CARA ORANG TUA DALAM PENYEDIAAN MAINAN ANAK BALITA

 

BAB II

KAJIAN TEORITIS TENTANG

TEKNIK-TEKNIK ORANG TUA DALAM PENYEDIAAN

MAINAN ANAK BALITA

 

 

2.1.    Pembahasan Teori

2.1.1. Pengertian Teknik

            Yang dimaksud dengan teknik menurut Suryosubroto (2001 : 198) adalah cara yang digunakan untuk mencapai tujuan. Munurut  Edwar Deming (1998 : 235) teknik adalah metode yang digunakan untuk mengelola sesuatu guna mencapai tujuan. Menurut Dermawan  (2004 : 189) teknik adalah strategi yang digunakan dalam suatu pekerjaan.

Jadi teknik adalah cara, strategi dan metode yang digunakan untuk merancang secara terus menerus berbagai hal dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

 

2.1.2. Pengertian Orang Tua

Banyak para ahli mengartikan orang tua, antara lain menurut Sabin (1978 : 38) bahwa orang tua adalah orang yang melahirkan anak-anaknya. Berarti disini orang tua adalah ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan yang sah menurut peraturan yang berlaku.

Menurut Salman (1981 : 23) bahwa orang tua adalah orang yang dituakan, berarti orang tua dalam pengertian ini adalah orang yang lebih tua dari anak-anak.

Pengertian orang tua menurut Dirwan (1987 : 78) adalah orang-orang tua yang telah diberikan tanggung jawab dalam memelihara anak berdasarkan peraturan yang berlaku, baik tanggung jawab terhadap perkembangan jasmani anak maupun tanggung jawab terhadap perkembangan rohani anak.

Berdasarkan pengertian tersebut maka orang tua adalah orang yang telah diberikan tanggung jawab untuk mengembangkan kepribadian anak, baik anak tersebut adalah anak kandungnya maupun anak lain yang telah dibebankan padanya untuk mengembangkan kepribadian anak.  

 

2.1.3. Menyediakan

Banyak para ahli memberikan definisi tentang menyediakan, menurut Hasan Alwi  (2001 : 807) bahwa menyediakan adalah menyiapkan sesuatu. Menurut  Sulastri (!987 : 601) menyediakan adalah mengadakan sesuatu. Menurut  Yus Badudu (1995: 709) memberikan sesuatu.

Jadi yang dimaksud dengan menyediakan adalah menyiapkan, mengadakan, dan memberi sesuatu, baik, bersifat  meteri, maupun bersifat non materi, misalnya benda dan pengetahuan.

 

2.1.4. Pengertian Mainan

Mainan asal kata dari mainan, yang artinya kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan dan kepuasan, tanpa memperhatikan hasil akhir. Bermain dilakukan secara sukareal tidak ada paksaan atau tekanan dari luar.

Menurut Gunarso (1995:53) : “Permainan atau bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh seorang demi kegiatan itu sendiri, karena kegiatan tersebut memberikan kesenangan”. Dalam teorinya A. H. Francke menyatakan : “Permainan sebagai alat untuk belajar, maka bagi anak-anak suasana bermain-main sangat baik untuk menerima pelajaran”. Selanjutnya tokoh Jerman Schiller dalam teorinya menyatakan : “Permainan adalah satu-satunya syarat yang baik bagi anak dan orang dewasa untuk menyatakan perasaan”.

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa bermain mempunyai faedah besar bagi perkembangan anak terutama pada perkembangan kecerdasannya.

 

2.1.5. Pengeritan Anak Balita

Anak balita adalah anak yang berumur di bawah lima tahun, pada masa ini disebut juga sebagai tahun kwartal pertama  yang penuh dengan kebodohan dan kelalaian. Pada masa balita ini berlangsung proses penemuan diri sendiri dari anak balita. Oleh karena itu orang tua harus mengerti hal-hal yang dapat dilakukan untuk perkembangan anak selanjutnya. Sebagai orang tua tertama ibu, harus memahami bahwa pada masa balita pertumbuhan anak akan berjalan sangat cepat dan pada masa ini pula anak membutuhkan perhatian yang penuh dari orang tuanya. Pada masa balita anak ingin bermain, bergerak mencoba meniru segala perbutan yang dilakukan oleh orang yang lebih besar darinya.

2.1.6. Orang Tua daklamPenyediaan Mainan Anak Balita

Anak merupakan amanah Allah bagi setiap orang. Anak dihadirkan untuk kebahagiaan bagi setiap orang tuan yang hidup di dunia ini. Sebagai orang tua terutama ibu diberikan sesuatu beban hidup dengan sikap penuh tanggung jawab untuk merawat, mengasuh, dan mendidik anak-anaknya. Seperti tercantum dalam Firman Allah dalam Surat At-Taqhabun ayat 15 yang artinya : “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagi manusia”.

Jadi Firman Allah tersebut diambil kesimpulan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak, untuk menanamkan disiplin dan kepribadiannya. Hal yang perlu ditanamkan oleh orang tua terhadap anak salah satu di antaranya dengan mengajarkan kreatifitas, penyediaan alat-alat permainan yang efektif untuk melatih kreatifitas dan kecerdasannya. Selain dalam bermain ditunjang dengan memberikan bimbingan secara tidak langsung terhadap kreatifitas tersebut. Misalnya memberikan contoh dalam tingkah laku yang diperhatikan oleh seorang ibu.

 

2.1.7. Ciri-ciri Usia Anak Balita

Dalam periode akhir tahun pertama sampai dengan tahun kelima, banyak kemajuan yang dicapai anak dalam perkembangan motorik, sosial dan kognitif. Bertambahnya kemampuan motorik membuat lingkup gerak anak semakin luas. Kemampuan anak bertambah melalui peniruan perbuatan anggota keluarga maupun teman sebaya serta memperoleh kemampuan-kemampuan baru melalui dunia permainan. Di samping permainan, bahasa serta gambar sebagai bentuk dan pernyataan dan bentuk komunikasi sangat menentukan dalam usia balita.

Dalam hal ini Haditono (1992:96) mengatakan : “Perkembangan sesudah tahun pertama ditandai oleh beberapa proses yang sangat fundamental, misalnya perkembangan tingkah laku”.

Ciri-ciri perkembangan anak pada permulaan periode, anak bisa duduk berdiri dan berjalan dengan bantuan. Bila anak mencapai usia 4 tahun. Anak dapat meloncat-loncat, melakukan gerakan-gerakan yang kasar dan halus dengan tangan, kaki, dan jari-jari.

Anak usia balita tangan bekerja sama dalam koordinasi yang baik, juga anak sudah dapat berbahasa, adanya pengertian mengenai benda-benda menurut warna dan bentuk serta sudah dapat membedakan antara suara keras dan lembut.

Pada akhir periode ini anak sudah mengerti ruang dan waktu, perbedaan siang dan malamn serta mengerti apa yang disebut di sana, di atas, dan di bawah. Anak pada usia ini sudah memahami norma-norma, kata-kata baik, buruk dan tidak boleh dan sebagainya. Perbuatan dan tingkah laku anak tidak lagi ditentukan secara kebetulan sesuai apa yang ada, anak sudah dapat membuat rencana untuk memikirkan apa yang akan dilakukannya, anak juga sudah mampu bermain dan bergaul dengan teman-temannya sebayanya.

 

 

 

2.1.8. Pentingnya Mainan Bagi Anak Balita

Bermain sangat penting bagi perkembangan maupun mental, bermain merupakan salah satu alat belajar utama, dengan bermain anak menguasai ketangkasan dasar, menyatakan dirinya dan belajar bergaul dengan orang lain.

Diagram Group (1990:282) menyatakan: “Bermain merupakan bagian yang terpenting serta terpadu dari perkembangan anak dan merupakan dasar untuk membangun proses belajar di masa mendatang”. Jadi jelaslah bahwa para ilmuan telah menunjukkan bermain merupakan pengalaman belajar yang berharga dan merupakan proses perkembangan intelektual bagi anak.

Melalui permainan anak dapat mengembangkan otot-otot dan melatih seluruh bagian tubuhnya juga dapat menyalurkan tenaga yang berlebihan dan bila terpendam akan membuat tegang. Dengan belajar berkomunikasi anak dapat mengerti cara bergaul dengan teman lainnya dengan demikian anak sudah mulai belajar bermasyarakat.

Dengan adanya hubungan dengan sesama teman sebaya baik itu berbeda jenis kelaminnya, maka anak dapat belajar bekerjasama, murah hati, jujur dan disukai orang.

 

 

 

 

 

2.1.9. Jenis-jenis Permainan Anak Balita

2.1.9.1. Permainan yang Bersifat Aktif

Pada umumnya permainan aktif lebih menonjol pada awal masa kanak-kanak atau pada usia balita. Hurlock (1991:327) menyatakan “Permainan aktif adalah bermain yang kegembiraannya timbul dari apa yang dilakukan anak itu sendiri”.

Dalam bermain aktif kesenangan timbul dari apa yang dilakukan individu, baik dalam bentuk kesenangan, melakukan sesuatu misalnya dengan menciptakan permainan sendiri, menggunakan gelang karet lalu bermain tebak-tebakan dengan gelang karet atau memasukkan gelang karet ke dalam tiang kecil. Kebanyakan anak melakukan berbagai bentuk permainan aktif, tetapi banyak waktu yang digunakan dan banyaknya kegembiraan yang diperoleh dari setiap permainan sangat bervariasi. Variasi ini disebabkan oleh kesehatan, teman bermain, peralatan bermain, serta lingkungan tempat anak bermain.

 

2.1.9.2. Permainan yang Bersifat Pasif

Anak-anak melakukan permainan aktif dan permainan pasif. Pada permainan pasif tidak terlalu banyak menghabiskan tenaganya dibandingkan dengan permainan aktif.

Menurut Hurlock (1991:321) permainan pasif adalah “Suatu kesenangan yang diperoleh dari kegiatan orang lain”. Dalam permainan pasif menghabiskan sedikit energi. Anak yang menikmati temannya bermain, memandang sesuatu di televisi, menonton adegan lucu, membaca buku adalah termasuk permainan pasif.

Dari kutipan di atas jelaslah bahwa permainan pasif tanpa mengeluarkan banyak tenaga, tetapi kesenagan yang diperolehnya hampir seimbang dengan anak yang baru menghabiskan sejumlah besar tenaganya seperti dalam permainan aktif.

 

2.1.10. Alat Permainan Edukatif (APE)

Alat Permainan Edukatif (APE) adalah suatu alat permainan yang khusus digunakan dalam pendidikan anak antara lain untuk merangsang berbagai kemampuan anak balita dalam hal gerakan kasar, gerakan halus, isyarat dan pembicaraan, isyarat dan kata-kata, kecerdasan, menolong diri sendiri dan bergaul.

Gerakan yang digunakan dengan melibatkan sebagian besar otot tubuh dengan memerlukan tenaga seperti merangkak, berlari, melompat dan sebagainya merupakan gerakan kasar, sedangkan gerakan halus adalah gerakan yang dilakukan oleh bagian-bagian tubuh tertentu saja dan hanya melibatkan sebagian kecil otot tubuh.

Isyarat dan pembicaraan merupakan kemampuan untuk mengerti isyarat dan pembicaraan orang lain, seperti melakukan perintah orang lain, sedangkan isyarat dan kata-kata adalah kemampuan untuk mengungkapkan perasaan keinginan dan pikiran, baik melalui tangisan, gerakan tubuh maupun kata-kata.

Kecerdasan dapat diartikan kemampuan daya pikir, daya tangkap, daya ingat dan memecahkan masalah, contohnya membedakan anggota keluarga dengan orang lain, sedangkan menolong diri sendiri dapat diartikan kemampuan dan keterampilan untuk melakukan sendiri hal-hal yang berkaitan dengan anggota keluarga maupun dengan orang lain contohnya bermain bersama anak lain.

 

2.1.10.1. Persyaratan Alat Permainan Edukatif (APE)

a. Edukatif

Edukatif bermaksud memberi peluang kepada anak untuk menjajaki dan mencoba alat permainannya dengan bebas, sesuai perkembangan, kemampuan dan minat serta memberi kesempatan dan kemungkinan untuk ditemukan pengertian baru yang berhubungan dengan pengertian sebelumnya.

Dalam buku Bahan Penyuluhan Program Bina Keluarga Balita (1991:29) dijelaskan :

Pedoman bermain dengan anak balita adalah permainan yang sesuai dengan umur si anak, waktu yang tepat, baik untuk ibu maupun anak balita, mempelajari terlebih dahulu cara bermain, memberikan kepada anak kesempatan bermain sendiri, memperhatikan minat dan kemampuan anak, memberi pujian dan bila gagal memberi dorongan agar anak mau mencoba lagi serta mengajak anak membereskan bila sudah selesai bermain.

 

 

 

 

 

 

b. Teknis

Teknis meliputi menari, mudah digunakan dan aman. Cara anak balita belajar berbeda dengan cara belajar orang dewasa, karena anak balita belum dapat berkonsentrasi, berpikir maupun melakukan hal-hal seperti orang dewasa. Anak balita lebih banyak bermain, karena dengan bermain anak belajar berbagai pengetahuan keterampilan dan mencoba memecahkan persoalan. Bermain bagi anak  balita gunanya adalah untuk merangsang kecerdasannya, hal ini juga disesuaikan dengan umur si anak dalam menyediakan mainan yang cocok.

Melalui permainan ibu juga dapat mengajarkan aspek-aspek perkembangan anak agar bermain lebih menarik dan mendapat hasil yang sebesar-besarnya, berbagai sarana dapat digunakan seperti benda-benda yang ada di sekitar kita, misalnya bunga, daun-daun, buah-buahan, kayu, batu, kaleng-kaleng bekas, benda-benda plastik dan alat-alat permianan yang dibuat sendiri ataupun dibeli, serta menyanyikan lagu-lagu untuk anak-anak, bercerita dongeng dan sebagainya.

c. Ekonomis

Ekonomis maksudnya alat permainan edukatif (APE) yang digunakan tidak membahayakan, awet, murah, mudah memelihara, mudah dicontohkan, menarik dan tidak berat. Pengertian ekonomis di sini dapat dimaksudkan juga dengan alat permainan yang dapat dibuat sendiri artinya bila APE yang sebenarnya tidak disediakan ada baiknya menciptakan bahan mainan yang serupa dengan bahan yang didapat di lingkungan misalnya membuat alat mainan susun dengan kayu petak-petak kecil dan sebagainya.

Selain alat permainan edukatif (APE) baku, dapat juga digunakan APE lain yang ada dan mudah didapat di sekitar kita seperti daun dan bunga yang berfungsi untuk memperkenalkan macam-macam bau, warna, bentuk dan ukuran kerikil juga berfungsi untuk membantu anak belajar menghitung.

Sedangkan pakaian, seperti, sepatu, piring dan gelas berfungsi untuk melatih kemampuan menolong diri sendiri. Tambang atau untaian karet gelang berfungsi untuk melatih ketrampilan anak.

d. Permainan secara Tradisional

Permainan anak secara tradisional bermacam-macam jenis, diantaranya ada permainan yang masih tetap lestari dan ada yang sudah populer. Fungsi dari permainan tersebut bermacam-macam, ada yang memberikan hiburan segar bagi anak-anak itu sendiri ataupun bagi warga masyarakat lain. Selain itu ada yang berfungsi bersifat kompetatif seperti permainan yang menuju ke arah latihan kecerdasan si anak sehingga mempunyai sifat edukatif. Contohnya mengumpulkan kerikil atau biji-bijian, hal ini berfungsi untuk membantu belajar anak berhitung.

Pada umumnya permainan anak balita yang secara tradisional bersifat sederhana. Ada yang dilakukan atau dimainkan tanpa menggunakan bahan atau alat bantu lain, hanya memakai tangan dan kaki saja. Ada pula yang memakai alat-alat atau bahan-bahan tertentu yang bersifat sederhana, yang berasal dari lingkungan alam setempat.

Permainan bagi anak balita (0-5 tahun) yang lazim dilakukan adalah bersama orang tuanya atau anggota keluarga lainnya. Biasanya di atas tempat tidur (dalam ayunan), lalu di atas papan digantungkan berbagai benda, baik yang terbuat dari kertas-kertas yang berwarna-warni maupun dari benda-benda yang dapat mengeluarkan bunyi-bunyian. Dengan permainan, dimaksud agar si anak dapat asyik yang diakibatkan oleh gerakan-gerakan atau bunyi-bunyian dari mainan  tersebut. Mainan ini di Daerah Aceh sering disebut dengan “tingtong”.

Selain itu ada permainan lain bagi anak balita yang bersifat latihan baginya, yaitu latihan berdiri dan berjalan. Mainan ini bentuknya sangat sederhana yang khusus dibuat oleh orang tua mereka atau keluarga lainnya di luar rumah. Mainan ini bentuknya sangat sederhana yang khusus dibuat oleh orang tu a mereka atau keluarga lainnya diluar rumah. Mainan ini merupakan sepotong kayu  yang ditanam setinggi 1/5 meter atau lebih rendah lagi (tergantung pada tinggi si anak) yang pada bagian atas diberi pegangan yang juga berupa kayu menyilang. Kayu pegangan ini dapat berputar-putar baik ke kiri maupun ke kanan, sehingga bila seorang anak telah dapat menjangkau atau memegangnya, secara otomatis kayu ini berputar sehingga si anak akan berjalan atau harus mengangkat kakinya (berjalan) seirama dengan putaran kayu tersebut. Mainan ini di daerah Aceh disebut “Weng Ubiet”.

Anak yang berusia 4-5 tahun lebih menyukai permainan sederhana, karena dengan permainan ini mereka lebih bisa bermain dengan serius, semua ini bukan dikarenakan jiwa anak masih sederhana. Tetapi karena anak memiliki imajinasi yang luar biasa. Setiap harinya mulai diisi dengan kegiatan bermain-main mulai dari bangun tidur bahkan sampai sore hari tanpa mengenal lelah. Mereka beristirahat pada waktu makan saja kemudian setelah bangun mengambil permainan lagi.

Teman permainan adalah tetangga terdekat maupun kakaknya sendiri, seperangkat mobil-mobilan yang terbuat dari kayu balok dan permainan tradisional lainnya, sedangkan bagi anak perempuan seperti permainan mengayam dan menenun daun pisang yang diajarkan oleh ibu-ibunya.

 

2.2. Kajian Terhadap Penelitian Terdahulu

Bermain mempunyai pengaruh besar bagi perkembangan anak seperti, hasil penelitian Suyitno (1991:232): “Yang menjadi pengaruh bermain bagi perkembangan wawasan diri, belajar bermasyarakat, belajar bermain sesuai dengan peran jenis kelaminnya serta perkembangan kepribadian yang diinginkannya”.

Penelitian yang dilakukan Islamiati (1991:87) bahwa kegunaan dari alat permainan edukatif : “Untuk merangsang tumbuhnya kemampuan gerakan fisik, pendengaran, bicara, menolong diri sendiri dan kecerdasan lainnya serta untuk menimbulkan hubungan akrab dengan orang tua bila dimainkan bersama”.

Orang tua perlu memahami cara-cara bermain dengan anak agar perangsangan yang diberikan dapat memberi hasil yang optimal. Untuk itu sebelum ibu bermain dengan anak, perlu mengerti pedoman bermain dengan anak balita.

 

2.3. Kerangka Berpikir dan Argumentasi Keilmuan

Perkembangan anak balita sangat ditentukan oleh faktor keluarga dan lingkungan tempat anak berada. Sebagai anak yang sedang berkembang maka diperlukan suatu usaha dalam mencermati perkembangan anak termasuk dalam mainannya.  Permainan anak merupakan :

2.3.1. Permainan bagi anak balita sangat penting untuk mengembangkan kemampuan rohani maupun jasmani.

2.3.2. Anak balita tergolong anak yang masih dalam pertumbuhan, sehingga perlu dilakukan penyediaan mainan untuk mempermudah anak dalam belajar.

2.3.3. Permainan bagi anak balita merupakan suatu upaya pendidikan untuk membina perkembangan  dan pertumbuhan bagi anak balita.

2.3.4. Permainan bagi anak balita akan dapat menciptakan aktivitas dan kreativitas anak.

 

 

 

2.4. Hipotesis

2.4.1. Jika cara orang tua menyediaan mainan anak balita sesuai dengan perkembangan anak, maka penyediaan mainan maka dapat membentuk kecerdasan balita.

2.4.2. Jika jenis mainan yang disediakan oleh orang tua sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak maka mainan anak dapat membentuk perkembangan anak balita.

2.4.3. Jika faktor-faktor pertumbuhan dan faktor perkembangan anak yang mempengaruhi orang tua dalam penyediaan mainan anak balita, maka orang tua akan menyediakan mainan bagi anak-anaknya sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak..

 

2.5. Definisi Operasional Variabel

2.5.1. Cara ibu-ibu menyediakan mainan anak balita adalah teknik metode dan strategi yang digunakan ibu dalam menyediakan mainan.

2.5.2. Kecerdasan adalah kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak.

2.5.3. Jenis mainan adalah bentuk-bentuk mainan yang disediakan ibu-ibu bagi anak balitanya.

2.5.4. Pertumbuhan dan perkembangan adalah bentuk fisik, umur dan mental yang dimiliki anak.

2.5.5. Menyediakan mainan bagi anak-anaknya sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak adalah memilih dan mempersiapkan mainan bagi anak-anaknya didasarkan pada perkembangan fisik dan mental anak.

 

Komentar

Postingan Populer