HASIL BELAJAR, MEMBACA DAN METODE DEMONSTRASI


 

BAB II

 

HASIL BELAJAR, MEMBACA DAN METODE DEMONSTRASI

           

A.  Landasan Teori

1.      Pengertian hasil belajar, membaca dan metode demonstrasi

a.       Pengertian belajar

Pengertian hasil belajar ini kebanyakan orang beranggapan sebagai nilai-nilai yang dimiliki oleh siswa di sekolah. Pandangan yang demikian itu terlalu sempit untuk dijadikan suatu pandangan, dimana hasil belajar itu bukan hanya membicarakan tentang nilai melainkan juga semua perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap seseorang siswa dalam belajar. Winkel (1984 : 102) bahwa hasil belajar hasil dari proses belajar yang berupa perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pengalaman dalam bidang keterampilan dalam bidang nilai, dan bidang sikap seseorang dalam belajar.

Menurut Depdikbud (1984: 8) hasil belajar adalah, perpaduan antara proses dan hasil belajar yang dinyatakan oleh sejumlah perkalian antara nilai yang diperoleh dengan kredit yang diambil dalam caturwulan, semester itu. Hasil belajar menunjukkan kemampuan dan sekaligus bobot uupaya belajar seseorang siswa dalam suatu program tertentu. Menurut Pendapat Shadli (1979: 112) hasil adalah hasil pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dalam batas waktu yang telah ditetapkan. Hasil dalam hal ini berfungsi sebagai standar atau ukuran keberhasilan yang sicapai oleh seseorang.

Nilai adalah salah satu aspek yang termasuk ke dalam hasil seseorang dalam belajar. Dengan demikian hasil belajar itu adalah hasil dari proses belajar seseorang siswa yang berupa perubahan-perubahan, baik dalam bidang pengetahuan/ pengalaman, keterampilan, nilai, maupun dalam bidang sikap. Hasil belajar itu berbeda-beda sifatnya, tergantung dari bidang yang didalamnya siswa menunjukkan hasil. Misalnya dalam pengetahuan/pengalaman dan bidang kognitif.

Di lain hal, Soemanto (2003:104) mengatakan bahwa, belajar adalah proses dari perkembangan hidup manusia melalui perubahan-perubahan sehingga tingkah lakunya dapat berkembang. Selanjutnya Sardiman A.M (2006: 20) mengatakan bahwa, belajar itu merupakan perubahan tingkah laku atau keterampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya: dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.

Hasil belajar adalah hasil dari proses belajar yang berupa perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan, bidang keterampilan, bidang nilai dan bidang sikap seseorang yang belajar. Hasil belajar itu berbeda-beda sifatnya, tergantung dari bidang yang dialami murid, misalnya dalam bidang pengetahuan atau kognitif.

 

b.      Pengertian membaca

 

Membaca merupakan suatu proses dinamis untuk merekonstruksi suatu pesan yang secara grafis dikehendaki oleh penulis. Dalam pendekatan buttom-up, dalam kegiatan membaca, pertama kali seseorang membedakan masing-masing huruf saat ditemukan, membunyikannya, mencocokkan simbol-simbol tertulis dengan ekuivalen-ekuivalen pendengaran, mencampurkannya untuk membentuk kata-kata, dan memperoleh makna (Effendi, 2002: 45).

Oleh karena itu, menemukan makna sebuah kata merupakan langkah terakhir dalam proses itu. Membaca juga merupakan bagian dari pengajaran bahasa Indonesia.kualitas pengajaran bahasa Indonesia menyangkut pula kualitas pengajaran membaca. Dengan terus terang pengajaran bahasa Indonesia selama ini belum berjalan mulus. Keterampilan berbahasa mereka belum mantap.kemampuan bacanya, kemampuan menulisnya, masih banyak menunjukan kelemahan. Hal ini bahkan terjadi juga pada mahasiswa, misalnya meraka sukar  mencerna isi buku teks dan lemah dalam menulis makalah atau skripsi.

Sebenarnya, membaca tidak sekadar menyuarakan tulisan, baik dengan suara nyaring maupun dalam hati dengan merekonstruksi suatu pesan secara grafis, tetapi membaca merupakan suatu proses memahami bahasa tulis Dengan membaca, kita dapat menyerap berbagai ilmu sehingga membaca merupakan sebuah kewajiban bagi umat Islam ini, agar mampu melihat dan menganilisa terhadap sesuatu, termasuk emmbaca dengan pandangan aksiologi (Suwito, 1983: 23).

Dalam Samsuri (1978, 35) disebutkan bahwa mengenai cara membaca dikenal empat macam, yaitu: reguler (biasa), melihat dengan cepat, mengilas, dan kecepatan tinggi .Pertama, cara membaca reguler (biasa). Cara membaca ini relatif lambat karena kita membaca baris demi baris yang biasa dilakukan dalam bacaan ringan. Kedua, cara membaca melihat dengan cepat (skimming).

Cara ini digunakan ketika kita mencari sesuatu yang khusus dalam sebuah bacaan, ketika sedang membaca buku telepon atau kamus. Ketiga, cara membaca melihat sekilas (Scanning). Cara ini digunakan untuk melihat isi buku ataupun pada saat kita membaca koran, dan keempat cara membaca kecepatan tinggi (Warp Speed) . Kecepatan tinggi merupakan teknik membaca suatu bahan bacaan berkecepatan tinggi dengan pemahaman yang sangat tinggi pula (Samsuri, 1978: 86).

Kemampuan membaca cepat merupakan keterampilan memilih isi bacaan yang harus dibaca sesuai dengan tujuan, yang ada relevansinya dengan pembaca tanpa membuang-buang waktu untuk menekuni bagian-bagian lain yang tidak diperlukan. Ketika kita membaca cepat suatu bacaan, baik dengan teknik skimming, scanning, maupun Warp Speed, tujuan sebenarnya bukan untuk mencari kata dan gambar secepat mungkin, namun untuk mengidentifikasi dan memahami makna dari bacaan tersebut seefisien mungkin (Martinet dan Andri, 1987: 107).

Oleh Tarigan (1997: 10), meneyebutkan bahwa segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan / cetakan menjadi bunyi yang  bermakna. Membaca merupakan suatu penafsiran atau interpretasi terhadap ujaran yang berada dalam bentuk tulisan adalah suatu proses pembacaan sandi (decoding process).

Membaca adalah suatu proses yang bersangkut paut dengan bahasa. Oleh karena itu maka para pelajar haruslah dibantu untuk menanggapi atau memberi responsi terhadap lambang-lambang visual yang menggambarkan tanda-tanda oditori dan berbicara haruslah selalu mendahului kegiatan membaca.

Harimurti (1984: 122), mengatakan membaca adalah menggali informasi dari teks, baik yang berupa tulisan maupun dari gambar atau diagram maupun dari kombinasi itu semua. Sementara Soedarso (1989: 4) berpendapat bahwa membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, meliputi orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat. Di lain hal, Tampubolon (1986: 228) berpendapat bahwa membaca adalah kegiatan fisik dan mental yang dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan.

Bahkan ada pula beberapa penulis yang beranggapan bahwa membaca adalah suatu kemauan untuk melihat lambang-lambang tertulis serta mengubah lambang-lambang tertulis tersebut melalui suatu metode pengajaran membaca seperti fonik (ucapan, ejaan berdasarkan interpretasi fonetik terhadap ejaan biasa) menjadi membaca lisan. Demikianlah makna itu akan berubah, karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut.

Tujuan pembelajaran membaca di SD dalam kurikulum 1994 disesuaikan dengan tingkat kelas masing-masing. Kelompok membaca di SD dikelompokkan menjadi dua kelompok: membaca kelas rendah disebut juga membaca permulaan yang sepenuhnya dilaksanakan dikelas 1 dan kelas 2, membaca kelas tinggi disebut juga membaca lanjutan, untuk membaca jenis  ini diberikan dikelas 3,4,5 dan 6 , tujuan pengajaran membaca lanjutan ini adalah bagaimana guru dapat memperlancar kemampuan siswa untuk mengubah lambang-lambang tertulis menjadi bunyi-bunyi yang bermakna dan akhirnya dapat memahami isi wacana (Petunjuk Pengjaran Membaca dan Menulis kelas 3,4,5 dan 6 di Sekolah Dasar Depdikbud).

Bahan pelajaran membaca yang tercantum dalam GBPP 1994, tidak terjabar secara kronologis melainkan tersebar secara acak  dari tiap  tingkat kelasnya. Butir-butir  pembelajaran membaca yang terdapat dalam kurikulum/GBPPBahasa Indonesia 1994 seperti membaca puisi, membaca cerita, membaca  cepat teks bacaan, membaca cerita pendek, membaca cerita rakyat,  membaca percakapa/dialog, membaca dan meringkas bacaan dan membaca dalam hati.

Dalam dunia pendidikan, buku terbukti berdaya guna dan bertepat guna sebagai salah satu sarana pendidikan dan sarana komunikasi. Dalam kaitan inilah minat membaca dan pelayanan perpustakaan harus dikembangkan sebagai salah satu instalasi untuk mewujudkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Membaca  merupakan bagian terpenting untuk mengetahui segala sesuatu  dan besar pengaruhnya terhadap mutu pendidikan.

 

 

 

 

c.       Metode demonstrasi

Metode demonstrasi menurut Djamarah dan Zain adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memeragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses,  situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya maupun tiruan (2003 : 102).

Dari pengertian tersebut penulis menyimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu proses memberikan contoh kepada siswa berkaitan dengan materi yang akan disampaikan  agar  siswa dapat meniru, memeragakan ulang segala sesuatu yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa, melalui cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang diinginkan.

Demonstrasi merupakan metode yang dianggap efektif, dalam metode ini membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar (Muhammad Ali, 2007: 43). Metode demonstrasi dapat dikatakan juga sebagai penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan (Hamzah, 2001: 67). Sebagai metode penyajian, demonstrasi tentu tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.

Penggunaan metode ini sangat menunjang proses interaksi belajar di ruangan, yang diperoleh juga besar. Metode  ini bisa kita katakan sejenis dengan metode eksperimen hanya saja demontrasi tidak melakukan percobaan. Jadi metode ini merupakan cara mengajar dimana seorang instruktur/tim menunjukkan sesuatu proses berlangsung, misalnya cara menulis puisi, sajak dan lainnya, atau seperti mempraktekkan membuka dan memasangkan kembali baterai laptop. Muhammad Ali,  (2007: 52) melalui Guru dalam Proses Belajar Mengajar, menyebutkan bahwa keuntungan yang diperoleh dari metode demonstrasi ini yaitu;

1.      Perhatian peserta lebih dapat terpusatkan pada bahan ajar/masalah yang sedang berlangsung, dan

2.      Kesalahan yang terjadi dapat diatasi melalui pengamatan atau contoh kongkrit.

 

Dengan  metode ini, peserta didik dapat berpartisipasi lebih giat dan aktif, karena memperoleh pengalaman langsung dari pengajar terhadap aspek yang sedang dipelajari yang pada gilirannya nanti mampu mengembangkan kecakapannya.

Di lain hal Abu Ahmadi, (2005: 124), menyebutkan bahwa sebagai suatu metode pembelajaran, demonstrasi memiliki beberapa kelebihan, yaitu;

  1. Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
  2. Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
  3. Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.

 

 

Di samping beberapa kelebihan, metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, diantarannya;

  1. Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi. Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukan suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak.
  2. Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah.

 

Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional. Di samping itu demonstrasi juga memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa (Abu Ahmadi, 2005: 134).

 

2. Belajar membaca melalui metode demontrasi      

            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dituangkan bahwa metode adalah cara yang teratur untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode demonstrasi menurut Djamarah dan Zain adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memeragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses,  situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya maupun tiruan. (2003: 102).

Dari ungkapan tersebut penulis menyimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu proses memberikan contoh kepada siswa berkaitan dengan materi yang akan disampaikan  agar  siswa dapat meniru, memeragakan ulang segala sesuatu yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa, melalui cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang diinginkan.

            Sebagaimana dijelaskan dahulu bahwa, membaca sebagai proses yang bersangkut paut dengan bahasa. Karena membaca sangat erat dengan bahasa setiap pembaca (peserta didik) hendaknya dibantu agar para peserta didik lebih siap menanggapi atau memberi responsi yang efektif dalam hal bisa saja emperagakan dengan cara demonstrasi yang baik dan benar terhadap lambang-lambang visual yang menggambarkan tanda-tanda oditori dan berbicara haruslah selalu mendahului kegiatan membaca.

Pendekatan pengajaran membaca adalah salah satu pembelajaran keterampilan berbahasa yang menggunakan pendekatan sesui dengan rambu-rambu pembelajaran dalam kurikulum yaitu, pendekatan komunikatif, pendekatan integratif, keterampilan proses dan pendekatan tematis.

  1. Pendekatan  komunikatif, yaitu membaca bacaan dan menyatakn pendapat/ perasaannya.
  2. Pendekatan integratif,  yaitu membaca dialog antara dua orang atau lebih secara perorangan, berpasangan atau kelompok.
  3.  Pendekatan keterampilan proses, yaitu membaca teks bacaan, menemukan gagasan utama dan menjawab pertanyaan yang diajukan.
  4. Pendekatan tematis, yaitu membaca novel anak-anak dan membicarakan isinya (Suwito, 1983: 68).

 

Teknik pembelajaran membaca yang dpat dilakukan oleh guru , tetapi guru harus tetap berpegang  dan berpatokan pada kurikulum. Berdasarkan butir-butir pembelajaran membaca dari kelas I sampai dengan kelas VI, pembelajaran membaca dapat dikelompokkan  dari membaca teknik dan membaca pemahaman, yaitu

  1. Membaca teknik adalah membaca yang mengutamakan teknik-teknik membaca seperti ketetapatan ucapan-ucapan, intonasi dan ejaan. Membaca jenis ini selalu diajarkan di kelas-kelas rendah (kelas 1 dan 2). Membaca Teknik terdiri dari :lihat dan baca, baca dan terka.
  2. Membaca pemahaman adalah membaca yang mengutamakan pemahaman terhadap isi untuk membaca jenis ini selalu diajarkan dikelas tinggi yaitu kelas 3,4,5 dan 6. Membaca pemahaman terdiri dari, mencari kalimat topik, menceritakan kembali, parafrase, melanjutkan cerita dan mempraktekkan petunjuk (Keraf, 1991: 51).

 

Membaca ini kian dirasakan penting dalam kehidupan sehar-hari, mengingat tradisi yang semakin tidak terkalahkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bila kurang respon dalam pengetahuan membaca maka, tidak tertutup kemungkinan kehidupan pribadi siswa selalu tidak terampil bahkan sangat tertutup terhadap perkembangan tekonlogi. Karena itu,  Harimurti (1984: 17) mengatakan lagi bahwa menggali informasi dari teks, baik yang berupa tulisan maupun dari gambar atau diagram maupun dari kombinasi itu semua sangat penting untuk dikuasai. Karena menurutnya sifat yang berbentuk abstrak tidaklah bisa dibaca lewat panca indra secara sederhana, semua butuh analisa dan analogi yang khusus, sehingga membacalah yang mampu memperbaiki ketidaktahuan manusia dalam hal yang tidak sederhanaa.

Ditambah lagi oleh Soedarso (1989: 4) bahwa membaca dapat dikatakan sebagai aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, meliputi orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat. Di lain hal, Tampubolon (1986: 228) berpendapat bahwa membaca adalah kegiatan fisik dan mental yang dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan.

Kecepatan membaca sebenarnya tergantung pada tujuan membaca. Sutrisno menyatakan bahwa ada kebiasaan yang kurang baik yang sering dilakukan sampai dewasa ketika membaca yaitu:

a.       Vokalisasi. Membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca karena mengucapkan kata demi kata dengan lengkap.

b.      Gerakan Bibir. Menggerakkan bibir sewaktu membaca, sekalipun tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersama. Kecepatan membaca bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan membaca diam.

c.       Menunjuk dengan Jari. Untuk menunjuk agar tidak ada kata-kata yang terlewati maka kita melakukan dengan bantuan jari atau pensil menunjuk kata demi kata. Cara tersebut sebenarnya harus kita tinggalkan karena tidak memberi kepercayaan kepada mata dan otak.

d.      Regresi atau Mengulang. Kebiasaan selalu kembali ke belakang untuk melihat kata yang baru dibaca itu menghambat serius dalam membaca.

e.       Gerakan Kepala. Semasa anak-anak penglihatan kita memang masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan, akibatnya kita menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untuk dapat membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Setelah dewasa, penglihatan kita telah mampu secara optimal sehingga cukup mata saja yang bergerak (Tampubolon, 1986: 144-145).

 

Ada banyak kiat yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca siswa, antara lain:

a.    Memperkenalkan buku-buku, cara ini dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran maupun guru perpustakaan. Buku yang diperkenalkan dapat berupa fiksi dan nonfiksi.

b.   Memperkenalkan hasil karya sastrawan. Sastrawan tenar di Indonesia banyak sekali, misalnya, Umar Kayam, Y.B. Mangun Wijaya, Rendra, Taufik Ismail dan lain-lain,

c.    Pameran buku, biasanya dapat dilaksanakan dengan bekerja sama antara toko buku atau penerbit.

f.       Majalah dinding hingga dewasa ini masih merupakan media sederhana untuk berekspresi, berkreasi, dan bereksplorasi. Majalah dinding dapat menjadi media kelas dan sekolah (Tampubolon, 1986: 148).

 

 

Metode demonstrasi adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru atau orang lain yang sengaja diminta atu murid sendiri memperlihatkan kepada seluruh kelas suatu proses, misalnya proses cara membaca puisi yang sesuai dengan lafal, intinasi dan ekspresi yang tepat”(Ahmadi dkk, 2005:62)

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa metode demonstrasi sebagai salah satu metode mengajar yang digunakan balam membaca indah juga memiliki manfaat yang sangat banyak bagi siswa. Apabila metode demonstrasi ini dapat diterapkan atau digunakan dengan baik dan tepat, maka sangat memungkinkan meningkatnya proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah ataupun di dalam kelas dan hasil belajar dapat dicapai secara optimal.

Pada umumnya tujuan pengajaran membaca di sekolah ialah untuk memahami apa yang dibaca atau isi bacaan dan  meningkatkan kompetensi kebahasaan atau pemerolehan kemampuan berbahasa.  Menurut  pendapat Tampubolon, (1982), tujuan program pengajaran membaca  adalah meningkatkan kemampuan siswa agar dapat membaca teks asli yang belum pernah  dikenalnya dengan tingkat kecepatan yang memadai dan dengan pemahaman yang memadai tanpa mengalami hambatan. Tujuan membaca inilah yang sangat sesuai dengan hal yang akan dibahas.

Pada kurikulum 1994 GBPP  dalam Burhan (1997: 106), pelajaran Bahasa Indonesia,tujuan membaca di SD  disebut pada butir 5 sampai dengan butir 8, tujuan khusus pemahaman adalah sebagai berikut;

  1. Siswa mampu memahami  isi bacaan dengan tepat.
  2. Siswa mampu mencari sumber informasi, mengumpulkan dan menterap informasi.
  3. Siswa memilki kegemaran dan keterampilan untuk meningkatkan pengetahuan dan     memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Siswa memiliki kegemaran membaca/menikmati karya sastra untuk meningkatkan kepribadian, mempertajam kepekaan perasaan dan memperluas wawasan kehidupannya.

 

Dilanjutkan lagi oleh Burhan (1997: 126) bahwa, tujuan membaca di kelas rendah, kelas 1 dan 2 yitu:

  1. Pengenalan huruf
  2. Mampu membaca beberapa kata
  3. Mapu membaca kalimat

Tujuan membaca di kelas tinggi, yaitu kelas 3,4,5 dan 6, yaitu sebagai berikut:

  1. Siswa mampu membaca bacaan dengan lancar dan dapat menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri.
  2. Siswa mampu membaca bcaan dengan lancar dan memahami isinya
  3. Siswa dapat mencari kata-kata yang sukar dengan menggunakan kamus atau sumber-suber lain.
  4. Siswa mampu memahami cerita, puisi dan drama serta dapat memberikan kesan.
  5. Siswa mampu membaca teks bacaan dan menyimpulkan isinya  dengan kata-kata sendiri.
  6. Siswa mampu membaca teks bacaan  secara cepat dan dapat mencatat gagasan-gagasan utama.
  7. Siswa mapu menyerap isi cerita, puisi dan drama serta dapat memberikan tanggapan.
  8. Siswa mampu membaca teks bacaan serta dapat mengutarakan pendapat dan tanggapan mengenai isinya.
  9. Siswa mampu membaca sekilas suatu teks bacaan dan menemukan garis besar isinya (Burhan, 1997: 129).

 

3. Jenis-jenis membaca

Membaca memiliki jenis yang beragam, dimana dalam implementasinya dapat dilakukan dengan cara membaca denga sekilas dan lainnya. Adapun jenis-jenis membaca tersebut dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu sebagai berikut;

  1. Membaca ekstrensif, yaitu membaca secara luas dan obyeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin (Tarigan, 1979:32). Dari pengertian atau pemahaman yang bertaraf relatif rendah sudah memadai untuk ini, karena memang begitulah tuntutannya dan juga karena bahan bacaan itu sendiri memang sudah banyak serta berlebih-lebihan seperti halnya dengan bacaan laporan-laporan.

 

  1. Membaca sekilas, atau skimming adalah sejenis membaca yang membuat mata bergerak dengan cepat melihat, memperhatikan bahan tertulis untuk mencari serta mendapatkan informasi dan penerangan (Tarigan, 1979:32). Jadi dapat dipahami bahwa membaca sekilas merupakan suatu cara dalam membaca, dimana mata bergerak dengan secepat mungkin melihat apa yang dibaca baik dalam buku maupun lainnya sehingga diperoleh informasi dan pengetahuan.

 

  1. Membaca cepat, yaitu membaca yang ditujukan untuk melihat anak didik dengan cepat-cepatnya membaca dalam hati sambil mengusahakan penangkapan isi bacaan (Djauzak, 1995:34). Sedangkan menurut Tarigan (1979:35) mengemukakan bahwa membaca cepat adalah keterampilan bahasa lisan untuk melatih anak didik dengan secepat-cepatnya. Berdasarkan kedua pendapat tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa membaca cepat adalah ketermpilan bahasa lisan untuk membaca secara cepat dalam hati dan sambil berusaha menangkap pesan dan makna bacaan yang dibacanya.

 

  1. Membaca dangkal, yaitu atau Superficial Reading pada dasarnya bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu bahan bacaan. Menurut Broughton dalam (Tarigan, 1979:92). Mengatakan bahwa membaca Superficial Reading dapat dilakukan apabila seseorang membaca demi kesenangan, membmaca bacaan ringan yang mendatangkan kebahagiaan di waktu senggang, seperti cerita pendek, novel ringan dan sebagainya. Jadi dalam membaca seperti ini tidak dituntut pemikiran yang mendalam seperti halnya membaca karya-karya ilmiah. Dapat dilakukan dengan santai tetapi menyenangkan.

 

  1. Membaca intensif atau intensif reading adalah studi seksama, telah teliti, penaganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek kira-kira dua samapai empat halaman setiap hari, quisioner, latihan pola-pola kalimat, latihan kosa kata, membaca intensif (Tarigan, 1979:53). Sedangkan menurut Brooks dalam (Tarigan, 1979:35) mengatakan bahwa teks-teks bacaraan yang benar sesuai dengan maksudnya haruslah dipilih oleh guru, baik dari segi isinya. Sehingga anak didik berhasil secara langsung baik yang berhubungan dengan kualitas maupun keserasian pilihan bahan bacaan.

Dari kedua pengertian diatas, dapat dipahami bahwa membaca intensif merupakan kegiatan membaca yang dilakukan dengan cara teliti dan seksama baik dengan cara didikte, menelaah setiap kata dan kalimat maupun dengan mendiskusikannya secara luas.

 

  1. Membaca dalam hati atau silent reading adalah membaca dengan tidak berusaha atau membaca lirih atau berbisik-bisik karena kita hanya mempergunakan ingatan visual (visual memory). Dalam hal ini yang aktif adalah mata (pandangan, penglihatan) dan ingatan (Tarigan:1979:79). Jadi membaca dalam hati merupakan cara membaca dengan tidak mengeluarkan suara atau bunyi dan hanya menggunakan ingatan visual, pandangan dan penglihatan, sehingga terfokus pada apa yang dibaca.

 

  1. Membaca nyaring, adalah suatu aktivitas yang merupakan alat bagi guru, murid ataupun membaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap informasi, pikiran dan perasaan seorang pengarang (Tarigan, 1979:22). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa membaca nyaring adalah membaca dengan cara suara yang keras, sehingga dapat didengar oleh guru dan anak didik dlam kelas.

 

4. Faktor yang Mempengaruhi Belajar Membaca

Ada dua kelompok besar faktor yang mempengaruhi minat membaca anak, yaitu faktor personal dan faktor institusional. Faktor personal adalah yang ada dalam diri anak, yaitu meliputi usia, jenis kelamin, intelegensi, kemampuan membaca, sikap dan kebutuhan psikologis. Sedangkan faktor institusional adalah faktor-faktor diluar diri anak, yaitu meliputi ketersediaan jumlah buku-buku bacaan dan jenis-jenis bukunya, status sosial ekonomi orang tua dan latar belakang etnis, kemudian pengaruh orang tua, guru dan teman sebaya anak.

Dalam proses pembelajaran (kegiatan belajar mengajar) termasuk pada Sekolah Dasar,kemampuan siswa membaca indah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor siswa dan guru,tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut:

a.       Bakat siswa

Menurut Warren dalam buku Nurkencana (1986:204) mengatakan bahwa bakat adalahuatu kondisi atau disposisi disposisi tertentu yang menggejala pada kecakapan seseorang untuk memperoleh dengan melalui latihan satu persatu atau beberapa pengetahuan keahlian atau suatu respon seperti kecakapan untuk berbahasa,musik, dan sebagainya.

Bakat merupakan satu disposisi. Disposisi itu dapat berkembang tetapi mungkin pula tidak dapat berkembang. Hal itu tergantung kepada latihan atau pebdidikan yang diberikan. Apabila disposisi itu mendapat latihan atau pendidikan yang cukup memadai maka disposisi itu akan berkembang menjadi suatu kecakapan nyata. Tetapi apabila tidak mendapat latihan atau pendidikan yang baik maka disposisi yang ada itu tidak dapat berkembang maksimal sebagaimana yang diharapkan.

b.      Alat/media

Menurut Marimba dalam buku Djamarah (2003:54) mengatakan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar mempunyai fungsi yaitu alat sebagai perlengkapan alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan. Jadi alat atau media memiliki peranan penting dalam menunjang penguasaan materi pelajaran yang diajarkan pada siswa termasuk kemampuan membaca indah pada siswa di sekolah.

c.       Motivasi belajar

Yang dimaksud dengan motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini,berarti termasuk daya untuk bertingkah laku secara terarah (Gleitman dalam Slameto,2006:151)

Jadi motivasi dapat menggairahkan siswa untuk merasa senang dan semangat untuk belajar. Sebab tanpa adanya motivasi pada diri siswa, dapat mengakibatkan siswa tidak menyukai pelajaran yang diajarkan di sekolah khususnya dalam hal ini adalah belajar membaca indah.

d.      Minat belajar

Adapun yang dimaksud dengan minat adalah kecendrungan atau kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Slameto ,1995:57). Sedangkan menurut dalam bukunya belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya memberikan definisi bahwa minat adalah kecendrungan yang tepat untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan (Slameto,1995:57)

Jadi dapat dipahami bahwa minat belajar sangat menentukan penguasaan dan hasil nelajar siswa sebab dengan minat belajar tersebut dapat menimbulkan rasa keingintahuan siswa dalam mempelajari setiap materi/ bahan pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah terutama dalam hal ini adalah lemampuan membaca indah pada siswa. Sehingga hasil belajarpun dapat diproleh dengan baik.

 

B. Penelitian yang relevan

            Penelitian yang berkaitan erat dengan judul penelitian penulis adalah, Erna Dwi Handayani (2006), yang diteliti tentang Peningkatan keterampilan membaca puisi dengan pendekatan metode demonstrasi. Ia adalah seorang Pendidikan guru kelas sekolah dasar fakultas ilmu pendidikan universitas negeri semarang 2006. Berdasarkan hasil penelitiannya disebutkan bahwa, menggunakan metode demosntrasi ini dalam pembelajaran keterampilan membaca puisi ternyata mengalami perubahan ke arah yang lebih baik terhadap ketuntasan belajar siswa secara baik.

 

C. Kerangka Berpikir

            Berdasarkan permasalahan yang ada dan beberapa teori yang telah dicoba sampaikan di atas, mendasari kerangka berpikir peneliti sebagai berikut;

 

KONDISI AWAL

 

Guru mengajar

Masih konvensional

 

60% bahkan 70% siswa belajar tidak tuntas

 

SIKLUS  I

 

PBM melalui metode demonstrasi

 

SIKLUS  II

 

Diduga hasil belajar melalui metode demonstrasi pembelajaran materi membaca meningkat

 

KONDISI AKHIR

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


E. Hipotesis Tindakan

            Melalui metode demonstrasi prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas VI pada materi membaca dapat ditingkatkan.

 

 Pustaka

Sardiman A.M. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta:Rajawali Press.

Soemanto, Wasti. 2003. Psikologi Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta:PT. Rineka Cipta.

Sardiman. 2000. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Yuniawan, Tommi. 2003. No. 2. Peningkatan Kompetensi Menulis melalui Pengembangan Rancangan Perkuliahan Menulis 2 pada Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Lembaran Ilmu Kependidikan. Semarang Unnes.

Slameto. 2000. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. PT. Rineka Cipta: Jakarta.

Suryabrata, S. 2002. Proses Belajar dan Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta

Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung: Angkasa 1979) hlm. 10

Haryanto. 2007. Bahan Ajar Pelatihan Strategi Pembelajaran Berbasis PAKEM. Yogyakarta: FIP UNY.

Sumardi & Nur Anggraeni. 2005. Terampil Berbahasa Indonesia Untuk SMA. Jakarta: Erlangga.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain. 2006. Strategi Belajar-Mengajar, Rineka Cipta Jakarta.

Ahmad,Abu,dkk.,2004. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia

Underwood, Mary. 2000. Pengelolaan Kelas yang Efektif.  Jakarta: Arean.

Suriamiharja, Agus, dkk. 1997. Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta: Dekdikbud.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaktif Edukatif, Rineka Cipta Jakarta

Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: ANDI.

Winkel. W.S. 1990. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, Jakarta:PT. Gramedia.

Depdikbud Dikdasmen. 1997. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. Jakarta: 1997.

Deppdiknas. 2005. Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

4 Soedarso, Sistem Membaca Cepat dan Efektif (Jakarta: PT. Gramedia 1989) hlm. 4

Lie, Charlie. 2005. Jadi Penulis Ngetop itu Mudah. Bandung: Nexx Media. Inc.

5 DP. Tampubolon, Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efisien (Bandung: Angkasa 1986) hlm. 228

Soejanto, Agoes. 1997. Bimbingan ke Arah Belajar yang Sukses. Surabaya: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Fatimah. 1993. Strategi Belajar-Mengajar. Bandung : Pustaka Setia.

Berns.1985. Membaca. Bandung : PT. Sentosa Jaya

Meleong, J. Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Komulatif. Bandung: PT. Remaja Rosdiakarnya.

Arikunto, Suharsimi. 1989. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Tineka Cipta.


Komentar

Postingan Populer