SKRIPSI POPULER EFEKTIVITAS ENDORSEMENT MEDIA IKLAN (ANALISIS TERHADAP INSTAGRAM)
![]()
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Komunikasi
dan Penyiaran Islam atau disingkat KPI adalah salah satu dari empat (4) program
studi yang terdapat di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri
Ar-Raniry Banda Aceh. Secara resmi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda
Aceh berdiri berdasarkan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 12
Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
Banda Aceh. Sebelum berubah status menjadi UIN, Lembaga pendidikan tinggi ini
bernama Institut Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry yang didirikan tanggal 5 Oktober
1963 merupakan IAIN ketiga, setelah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. Keberadaanya dimulai dengan berdirinya Fakultas
Syari’ah pada tahun 1960 Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1962 didirikan
fakultas Ushuluddin, sebagai Fakultas ketiga di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh
dengan status swasta.
|
Dalam
bahasa Arab IAIN disebut dengan Al-Jami’ah
Al-Islamiyah Al-Hukumiyah. Sebagaimana institut-institut lainnya, institut
Agama Islam Negeri adalah sebuah lembaga pendidikan tinggi yang mengelola suatu
rumpun ilmu dasar, yaitu administrasi, UIN Ar-Raniry berada dibawah jajaran
Kementrian Agama RI, yang pengawasan dan pelaksanaannya diserahkan kepada
direktorat jenderal kelembagaan Agama Islam Melalui Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam.
Sebutan
Ar-Raniry dinisbahkan kepada nama belakang seorang ulama besar dan mufti
Kerajaan Aceh Darussalam yang sangat berpengaruh pada masa Sultan Iskandar
Tsani (1637-1641), yaitu Syeikh Nuruddin Ar Raniry, yang berasal dari Ranir
(sekarang Rander) di India. Ulama ini telah memberikan sumbagan besar terhadap
pemikiran Islam Nusantara pada umumnya dan Aceh pada khususnya.
Dalam
perkembangannya, UIN Ar-Raniry, di samping terus berbenah diri, juga telah
membuka sejumlah Program Studi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tidak
hanya itu, dalam upaya penyempurnaan keberadaanya, lembaga ini juga telah
membuka program Pascasarjana (S-2) pada tahun 1989 dan Program Doktor (S-3)
pada tahun 2002.
Seiring
dengan tingginya tuntuan terhadap ilmu-ilmu alam dan sosial keagamaan untuk
menyikapi problem kemasyarakatan maka pada tahun 2014 UIN Ar-Raniry membuka
empat fakultas baru, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Pemerintahan, Fakultas
Psikologi, Fakultas Sains dan Teknologi dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.
Dengan demikian sekarang UIN Ar-Raniry memiliki Sembilan (9) Fakultas dengan empat
puluh tiga (43) Prodi.[1]
Berbicara
mengenai program studi, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam adalah program
studi yang berada di bawah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas
Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.Fakultas ini merupakan salah satu dari Sembilan
(9) fakultas yang terdapat di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda
Aceh.fakultas ini lahir pada 05 Oktober tahun 1968. Fakultas ini memiliki
tujuan melahirkan sarjana dakwah dan publisistik yang berpengetahuan dan
mempunyai keahlian untuk menyampaikan dakwah dengan berbagai cara kepada umat.
Progam
Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) ini didirikan seiring dengan
berdirinya Fakultas Dawah dan Publisistik IAIN Ar-Raniry yang pada awalnya
merupakan sebuah jurusan di bawah naungan Fakultas Usuluddin IAIN Ar-Raniry. Berdasarkan keputusan Menteri Agama pada
tanggal 19 Juli 1968 Nomor 153 Tahun 1968, Fakultas Dakwah dan Publisistik
resmi berdiri sendiri di lingkup IAIN Ar-Raniry dan sekaligus didirikan dua
jurusan yaitu Jurusan Dakwah wal Irsyad
serta Jurusan Publisistik dan Jurnalistik. Fakultas Dakwah dan Publisistik
diresmikan oleh Menteri Agama K.H. Mohd.
Dahlan dalam rangka Lustrum ke-1 IAIN Ar-Raniry pada tanggal 7 Oktober 1968 M
bertepatan dengan 15 Ra’jab 1388 H. Seiring dengan perkembangan waktu, Fakultas
ini berubah nama menjadi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, sementara Prodi
Publisistik dan Jurnalistik menjadi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).[2]
Program
studi ini memilki visi yakni menjadikan prodi yang unggul dalam pengembangan ilmu komunikasi
dan penyiaran Islam. Diikuti dengan Misi dan tujuan menyelenggarakan pendidikan
dan pengajaran dalam bidang ilmu komunikasi dan penyiaran Islam yang integral
dan professional, melakukan penelitian dibidang ilmu komunikasi dan peyiaran, dan
melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dan menjalin kerjasama dengan
berbagai pihak terkait.[3]
B. Hasil Penelitian
1.
Efektivitas Celebrity Endorsement pada Mahasiswa KPI Sebagai Media Iklan Instagram
Sebagaimana dijelasakan dahulu, iklan dapat diartikan
sebagai salah satu teknik penyampaian pesan yang dilakukan dengan menggunakan
alat media.[4] Iklan
juga sebagai altenatif paling efektif untuk mengajak/membujuk khalayak. Sebab,
sejak masa romawi iklan telah dikenal sebagai saluran penyampaian informasi yang
cepat dan terjangkau. Sampai saat ini, iklan telah menjadi metode atau pilihan penyampain informasi yang paling
sukses.[5]
Iklan merupakan
berita pesanan (untuk mendorong, membujuk) khalayak tentang barang atau jasa.
Dengan kata lain, iklan dapat dimaknai sebagai salah satu upaya penyampaian
berbagai pesan dan dilakukan dalam berbagai bentuk. Untuk meraih target dari sebuah produk,
setiap perusahaan memiliki berbagai cara untuk melakukannya, bahkan sesamanya
saling bersaing menguasai indeks minat masyarakat global. Banyak hal dan
alternatif yang dilakukan, selain media televisi, media massa juga menjadi
“lahan” yang dianggap efektif untuk menunjukkan kualitas produk.
Iklan-iklan dimaksud tidak saja berkenaan dengan
produk makanan dan minuman, produk alat kesehatan, juga mengalami hal yang saMona
Asparina bahkan sampai berkenaan dengan teknologi dan jasa. Baru-baru ini ada
lagi namanya saluran sosial media melalui instagram yang telah populer seperti face book. Tokoh-tokoh yang dihadirkan didalamnya
tidak tanggung-tanggung, yaitu para tokoh yang telah melejit ke papan atas,
semisal Nagita Slavina, Syahrini, Raisa, Salsa, Ayu Tingting, dan banyak lagi artis
lainnya. Memanfaatkan selebriti (celebrity
endorsement) untuk suatu produk iklan dianggap paling efektif menarik
perhatian masyarakat yang dilakukan melalui akun sosial media instagram.
Lalu bagaimana tingkat efektivitas celebrity endorsement terhadap beberapa
produk yang diperagakan dalam bentuk iklan oleh para selebritis melalui sosial
media instagram, tentu saja memiliki ragam pandangan masing-masing. Berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan, dari jumlah 123 mahasiswa jurusan KPI Fakultas
Dakwah UIN ar-Raniry angkatan 2014, sebanyak 83 orang (67,47%) yang memiliki
atau memakai handphone android dan sebanyak 40 orang mahasiswa atau (32,52%)
yang tidak memiliki handphone android. Dari persentase ini, menunjukkan lebih
dari setengah mahasiswa jurusan KPI UIN ar-Raniry memiliki handpone android.
Jenis dan tipe android ini bermacam-macam, mulai dari
model terbaru ada pula yang masih menggunakan tipe laMona Asparina namun hampir
secara umum memiliki android keluaran terbaru, ada yang nilai harganya di atas 2 jutaan ada pula
di bawah 2 jutaan. Dari keseluruhan mahasiswa KPI UIN ar-Raniry yang memiliki
android atau 83 mahasiswa (46,47%), sebanyak 61 orang mahasiswa (73,49%) yang
menggunakan akun sosial media instagram dan sebanyak 21 orang mahasiswa
(26,50%) yang tidak menggunakan akun sosial media instagram.
Untuk mempermudah dalam mengamatinya, hasil
penelitian di atas dituangkan dalam bentuk grafik 4.1 berikut ini:
Grafik 4.1
Jumlah Responden yang Menggunakan Android dan
yang Memiliki
Akun Instagram

Sumber: Hasil penelitian
pada mahasiswa KPI UIN ar-Raniry Angkatan 2014, data setelah diolah
a. Motivasi
Memanfaatkan Akun Sosial media Instagram
Alasan responden yang menggunakan akun sosial media
instagram ini tentu saja sangat beragam, ada yang berpandangan agar selalu
eksis dengan perkembangan teknologi, ada yang memang memanfaatkan untuk komunikasi
ada pula yang dimotivasi oleh rasa ingin terlibat dalam komunikasi di instagram
namun tidak ada yang memakai karena suka-suka. Sebagaimana hasil wawancara yang
telah dilakukan pada Ulfa Mudhia mahasiswa KPI
Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN ar-Raniry angkatan 2014, bahwa penggunaan akun
instagram menjadi media paling sederhana untuk mengetahui berbagai hal seputar
kekinian, baik itu informasi maupun berbagai barang lainnya.[6]
Berkenaan dengan celebrity
endorsement di media akun isntagram, tidak ada responden yang tidak
mengetahuinya, sebagaimana jawaban Ulfa Mudhia, bahwa celebrity endorsmenet itu adalah
mereka yang followers-nya banyak,
bahkan menurut Ulfa Mudhia, salah satu selebritis ia kenal langsung yang
berinisial (S), kemudian beberapa pihak (perusahaan) yang memiliki produk
memanfaatkan selebritis itu untuk menjadi model pada produk yang akan
diiklankannya. Menurutnya, kehadiran celebrity
endorsement pada akun instagram sangat membantu dan selalu mem-follow up terhadap instagram.[7] Hal ini juga diakui oleh Sri Rahayu,
bahwa kehadiran akun intagram ini disatu sisi mempermudah dalam sistem bisnis.[8]
Menurut Teuku
Fauzan Maulidin, celebrity endorsement itu adalah salah satu akun selebritis yang
dimanfaatkan untuk mempromosikan berbagai jenis produk, baik itu alat
kesehatan, obat-obatan, kosmetik, busana dan lain sebagainya. Menurutnya,
kehadiran celebrity endorsement dengan
menggunakan akun sosial media instagram sanagt membantu dalam proses pemasaran
produksi, terutama kemudahan dalam mempromosikannya.[9]
Hal serupa juga dijelaskan oleh T. Emy Kurniawan dan Rauzatul Muna, bahwa
kehadiran media instagram ini selain sebagai media informasi juga bermanfaat
dalam mengetahui seputar produk kekinian.[10]
Pandangan Rauzatul Muna, celebrity endorsement adalah artis yang
mempromosikan (meng-endors) produk-produk lalu diposting di instagram, hal ini
sangat membantu selain melalui televisi pada media instagram juga dapat
dilakukan untuk mempromosikan barang, bahkan sering juga mem-follow up-nya tetapi khusus artis-artis
yang perempuan dan yang memakai hijab.[11]
Pandangan Rauzatul Muna, ini juga sepadan dengan Putri Vonna, selebritis yang
di follow up itu tentu tidak semua,
namun artis-artis dipilih secara khusus, yang memakai hijab misalnya dan para
artis cowok yang dianggap baik.[12]
Lain lagi pandangan Mona
Asparina, celebrity endorsement itu
merupakan selebgram yang endors-endors barang gitu. Sejauh yang diketahui bahwa
hal ini boleh-boleh saja, karena merupakan langkah bisnis yang dapat menjadi
sumber pendapatan.[13]
Menurut Mufti Tamren,, celebrity
endorsement itu adalah orang yang secara khusus dibiayai oleh salah satu
pemilik produk lalu meminta pada selebritis yang telah memiliki banyak fans
atau follow up nya untuk menjadi
model pada salah satu produk yang akan diiklankannya.[14]
Dari hasil penelitian pada
beberapa responden dapat dijelaskan bahwa, motivasi terhadap penggunaan akun
instagram itu tentunya bervariasi, sangat tergantung dari sisi mana yang
dipandang. Namun dalam penelitian, motivasi penggunaan sosial media akun
instagram adalah, sebagai media komunikasi bersama orang yang dikenal dapat
dikategorikan sebanyak 9 mahasiswa (75%), sebagai langkah untuk selalu eksis
dalam perkembangan berbagai teknologi sebanyak 3 mahasiswa atau (25%), sebagai
alasan media produksi/promosi yang dijawab oleh mahasiswa sebanyak 6 mahasiswa
atau (50%), dan alasan sebagai saluran yang mudah untuk mengetahui jenis-jenis
barang keluaran kekinian yang digunakan oleh para artis-artis dan selebritis
yang dijawab oleh 5 mahasiswa atau (41,66%). Lebih jelas, dapat diamati
sebagaimana pada grafik 4.2 di bawah ini:
Grafik 4.2 Motivasi (alasan)
Responden Menggunakan Akun Media Instagram
Sumber: Hasil penelitian
pada mahasiswa KPI UIN ar-Raniry Angkatan 2014, data setelah diolah
Dari grafik di atas, dapat
dijelaskan bahwa penggunaan akun media instagram secara umum sangat dipenagruhi
oleh arus informasi masa kini, derasnya berbagai informasi semakin banyak pula
media yang tersedia untuk dapat dimanfaatkannya, kemudian ada juga alasan agar
selalu eksis dalam perkembangan teknologi namun alasan ini sangat sedikit
responden yang menjawabnya. Alasan lain, penggunaan akun media instagram ini
dianggap oleh banyak responden sebagai media yang sangat baik untuk beriklan
dan menyampaikan informasi, sebab media face
book, tampaknya sejak ada media instagram semakin kurang minat untuk
mengonlinenya, dan dirasakan begitu mudah dengan memanfaatkan media instagram.
Selain itu, ada juga penggunaan media instagram ini dimotivasi oleh rasa ingin
tahu terhadap berbagai produk terbaru yang sedang digunakan oleh tokoh-tokoh
terkenal, aktor, artis dan selebritis.
b. Daya Tarik pada Celebrity Endorsement di Media Akun Instagram
terhadap Pembelian Barang
Sebagaimana halnya motivasi
penggunaan akum sosial media instagram yang memiliki berbagai motivasi, maka
daya tarik terhadap jenis produk barang yang diiklan itu juga memiliki
pandangan yang berbeda-beda. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan pada
Adam Pramayuda, menjelaskan bahwa keberadaan celebrity endorsement dapat membantu lakunya sebuah produk.
Menurutnya, daya tarik terhadap barang yang dilakukan melalui celebrity endorsement tentunya sangat
tergantung sebuah visualisasi gambar dan video artinya, 1) akan tertarik jika video itu menarik, 2)
kemudian dilihat juga dari sisi kualitas, 3) kemudian sangat tergantung juga
dari tokoh yang ditampilkan, bila tokoh itu sudah demikian dikenal atau sudah
demikian diketahui tentu akan memiliki daya tarik tersendiri terhadap iklan produk melalui sosial media instagram, 4)
iklan yang mengandung humor atau ada nilai komedi seperti salah satu artis yang
ia sukai berinisial Simarkucil, 5)
kemudian tidak kalah penting adalah harga.[15]
Sementara itu, Muhammad Shobari, menjelaskan
celebrity endorsement melalui instagram
sangat membantu terhadap pengenalan produk, apalagi jenis produk yang digunakan
oleh artis-artis adalah produk yang memiliki kualitas.[16]
Elektabilitas iklan melalui sosial media instagram menurutnya sangat
berpengaruh hal ini dikarenakan barang-barang yang dipakai oleh artis secara
umum berkualitas. MB mengakui bahwa ia sering melakukan pembelian melalui akun sosial
media instagram, seperti sepatu, baju dan tas, namun ia menjelaskan meski
pembelian suatu barang sering dilakukan melalui media instagram tentu saja
tidak semata-mata karena artis, namun lebih dipengaruhi oleh kebutuhan terhadap
barang itu sendiri.[17]
Meski proses pembelian terkadang mengalami keterlambatan namun tidak mengurangi
niat dan motivasi pembelian melalui akun media instagram.
Menurut Mona Asparina, iklan
produk melalui akun media instagram yang memanfaatkan artis sebenarnya tidak
dipengaruhi oleh artis itu, karena posisi mereka sebagai endors yang sudah ditentukan bayarannya, sehingga perihal sosok
artis itu tidak bergitu menjadi pengaruh, apalagi persoalan barang atau produk
yang diiklankan, bagus atau tidaknya suatu produk bukan hal yang menjadi
persoalan bagi mereka karena tugas dan posisi mereka sudah jelas yaitu endors barang.[18]
Niat untuk membeli suatu barang itu bukan karena keberadaan artis, namun karena
keinginan sendiri untuk membeli barang dan produk yang diendors itu. Berdasarkan hasil wawancara ini, Mona Asparina,
mengakui bahwa ia belum pernah memanfaatkan jasa celebrity endorsement dalam melakukan pembelian pada akun media
instagram, ia lebih cenderung
melakukan pembelian online mislanya
pada Lazada dan Shoupi.[19]
Hasil wawancara dengan Mufti
Tamren, juga membenarkan seperti yang disebutkan oleh Marbawi, dan Mona
Asparina. Meski mereka tidak memberi pengaruh terhadap celebrity endorsement itu, namun ia tahu betul bahwa banyak
teman-teman yang lain memiliki daya tarik yang sangat kuat terhadap selebritis
yang endors suatu produk atau barang
dan jasa melalui akun media instagram. Semisal salah satu artis yang berinisial
RA, setiap jenis pakaian hingga sepatu yang ia pakai memiliki daya tarik
tersendiri, apalagi para fans-nya.[20]
Menurutnya, proses pembelian melalui akun instagram pernah dilakukannya namun
tidak sering, pembelian ini dikarenakan dari efesiensi dan kemudahan sehingga
tidak harus ke toko, kemudian saat diterima juga sama persis seperti yang
dibutuhkan itu.[21]
Dalam pandangan Muammad Shobari,
pembelian suatu produk barang yang dilakukan melalui akun media instagram memang
memiliki daya tarik, selain itu kualitas barang yang ditawarkan oleh celebrity endorsement, barang-barangnya bagus dan bermerk,
apalagi tokoh celebrity endorsement dalam
akun media instagram memang sudah dikenal di semua kalangan. Jadi, keberadaan celebrity endorsement dalam
mempromosikan suatu produk melalui akun media instagram memberi pengaruh besar.[22]
Menurut Muammad Shobari, sejak ia menggunakan akun media instagram, saat itu
pula ia merasakan daya tarik yang begitu kuat untuk memiliki suatu jenis produk
barang yang ia lihat pada akun media instagram dengan memanfaatkan celebrity endorsement. Daya tarik untuk
membeli barang melalui akun media instagram itu biasanya jenis barang dan
produk dimaksud itu memiliki kualitas dan barangnya unik-unik. Apalagi gaya dan
cara selebritis dalam meng-endors barang
sangat lihai menarik perhatian banyak orang.[23]
Berdasarkan hasil wawancara
dengan Mufti Tamren, mengemukakan kredibilitas celebrity endorsement pada akun sosial media instagram tidak selalu
memberi pengaruh padanya, ada artis yang memang menarik ada pula yang sama
sekali tidak menarik baginya. Ada barang yang memiliki kualitas bagus dan
bermerk, namun selebritis itu bukan sosok yang ia senangi, bila barang yang
diiklankan itu dibutuhkan tetap saja membeli, namun tidak didasari oleh figure
yang ditampilkan itu.[24]
Jadi, keberadana celebrity endorsement pada akun sosial media
instagram tidak selalu memberi pengaruh
padanya, namun tidak tertutup kemungkinan memiliki pengaruh bagi orang lain.[25]
Adapun gambaran daya tarik
(kredibilitas) celebrity endorsement di
akun media instagram terhadap pembelian barang dapat diamati pada grafik 4.3 di
bawah ini:
Grafik 4.3 Daya
Tarik pada Celebrity Endorsement di
Media Akun
Instagram
terhadap Pembelian Barang

Sumber: Hasil penelitian
pada mahasiswa KPI UIN ar-Raniry Angkatan 2014, data setelah diolah
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah disebutkan di atas, dari 12 responden yang diwawancarai 10 responden
(83,33%) mengatakan membeli barang melalui akun sosial media instagram sangat
dipengaruhi oleh kebutuhan, sebanyak 9 orang responden (75%) mengatakan
dipengaruhi oleh kualitas barang, sebanyak 8 orang responden (66,66%)
mengatakan pembelian barang melalui akun shoping media instagram dikarenakan
prosesnya mudah sehingga tidak harus keluar rumah mencari di toko-toko.
Selain itu, sebanyak 7 orang
responden atau (58,33%) melakukan pembelian online melalui instagram sangat
erat kaitannya dengan tokoh yang dihadirkan, kebanyakan dari masyarakat ini
sangat mengenal tokoh-tokoh di kalangan para artis, apa lagi tokoh artis itu
memiliki fans yang mencapai jutaan, tentu saja memiliki daya tarik tersendiri,
namun dibandingkan dengan alasan lain, tentu saja pengaruh artis ini masih
rendah bila dibandingkan alasan yang dikarenakan oleh kebutuhan.
Selanjutnya, alasan iklan menarik
mendapat jawaban sebanyak 4 orang respponden atau (33,33%), untuk alasan
tampilan iklan yang menimbulkan daya tarik namun hanya sekedar melaihat saja,
sedikit sekali memutuskan untuk membeli barang, dan pembelian dikarenakan
ikut-ikutan dan alasan karena produk unik hanya mendapat masing-masing 2 orang
responden (16,66%) yang memilih jawabn itu.
Dari hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa minat dan motivasi emmbeli barang mealui shoping akun media
intagram ternyata tidak saja dipernagruhi oleh artis atau selesbritis namun
sangat besar pengaruhnya karena kebutuhan. Secara umum khalayak memberi barang
online melalui akun media instagram dipenagruhi oleh kebutuhan semata selain
itu kualitas barang juga diyakini lebih bagus, sebab semua barang itu
diasumsikan dipakai oleh banyak artis. Kehadiran tokoh atau figure dalam iklan
ternyata belum menajdi alasan utaMona Asparina apalagi ada kalangan artis yang
disebut-sebut pernah melakukan perbuatan melangar norMona Asparina tentu saja
daya atriknya boleh disebut tidak ada daya tarik sama sekali, atau artis-artis
yang dianggap sering memanfaatkan obat terlarang, tidak memakai hijab dan
perbuatan tidak baik lainnya, hal ini justru tidak ada pengaruh sama sekali
bagi pengguna akun instagram.
2.
Faktor Eksternal dan Internal terhadap Keputusan Pembelian Online Shop
di Sosial Media Instagram
Sebagaimana pernah disebutkah dahulu, dunia
bisnis sudah demikian berkembang, semenjak dunia bisnis mengenal internet.
Salah satu yang mulai berkembang adalah instagram. Instagram kini tidak hanya
hadir sebagi salah satu alternatif dalam bersosialita dengan dunia maya, tetapi
bisa juga menjadi alternatif baru dalam melancarkan bisnis. Meski hingga kini
facebook masih menjadi media sosial terbesar denga aktivasi terbesar di dunia,
tetapi instagram mampu menawarkan lebih sekedar itu.
Faktor yang
menjadikan instagram sebagai media pemasaran dapat dilihat dari dua dimensi
yaitu dimensi media sosial dan dimensi kreatifitas. Dimensi media sosial
meliputi, media sosial mempunyai daya tarik, dapat dimiliki setiap orang, akun
kuliner termasuk baru di instagram, menarik perhatian, dan memperluas
informasi. Dimensi kreatifitas meliputi kreatif, menarik, menggugah selera,
unik, dan nyata.
Apalagi dengan
adanya celebrity endorsement tentu memberikan daya tarik yang semakin
tinggi. Instagram termasuk media sosial yang sederhana. Utamanya adalah berbagi
foto dan video, tetapi bisa dijadikan media visual sebagai pemancing pembelian,
terutama bila produk dari usaha berupa benda fisik. Itu sebabnya untuk
keleluasaan dalam mempromosikan produk secara umum banyak menggunakan akun
instagram. Penggunaan akun instagram saat ini tidak tanggung-tanggung,mulai
dari siswa usia sekolah SMP sampai para ibu-ibu rumah tangga juga memanfaatkan
media ini sebagai alat yang dianggap memudahkan dalam proses pembelian barang.
1)
Faktor Eksternal terhadap Keputusan Pembelian Online Shop di Sosial
Media Instagram
Kebanyakan perusahaan besar meneliti
keputusan membeli konsumen secara amat rinci untuk menyatakan pertanyaan
mengenai apa yang dibeli konsumen, bagaimana dan berapa banyak mereka membeli,
serta mengapa mereka membeli. Salah satu cara untuk membentuk hal tersebut
adalah dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian. Dalam
pembahasan ini faktor eksternal menyangkut hal-hal di luar diri sendiri yang
menjadi acuan sehingga memutuskan untuk membeli barang.
Hasil penelitian yang telah dilakukan
pada mahasiswa KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry Banda Aceh angkatan 2014,
terhadap faktor eksternal yang mempengaruhi daya beli produk yang dilakukan
melalui celebrity endorsement pada
akun instagram adalah sebagai berikut:
- Tampilan
Iklan Produk Instagram
Tampilan
iklan pada instagram yang digunakan selebritis tentu sanagt berbeda-beda, hal
ini sangat dipengaruhi oleh jenis produk yang akan dipromosikan. Kita tidak
membahasa jenis produk yang dipromosikan, namun gaya tampilan iklan cukup
emmberi makna bagi banyak orang, sehingga memunculkan daya tarik untuk membaca
dan mengikutinya pada akhirnya mencari tahu lebih dekat.
Sebagaimana
hasil wawancara dengan MONA ASPARINA bahwa tampilan atau background instagram sangat penting diperhatikan, latar belakang
ini yang menjadi tatapan pertama pada setiap orang. Setelah latar belakang yang
menarik ditambah lagi oleh tokoh yang dihadirkan tentu saja akan semakin tinggi
keinginan untuk mengetahuinya.[26]
Menurut
Adam Pramayuda, iklan-iklan yang dihadirkan di akun instagram melalui celebrity endorsement yang sangat besar
perhatiannya adalah videonya. Secara umum veideo-video yang dihadirkan pada
akun instagram sanagt menarik perhatian sehingga secara tidak sengaja membawa
pandangan untuk mengikuti sampai akhir ilustrasi video yang di upload itu.[27]
Jelas
sekali bahwa tampilan iklan yag dilakukan oleh celebrity endorsement membawa sejumlah ciri khas tersendiri bagi
setiap orang, terlebih para selebritis itu yang sudah sangat dikenal. Foto atau video hasil unggahan itu pada
umumnya didesain sedemikian rupa sehingga sesuai aslinya.
- Tokoh
atau Figur Selebritis pada Akun Instagram
Model
iklan seperti yang ditawarkan adalah kalangan-kalangan artis yang sudah dipopulerkan
dalam akun instagram, sehingga keberadaan celebrity
endorsement memungkinkan para pembaca menjadi target celebrity endorsement. Menurut Adam Pramayuda , iklan yang
dihadirkan dalam akun instagram dianggap efektif terhadap pengaruh seseorang
untuk membelinya.[28]
Menurut Marbawi, sejumlah produk yang diiklankan itu rata-rata telah dibandrol
dengan harga yang jelas. kemudian adanya video-video yang melibatkan artis-artis terkenal itu semakin memperjelas kualitas
terhadap suatu produk yang akan dipasarkan.[29]
Misalnya postingan sepatu masa kini, yang ditampilkan dengan model-model yang
sangat menarik apalagi artis kesukaan yang memakainya tentu akan menimbul
rangsangan untuk membelinya.
- Pengaruh
Lingkungan atau Ikut-ikutan
Sebagaimana
hasil penelitian yang telah dilakukan, faktor ikut-ikutan itu memang tidak
begitu menonjol sebab, rata-rata memang ada alasan lain. Meski ada yang
ikut-ikutan namun tidak begitu banyak jumlahnya. Ikut-ikutan tidak saja
ikut-ikutan teman, namun dapat juga seseorang itu ikut-ikutan seperti apayang
dipakai oleh artis, hal ini jelas selaki bahwa motif membeli barang bukan
dikarenakan kebutuhan namun cenderung akrena ikut-ikutan saja atau boleh jadi
sekedar merasakan.
Hasil
penelitian yang telah dilakukan pada Muhammad Shobari, meski niat membeli
barang tidak didasari atas kebutuhan ada juga seseorang yang memang berperilaku
ikut-ikutan sebagaimana tanyang celebrity
endorsement agar selalu eksis denga gaya baru.[30]
- Kualitas
Barang
Persoalan kulitas memang bukan
perkara yang bisa dipermainkan, sebab banyak juga iklan produk di akun sosial
media instagram yang dibeli oleh masyarakat tidak memiliki hubungan dengan
model atau tokoh celebrity endorsement-nya. Sebagaimana dikatakan oleh MT, ada sebagian
orang yang ngefans pada seseorang celebrity endorsement, namun barangnya
kurang berkualitas membuat niat membeli semakin kecil peluangnya.[31]
Kualitas barang itu menjadi nilai
terpenting dlaam kehidupan, maka itu sebagian besar masyarakat meski celebrity endorsement itu adalah
fans-nya namun tidak memberi pengaruh apapun bila kualitas produk itu tidak
original atau tidak bagus. Dengan kata lain, orang yang memberi pandangan,
gambaran dan iklan (celebrity endorsement)
tidak dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk tidak membeli barang
atau produk.
2)
Faktor Internal terhadap Keputusan Pembelian Online Shop di Sosial
Media Instagram
Sementara itu,
faktor internal yang melatarbelakangi pembelian di sosial media instagram
melalui celebrity endorsement adalah
sebagai berikut:
- Faktor
Pribadi
Gfaktor pribadi ini berkanaan erat
dengan usia seseorang, dan tahap siklus hidup. Membeli juga dibentuk oleh
siklus hidup keluarga mengenai tahap-tahap yang mungkin dilalui keluarga sesuai
kedewasaannya. Namun lebih esensial masalah pribadi ini adalah ekonomi, dimana
situasi ekonomi mempengaruhi pilihan produk, sebaik apapun gaya yang
diperagakan oleh celebrity endorsement atau
seberapa tinggi pun kualitas, bila ekonomi pada pribadi tidak ada tentu akan
membatalkan semua keingianna itu. Namun, disi lain persoalan gaya hidup (lifestyle) juga tidak kalah penting
dalam pembahasan ini, sebab gaya hidup ini dianggap dan diyakini semakin
memperjelas status sosial dalam kehidupan masyarakat.
- Faktor
Psikologis
Faktor psikologis ini berkaitan
erat dengan minat beli seseorang. Faktor psikologis ini akan mempersepsikan
pada diri seseorang untuk memilih suatu produk yang sedang ia lihat. Oleh
karena itu, perusahaan yang bekerjasama dengan celebrity endorsement perlu mengenali peranan-peranan maing-masing
yang akan diamati oleh khalayak.
- Faktor
Kebutuhan dan Daya Tarik
Salah
satu kebutuhan jasmani yang sangat penting adalah kebutuhan dalam diri
seseorang. Dengan perkembangan jaman, kebutuhan sandang tidak lagi sekedar
berpakaian atau berpenampilan seadanya melainkan mulai bergeser menjadi
kebutuhan fashion, dimana pakaian
maupun aksesoris dipadupadankan sedemikian rupa untuk tampil menarik. Semakin
modern, manusia cenderung semakin bersifat hedonis, sehingga untuk kebutuhan
pun manusia ingin tampil lebih. Hal ini mengakibatkan banyak bermunculan produk
dengan menampilkan celebrity endorsement dengan
gaya yang tinggi. Hasil
penelitian dahulu, sebanyak 10 responden (83,33%) mengatakan membeli barang
melalui akun sosial media instagram sangat dipengaruhi oleh kebutuhan, sebanyak
9 orang responden (75%) mengatakan dipengaruhi oleh kualitas barang.
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Bisnis
pada umumnya dilakukan
dengan dua cara, yakni dengan tradisional dan modern. Dalam
bidang tertentu, cara penjualan tradisional melalui tatap muka langsung di butik atau
di mall. Sedangkan cara
penjualan modern menggunakan
internet sebagai sarana utaMona Asparina baik website, blog, maupun
melalui akun sosial
instagram.
Perlu
dijelaskan kembali bahwa minat dan motivasi memmbeli
barang mealui shoping akun media intagram ternyata memiliki latar belakang yang
berbeda-beda. Menurut Totok iklan dibagi dua bagian yaitu;[32]
a. Iklan dalam bentuk umum sebagai pemberitahuan kepada
orang ramai terhadap informasi terbaru mengenai barang atau jasa yang sifatnya
menarik perhatian atau membujuk agar terdorong untuk memiliki, menguasai atau
bergabung agar mendapat keuntungan, iklan umum ini benar-benar untuk
kepentingan bisnis, misalnya perusahaan-perusahaan, lembaga-lembaga bisnis,
isntansi pemerintah dan siapa saja yang ingin usahanya dengan sasaran mencari
keuntungan.
b. Iklan secara khusus diartikan sebagai iklan yang
sasarannya diperuntukkan bagi kegiatan sosial, misalnya pengumuman, iklan
keluarga dan iklan layanan masyarakat.[33]
Bentuk iklan media massa berbeda-berbeda, bisa berupa iklan display,
iklan kolom, iklan baris dan pariwara (advetorial).[34] Setiap media masa atau penerbitan pers, para manajer
iklan dituntut harus mampu membedakan mana informasi yang bisa dikemas menjadi
iklan dan mana informasi yang hanya diperuntukkan bagi pemberitaan.[35]
Dalam praktiknya, dimensi iklan sebagaimana di atas tentu berbeda lagi dengan konsep dalam Islam. Dalam Islam, Jalaludin Rakhmat menyimpulkan ada enam prinsip komunikasi yanga hrus dilakukan oleh masyarakat Islam, namun penulis mengkhususkan terhadap terhadap iklan melalui sosial media instagram, oleh karena itu prinsip iklan yang selayaknya adalah:
a. Qawlan sadidan (ucapan yang benar)[36]
Allah memerintahkan untuk menyampaikan kata-kata yang berkategori qawlan sadidan, yakni lurus dan istiqamah kepada siapapun. Firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 70. Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”.
b. Qawlan Balighan (ucapan yang mengenai sasaran)
Menyangkut dengan ucapan yang mengenai sasaran dalam al-Qur’an surah an-Nisa ayat 63 Allah berfirman: Artinya : “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. Kata baligh dalam bahasa Arab berarti sampai, mengenai sasaran, atau mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan qawl (ucapan atau komunikasi), baligh berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki.[37]
c. Qawlan maysuran (ucapan yang pantas)
Al-Qur’an juga mengajarkan tata cara berkomunikasi dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan, tetapi kita belum mampu memenuhi kebutuhan atau permintaan mereka. Terhadap mereka diucapkan qawlan masyuran sebagaimana firman Allah dalam surah al-Isra’ ayat 28 yaitu; Artinya: “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”.
d. Qawlan layyinan (ucapan yang lembut)
Ini bermakna bahwa komunikasi itu harus dilaksanakan secara lemah lembut, tidak boleh dengan keras dan nada tinggi, kecuali dibutuhkan.[38] Ketentuan ini terdapat dalam al-Qur`an surah Thaha ayat 44, yaitu; Artinya : “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.
e. Qawlan kariman (ucapan yang mulia)
Kita juga diberikan tuntunan oleh al-Quran untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang harus dimuliakan, seperti orang tua.[39] Komunikasi dengan orang yang dimuliakan ini diistilahkan dengan qaulan kariman sebagaimana termaktub dalam al-Qur`an surah al-Isra` ayat 23;
Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.
f.
Qawlan
ma’rufan (ucapan yang baik)
Dalam menyampaikan informasi hendaklah memakai perkataan yang tergolong ucapan yang baik,[40] Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 263 yaitu; Artinya: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”.
Dengan berkembangnya online shop melalui akun media instargram yang
bergerakdalam bidang produk-produk
menjadikan konsumen akan dengan leluasa membandingkan produk yang
ditawarkan oleh suatu online shop dengan produk sejenis yang ditawarkan
oleh online shop lain. Selain itu, bagi sebuah online shop yang
melakukan transaksi tanpa bertatap muka harus dapat menjaga kepercayaan
agar
dapat menarik minat konsumen. Agar menarik minat konsumen untuk bertransaksi di
sebuah online shop, tentu berkaitan dengan apa produk yang ditawarkan
oleh online shop itu sendiri. Jika suatu produk sudah diketahui
masyarakat umum mengenai kualitasnya atau produk tersebut sudah memiliki merek
yang
kuat, maka akan menarik minat konsumen.
Islam sebagai agama yang memiliki tuntunan yang lengkap sebenarnya dapat
menjadi ukuran dalam menentukan baik dan tidaknya sebuah bahasa dan iklan yang
digunakan oleh celebrity endarsment. Pola
celebrity endorsment semestinya dapat
melihat hal ini secara lebih matang, sehingga apa yang tampil di dalamnya
benar- benar sesuai nilai syariah, baik itu busana, bahasa dan peragaannya
bahkan kebenaran dalam suatu pesan iklan. Tidak baik juga bila dasar utama
dalam etika iklan celebrity endorsement itu
mengadopsi aturan undang-undang tanpa mengedepankan autran Islam. Jujur saja,
sebenarnya media sosial instagram yang memiliki iklan tak relevan jika ditinjau
dari aspek jual beli dalam Islam, maka iklan melalui celebrity endorsement tersebut tidak dapat dikatakan sesuai dengan
nilai Islam dan tata cara muamalah dalam Islam dan termasuk yang dilarang dalam
Islam.
Oleh karena itu
sebagai bagian dari masyarakat umat muslim mempunyai komitmen untuk peduli
terhadap segala bentuk perilaku anti sosial. Umat muslim harus senantiasa
tampil yang terdepan untuk menyeru sekaligus memberi keteladanan meskipun dalam
posisi celebrity endorsement terhadap iklan suatu produk. Masyarakat
semacam inilah yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah. Prinsip dan etika
komunikasi termasuk iklan harus disertai dengan prinsip Islam.[41]
Berkenaan dengan
masalah dalam pembahasan ini Imam al-Ghazali menjelaskan tentang
tingkatan-tingkatan dalam
“nahi munkar”, yaitu;
1. Memberi
penerangan kepada orang yang hendak diubah perbuatannya, sebab adakalanya
seseorang melakukan suatu kemungkaran itu dengan sebab tidak tahu atau
kebodohannya, sehingga apabila telah diberitahu, mungkin sekali ia akan
meninggalkannya.
2. Melarang
orang yang berbuat kemungkaran itu dengan memberi nasihat yang baik serta
menakut-nakuti akan siksa Allah SWT.
3. Melarang
dengan tegas, tetapi tetap harus menghindari kata-kata yang kasar (tidak
sopan).[42]
Hal
penting dalam periklanan celebrity endorsement
melalui sosial media instagram adalah bahasa atau
komunikasi yang disampaikan yang memberikan tafsiran pada perilaku atau
sejenisnya yang disertai dengan gambar setidaknya dapat menghasilkan reaksi
positif. Dan nilai postifi secaar ke-Islaman. Ada beberapa hal yang menjadi tawaran bagi
periklanan celebrity endorsement
melalui sosialmedia instagram yaitu (1) memilih
bahasa yang baik, (2) meletakkan pembicaraan yang tepat pada tempatnya dan
sengaja mencari kesempatan yang benar. (3) pembicaraan yang tidak mengandung
manfaat adalah pembicaraan yang terbengkalai dan tertinggal, (4) berbicara
dengan pembicaraan sekadar keperluan, (5) memilih kata-kata yang baik untuk
dibicarakan dan diterima oleh segenap lapisan masyarakat dan norma agama yang
Islami.
[1] UIN Ar-Raniry, Panduan Akademik 2016-2017, ( Banda
Aceh: UIN Ar-Raniry, 2016), hal. 1-2.
[2] www.komunikasi-arraniry.org di
akses pada 27 Juli 2017
[4] Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan, (Jakarta:
Gramedia Pustaka UtaMona Asparina 1991), hlm. 27-29.
[5] Den
Bagus, Internet dan Teknologi Komersial, diakses melalui situs http:// id. shvoong. com / internet - and - technologies / commercial -
companies/ 2043787-pengertian -iklan/# ixzz1nEGiDkfi, pada tanggal 26 Agustus 2012.
[6] Ulfa Mudhia,
Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada
tanggal 19 September 2017
[7] Ulfa Mudhia,
Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada
tanggal 19 September 2017
[8] Sri Rahayu,
Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada
tanggal 20 September 2017
[9] TeukuFauzan
Maulana, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara
dilakukan pada tanggal 19 September 2017
[10] T. Emy Kurniawan, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN
ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017
[11] Rauzatul
Muna, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas
Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017
[12] Putri
Vonna, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan
pada tanggal 19 September 2017
[13] Mona
Asparina, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara
dilakukan pada tanggal 19 September 2017
[14] Mufti Tamren,
Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada
tanggal 19 September 2017
[15] Adam
Pramayuda, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara
dilakukan pada tanggal 20 September 2017
[16] Muammad
Shobari, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan
pada tanggal 20 September 2017
[17] Marbawi,
Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada
tanggal 20 September 2017
[18] Mona
Asparina, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas
Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017
[19] Mona
Asparina, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara
dilakukan pada tanggal 19 September 2017
[20] Mufti
Tamren, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara
dilakukan pada tanggal 19 September 2017
[21] Mufti
Tamren, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara
dilakukan pada tanggal 19 September 2017
[22] Muhammad
Shobari, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara
dilakukan pada tanggal 20 September 2017
[23] MS, Mahasiswa
,Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20
September 2017
[24] Mufti Tamren, Jurusan
KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19
September 2017
[25] TeukuFauzan
Maulidin, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan
pada tanggal 19 September 2017
[26] Mona
Asparina, Mahasiswa
Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19
September 2017
[27] Adam
Pramayuda,
Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada
tanggal 20 September 2017
[28] Adam
Pramayuda,
Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada
tanggal 20 September 2017
[29] Marbawi, Mahasiswa Jurusan
KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20
September 2017
[30] Muhammad Shobari,, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN
ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017
[31] Mufti
Tamren,
Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada
tanggal 19 September 2017
[32] Toto
Djuroto, Manajemen Penerbitan Pers, (Bandung: Roesdakarya, 2004), hlm. 32-34
[34] Den Bagus, Internet dan
Teknologi Komersial, diakses melalui situs http:// id. shvoong.
com / internet - and - technologies / commercial - companies/
2043787-pengertian -iklan/# ixzz1nEGiDkfi, pada tanggal 26 Agustus 2012.Ibid.
[36] M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 166.
[38] Ibid., hlm. 167
[39] Ibid., hlm. 168.
[40] Ibid., hlm. 169.
[41] Dicuplik dan diperbaharui dari tulisan A.
Husnul Hakim IMZI - Dosen Fak. Ushuluddin Institut PTIQ Jakarta.


Komentar
Posting Komentar
Komentar