SUAMI UZUR SEBAGAI HAK DAN ALASAN FASAKH
SUAMI UZUR SEBAGAI HAK
DAN ALASAN FASAKH
(Kajian Sekyen 52 Akta Undang-Undang
Keluarga Islam
Tahun 1984, Kuala Lumpur)
1.1 Latar Belakang Masalah
Pernikahan yang dijadikan oleh Allah SWT bagi manusia
merupakan suatu jalan yang menyimpan banyak hikmah, jalan memperoleh keturunan secara
baik. Sebagai yang Maha Mengetahui di atas segalanya, Dia sengaja memilih
perkawinan sebagai jalan yang bisa dilakukan untuk bisa hidup bersama-sama
(laki-laki dan perempuan) di dunia ini. Karena itu, bila telah mampu dan telah
dewasa, dianjurkan agar melakukan perkawinan, sehingga nafsu yang terdapat dalam diri
manusia dapat dijalankan sejalan dengan prinsip fitrah manusia.
Perkawinan juga sebagai salah satu sarana yang diberikan Allah agar manusia tidak melakukan berbagai kejahatan dan kemungkaran. Maka itu juga, sebagai jalan yang dilandasi prinsip fitrah manusia, pernikahan disebut sebagai ikatan yang kuat, ikatan yang tidak bisa diputuskan begitu saja tanpa dasar hukum yang kuat. Dengan kata lain, pernikahan itu dianjurkan sementara perceraian atau fasakh dilarang keras oleh Islam, meskipun perbuatan itu dipandang sah dan halal. Karena banyak dampak yang tidak baik akan muncul di balik perceraian itu sendiri. Sebagaimana Allah SWT, berfirman;

Artinya: ”Dan berpeganglah kamu
semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S.
Ali Imran: 103)
Pernikahan
adalah fitrahnya manusia, maka dari itu Islam menganjurkan untuk menikah karena
nikah merupakan gharizah insaniyyah (naluri kemanusiaan). Apabila naluri
ini tidak dipenuhi dengan jalan sah yaitu pernikahan maka ia akan mencari
jalan-jalan setan yang menjerumuskan manusia kelembah hitam.[1]
Jika seseorang
telah sampai pada keputusan dan tekad untuk melakukan perkawinan maka tidak
seorang pun berhak untuk mencegah dan melarangnya, sejauh syarat dan rukun untuk itu telah dipenuhi. Karena syarat dan rukun senantiasa
melekat pada sebuah perkawinan. Hak dan kewajiban salah satu sisi yang paling
berkaitan, seperti hak untuk melangsungkan perkawianan memiliki serentetan
kewajiban dan akibat hukum serta akibat-akibat moral yang merupakan konsekwensi
dari sebuah perkawinan.
Dalam fiqh
munakahah, disebutkan bahwa kata “nikah” menurut bahasa Arab berarti adh-dhamm
(menghimpun). Kata ini dimutlakkan untuk akad atau persetubuhan. Menurut hukum
Islam perkawinan adalah akad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan
kewajiban serta saling tolong menolong antara suami istri. Apabila ditinjau
lebih rinci pengertian perkawinan dapat diartikan “akad yang bersifat luhur
serta suci di antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sebab sahnya sebagai
suami istri dan dihalalkannya hubungan seksual dengan tujuan mencapai keluarga
yang penuh kasih sayang, kabajikan serta saling manyantuni, keadaan seperti ini
lazim disebut sakinah mawaddah warahmah.[2]
Melalui sebuah perkawinan inilah manusia saling mencintai, menghasilkan keturunan yang sah, hidup dalam kedamaian dan kesentosaan sesuai dengan perintah Allah SWT, dan petunjuk Rasul-Nya. Disadari atau tidak, perkawinan merupakan kebutuhan dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Kesempatan dan kebutuhan untuk menikah adalah salah satu hak dan kebutuhan yang tidak dapat dicabut atau ditiadakan bagaimanapun situasi dan kondisinya.
Dalam hal ini, meski diketahui banyak hikmah yang terdapat
di dalam sebuah pernikahan, dewasa ini tidak jarang pula didapati berbagai
masalah sekitar keluarga dalam masyarakat Islam, adakalanya perceraian dalam
bentuk lazimnya, perceraian yang langsung terjadi setelah akad nikah,
adakalanya perceraian yang terjadi dengan sebab dan alasan sepele, bahkan sebaliknya
yang terucap dari isteri atau diistilahkan dengan fasakh. Mengingat perlu
adanya batasan agar tulisan ini sistematis
dan terjawab semua permasalahan, dibatasi dengan persoalan fasakh dari isteri
kepada suami yang uzur.
Masalah talak
dan fasakh, keduanya disebut sebagai perceraian akan tetapi memiliki sebab dan
persoalan yang berbeda. Pengertian
fasakh ini secara umum memiliki banyak kesamaan, artinya tiada pengertian yang
panjang dalam mendefinisikannya. Dalam kitab Fiqh Empat mazhab, fasakh juga
diartikan sebagai ucapan cerai dari isteri karena sesuatu hal yang menyebabkan
tidak bertahan dalam ikatan perkawinan.[3]
Abdul Majid, menjelaskan bahwa fasakh merupakan ucapan cerai yang datang dari
isteri, perceraian ini hanya dimiliki oleh isteri tanpa harus mendapat izin
dari suami.[4]
Hak melepaskan diri dari ikatan perkawinan tidak mutlak di tangan kaum lelaki,
memang hak talak itu diberikan kepadanya, tetapi di samping itu kaum wanita
diberi juga hak menuntut cerai dalam keadaan dimana ternyata pihak lelaki
berbuat menyalahi dalam menunaikan kewajibannya atau dalam keadaan-keadaan yang
khusus.
Dalam Sekyen 52
Akta Undang-undang Keluarga Islam Tahun 1984 Kuala Lumpur, fasakh diartikan sebagai pembubaran
perkawinan disebabkan oleh sesuatu hal keadaan yang diharuskan oleh Hukum
Syara' mengikut seksyen 52. Disebutkan
bahwa seseorang perempuan yang berkahwin mengikut Hukum Syara' adalah berhak
mendapat suatu perintah untuk membubarkan perkahwinan atau untuk fasakh atas
satu atau lebih dari pada alasan-alasan yang berikut, yaitu;
1)
Bahawa tempat di mana beradanya suami telah tidak
diketahui selama tempoh lebih daripada satu tahun,
2)
Bahawa suami telah cuai atau telah tidak mengadakan
peruntukan bagi nafkahnya selama tempoh tiga bulan;
3)
Bahawa suami telah dihukum penjara selama tempoh tiga
tahun atau lebih;
4)
Bahawa suami telah tidak menunaikan, tanpa sebab yang
munasabah, kewajipan perkahwinannya (nafkah batin) selama tempoh satu tahun;
5)
Bahawa suami telah mati pucuk pada masa perkahwinan dan
masih lagi sedemikian dan isteri tidak tahu pada masa perkahwinan bahawa suami
telah mati pucuk;
6)
Bahawa suami telah gila selama tempoh dua tahun atau
sedang mengidap penyakit kusta atau vitiligo atau sedang mengidap penyakit
kelamin dalam keadaan boleh berjangkit;
7)
Bahawa isteri, setelah dikahwinkan oleh wali mujbirnya
sebelum ia mencapai umur baligh, menolak perkahwinan itu sebelum mencapai umur
lapan belas tahun, dan ia belum disetubuhi oleh suaminya itu;
8)
Bahawa suami menganiayainya, iaitu, antara lain:
a.
Lazim menyakiti atau menjadikan kehidupannya menderita
disebabkan oleh kelakuan aniaya; atau
b.
Berkawan dengan perempuan-perempuan jahat atau hidup
berperangai keji mengikut pandangan Hukum Syara'; atau
c.
Cuba memaksa isteri hidup secara lucah; atau
d.
Melupuskan harta isteri atau melarang isteri itu dari
menggunakan hak-haknya di sisi undang-undang terhadap harta itu; atau
e.
Menghalang isteri dari menunai atau menjalankan kewajipan
atau amalan agamanya; atau
f.
Jika ia mempunyai isteri lebih daripada seorang, dia
tidak melayani isteri yang berkenaan secara adil mengikut kehendak-kehendak
Hukum Syara';
9. bahawa walau
pun empat bulan berlalu tetapi isteri masih belum disetubuhi oleh kerana suami
bersengaja enggan mensetubuhinya;
10. bahawa isteri tidak izin akan perkahwinan itu atau
izinnya tidak sah, sama ada oleh sebab paksaan, kesilapan, ketidaksempurnaan akal,
atau lain-lain hal keadaan yang diakui oleh Hukum Syara';
Bila dikaji
lebih jauh, penyebab fasakh sebagaimana telah dikutip dari dalam Sekyen 52 Akta
Undang-undang Keluarga Islam Tahun 1984 Kuala Lumpur, tidak tercantum sama
sekali tentang kata-kata ”uzur”, akan tetapi penjelasan pada sekyen 52 ini
sifatnya lebih khusus, seperti suami
sakit kusta, penyakit vitiligo atau mengindap penyakit kelamin yang kemungkinan
akan berjangkit pada keturunannya. Sementara persoalan uzur sama sekali tidak
disentuh oleh sekyen 52.
Masalah uzur ini
menjadi semakin menarik dibahas, mengingat belum khususnya yang mengupas secara
tajam dan tuntas. Apalagi hukum persoalan fasakh yang diakibatkan oleh faktor
alami seperti salah satunya sudah tua atau usia telah lanjut yang mengakibatkan
daya organ-organ tubuh menurun secara alami, kondisi seperti ini akan
mengakibatkan kurang mampunya menjalankan serentetan kewajiban pada isteri dan
dalam keluarga, sehingga permintaan fasakh diajukan.
Sekyen 52 di
atas, belum sepenuhnya mengakomodir aspek keuzuran salah satu pasangan suami
isteri. Perlu diketahui bahwa, alasan yang diajukan di atas, hanya beberapa hal
saja yang berkenaan dengan kesehatan tubuh, yaitu suami sakit kusta, penyakit
vitiligo atau mengindap penyakit kelamin yang kemungkinan akan berjangkit pada
keturunannya. Tentunya kekhususan isekyen di atas tidak berlaku untuk masalah
lain. Maka itu dipandang perlu menjelaskan aspek keuzuran yang dijadikan
sebagai alasan fasakh.
Salah satu kasus yang terjadi di Malaysia yaitu, di
pemberitaan Koran MyMetro di
Malaysia, dimana seorang
isteri meminta fasakh pada suaminya
yang dikarenakan suaminya sakit teruk. Penyakit yang dialami suaminya menyebabkan tidak mampu memberi
nafkah zahir dan batin.[5] Dalam konteks ini, menurut hukum Islam,
hak dan alasan yang diajukan oleh si isteri karena keuzuran suaminya sangat
berkait rapat dengan perjalanan hidup di dunia yang telah ditetapkan oleh Allah
SWT dan Rasul-Nya. Keharusan fasakh bisa mengecewakan hati salah seorang di
antara pasangan suami isteri, kerena rumah tangga yang didirikan bisa hancur
dengan cara fasakh. Belum lagi dilihat bila seorang perantau, tentu lebih
memilukan lagi bila fasakh dijatuhkan karena keuzuran suaminya, sementara
tempat tinggal bagi suami tiada dimiliki.
Islam
memang membenarkan secara resmi akan perceraian, namun hartus diketahui Islam
mempersulit perceraian secara moral dan sosial. Oleh karena itu walaupun dalam
hukum kelihatannya mudah bagi seorang isteri dengan memiliki alasan-alasan
tertentu untuk menceraikan suaminya, misalnya tidak dihiraukan dan tidak dipenuhinya
biaya hiidup bagi isteri, sementara keadaannya masih digolongkan sehat.
Bila
melihat dalam Kitab Fikah Mazhab Syafiie, tentu masalah sebab atau alasan
diajukan fasakh ini berbeda lagi dengan sekyen 52. Dalam kitab tersebut
disebutkan bahwa fasakh itu terjadi dengan dua alasan, yaitu;
- Kecacatan yang
boleh menghalang dari pada berlakunya persetubuhan seperti terputus
kemaluan atau mati pucuk bagi laki-laki dan lubang faraj tertutup
disebabkan tumbuhnya tulang atau daging bagi perempuan,
- Adanya penyakit
yang menjijikkan atau yang berbahaya yang menyebabkan pasangan suami
isteri tidak dapat hidup bersama kecuali terpaksa menanggung kesusahan,
seperti kusta, sopak dan gila.[6]
Dalam sumber di
atas disebutkan alasan fasakh terhadap suami yang uzur, lagi-lagi alasan yang
diajukan kecacatan yang berakibat fatal yang muncul setelah perkawinan, seperti
kemaluan terputus, lubang faraj tertutp, penyakit yang menjijikkan atau
berbahaya.
Berangkat dari
latar belakang masalah di atas, penulis merasa tertarik dan terpanggil untuk
meneliti masalah tersebut dalam sebuah karya ilmiah yang berbentuk proposal
dengan judul, Suami uzur sebagai
hak dan alasan fasakh; Kajian Sekyen 52 Akta Undang-undang keluarga
Islam (Wilayah-wilayah Persekutuan) 1984.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan deskripsi latar belakang masalah di atas, maka pokok-pokok permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana tanggungjawab isteri ketika suami uzur menurut Sekyen 52 Akta Undang-undang Keluarga Islam Wilayah Persekutuan?
1.2.2
Apakah
hak isteri terhadap suami uzur berdasarkan Sekyen 52 dapat dibenarkan sebagai
alasan fasakh?
1.2.3
Bagaimana
pandangan tokoh-tokoh agama di Kuala Lumpur tentang masalah fasakh?
1.3 Tujuan Penelitian
Beranjak dari perumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin diraih dalam pembahasan proposal ini adalah sebagai berikut:
1.3.1 Bagaimana tanggungjawab isteri ketika suami uzur menurut Sekyen 52 Akta Undang-undang Keluarga Islam Wilayah Persekutuan?
1.3.2
Apakah
hak isteri terhadap suami uzur berdasarkan Sekyen 52 dapat dibenarkan sebagai
alasan fasakh?
1.3.3
Bagaimana
pandangan tokoh-tokoh agama di Kuala Lumpur tentang masalah fasakh?
1.4 Penjelasan Istilah
1.4.1
Suami uzur
Istilah suami
uzur bukanlah suatu hal yang baru muncul, sehingga rumit mendefiniskan istilah
ini. Dalam masyarakat umum, istilah uzur ini sering diterjemah sebagai arti
laki-laki sudah tua atau tidak mampu menjalankan serangkaian kewajiban bagi
isteri. Imam Al-Ghazaly, dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, menjelaskan, bahwa uzur
itu sebagai suatu alasan hilangnya kewajiban, seperti dibolehkannya
meninggalkan shalat jum’at, karena dikhawatirkan tidak mampu berjalan dan tidak
mampu berdiri secara sempura.[7] Dalam
keadaan uzur, Imam Al-Ghazaly, menjadikan alasan dalam melaksanakan shalat
berjamaah, baik itu shalat jum’at ataupun shalat biasanya.
Penggunaan istilah uzur
untuk suami juga memiliki makna yang sama bila merujuk pada arti dari kata
“uzur” itu sendiri. Berarti suami uzur dimaknai sebagai seorang kepala keluarga
yang tidak mampu menjalankan serangkaian kewajiban bagi isteri, namun tidak
tertutup kemungkinan mampu menjalankan kewajiban terhadap anak, seperti
menasehati, membimbing anak dan mendidiknya dengan bahasa atau kata-kata
nasehatnya.
1.4.2 Hak fasakh
Pengertian hak disini
yaitu, suatu yang dianggap sebagai hak yang dimiliki setiap manusia yang
melekat atau inheren padanya karena dia adalah manusia.[8] Bila
dalam kerangka pemahaman akan tanggung jawab manusia, inilah persoalan hak yang
harus dipertimbangkan. Begtu juga antara suami isteri, meski telah diketahui
uzur pada suami, namun hak yang melekat pada suami yang ada pada isteri tentu
saja tidak mudah hilang bagitu saja. Keduanya sebagai suami isteri memiliki hak
yang kuat dan tidak mudah hilang.
Dalam tulisan ini, untuk mengerti
arti hak seseorang dalam konteks Islam, menurut hemat penulis, perlu diingat
dan dilihat kembali terhadap konsep hak yang diajukan oleh masyarakat muslim
ini di dunia, sehingga dapat lebih sempurna memaknai hak. Dalam bahasa Arab,
kata dasar untuk arti ”hak” adalah haqq, yang berarti pertama sekali,
kata tersebut adalah sebuah Nama Tuhan, Al-Haqq, yaitu kebenaran dan
realitas. Kata ”haqq”, juga berarti tugas dan sekaligus hak, kewajiban
sekaligus tuntutan, hukum sekalgus keadilan. Haqq, juga mengandung arti
sesuatu yang pantas bagi setiap sesuatu, apa yang membuat sesuatu menjadi
kenyataan atau apa yang membuat sesuatu menjadi benar.[9]
Kata fasakh berati batal atau rusak.[10] Menurut istilah, fasakh adalah batal akad
(pernikahan) dan hilangnya keadaan yang menguatkan kepadanya.[11] Selain itu diartikan juga sebagai batalnya
akad (nikah) secara spontan.[12]
Sayyid Sabiq, mendefiniskannya sebagai membatalkan dan melepaskan ikatan
pertalian antara suami isteri.[13] Sementara
fasakh merupakan ikatan perkawinan antara suami-istri setelah diminta oleh
isteri melalui pihak pengadilan (hakim). Fasakh hanya boleh dilakukan pihak
isteri, dan hanya boleh diputuskan oleh pihak yang berkuasa seperti hakim dan
qadi, apabila terdapat sebab tertentu seeprti kehilangan suami tanpa diketahui
keberadaannya hidup atau mati atau suami murtad, tidak mampu menunaikan hak
kepada isteri, seperti memberikan nafkah, kehidupan yang selayaknya, juga
nafkah lahir, atau sakit yang tidak bisa disembuhkan lagi.[14] Dalam
Kamus Istilah Fikih, fasakh ini disbeut sebagai pembatalan perkawinan oleh
suami atau isteri karena antara suami isteri terdapat kecacatan atau penyakit
yang tidak dapat disembuhkan lagi, atau suami tidak dapat memberi belanja atau
nafkah, menganiaya dan murtad.[15] jika
dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tentu memiliki pengertian yang
berbeda, yaitu fasakh berarti pembatalan ikatan pernikahan oleh Pengadilan
Agama berdasarkan dakwaan (tuntutan) isteri atau suami yang dapat dibenarkan
Pengadilan Agama atau karena pernikahan yang terlanjur menyalahi hukum
pernikahan.[16]
Di akhir penjelasan ini dapat
ditarik kesimpulan bahwa, hak fasakh itu suatu yang pantas bagi setiap sesuatu,
yang memiliki kewajaran dan kepatutan terhadap hal fasakh yang dilakukan oleh suami
atau isteri, dengan alasan dan sebab tertentu yang dibenarkan syara’.
1.4.3 Sekyen 52 Akta Undang-Undang Keluarga Islam Tahun 1984
Dalam
istilah Indonesia, Sekyen sama maknanya atau setingkat maknanya dengan undang-undang
atau perundang-undangan. Di masyarakat Malaysia, Sekyen 52 ini diartikan
sebagai undang-undang atau landasan hukum yang diterbitkan oleh negara Malaysia
untuk mengatur hal-hal yang berkenaan seputar keluarga.
Dalam pengertian lebih khusus,
Sekyen ini yaitu suatu akta bagi mengkanunkan peruntukan-peruntukan tertentu
Undang-Undang Keluarga Islam mengenai perkahwinan, perceraian, nafkah,
penjagaan, dan lain-lain perkara berkaitan dengan kehidupan keluarga, yang diperbuat
undang-undang oleh Duli yang maha mulia seri paduka baginda Yang di-Pertuan
Agong dengan nasihat dan persetujuan Dewan Negara dan Dewan Rakyat yang bersidang
dalam Parlimen, dan dengan kuasa daripadanya.[17]
1.5 Kajian Pustaka
Terhadap kajian pustaka sebagaimana yang dimaksud
yaitu, berisi survei yang telah dilakukan oleh mahasiswa untuk menjustifikasi
masalah yang sedang dikaji. Dalam hal ini ada beberapa
kajian pustaka yang akan ditampilkan dalam pembahasan ini.
1. Aib
sebagai alasan fasakh; studi perbandingan mazhab Syafi’i dan Zahiri, oleh Engku
Nor Azlan bin Engku liah. Dalam hasil penelitian tersebut, disebutkan bahwa,
Imam Syafi’i dalam mengkaji permasalahan aib sebagai alasan fasakh beliau
menggunakan metode qiyas yaitu diqiyaskan kepada jual beli dalam menetapkan
hukum fasakh. Sedangkan mazhab Zahiri dalam menetapkan hukum fasakh berpegang
kepada makna zahir dari nash al-Qur’an dan as-Sunnah, beliau tidak menggunakan
qiyas dalam menetapkan hukum fasakh. Kesimpulan dalam hasil penelitian tersebut
yaitu, mazhab Syaif’i mengharuskan seorang suami atau isteri menuntut fasakh
kepada hakim apabila salah seorang dari mereka terdapat salah satu aib atau
cacat, yang mana cacat itu bagi perempuan berupa gila, kusta, supak, tumbuh
daging dan tumbuh tulang pada kemaluannya sedangkan bagi lelaki berupa gila,
kusta, supak, impoten dan terpotong kelamin, sedangkan mazhab Zahiri tidak
membolehkan fasakh karena aib, baik aib dalam bentuk apapun.
2. Cacat
sebagai alasan fasakh menurut pemikiran Ibnu Hazm yang dilakukan penelitian
oleh Faizin. Dalam penelitian disebutkan bahwa, Ibnu Hazm, berpendapat bahwa nikah
tidak boleh difasakh, karena cacat, apapun cacatnya. Suami tidak boleh menolak
isteri jika mendapatkan isterinya cacat, begitu juga sebaliknya, apapun
cacatnya, baik sebelum ataupun sesudah dukhul. Namun demikian, seorang suami
yang mendapatkan isterinya cacat meskipun tidak dibenarkan menuntut cerai dalam
bentuk fasakh, tetapi dibolehkan bercerai dengan menjatuhkan thalaqnya. Dan
bagi isteri boleh bercerai dengan khulu’. Ketentuan tersebut berlaku apabila
dalam akad nikah tidak disyaratkan kedua mempelainya tidak cacat. Dan jika
disyaratkan dalam akad nikah kedua mempelainya tidak cacat dan ternyata cacat,
maka nikahnya batal sejak awalnya (mafsukh), tidak berlaku dan tidak perlu
khiyar, tidak ada mahar, tidak ada hak waris, serta tidak ada nafkah (bagi
isteri), baik sebelum atau sesudah dukhul.
Dalam hasil penelitian yang telah
disebutkan di atas, tidak ada pembahasan secara khusus tentang alasan fasakh
karena uzur, disinggung terhadap uzur pun tidak ada sama sekali. Dalam hal ini,
maka judul penelitian yang sedang diteliti ini menjadi sebagai pelengkap
terhadap persoalan keluarga dalam kehidupan Islam.
1.6 Metode Penelitian
Dalam penyusunan karya ilmiah ini, jenis penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Analisis yaitu, dengan menggambarkan permasalahan yang dikaji berdasarkan analisis dari penulis terhadap alasan fasakh oleh isteri terhadap suami uzur berdasarkan Sekyen 52 Akta Undang-undang Keluarga Islam Wilayah persekutuan Tahun 1984.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan (library research), yaitu dengan menelaah dan membaca sumber-sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam pengumpulan data yang dibutuhkan.
Untuk pengolahan data yang sudah diperoleh yang dijadikan sebagai data primer adalah sumber-sumber hukum Islam atau kitab-kitab yang berkenaan dengan permaslahan yang dikaji dan Sekyen 52 akat Undang-undang keluarga Islam Malaysia. Sementara data sekundernya diperoleh dari hasil wawancara dengan beberapa tokoh agama di Malaysia. Analisa terhadap hasil pengolahan data dilakukan berdasarkan kajian Al-Qur'an dan As-Sunnah dan kitab-kitab berkenaan dengan judul.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis berpedoman kepada pedoman penulisan
karya ilmiah Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry tahun 2004. Sedangkan untuk
penerjemahan ayat-ayat al-Qur'an penulis berpegang pada Al-Qur'anul Karim yang diterbitkan oleh PT. Syaamil Cipta
Media, Revisi Terjemah oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Departemen Agama
Republik Indonesia.
1.7 Sistematika Pembahasan
Untuk memudahkan para pembaca dalam mengikuti pembahasan skripsi ini, maka digunakan sistematika pembahasannya dalam empat bab, yaitu sebagaimana yang tersebut di bawah ini.
Bab satu merupakan pendahuluan yang meliputi latar belakang permasalahan, rumusan masalah, penjelasan istilah, tujuan pembahasan, metode pembahasan, dan sistematika pembahasan.
Bab
dua dipaparkan tentang kajian
teoritis terhadap fasakh dan
permasalahannya, pembahasannya mencakup; pengertian uzur dan dasar hukum
fasakh, sebab-sebab timbulnya fasakh, beberapa dampak yang timbul akibat dari
fasakh, hubungan fasakh dengan nilai kemanusiaan dan yang terakhir hak dan
kewajiban suami isteri dalam keluarga.
Bab
tiga merupakan bab inti, yang
membahasa tentang suami uzur sebagai alasan dan hak fasakh berdasarkan Sekyen
52 Akta Undang-undang Keluarga Islam Malaysia, yang meliputi; tanggungjawab
isteri ketika suami uzur menurut Sekyen 52 Akta Undang-undang Keluarga Islam
Wilayah Persekutuan, hak
isteri terhadap suami uzur berdasarkan Sekyen 52 dapat dibenarkan sebagai
alasan fasakh dan pandangan tokoh-tokoh agama di Kuala Lumpur tentang masalah
fasakh.
Bab empat merupakan bab penutup terhadap
kajian yang dibahas, yang berisi tentang kesimpulan dan saran.
[1] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Bimbingan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, (Bogor: Pustaka At-Taqwa, t.t), hlm. 9.
[2] Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana, 2003), hlm. 13.
[3] Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi, Fiqh Empat Mazhab, judul asli Rahmah al-Ummah fi Ikhtilaf al-‘Aimmah, (Bandung: Hasyimi Press, 2004), hlm. 363.
[4] Abdul Majid Mahmud Mathlub, Panduan Hukum Keluarga Sakinah, (Solo: Era Intermedia, 2005), hlm. 305.
[5] http://www.hmetro.com.my/articles/minta-diceraikan-kerana-suami-sakit/Article/artikelMA
[6] Mustofa Al-Khin, dkk, Kitab Fikah Mazhab Syafiie, (Kuala Lumpur: Pustaka Salam SDN BHD, 2005), hlm. 852-853.
[7] Imam Al-Ghazaly, Mau’izhatul Mukminin; Ringkasan dari Ihya ‘Ulumuddin, (Kairo: Al-Maktabah At-tijjariyyah Al-Kubro, tt), hlm. 100-101.
[9] Sayyed Hossein Nasr, The Heart of Islam; Pesan-pesan Universal Islam
untuk Kemanusiaan, (Bandung:
Pustaka Mizan, 2003), hlm. 242-243.
[11] Ahmad Ghundur, At-Thalaq fi
Asy-Syariah al-Islamiyyah, wa al Qanun, (Mesir: Dar al-Maarif, 1967), Cet
1, hlm. 35.
[14]
Muhammad Firdaus, dkk, Ensiklopedi
Azas Fardlu ‘Ain, (Selangor: Taman Sri batu Caves, 2006), hlm. 214.
[15]
Abdul Wahab Khallaf, Ahkam
al-Ahwal al-Syaksiyyah fi al-Shariati al-Islamiyyah, (Kuwait: Daral Qalam,
1990), hlm. 160.
[16]
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka Firdaus,
1995), hlm. 75.
[17]
Enakmen/Ordinan/Akta Undang-undang
tentang Keluarga Islam tahun 1984, Kuala Lumpur Malaysia.

Komentar
Posting Komentar
Komentar