BAB II MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI LINGKARAN MELALUI METODE DEMONSTRASI
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Hasil Belajar Matematika,
Demonstrasi dan Siswa
1. Pengertian belajar matematika
Matematika (dari bahasa
Yunani: μαθηματικά-mathēmatiká) adalah studi besaran, struktur,
ruang, dan perubahan. Para matematikawan mencari berbagai pola, merumuskan
konjektur baru, dan membangun kebenaran melalui metode deduksi yang kaku dari
aksioma-aksioma dan definisi-definisi yang bersesuaian.
Terdapat perselisihan tentang
apakah objek-objek matematika seperti bilangan dan titik hadir secara alami,
atau hanyalah buatan manusia. Seorang matematikawan Benjamin Peirce menyebut matematika
sebagai "ilmu yang menggambarkan simpulan-simpulan yang penting". Di
pihak lain, Albert Einstein menyatakan bahwa, sejauh hukum-hukum matematika
merujuk kepada kenyataan, mereka tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti,
mereka tidak merujuk kepada kenyataan.
Melalui penggunaan penalaran
logika dan abstraksi, matematika berkembang dari pencacahan, perhitungan,
pengukuran, dan pengkajian sistematis terhadap bangun dan pergerakan
benda-benda fisika. matematika praktis telah menjadi kegiatan manusia sejak
adanya rekaman tertulis. Argumentasi kaku pertama muncul di dalam matematika
Yunani, terutama di dalam karya Euklides, Elemen. Matematika selalu berkembang,
misalnya di Cina pada tahun 300 SM, di India pada tahun 100 M, dan di Arab pada
tahun 800 M, hingga zaman Renaisans, ketika temuan baru matematika berinteraksi
dengan penemuan ilmiah baru yang mengarah pada peningkatan yang cepat di dalam
laju penemuan matematika yang berlanjut hingga kini.
Kini, matematika digunakan di
seluruh dunia sebagai alat penting di berbagai bidang, termasuk ilmu alam,
teknik, kedokteran/medis, dan ilmu sosial seperti ekonomi, dan psikologi. Matematika
terapan, cabang matematika yang melingkupi penerapan pengetahuan matematika ke
bidang-bidang lain, mengilhami dan membuat penggunaan temuan-temuan matematika
baru, dan kadang-kadang mengarah pada pengembangan disiplin-disiplin ilmu yang
sepenuhnya baru, seperti statistika dan teori permainan. Para matematikawan
juga bergulat di dalam matematika murni, atau matematika untuk perkembangan matematika
itu sendiri, tanpa adanya penerapan di dalam pikiran, meskipun penerapan
praktis yang menjadi latar munculnya matematika murni ternyata seringkali
ditemukan terkemudian.
2. Pengertian hasil belajar
Dalam banyak kajian,
pengertian belajar ini mengandung arti yang tidak seragam, namun demikian
tujuan yang diharapkan adalah sama saja sebagiamana tujuan yang telah
diarahakan oleh banyak ahli. Dalam tulisan ini belajar dapat diartikan sebagai
serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan, yang
memiliki proses dan tujuan. Sementara hasil belajar merupakan suatu nilai yang
diperoleh dari umpan balik terhadap belajar. Sementara Mulyono (2003: 14)
menyebutkan bahwa; belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga
unsur yang dapat dibedakan yakni, tujuan pengajaran (intruksional), pengalaman
(proses belajar mengajar) dan prestasi belajar yang sering disebut dengan hasil
belajar. Dalam hal ini, untuk membuktikan berhasil tidaknya proses belajar
mengajar dapat dilihat dari prestasi belajar yang telah dicapai oleh siswa
dalam bentuk angka (skor).
Lebih lanjut, Soemanto
(2003:104) mengatakan bahwa, belajar adalah proses dari perkembangan hidup
manusia melalui perubahan-perubahan sehingga tingkah lakunya dapat berkembang. Pada
giliran Sardiman A.M (2006: 20) mengatakan bahwa, belajar itu merupakan
perubahan tingkah laku atau keterampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya:
dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.
Proses belajar mengajar matematika
adalah proses belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa secara simultan,
di mana perubahan tingkah laku siswa diarahkan pada pemahaman konsep-konsep matematika
yang akan mengantarkan siswa pada berpikir matematis berdasarkan aturan-aturan
yang logis dan sistematis, sedangkan guru dalam mengajar hendaknya dapat
memilih topik-topik matematika sesuai dengan urutan logis.
Hudoyo (1988: 4) menyatakan
bahwa belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu
terjadinya proses belajar. Ini berarti bahwa belajar matematika akan terjadi
dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinu. Sehubungan
dengan itu, maka dalam mengajar guru hendaknya dapat memberikan pengetahuan
prasyarat sebagai dasar untuk mempelajari topik matematika yang diajarkan agar
dalam menyelesaikan soal-soal matematika tidak terlalu banyak mengalami
kesulitan.
Sejalan dengan itu, serangkaian aktivitas dari
belajar selalu dirangkum dalam sebuah prestasi atua disebut juga dengan
pengertian hasil belajar. Dalam hal ini Dimyati (2002: 243) mengatakan bahwa,
hasil belajar itu sebagai kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar dari
sebuah kemampuan yang merupakan suatu puncak proses belajar. Pada tahap ini
siswa membuktikan keberhasilan belajar, ia menunjukkan bahwa dirinya telah
mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil belajar.
Di lain hal, pengertian
tersebut juga diartikan sebagai proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil
yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu setelah terjadinya proses
belajar-mengajar (Suryabrata, 2002: 23). Pendapat yang sama juga diucapkan oleh
Abdurrahman (1999:37), mengatakan bahwa hasil belajar (prestasi belajar) adalah
kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui kegiatan belajar.
Berdasarkan
pengertian prestasi yang dikemukakan para ahli, maka dapat dikatakan bahwa
prestasi belajar Matematika adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam
mengikuti proses belajar mengajar Matematika sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan. Prestasi yang dicapai oleh siswa merupakan gambaran hasil belajar
siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dan merupakan interaksi antara
beberapa faktor.
Keseluruhannya menunjukkan
tiada perbedaan jauh terhadap pengertian prestasi belajar, ini menandakan bahwa
suasana belajar dari dulu hingga saat ini memiliki kesamaan arah dan tujuan
yang integral. Hasil dari
sebuah perjalanan pendidikan itu menunjukkan kepada yang diperoleh selama pendidikannya,
yang diuji melalui tes-tes yang layak. Dengan tes ini akan dieproleh hasil
pendidikan dalam kategori layak atau tidak layak.
Dalam hal ini, dapat
disimpulkan pengertian lebih luas lagi terhadap hasil belajar pada pelajaran Matematika
yaitu, suatu perolehan nilai dari hasil serangkaian aktivitas dalam belajar Matematika
yang diberikan dalam bentuk nilai murni dari keselurhan aspek yang dinilai,
yang dijadikan sebagai parameter lulus atau tidaknya siswa dalam belajarnya.
3. Metode demonstrasi
Metode demonstrasi menurut
Djamarah dan Zain adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memeragakan atau
mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu
yang sedang dipelajari, baik sebenarnya maupun tiruan (2003 : 102). Dari penjelasan
Djamarah, bahwa metode demonstrasi adalah suatu proses memberikan contoh kepada
siswa berkaitan dengan materi yang akan disampaikan agar siswa
dapat meniru, memeragakan ulang segala sesuatu yang berkaitan dengan materi
yang akan disampaikan kepada siswa, melalui cara kerja yang bersistem untuk
memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang diinginkan.
Sebagai metode yang dianggap efektif,
dalam metode ini membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri
berdasarkan fakta atau data yang benar (Muhammad Ali, 2007: 43). Metode
demonstrasi dapat dikatakan juga sebagai penyajian pelajaran dengan
memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi
atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan (Hamzah, 2001:
67). Sebagai metode penyajian, demonstrasi tentu tidak terlepas dari penjelasan
secara lisan oleh guru. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat
digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan
inkuiri.
Penggunaan metode
yang dimaksud sangat menunjang proses interaksi belajar di ruangan, yang
diperoleh juga besar. Metode ini bisa
kita katakan sejenis dengan metode eksperimen hanya saja demontrasi tidak
melakukan percobaan. Jadi metode ini merupakan cara mengajar dimana seorang
instruktur/tim menunjukkan sesuatu proses berlangsung, misalnya cara menulis
puisi, sajak dan lainnya, atau seperti mempraktekkan membuka dan memasangkan
kembali baterai laptop. Muhammad Ali,
(2007: 52) melalui Guru dalam Proses Belajar Mengajar, menyebutkan
bahwa keuntungan yang diperoleh dari metode demonstrasi ini yaitu;
1. Perhatian peserta lebih dapat
terpusatkan pada bahan ajar/masalah yang sedang berlangsung, dan
2. Kesalahan yang terjadi dapat
diatasi melalui pengamatan atau contoh kongkrit.
Dengan metode ini, peserta didik dapat
berpartisipasi lebih giat dan aktif, karena memperoleh pengalaman langsung dari
pengajar terhadap aspek yang sedang dipelajari yang pada gilirannya nanti mampu
mengembangkan kecakapannya.
Di lain hal Abu
Ahmadi, (2005: 124), menyebutkan bahwa sebagai suatu metode pembelajaran,
demonstrasi memiliki beberapa kelebihan, yaitu;
- Melalui
metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa
disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
- Proses
pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi
juga melihat peristiwa yang terjadi.
- Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.
Di samping beberapa kelebihan,
metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, diantarannya;
- Metode
demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan
yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini
tidak efektif lagi. Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukan
suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih
dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak.
- Demonstrasi
memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti
penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan
dengan ceramah.
Demonstrasi memerlukan
kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk
bekerja lebih profesional. Di samping itu demonstrasi juga memerlukan kemauan
dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa (Abu
Ahmadi, 2005: 134).
Meningkatkan hasil atau
prestasi belajar siswa, sebenarnya sangat didukung oleh penggunaan metode yang
efektif. Dengan segala alat peraga yang lengkap bila seorang guru tidak mampu
melakukan upaya yang efektif dalam pembelajaran dengan mengyunakan cara belajar
yang baik berdasarkan keingginan siswa, itu sama saja membuang-buang waktu
belajar, artinya tidak ada umpan balik yang bisa dijadikan parameter dalam
sebuah pendidikan, hasilnya sama saja keadan siswa yang telah belajar dengan
yang belum atau tidak belajar. Sekali lagi ditegaskan bahwa, penggunaan metode
merupakan hal yang penting diperhatikan, dalam proses belaajr mengajar tidak
hanya cukup dengan pola belajar dalam bentuk ceramah.
Maka itu, Muhammad Ali (2007:
43) mangatakan yang dianggap efektif dalam belajar yang mampu membantu siswa untuk mencari
jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar adalah
melalui metode demonstrasi. Metode ini dikatakan oleh Hamzah (2001: 67) sebagai
penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa
tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya
sekadar tiruan (Hamzah, 2001: 67). Sebagai metode penyajian, demonstrasi tentu
tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Dalam strategi
pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi
pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
B. Proses Belajar Mengajar Matematika melalui Demonstrasi
Sebagai suatu proses perubahan
tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan
individu dengan lingkungannya, yang juga sebagai suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan
pada diri seseorang, yang berhubungan aktivitas mental/psikis, yang berlangsung
dalam interaksi aktif dengan lingkungannya, yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.
Perubahan itu bersikap secara relatif, konstan dan berbekas.
Bruner (dalam Orton, 1992:
45), menyatakan bahwa, siswa dalma belajar matematika, dilalui melalui tiga
tahapan yaitu;
1. Tahap enactive, yaitu tahap dengan
manipulasi benda-benda atau obyek yang konkret.
2. Tahap econic, yaitu tahap belajar dengan
menggunakan gambar,
3. Tahap simbolik, yaitu tahap belajar matematika
melalui manipulasi lambang atau simbol.
Seiring dengan itu, Hudoyo
(1998: 46) menjelaskan bahwa belajar matematika merupakan proses membangun
konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang tidak terkesan fasif dan statis namun
belajar matematika merupakan sesuatu yang dinamis.
Menguasai pengetahuan,
kebiasaan, kemampuan, keterampilan dan sikap melalui hubungan timbal balik
antara proses belajar dengan lingkungannya, yang dilakukan secara sadar oleh
seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan
pengetahuan yang menyangkut banyak aspek, baik karena kematangan maupun karena
latihan.
Dalam
mengajar matematika perubahan tingkah laku diarahkan pada pemahaman
konsep-konsep matematika yang akan mengarahkan individu kepada berpikir
matematis berdasarkan aturan-aturan yang logis dan sistematis. Materi matematika
disusun secara teratur dalam urutan yang logis dan hirarkis, artinya topik matematika
yang telah diajarkan merupakan prasyarat untuk topik berikutnya. Seseorang akan
lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah
diketahui oleh orang itu. Karena itu untuk mempelajari suatu topik matematika
yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi
terjadinya proses belajar matematika tersebut.
Hudoyo (1988: 4) menyatakan
bahwa belajar matematika yang terputus-putus akan
mengganggu terjadinya proses belajar. Ini berarti bahwa belajar matematika akan
terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinu.
Sehubungan dengan itu, maka dalam mengajar guru hendaknya dapat memberikan
pengetahuan prasyarat sebagai dasar untuk mempelajari topik matematika yang
diajarkan agar dalam menyelesaikan soal-soal matematika tidak terlalu banyak
mengalami kesulitan.
Dapat
dijelaskan bahwa, proses belajar mengajar matematika adalah proses belajar
mengajar yang melibatkan guru dan siswa secara simultan, di mana perubahan
tingkah laku siswa diarahkan pada pemahaman konsep-konsep matematika yang akan
mengantarkan siswa pada berpikir matematis berdasarkan aturan-aturan yang logis
dan sistematis, sedangkan guru dalam mengajar hendaknya dapat memilih
topik-topik matematika sesuai dengan urutan logis (Widdiharto, 2004: 27). Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa
terhadap mata pelajaran matematika, guru harus mampu menciptakan suasana
belajar yang optimal dengan menerapkan berbagai model pembelajaran.
Dalam
pembelajaran matematika, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam
mengajarkan suatu pokok bahasan adalah pemilihan model pembelajaran yang sesuai
dengan materi yang diajarkan, karena melihat kondisi siswa yang mempunyai
karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam menerima
materi pelajaran yang disajikan guru di kelas, ada siswa yang mempunyai daya
serap cepat dan ada pula siswa yang mempunyai daya tanggap yang lama.
Menyikapi
kenyataan ini, penulis menilai perlu digunakan model pembelajaran melalui
metode demonstrasi, yaitu memperagakan pada siswa dalam beberapa materi penting
dlama belajarnya. Kemudian diberikan tanggung jawab untuk memecahkan masalah
atau soal dan diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat tanpa merasa takut
salah.
C. Fungsi dan Tujuan Belajar Matematika
1. Fungsi belajar Matematika
Tentang tinjauan umum mata pelajaran matematika
akan dijelaskan secara singkat seperti yang tercantum dalam buku Standar
Kompetensi Mata Pelajaran matematika untuk sekolah meliputi; pengertian
pelajaran matematika, fungsi dan tujuan, ruang lingkup dan standar kompetensi
pelajaran Matematika (Depdiknas, 2003: 17).
Menurut bahasa latin matematika berasal dari kata
“manthanein” atau ”mathema” yang berarti belajar atau hal yang dipelajari
(Depdiknas, 2003: 19). Sedangkan menurut bahasa Belanda disebut “wiskunde”
Kemudian menurut istilah, Somardyono mengemukakan bahwa matematika adalah produk
dari pemikiran intelektual manusia. Ciri utama matematika adalah penalaran
deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat
logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan
dalam matematika bersifat konsisten (Depddiknas, 2003: 19-21)
Namun demikian, pembelajaran dan pemahaman konsep
dapat diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. roses
induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep matematika. Kegiatan
dapat dimulai dengan beberapa contoh atau fakta yang teramati, membuat daftar
sifat yang muncul (sebagai gejala), memperkirakan hasil baru yang diharapkan,
yang kemudian dibuktikan secara deduktif. Dengan demikian, cara belajar
induktif dan deduktif dapat digunakan dan sama-sama berperan penting dalam
mempelajari matematika. Penerapan cara kerja matematika diharapkan dapat membentuk
sikap kritis, kreatif, jujur dan komunikatif pada siswa.
Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung,
mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari melalui materi pengukuran dan geometri, aljabar, dan
trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan
gagasan dengan bahasa melalui model (Depdiknas, 20041: 21)
2. Tujuan pelajaran Matematika
Pelajaran Matematika sangatlah penting dalam
kehidupan sehari-hari, karena dapat membantu ketajaman berpikir secara logis (masuk
akal) serta membantu memperjelas dalam menyelesaikan permasalahan. Secara
khusus, pelajaran matematika ini bertujuan untuk;
1.
Melatih
cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan
penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan,
konsisten dan inkonsistensi,
2.
Mengembangkan
aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan
mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi
dan dugaan, serta mencoba-coba
3.
Mengembangkan
kemampuan memecahkan masalah,
4.
Mengembangkan
kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain
melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan agasan
(Depdiknas, 2004: 23).
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Matematika
Minat belajar tiap-tiap siswa
tidak sama, ketidaksamaan itu disebabkan oleh banyak hal mempengaruhi minat
belajar, sehingga ia dapat belajar dengan baik atau sebaliknya gagal sama
sekali. Demikian juga halnya dengan minat siswa terhadap mata pelajaran matematika,
ada siswa yang minatnya tinggi dan ada juga yang rendah. Hal tersebut akan
sangat mempengaruhi aktivitas dan hasil belajarnya dalam mata pelajaran matematika.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, secara garis besar
dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1. Faktor Intern
Kondisi fisik/jasmani siswa
saat mengikuti pelajaran matematika sangat berpengaruh terhadap minat dan
aktivitas belajarnya. Faktor kesehatan badan, seperti kesehatan yang prima dan tidak
dalam keadaan sakit atau lelah, akan sangat membantu dalam memusatkan perhatian
terhadap pelajaran. Sebab pelajaran matematika memerlukan kegiatan mental yang
tinggi, menuntut banyak perhatian dan pikiran jernih. Oleh karena itu apa bila
siswa mengalami kelelahan atau terganggu kesehatannya, akan sulit memusatkan perhatiannya
dan berpikir jernih (Widdiharto, 2004: 35).
Pengalaman belajar matematika
di jenjang pendidikan sebelumnya Pengalaman belajar sangat berkaitan dengan
kemampuan awal (entry behavior). Sebagaimana yang dikemukakan oleh
Bloom, yaitu; kemampuan awal adalah pengetahuan, keterampilan dan kompetensi,
yang merupakan prasyarat yang dimiliki untuk dapat mempelajari suatu pelajaran
baru atau lebih lanjut (Depdiknas, 2003: 26).
Setiap siswa masing-masing telah memiliki
berbagai pengalaman belajar yang berbeda-beda yang diperolehnya di jenjang pendidikan
sebelumnya. Menurut Nashar (2004: 26), hal tersebut merupakan modal awal bagi siswa
dalam melakukan kegiatan belajar selanjutnya. Pengalaman belajar yang telah
dimiliki oleh siswa besar pengaruhnya terhadap minat belajar. Pengalaman
tersebut menjadi dasar untuk menerima pengalaman-pengalaman baru yang akan sangat
membantu dalam minat belajar siswa.
Selanjutnya Nashar (2004: 29),
mengatakan seseorang siswa akan sangat mudah dalam menguasai dan memahami
materi pelajaran matematika, karena ia telah memahami dan menguasai dengan baik
materi pelajaran matematika sewaktu di SD/MI. Jadi, dapat dipahami bahwa pengalaman
belajar matematika di jenjang pendidikan sebelumnya turut berpengaruh terhadap
belajar siswa, terutama dalam mata pelajaran matematika.
2. Faktor Ekstern
Adapaun faktor yang
mempengaruhi belajar Matematika dilihat dari faktor eksternal yaitu;
- Metode dan gaya mengajar guru matematika,
dimana metode ini terhadap minat siswa dalam belajar matematika. Oleh
karena itu hendaknya guru dapat menggunakan metode dan gaya mengajar yang
dapat menumb uhkan minat dan perhatian siswa. Guru adalah kreator proses
belajar mengajar. Guru adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas
bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik minatnya, mengekspresikan
ide-ide dan kreativitasnya dalam batas-batas norma-norma yang (Depdiknas,
2004 31)
- Cara penyampaian pelajaran yang kurang
menarik menjadikan siswa kurang berminat dan kurang bersemangat untuk
mengikutinya. Namun sebaliknya, jika pelajaran disampaikan dengan cara
dan gaya yang menarik perhatian, maka akan menjadikan siswa tertarik dan bersemangat
untuk selalu mengikutinya dan kemudian mendorongnya untuk terus
mempelajarinya. Cara seorang guru dalam menyampaikan pelajaran sangat
terkait dengan tipe atau karakter kepribadiannya, seperti yang di
kemukakan (Muhibin Syah, 2001: 42),
- Paham yang menghendaki kebebasan pribadi).
Guru yang berwatak ini biasanya gemar mengubah arah dan cara pengelolaan
PBM secara seenaknya, sehingga menyulitkan siswa dalam mempersiapkan
diri. Sebenarnya guru tersebut tidak menyenangi profesinya sebagai tenaga
pendidik meskipun ia memiliki kemampuan yang memadai.
- Guru yang demokratis (Democratie), yaitu
bersifat demokratis yang pada intinya mengandung makna memperhatikan
persamaan hak dan kewajiban semua orang. Guru yang memiliki sifat ini pada
umumnya dipandang sebagai guru yang paling baik dan ideal. Alasannya, ibanding dengan guru yang lainnya guru tipe
demokratis lebih suka bekerjasama dengan rekan-rekan seprofesinya, namun
tetap menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Ditinjau dari sudut hasil
pengajaran, guru yang demokratis dengan yang otoriter tidak jauh berbeda.
Akan tetapi dari sudut moral, guru yang demokratis dan karenanya ia lebih
disenangi oleh rekan-rekan sejawatnya maupun oleh para siswanya sendiri
(Depdiknas, 2004: 61).
- Guru yang otoritatif (Authoritative) Otoritatif
berarti berwibawa karena adanya kewenangan baik berdasarkan kemampuan
maupun kekuasaan yang diberikan. Guru yang otoritatif adalah guru yang
memiliki dasar-dasar pengetahuan baik pengetahuan bidang studi faknya maupun
pengetahuan umum. Guru seperti ini biasanya ditandai oleh kemampuan
memerintah secara efektif kepada para siswa dan kesenangan mengajak kerja
sama kepada para siswa bila diperlukan dalam mengikhtiarkan cara terbaik untuk
penyelenggaraan PBM (Widdiharto, 2004: 95).
Dalam hal ini, guru ini hampir sama dengan guru
yang demokratis. Namun, dalam hal memerintah atau memberi anjuran, guru yang
otoritatif pada umumnya lebih efektif, karena lebih disegani oleh para siswa dan
dipandang sebagai pemegang otoritas ilmu pengetahuan.
Di samping
itu, metode yang digunakan dalam menyampaikan pelajaran besar pula pengaruhnya
terhadap minat belajar siswa. Apabila guru hanya menggunakan satu metode saja
dalam mengajar maka akan membosankan, yang akhirnya siswa tidak tertarik memperhatikan
pelajaran. Jadi hendaknya guru dapat menggunakan berbagai metode mengajar yang
bervariasi sesuai dengan tujuan pembelajaran (Simajuntak, 1993: 42).
- Tersedianya fasilitas dan alat penunjang
pelajaran matematika memiliki peran penting dalam memotivasi minat siswa
pada suatu pelajaran. Tersedianya fasilitas dan alat yang memadai dapat
memancing minat siswa pada mata pelajaran matematika. Fasilitas dan alat
penunjang pelajaran Matematika yang dimaksud di sini bisa berupa;
- Alat dan fasilitas yang digunakan
bersama-sama dengan murid,
- Alat yang
dimiliki oleh masing-masing murid dan guru.
- Alat peraga yang berfungsi untuk
memperjelas atau memberi gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang
diajarkan,
- Belajar dengan menggunakan
fasilitas dan alat lebih efektif dan lebih menyenangkan dibandingkan
tanpa menggunakan alat peraga atau hanya dengan teori saja (Simajuntak,
1993: 58).
3. Situasi dan
kondisi lingkungan
Situasi dan kondisi lingkungan turut memberi
pengaruh terhadap minat belajar siswa dalam pelajaran. Faktor situasi dan kondisi
lingkungan yang dimaksud di sini adalah faktor situasi dan kondisi saat siswa
melakukan aktivitas belajar matematika di
sekolah,
baik fisik ataupun sosial. Faktor kondisi lingkungan fisik termasuk di dalamnya
adalah seperti keadaan suhu, kelembaban, kepengapan udara, pencahayaan dan
sebagainya. Belajar matematika pada keadaan udara yang segar, akan lebih baik
hasilnya dari pada belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap, atau
belajar pagi hari akan lebih baik dari pada belajar siang hari. Jadi, minat dan
perhatian siswa akan lebih baik jika jam pelajaran matematika di letakkan di
pagi hari.
Di samping itu, pengaturan cahaya yang kurang baik
dapat mengganggu proses pembelajaran matematika di dalam kelas. Karena cara
mengajar dan sistem pengajaran pada umumnya sangat banyak menggunakan
penglihatan dan pendengaran Sedangkan faktor kondisi lingkungan sosial dapat
berupa manusia atau hal-hal lainnya. Misalnya siswa yang sedang belajar memecahkan
soal matematika yang rumit dan membutuhkan konsentrasi tinggi, akan terganggu
apabila ada siswa lain yang mondar-mandir di dekatnya atau bercakap-cakap keras
di dekatnya (Depdiknas, 2004: 66).
Kondisi lingkungan sosial yang lain, seperti suara
mesin pabrik, hiruk-pikuk lalu lintas, gemuruh pasar dan sebagainya, juga berpengaruh
terhadap konsentrasi dan perhatian siswa saat belajar matematika. Karena itulah
disarankan hendaknya lingkungan sekolah agar didirikan jauh dari pabrik,
keramaian lalu lintas dan pasar.
E. Pembelajaran
Unsur Lingkaran
Jam dinding, ban mobil dan
uang logam merupakan contoh benda-benda yang memiliki bentuk dasar lingkaran.
Secara geometris, benda-benda tersebut dapat digambarkan dengan menggunakan
alat tulis meski dalma bentuk sederhana. Misalkan A, B, C merupakan tiga titik
sebarang pada lingkaran yang berpusat di O. Dapat dilihat bahwa ketiga titik
tersebut memiliki jarak yang sama terhadap titik O. Dengan demikian, lingkaran
adalah kumpulan titik-titik yang membentuk lengkungan tertutup, di mana titik-titik
pada lengkungan tersebut berjarak sama terhadap suatu titik tertentu. Titik
tertentu itu disebut sebagai titik pusat lingkaran.
Gambar. 1

Ada beberapa bagian lingkaran yang termasuk dalam unsur-unsur sebuah
lingkaran di antaranya titik pusat, jari-jari, diameter, busur, tali busur,
tembereng, juring, dan apotema. Untuk lebih jelasnya, perhatikan uraian
berikut;
- Titik pusat, titik pusat lingkaran
adalah titik yang terletak di tengah-tengah lingkaran.
- Jari-jari (r), yaitu, jari-jari
lingkaran adalah garis dari titik pusat lingkaran ke lengkungan lingkaran.
- Diameter (d), yaitu, diameter adalah
garis lurus yang menghubungkan dua titik pada lengkungan lingkaran dan
melalui titik pusat. nilai diameter merupakan dua kali nilai jari-jarinya,
ditulis bahwa d = 2r.
- Busur, yaitu dalam lingkaran, busur
lingkaran merupakan garis lengkung yang terletak pada lengkungan lingkaran
dan menghubungkan dua titik sebarang di lengkungan tersebut.
- Tali busur, yaitu tali busur
lingkaran adalah garis lurus dalam lingkaran yang menghubungkan dua titik
pada lengkungan lingkaran. Berbeda dengan diameter, tali busur tidak melalui
titik pusat lingkaran O.
- Tembereng, yaitu tembereng adalah
luas daerah dalam lingkaran yang dibatasi oleh busur dan tali busur.
- Juring, yaitu juring lingkaran adalah
luas daerah dalam lingkaran yang dibatasi oleh dua buah jari-jari
lingkaran dan sebuah busur yang diapit oleh kedua jari-jari lingkaran
tersebut.
- Apotema pada sebuah lingkaran,
apotema merupakan garis yang menghubungkan titik pusat lingkaran dengan
tali busur lingkaran tersebut. Garis yang dibentuk bersifat tegak lurus
dengan tali busur.
Gambar. 2

Gambar 2 menunjukkan sebuah
lingkaran dengan titik A terletak di sebarang lengkungan lingkaran. Jika
lingkaran tersebut dipotong di titik A, kemudian direbahkan, hasilnya adalah
sebuah garis lurus AA' seperti pada gambar Gambar 6.4(b) . Panjang garis lurus
tersebut merupakan keliling lingkaran. Jadi, keliling lingkaran adalah panjang
lengkungan pembentuk lingkaran tersebut. Menghitung keliling lingkarannya
yaitu, misalkan, diketahui sebuah lingkaran yang terbuat dari kawat. Keliling
tersebut dapat dihitung dengan mengukur panjang kawat yang membentuk lingkaran
tersebut.


Komentar
Posting Komentar
Komentar