelajaran menghafal karena kondisi pembelajaran yang tidak nyaman.
Materi hafalan yang diberikan kepada anak juga terlalu banyak, setiap hari guru memberikan tambahan hafalan 3-4 ayat kepada anak. Padahal masih terlihat banyak anak yang belum hafal dengan ayat yang pertama tetapi guru tetap menambahkan materi hafalannya. Dengan banyaknya materi hafalan yang diberikan oleh guru kepada anak setiap hari, akan mengakibatkan anak yang belum lancar menjadi kesulitan mengikutinya.
Dari hasil wawancara dengan guru Kelompok B1, diketahui bahwa kebosanan anak dalam kegiatan menghafal memang sering terjadi. Anak sering ramai dan memilih untuk bermain ketika kegiatan menghafal sedang berlangsung. Terlebih kondisi murid yang banyak dengan hanya satu guru yang menyebabkan suara guru kalah dengan suara anak-anak. Hanya anak tertentu saja yang memiliki hafalan yang sangat bagus. Mengajarkan hafalan kepada anak-anak dengan kondisi yang ramai cukup sulit . Padahal salah satu tujuan TK Masyithoh Al-Iman Bandung Jetis adalah mencetak anak yang hafal banyak surat dalam Al-Quran.
Dewasa ini arus pertukaran informasi demikian komplit, baik itu televisi, surat kabar, handphone yang dihadirkan dalam jenis yang beragam bentuknya, sampai-sampai hampir tidak ada orang yang tidak memiliki alat informasi dimaksud. Adanya media tersebut memang sangat membantu pertumbuhan ilmu pengetahuan, sebaliknya justru membuka peluang pergeseran nilai-nilai kehidupan dari positif menjadi negatif. Namun jika semua media televisi yang hadir di “tengah-tengah” kita dapat dimanfaatkan dan digunakan sebagai fungsi sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan maka akan lahir pula nilai positif yang begitu besar di dalamnya.
Televisi, meski awal-awal kehadirannya masih sulit dan sedikit sekali orang yang memakainya, kini sudah menjadi barang yang mudah diperoleh, hampir tidak ada lagi keluarga yang tidak memiliki televis. Seluruh anggota keluarga menikmati berbagai sajian informasi di dalamnya, tontonannya tidak pula sekedar orangtua saja, anak-anak bahkan usia dini sekalipun dilalaikan di hadapan televisi. Beragam tayangan ada di dalamnya untuk menghibur pemirsa, terkadang juga bingung dibuatnya untuk memilih saluran apa. Dalam situasi inilah anak-anak harus menikmati saluran yang tersedia meski ia belum mampu mencernanya dengan sebuah makna pesan-pesan moral dan sosial.
Kelalaian orangtua ternyata tidak sekedar di sini saja, waktu belajar anak juga habis terkuras untuk sebuah tayangan yang tidak mendukung perkembangannya. Padahal Chen (2005:22) menjelaskan bahwa masa usia dini (usia PAUD/TK) merupakan periode yang sensitif bagi anak, karena pada masa inilah anak sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan merupakan pondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Membiarkan mereka di depan televisi sama artinya menghalangi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikisnya sehingga mereka siap melakukan tugas dalam rangka memahami dan menguasai lingkungan di sekitarnya (Chen, 2005:22).
Menurut Hernawati, dkk (2011:477) yang dikutip dari Dwyer menjelaskan bahwa media televisi masa kini mampu merebut 94% saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia, dan orang umumnya hanya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan didengar dari layar televisi, walaupun hanya sekali tayang. Untuk acara yang sifatnya umum orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat dan setelah 3 hari kemudian 65%.
Selain pandangan di atas, ada pula sebuah survey yang menjelaskan bahwa anak-anak menyita banyak waktu di depan televisi dengan berbagai alasan, 91% anak-anak lebih menyukai televisi karena dianggap sebagai media paling menghibur dari pada media lainnya, surat kabar, buletin dan majalah mendapat perhatian 0,8%. Media lain seperti radio tidak menyediakan ruang hiburan secara spesifik untuk anak (Guntarto, 2000:141).
Dikatakan oleh Hernawati, dkk (2011:478) bahwa televisi telah mengubah cara berpikir anak-anak, kondisi ini secara perlahan anak akan menjadi sosok yang sulit berkosentrasi dan kurang perhatian terhadap lingkungan sekitarnya. Jika sering menonton dalam waktu lama sangat dikhawatirkan dimana mereka akan hanyut dalam dramatisasi terhadap berbagai tayangan televisi. Terlebih tayangan yang belum sesuai dengan usianya, anak yang rentan dengan daya kritisnya maka dengan sendirinya anak-anak rentan terpengaruh dengan isi materi di dalamnya.
Harus diakui bahwa, pola menonton televisi bagi anak akan menimbulkan dampak psikologis yaitu, 1) keterampilan anak jadi kurang berkembang, yang seharusnya anak-anak mengalami proses perkembangan yang seimbang dengan segala kemampuannya, 2) rendahnya kemampuan mengemukakan pendapat atau komunikasi, 3) rendahnya kerjasama dengan orang lain, 4) perilaku yang diperoleh dari tayangan televisi akan menjadi karakter pribadinya melalui peniruan (Hernawati, dkk, 2011:478). Maka itu benar sekali dan tidak menjadi heran, bila anak cenderung menghabiskan waktunya dengan televisi akan “sedikit” kasar sifatnya, dan kasar pula cara bahasanya dengan orangtuanya dengan kata-kata kurang wajar.
Menurut Goonasekera (2002:24) menjelaskan bahwa pola komunikasi anak terhadap media televisi dapat dirinci sebagai berikut:
1. Time spent watching TV atau rata-rata waktu yang dihabiskan untuk menonton berdasarkan tiga variabel, yaitu berdasarkan asal usul program, berdasarkan aktegori programnya dan berdasarkan kategori gender,
2. Program yang difavoritkan anak, dan
3. Reasons for watching (or not watching) yaitu variabel alasan menonton.
Sampai di sini jelas bahwa,
televisi itu bukan sebuah alternatif untuk membuat anak memperoleh berbagai
pengalaman dari apa yang dilihatnya. Menurut Astuti (2007:3) ada beberapa dampak yang ditimbulkan dalam acara televesi
terhadap anak-anak, yaitu:
- Dampak kognitif dimana kemampuan seseorang atau pemirsa untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan televisi yang melahirkan pengetahuan,
- Dampak peniruan pada trend actual,
- Dampak perilaku dimana proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang telah ditayangkan acara televisi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan
- Dampak bahasa.
Rasyid
(2009:183) mengutip data penelitian di Amerika Serikat mejelaskan bahwa anak di
bawah dua tahun yang dibiarkan orang tuanya menonton televisi bisa
mengakibatkan proses wiring, yaitu proses penyambungan di antara sel-sel syaraf
dalam otak menjadi tidak sempurna. Menyaksikan televisi sebelum sekolah,
dapat menurunkan daya tangkap anak-anak terhadap pelajaran di sekolah
(Santrock, 2004:129). Hal tersebut tampak benar,
keprihatinan atas muatan isi tayangan televisi membuat anak tidak lagi murninya
dunia anak-anak. Hal ini diperparah dengan keterbatasan kemampuan orang tua (media literacy) dalam mendampingi anak,
bahkan juga akibat kekurang pedulian orang tua.
Menyoal berbagai film untuk usia anak-anak
memang tidak sedikit jumlah, mulai dari Upin dan Ipin yang sudah tidak asing bagi semua orang terutama
Indonesia, kemudian Marsha and the Bear, Doraemon, Shincan, Ultraman, Power Rangers, Tom and Jerry, Dragon
Ball bahkan baru-baru lahir ini tayangan baru yang sifatnya juga
serial/seri seperti film Shiva dan film Monkey and Trunt. Banyak lagi film anak-anak berserial yang
tidak mungkin disebut satu persatu dalam tulisan ini, intinya seluruh bentuk
yang ditawarkan dalam setiap tayangan sebagaimana di atas memiliki gaya, model
dan karakter yang berbeda-beda, ada sifatnya lebih ke permainan, ada yang
sifatnya lebih pada pertualangan dan lain-lain.
Film Ultraman misalnya, memiliki jenis film yang banyak dan berbeda-beda, ada film Ultraman Leo, Ultraman Saga, Ultraman Zero, Ultraman X, dan Ultraman Warior, dari keseluruhannya memiliki bentuk tayangan yang berbeda-beda, namun memiliki sifat yang sama yaitu berpetualang, melakukan perlawanan, beradu fisik dan berperang. Secara umum, film Ultraman adalah sebuah film Tokusatsu dan film Kaiju Jepang, anggota dalam film tersebut adalah anggota-anggota terpilih dari grup idola AKB48 Jepang untuk memerankan karakter Team-U, sebuah tim penyerang monster khusus yang merupakan bagian dari pasukan pertahanan bumi fiksional (diakses melalui situs www.https://id.wikipedia.org/wiki/Ultraman). Flm Ultraman ini secara umum banyak berperan melawan dan menjinakkan monster-monster yang menjadi brutal, juga menghalang monster untuk melukai warga.
Karena film Ultraman memiliki gaya yang sifatnya berperang atau perlawanan, hal ini bukan tidak berpengaruh pada gaya, sikap dan gerakan anak, film ini dalam banyak anak-anak, baik di perkotaan maupun pedesaan ternyata mampu merubah karakter anak-anak. Sebagaimana telah dijelaskan dahulu, ternyata tayangan televisi benar-benar bedampak pada anak, bahkan bedampak negatif. Film Ultraman yang disebut-disebut film yang disukai anak ternyata mampu membawa perubahan pada anak-anak, dimana tindakan yang mereka lakukan mirip dengan apa yang pernah mereka tonton. Perilaku anak-anak awalnya biasa saja, bahkan sifatnya lembut, gerakannya teratur namun beberapa waktu kemudian, perilakunya berubah menjadi lebih agresif setelah sering menonton film Ultraman. Hasil observasi sementara yang dilakukan terhadap kehidupan anak-anak usia TK pada Desa Mesjid Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya, berdasarkan bentuk tontonannya yaitu Ultraman, banyak dari mereka yang terjadi perubahan dimana gerakan-gerakannya menjadi lebih cepat, tangkas, bahkan nyaris tanpa sadar cenderung mau memukul siapa saja yang ada di hadapannya. Sasaran yang menurutnya paling enteng adalah adiknya sendiri, yang baru berusia di bawahnya. Sebenarnya, yang diharapkan adalah seorang kakak mestinya bisa menjaga adiknya, atau paling tidak mereka dapat main berdua.
Oleh karena itu, untuk melihat pengaruh televisi terhadap perilaku negatif anak-anak, maka sangat tepat bila penelitian ini diberi judul “Pengaruh Tayangan Film Ultramen terhadap Perkembangan Perilaku Anak Usia Dini; Suatu Penelitian di Desa Mesjid Kecamatan Trienggadeng Pidie Jaya”.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, maka rumusan maslaah dalam penelitian ini adalah:
- Bagaimana pengaruh
tayangan Ultraman terhadap perkembangan perilaku anak usia dini di Desa
Mesjid Kecamatan Trienggadeng Pidie Jaya?
- Bagaimana upaya mengontrol
tayangan Ultraman agar tidak berpengaruh negatif pada anak usia dini di
Desa Mesjid Kecamatan Trienggadeng Pidi Jaya?
C. Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan penelitian dalam penelitian ini, yaitu:
- Untuk mengetahui pengaruh
tayangan Ultraman terhadap perkembangan perilaku anak usia dini di Desa
Mesjid Kecamatan Trienggadeng Pidie Jaya
- Untuk mengetahui upaya
mengontrol tayangan Ultraman agar tidak berpengaruh negatif pada anak usia
dini di Desa Mesjid Kecamatan Trienggadeng Pidi Jaya
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini
adalah;
1. Bagi orangtua
Bagi orangtua, penelitian ini dapat memberi informasi penting
terhadap pentingnya menjaga dan membimbing anak-anak terhadap sebuah tayangan
televisi terutama yang sifat filmnya mengandung atraksi peperangan, sehingga
orangtua akan menjadi pendamping anak disaat menontong televisi antara yang
dapat diambil sebagai contoh dan yang tidak dapat diambil sebagai gaya dalam kehiudpan
sehari-hari.
2. Bagi guru
Bagi guru, penelitian dapat bermanfaat secara keilmuan
dalam rangka pembinaan anak-anak PAUD dan TK untuk sealu terkontrol dalam
menonton televisi.
3. Bagi sekolah
Penelitian diharapkan dapat memberi konstribusi dalam meningkatkan
kepedulian anak untuk bermain di lingkungan sekitar dibandingkan dengan hanya
menonton televisi.
E. Definisi Istilah
Ada beberapa istilah yang perlu penulis jelaskan
dalam proposal ini, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman pembaca. Adapun istilah tersebut, antara lain:
1.
Pengaruh
Pengertian pengaruh menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2002:849), adalah daya
yang ada atau yang timbul dari suatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau
perbuatan seseorang. Jadi, pengaruh adalah sesuatu yang memiliki pengaruh
terhadap benda atau orang lain baik disengaja maupun tidak disengaja. Sedangkan
televisi adalah tayangan gambar yang dipertontonkan melalui layar kaca yang
berasal dari pusat atau stasiun tertentu untuk dinikmati masyarakat luas.
2.
Televisi
Televisi
merupakan salah media penyampaian informasi dalam bentu suara, gambar dan
tulisan. Televisi merupakan media yang
paling komplit dibandingakan media informasi lainnya. Sedangkan menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:643), televisi
adalah pesawat sistem penyiaran gambar objek yang bergerak yang disertai dengan bunyi (suara) melalui
kabel atau melalui angkasa dengan
menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi
yang dapat didengar digunakan untuk
penyiaran pertunjukan, berita, dan sebagainya.
3.
Perkembangan perilaku
Yusuf (2004:124) menyatakan bahwa perkembangan dapat didefinisikan sebagai deretan kemajuan dari perubahan yang teratur dan koheren. Kemajuan itu ditunjukkan adanya perubahan yang terarah, membimbing ke arah kemajuan, dan bukan mundur. Teratur dan koheren menunjukkan hubungan yang nyata antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului atau mengikutinya.
Perilaku adalah merupakan perbuatan/tindakan dan
perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh
orang lain ataupun orang yang melakukannya. Anak usia dini adalah anak yang
berada dalam rentang usia 0-8 tahun yang tercakup dalam program pendidikan di
taman penitipan anak dalam keluarga (family child care home), pendidikan
pra-sekolah, Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Sedangkan menurut
Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003, anak usia enam tahun (0-6
tahun).
Jadi perkembangan perilaku anak adalah deretan kemajuan perbuatan dan perkataan anak yang dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya.
Pustaka
Alwisol. 2006. Psikologi Kepribadian; Edsisi Revisi.
Malang: UPT UMM
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta
Astuti,
S. Indra dan Gani, Rita. 2007. Penelitian:
Melacak Pola Pendampingan Orangtua terhadap Anak pada Televisi, Bandung:
LPPM Unisba
Chen, Milton. 2005. Mendampigi Anak Menonton Televisi.
Panduan bagi Orang Tua. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Darwanto. 2005. Televisi sebagai Media Pendidikan. Yogjakarta: Pustaka
Pelajar
Guntarto, B. 2000. Growing Up With TV, Singapore: AMIC
Goonasekera, Anura,
dkk.
2000. Growing Up With TV, Singapore:
AMIC
Hurlock, E.B. 2004.
Perkembangan Anak Jilid 1. (terj) Metasari Tjandrasa dan Muslichah
Zarkasih. Jakarta: Erlangga.
http://www.sinar harapan.com.mht/Indonesia peringkat ke-2
dunia kejahtan TI/26 febuary 2017/14.00 WIB
Iriantara, Yosal. 2013. Literasi Media: Apa, Mengapa, Bagaimana. Bandung. Simbiosa Rekatama
Media
Krahe, Barbara. 2005. Perilaku Agresi. YoMegyakarta.Pustaka Pelajar
Latifah. 2014. Analisis Literasi Media Televisi Dalam Keluarga (Studi Kasusa Pendampingan Anak Menoton
Televisi di kelurahan Sempaja Selatan Kota Samarinda). E Journal Ilmu
Komunikasi. Vol 2 No 4, 2014: 259-286
Maswan.,
dkk. 2010. Teknologi Pendidikan Jilid 2. Jakarta: Karsa Manunggal
Indonesia
Moleong, Lexy. 2016. Metode
Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Naeny. 2012. http://indobeta.com/fase-perkembangan-kepribadian-menurut-allport/10368/
Nadzir, Mohd. 2006. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa, Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Rasyid, Syifa. 2011.
Dampak Negatif Media Televisi Terhadap Perilaku Anak. [Online]. Tersedia:
Dampak-Negatif-Media-Televisi-Terhadap-Perilaku-Anak Selsai.htm [diakses 12
Maret 2017].
Riza Hernawati,
Maya Amalia Oesman Palapah. 2011. Televisi
dan Kehidupan Anak. [jurnal] Prosiding SNaPP 2011: Sosial Ekonomi dan Humaira,
Universitas Islam Bandung, ISSN: 2089-3590
Sarwono. 2003. Psikologi Remaja.
Jakarta: Raja Grapindo Persada
Sutisno, 2002. Pedoman Praktis Penulisan Skenario Televisi dan Video,
Jakarta: Grasindo
Toto Djuroto. 2004. Manajemen Penerbitan Pers, Bandung: Roesdakarya
Tri Hartini. Padmi Dhyah Yulianti. 2015. Literasi Media Televisi Bagi Orang Tua :
Upaya Melindungi Anak dari Dampak Negatif Televisi [jurnal] Psychology Forum UMM, Psikologi dan
Kemanusiaan, ISBN:
978-979-796-324-8, Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Semarang
Yusuf, Syamsu.
2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: Rosda Karya
W.J.S.
Poerwadarmita. 2006. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bandung: Roesdakarya
Zakiah Daradjat. 2000. Metode Pembelajaran. Cet. 2, Jakarta: Rineka
Cipta

Komentar
Posting Komentar
Komentar