MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PELAJARAN BAHASA INDONESIA MATERI MENULIS METODE PAKEM
UPAYA MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR PELAJARAN BAHASA INDONESIA MATERI MENULIS METODE PAKEM
A. Latar Belakang Masalah
Di lembaga pendidikan manapun, usaha mendidik merupakan suatu hal yang
sangat diperhatikan, karena melalui mendidik inilah tujuan dari pendidikan
dapat dicapai dengan lebih baik. Melalui ini pula berarti membantu anak agar
mampu mengembangkan potensi yang ada untuk lebih
berkembang serta belajar terus menerus. Apalagi dalam kondisi dewasa ini,
pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, peserta didik mestilah
diarahkan untuk makin kreatif, berinisiatif, inovatif, mandiri dan cerdas.
Sasaran utama dalam hal ini yaitu sesuatu yang bersifat intelektual dan
keterampilan, sehingga masalah moral dan etika kurang tersentuh atau mungkin
agak terlupakan oleh kedua orang tua sebagai pendidik utama bagi anak–anaknya,
mampu ditingkatkan melalui proses pendidikannya di sekolah yang dibina oleh
guru.
Mewujudkan
sasaran yang ingin dicapai, dalam hal ini sangat erat hubungannya dengan
mengajak dan mengarahkan siswa untuk mampu menulis dan membaca terlebih dahulu.
Karena menulis ini suatu yang sangat mendasar diharapkan dalam pendidikan. Pada
usia pendidikan rendah, menulis dan membaca merupakan yang pertama
diperkenalkan. Ini menandakan, menulis mengawali untuk menguasai pengetahuan
yang lainnya (Henry, 1994: 13).
Meningkatkan
kemampuan menulis pada siswa, setidaknya telah banyak hal yang telah diupayakan
oleh guru, dari mulai menggunakan berbagai metode yang dianggap efektif hingga
saat ini telah diperkenalkan lagi suatu pola belajar yang dianggap berada di
atas metode lainnya yang telah tersedia, yaitu pembelajaran, aktif, kreatif,
efektif dan menyenangkan, yang diistilah dengan PAKEM (Haryanto, 2007: 23).
Sebenarnya
PAKEM ini tidaklah jauh berbeda dengan metode-metode lainnya, karena metode
dalam belajar juga mengandung dan menganaut azas yang sebagaimana ada di dalam
PAKEM itu sendiri. Meski demikian, setidaknya kebanyakan orang menganggap ada
hal yang dianggap tampak berbeda/lebih menonjol dibandingkan dengan metode
lainnya.
Bila ingin
terbuka dan jujur, sekarang ini pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah,
mulai dari TK sampai SLTA, bahkan sampai perguruan tinggi, belum mendapatkan
tekanan yang lebih. Maka itu jangan heran, kegemaran menulis sebagian peserta
didik di negeri ini telah digantikan dengan face book, game online,
chatting, dan lain-lainnya, yang sifatnya mengarah ke refreshing. Mengingat
kondisi tidak berimbang ini, Mulyono Sumardi, ketua Himpunan Pembina Bahasa
Indonesia, tampaknya angkat bicara, dia menyatakan, dalam dunia pendidikan,
keterampilan berbahasa Indonesia perlu mendapatkan tekanan yang lebih banyak
lagi, mengingat kemampuan berbahasa Indonesia di kalangan pelajar ini juga
disebabkan oleh kualitas guru, dari pihak lain munculnya anggapan bahwa setiap
orang Indonesia pasti bisa berbahasa Indonesia, anggapan ini justru ikut
merunyamkan dunia kebahasaan Indonesia itu sendiri (Sumardi, 2005: 34).
Karena kondisi ini mulai tidak terkontrol
oleh arus teknologi dan globalisasi, para guru telah mencoba kembali
membangkitkan kembali semangat menulis, agar kemampuan berbahasa dapat
ditingkatkan. Upaya yang telah dilakukan tidaklah sedikit, mulai dari memberi
tugas di rumah (PR) dalam bentuk portofolio maupun bentuk tugas proyek lainnya
hingga kegiatan menulis atau mengarang ini dijadikan sebagai salah satu
kurikulum yang menjadi wajib diajarkan. Dari upaya yang dilakukan ini tampak
pula bahwa, belum adanya peruabahn yang signifikan.
Untuk merespon persoalan ini, Djamarah (2006: 21) kembali memberi peringatan dan saran, bahwa syarat
agar proses belajar-mengajar dapat berlangsung secara efektif dan dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa pada pada pelajaran menulis, yaitu;
- Guru harus mempunyai pegangan kuat tentang mengajar dan dasar-dasar
teori belajar ”menulis”,
- Guru harus dapat mengembangkan sistem pengajaran,
- Guru harus mampu melakukan proses belajar-mengajar yang efektif sesuai
dengan kurikulum, dan
- Guru harus mampu melaksanakan penilaian hasil belajar sebagai dasar
umpan balik bagi seluruh proses yang ditempuh.
Kegiatan belajar menulis ini, tidak bisa
disamakan dengan kegiatan belajar lainnya. Cakupan yang akan difungsikan disaat
belajar mengarang yaitu mencakup aspek kognitif,
aspek afektif, dan aspek psikomotor. Ketiga aspek itu berturut-turut menyangkut
ilmu pengetahuan, perasaan, dan keterampilan atau kegiatan berbahasa (Gie, The
Liang, 2002: 23).
Berdasarkan
uraian di atas, maka penelitian terhadap tindakan kelas ini diberi judul, upaya
meningkatkan prestasi belajar pelajaran Bahasa Indonesia pada materi menulis
dengan metode PAKEM di kelas II semester I tahun 2010.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang sebagaimana tersebut di atas, dalam kajian ini
dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah, yaitu;
- Apakah metode PAKEM dapat meningkatkan prestasi belajar pelajaran
Bahasa Indonesia pada materi menulis?
- Bagaimana upaya meningkatkan prestasi belajar pelajaran Bahasa
Indonesia pada materi menulis melalui metode PAKEM?
C. Tujuan
Penelitian
Setiap pembahasan
mempunyai tujuan yang hendak dicapai, demikian juga dalam pembahasan kajian ini. Adapun tujuan
yang hendak dicapai yaitu;
- Mengetahui metode PAKEM dalam meningkatkan prestasi belajar pelajaran
Bahasa Indonesia pada materi menulis.
- Mengetahui upaya meningkatkan prestasi belajar pelajaran Bahasa
Indonesia pada materi menulis melalui metode PAKEM.
D. Kegunaan
Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut;
- Memberikan informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan
materi bahasa Indonesia.
- Meningkatkan motivasi pada pelajaran bahasa Indonesia.
- Mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan bidang studi bahasa
Indonesia.
E. Batasan Masalah
Karena
keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah meliputi;
- Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas II
semester I tahun pelajaran 2010.
- Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari semester
ganjil tahun pelajaran 2010.
- Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan menulis
dengan metode PAKEM.
Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian, Jakarta:
Rineka Cipta.
Djajasudarma, Fatimah, 1993. Linguistik; Suatu
Pengantar. Bandung: Angkasa.
Deppdiknas. 2005. Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Djamarah, Saiful Bahri. 2006. Strategi
Belajar-Mengajar, Rineka Cipta: Jakarta.
Depdikbud Dikdasmen. 1997. Petunjuk Pelaksanaan Proses
Belajar Mengajar. Jakarta: 1997.
Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta:
ANDI.
Haryanto. 2007. Bahan Ajar Pelatihan Strategi
Pembelajaran Berbasis PAKEM. Yogyakarta: FIP UNY.
HM, Ahmad, R. 2004. Pengelolaan Pengajaran, Jakarta:
Rineka Cipta.
Keraf, Gorys. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa
Indonesia. Jkaarta: Gramedia.
Kridalaksana, Harimurti. 1983. Kamus Linguistik. Jakarta:
Gramedia.
Lie, Charlie. 2005. Jadi Penulis Ngetop itu Mudah. Bandung:
Nexx Media. Inc.
Maleong, J. Lexy. 2007. Metodelogi Penelitian Ilmu
Kumulatif. Bandung: Remaja Roesdakarya.
Suryabrata, S. 2002. Proses Belajar dan Mengajar di
Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumardi & Nur Anggraeni. 2005. Terampil Berbahasa
Indonesia Untuk SMA. Jakarta: Erlangga.
Sagala, Saiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran.Bandung:
Alfabeta.
Soejanto, Agoes. 1997. Bimbingan ke Arah Belajar yang
Sukses. Surabaya: Rineka Cipta.
Suriamiharja, Agus, dkk. 1997. Petunjuk Praktis
Menulis. Jakarta: Dekdikbud.
Slameto. 2000. Belajar dan Faktor-faktor Yang
mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menulis sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Underwood, Mary. 2000. Pengelolaan Kelas yang Efektif.
Jakarta: Arean.
Winkel, WS. 1986. Psikologi Pengajaran. Jakarta:
Grasindo.
Yuniawan, Tommi. 2003. No. 2. Peningkatan Kompetensi
Menulis melalui Pemgembangan Rancangan Perkuliahan Menulis 2 pada Mahasiswa
Jurusan Bahasa dan sastra Indonesia. Lembaran Ilmu Kependidikan. Semarang:
Unnes.


Komentar
Posting Komentar
Komentar