MANAJEMEN KONFLIK DALAM ORGANISASI
MAKALAH
TENTANG MANAJEMEN KONFLIK DALAM ORGANISASI
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap
kelompok dalam satu organisasi, dimana
didalamnya terjadi interaksi
antara satu dengan lainnya, memiliki kecenderungan timbulnya konflik. Konflik sangat erat
kaitannya dengan perasaan manusia, termasuk perasaan diabaikan,
disepelekan, tidak dihargai,
ditinggalkan, dan juga perasaan jengkel karena kelebihan beban kerja.
Perasaan-perasaan tersebut sewaktu-waktu dapat memicu timbulnya kemarahan. Keadaan tersebut akan mempengaruhi
seseorang dalam melaksanakan kegiatannya secara langsung, dan dapat menurunkan
produktivitas kerja organisasi secara tidak langsung dengan melakukan banyak
kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Dalam suatu organisasi, kecenderungan terjadinya konflik, dapat disebabkan oleh suatu perubahan secara tiba-tiba, antara lain: kemajuan
teknologi baru, persaingan ketat, perbedaan kebudayaan dan sistem nilai, serta
berbagai macam kepribadian individu.
Kajian
manajemen konflik ini merupakan sub bagian dari manajemen prilaku organisasi (human
behavior management) yang mengkaji tentang prilaku individu atau kelompok
dalam hubungan dengan orang lain dalam organisasi. Kajian manajemen konflik
dalam organisasi dalam konteks yang lebih luas adalah wilayah studi manajemen,
yang mengkaji bagaimana pengelolaan hubungan antar individu – individu dan
kelompok yang saling bertentangan dalam organisasi sehingga mampu
melahirkan kinerja dan produktivitas bagi kepentingan organisasi.
Jika
dua orang berkumpul, maka siap-siaplah akan tejadi pertentangan baik disimpan
di dalam hati maupun ditampakkan dengan perilaku. Sudah menjadi kodrat manusia
bahwa bila mereka berdekatan, pasti terjadi gesekan perasaan karena suasana
hati manusia itu secara garis besar berkisar antara rasa senang, sedih, marah,
dan takut (cemas). Komunikator ang handal dapat mengetahui suasana hati manusia
dari penampilan wajahnya. Konflik tidak selamanya negatif, ada pla konflik yang
menyebabkan positif, misalnya berkonflik karena persaingan secara sehat.Manager
dan leader dalam menjalankan tugasnya pasti berhadapan dengan
konflik. Untuk itu perlu dibekali bagaimana cara-cara mengatasi konflik. Burns
(1978: 37) menyatakan bahwa potensi konflik dapat melancarkan hubungan umat manusia,
sekaligus menjadi kekuatan penyehat dan pertumbuhan, sebagaimana dapat pulas
perusak. Tidak ada kelompok dapat hidup harmonis secara keseluruhan; yang demikian
itu akan sepi dari proses dan struktur.
Sebuah
organisasi selaykanya dikembangkan sebagai system yang mendorong upaya
kerjasama antar manusia. Namun, dalam “kehidupan nyata” (the real world),
organisasi akan selalu diwarnai oleh adanya konflik dalam berbagai bentuk dan
tingkat kekuatannya, baik secara positif dan negatif. Dalam situasi yang
dinamis seperti sekarang ini, dapat dipikirkan untuk meminimalisasi kerusakan
akibat konflik dan menanganinya secara produktif.
Konflik
akan selalu menyelimuti pengalaman umat manusia. Pasti akan terjadi, bahkan
dalam diri individu sekalipun; biasa disebut konflik intrapersonal (intrapersonal
conflict). Konflik ini, sering muncul akibat pertentangan antara dua
perasaan atau kepentingan, yang mendorong timbulnya stress. Di samping itu,
konflik akan selalu muncul dalam pengalaman social, antar individu-individu,
kelompokkelompok, dan antara masyarakat dan kultur yang lebih luas lagi.
Konflik
dapat terjadi di dalam (within) pribadi (person) dan unit social
(intrapersonal, intragroup, atau intranational). Konflik
juga dapat dialami antara (between) dua pihak atau lebih (interpersonal,
intergroup, atau international). Konflik dalam kehidupan organisasional
biasanya melibatkan konflik antarpribadi dan antar kelompok.
B. ,
BAB II
PEMBAHASAN
A. Defenisi Organisasi
1. Organisasi adalah suatu koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fungsi lewat hirarki otoritas dan tanggungjawab (Schein). Karakterisitik organisasi menurut Schein meliputi : memiliki struktur, tujuan, saling berhubungan satu bagian dengan bagian yang lain untuk mengkoordinasikan aktivitas didalamnya.
2. Organisasi adalah sistem hubungan yang terstruktur yang mengkoordinasikan usaha suatu kelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu (Kochler).
3. Organisasi adalah suatu bentuk sistem terbuka dari aktivitas yang dikoordinasi oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama.
Jadi rumusan, tentang organisasi ini menyangkut 3 aspek penting :
Ø organisasi sebagai suatu sistem,
Ø terdapat koordinasi aktivitas,
Ø mencapai tujuan bersama.
Komponen organisasi
· Struktur sosial : struktur normatif + struktur tingkah laku,
· partisipan : kontribusi individu pada organisasi,
· Tujuan,
· Teknologi : mesin, ketrampilan, teknik dari partisipan
Sifat organisasi adalah :
a) Dinamis, penyebabnya :
Ø perubahan ekonomi
Ø perubahan pasaran
Ø perubahan kondisi social
Ø perubahan teknologi
b) Memerlukan informasi proses komunikasi
c) Mempunyai tujuan
d) Terstruktur
Ada yang menambahkan faktor yang sangat berpengaruh bagi berlangsungnya suatu organisasi yakni :
1) SDM,
2) Ketrampilan,
3) Energi,
4) Lingkungan.
Fungsi Organisasi adalah sebagai berikut :
1)
Memenuhi kebutuhan pokok organisasi
; gedung, modal, bahan mentah, fasilitas
2)
Mengembangkan tugas dan
tanggungjawab ke dalam organisasi dan lingkungan
3)
Memproduksi barang/jasa/gagasan
4)
Mempengaruhi orang banyak
B. Defenisi Konflik
Robbins (1996) dalam “Organization Behavior” menjelaskan
bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya
ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas
pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.
Sedang menurut Luthans (1981) konflik adalah kondisi yang
ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentengan. Kekuatan-kekuatan
ini bersumber pada keinginan manusia. Istilah konflik sendiri diterjemahkan
dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan.
Pada
dasarnya, tidak ada kesepakatan tentang definisi konflik di kalangan
ahli (Thomas, 1976). Hal ini, tercermin dalam rumusan yang dikemukakan
oleh mereka. Deutsch (1973: 10) memandang bahwa konflik
akan muncul jika terjadi kesenjangan aktifitas. Konflik
ialah proses kegiatan A merugikan B sehingga menimbulkan
perselisihan sehingga dapat menimbulan stres (Gibson, et.al,
2003). Konflik disebut juga fight, strangle, quarrel, deference, opposition,
.and disagreement. Konflik
yang berkepanjangan dapat mengakibatkan
stres bagi yang berkonflik. Konflik dapat terjadi dengan:
(1) diri sendiri, (2) seseorang, (3) kelompok, (4) organisasi, (5)
kelompok dengan kelompok, (6) kelompok dengan organisasi, dan (7)
organisasi dengan oganisasi.
Secara
umum konflik dapat di definisikan sebagai segala macam interaksi pertentangan
atau antagonisti antara dua atau lebih pihak. Konflik organisasi adalah ketidak
sesuaian antara dua atau lebih anggota atau kelompok organisasi yang timbul
karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya-sumber daya yang
terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja dan/atau karena kenyataan bahwa mereka
mempunyai perbedaan status, tujuan, niali atau persepsi.
C. Penyebab Konflik
Penyebab terjadinya konflik dikelompokkan menjadi 2
kategori yaitu karakteristik individual dan factor situasi
- Karakteristik
Individual
Berikut
ini merupakan perbedaan individual antar orang-orang yang mungkin dapat
melibatkan seseorang dalam konflik.
1.
Nilai, Sikap dan Kepercayaan (Values, Attitude, and Believe)
Perasaan
kita tentang apa yang benar dan apa yang salah, dan predisposisi untuk
bertindak positif maupun negatif terhadap suatu kejadian, dapat dengan mudah
menjadi sumber terjadinya konflik. Nilai-nilai yang dipegang dapat menciptakan
ketegangan-ketegangan di antara individual dan group dalam suatu organisasi.
Sebagai contoh, ketua serikat pekerja cenderung untuk memiliki nilainilai yang
berbeda dengan para manager. Di satu sisi ketua serikat pekerja mengutamakan
kesejahteraan tenaga kerja, sedangkan di sisi yang lain manager memandang
maksimalisasi profit sebagai prioritas utama. Nilai juga bisa menjadi alasan
kenapa orang tertarik untuk bergabung dalam suatu struktur organisasi tertentu.
Orang-orang yang bekerja dalam susunan organisasi yang birokrasi memiliki sikap
yang berbeda dengan orang yang bekerja dalam struktur organisasi yang dinamis.
Dalam organisasi birokrat, orang-orang cenderung memiliki toleransi yang rendah
terhadap keterbukaan interprestasi, individualisme, dan nilai-nilai
profesional. Mereka cenderung tidak suka berhadapan dengan informasi vang
kompleks serta menilai otoritas hierarki dan kekuasaan berdasarkan posisi dalam
organisasi.
2.
Kebutuhan dan Kepribadian (Needs and Personality)
Konflik
muncul karena adanya perbedaan yang sangat besar antara kebutuhan dan
kepribadian setiap orang, yang bahkan dapat berlanjut kepada perseteruan antar
pribadi. Sering muncul kasus di mana orang-orang yang memiliki kebutuhan
kekuasaan dan prestasi yang tinggi cenderung untuk tidak begitu suka
bekerjasama dengan orang lain, karena mereka menganggap prestasi pribadi lebih
penting, sehingga hat ini tentu mempengaruhi pihak-pihak lain dalam organisasi
tersebut.
3.
Perbedaan Persepsi (Persptual Differences)
Misalnya
saja, jika kita menganggap seseorang sebagai ancaman, kita dapat berubah
menjadi defensif terhadap orang tersebut. Di satu sisi, ia juga nganggap kita
tidak bersahabat, sehingga potensial terjadinya konflik muncul dengan
sendirinya. Konflik juga dapat timbul jika orang memiliki persepsi yang salah,
misalnya dengan menstereotype orang lain atau mengajukan tuduhan fundamental
yang salah. Perbedaan perstual sering di dalam situasi yang samar. Kurangnya
informasi dan pengetahuan mengenai suatu situasi mendorong persepsi untuk
mengambil alih dalam memberikan penilaian terhadap situasi tersebut.
- Faktor Situasi
1.
Kesempatan dan Kebutuhan Barinteraksi (Opportunity and Need to
Interact)
Kemungkinan
terjadinya konflik akan sangat kecil jika orang-orang terpisah secara fisik dan
jarang berinteraksi. Sejalan dengan meningkatnya assosiasi di antara
pihak-pihak yang terlibat, semakin mengikat pula terjadinya konflik. Dalam
bentuk interaksi yang aktif dan kompleks seperti pengambilan keputusan bersama
(joint decision-making), potensi terjadinya koflik bahkan semakin meningkat.
2.
Kebutuhan untuk Berkonsensus (Need for Consensus)
Ada
banyak hal di mana para manager dari departemen yang berbeda harus memiliki
persetujuan bersama, hal ini menolong menekan konflik tingkat minimum. Tetapi
banyak pula hal dimana tiap-tiap departemen harus melakukan consensus bersama.
Karena demikian banyak pihak yang terlibat dalam masalah-masalah seperti ini,
proses menuju tercapainya konsensus seringkali didahului dengan munculnya
konflik. Sampai setiap manager departemen yang terlibat setuju, banyak
kesulitan yang akan muncul.
3.
Ketergantungan satu pihak kepada Pihak lain (Dependency of One
Party to Another)
Dalam
kasus seperti ini, jika satu pihak gagal melaksanakan tugasnya, maka yang lain
juga terkena akibatnya, sehingga konflik lebih sering muncul.
4.
Perbedaan Status (Status Differences)
Apabila
seseorang bertindak dalam cara-cara yang kongruen dengan statusnya, konflik
dapat muncul. Sebagai contoh dalam bisnis konstruksi, para insinyur secara
tipikal sering menolak ide-ide inovatif yang diajukan oleh diajukan oleh juru
gambar (Draftsmen) karena meraka menganggap juru gambar memiliki status yang
lebih rendah, sehingga tidak sepantasnya juru gambar menjadi sejajar dalam
proses desain suatu konstruksi.
5.
Rintangan Komunikasi (Communication Barriers)
Komunikasi
sebagai media interaksi diantara orang-orang dapat dengan mudah menjadi basis
terjadinya konflik. Bisa dikatakan komunikasi oleh pedang bermata dua: tidak
adanya komunikasi dapat menyebabkan terjadinya konflik, tetapi disisi lain,
komunikasi yang terjadi itu sendiri dapat menjadi potensi terjadinya konflik.
Sebagai contoh, informasi yang diterima mengenai pihak lain akan menyebabkan
orang dapat mengindentifikasi situasi perbedaan dalam hal nilai dan kebutuhan.
Hal ini dapat memulai konflik, sebenarnya dapat dihindari dengan komunikasi
yang lebih sedikit.
6.
Batas-batas tanggung jawab dan Jurisdiksi yang tidak jelas
(Ambiguous
tesponsibilites
and Jurisdictions)
Orang-orang
dengan jabatan dan tanggung ajwab yang jelas dapat mengetahui apa yang dituntut
dari dirinya masing-masing. Ketika terjadi ketidakjelasan tanggung jawab dan
jurisdiksi, kemungkinan terjadinya konflik jadi semakin besar. Sebagai contoh,
departemen penjualan terkadang menemukan dan memesan material di saat
departemen produksi mengklaim bahwa hal tersebut tidak diperlukan. Bagian
produksi kemudian akan menuduh departemen penjualan melangkahi jurisdiksi
mereka, sehingga konflik pun muncul tak henti-hentinya. Hal ini dapat
menyebabkan terlambatnya dipenuhi permintaan pasar, hilangnya pelanggan, bahkan
mogok kerja.
Perubahan Pandangan Tentang Konflik
|
Pandangan Lama |
Pandangan Baru |
|
Konflik
dapat dihindarkan |
Konflik
tidak dapat dihindarkan |
|
Konflik
disebabkan oleh kesalahn manajemen dalam perancangan dan pengelolaan
organisasi atau oleh pengacau |
Konflik
timbul karena banyak sebab, termasuk struktur organisasi, perbedaan tujuan
yang tidak dihindarkan, perbedaan dalam persepsi dll |
|
Konflik
mengganggu organisasi dan menghalangi pelaksanaan optimal |
Konflik
dapat membantu atau menhambat pelaksanaan kegiatan organisasi dalam berbagai
derajat |
|
Tugas
manajemen adalah menghilangkan konflik |
Tugas
manajemen adalah mengelola tingkat konflik dana penyelesaiannya |
|
Pelaksanaan
kegiatan organisasi yang optimal membutuhkan penghapusan konflik |
Pelaksanaan
kegiatan organisasi yang optimal membutuhkan tingkat konflik yang moderat |
D. Faktor Yang Mempengaruhi Konflik
Dapat
dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu faktor intern dan factor
ekstern. Dalam faktor intern dapat disebutkan beberapa hal :
1.
Kemantapan organisasi
Organisasi yang telah mantap
lebih mampu menyesuaikan diri sehingga tidak mudah terlibat konflik dan mampu
menyelesaikannya. Analoginya dalah seseorang yang matang mempunyai pandangan
hidup luas, mengenal dan menghargai perbedaan nilai dan lain-lain.
2.
Sistem nilai
Sistem nilai suatu
organisasi ialah sekumpulan batasan yang meliputi landasan maksud dan cara
berinteraksi suatu organisasi, apakah sesuatu itu baik, buruk, salah atau
benar.
3.
Tujuan
Tujuan suatu organisasi
dapat menjadi dasar tingkah laku organisasi itu serta para anggotanya.
4.
Sistem lain dalam organisasi
Seperti sistem komunikasi,
sistem kepemimpinan, sistem pengambilan keputusan, sistem imbalan dan
lain-lain. Dlam hal sistem komunikasi misalnya ternyata persepsi dan
penyampaian pesan bukanlah soal yang mudah.
Sedangkan faktor ekstern meliputi :
- Keterbatasan
sumber daya
Kelangkaan suatu hal yang
dapat menumbuhkan persaingan dan seterusnya dapat berakhir menjadi konflik.
- Kekaburan
aturan/norma di masyarakat
Hal ini memperbesar peluang perbedaan persepsi dan pola bertindak.
- Derajat
ketergantungan dengan pihak lain
Semakin tergantung satu
pihak dengan pihak lain semakin mudah konflik terjadi.
- Pola interaksi
dengan pihak lain
Pola yang bebas memudahkan
pemamparan dengan nilai-nilai ain sedangkan pola tertutup menimbulkan sikap
kabur dan kesulitan penyesuaian diri.
E. Dampak Positif Dari Konflik adalah sebagai
berikut :
1. Membuat organisasi tetap hidup dan harmonis
2. Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan
3. Melakukan adaptasi, sehubungan dapat terjadi perubahan dan perbaikan dalam system dan prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.
4. Memunculkan keputusan-keputusan yang bersifat inovatif
5. Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.
F. Defenisi Manajemen Komplik
Manajemen
konflik merupakan pendekatan atau strategi yang dirancang oleh pimpinan/kepala
organisasi dalam mengoptimalkan konflik melalui proses identifkasi masalah,
klasifikasi masalah, analisis penyebab masalah, serta penyelesaian masalah.
Sedangkan strategi yang digunakan adalah; a) resolusi konflik, b) menstimulasi
konflik, mengurangi/menurunkan konflik. Melalui penerapan manajemen konflik
yang tepat diharapkan dapat mengatasi masalah yang muncul dalam organisasi dan
selanjutnya berimplikasi pada peningkatan kinerja staf/karyawan.
Konflik
(pertentangan atau perselisihan) adalah sesuatu yang tidak pernah dapat
dihindari, yang terjadi kapan saja sepanjang hidup dan juga di dalam
leadership. Penyelesaian konflik yang baik sangat penting dalam meningkatkan
ketrampilan sebagai leadership dan memindahkan praktek manajemen dari paham
otoritarian (kepatuhan pada seseorang) ke arah pendekatan kooperatif yang
menekankan pada persuasi rasional, kolaborasi, kompromi dan penyelesaian yang
saling menguntungkan.
Kemungkinan efek dari konflik adalah
:
- Kemungkinan efek positif
- Kemungkinan efek negatif
- Meningkatkan usaha
- Merasa mendapat angin Saling
pengertian lebih baik satu dengan yang lain
- Mendorong terjadinya perubahan
Pengambilan keputusan yang lebih baik Isu-isu kunci muncul ke
permukaan Pemikiran kritis muncul
- Mengurangi produktivitas
- Penurunan komunikasi
- Perasaan negative
- Stres
- Pengambilan keputusan yang
tidak baik
- Penurunan bentuk kerjasama
- Muncul kegiatan fitnah
Konflik
organisasi disebabkan langkanya sumberdaya. Anne Hubel & Caryn Medved: Penyebab
konflik: distorsi informasi akibat modifikasi pesan, ambiguitas akibat
penggunaan bahasa yang tidak jelas dan kebohongan.
Manajemen
Konflik dalam Komunikasi Asumsi setiap orang memiliki kecenderungan tertentu
dalam menangani konflik. Terdapat 5 kecenderungan:
a)
Penolakan: konflik menyebabkan tidak
nyaman
b)
Kompetisi: konflik memunculkan
pemenang
c)
Kompromi: ada kompromi &
negosiasi dalam konflik untuk meminimalisasi kerugian
d)
Akomodasi: ada pengorbanan tujuan
pribadi untuk mempertahankan hubungan
e)
Kolaborasi: mementingkan dukungan
& kesadaran pihak lain untuk bekerja bersama-sama.
Robbins
(1996) dalam “Organization Behavior” menjelaskan bahwa konflik adalah suatu
proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat
(sudut pandang) yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh
positif maupun pengaruh negatif. Sedang menurut Luthans (1981) konflik adalah
kondisi yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentengan.
Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia. Istilah konflik sendiri
diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan
permusuhan.
Perbedaan
pendapat tidak selalu berarti perbedaan keinginan. Oleh karena konflik
bersumber pada keinginan, maka perbedaan pendapat tidak selalu berarti konflik.
Persaingan sangat erat hubungannya denga konflik karena dalam persaingan
beberapa pihak menginginkan hal yang sama tetapi hanya satu yang mungkin
mendapatkannya. Persaingan tidak sama dengan konflik namun mudah menjurus ke
aarah konflik, terutuma bila ada persaingan yang menggunakan cara-cara yang
bertentengan dengan aturan yang disepakati. Permusuhan bukanlah konflik karena
orang yang terlibat konflik bisa saja tidak memiliki rasa permusuhan.
Sebaliknya orang yang saling bermusuhan bisa saja tidak berada dalam keadaan
konflik.
Konflik
sendiri tidak selalu harus dihindari karena tidak selalu negatif akibatnya.
Berbagai konflik yang ringan dan dapat dikendalikan (dikenal dan ditanggulangi)
dapat berakibat positif bagi mereka yang terlibat maupun bagi organisasi.
G. 7 C Manajemen Konflik yaitu :
Untuk
manajemen konflik, terkadang menggunakan falsafah Peta. Penggunaan falsafah
Peta ini merupakan creative thinking (berpikir kreatif) seperti pada artikel
sebelumnya Model Manajemen Konflik. Pada setiap step manajemennya kita harus
mengetahui kondisi awal (isu) dan dimana posisi kita, agar kita tidak hilang dari
sebuah konflik. Oleh karena itu Dr. William Hendricks memberikan kesimpulan
manajemen konflik itu terdiri dari 7 C. Mau tau...
Tujuh
C dalam Manajemen Konflik sebagai berikut :
- Characteristic
(watak). Karakteristik yang spesifik merupakan yang umum pada semua
konflik. Sekali anda menyadari karakteristi ini, anda dapat memetakan
kawasan yang tidak dikenal dan meneliti kawasan itu.
- Classification
(klasifikasi). Konflik dapat diklasifikasikan. Jika anda mengidentifikasi
konflik, ini memungkinkan untuk menyelesaikannya dengan strategi manajemen
yang paling cocok.
- Contructive
(konstruktif). Tindakan positif adalah tanggapan yang paling baik atas
peristiwa negatif. Pemenang mendapatkan kemenangan dan menejer yang baik
adalah menejer yang produktif, bahkan selama terlibat dengan konflik.
- Credibility
(kredibilitas). Kredibilitas anda sebagai menejer meningkat bila isu-isu
itu diselesaikan dengan konsisten dan penuh nalar. Dalam manajemen konflik
satu yang hendak dicapai adalah meningkatkan kredibilitas melalui penyesuaian
strategi manajemen konflik dengan strategi bisnis modern.
- Conditional
(persyaratan). Tidak ada dua konflik yang sama. Orang berganti dan juga
isu yang menjadi pangkal konflik. Sifat-sifat yang melandasi konflik
menjadi penting untuk diketahui sehingga anda dapat mengembangkan berbagai
macam model dan mampu menyesuaikan diri dengan demikian bisnis yang
berubah.
- Care
(perhatian). Ketakutan adalah respon ilmiah untuk melakukan perubahan dan
konflik, tapi ketakutan ini tidak perlu merintangi keseharian anda.
Hendaknya memperhatikan bisnis anda dan orang-orang yang bekerja sama
dengan anda, Unsur emosi dari manajemen konflik cepat mengundang reaksi
emosional yang tidak menyenangkan, akan tetapi ini juga harus dapat
dikelola dan dikembalikan.
- Constrain
(kendala). Sumber-sumber eksternal dibutuhkan pada ssat tertentu untuk
menjaga segala sesuatunya tetap berada dalam perspektif. Faktor kendala
mendorong anda untuk menggunakan tim intervensi saat konflik mengalami
ekskalasi dan sampai pada tingkat yang membahayakan.
Jadi 7 C Manajemen Konflik dapat anda gunakan untuk
mengelola konflik dalam kehidupan kita.
H. Model Penyelesain Konflik
Ada 5 pendekatan atau model penyelesaian konflik berdasarkan pendapat Dr. William Hendricks, yang dapat anda gunakan sesuai dengan kondisi konflik yang terjadi.
1.
Model penyelesaian konflik dengan mempersatukan
(Integrating)
Individu yang memilih model ini perlu melakukan tukar menukar informasi. Pada
pendekatan ini diperlukan adanya keinginan untuk mengamati perbedaan dan
mencari solusi yang dapat diterima oleh semua kelompok. Model penyelesaian
konflik jenis ini secara tipikal diasosiasikan dengan pemecahan masalah,
efektif bila isu konflik adalah kompleks.
Model integrating mendorong tumbuhnya berpikir kreatif (creative thinking),
sehingga mengembangkan alternatif merupakan kekuatan model ini. Penyelesaian
konflik dengan mempersatukan menekankan diri sendiri dan orang lain dalam
mensintesiskan informasi dari perspektif yang divergen (berbeda). Sebaliknya,
penyelesaian konflik model ini tidak efektif bila kelompok yang berselisih
kurang memiliki komitmen atau kurang meluangkan waktu, karena model ini
membutuhkan waktu yang sangat panjang. Penyelesaian dengan model ini juga dapat
menimbulkan frustasi terutama dalam konflik tingkat tinggi karena penalaran dan
pertimbangan rasional seringkali dikalahkan oleh komitmen emosional untuk suatu
posisi.
2.
Model penyelesaian konflik dengan kerelaan untuk
membantu (obliging)
Penyelesaian konflik model obliging menempatkan nilai yang tinggi untuk orang
lain sementara dirinya sendiri dinilai rendah. Model ini dapat anda gunakan
sebagai strategi yang sengaja dimunculkan untuk mengangkat atau menghargai
orang lain, agar mereka merasa lebih baik dan senang terhadap isu konflik.
Penggunaan model rela membantu orang lain dengan menaikkan status pihak lain
akan bermanfaat, terutama jika peran anda dalam suatu ruang (situasi) tidak
berada dalam posisi yang membahayakan.
Strategi rela membantu berperan dalam menyempitkan perbedaan antar kelompok dan
mendorong mereka untuk mencari persamaan yang mendasar. Perhatian yang lebih
terhadap orang lain menyebabkan seorang individu merasa puas dan merasa
keinginannya terpenuhi oleh pihak lain, kadang-kadang mengorbankan sesuatu yang
penting bagi dirinya sendiri. Model obliging bila digunakan secara efektif,
dapat mengawetkan dan melanggengkan hubungan. Penyelesaian konflik model ini
tanpa disadari, dapat dengan cepat membuat orang untuk rela mengalah, misalnya
muncul ungkapan bernada mengalah "tidak usah menunggu saya".
3.
Model penyelesaian konflik dengan mendominasi
(dominating).
Model dominating adalah lawan dari model obliging, penekanannya pada diri
sendiri. Di mana kewajiban bisa diabaikan oleh keinginan pribadi, model
mendominasi ini meremehkan kepentingan orang lain. Model ini adalah strategi
yang efektif bila suatu keputusan yang cepat dibutuhkan atau jika persoalan
tersebut kurang penting.
Strategi mendominasi dapat menjadi reaksioner, yang digerakkan oleh mekanisme
mempertahankan diri. Model ini tercermin dalam sebuah penyerangan untuk menang
yang diekspresikan melalui falsafah "Lebih baik menembak daripada
ditembak". Jika isu itu signifikan, model dominasi akan memaksa orang lain
untuk menaruh perhatian pada seperangkat kebutuhan spesifik.
Penyelesaian konflik dengan model dominasi sangat membantu jika di sini kurang
pengetahuan atau keahlian mengenai isu yang menjadi konflik. Ketidakmampuan
untuk menyediakan tenaga ahli yang memberikan nasehat atau yang dengan tegas
menyampaikan isu inilah pangkal dari model mendominasi. Model ini juga paling
banyak diasosiasikan dengan gertakan dan "hardball tactic" dari para
pialang kekuasaan.
4.
Model penyelesaian konflik dengan menghindar (avoiding)
Para penghindar tidak menempatkan suatu nilai pada diri sendiri ataupun orang
lain. Model ini adalah strategi menghindar dari persoalan. Penyelesaian konflik
model ini memiliki aspek negatif diantaranya menghindar dari tanggung jawab
atau mengelak dari suatu isu. Seorang pemimpin yang menggunakan strategi ini
akan lari dari peristiwa yang dihadapi, meninggalkan pertarungan untuk
mendapatkan hasil.
Bila suatu isu tidak penting, tindakan menangguhkan dibolehkan untuk
mendinginkan konflik yang terjadi - inilah penggunaan model penyelesaian
konflik menghindar yang paling efektif. Namun di lain pihak, model ini dapat
membuat frustasi orang lain karena jawaban penyelesaian konflik demikian
lambat. Rasa kecewa biasanya berpangkal dari model penyelesaian konflik dengan
menghindar, dan konflik cenderung meledak bila gaya ini digunakan.
5.
Model penyelesaian konflik dengan kompromis
(compromising)
Dalam model ini perhatian pada diri sendiri maupun orang lain berada dalam
tingkatan yang sedang. Hal ini adalah orientasi jalan tengah. Dalam model
kompromi, setiap orang memiliki sesuatu untuk diberikan dan siap menerima
sesuatu.
Kompromi paling efektif sebagai alat bila isu itu kompleks atau bila ada
keseimbangan kekuatan. Kompromi dapat menjadi pilihan bila model lain gagal dan
dua kelompok mencari jalan tengah. Kompromi bisa menjadi pemecah perbedaan atau
pertukaran konsesi. Kompromi hampir selalu dijadikan sarana oleh semua kelompok
yang berselisih untuk memberikan sesuatu, untuk mendapat jalan keluar atau
pemecahan.
Lima model penyelesaian konflik memberikan suatu struktur untuk bertindak.
Pengetahuan tentang model penyelesaian konflik meningkatkan pemahaman kita
terhadap konflik. Jadi, anda harus tahu model manajemen konflik dan memilih
alternatif terbaik untuk situasi tertentu. Ini memerlukan kemampuan untuk
memisahkan emosi anda dari peristiwa dan secara sadar memilih strategi dengan
hati-hati.
I.
5 Macam
Gaya Manajemen Konflik
Umumnya
pendekatan dalam manajemen konflik terbagi dalam 5 gaya antara lain;
kolaborasi, dominasi, mengikuti, menghindari, dan kompromi. Kelima gaya
manajemen tersebut belum tentu efektif dalam setiap situasi konflik.
a.
Kolaborasi
Gaya menangani konflik dengan win win solution (sama-sama
menang). Gaya ini memotivasi kita untuk lebih kreatif. Kelebihan gaya ini kita
didorong untuk mempertimbangkan berbagai alternatif. Semua pihak terkait untuk
memberikan informasi dan perspektif.
b.
Mengikuti
Gaya ini memandang orang lain lebih tinggi dan menilai
rendah pada diri sendiri. Bila digunakan efektif, maka gaya ini dapat
memelihara hubungan baik dengan pihak lain. Tapi gaya ini memungkinkan pihak
lain menganggap enteng bahwa kita bersikap “Saya ikuti apa pun yang anda
inginkan”.
c.
Dominasi
Gaya ini kebalikan dari gaya mengikuti. Gaya dominasi
lebih menonjolkan kemauan dan kepentingan diri sendiri. Gaya ini hanya efektif
digunakan bila kita mempunyai hak dan kekuasaan yang dibarengi tingkat
leadership yang tinggi. Jika tidak, maka reaksi yang timbul akan berakibat
fatal. Gaya ini tercermin dalam sikap otoriter atau dalam istilah “Lebih baik
menembak, dari pada harus tertembak”.
d.
Menghindar
Gaya ini bisa menjengkelkan pihak lain karena harus
menunggu lama untuk mendapatkan kepastian. Menghindar berarti mengulur-ulur
waktu. Gaya ini harus digunakan dengan bijaksana jika kita belum siap untuk
memberi kepastian. Gaya ini hanya bisa dilakukan untuk sementara waktu. Sambil
mencari jalan keluar yang baik untuk memberi kepastian dalam penyelesaian
konflik. Karena konflik umumnya tidak lenyap karena waktu.
e.
Kompromi
Gaya ini berorientasi pada jalan tengah. Keahlian
bernegosiasi sangat dibutuhkan dalam menggunakan gaya kompromi. Gaya ini
efektif bila pihak yang terlibat memiliki hak dan kekuasaan serta memiliki plus
minus yang sama.
J.
DAFTAR PUSTAKA
http://leader-street.blogspot.com/2010/01/7-c-dalam-manajemen-konflik.html
http://leader-street.blogspot.com/2009/09/5-model-manajemen-konflik.html
http://www.mizan-poenya.co.cc/2010/09/manajemen-konflik.html
http://kangjayeng.blogspot.com/2008/12/gaya-manajemen-konflik.html
http://ghanie-np.blogspot.com/2009/04/peranan-pemimpin-dalam-manajemen.html
http://forum.upi.edu/v3/index.php?topic=13035.0;wap2


Komentar
Posting Komentar
Komentar