METODE PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN MODEL PENERAPANNYA
MAKALAH METODE
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN MODEL PENERAPANNYA
A. Latar Belakang
Dilihat
dari segi epistemology, pengambilan keputusan merupakan solusi terbaik didalam
menyelesaikan berbagai macam masalah atau persoalan. Ontologi model dan sistem
merupakan suatu alat didalam menyelesaikan berbagai macam masalah atau
kehendak. Aksiologi mengetahui sebab - akibat terjadinya masalah atau persoalan
untuk ditindaklanjuti.
Taylor (1911) dalam Linstone (1984), memulai “Manajemen
Ilmiah” dengan penelitian bersama pengoperasian Perang Dunia II.
Perang Atlantik memerlukan pencarian kapal selam dan Britania memerlukan
pemvektoran pencegat pesawat terbang dengan menggunakan analisa
matematika. Perang merupakan titik pembentukan sistem-sistem baru dalam
model dengan menandakan tingkat kerumitan yang membutuhkan “analisa sistem”
. Radar, sistem pengatur api, peluru-peluru kendali dan strategi senjata
nuklir dengan kokoh menciptakan analisa sistem. Para peneliti mengembangkan
teori permainan dan analisa keputusan dengan peralatan tehnologi peramal.
Pengembangan Camelot pada Potomac membawa analisa sistem ke
Whasinton. Biaya analisa keefektifan dan sistem perencanaan pemrograman
penganggaran menjadi de ngueur diantara cognocenti dalam
birokrasi.
Pada tahun 1967, Dekan Tehnik Elektro dari Institut Tehnologi Massachusetts
(MIT) menyatakan: Saya meragukan jika ada krisis kota, tetapi jika
ada MIT dapat memecahkan masalah tersebut dengan cara yang dipakai dalam
menangani Perang Dunia II (Thompson, 1971). Pada tahun yang sama anggota
kongres Emilio Q. Daddario memperkenalkan pada kongres H. R.
6698, RUU dibuat untuk mendorong perundingan dalam merumuskan penilaian
konsep tehnologi dan memperkuat proses legislatif dalam bidang kebijakan
tehnologi. Puncak pengharapan pada waktu ditempatkan analisa sistem ditemukan
dalam penelitian Max Ways “Perjalanan Menuju 1977”, dalam Fortune: Kemajuan
dari gaya baru (analisa sistem) adalah perkiraan paling tepat yang
dapat dibuat kira-kira 10 tahun ke depan. Pada tahun 1977, cara baru
untuk meramalkan masa depan yang akan diakui didalam maupun diluar negeri
sebagai sifat-sifat orang Amerika yang menonjol (Ways, 1967 dalam
Linstone, 1984). Rasa optimisme yang dipancarkan oleh Ways didasarkan
pada fakta-fakta dari keberhasilan analisa - analisa terhadap sistem-sistem
teknologi murni dan antisipasi dari penerapan secara luas terhadap pembuatan
keputusan-keputusan berdasarkan sistem-sistem yang bukan tehnologi murni.
Kemudian, sepuluh tahun kenyataan suram telah menggantikan perasaan senang dan
bahagia (Hoos, 1979), era tehnologi dalam pola dominan sangat berorientasi pada
kebanyakan tehnologi dari masalah-masalah yang didefinisikan sebagai tehnik
alami yang diberikan perlakuan bersama dengan mengawasi analisa sistem.
Thompson (1971), mempertimbangkan pendekatan analisa sistem terhadap sistem
masyarakat sebagai kejahatan. Kebiasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi,
pengembangan teori informasi serta transformasi pengelolaan dan kebijakan
menjadi lebih rumit. Teori pengelolaan dapat bermanfaat, tetapi hanya
pada batas-batas tertentu tergantung pada pengelolanya. Kemudian,
pendekatan-pendekatan analisa sistem rasional maupun tradisional merupakan
omong kosong dalam proses penilaian tehnologi (Linstone, 1984).
B. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum adalah untuk mengetahui gambaran pengamblan keputusan pada penepatan personil
b. Tujuan Khusunya adalah :
· Untuk mengetahui pengertian dari pengambilan keputusan.
· Mengetahui beberapa model pengambilan keputusan, mengetahui metode dalam penagmbilan keputusan,
· Menegatahui penerapan metode dalam pengambilan keputusan terhadap penepatan personel.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pengambilan Keputusan
Pengambilan
keputusan (desicion making) adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan.
Keputusan ini diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan pertimbangan
alternatif. Sebelum pilihan dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan
dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi
identifikasi masalah utama, menyusn alternatif yang akan dipilih dan sampai
pada pengambilan keputusan yang terbaik.
Secara
umum, pengertian pengambilan keputusan telah dikemukakan oleh banyak ahli,
diantaranya adalah :
1. G. R. Terry : Mengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah sebagai pemilihan yang didasarkan kriteria tertentu atas dua atau lebih alternatif yang mungkin.
2. Claude S. Goerge, Jr : Mengatakan proses pengambilan keputusan itu dikerjakan oleh kebanyakan manajer berupa suatu kesadaran, kegiatan pemikiran yang termasuk pertimbangan, penilaian dan pemilihan diantara sejumlah alternatif.
3. Horold dan Cyril O’Donnell : Mereka mengatakan bahwa pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif mengenai suatu cara bertindak yaitu inti dari perencanaan, suatu rencana tidak dapat dikatakan tidak ada jika tidak ada keputusan, suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
4. P. Siagian : Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta dan data, penelitian yang matang atas alternatif dan tindakan.
B. Tehnik Pengambilan Keputusan
Adapun
Tehnik pengambilan keputusan itu adalah sebagai berikut :
1. Operational Research/Riset Operasi ; Penggunaan metode saintifik dalam analisa dan pemecahan persoalan.
2. Linier Programming ; Riset dengan rumus matematis,
3. Gaming War Game ; Teori penentuan strategi,
4. Probability ; Teori kemungkinan yang diterapkan pada kalkulasi rasional atas hal-hal tidak normal.
C. Proses
Pengambilan Keputusan
Adapun
proses pengambilan keputusan menurut para ahli adalah sebagai berikut :
Ø Menurut G. R. Terry :
1. Merumuskan problem yang dihadapi
2. Menganalisa problem tersebut
3. Menetapkan sejumlah alternative
4. Mengevaluasi alternati
5. Memilih alternatif keputusan yang akan dilaksanakan
Ø Menurut Peter Drucer :
1. Menetapkan masalah
2. Manganalisa masalah
3. Mengembangkan alternati
4. Mengambil keputusan yang tepat
5. Mengambil keputusan menjadi tindakan efektif
D. Pandangan Dan Batasan dalam Pengambilan Keputusan
Ilmu dan tehnologi menggambarkan kemajuan agama di zaman moderen. Dari Galileo
sampai Apollo Lunar, dari Darwin sampai DNA, paradigma ilmu dan
tehnologi menghasilkan penemuan. Pandangan dunia meliputi sifat-sifat sebagai
berikut:
a) Definisi masalah-masalah yang sifatnya abstrak berasal disekitar dunia, yang mana masalah-masalah dapat diselesaikan.
b) Seoptimisan atau penyelidikan untuk sebuah solusi.
c) Pengurangan sistem pendidikan dalam kurikulum sangat terbatas dan terintegrasi diantaranya.
d) Kepercayaan pada data dan model-model serta kombinasinya, sebagai cara dari pemeriksaan.
e) Banyaknya informasi.
f) Keobyektifan, diasumsikan bahwa ilmuan adalah seorang peneliti dari sistem yang dipelajari (kebenaran berasal dari penelitian).
g) Ketidak pedulian atau pengucilan individu.
h) Pandangan waktu gerakan sebagai garis lurus (penerimaan menyeluruh tanpa mempertimbangkan perbedaan resepsi).
Penerapan matematika dan tehnologi telah lama
digunakan sebagai alat oleh ilmuwan dan sifat-sifat evolusi dapat terorganisir.
Dengan memakai perancang sistem yang baik dalam analisa perangkat keras dan
lunak. Model struktural dan sistem dinamis diilustrasikan seperti
alat-alat (Linstone, 1984).
Memperbesar pengaturan
semua sistem masyarakat dan masalahnya yang mengartikan sebagai “man on the
moon” (Hoos, 1979). Dengan meletak seorang pria dibulan, kekosongan dapat
diisi oleh:
1. Kurangi kejahatan dikota-kota,
2. Kembangkan transportasi umum,
3. Lepaskan kemisknan,
4. Menawarkan persaingan kepada jepang dalam mobil dan baja,
5. Menyediakan lapangan kerja.
Ø
Masalah dan Pandangan Solusi
Jika berbicara mengenai “masalah” , telah memikirkan solusinya. Dengan
menghadirkan masalah jika ada solusinya, dimana setiap solusi baru
diciptakan oleh tehnolgi. Fasilitas kesehatan dapat mengurangi kematian tetapi
dapat juga meningkatkan jumlah penduduk yang semakin padat, Mengenalkan
kebiasaan di Eropa dan Afrika memproduksi makanan pada waktu jangka pendek. Hal
ini dapat diungkapkan bahwa lebih baik menghindarkan masalah dari pada
menyelesaikan masalah.
Ø
Optimasi atau Pencarian Solusi Terbaik
Biaya analisa keuntungan dan pemrogaman linear adalah ciri khas pencarian
solusi optimal. Hal ini biasanya timbul sebagai suatu kejutan pada penggunaan
pola sistem penempatan yang kompleks tidak diatur sendiri dengan prinsip
optimasi. Holling (1977), sistem ekologi mengurangi kesalahan untuk
kegagalan dalam perdagangan, dengan bertahan dari kesalahan dalam menemukan
cara biaya kesalahan daripada tetap berada dalam suatu kesalahan. Dengan
berkesempatan untuk memaksimalkan kebebasan daripada membatasi menyeleksi yang
terbaik. Evolusi menunjukkan bahwa strategi perlindungan kesalahan adalah sudah
menjadi sifat dunia dengan waktu yang tidak dapat diramalkan.
Ø
Pengurangan
von Foerster (1972), penemuan pertama tentang proses reduksi. Dimana masalah
yang lebih kompleks yang tidak dapat dipecahkan, salah satu cara adalah dengan
mengubah kepopularitas dan kesuksesan. Jika sistem kompleks disederhanakan
dengan membagi kedalam subsistem, bila tidak dapat menemukan subsistem dapat
mengurangi sistem terlebih dahulu. Kemudian masuk pada masalah yang dapat
dipecahkan.
Pemodelan adalah dasar utama yang tidak dapat dipungkiri dan meresap kedalam
sistem yang kompleks tapi sederhana untuk menjelaskan analisa. Penggunaan
rata-rata (mekanika statistik dalam fisika, pendapatan produksi / kapita dalam
ekonomi) dan probabilitas (kesalahan struktur resiko pada kesehatan) mempunyai
sistem latihan dengan elemen yang sangat luas.
Ø
Kepercayaan Pada Data dan Model
Sebuah refleksi dari pengurangan reduksi terhadap prospek pemaksaan ilmu
pengetahuan dan teknologi kemodel-model yang telah ditetapkan (Churcman, 1977):
a) Lockean-empirical, persetujuan observasi data secara jujur sangat diutamakan dan tidak ada pengakaran dalam setiap pertimbangan keputusan.
b) Leibnizian-model formal, penjelasan teori dari kebenaran hasil analisa dari semua data-data asli.
c) Kantian-model teoritis dan satu data empiris dengan lainnya tidak dapat terpisahkan, kebenaran adalah sintesa, model multipel menghasilkan Sinergism.
Segi keuntungan pada strategi pengelolaan mencermin kecendrungan yang sama dengan perencanaan kebijaksanaan perusahan. Penggunaan kurva sederhana dalam penyebaran ekonomi menunjukkan pengaruh besar terhadap modal sebagai sumber pengertian dalam proses ekonomi. Kurva menunjukkan adanya optimalisasi tarif pajak yang merupakan salah satu pemasukan pemeritah.
Tujuan bentuk model dengan mudah menuntun berbagai pemikiran kelompok, sebagai
sistem dinamis atau bentuk pemasukkan, pengeluaran proliperates dan
jumlah model multi play, konfirensi, surat, dan buku yang menciptakan
suatu komunitas. Model menjadi kenyataan terhadap kemampuan komputer tapi
membingungkan terhadap kemampuan untuk menyajikan system sucio technical
complex. Pembahasan ini menimbulkan perbedaan antara dua pendekatan:
a) Berusaha menggambarkan socio tehnikal secara kompleks dengan mengubah kedalam bentuk matematika, misalnya; simulasi dengan menggunakan skala besar, komputerisasi beberapa bentuk model.
b) Mencari model abstrak dalam membantu jalannya pikiran, menyatakan petunjuk yang mungkin atau memperlihatkan beberapa aspek dari jalannya sistem atau kebiasaan dengan cara yang berbeda.
Tujuan model masa depan yaitu:
a) Teori keseimbangan dengan objektifitas.
b) Pemecahan suatu masalah bukan dengan mengaplikasikan metodologi.
c) Membuat bentuk yang sangat sederhana.
Ø
Perhitungan
Pada zaman Junani kuno Phytagoras mencoba menemukan atau mencari ekspresi
matematika dengan menempatkan pada manusia yang tidak bergerak. Pada saat ini komputer
menjadi suatu instrumen yang ideal untuk melaksakan perhitungan. Gress Hams
menyatakan bahwa kualitas analisis cenderung menghasilkan analisa
berkualitas. Selanjutnya, Zadeh Fuzi (1965) dalam Linstone (1984)
, menempatkan teori dengan mengembangkan kualitas dari setiap kuantitas dengan
menggunakan format dalam komputer.
Mengukur atau menghitung ukuran rumah, lapangan, tanah dengan satuan yang
dinamakan “feet” merupakan sesuatu yang tidak dapat diterima karena
bukan ukuran standar. Tversky dan Kahneman (1974) menyatakan bahwa
penyelesaian yang berhasil, seperti: membuat suatu produk baru, keseimbangan
mempunyai sebuah karakter yang konjungtif dalam menciptakan keberhasilan,
setiap detail peristiwa harus diperhatikan.
Ø
Objektivitas
Pemeriksa publikasi ilmiah dan tehnologi menyukai cara tradisional dengan
menggunakan orang pertama tunggal atau jamak. Pengarang dilarang menggunakan
pemakaian kata-kata yang terlalu banyak dan sukar dengan membuang saya atau
tidak dalam tulisannya, karena dinodai dengan subjektivitas. Paling tidak
asumsi dari objektivitas pada bagian ilmiah dan tehnologi menyatakan lebih
sering sebagai mitos. Churchman (1977), menulis
tentang ilmu sosial yaitu salah satu mitos yang paling tidak masuk akal dari ilmu
pengetahuan sosial adalah “objektifitas” yang terjadi dalam hubungan
antara ahli ilmu pengetahuan dan orang-orang yang ditinjauannya.
Dengan dapat berdiri sendiri dan meninjau secara objektif bagaimana seseorang
berprilaku , bagaimana sikap mereka, bagaimana mereka berpikir, bagaimana
mereka memutuskan. Sebuah pengamatan adalah objektif jika hal tersebut
ditempatkan dalam pemikiran dari seseorang pengamat yang tak
berprasangka. Untuk mengukur objektifitas dalam pengertian tradisional
adalah ilmu fisika dengan pelajaran tentang ilmu bulan Apollo.
Objektifitas tidak dapat terjadi dalam hubungan antara ahli ilmu pengetahuan
sebagai peninjau dan orang yang ditinjaunya (Forrester,
1971).
Ø
Pengabaian
Adam Smith terhadap biarawan barat, perhatian dinyatakan melebihi bahaya dari
pengabaian perorangan dan kehilangannya dalam kumpulan pandangan. Smith berkata
200 tahun yang lalu yaitu: Sistem dari seseorang memperlihatkan gambarannya
yaitu mengatur anggota yang berbeda dari suatu perkumpulan besar dengan semudah
tangan mengatur bagian yang berbeda di atas papan catur. Dengan memikirkan
bagian-bagian di atas papan catur yang tidak memiliki prinsip gerak yang
berbeda, dimana percaturan besar dalam kemasyarakatan manusia mempunyai sebuah
prinsip gerak dari kepemilikan bersama (Schneider, 1948 dalam Linstone,
1984).
Model ekonomi harus mengumpulkan beberapa hal, dimana salah satu hal yang
dikumpulkan adalah anda. Dalam skala besar anda dikelompokkan dalam kelas-kelas
besar. Dengan pandangan tentang keunikan individu, hal ini tidak
memperhitungkan beberapa banyak orang atau beberapa orang (Churchman, 1977).
Ø
Persepsi Waktu
Pandangan dunia ilmu pengetahuan dan tehnologi memperhatikan fisika-waktu
antariksa, dimana waktu sebagai dimensi atau variabel penting dalam menggenggam
sistem dinamik-dinamik. Penghancuran memaksakan kepada teori realita, dengan
memandang tentang perubahan waktu terhadap kecepatan pengamat dalam sebuah
dunia Einstein. Penawaran ekonomis sebagai sebuah potongan nilai untuk masa
depan dolar agar mempengaruhi nilai sekarang.
Setiap individu memiliki konsep waktu pribadi, dimana masa depan seseorang
diperuntukkan dengan gaya hidup Spanyol, dengan penempatan kebutuhan Maslow dan
mempertimbangkan individu yang lainnya. Ukuran waktu telah menjadi lawan asas
yang besar terhadap dunia moderen, kata-kata dan gambaran-gambaran dikirim
dengan segera, tetapi konteks dan arti tidak datang melalui kesan yang
samar-samar dengan menciptakan penyesuaian diri lebih lambat dan sulit (New
York Time, 28 Desember 1979).
E. MODEL
Menerima model ganda memerlukan
kesungguhan menilai secara intelektual dalam soal pengalaman dunia dan
kedewasaan. Dalam matematik, pada abad ke 19 petualangan Euclidean,
Riemannian, dan Geometri Lobacchevskian, dimana Antropologi ini menggunakan
tiga model, yaitu kebudayaan, masyarakat, dan perseorangan (Kluckhom dan
Mowrer, 1944 dalam Linstone, 1984). Dalam pendidikan sosial, model ini
berdasarkan “penelitian campuran” pada politik dan sistem pendekatan untuk
membuat suatu keputusan.
Religius, sebagai awal dari ilmu harus tetap bertahan pada satu pendapat yang berdasarkan kekuasaan. Adanya kekuatiran pada pandangan yang lain, hal ini tercermin pada pemeriksaan berdasarkan pengucilan oleh pihak cendekiawan dan tehnik penganiayaan yang lain.
Ø
Model Allison
Allison (1969 dan 1971), menggunakan tiga model dalam menguji krisis misille Cuba: Model I, pemain yang paham; Model II, proses organisasi; dan Modell III, birokrasi politik.
Model I dan II dapat menjadi dasar ilmu pengetahuan yang nampak pada era
1950-an dan 1060-an. “Pendidikan” RAND dan murid yang dihasilkan merupakan
pelajar yang rasional sesuai dengan buku dan pengalaman, hal ini dialami
oleh Dror (1968) ; Quade dan Boucher (1967). Model proses
organisasi digambarkan secara garis besar oleh sekolah organisasi pembuat
keputusan Simon-March. Allison banyak mengambil bagian-bagian model
II dari Cyert dan March (1963) dalam Linston (1984), dimana meneliti
bagaimana reaksi dampak yang dominan terhadap ekonomi pada aktivitas perusahan
yang semata-mata merupakan penggerak dari pasar. Sebagai alternatif,
menggunakan “proses utama” sebagai aturan struktur dalam menjalankan
perusahaan. Keuntungan hanya dapat diperoleh berdasarkan keputusan bisnis,
dimana keberhasilan dicapai melalui tawaran dan kesepakatan diantara sebagian
besar sub unit dalam berorganisasi dan memaksimalkan keuntungan merupakan suatu
keharusan. Berdasarkan teori ekonomi yang berlaku pada perusahaan, pembuat
keputusan beranggapan bahwa menyelesaikan masalah, memecahkan karakteristik
dengan tidak menyelesaikan informasi akan lebih banyak condong kepada pandangan
organisasi.
Ø
Teori Steinbruner
Steinbruner (1974) mengemukakan teori pemeriksaan keputusan dengan berdasarkan
hasil penelitiannya terhadap aplikasi dari bermacam-macam teori terhadap suatu
keputusan mengenai berbagai usulan untuk NATO. Selanjutnya, tertarik pada
segi analisis politik dengan membatasi tiga pandangan terhadap paradigma yang
terpisah, yaitu: perhitungan atau analisis, pemeriksaan dan pengamatan.
Paradigma analisis menjelaskan penelitian operasi atau proses sistem analisis
yang mengevaluasi alternatif dan penjelasan keputusan dengan ukuran yang
tepat. Sering sebuah model dapat diartikan dengan sebab akibat. Paradigma
pemeriksaan, dengan melihat sistem konsep ketehnikkan dari mekanisme servo atau
umpan balik yang otomatis sebagai suatu perbedaan yang mendasar dalam
pengambilan keputusan. Kritikan yang sederhana dalam permasalahan yang kompleks
atau rumit menunjukkan pengurangan variasi dan membatasi hal-hal yang tidak
menentu. Paradigma pengamatan, pengelolaan informasi dilakukan secara langsung
dengan persamaan ingatan, ketepatan, kenyataan, kesederhanaan dan kemantapan
sebagai dasar untuk proses informasi mental.
Ø
Pandangan Anderson
Anderson (1977), melaksanakan perluasan kebijakan dari pendidikan khusus, dimana simulasi sistem dinamik disusun sebagai sebuah elemen dari suatu usaha. Selanjutnya, memeriksa dampak dari model atas keputusan dengan menggunakan proses pemikiran, pengorganisasian dan pemeriksaan pandangan. Selanjutnya, mengambil pandangan rasionalnya langsung dari model satu Allison, pengorganisasian pandangannya serupa dengan model dua Allison dan pandangan kesadarannya dari pradigma kesadaran dari Steinbruner. Kemudian, menulis tentang pertanyaan mengenai, ”harus seperti apakah pandangan itu”. Calon yang paling aktif adalah model politik birokrasi, model politik murni atau sebuah model kesadaran, dimana perincian dari permasalahan membantu dalam membuat pilihan.
Anderson (1977), jika sepakat bersama, perspektif yang diciptakan atas dasar
model yang digunakan dengan birokrasi dapat lebih tepat (lengkap) dan menghasilkan
pengertian yang mendalam tentang suatu waktu.
Ø
Sumber Yang Lain
Pokok azas persamaan antara satu atau beberapa macam perspektif terhadap
pemikiran disampaikan oleh Berlin (1967) dalam Linstone (1984)), dengan
judul makalah “Landak dan Rubah” yang diambil dari syair Yunani “Rubah
tahu tentang apapun tetapi Landak lebih banyak tahu”. Dengan
meneruskan pada pilihan terhadap satu sisi yang menceritakan tentang satu
pandangan, satu sistem atau banyak yang masuk akal pada saat dia mengerti,
memikirkan dan merasakan kesatuan. Didasari atas tidak adanya moral atau
prinsip kepercayaan, ini hanya tinggal kehidupan dalam melakukan atau
menyediakan ide yang beraturan kearah cerita yang sentripetal dengan berjalan
pada berbagai tingkat. Harrison (1975), menyatakan bahwa
kebutuhan-kebutuhan untuk sebuah perspektif multi media meliputi 4 aspek yaitu:
a) Menggambungkan dengan menekankan beberapa taraf yang tidak dapat dipisahkan didalam proses total,
b) Antar cabang ilmu pengetahuan dengan menekankan penyatuan disiplin kuantitatif dan ilmu pengetahuan sosial (berhubugan dengan tingkah laku manusia, seperti sosiologi, antropologi atau psikologi) berpengaruh terhadap lingkungan,
c) Menghubungkan satu sama lain dengan menekankan keterbatasan dan ketidakleluasan yang ditentukan oleh kedua pembuat keputusan serta merupakan pilihan yang memuaskan,
d) Hubungan timbal balik dengan menekankan kesangkutpautan pembuatan keputusan di semua fungsi-fungsi manajer dengan menekankan pada fakta-fakta dalam perencanaan dan kontrol.
F. Illustrasi Pengambilan Keputusan Terhadap Sektor Umum
Dengan mengintervensi dalam
perjuangan Vietnam, Amerika Serikat telah mencoba untuk menyesuaikan strategi
globalnya yang anti komunis. Pertama dengan mempertimbangkan sektor
umum dengan illustrasi mencakup dari perang sipil hingga tahun 1980 an,
pemerintahan lokal ke pemerintah nasional, tehnologi sederhana ke sistem yang
canggih.
1. Tehnologi Militer dan Keputusan Wilayah Nasional
Perspektif tehnologi telah digunakan
secara luas dalam memperkirakan dan menilai tehnologi militer sejak perang
dunia kedua. Studi ini juga telah dilakukan atas pengaruh persenjataan baru U.S
terhadap strategi Soviet. Terdapat tiga inovasi dalam tehnologi militer
dan mempelajari arti penting dari perspektif organisasi dan personal:
a. Pengenalan tentang kapal baru dalam
Angkatan Laut Amerika Serikat,
b. Pengenalan tentang persenjataan baru
dalam Angkatan Darat Amerika Serikat,
c. Pengenalan senjata nuklir dalam
suatu peperangan oleh Pemerintah Amerika Serikat.
Dalam
tahun 1868 Angkatan Laut Amerika Serikat telah memesan Kapal Perusak “ The
Wampanoag” bertehnologi tinggi dan berbobot 4200 ton dengan kecepatan
17 knot. Penggunaan persenjataan M 16 sebagai standar persenjataan bagi
Angkatan Darat Amerika Serikat pada tahun 1960 an. Sikap (kebijakan) Angkatan
Darat Amerika Serikat (organisasi) menunjukkan pada sikap konsistensi dalam
menghadapi penemuan tehnologi maju. Tindakan tersebut dalam
mempertahankan posisinya. Persenjataan adalah sistem yang paling dasar di
Angkatan Darat. Oleh karena itu, keputusan-keputusan untuk menggantikan M
16 merupakan hal yang sangat serius. Sejak Perang Sipil, sejarah
persenjataan Angkatan Darat Amerika Serikat telah menjadi sesuatu yang sangat
menarik, menunjukkan aspek-aspek tehnologi, organisasi, dan personal.
Misalnya, dalam proses pengambilan keputusan penggunaan M 16, didasarkan pada
analisis yang dilakukan Fallows (1981) dalam Linstone (1984) dan
didiskusikan dengan Departemen Pertahanan.
Keputusan
untuk menggunakan Bom Atom. Illustrasi ini berkaitan dengan penemuan yang
paling berpengaruh dalam tehnologi militer, apakah menggunakan atau tidak Bom
Atom dalam pertempuran. Perspektif tehnologi dominan, namun didukung
perspektif organisasi dan perspektif personal dalam proses pengambilan
keputusan. Dari uraian diatas, terlihat bahwa proses pengambilan
keputusan dalam persenjataan militer Amerika Serikat dapat dijelaskan melalui
perspektif tehnologi, organisasi dan personal.
2. Krisis Lokal
Mt.St. Helen, salah satu gunung
berapi yang tidak aktif di Negara Bagian Washington USA, menunjukkan
tanda-tanda aktif dalam bulan maret 1980 dan sepenuhnya aktif dengan letusan
yang dramatis pada tanggal 18 maret 1981. Puncak gunung tersebut telah berubah
dari ketinggian 9.700 feet menjadi 8.300 feet. Jumlah
energi yang dikeluarkannya setara dengan 500 kali sewaktu Bom Atom diledakkan
di Kota Hirosima. Lebih 44.000 acre (1 acre = 0,4646 ha)
pohon tumbang serta aliran lahar dan lumpur ledakan gunung tersebut telah
menyebabkan kerusakan yang luar biasa dan lebih dari 60 % penduduk telah
dilaporkan meninggal dan hilang serta kegiatan sporadis dari ledakan gunung
berapi tersebut terus berlangsung.
a. Perspektif tehnologi
Menurut sejarah, Korp Jeni Angkatan Darat Amerika Serikat telah ambil bagian dalam pengendalian banjir dengan cara pemecahan struktur, yaitu membangun bendungan dan tanggul – tanggul atau dermaga serta pengerukan saluran sungai. Mengingat ledakan 18 mei yang tiba-tiba dan dahsat, tindakan-tindakan struktur oleh suatu Korp Angkatan Darat adalah tindakan yang dapat dilakukan dalam jangka pendek.
b. Perspektif organisasi
Berbagai
perwakilan yang memegang peranan penting ikut ambil bagian, antara lain: The
U.S. Forest Sevice, the U.S. Geological Survey (USGS), Federal
Emergency Management Agency (FEMA). Menarik sekali bahwa perspektif
organisasi mempengaruhi atau menjawab pertanyaan-pertanyaan organisasi dan
tehnologi. Sebagai contoh, U.S. Forest Service dan USGS terus
menerus berebeda pendapat terhadap perkiraan endapan.
G.
Metode-Metode Pengambilan Keputusan
1.
Metode Pengambilan Keputusan Secara
Ilmiah
a) Pembuatan Keputusan
Pembuatan keputusan adalah suatu
proses di mana serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masalah
tertentu. Pendekatan dalam pembuatan keputusan ini di bagi tiga antara lain:
·
Pendekatan
Konvensional
Pendekatan Konvensional disebut jiga
sebagai pendekatan tradisional atau pendekatan untung-untungan. Yang dimaksud
pendekatan ini adalah bahwa pembuat keputusan dalam membuat keputusan terhadap
suatu persoalan mendasarkan diri kepala tindakan-tindakan yang di zaman lampau,
jadi selalu mendasarkan dirinya atas tradisi.
Disini pengalaman pembuatan
keputusan memegang peranan penting. Pendekatan ini yang paling banyak
digunakan, akan tetapi tingkat efektivitas paling kecil.
·
Pendekatan
Sistematis
Pendekatan sistematis dapat
dikatakan sebagai pendekatan antara pendekatan tradisional dengan pendekatan
ilmiah. Di sini, pembuatan keputusan dalam membuat suatu keputusan untuk
memecahkan masalah yang dihadapinya, bukan saja mendasarkan diri pada
pengalamannya, tetapi juga pada pengalaman orang lain yang menghadapi masalah
serupa. Apa yang dipergunakan oleh orang lain dengan berhasil baik, dipedomani
dan dipraktekkan.
·
Pendekatan
Berdasarkan Ilmu pengetahuan (Ilmiah).
Pendekatan ilmiah dalam pembuatan keputusan ini tidak hanya semata-mata menerima suatu cara oleh karena cara itu di waktu yang lampau telah dipakai dengan hasil baik, melainkan menetapkan dengan seksama persoalan-persoalan yang dihadapi, membuat suatu patokan sebagai pegangan untuk bekerja, mengumpulkan bahan-bahan untuk mencapai cara pemecahan sementara, dan memeriksa kembali cara pemecahan tersebut. Dengan demikian, pembuatan keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan (ilmiah) itu adalah suatu cara yang berupa pemeriksaan dan analisis yang logis, yang membawa kepada suatu rencana yang efektif.
Langkah-langkah
Dalam Pembuatan Keputusan Dengan Pendekatan Ilmiah adalah :
1.
Get
the facts (cari fakta)
2.
Analize
the facts (analisis fakta
yang diperoleh)
3.
Consider
the objectives in the light of the availability facts, and (tentukan tujuan berdasarkan fakta yang
tersedia)
4.
Decide
(buat keputusan)
Hakekat
Pembuatan Keputusan Secara Ilmiah adalah sebagai berikut :
1. A great mental revolution, revolusi mental yang maha besar, karena menyangkut mental pembuat keputusan dan pihak yang merasakan dampak dari keputusan.
2. Penerapan ilmu pengetahuan untuk menghilangkan sistem coba-coba pada setiap pembuatan keputusan atas persoalan yang dihadapi.
3. Kondisi dalam Pembuatan Keputusan
a. Kondisi KEPASTIAN (Certainty)
· Para pembuat keputusan mengetahui apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang, karena tersedia informasi yang akurat, terpercaya, dan dapat diukur sebagai dasar keputusan. Dalam kasus ini, situasi di waktu mendatang adalah dapat diperkirakan dengan pasti.
b. Kondisi RESIKO (Risk)
· Para pembuat keputusan mengetahui besarnya probabilitas setiap kemungkinan hasil, tetapi informasi lengkap tidak tersedia.
c. Kondisi KETIDAKPASTIAN (Uncertainty)
· Para pembuat keputusan tidak mengetahui besarnya probabilitas atau bahkan tidak mengetahui kemungkinan hasil-hasil. Kondisi ketidakpastian pada umumnya menyangkut keputusan-keputusan kritis danpaling menarik
· Pembuatan keputusan dalam kondisi ketidakpastian dapat dilakukan lebih tepat dengan menggunakan metodametoda kuantitatif (yang ilmiah) untuk mengantisipasi dan memperkirakannya.
b)
Metode Pengambilan Keputusan secara
Klasik
Cara-cara
ini bisa dibilang cara internasional atau nasional karena banyak dipakai di
banyak negara atau daerah dan juga sering muncul di layar televisi. Berikut ini
adalah beberapa tehnik memecahkan masalah dengan sistem peluang :
1. Suit
Lokal
Suit
lokal adalah suatu teknik penyelesaian masalah antara dua belah pihak dengan
cara mengadu tebakan jari di mana seseorang atau salah satu pihak dapat menang,
kalah maupun seri. Suit dilakukan secara serentak baik dengan aba-aba maupun
langsung tanpa ada aba-aba. Suit ini dilakukan dengan cepat dan berbarengan
atau serentak dalam menurunkan tangan dan mengeluarkan tebakan jari.
Dalam
swit lokal, jari yang dipakai adalah jari jempol, jari telunjuk dan jari
kelingking. Jari jempol diartikan sebagai gajah, jari telunjuk sebagai orang
atau manusia, sedangkan jari kelingking diibaratkan sebagai semut.
Sistem menang kalahnya adalah gajah menang melawan orang, orang menang melawan semut dan semut menang melawan gajah. Dua tebakan suit yang sama menghasilkan seri atau draw / even.
2. Suit Jepang dan Amerika / Internasional
Secara umum tehnik permainan suit lokal dengan internasional tidak jauh berbeda cara pelaksanaannya. Yang berbeda hanyalah pada jari tebakan yang diganti dengan bentuk-bentuk jemari yang disesuaikan serta dibentuk menyerupai ibaratnya.
Di sistem ini jari diganti dengan bentuk jari-jari yang menyerupai kertas, batu dan gunting. Kertas menang melawan batu, batu menang melawan gunting dan gunting menang melawan kertas. Dua tebakan yang sama dianggap seri.
3. Metode Gambreng
Gambreng adalah metode penyelesaian masalah untuk menentukan satu atau beberapa pihak dari tiga atau lebih pihak yang hendak dicari pemenang atau yang kalah tergantung kesepakatan awal. Setelah didapat dua kandidat sisa yang berseteru dapat digunakan metode lain untuk menentukan satu pemenangnya.
Cara gambreng mirip dengan suit tetapi dapat dilakukan oleh tiga orang atau lebih. Gambreng hanya ada dua pilihan yaitu memilih tebakan telapak tangan menghadap ke bawah atau menghadap ke atas. Sebelumnya ditentukan terlebih dahulu pemenangnya apakah pihak yang lebih banyak tebakannya sama dengan pihak lain atau yang lebih sedikit.
Setelah gambreng dilakukan maka akan terdapat pihak yang memilih telapak ke bawah dan ke atas. Selanjutnya sesuai dengan kesepakatan siapa yang menang, pemenangnya diputuskan. Pemenang bisa pihak yang lebih sedikit atau yang lebih banyak tebakannya keluar. Lalu yang kalah atau yang menang dikeluarkan dari gambreng sesuai kesepakatan awal. Begitu seterusnya hingga didapat dua pihak yang dinyatakan sebagai kandidat pemenang atau yang paling kalah / jaga lagi-lagi sesuai dengan kesepakatan awal.
4. Metode Lidi
Dengan Cara ini dapat dipilih beberapa pihak dari banyak pihak dengan masing-masing pihak memilih lidi-lidi yang berada di tangan seorang pihak yang jujur. Satu atau beberapa lidi diberi tanda atau dipatahkan sedikit sehingga menjadi berbeda dari lidi-lidi normal yang lain. Orang yang memegang lidi yang akan diambil masing-masing pihak memegang lidi dengan semua bagian atas yang nampak tampak sama dan serupa namun di bagian bawah yang tertutup telapak tangan ada satu atau lebih lidi yang ditandai. Si pemegang lidi mendapat lidi yang terakhir setelah semua pihak mengambil jatah 1 lidinya. Pihak yang mendapat lidi bertanda akan keluar sebagai yang terpilih baik untuk kalah maupun menang sesuai kesepakatan awal.
5. Cara Kartu
Kartu yang biasa digunakan adalah kartu remi dengan masing-masing pihak memilih kartu yang menghadap ke belakang dan telah dikocok atau terkocok dengan baik. Orang yang mendapatkan kartu yang tertinggi keluar sebagai pemenangnya.
6. Cara Dadu 6 (enam) Sisi
Mirip dengan tehnik kartu, tehnik ini menggunakan dadu di mana yang menjadi pemenang adalah yang mendapat angka dadu tertinggi. Setiap pihak melempar dadu secara bergiliran. Pihak-pihak yang mendapat nilai dadu yang sama dan sama-sama tertinggi dibanding pihak lain, dilakukan tanding ulang.
7. Teknik Voting
Voting adalah memilih pemenang dari kandidat-kandidat yang ada oleh orang-orang yang memiliki hak ikut serta dalam voting. Yang memiliki hak suara voting memilih kandidat yang dijagokan, dan hasilnya dihitung. Kandidat yang mendapat suara voting tertinggi dialah yang layak manjadi pemenangnya. Contoh : pemilu, pilkada, memilih ketua kelas, dll.
8. Cara Undian
Seperti yang kita tahu, undian mirip dengan arisan ibu-ibu dengan mengocok nama-nama kandidat dan nama yang dikeluar setelah di dikocok adalah pemenangnya. Contoh : arisan, undian kartu pos, dan lain-lain.
H.
Penepatan Personel atau Staf
Menurut kamus besar bahasa Indonesia
staf mempunyai arti yaitu, sekelompok orang yang bekerja sama, saling membantu
seseorang dalam mengelola sesuatu, dan staf juga merupakan bagian dari
organisasi yang tidak mempunyai hak memberikan perintah, tetapi staf juga
mempunyai hak membantu pimpinan untuk memberikan nasihat atau saran dan
sebagainya.
Adapun penepatan personel atau staf itu disesuaikan
sebagai berikut :
a. Penepatan staf atau personel
disesuaikan dengan struktur organisasi. Konsep ini berkaitan erat dengan
terminologi personel atau staf yang berasal dari meliter yang juga berkembang
pada abag ke 19 (hanafiah, H dan Suwaris, 2008)
b. Dalam konteks lembaga pendidikan
dikenal dengan pegawai, oleh sebab itu personel disekolah meliputi unsur guru,
(tenaga pengajar), unsur karyawan (tenaga administrasi). Secara lebih terprinsi
dapat disebutkan seluruh personel sekolah yaitu, kepala sekolah yaitu, kepala
sekolah, guru, pegawai tata usaha, dan pesuruh atau penjaga sekolah.
Konsekuensi logis menajemen personel adalah sebagai
berikut :
Ø Mengembangkan perencanaan pendidikan
dan prioritasnya di dalam kerangka acuan yang di buat pemerintah;
Ø Memonitor dan evaluasi setiap
kemajuan yang telah dicapai;
Ø Menyajikan laporan pertanggung
jawaban terhadap perkembangan performannya (sebagai wujud akuntabilitas
terhadap steakholders)
Ada beberapa prinsip dasar yang harus dipegang kepala
sekolah dalam menerapkan manajemen personalia, yaitu :
Ø Dalam mengembangkan sekolah, sumber
daya manusia komponen yang sangat berharga;
Ø Sumber daya manusia akan berperan
secara optimal jika dikelola dengan baik sehingga mendukung tercapainya tujuan
institusi/lembaga sekolah.
Ø Kultur dan suasana oragnisasi di
sekolah, serta perilaku manajerial kepala sekolah sangat berpengaruh terhadap
pencapaian tujuan pengembangan sekolah;
Ø Manajemen personalia disekolah pada
prinsipnya mengupayakan agar setiap warga (guru, staf administrasi, siswa,
orang tua siswa dan staf administrasi, siswa, orang tua siswa dan yang terkait)
dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan sekolah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun
yang dapat disimpulkan dari sub bab diatas adalah sebagai berikut :
1. Pencapai tujuan atau sasaran organisasi sangat di tentukan oleh kualitas pimpinan, khusunya dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang diharapkan oleh organisasi. Oleh sebab itu pimpinan perlu dibantu oleh sekelompok staf atau personil yang berkualitas.
2. Diperlukan kejelian dari pada pemimpin untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dalam penepatan personil yang sesuaikan dengan tuntutan kebutuhan jabatan dalam suatu organisasi.
3. Pengambilan keputusan dapat dibedakan atas model pengambilan keputusan nasional, model pengambilan keputusan klasik, model pengambilan keputusan ilmiah.
4. Suatu metode belum tentu lebih baik dibandingkan metode lain. Setiap metode mempunyai kegunaannya sendiri-sendiri tergantung pada kelompoknya, waktu yang tersedia dan fasilitas yang ada.
5. Penepatan personel harus sesuai dengan kebutuhan, disamping penepatan personel atau staf juga harus melalui tahapan dan proses yang benar sehingga memudahkan administrasi khususnya di dunia pendidikan.
B. Saran
1. Penepatan personel harus berdasarkan rekomendasi dilaksanakan pengujian Fit and Proper Test.
2. Konsep pengambilan keputusan dalam penepatan personel atau staf hendaknya diimplementasikan dalam dunia pendidikan, sehingga akan menghasilkan lulusan yang bermutu.
DAFTAR PUSTAKA
Andersen, D.F. 1977. Mathematical
Models and Decision Making in Bureaucracies:
A Case Story Told from Three Points of View. MIT: Ph.D. Dissertation
Churchman, C. W. 1977. A Philosophy for
Planning, in Futures Research: New
Directions, H. A. Listone and W.H.C. Simmonds, eds. Addison- Wesley
Publishing Co., Reading, Mass.
Forrester, J.L. 1971. World
Dynamics, Wright-Allen Press, Cambridge, Mass.
Hoos, I.R. 1972. System Analysis
in Public Policy: A Critique, Univ. of California
Press, Berkeley, Calif.
Harrison, E.F. 1975. The
managerial Decision-Making Process. Hougton- Mifflin
Co., Boston, Mass.
Holling, C.S. 1977. The Curious
Behavior of Complex System: Lessons from Ecology,
in Futures Research: New Directions, H.A. Listone and W.H.C. Simmonds,
eds. Addision-Wesley Publishing Co., Reading, Mass.
Linstone, H.A. 1984. Multiple
Perspectives for Decision Making. Bridging the Gap
between Analysis and Action, North-Holland.
Steinbruner, J. D. 1974. The
Cybernetic Theory of Decision, Princeton University
Press, Princeton, N.J.
Thompson, W. I. 1971. At The
Edge of History, Harper and Row, New York.
Tversky, A. and Kahneman, D. 1974. Judgement
Under Uncertainty: Heuristics
and Biases, Science 185, 1124-1131.
Von Foerster, H. 1972. Responsibilities
of Competence, J. Cybernet. 2 (2), 1-6.
http://alanmn.wordpress.com/2009/10/17/pengambilan-keputusan-dalam- manajemen/
http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/02201/nurdin_jusuf.htm
http://www.scribd.com/doc/7074489/Pengambilan-Keputusan

Komentar
Posting Komentar
Komentar