FUNGSI NILAI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

 



BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Manusia diciptakan Allah s.w.t. selain menjadi hamba-hambanya, juga menjadi penguasa (khalifah) di atas bumi.Selaku hamba dan khalifahmanusia telah diberi kelengkapan kemanpuan jasmaniah (fisiologis) dan Rohaniah (mental psikologis) yang dapat dikembang tumbuhkan seoptimal mungkin,sehingga menjadi alat yang berdaya guna dalam ihktiar kemanusiaannya untuk melaksanakan tugas pokok kehidupan di dunia.

Dalam penyusunan makalah ini kami mengarahkan kepada nilai-nilai dalam islam mengandung dua kategori arti dilihat dari segi-segi normatif yaitu baik dan bentuk,benar dan salah,hak dan batil,diridhai dan dikutuk oleh Allah s.w.t.sedangkan bila dlihat dari segi operatif tersebut mengandung lima pengertian katagori yang menjadi prinsip standardisasi perilaku manusia.

Dalam hal lain kami juga mengambarka bagaimana ukuran moralitas dari pragmatisme tidaklah kekal,melainkan berubah-rubah menurut situasi,kondisi dan lingkungan pada waktu tertentu,sehingga persepsi terhadap kebaikan atau keburukan berbeda-beda dalam masyarakat satu dari yang lainnya,atau berbeda-beda dari waktu ke waktu.

Sedangkan pada sisi lain pemakalah juga ingin menyampaikan ke arah yang lebih menarik lagi yaitu kepada sikap Etika, manusia diharapkan mampu mengatasi sifat-sifat jahatnya dan mengembangkan sifat-sifat baik dalam dirinya.Barang kali mungkin kita seringkali kita menyamakan persepsi tentang agama dan moralitas. Banyak orang beragama memandang kaidah-kaidah moralitas itu berkaitan erat dengan agama, dan dianggap bahwa tidak mungkin orang yang sungguh-sungguh bermoral tanpa agama.Kadang-kadang juga dianggap pula bahwa orang yang bermoral pasti memegang teguh keyakinan kepada agamanya. Demikian hal sebaliknya.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A   Pengertian Nilai

      Menurut harfon dan Hunt (1987) Nilai adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu berarti atau tidak berarti,nilai pada hakikatnya mengarahkan perilaku dan pertimbangan seseorang tetapi ia tidak meyakini apakah sebuah perilaku tertentu itu salah atau benar.1[1].Nilai adalah suatu bagian penting dan kebudayaan. Atau suatu ajang karenanya orang melakukan sejenis tanggapan tertentu. Yaitu tanggapan penilaian suatu anggapan yang di nggap sah artinya bias diterima jika harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat nilai berlaku menyatakan bahwa kesalahan beribadah adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi.

Seiring perkembangan masyarakat,nilai senantiasa akan ikut berubah.Misalnya nilai kesopanan,dalam buku karangan Prof.H.Muzaygim Arifin.M.Ed nilai adalah suatu pola normatif yang menentukan tingkah laku yang di inginkan bagi suatu sistem yang ada kaitannya dengan alam sekitar tanpa membedakan fungsi-fungsi bagian-bagiannya. Dengan demikian,sistem nilai islami yang hendak dibentuk dalam pribadi anak didik dalam wujud keseluruhannya dapat di klasifikasikan dalam norma-norma.

Nilai-nilai dalam islam mengandung dua kategori arti dilihat dari segi-segi normatif yaitu baik dan bentuk,benar dan salah,hak dan batil, diridhai dan dikutuk oleh Allah s.w.t. Sedangkan bila dilihat dari segi operatif tersebut mengandung lima pengertian katagori yang menjadi prinsip standar disasi perilaku manusia,yaitu sebagai berikut:

 

1.      Wajib atau fardhu yaitu

2.      Sunat atau mustahab

3.      Mubah atau jaiz

4.      Makhruh

5.      Haram

 

Kelima nilai di atas berlaku dalam situasi dan kondisi bisa,dan bila manusia dalam situasi kondisi darurat (terpaksa) pemberlakuan nilai-nilai tersebut bisa berubah sebagai contoh orang yang berada dalam kondisi kelaparan tidak ada makanan halal ia diperbolehkan memakan makanan yang haram.

Nilai-nilai yang tercakup dalam nilai Islami yang merupakan komponen atau subsistem adalah sebagai berikut:

1.      Sistem nilai kultural yang senada dan senafas dengan islam.

2.      Sistem nilai sosial yang memiliki nilai mekanisme gerak yang beroreantasi kepada kehidupan sejahtera dunia dan akhirat.

3.      Sistem nilai yang bersifat psikologis dari masing-masing individu yang di dorong oleh fungsi-fungsi psikologisnya untuk berperilaku secara terkontrol oleh nilai yang menjadi sumber rujukannya yaitu islam.

4.      Sistem nilai tingkah laku dari makhluk (Manusia yang mengandung interkomonikasi dengan yang lainnya). Tingkah laku ini timbul karena adanya tuntutan dari kebutuhan mempertahankan hidup yang banyak di warnai oleh nilai-nilai motivatif dalam pribadinya.2[2]

 

Dalam pembahasan ini secara singkat dapat dikatakan,perkataan”nilai”kiranya mempunyai macam makna seperti tampak dalam contoh-contoh berikut ini:

1.      Mengandung nilai ( artinya berguna )

2.      Merupakan nilai (artinya baik atau indah)

3.      Mempunyai nilai ( artinya merupakan objek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan orang mengambil sikap”menyetujui atau mempunyai sifat yang nilai tertentu”)

4.      Memberi nilai ( artinya,menanggapi sesuatu sebagai hal yang di inginkan atau sebagai hal yang menggambarkan nilai tertentu.

 

 

 

B.     Nilai yang berkualitas relatif

Menurut teori pendidikan yang berdasar pandangan psikologi mekanistis. Sejak jonh lock dalam abad ke-17 sampai aliran behaviorosme dari J.B.Watson abad ke-20,terdapat pandangan bahwa manusia dalam batas-batas kemampuan fisiknya,dapat dibentuk malui cara-cara yang tak terbatas.

      Paham ini juga berbuat sama misalnya,memberi rangsangan kepada sesuatu binatang sewaktu dia lahir sampai ia mencapai bentuk yang direncanakan,Kepercayaan,sikap,dan nilai-nilai manusia merupakan refleksi dari lingkungan sekitarnya yang di conditioning. Dengan melalui indroktinasi, propaganda,atau counter propaganda,kepercayaan, sikap-sikap,dan nilai-nilai yang dipegang oleh manusia dapat dibentuk bukan karena perkembangan moralitas yang tabi’i.

      Nilai-nilai moral dan etika menurut teori di atas,bersifat relatif tidak mutlak,dan berubah-ubah tergantung pada tempat dan waktunya,serta menjadi alat pemenuhan mental budaya nilai manusia itu sendari. Bagi manusia moralitas dan nilai-nilainya berbeda-beda menurut tempat dan waktu sehingga masalah baik dan buruk tidak lagi dipermasalahkan menurut teori ini penalaranlah yang menjadi standar apa yang disebut benar atau salah.

      Terhadap nilai relativitas kita tidak perlu melakukan penilaian karena sifat yang intrinsik tak dapak dapat dipastikan,nilai-nilai demikian sulit untuk dijadikan pedoman dalam pendidikan,apalagi untuk dijabarkan dalam tujuan pendidikan, di mana edialitas nilai-nilai itu menjadi impi tujuan.

 

C.     Paham naturalisme,pragmatisme,dan idealisme.

Sistem nilai yang bersumber pada paham naturalisme berpusat pada alam,kepada tubuh jasmaniah,kepada panca indra,kepada hal-hal yang bersifat aktual(nyata),kepada kekuatan, kemampuan mempertahankan hidup natulisme dekat dengan paham materialisme yang menafikan nilai-nilai moral manusia tidak ada kenyataan di balik kenyataan alam fisik,hingga tak ada alam fisik.

Dengan demikian, pragmatisme juga tidak mengakui bahwa dalam diri nmanusia terdapat kemampuan moralitas,karena manusia adalah makhluk yang bergantung hanya pada kemampuan kreativitas,kecerdasan,dan cara berbuat dalam masyarakat.ia mengandalkan kemampuan empiris dan rasional dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan (epitistimologi).

Manusia idaman pragmatisme ialah manusia yang mampu merealisasikan kemanfaatan (utilitas) diri dalam masyarakat melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki. Dengan ilmu pengetahuan orang mampu mengembangkan hal-hal yang diketahuinya,sehingga menjadi berkembang. Realita dipandang suatu sebagai proses dalam waktu yang diberikan kesempatan luas kepada orang yang berpengetahuan itu untuk mencipta atau mengembangkan pengetahuannya itu sendiri.

Bagi pragmatisme,ukuran baik dan buruk,benar dan salah  didasarkan kemanfaatan tingkah laku manusia dalam masyarakat. Bilamana masyarakat memandang baik atau benar maka perilaku tersebut adalah bermoral tinggi.

Akan tetapi,ukuran moralitas dari pragmatisme tidaklah kekal,melainkan berubah-rubah menurut situasi,kondisi dan lingkungan pada waktu tertentu,sehingga persepsi terhadap kebaikan atau keburukan berbeda-beda dalam masyarakat satu dari yang lainnya,atau berbeda-beda dari waktu ke waktu.

Idealisme beroreantasi kepada ide-ide yang teosentris (bersifat kepada tuhan),kepada jiwa,kepada spituralitas,kepada hal-hal yang ideal (serba cita) kepada norma-norma yang mengandung kebenaran mutlak dan kesediaan berkorban serta kepada personalitas (kepribadian) manusia.

 

D   Paham Idealisme Islam Tentang Sistem Nilai Dan Moralitas.

      Daya pancar dari sistem nilai yang menerangi moralitas umat manusia menurut pandangan islam,adalah bersumber dari cahaya Allah yang digambar dalam surah Al-maidah,ayat 15 dan 16,yaitu sebagai berikut.

 

Ÿ@÷dr'¯»tƒ É=»tGÅ6ø9$# ôs% öNà2uä!$y_ $oYä9qßu ÚúÎiüt7ムöNä3s9 #ZŽÏWŸ2 $£JÏiB öNçFYà2 šcqàÿøƒéB z`ÏB É=»tGÅ6ø9$# (#qàÿ÷ètƒur Ætã 9ŽÏVŸ2 4 ôs% Nà2uä!%y` šÆÏiB «!$# ÖqçR Ò=»tGÅ2ur ÑúüÎ7B Ïôgtƒ

 

Yang artinya:

      Hai ahli kitab, Sesungguhnya Telah datang kepadamu Rasul kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya Telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.

 

 

ÏmÎ/ ª!$# ÇÆtB yìt7©?$# ¼çmtRºuqôÊÍ Ÿ@ç7ß ÉO»n=¡¡9$# Nßgã_̍÷ãƒur z`ÏiB ÏM»yJè=à9$# n<Î) ÍqY9$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ óOÎgƒÏôgtƒur 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)tGó¡B

Yang artinya:

      Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

 

      Kemampuan fitrah manusia yang berpotensi psikologis yang di anugerahkan Allah ke dalam setiap diri pribadi manusia menyebabkan manusia mampu menerima cahaya Allah yang pada gilirannya menyinari kalbunya. Dari kalbu yang terang menerang itulah terpancar tingkah laku yang sesuai tuntutan Allah.

 

      Atas dasar firman di atas dapat kita petik kesimpulan dalam prises kependidikan Islam,pembentukan kepribadian anak didik harus diarahkan kepada sasaran:3[3]

1)      Pengembangan iman sehingga benar-benar berfungsi sebagai kekuatan pendorong ke arah kebahagiaan hidup yang dihayati sebagai suatu nikmat Allah.

2)      Pengembangan kemampuan mempergunakan akal kecerdasan untuk mengalisis hal-hal yang berada di balik kenyataan alam yang tampak.

3)      Pengembangan potensi berakhlak mulia dan kemanpuan komonikasi dengan orang lain,baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan.firman Allah yang menjelaskan.

4)      Mengembangkan sikap beramal saleh dalam setiap pribadi muslim.Manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk manpu berbuat kebaikan,menjadi diri,bekerja sama dan bergaul dengan orang lain demi kemaslahatan masyarakatnya.

E    Etika

Istilah “etika” dan “moralitas” adalah dua istilah yang hampir mirip, namun sesungguhnya berbeda. Kata “etika” berasal dari kata Yunani yang dipakai untuk pengertian karakter pribadi, sedangkan “moral” berasal dari kata Latin untuk kebiasaan social Akantetapi, dalam tulisan ini saya tidak memisahkan pengertian dua istilah tersebut. Saya lebih suka menggunakan istilah “etika” karena lebih bermakna ilmiah.

Etika memiliki pengertian bahwa manusia diharapkan mampu mengatasi sifat-sifat jahatnya dan mengembangkan sifat-sifat baik dalam dirinya. Paul Foulquie mendefinisikan etika sebagai “aturan kebiasaan, yang apabila ditaati dan dipatuhi, akan mengantarkan manusia meraih segenap tujuannya” Biasanya etika sangat terkait dengan persoalan-persoalan bagaimana meraih kebahagiaan dalam diri manusia. Kita sering mendengar istilah “etika kebahagiaan”.

Ada tiga jenis etika, yaitu: etika deskriptif, etika normatif, dan meta-etika. Etika deskriptif adalah sebuah kajian empiris atas berbagai aturan dan kebiasaan moral seorang individu, sebuah kelompok atau masyarakat, agama tertentu, atau sejenisnya. Etika normatif mengkaji dan menela’ah teori-teori moral tentang kebenaran dan kesalahan. Sedang meta-etika atau etika analitis tidak berkaitan fakta-fakta empiris atau historis, dan juga tidak melakukan penilaian evaluasi atau normatif. Meta-etika lebih suka mengkaji persoalan-persoalan etika, seperti pertanyaan: apa makna dari penggunaan ungkapan “benar” atau “salah”

Ketika kita berbicara tentang agama dan moralitas, tentu akan timbul sebuah pertanyaan penting tentang hubungan keduanya, yaitu: apakah moralitas mengandaikan agama? Seringkali kita menyamakan persepsi tentang agama dan moralitas. Banyak orang beragama memandang kaidah-kaidah moralitas itu berkaitan erat dengan agama, dan dianggap bahwa tidak mungkin orang yang sungguh-sungguh bermoral tanpa agama. Seringkali dianggap pula bahwa orang yang bermoral pasti memegang teguh keyakinan agamanya. Demikian hal sebaliknya, orang yang beragama sering dianggap pasti mengarah pada tujuan-tujuan moralitas. Padahal, kedua tema tersebut belum tentu sepenuhnya mengandung pengertian yang sama.

 

      Alangkah baiknya, bila pemahaman kita mengarah pada pengertian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan atas agama. Memang, secara psikologis agama dapat saja dan secara faktual memang tidak jarang mendorong manusia untuk hidup bermoral, sesuai dengan kaidah-kaidah moralitas. Demikian pula, dalam kenyataannya orang yang beragama dengan benar-benar akan membuahkan hidup bermoral yang baik. Menurut J. Sudarminta, walaupun logika di atas bisa dipahami, tapi sesungguhnya prinsip-prinsip dasar moralitas dapat pula dikenali dan dipraktikkan oleh manusia yang tidak beragama yang menggunakan pemikiran atau akal budinya. Bahkan, kita pun sebenarnya sering melihat perilaku orang yang mengaku beragama tapi perbuatannya sering tidak mengindahkan kaidah-kaidah moral yang diajarkan dalam agama itu sendiri.

F    Islam Agama Moral

Islam adalah agama moral yang memiki fungsi sebagai “jalan kebenaran” untuk memperbaiki kehidupan sosial umat manusia. Memahami Islam secara substantif akan menjadi panduan universal dalam tindakan moral. Memahami Islam tidak hanya sebatas ritual ibadah saja, tapi perlu juga dimaknai secara lebih luas, yaitu bagaimana usaha kita menjadikan Islam sebagai panduan moral yang murni.

Menurut Mahmud Ayyoub, Islam hadir ke dalam sebuah masyarakat diatur melalui prinsip-prinsip moral yang tidak didasarkan oleh iman terhadap kekuasaan Tuhan, melainkan didasarkan pada adat yang dihormati sehingga mampu membentuk nilai-nilai masyarakat dan struktur moralnya. Islam sangat mempertegas nilai-nilai kebaikan moral, seperti kesabaran, keramahtamahan, dan kejujuran, yang itu tidak saja ditujukan kepada keluarga terdekat, tapi juga bagi seluruh umat manusia, baik bagi anak yatim, orang miskin, dan sebagainya.[4]

Memahami Islam dengan kandungan ajaran moralitasnya perlu dilacak secara historis bagaimana konstruksi bangunan pemikiran Islam ketika Nabi Muhammad mengembangkan Islam pada saat itu. Hal ini penting agar kita mampu menangkap pesan-pesan moralitas Islam dengan baik. Karena, oleh sebagian besar masyarakat Muslim, konstruksi pemahaman tentang Islam selalu dirujuk pada produk aturan syariat yang didirikan Nabi pada saat beliau sudah menetap di kota Madinah. Kita sering melupakan prosesi sejarah di mana Islam sebenarnya terkonstruksi melalui sebuah proses yang bertahap dan disesuaikan dengan konteks zaman pada saat itu.

Al-Ghazali ingin menyamakan pengertian etika atau moralitas sama halnya dalam teologi Islam. Menurut Amin Abdullah, al-Ghazali jatuh pada “reduksionisme teologis”. Artinya, al-Ghazali menempatkan wahyu al-Qur’an menjadi petunjuk utama --atau bahkan satu-satunya-- dalam tindakan etis, dan dengan keras menghindari intervensi rasio dalam merumuskan prinsip-prinsip dasar universal tentang petunjuk ajaran al-Qur’an bagi kehidupan manusia.4[5]

Etika dalam islam adalah sebagai perangkat nilai yang tidak terhingga dan agung yang bukan saja beriskan sikap, prilaku secara normative, yaitu dalam bentuk hubungan manusia dengan tuhan (iman), melainkan wujud dari hubungan manusia terhadap Tuhan, Manusia dan alam semesta dari sudut pangan historisitas. Etika sebagai fitrah akan sangat tergantung pada pemahaman dan pengalaman keberagamaan seseorang. Maka Islam menganjurkan kepada manusia untuk menjungjung etika sebagai fitrah dengan menghadirkan kedamaian, kejujuran, dan keadilan. Etika dalam islam akan melahirkan konsep ihsan, yaitu cara pandang dan perilaku manusia dalam hubungan social hanya dan untuk mengabdi pada Tuhan, buka ada pamrih di dalamnya. Di sinilah pean orang tua dalam memberikan muatan moral kepada anak agar mampu memahami hidup dan menyikapinya dengan bijak dan damai sbagaimana Islam lahir ke bumi membawa kedamaian untuk semesta (rahmatan lilalamain)

 

G   Nilai dan Norma

Nilai-nilai dasar (core values) dan norma-norma itu dinyatakan atau diterjemahkan menjadi etika atau ethics (objek kajiannya perbuatan manusia baik dan buruk) seperti; Pertama, etika kerja. Kerja itu mulia dan memuliakan; kejujuran; rajin; kerja keras; hemat; tidak rakus dan tidak tamak. Kedua, etika sosial (tidak bertindak semau gue; mau mendengarkan pendapat orang; harga diri/kehormatan; sopan-santun; bertutur bahasa yang benar; suka membantu orang lain (peduli). Ketiga, nilai-nilai dasar yang dikaitkan dengan kultur teknologi (berdisiplin, bertanggung jawab, cermat, menginginkan sesuatu yang lebih baik; kerja sama dalam kelompok; selalu ingin belajar yang baru; mandiri; tidak takut bersaing). Keempat, etika demokrasi (belajar dan menyebarluaskan serta mempraktekkan semangat demokrasi); mematuhi keputusan komunal lewat voting. Kelima, etika lingkungan hidup (sadar akan masalah lingkungan hidup; manusia tidak berdiri sendiri apa yang diperbuat manusia berdampak kepada alam sekitar untuk jangka panjang; jika menghancurkan lingkungan berarti bunuh diri); semua bersifat saling kait-mengait, ada sistem.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

1.        Nilai adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu berarti atau tidak berarti,nilai pada hakikatnya mengarahkan perilaku dan pertimbangan seseorang tetapi ia tidak mehakimi apakah sebuah perilaku tertentu itu salah atau bena.

 

2.      Nilai-nilai moral dan etika menurut teori di atas,bersifat relatif tidak mutlak,dan berubah-ubah tergantung pada tempat dan waktunya,serta menjadi alat pemenuhan mental budaya nilai manusi itu sendari.Bagi manusia moralitas dan nilai-nilainya berbeda-beda menurut tempat dan waktu sehingga masalah baik dan buruk tidak lagi dipermasalahkan menurut tiori ini penalaranlah yang menjadi standar apa yang disebut benar atau salah.

 

3.      Nilai-nilai dalam islam mengandung dua kategori arti dilihat dari segi-segi normatif yaitu baik dan bentuk,benar dan salah,hak dan batil,diridhai dan dikutuk oleh Allah s.w.t.sedangkan bila dlihat dari segi operatif tersebut mengandung lima pengertian katagori yang menjadi prinsip standardisasi perilaku manusia.

 

4.      Etika memiliki pengertian bahwa manusia diharapkan mampu mengatasi sifat-sifat jahatnya dan mengembangkan sifat-sifat baik dalam dirinya. Paul Foulquie mendefinisikan etika sebagai “aturan kebiasaan, yang apabila ditaati dan dipatuhi, akan mengantarkan manusia meraih segenap tujuannya” Biasanya etika sangat terkait dengan persoalan-persoalan bagaimana meraih kebahagiaan dalam diri manusia. Kita sering mendengar istilah “etika kebahagiaan.

 

5.      Islam adalah agama moral yang memiki fungsi sebagai “jalan kebenaran” untuk memperbaiki kehidupan sosial umat manusia. Memahami Islam secara substantif akan menjadi panduan universal dalam tindakan moral. Memahami Islam tidak hanya sebatas ritual ibadah saja, tapi perlu juga dimaknai secara lebih luas, yaitu bagaimana usaha kita menjadikan Islam sebagai panduan moral yang murni.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

1.      .Dwi Narwoko,2004, Sosiologi pengantar dan terapan,cet ,Jakarta kencana.

 

2.       Muzaiyyin Arifin,Filsafat pendidikan islam,.PT Bumi aksara Jakarta.

 

3.      http://uinsuka.info/ejurnal/index.php?tgl 23 mei 2009

 

4.      http://pa-kendal.net/index.php?option=com. tgl 23 mei 2009

5.      .http://www.mail-archive.com/21 mei 2009

6.      Kaatsoff,1987.Pengantar filsafat .Yogyakarta Tiara wacana.

 

 



1.Dwi Narwoko,Sosiologi pengantar dan terapan,hlm 55.

2 Muzaiyyid Arifin,Filsafat pendidikan islam,hlm 127-128

3 Ibid 138-140


Komentar

Postingan Populer