SKRIPSI POPULER EFEKTIVITAS ENDORSEMENT MEDIA IKLAN (ANALISIS TERHADAP INSTAGRAM)

 


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

               Komunikasi dan Penyiaran Islam atau disingkat KPI adalah salah satu dari empat (4) program studi yang terdapat di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Secara resmi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh berdiri berdasarkan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Sebelum berubah status menjadi UIN, Lembaga pendidikan tinggi ini bernama Institut Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry yang didirikan tanggal 5 Oktober 1963 merupakan IAIN ketiga, setelah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keberadaanya dimulai dengan berdirinya Fakultas Syari’ah pada tahun 1960 Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1962 didirikan fakultas Ushuluddin, sebagai Fakultas ketiga di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan status swasta.

42

 
               Setelah beberapa tahun menjadi cabang dari IAIN Yogyakarta, pada tahun 1963 fakultas-fakultas tersebut berafiliasi dengan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kondisi ini berjalan sekitar 6 bulan, dan akhirnya IAIN Ar-Raniry resmi berdiri sediri, tepatnya pada tanggal 5 Oktober 1963. Ketika diresmikan, lembaga ini telah memilki tiga fakultas. Yaitu Fakultas Syari’ah, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Ushuluddin. Kemudian, dalam perkembangannya, IAIN Ar-Raniry dilengkapi dengan dua fakultas baru, yaitu Fakultas Dakwah (1968) dan Fakultas Adab (1983).

               Dalam bahasa Arab IAIN disebut dengan Al-Jami’ah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah. Sebagaimana institut-institut lainnya, institut Agama Islam Negeri adalah sebuah lembaga pendidikan tinggi yang mengelola suatu rumpun ilmu dasar, yaitu administrasi, UIN Ar-Raniry berada dibawah jajaran Kementrian Agama RI, yang pengawasan dan pelaksanaannya diserahkan kepada direktorat jenderal kelembagaan Agama Islam Melalui Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam.

               Sebutan Ar-Raniry dinisbahkan kepada nama belakang seorang ulama besar dan mufti Kerajaan Aceh Darussalam yang sangat berpengaruh pada masa Sultan Iskandar Tsani (1637-1641), yaitu Syeikh Nuruddin Ar Raniry, yang berasal dari Ranir (sekarang Rander) di India. Ulama ini telah memberikan sumbagan besar terhadap pemikiran Islam Nusantara pada umumnya dan Aceh pada khususnya.

               Dalam perkembangannya, UIN Ar-Raniry, di samping terus berbenah diri, juga telah membuka sejumlah Program Studi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tidak hanya itu, dalam upaya penyempurnaan keberadaanya, lembaga ini juga telah membuka program Pascasarjana (S-2) pada tahun 1989 dan Program Doktor (S-3) pada tahun 2002.

               Seiring dengan tingginya tuntuan terhadap ilmu-ilmu alam dan sosial keagamaan untuk menyikapi problem kemasyarakatan maka pada tahun 2014 UIN Ar-Raniry membuka empat fakultas baru, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Pemerintahan, Fakultas Psikologi, Fakultas Sains dan Teknologi dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Dengan demikian sekarang UIN Ar-Raniry memiliki Sembilan (9) Fakultas dengan empat puluh tiga (43) Prodi.[1]

               Berbicara mengenai program studi, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam adalah program studi yang berada di bawah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.Fakultas ini merupakan salah satu dari Sembilan (9) fakultas yang terdapat di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.fakultas ini lahir pada 05 Oktober tahun 1968. Fakultas ini memiliki tujuan melahirkan sarjana dakwah dan publisistik yang berpengetahuan dan mempunyai keahlian untuk menyampaikan dakwah dengan berbagai cara kepada umat.

               Progam Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) ini didirikan seiring dengan berdirinya Fakultas Dawah dan Publisistik IAIN Ar-Raniry yang pada awalnya merupakan sebuah jurusan di bawah naungan Fakultas Usuluddin IAIN Ar-Raniry. Berdasarkan keputusan Menteri Agama pada tanggal 19 Juli 1968 Nomor 153 Tahun 1968, Fakultas Dakwah dan Publisistik resmi berdiri sendiri di lingkup IAIN Ar-Raniry dan sekaligus didirikan dua jurusan yaitu Jurusan Dakwah wal Irsyad serta Jurusan Publisistik dan Jurnalistik. Fakultas Dakwah dan Publisistik diresmikan oleh Menteri Agama  K.H. Mohd. Dahlan dalam rangka Lustrum ke-1 IAIN Ar-Raniry pada tanggal 7 Oktober 1968 M bertepatan dengan 15 Ra’jab 1388 H. Seiring dengan perkembangan waktu, Fakultas ini berubah nama menjadi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, sementara Prodi Publisistik dan Jurnalistik menjadi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).[2]

               Program studi ini memilki visi yakni menjadikan prodi yang unggul dalam pengembangan ilmu komunikasi dan penyiaran Islam. Diikuti dengan Misi dan tujuan menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dalam bidang ilmu komunikasi dan penyiaran Islam yang integral dan professional, melakukan penelitian dibidang ilmu komunikasi dan peyiaran, dan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terkait.[3]

 

B. Hasil Penelitian

1.      Efektivitas Celebrity Endorsement pada Mahasiswa KPI Sebagai Media Iklan Instagram

Sebagaimana dijelasakan dahulu, iklan dapat diartikan sebagai salah satu teknik penyampaian pesan yang dilakukan dengan menggunakan alat media.[4] Iklan juga sebagai altenatif paling efektif untuk mengajak/membujuk khalayak. Sebab, sejak masa romawi iklan telah dikenal sebagai saluran penyampaian informasi yang cepat dan terjangkau. Sampai saat ini, iklan telah menjadi metode atau pilihan penyampain informasi yang paling sukses.[5]

Iklan merupakan berita pesanan (untuk mendorong, membujuk) khalayak tentang barang atau jasa. Dengan kata lain, iklan dapat dimaknai sebagai salah satu upaya penyampaian berbagai pesan dan dilakukan dalam berbagai bentuk. Untuk meraih target dari sebuah produk, setiap perusahaan memiliki berbagai cara untuk melakukannya, bahkan sesamanya saling bersaing menguasai indeks minat masyarakat global. Banyak hal dan alternatif yang dilakukan, selain media televisi, media massa juga menjadi “lahan” yang dianggap efektif untuk menunjukkan kualitas produk.

Iklan-iklan dimaksud tidak saja berkenaan dengan produk makanan dan minuman, produk alat kesehatan, juga mengalami hal yang saMona Asparina bahkan sampai berkenaan dengan teknologi dan jasa. Baru-baru ini ada lagi namanya saluran sosial media melalui instagram yang telah populer seperti face book. Tokoh-tokoh yang dihadirkan didalamnya tidak tanggung-tanggung, yaitu para tokoh yang telah melejit ke papan atas, semisal Nagita Slavina, Syahrini, Raisa, Salsa, Ayu Tingting, dan banyak lagi artis lainnya. Memanfaatkan selebriti (celebrity endorsement) untuk suatu produk iklan dianggap paling efektif menarik perhatian masyarakat yang dilakukan melalui akun sosial media instagram.

Lalu bagaimana tingkat efektivitas celebrity endorsement terhadap beberapa produk yang diperagakan dalam bentuk iklan oleh para selebritis melalui sosial media instagram, tentu saja memiliki ragam pandangan masing-masing. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dari jumlah 123 mahasiswa jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry angkatan 2014, sebanyak 83 orang (67,47%) yang memiliki atau memakai handphone android dan sebanyak 40 orang mahasiswa atau (32,52%) yang tidak memiliki handphone android. Dari persentase ini, menunjukkan lebih dari setengah mahasiswa jurusan KPI UIN ar-Raniry memiliki handpone android.

Jenis dan tipe android ini bermacam-macam, mulai dari model terbaru ada pula yang masih menggunakan tipe laMona Asparina namun hampir secara umum memiliki android keluaran terbaru, ada  yang nilai harganya di atas 2 jutaan ada pula di bawah 2 jutaan. Dari keseluruhan mahasiswa KPI UIN ar-Raniry yang memiliki android atau 83 mahasiswa (46,47%), sebanyak 61 orang mahasiswa (73,49%) yang menggunakan akun sosial media instagram dan sebanyak 21 orang mahasiswa (26,50%) yang tidak menggunakan akun sosial media instagram.

Untuk mempermudah dalam mengamatinya, hasil penelitian di atas dituangkan dalam bentuk grafik 4.1 berikut ini:

Grafik 4.1 Jumlah Responden yang Menggunakan Android dan

yang Memiliki Akun Instagram

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Hasil penelitian pada mahasiswa KPI UIN ar-Raniry Angkatan 2014, data setelah diolah

a.       Motivasi Memanfaatkan Akun Sosial media Instagram

Alasan responden yang menggunakan akun sosial media instagram ini tentu saja sangat beragam, ada yang berpandangan agar selalu eksis dengan perkembangan teknologi, ada yang memang memanfaatkan untuk komunikasi ada pula yang dimotivasi oleh rasa ingin terlibat dalam komunikasi di instagram namun tidak ada yang memakai karena suka-suka. Sebagaimana hasil wawancara yang telah dilakukan pada Ulfa Mudhia mahasiswa KPI  Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN ar-Raniry angkatan 2014, bahwa penggunaan akun instagram menjadi media paling sederhana untuk mengetahui berbagai hal seputar kekinian, baik itu informasi maupun berbagai barang lainnya.[6]

Berkenaan dengan celebrity endorsement di media akun isntagram, tidak ada responden yang tidak mengetahuinya, sebagaimana jawaban Ulfa Mudhia, bahwa celebrity endorsmenet itu adalah mereka yang followers-nya banyak, bahkan menurut Ulfa Mudhia, salah satu selebritis ia kenal langsung yang berinisial (S), kemudian beberapa pihak (perusahaan) yang memiliki produk memanfaatkan selebritis itu untuk menjadi model pada produk yang akan diiklankannya. Menurutnya, kehadiran celebrity endorsement pada akun instagram sangat membantu dan selalu mem-follow up terhadap instagram.[7] Hal ini juga diakui oleh Sri Rahayu, bahwa kehadiran akun intagram ini disatu sisi mempermudah dalam sistem bisnis.[8]

               Menurut Teuku Fauzan Maulidin,  celebrity endorsement itu adalah salah satu akun selebritis yang dimanfaatkan untuk mempromosikan berbagai jenis produk, baik itu alat kesehatan, obat-obatan, kosmetik, busana dan lain sebagainya. Menurutnya, kehadiran celebrity endorsement dengan menggunakan akun sosial media instagram sanagt membantu dalam proses pemasaran produksi, terutama kemudahan dalam mempromosikannya.[9] Hal serupa juga dijelaskan oleh T. Emy Kurniawan dan Rauzatul Muna, bahwa kehadiran media instagram ini selain sebagai media informasi juga bermanfaat dalam mengetahui seputar produk kekinian.[10]

               Pandangan Rauzatul Muna, celebrity endorsement adalah artis yang mempromosikan (meng-endors) produk-produk lalu diposting di instagram, hal ini sangat membantu selain melalui televisi pada media instagram juga dapat dilakukan untuk mempromosikan barang, bahkan sering juga mem-follow up-nya tetapi khusus artis-artis yang perempuan dan yang memakai hijab.[11] Pandangan Rauzatul Muna, ini juga sepadan dengan Putri Vonna, selebritis yang di follow up itu tentu tidak semua, namun artis-artis dipilih secara khusus, yang memakai hijab misalnya dan para artis cowok yang dianggap baik.[12]

               Lain lagi pandangan Mona Asparina, celebrity endorsement itu merupakan selebgram yang endors-endors barang gitu. Sejauh yang diketahui bahwa hal ini boleh-boleh saja, karena merupakan langkah bisnis yang dapat menjadi sumber pendapatan.[13] Menurut Mufti Tamren,, celebrity endorsement itu adalah orang yang secara khusus dibiayai oleh salah satu pemilik produk lalu meminta pada selebritis yang telah memiliki banyak fans atau follow up nya untuk menjadi model pada salah satu produk yang akan diiklankannya.[14]

               Dari hasil penelitian pada beberapa responden dapat dijelaskan bahwa, motivasi terhadap penggunaan akun instagram itu tentunya bervariasi, sangat tergantung dari sisi mana yang dipandang. Namun dalam penelitian, motivasi penggunaan sosial media akun instagram adalah, sebagai media komunikasi bersama orang yang dikenal dapat dikategorikan sebanyak 9 mahasiswa (75%), sebagai langkah untuk selalu eksis dalam perkembangan berbagai teknologi sebanyak 3 mahasiswa atau (25%), sebagai alasan media produksi/promosi yang dijawab oleh mahasiswa sebanyak 6 mahasiswa atau (50%), dan alasan sebagai saluran yang mudah untuk mengetahui jenis-jenis barang keluaran kekinian yang digunakan oleh para artis-artis dan selebritis yang dijawab oleh 5 mahasiswa atau (41,66%). Lebih jelas, dapat diamati sebagaimana pada grafik 4.2 di bawah ini:

 

 

 

 

 

Grafik 4.2 Motivasi (alasan) Responden Menggunakan Akun Media Instagram

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Hasil penelitian pada mahasiswa KPI UIN ar-Raniry Angkatan 2014, data setelah diolah

 

               Dari grafik di atas, dapat dijelaskan bahwa penggunaan akun media instagram secara umum sangat dipenagruhi oleh arus informasi masa kini, derasnya berbagai informasi semakin banyak pula media yang tersedia untuk dapat dimanfaatkannya, kemudian ada juga alasan agar selalu eksis dalam perkembangan teknologi namun alasan ini sangat sedikit responden yang menjawabnya. Alasan lain, penggunaan akun media instagram ini dianggap oleh banyak responden sebagai media yang sangat baik untuk beriklan dan menyampaikan informasi, sebab media face book, tampaknya sejak ada media instagram semakin kurang minat untuk mengonlinenya, dan dirasakan begitu mudah dengan memanfaatkan media instagram. Selain itu, ada juga penggunaan media instagram ini dimotivasi oleh rasa ingin tahu terhadap berbagai produk terbaru yang sedang digunakan oleh tokoh-tokoh terkenal, aktor, artis dan selebritis.

 

 

b.      Daya Tarik pada Celebrity Endorsement di Media Akun Instagram terhadap Pembelian Barang

               Sebagaimana halnya motivasi penggunaan akum sosial media instagram yang memiliki berbagai motivasi, maka daya tarik terhadap jenis produk barang yang diiklan itu juga memiliki pandangan yang berbeda-beda. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan pada Adam Pramayuda, menjelaskan bahwa keberadaan celebrity endorsement dapat membantu lakunya sebuah produk. Menurutnya, daya tarik terhadap barang yang dilakukan melalui celebrity endorsement tentunya sangat tergantung sebuah visualisasi gambar dan video artinya, 1)  akan tertarik jika video itu menarik, 2) kemudian dilihat juga dari sisi kualitas, 3) kemudian sangat tergantung juga dari tokoh yang ditampilkan, bila tokoh itu sudah demikian dikenal atau sudah demikian diketahui tentu akan memiliki daya tarik tersendiri terhadap iklan  produk melalui sosial media instagram, 4) iklan yang mengandung humor atau ada nilai komedi seperti salah satu artis yang ia sukai berinisial Simarkucil, 5)  kemudian tidak kalah penting adalah harga.[15]

               Sementara itu, Muhammad Shobari, menjelaskan celebrity endorsement melalui instagram sangat membantu terhadap pengenalan produk, apalagi jenis produk yang digunakan oleh artis-artis adalah produk yang memiliki kualitas.[16] Elektabilitas iklan melalui sosial media instagram menurutnya sangat berpengaruh hal ini dikarenakan barang-barang yang dipakai oleh artis secara umum berkualitas. MB mengakui bahwa ia sering melakukan pembelian melalui akun sosial media instagram, seperti sepatu, baju dan tas, namun ia menjelaskan meski pembelian suatu barang sering dilakukan melalui media instagram tentu saja tidak semata-mata karena artis, namun lebih dipengaruhi oleh kebutuhan terhadap barang itu sendiri.[17] Meski proses pembelian terkadang mengalami keterlambatan namun tidak mengurangi niat dan motivasi pembelian melalui akun media instagram.

               Menurut Mona Asparina, iklan produk melalui akun media instagram yang memanfaatkan artis sebenarnya tidak dipengaruhi oleh artis itu, karena posisi mereka sebagai endors yang sudah ditentukan bayarannya, sehingga perihal sosok artis itu tidak bergitu menjadi pengaruh, apalagi persoalan barang atau produk yang diiklankan, bagus atau tidaknya suatu produk bukan hal yang menjadi persoalan bagi mereka karena tugas dan posisi mereka sudah jelas yaitu endors barang.[18] Niat untuk membeli suatu barang itu bukan karena keberadaan artis, namun karena keinginan sendiri untuk membeli barang dan produk yang diendors itu. Berdasarkan hasil wawancara ini, Mona Asparina, mengakui bahwa ia belum pernah memanfaatkan jasa celebrity endorsement dalam melakukan pembelian pada akun media instagram, ia lebih cenderung melakukan pembelian online mislanya pada Lazada dan Shoupi.[19]

               Hasil wawancara dengan Mufti Tamren, juga membenarkan seperti yang disebutkan oleh Marbawi, dan Mona Asparina. Meski mereka tidak memberi pengaruh terhadap celebrity endorsement itu, namun ia tahu betul bahwa banyak teman-teman yang lain memiliki daya tarik yang sangat kuat terhadap selebritis yang endors suatu produk atau barang dan jasa melalui akun media instagram. Semisal salah satu artis yang berinisial RA, setiap jenis pakaian hingga sepatu yang ia pakai memiliki daya tarik tersendiri, apalagi para fans-nya.[20] Menurutnya, proses pembelian melalui akun instagram pernah dilakukannya namun tidak sering, pembelian ini dikarenakan dari efesiensi dan kemudahan sehingga tidak harus ke toko, kemudian saat diterima juga sama persis seperti yang dibutuhkan itu.[21]

               Dalam pandangan Muammad Shobari, pembelian suatu produk barang yang dilakukan melalui akun media instagram memang memiliki daya tarik, selain itu kualitas barang yang ditawarkan oleh celebrity endorsement,  barang-barangnya bagus dan bermerk, apalagi tokoh celebrity endorsement dalam akun media instagram memang sudah dikenal di semua kalangan. Jadi, keberadaan celebrity endorsement dalam mempromosikan suatu produk melalui akun media instagram memberi pengaruh besar.[22] Menurut Muammad Shobari, sejak ia menggunakan akun media instagram, saat itu pula ia merasakan daya tarik yang begitu kuat untuk memiliki suatu jenis produk barang yang ia lihat pada akun media instagram dengan memanfaatkan celebrity endorsement. Daya tarik untuk membeli barang melalui akun media instagram itu biasanya jenis barang dan produk dimaksud itu memiliki kualitas dan barangnya unik-unik. Apalagi gaya dan cara selebritis dalam meng-endors barang sangat lihai menarik perhatian banyak orang.[23]

               Berdasarkan hasil wawancara dengan Mufti Tamren, mengemukakan kredibilitas celebrity endorsement pada akun sosial media instagram tidak selalu memberi pengaruh padanya, ada artis yang memang menarik ada pula yang sama sekali tidak menarik baginya. Ada barang yang memiliki kualitas bagus dan bermerk, namun selebritis itu bukan sosok yang ia senangi, bila barang yang diiklankan itu dibutuhkan tetap saja membeli, namun tidak didasari oleh figure yang ditampilkan itu.[24] Jadi, keberadana celebrity  endorsement pada akun sosial media instagram  tidak selalu memberi pengaruh padanya, namun tidak tertutup kemungkinan memiliki pengaruh bagi orang lain.[25]

               Adapun gambaran daya tarik (kredibilitas) celebrity endorsement di akun media instagram terhadap pembelian barang dapat diamati pada grafik 4.3 di bawah ini:

 

 

 

 

 

Grafik 4.3 Daya Tarik pada Celebrity Endorsement di Media Akun

Instagram terhadap Pembelian Barang

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Hasil penelitian pada mahasiswa KPI UIN ar-Raniry Angkatan 2014, data setelah diolah

 

               Berdasarkan hasil penelitian yang telah disebutkan di atas, dari 12 responden yang diwawancarai 10 responden (83,33%) mengatakan membeli barang melalui akun sosial media instagram sangat dipengaruhi oleh kebutuhan, sebanyak 9 orang responden (75%) mengatakan dipengaruhi oleh kualitas barang, sebanyak 8 orang responden (66,66%) mengatakan pembelian barang melalui akun shoping media instagram dikarenakan prosesnya mudah sehingga tidak harus keluar rumah mencari di toko-toko.

               Selain itu, sebanyak 7 orang responden atau (58,33%) melakukan pembelian online melalui instagram sangat erat kaitannya dengan tokoh yang dihadirkan, kebanyakan dari masyarakat ini sangat mengenal tokoh-tokoh di kalangan para artis, apa lagi tokoh artis itu memiliki fans yang mencapai jutaan, tentu saja memiliki daya tarik tersendiri, namun dibandingkan dengan alasan lain, tentu saja pengaruh artis ini masih rendah bila dibandingkan alasan yang dikarenakan oleh kebutuhan.

               Selanjutnya, alasan iklan menarik mendapat jawaban sebanyak 4 orang respponden atau (33,33%), untuk alasan tampilan iklan yang menimbulkan daya tarik namun hanya sekedar melaihat saja, sedikit sekali memutuskan untuk membeli barang, dan pembelian dikarenakan ikut-ikutan dan alasan karena produk unik hanya mendapat masing-masing 2 orang responden (16,66%) yang memilih jawabn itu.

               Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa minat dan motivasi emmbeli barang mealui shoping akun media intagram ternyata tidak saja dipernagruhi oleh artis atau selesbritis namun sangat besar pengaruhnya karena kebutuhan. Secara umum khalayak memberi barang online melalui akun media instagram dipenagruhi oleh kebutuhan semata selain itu kualitas barang juga diyakini lebih bagus, sebab semua barang itu diasumsikan dipakai oleh banyak artis. Kehadiran tokoh atau figure dalam iklan ternyata belum menajdi alasan utaMona Asparina apalagi ada kalangan artis yang disebut-sebut pernah melakukan perbuatan melangar norMona Asparina tentu saja daya atriknya boleh disebut tidak ada daya tarik sama sekali, atau artis-artis yang dianggap sering memanfaatkan obat terlarang, tidak memakai hijab dan perbuatan tidak baik lainnya, hal ini justru tidak ada pengaruh sama sekali bagi pengguna akun instagram.

 

 

 

 

2.      Faktor Eksternal dan Internal terhadap Keputusan Pembelian Online Shop di Sosial Media Instagram

Sebagaimana pernah disebutkah dahulu, dunia bisnis sudah demikian berkembang, semenjak dunia bisnis mengenal internet. Salah satu yang mulai berkembang adalah instagram. Instagram kini tidak hanya hadir sebagi salah satu alternatif dalam bersosialita dengan dunia maya, tetapi bisa juga menjadi alternatif baru dalam melancarkan bisnis. Meski hingga kini facebook masih menjadi media sosial terbesar denga aktivasi terbesar di dunia, tetapi instagram mampu menawarkan lebih sekedar itu.

Faktor yang menjadikan instagram sebagai media pemasaran dapat dilihat dari dua dimensi yaitu dimensi media sosial dan dimensi kreatifitas. Dimensi media sosial meliputi, media sosial mempunyai daya tarik, dapat dimiliki setiap orang, akun kuliner termasuk baru di instagram, menarik perhatian, dan memperluas informasi. Dimensi kreatifitas meliputi kreatif, menarik, menggugah selera, unik, dan nyata.

Apalagi dengan adanya celebrity endorsement tentu memberikan daya tarik yang semakin tinggi. Instagram termasuk media sosial yang sederhana. Utamanya adalah berbagi foto dan video, tetapi bisa dijadikan media visual sebagai pemancing pembelian, terutama bila produk dari usaha berupa benda fisik. Itu sebabnya untuk keleluasaan dalam mempromosikan produk secara umum banyak menggunakan akun instagram. Penggunaan akun instagram saat ini tidak tanggung-tanggung,mulai dari siswa usia sekolah SMP sampai para ibu-ibu rumah tangga juga memanfaatkan media ini sebagai alat yang dianggap memudahkan dalam proses pembelian barang.

 

1)      Faktor Eksternal terhadap Keputusan Pembelian Online Shop di Sosial Media Instagram

Kebanyakan perusahaan besar meneliti keputusan membeli konsumen secara amat rinci untuk menyatakan pertanyaan mengenai apa yang dibeli konsumen, bagaimana dan berapa banyak mereka membeli, serta mengapa mereka membeli. Salah satu cara untuk membentuk hal tersebut adalah dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian. Dalam pembahasan ini faktor eksternal menyangkut hal-hal di luar diri sendiri yang menjadi acuan sehingga memutuskan untuk membeli barang.

Hasil penelitian yang telah dilakukan pada mahasiswa KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry Banda Aceh angkatan 2014, terhadap faktor eksternal yang mempengaruhi daya beli produk yang dilakukan melalui celebrity endorsement pada akun instagram adalah sebagai berikut:

  1. Tampilan Iklan Produk Instagram

Tampilan iklan pada instagram yang digunakan selebritis tentu sanagt berbeda-beda, hal ini sangat dipengaruhi oleh jenis produk yang akan dipromosikan. Kita tidak membahasa jenis produk yang dipromosikan, namun gaya tampilan iklan cukup emmberi makna bagi banyak orang, sehingga memunculkan daya tarik untuk membaca dan mengikutinya pada akhirnya mencari tahu lebih dekat.

Sebagaimana hasil wawancara dengan MONA ASPARINA bahwa tampilan atau background instagram sangat penting diperhatikan, latar belakang ini yang menjadi tatapan pertama pada setiap orang. Setelah latar belakang yang menarik ditambah lagi oleh tokoh yang dihadirkan tentu saja akan semakin tinggi keinginan untuk mengetahuinya.[26]

Menurut Adam Pramayuda, iklan-iklan yang dihadirkan di akun instagram melalui celebrity endorsement yang sangat besar perhatiannya adalah videonya. Secara umum veideo-video yang dihadirkan pada akun instagram sanagt menarik perhatian sehingga secara tidak sengaja membawa pandangan untuk mengikuti sampai akhir ilustrasi video yang di upload itu.[27]

Jelas sekali bahwa tampilan iklan yag dilakukan oleh celebrity endorsement membawa sejumlah ciri khas tersendiri bagi setiap orang, terlebih para selebritis itu yang sudah sangat dikenal.  Foto atau video hasil unggahan itu pada umumnya didesain sedemikian rupa sehingga sesuai aslinya.

  1. Tokoh atau Figur Selebritis pada Akun Instagram

Model iklan seperti yang ditawarkan adalah kalangan-kalangan artis yang sudah dipopulerkan dalam akun instagram, sehingga keberadaan celebrity endorsement memungkinkan para pembaca menjadi target celebrity endorsement. Menurut Adam Pramayuda , iklan yang dihadirkan dalam akun instagram dianggap efektif terhadap pengaruh seseorang untuk membelinya.[28] Menurut Marbawi, sejumlah produk yang diiklankan itu rata-rata telah dibandrol dengan harga yang jelas. kemudian adanya video-video yang melibatkan artis-artis  terkenal itu semakin memperjelas kualitas terhadap suatu produk yang akan dipasarkan.[29] Misalnya postingan sepatu masa kini, yang ditampilkan dengan model-model yang sangat menarik apalagi artis kesukaan yang memakainya tentu akan menimbul rangsangan untuk membelinya.

  1. Pengaruh Lingkungan atau Ikut-ikutan

Sebagaimana hasil penelitian yang telah dilakukan, faktor ikut-ikutan itu memang tidak begitu menonjol sebab, rata-rata memang ada alasan lain. Meski ada yang ikut-ikutan namun tidak begitu banyak jumlahnya. Ikut-ikutan tidak saja ikut-ikutan teman, namun dapat juga seseorang itu ikut-ikutan seperti apayang dipakai oleh artis, hal ini jelas selaki bahwa motif membeli barang bukan dikarenakan kebutuhan namun cenderung akrena ikut-ikutan saja atau boleh jadi sekedar merasakan.

Hasil penelitian yang telah dilakukan pada Muhammad Shobari, meski niat membeli barang tidak didasari atas kebutuhan ada juga seseorang yang memang berperilaku ikut-ikutan sebagaimana tanyang celebrity endorsement agar selalu eksis denga gaya baru.[30]

  1. Kualitas Barang

Persoalan kulitas memang bukan perkara yang bisa dipermainkan, sebab banyak juga iklan produk di akun sosial media instagram yang dibeli oleh masyarakat tidak memiliki hubungan dengan model atau tokoh celebrity endorsement-nya.  Sebagaimana dikatakan oleh MT, ada sebagian orang yang ngefans pada seseorang celebrity endorsement, namun barangnya kurang berkualitas membuat niat membeli semakin kecil peluangnya.[31]

Kualitas barang itu menjadi nilai terpenting dlaam kehidupan, maka itu sebagian besar masyarakat meski celebrity endorsement itu adalah fans-nya namun tidak memberi pengaruh apapun bila kualitas produk itu tidak original atau tidak bagus. Dengan kata lain, orang yang memberi pandangan, gambaran dan iklan (celebrity endorsement) tidak dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk tidak membeli barang atau produk.

 

2)      Faktor Internal terhadap Keputusan Pembelian Online Shop di Sosial Media Instagram

Sementara itu, faktor internal yang melatarbelakangi pembelian di sosial media instagram melalui celebrity endorsement adalah sebagai berikut:

  1. Faktor Pribadi

Gfaktor pribadi ini berkanaan erat dengan usia seseorang, dan tahap siklus hidup. Membeli juga dibentuk oleh siklus hidup keluarga mengenai tahap-tahap yang mungkin dilalui keluarga sesuai kedewasaannya. Namun lebih esensial masalah pribadi ini adalah ekonomi, dimana situasi ekonomi mempengaruhi pilihan produk, sebaik apapun gaya yang diperagakan oleh celebrity endorsement atau seberapa tinggi pun kualitas, bila ekonomi pada pribadi tidak ada tentu akan membatalkan semua keingianna itu. Namun, disi lain persoalan gaya hidup (lifestyle) juga tidak kalah penting dalam pembahasan ini, sebab gaya hidup ini dianggap dan diyakini semakin memperjelas status sosial dalam kehidupan masyarakat.

  1. Faktor Psikologis

Faktor psikologis ini berkaitan erat dengan minat beli seseorang. Faktor psikologis ini akan mempersepsikan pada diri seseorang untuk memilih suatu produk yang sedang ia lihat. Oleh karena itu, perusahaan yang bekerjasama dengan celebrity endorsement perlu mengenali peranan-peranan maing-masing yang akan diamati oleh khalayak.

  1. Faktor Kebutuhan dan Daya Tarik

Salah satu kebutuhan jasmani yang sangat penting adalah kebutuhan dalam diri seseorang. Dengan perkembangan jaman, kebutuhan sandang tidak lagi sekedar berpakaian atau berpenampilan seadanya melainkan mulai bergeser menjadi kebutuhan  fashion, dimana pakaian maupun aksesoris dipadupadankan sedemikian rupa untuk tampil menarik. Semakin modern, manusia cenderung semakin bersifat hedonis, sehingga untuk kebutuhan pun manusia ingin tampil lebih. Hal ini mengakibatkan banyak bermunculan produk dengan menampilkan celebrity endorsement dengan gaya yang tinggi. Hasil penelitian dahulu, sebanyak 10 responden (83,33%) mengatakan membeli barang melalui akun sosial media instagram sangat dipengaruhi oleh kebutuhan, sebanyak 9 orang responden (75%) mengatakan dipengaruhi oleh kualitas barang.

C. Pembahasan Hasil Penelitian

               Bisnis pada umumnya dilakukan dengan dua cara, yakni dengan tradisional dan modern. Dalam bidang  tertentu, cara penjualan tradisional melalui tatap muka langsung di butik atau di mall. Sedangkan cara penjualan modern menggunakan internet sebagai sarana utaMona Asparina baik website, blog, maupun melalui akun sosial instagram.

               Perlu dijelaskan kembali bahwa  minat dan motivasi memmbeli barang mealui shoping akun media intagram ternyata memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Menurut Totok iklan dibagi dua bagian yaitu;[32]

a.       Iklan dalam bentuk umum sebagai pemberitahuan kepada orang ramai terhadap informasi terbaru mengenai barang atau jasa yang sifatnya menarik perhatian atau membujuk agar terdorong untuk memiliki, menguasai atau bergabung agar mendapat keuntungan, iklan umum ini benar-benar untuk kepentingan bisnis, misalnya perusahaan-perusahaan, lembaga-lembaga bisnis, isntansi pemerintah dan siapa saja yang ingin usahanya dengan sasaran mencari keuntungan.

b.      Iklan secara khusus diartikan sebagai iklan yang sasarannya diperuntukkan bagi kegiatan sosial, misalnya pengumuman, iklan keluarga dan iklan layanan masyarakat.[33] Bentuk iklan media massa berbeda-berbeda, bisa berupa iklan display, iklan kolom, iklan baris dan pariwara (advetorial).[34] Setiap media masa atau penerbitan pers, para manajer iklan dituntut harus mampu membedakan mana informasi yang bisa dikemas menjadi iklan dan mana informasi yang hanya diperuntukkan bagi pemberitaan.[35]

 

Dalam praktiknya, dimensi iklan sebagaimana di atas tentu berbeda lagi dengan konsep dalam Islam. Dalam Islam, Jalaludin Rakhmat menyimpulkan ada enam prinsip komunikasi yanga hrus dilakukan oleh masyarakat Islam, namun penulis mengkhususkan terhadap terhadap iklan melalui sosial media instagram, oleh karena itu prinsip iklan yang selayaknya adalah:

a.       Qawlan sadidan (ucapan yang benar)[36]

Allah memerintahkan untuk menyampaikan kata-kata yang berkategori qawlan sadidan, yakni lurus dan istiqamah kepada siapapun. Firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 70.  Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”.

b.      Qawlan Balighan (ucapan yang mengenai sasaran)

Menyangkut dengan ucapan yang mengenai sasaran dalam al-Qur’an surah an-Nisa ayat 63 Allah berfirman: Artinya : “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. Kata baligh dalam bahasa Arab berarti sampai, mengenai sasaran, atau mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan qawl (ucapan atau komunikasi), baligh berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki.[37]

c.       Qawlan maysuran (ucapan yang pantas)

Al-Qur’an juga mengajarkan tata cara berkomunikasi dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan, tetapi kita belum mampu memenuhi kebutuhan atau permintaan mereka. Terhadap mereka diucapkan qawlan masyuran sebagaimana firman Allah dalam surah al-Isra’ ayat 28 yaitu; Artinya: “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”.

d.      Qawlan layyinan (ucapan yang lembut)

Ini bermakna bahwa komunikasi itu harus dilaksanakan secara lemah lembut, tidak boleh dengan keras dan nada tinggi, kecuali dibutuhkan.[38] Ketentuan ini terdapat dalam al-Qur`an surah Thaha ayat 44, yaitu; Artinya : “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

e.       Qawlan kariman (ucapan yang mulia)

Kita juga diberikan tuntunan oleh al-Quran untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang harus dimuliakan, seperti orang tua.[39] Komunikasi dengan orang yang dimuliakan ini diistilahkan dengan qaulan kariman sebagaimana termaktub dalam al-Qur`an surah al-Isra` ayat 23;

Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

 

 

 

f.       Qawlan ma’rufan (ucapan yang baik)

 Dalam menyampaikan informasi hendaklah memakai perkataan yang tergolong  ucapan yang baik,[40] Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 263 yaitu; Artinya: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”.

 

Dengan berkembangnya online shop melalui akun media instargram yang bergerakdalam bidang  produk-produk  menjadikan konsumen akan dengan leluasa membandingkan produk yang ditawarkan oleh suatu online shop dengan produk sejenis yang ditawarkan oleh online shop lain. Selain itu, bagi sebuah online shop yang melakukan transaksi tanpa bertatap muka harus dapat menjaga kepercayaan

agar dapat menarik minat konsumen. Agar menarik minat konsumen untuk bertransaksi di sebuah online shop, tentu berkaitan dengan apa produk yang ditawarkan oleh online shop itu sendiri. Jika suatu produk sudah diketahui masyarakat umum mengenai kualitasnya atau produk tersebut sudah memiliki merek

yang kuat, maka akan menarik minat konsumen.

Islam sebagai agama yang memiliki tuntunan yang lengkap sebenarnya dapat menjadi ukuran dalam menentukan baik dan tidaknya sebuah bahasa dan iklan yang digunakan oleh celebrity endarsment. Pola celebrity endorsment semestinya dapat melihat hal ini secara lebih matang, sehingga apa yang tampil di dalamnya benar- benar sesuai nilai syariah, baik itu busana, bahasa dan peragaannya bahkan kebenaran dalam suatu pesan iklan. Tidak baik juga bila dasar utama dalam etika iklan celebrity endorsement itu mengadopsi aturan undang-undang tanpa mengedepankan autran Islam. Jujur saja, sebenarnya media sosial instagram yang memiliki iklan tak relevan jika ditinjau dari aspek jual beli dalam Islam, maka iklan melalui celebrity endorsement tersebut tidak dapat dikatakan sesuai dengan nilai Islam dan tata cara muamalah dalam Islam dan termasuk yang dilarang dalam Islam.

Oleh karena itu sebagai bagian dari masyarakat umat muslim mempunyai komitmen untuk peduli terhadap segala bentuk perilaku anti sosial. Umat muslim harus senantiasa tampil yang terdepan untuk menyeru sekaligus memberi keteladanan meskipun dalam posisi celebrity endorsement terhadap iklan suatu produk. Masyarakat semacam inilah yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah. Prinsip dan etika komunikasi termasuk iklan harus disertai dengan prinsip Islam.[41]

Berkenaan dengan masalah dalam pembahasan ini Imam al-Ghazali menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan  dalam “nahi munkar”, yaitu;

1.      Memberi penerangan kepada orang yang hendak diubah perbuatannya, sebab adakalanya seseorang melakukan suatu kemungkaran itu dengan sebab tidak tahu atau kebodohannya, sehingga apabila telah diberitahu, mungkin sekali ia akan meninggalkannya.

2.      Melarang orang yang berbuat kemungkaran itu dengan memberi nasihat yang baik serta menakut-nakuti akan siksa Allah SWT.

3.      Melarang dengan tegas, tetapi tetap harus menghindari kata-kata yang kasar (tidak sopan).[42]

 

Hal penting dalam periklanan celebrity endorsement melalui sosial media instagram adalah bahasa atau komunikasi yang disampaikan yang memberikan tafsiran pada perilaku atau sejenisnya yang disertai dengan gambar setidaknya dapat menghasilkan reaksi positif. Dan nilai postifi secaar ke-Islaman.  Ada beberapa hal yang menjadi tawaran bagi periklanan celebrity endorsement melalui sosialmedia instagram yaitu (1) memilih bahasa yang baik, (2) meletakkan pembicaraan yang tepat pada tempatnya dan sengaja mencari kesempatan yang benar. (3) pembicaraan yang tidak mengandung manfaat adalah pembicaraan yang terbengkalai dan tertinggal, (4) berbicara dengan pembicaraan sekadar keperluan, (5) memilih kata-kata yang baik untuk dibicarakan dan diterima oleh segenap lapisan masyarakat dan norma agama yang Islami.



[1] UIN Ar-Raniry, Panduan Akademik 2016-2017, ( Banda Aceh: UIN Ar-Raniry, 2016), hal. 1-2.

[2] www.komunikasi-arraniry.org di akses pada 27 Juli 2017

               

                [3] UIN Ar-Raniry, Panduan Akademik 2016-2017, (Banda Aceh: UIN Ar-Raniry, 2016), hal. 146.

 

[4] Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan, (Jakarta: Gramedia Pustaka UtaMona Asparina 1991), hlm. 27-29.

 

[5] Den Bagus, Internet dan Teknologi Komersial, diakses melalui situs http:// id. shvoong. com / internet - and - technologies / commercial - companies/ 2043787-pengertian -iklan/# ixzz1nEGiDkfi, pada tanggal 26 Agustus 2012.

[6] Ulfa Mudhia, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

 

[7] Ulfa Mudhia, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

 

[8] Sri Rahayu, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017

[9] TeukuFauzan Maulana, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

 

[10] T. Emy Kurniawan,  Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017

 

[11] Rauzatul Muna,  Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

 

[12] Putri Vonna, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

[13] Mona Asparina, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

 

[14] Mufti Tamren, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

[15] Adam Pramayuda, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017

 

[16] Muammad Shobari, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017

[17] Marbawi, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017

 

[18] Mona Asparina,  Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

 

[19] Mona Asparina, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

[20] Mufti Tamren, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

 

[21] Mufti Tamren, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

 

[22] Muhammad Shobari, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017

[23] MS, Mahasiswa ,Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017

 

[24] Mufti Tamren, Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

 

[25] TeukuFauzan Maulidin, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

[26] Mona Asparina, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

 

[27] Adam Pramayuda, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017

 

[28] Adam Pramayuda, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017

[29] Marbawi, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017

 

[30] Muhammad Shobari,, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 20 September 2017

[31] Mufti Tamren, Mahasiswa Jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN ar-Raniry, wawancara dilakukan pada tanggal 19 September 2017

[32] Toto Djuroto, Manajemen Penerbitan Pers, (Bandung: Roesdakarya, 2004), hlm. 32-34

 

[33] Ibid., hlm. 36.

 

[34] Den Bagus, Internet dan Teknologi Komersial, diakses melalui situs http:// id. shvoong. com / internet - and - technologies / commercial - companies/ 2043787-pengertian -iklan/# ixzz1nEGiDkfi, pada tanggal 26 Agustus 2012.Ibid.

 

[35] Toto Djuroto, Manajemen Penerbitan Pers..., hlm. 32.

[36] M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 166.

 

[37] Ibid., hlm. 167.

[38] Ibid., hlm. 167

 

[39] Ibid., hlm. 168.

[40] Ibid., hlm. 169.

[41] Dicuplik dan diperbaharui dari tulisan A. Husnul Hakim IMZI - Dosen Fak. Ushuluddin Institut PTIQ Jakarta.

 

[42] Imam al-Ghazaly, Ihyā’ ‘Ulūmuddīn, (terj. Moh. Abdi Rathomy), Kairo: Al-Maktabah At-Tijjariyyah Al-Kubro, tt  

Komentar

Postingan Populer