TELEVISI, TUJUAN DAN DAMPAK PERILAKU ANAK USIA DINI
BAB II LANDASAN TEORITIS
TENTANG
TELEVISI, TUJUAN DAN DAMPAK PERILAKU ANAK USIA
DINI
A.
Pengertian
Televisi dan Tujuannya
1.
Pengertian Televisi
Bila diamati dalam wikipedia, ditemukan pengertian televisi yaitu sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna (www.wikipedia.com). Dalam KBBI, kata “televisi” diartikan sebagai sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar atau pesawat penerima gambar siaran televisi (WJS. Poerwadarminta, 2006:723).
Dari keterangan di atas, televisi dapat artikan sebagai suatu sistem komunikasi yang menggunakan suatu rangkaian gambar elektonik yang dipancarkan secara cepat, berurutan, dan diiringgi dengan media unsur audio dan setiap gambar dari rangkaian tersebut dengan mudah dapat kita kenali dengan mata telanjang.
Dalam kehidupan sehari-hari pun kita tidak bisa terlepas dari yang namanya televisi. Salah satu alat elektronik yang sekarang sudah seperti kebutuhan primer bagi manusia. Sehingga, tidak melihat televisi sehari saja kita mungkin sudah ketinggalan banyak informasi. Selain itu, televisi juga tentunya mempunyai dampak positif dan negatif bagi kehidupan. Televisi merupakan sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang. Sistem ini menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara ke dalam gelombang elektronik dan mengkonversinya kembali ke dalam cahaya yang dapat dilihat dan suaranya dapat didengar (Darwanto, 2005:4).
Jadi, televisi ini merupakan sebuah media telekomunikasi terkenal yang digunakan untuk memancarkan dan menerima siaran gambar bergerak, baik itu yang monokrom (hitam putih) maupun polikrom (banyak warna), yang dilengkapi oleh suara. Kata “televisi” itu sendiri merupakan gabungan dari kata “tele” dan “visi”, kata “tele” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “teleb”, yang berarti jauh, sementara kata “visi” juga berasal dari bahasa Yunani, yaitu “visio” yang bermakna penglihatan. Sehingga televisi dapat diartikan sebagai telekomunikasi yang dapat dilihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia “televisi” secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi (Darwanto, 2005:7).
2.
Tujuan Pemanfaatan Televisi
Menurut Maswan (2010:74),
televisi merupakan alat yang digunakan sebagai sarana komunikasi
searah yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan dalam kehidupan sehari-hari. Televisi dianggap sebagai
media pembelajaran yang efektif dan menarik, karena alat ini dapat merekam dan
menangkap objek gambar hidup yang sebenarnya, dari tempat yang jauh dapat
dilihat dan dinikmati oleh pemirsa seolah-olah kejadian itu berada di depan matanya. Dengan menyadari bahwa
televisi menjadi sebuah alat yang sangat potensi untuk memberikan informasi dan
sekaligus sebagai alat pembelajaran kepada setiap yang menikmati, maka program
penyiaran dan pertunjukannya haruslah dikemas dengan berpedoman etika dan
nilai-nilai budaya yang positif.
Perkembangan jaringan penyiaran lewat televisi, sejalan dengan
perkembangan peradaban zaman yang begitu pesat, maka informasi dari tempat yang
jauh, bahkan dari manca negara sekalipun dalam waktu sekejap dapat dilihat dan
diikuti perkembangannya. Dengan jaringan komunikasi dan informasi yang mudah dan efektif untuk
penyampaian pesan, maka dunia pendidikan seharusnya juga ikut mengambil peran
dalam penanganan media televisi ini sebagai pusat sumber belajar. Maka itu, dalam keadaan ini Maswan
(2010:75) menjelaskan hendaknya para perencana dan praktisi pendidikan
tidak hanya sebagai penonton dari luar arena program pertelevisian indonesia, akan tetapi ikut ambil
bagian penayangan program kependidikan yang dikemas untuk kepentingan
pembinaan akhlaq Islami, moral dan
nilai-nilai budaya Indonesia.
Secara sederhana, pemanfaatan televisi itu diperlukan sekali dalam proses pembelajaran, keberadaan televisi itu dapat membantu proses peningkatan pengetahuan anak-anak, terutama tayangan yang bersifat edukasi. Namun pada sisi lain sarana tersebut belum mampu dijangkau untuk dilaksanakan di dalam sistem pendidikan. Maka itu, Maswan (2010:84) menentukan beberapa kebijakan dalam sistem pendidikan atau pembelajaran untuk membentuk persepsi anak-anak (siswa) dalam memahai televisi, yaitu:
- Memberikan arahan yang jelas kepada peserta didik untuk dapat melihat program televisi yang ada nilai-nilai pendidikan yang bersifat positif.
- Membimbing peserta didik untuk memilih program acara yang sesuai dengan tingkat umur dan kejiwaanya.
- Memberikan pemahaman tentang program tayangan televisi yang ada relevansinya dengan program pendidikan yang diajarkan disekolahan.
- Memberi tugas kepada peserta didik untuk mencatat atau mengidentifikasi program-program acara televisi yang bernilai edukasi (pendidikan).
- Memberi tugas untuk menganti atau menonton program tayangan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dikembangkan disekolah, misalnya berita, dialog interaktif, profil tokoh, dan sejenisnya, kemudian berakhir dengan membuat laporan pengamatan.
- Membekali sikap mental peserta didik untuk tidak meniru setiap perilaku tokoh atau bintang film atau penyanyi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya ketimuran.
Rancangan seperti yang disebut oleh Maswan di atas, memang cukup beralasan sebab, setiap media komunikasi pasti memiliki karakteristik tertentu dan tidak ada satu media pun yang dapat di pergunakan untuk memenuhi segala macam tujuan komunikasi itu. Karena dilihat dari tujuan dan karakteristik sebuha mediakomunikasiitu tentu saja berbeda-beda, sehingga tidak mungkin mampu dalam suatu wahana komunikasi dapat menyampaikan seluruh pesan yang berhubungan dengan kehidupan. Ada kalanya media itu berkonsentrasi bidang perfilman, seni dan ada kalanya juga media itu eksis menyangkut dengan teknologi, musik, busana, gaya hidup, kesehatan dan lain-lain.
Tidak cukup sampai disitu, selain Maswan sebagaimana diterangkan pandangan di atas, ada lagi Sutisno (2002:3) yang mengemukakan bahwa media televisi memiliki jangkauan yang luas dan segera dapat menyentuh rangsangan penglihatan dan pendengaran manusia, juga apat menghadirkan objek yang amat kecil atau besar, berbahaya, atau yang langka, menyajikan pengalaman langsung kepada penonton dan dapat menyebarluaskannya berbagai informasi dengan cepat ke berbagai tempat yang berjauhan. Namun menurut Sutisno (2002:3) selain itu televisi juga dapat membangkitkan perasaan intim atau media personal serta menimbulkan karakter dan sifat ketokohan itu sendiri. Hal inilah harus dikontrol oleh setiap orang dalam memanfaatkan televisi itu, sebab dalam sewaktu-waktu media itu dapat juga menjadi propaganda baik itu bersifat universal maupun bersifat sektoral.
B. Dampak Televisi bagi Perilaku Anak Usia Dini
Dalam media massa baik cetak maupun eletronik, iklan salah satu bagian yang
memiliki pendapatan paling besar dalam penerbitannya. Inilah yang menjadi
pemenfaatan besar bagi kalangan media, bagian yang mengelola ini disebut kepala
bagian iklan atau manajer iklan. Pengertian ini juga memiliki arti yang sama
pada bagian iklan televisi atau radio (Djuroto, 2004:35). Dijelaskanlagi oleh Nurudin
(2007:72), komunikasi dan informasi dalam sebuah televisi itu dimaksudkan untuk
memotivasi, merangsang, atau untuk mempengaruhi publik dalam berpikir, bertindak.
Lebih khusus Latifah (2014:2) ada beberapa
dampak yang ditimbulkan dari acara televesi terhadap anak-anak, yaitu:
- Dampak kognitif, yaitu
kemampuan seseorang anak untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan
televisi yang melahirkan pengetahuan dan juga melahirkan bersifat non edukasi.
- Dampak peniruan, yaitu anak-anak
dihadapkan pada trend actual
yang ditayangkan ditelevisi.
- Dampak perilaku, yaitu
proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang telah ditayangkan acara
televisi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
- Dampak bahasa, sebab anak-anak
adalah individu yang lebih mudah terkena dampak negatif televisi.
Menurut Rasyid (2009:183) yang mengutip sebuah
hasil survey yang pernah dilakukan menyangkut dampak televisi bagi anak, yaitu anak
di bawah dua tahun yang dibiarkan orangtuanya menonton televisi dapat mengakibatkan
proses wiring, yaitu proses
penyambungan di antara sel-sel syaraf dalam otak menjadi tidak sempurna. Menurut
Iriantara (2006;217) berdasarkan hasil kajiannya menunjukkan beberapa
kekhawatiran terhadap dampak negatif televisi yaitu, pengaruh jam belajar
anak, pengaruh tayangan kekekerasan, pengaruh tayangan pornografis, peniruan
perilaku hidup konsumtif, peniruan perilaku yang bertentangan dengan ajaran dan
nilai-nilai keluarga.
Hamilton (dalam Krahe, 2005:153) anak-anak
yang selalu berhadapan dengan televisi ternyata tidak terbatas pada acara-acara
yang ditujukan kepada penonton muda-yang disertai muatan kekerasan yang tinggi
dalamnya tetapi juga acara-acara yang dimaksudkan untuk penonton dewasa. Hal tersebut
menimbulkan keprihatinan atas muatan isi siaran dimana masuknya materi-materi
orang dewasa melalui media televisi membuat tidak lagi murninya dunia
anak-anak. Krahe memberikan contoh misalnya, tanyangan mengenal dunia glamor
dan gemerlap, menyanyikan lagu cinta, dandanan, budaya instan yang sering
tergambar yang tidak sesuai dengan tingkat usia anak-anak. Hal ini akan semakin
lumrah saja dianggap oleh sebagian orang, apalagi keterbatasan kemampuan orang
tua tentu akan semakin diperparah saja situasi yang tidak coock ini.
Laporan survei Kompas dengan judul "Bapak, Ibu, Dengarlah" memaparkan pengaruh televisi terhadap orang tua dan anak. Dilaporkan bahwa pada umumnya anak-anak telah terobsesi dengan tanyang televisi (33%) meniru peran tokoh, (28,9%) meniru lagunya, (81,1%) meniru ucapan, dan (70,3%) suka menirukan iklan (www.kompas.com). Dari gambaran di atas ada yang perlu dicermati bahwa jika penelitian Kompas itu benar dan dapat mewakili para penonton, maka ini berarti masyarakat sedang "mengindoktrinasi" generasi dan cenderung mengarahkan mereka kepada kehidupan konsumtif bahkan tidak tertutup kemungkinan mengarahkan dan memberi jalan ke bentuk negatif.
Dapat dijelaskan bahwa audio visual pada televisi dapat menjadi pendorong seseorang membangkitkan minatnya pada sesuatu objek dan dapat mengenali sesuatu tanpa memerlukan perlengkapan lainnya untuk melihat dan memperolehnya. Dalam salah satu media merilis bahwa satu bukti yang tidak mungkin ditolak adalah data yang menunjukkan Indonesia sebagai negara kedua di bawah Ukraina, sebagai pelaku kejahatan yang dimanfaat melalui saluran informasi (www.sinarharapan.com).
Hasil penelitian di atas, semakin memperkuat dugaan bahwa selain sisi positif ternyta kesalahan menyikapi kehdiran televisi juga dapat menimbulkan banyak perilaku negatif. Ada benarnya pendapat Guntarto (200:141), porsi tayangan televisi lebih menyita waktu anak dengan berbagai alasan, sebanyak (91,8%) anak lebih menyukai televisi karena paling menghibur dari pada media lainnya, seperti radio atau surat kabar yang hanya medapatkan perhatian (0,8%).
Bila pandangan Guntarto ini dilihat dari keadaan ril dalam masyarakat, maka benar dimana televisi telah mengubah cara berpikir anak, bagi anak yang banyak menonton terhanyut dalam dramatis dan memainkan peran suatu tokoh (film) dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dikatakan oleh Riza (2011:478) kesempatan sosialisasi anak yang terbuang pada televisi ternyata menimbulkan dampak psikologis bagi anak-anak, perilaku yang ditemukan dari televisi menjadi memori dalam diri anak yang sewaktu-waktu dapat direka ulang olehnya terlepas itu positif atau negatif, maka itu tidak heran bentuk pengaruh televisi itu telah membuat sifat dan karakter anak menjadi berbeda, bisa kasar, susah di atur atau lainnya.
Maka itu, Trihartini (2015:241)
mengemukakan perlunya literasi media dalam keluarga sehingga dapat menimbulkan
kesadaran terhadap pengaruh positif dan negative dari televisi. Manfaat
literasi media bagi anak yang dilakukan oleh keluarga anak dapat memiliki sikap
preventif terhadap terpaan media, bukan resisten, keluarga mempunyai tanggung
jawab sosial dan keluarga mampu mengadvokasi anak-anak mampu terhadap terpaan
media.
Disebutkan oleh Chen dalam Trihartini
(2015:242) bahwa bahwa panjangnya waktu yang dihabiskan anak-anak Amerika untuk
menonton televisi benar-benar menakutkan, rata-rata empat jam sehari, 28 jam
seminggu, 1400 jam setahun atau mendekati 18.000 jam sampai anak lulus sekolah
atas. Berdasarkan hasil riset, di Indoesia menunjukkan anak-anak menoton
televisi rata-rata 35 jam seminggu. Hal ini senada dengan data yang dilaporkan
YPMA bahwa dalam setahun, anak-anak Indonesia menghabiskan waktu 1.500 jam
untuk menonton televisi. Sementara, jumlah jam sekolah di SD ternyata tak lebih
dari 750 jam setahun (hari belajar efektif rata-rata 220 hari/tahun). Ada 750
jam yang menjadi selisih dari angka-angka ini. Sayangnya, porsi menonton
televisi jauh lebih banyak daripada waktu untuk bermain di luar rumah atau
belajar.
C. Upaya Bimbingan Orangtua bagi Anak terhadap
Tayangan Televisi
Sebagaimana
pernah dijelaskan dahulu dampak televisi bagi anak ternyata tidak saja
menyangkut banyak waktu sehingga berkurang masa istarahat dan bermainnya, namun
dampak dari televisi ini juga menyangkut aspek psikologis dan kognitifnya.
Dengan kata lain, anak yang rentan waktunya dengan televise rentan pula asupan
karakter kasar, sikap keras serta rentan pula mengarah menjadi anak yang
berperliku negatif.
Karena
rentannya muncul karakter negatif bagi perkembangan anak, maka peran dari orangtua
menjadi kebutuhan pokok untuk dilakukan tindakan, baik itu pengawasan saat
menonton televisi, melakukan bimbingan serta memberikan penjelasan kokrit
berkenaan suatu tayangan yang sudah terlanjur ditonton. Bila upaya ini dipahami
dengan sebenarnya oleh orangtua, anak terbebas dari pengaruh-pengaruh negatif
siaran televisi.
Maka itu,
Iriantara (2013:22) mengemukakan peran orang tua dalam hal ini tidak dapat
dipisahkan dari pengasuhannya terhadap petumbuhan anak, ada beberapa peran
orangtua berkenaan dengan kehdupan dan perkembangan anak, yang mencakup:
1.
Interaksi antara anak, orang tua, dan masyarakat lingkungannya,
2.
Penyesuaian kebutuhan hidup dan temperamen anak dengan orang
tuanya,
3.
Pemenuhan tanggung jawab untuk membesarkan dan memenuhi kebutuhan
anak,
4.
Proses mendukung dan menolak keberadaan anak dan orang tua,
5.
Proses mengurangi resiko dan perlindungan tehadap individu dan
lingkungan sosialnya.
Orang tua dapat
menjadi filter efek negatif televisi bagi anak dan kehadirannya sangat
dibutuhkan. Orang tua memiliki peran penting dalam mengenalkan hal-hal yang
tidak sengaja dilihat oleh anak-anak yang merupakan bukan untuk usianya,
orangtua perlu memberi penjelasan secara jelas bagi anak. Ada benarnya Latifah
(2014:33) mempertegas terhadap tanggungjawab utama orangtua atas apa yang
tonton oleh anak-anak dan itu semua berada di “pundak” para orang tua,
kemauannya harus lebih siap mewaspadai dan lebih tahu, mengenai tayangan
televisi yang akan ditonton oleh anak-anak, sehingga anak akan semakin siap
dalam menghadapi masa depan.
Dijelaskan
oleh Chen, (2005:157) ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh orangtua
terhadap pengaruh televisi bagi anak, yaitu:
1.
Menjadikan televisi anak sebagai televisi orang tua.
2.
Diet televisi, dilakukan dengan mengendalikan konsumsi maksimum
dua jam perhari, hal ini dibutuhkan konsistensi dari orang tua untuk mampu
memberikan teladan yang baik untuk anak.
3.
Memilah dan memilih tayangan yang akan ditonton anak dengan
memperhatikan beberapa tanda peringatan di televisi seperti misalnya: Kode R
untuk Remaja, SU untuk Segala Umum, BO Bimbingan Orang Tua.
4.
Meningkatkan pemahaman orang tua tentang konten siaran televisi
sehingga orang tua akan mampu menjelaskan dan memiliki keterampilan dalam
mendampingi anak menonton televisi. Harapannya dengan tingkat pemahaman yang
baik dan keterampilan mendampingi, orang tua mampu membentengi anak dari
tayangan yag tidak berkesesuaian dengan moral, jati diri bangsa dan ajaran
agama.
5.
Mencarikan kegiatan alternatif selain menonton televisi seperti
misalnya membaca.
Teknologi memang harus berkembang, tidak juga mungkin teknologi itu hadir di tengah masyarakat tanpa memperdulikannya, sebab kehidupan memang sudah dituntut peka dengan teknologi. Teknologi itu tetap hadir meski tanpa mendapat persetujuan masyarakat, namun sebagai orangtua harus memahami betul untuk memanfaatkan televisi sebagai wahana pendidikan bagi anak yang mempunyai daya serap tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Sebuah penyataan mengenai anak-anak dan tayangan televisi, yang diutarakan oleh Greenfield (dalam Darwanto. 2011: 121), yaitu “Menonton televisi dapat menjadi suatu kegiatan pasif yang mematikan apabila orangtuanya tidak mengarahkan apa-apa yang boleh dilihat oleh anak-anak mereka dan sekaligus mengajar anak-anak itu untuk menonton secara kritis serta untuk belajar dari apa-apa yang mereka tonton”.
Pada dasarnya media televisi dan tayangan atau program yang ada di dalamnya bersifat netral dan tidak mempunyai pengaruh buruk. Pengaruh buruk yang kemungkinan muncul pada anak yang menonton televisi dipengaruhi dari berbagai faktor seperti pengawasan orangtua, serta pengaruh lingkungan. Sebagai contoh, jika dalam menonton televisi anak diajarkan untuk kritis terhadap tayangan yang sebaiknya dilihat dan yang sebaiknya tidak dilihat, maka anak akan dapat terkontrol dalam menonton televisi. Sedangkan yang dimaksud dengan pengaruh lingkungan, misalnya ada teman bermain anak, ataupun lingkungan sekitar anak yang dalam menonton televisi tidak ada pengontrolan, maka anak akan mendapat pengaruh dari lingkungannya tersebut.
Pengalaman dapat menambah pengetahuan karena pengetahuan manusia 75% didapatkan melalui indera penglihatan dan 25% didapat dari indera pendengaran (Darwanto, 2011: 102). Melalui menyaksikan program yang ada di televisi, dapat kita ketahui bahwa pengalaman anak dapat bertambah. Hal tersebut sesuai pula dengan teori perkembangan anak yang dicetuskan oleh Maria Montessori bahwa anak usia dini seperti sponge, yaitu anak akan menyerap dengan mudah terhadap segala hal yang ia dapat dari lingkungannya. Anak usia dini dapat mendapat pengaruh dari tayangan televisi yang dapat berdampak pada perkembangan dan perilaku anak.
Pertumbuhan dan
perkembangan anak ditentukan oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan. Faktor
bawaan semisal sifat yang diturunkan oleh kedua orangtuanya, seperti bentuk
wajah, warna kulit, tinggi badan, dan lain sebagainya. Sedangkan faktor
lingkungan atau pengaruh luar yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
anak, misalnya kesehatan, gizi, pola asuh, pendidikan, dan lain sebagainya.
D. Perkembangan Perilaku Anak Usia Dini
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang berkepribadian baik, sikap mental yang sehat serta akhlak yang terpuji. Orang tua sebagai pembentuk pribadi yang pertama dalam kehidupan anak, dan tentu harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Zakiyah Daradjat (1996: 56) bahwa kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup merupakan unsur-unsur pendidikan yang secara tidak langsung akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh.
Sebagaimana diketahui bahwa perkembangan menghasilkan bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap yang tinggi. Perkembangan ini bergerak secara berangsur-angsur. Melalui suatu bentuk dan tahap berikutnya dan mulai merasa perubahan. Dan proses perkembangan ini merupakan juga suatu evolusi yang secara umum adalah sama pada setiap anak.
Fase perkembangan oleh Syamsu Yusuf (2011:20) mengartikannya sebagai tahapan atau pembabakan rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola tingkah laku tertentu. Ia membagi fase perkembangan kepribadian seseorang digolongkan dalam tiga bagian, yaitu:
- Berdasarkan biologis
Dalam
perkembangan biologis ini Syamsu Yusuf (2011: 20) sangat menekankan pentingnya
keadaan dan proses pertumbuhan. Artinya keadaan begitu berperan dalam membantu
menentukan perkembagan berdasarkan biologis.
Hurlock (2004) membagi fase perkembangan kepribadian itu dalam lima
tahapan, yaitu fase prenatal, infancy (orok), baby
hood (bayi), childhood
(kanak-kanak), adolescence (usia
11-21 tahun, terkahir sampai usia kuliah di perguruan tinggi).
- Berdasarkan analisis didaktis
Fase perkembangan kepribadian berdasarkan diktatis Syamsu Yusuf (2011: 22) mengutip menurut pandangan Resseau, yaitu (a) usia 0-2 tahun yaitu usia asuhan, (2) usia 2-12 tahun masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera, (3) usia 12-15 tahun periode pendidikan akal, (4) usia 15-20 tahun periode pendidikan watak dan pendidikan religious.
- Berdasarkan psikologis
Fase perkembangan berdasarkan analisis psikologis, secara umum seorang anak mencari pengalaman psikologis mana yang khas bagi individu yang umumnya dan dalam perpindahan dari fase ke fase yang lain setiap anak mengalami masa kegoncangan. Syamsu Yusuf (2011: 22) menjelaskan bahwa umumnya individu mengalami kegoncangan selama tiga kali yaitu, (1) kira-kira tahun ke 3 atau ke 4, (2) pada masa permulaan pubertas atau masa kegoncangan pertama hingga kedua, (3) masa kegoncangan kedua hingga akhir masa remaja yang sering disebut masa kematangan.
Syamsu Yusuf merumuskan fase perkembangan kepribadian sedemikian rupa mengingat kepribadian itu tidak hanya mengenai tingkah laku yang diamati saja namun termasuk juga di dalamnya megenal apakah sebenarnya individu itu. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Sarwono (2003: 140) bahwa tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap suatu perangsang yang disebabkan oleh faktor masing-masing, sehingga dalam diri seseorang terdapat adanya perbedaan-perbedaan yang signifikan seperti bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas perasaan dan juga situasi lingkungan.
Dalam tatanan lebih konkrit, Syamsu Yusuf (2011: 6) mengemukakan bahwa tahapan perkembangan itu dijelaskan dalam beberapa periode yaitu sebagaimana dalam tabel di 2.1 bawah ini;
Tabel 2.1
Periode Perkembangan Anak menurut Usia
|
Periode |
Usia |
Deskrispi perkembangan |
|
Sensorimotor |
0-2 tahun |
Pengetahuan anak diperoleh melalui interaksi fisik, baik dengan orang maupun benda. Skemanya baru terbentuk refleks sederhana, seperti menggenggam atau menghisap |
|
Praoperasional |
2-6 tahun |
Anak mulai menggunakan simbol-simbol untuk mempresentasi dunia (lingkungan) secara kognitif. Simbol-simbol itu seperti kata-kata dan bilangan yang dapat menggantikan objek, peristiwa dan kegiatan (tingkah laku yang tampak) |
|
Operasi konkrit |
6-11 tahun |
Anak sudah dapat membentuk operasi-operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki. Mereka dapat menambah mengurangi dan mengubah. Operasi ini memungkinkannya untuk dapat memecahkan masalah secara biologis |
|
Operasi formal |
11 tahun sampai dewasa |
Periode ini merupakan operasi mental tingkat tinggi. Fase ini sudah berhubungan dengan peristiwa-peristiwa hipotesis dan abstrak. |
Sumber; Hasil telahaan yang dikutip dari Syamsu Yusuf (2010)
Harus dipahami bahwa dalam mendidik anak atau membimbingnya perlu untuk memahami terhadap perkembangan-perkembangan anak. Pentingnya memahami hal tersebu ada beberapa alasan penting yaitu;
1. Masa anak merupakan masa/periode perkembangan yang cepat dengan terjadinya perubahan-perubahan dalam banyak aspek perkembangan.
2. Pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya.
3. Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat anak dalam mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapainya.
4. Melalui pemahaman tentang faktor yang mempengaruhi tentang perkembangan anak, dapat diantisipasi tentang berbagai upaya untuk memfasilitasi perkembangan tersebut, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Karena sikap dan pengalaman
seseorang sangat berbeda-beda berdasarkan pengalamannya dan tahapannya maka itu
setiap individu tidak dapat disamakan satu dengan
yang lainnya.
- Fase
pertama (1-2 tahun), anak mulai mengenal dirinya sendiri yang meliptui; unsur-unsur
dasar atas berbagai sikap dan unsur-unsur yang terdiri atas
keyakinan-keyakinan atau anggapan-anggapan yang lebih fleksibel.
- Fase kedua
(2-3 tahun) rasa “ke-aku-an” telah
dimiliki seorang anak sesuai dengan tipe pergaulan. Mulai tampak dengan
tipe-tipe perilaku yang khas, seperti dorongan-dorongan (drives) dan naluri (instinct),
getaran hati (emosi), perangai, inteligensi (intelligence quotient), dan bakat (talent)
- Fase ketiga
yang ditandai dengan semakin stabilnya perilaku-perilaku yang khas dan
kepribadian mulai terbentuk seperti kepribadian normatif, kepribadian
otoriter, dan kepribadian perbatasan (Naeny, 2012).
Dalam
fase perkembangan sebagaimana yang dijelaskan di atas, peran pengasuh dalam
membinan dan membentuk perkembangan anak sangatlah penting. Pengasuh dalam hal
ini perlu membantu kepribadian anak untuk tumbuh dan berkembang dalam bentuk
yang sewajarnya. Ketidak siapan, kelalaian dan ketidakseriusan dalam member
pengasuhan dalam upaya mendukung perkembangan dan pertumbuhan anak maka
dirasakan dan akan terlihat ketidaksesuaian dengan apa yang diharapkan, bisa
saja hal ini nantinya akan menimbulkan sikap dan tindakan yang irasional.
Meskipun
seseorang itu relative konstan, namun dalam kenyataan sering ditemukan bahwa
perubahan kepribadian itu dapat dan mungkin terjadi. Perubahan itu terjadi pada
umumnya lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik, dan
perubahan seperti ini lebih sering dialami oleh anak-anak daripada orang
dewasa. Naeny (2012) membagi fase
perkembangan kepribadian dalam beberapa tahap, yaitu:
- Masa anak-anak, yang
dimulai dengan masa neonatus yang menjadi awal perkembangan dari
kepribadian anak. Pada masa perkembangan ini anak mulai bisa melakukan
gerakan refleks yang belum bisa dibedakan. Ekspresi emosi anak pada masa
ini cenderung monoton dan akan mengalami perkembangan sesuai dengan masa
yang dilewatinya.
- Masa transformasi anak-anak,
dimana perkembangan kepribadian seseoarang akan terlihat dari diferensiasi,
integrasi, pematangan, belajar, kesadaran (sugesti), harga diri, inferioritas
ataupun kompensansi, mekanisme psikoanalitis, otonomi fungsional, reorintasi
mendadak trauma, objektivitas, insting, humor, dan pandangan hidup.
- Masa dewasa, masa–masa
ini sangat menentukan bentuk kepribadian seseorang melalui tingkah laku
yang ditujukannya (Naeny, 2012).
Alwisol (2006: 296) menerangkan bahwa tahapan perkembangan kepribadian itu terbagi dalam beberapa periode, yaitu:
a. Periode infancy 0-6 tahun, periode ini menurutnya sangat penting, karena lebih dominan dipengaruhi oleh orangtua dan saudara-saudaranya,
b. Tahap childhood (6-14 tahun) awal menuju kemandirian,
c. Tahap adolesen (14-23 tahun) ini adalah periode yang cenderung menyulitkan,
d. Periode maturity (23-50 tahun) kepribadian yang mantap dan relatif tetap,
e. Tahap middle (50-60 tahun) sering terjadi uji ulang terhadap nilai yang menjadi pegangan hidup, dan
f. Tahap senility (60-70 tahun) melibatkan penyesuaian sejumlah kehilangan-kematian.
Dapat disimpulkan bahwa masa perkembangan kepribadian anak dari beberapa pandangan yang telah diuraikan di atas, menunjukkan bahwa masa perkembangan usia 3-21 tahun merupakan masa yang perlu mendapatkan perlakukan secara baik dan tepat sehingga akan mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan yang baik dan berkarakter. Terlebih anak yang hidup di panti asuhan, kehadiran tokoh pengganti padanya diharapkan dapat membantu dan mendukung pertumbuhannya secara baik, pengasuh dapat menjadi pendamping dalam hidupnya.
Perkembangan dan pertumbuhan seorang anak harus dapat dipahami dari masa ke masa, suatu kepribadian yang mencerminkan masa lalu seorang anak sebelum berada dip anti asuhan harus dapat diarahkan menuju konsep dan pandangan ke depan. Di samping itu pengasuh diharapkan dapat mengetahui bahwa dalam setiap individu terdapat macam-macam sifat yang saling berhubungan satu sama lain keseluruhannya merupakan pola tingkah laku yang menentukan bagaimana watak atau karakter setiap anak.
Keadaan atau perlakuan pengasuh yang berlainan dalam membimbing seorang anak asuhannya akan menghasilkan sikap dan karakter yang bermacam-macam, dan sikap yang beragam ini dalam periode singkat akan terlihat jelas dalam perkembangan kepribadian anak. Keluarga yang besar berlainan pengaruhnya dari keluarga yang kecil, begitu pula dengan keluarga yang berpendidikan dengan keluarga yang kurang berpendidikan, begitupun kehidupan seorang anak dip anti asuhan dengan anak yang tidak berada dip anti asuhan, dan seterusnya. Segala perbedaan lingkungan satu tujuan yang dicapai yaitu, anak harus dapat hidup dengan berbagai hak yang melekat padanya tidak terlupakan.

Komentar
Posting Komentar
Komentar