Estetika dalam Pandangan Antropologi

 Estetika dalam Pandangan Antropologi




BAB I

PENDAHULUAN

 

Sebagaimana diketahui bahwa filsafat adalah sesuatu yang berkenaan dengan padangan hidup manusia. Hal ini tentu akan melahirkan berbagai macam pertanyaan di dalam diri manusia mengapa menjadi demikian. Jawaban yang tidak di ragukan lagi “filsafat” adalah lahir dari unsur manusia itu sendiri, dengan kata lain manusia dengan segala unsur keindahannya akan melahirkan berbagai macam cabang filsafat, salah satunya adalah filsafat estetika.

Filsafat estetika ini merupakan cabang filsafat yang berusaha mencari hakikat tentang nilai-nilai indah dan nilai-nilai buruk terhadap sesuatu. Kehadiran sesuatu yang indah dalam hidup seseorang, akan menjadikan hidupnya penuh dengan warna, harmonis, ada rasa nikmat yang memuaskan hatinya, ada suatu makna hidup dan perasaan haru yang mendalam yang seringkali membawa seseorang kepada  perasaan yang rendah hati, ada semangat dan harapan hidup, sehingga kehidupannya tetap bertahan secara kreatif, tanpa dihancurkan oleh rasa frustasi. Sebaliknya kehadiran sesuatu yang buruk dalam diri seseorang, membuat perjalannan hidupnya menjadi kusut, ada kekecewaan yang mendalam sehingga seringkali menbuat frustasi, semangatnya hidupnya turun dan cenderung ke arah terjadinya gangguan atas keseimbangan hidupnnya.


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      Pengertian Estetika

Estetika berasal dari bahasa Yunani, dari kata aesthetic yang mempunyai arti yaitu, sublime, tragis, indah, cantik dan lain-lain.

Dalam hal estetika ini terdapat dua aliran; pertama aliran yang mengatakan nilai-nilai keindahan itu dipandang eksis secara independen dari pemahaman kita, aliran ini sering disebut aliran obyektivisme. Kedua aliran yang mengatakan nilai-nilai keindahan itu sama sekali tergantung pada bentuk-bentuk pengalaman manusia dan tidak bersifat independen.[1]

Ketika persoalan estetika ini semakin diperluas, tentu semakin kompleks, sebab menyentuh hal-hal yang berhubungan dengan eksistensi manusia, apakah jasmaninya, rohaninya, fisiknya, mentalnya, pikirannya bahkan perasaannya. Apabila nilai telah masuk pada kawasan pribadi, muncullah persoalan apakah pihak lain atau orang lain dapat mencampuri urusan pribadi orang lain.[2]

 

B.       Keindahan Itu Sebagai Pengalaman Batin

Pada hakikatnya pengalaman keindahan itu pasti pernah dialami oleh setiap orang dalam hidupnya, meskipun mungkin kadar dan intensitasnya serta kualitasnya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Bahkan kita katakan bahwa pengalaman keindahan itu merupakan kodrat dan bawaan hidup manusia yang memungkinkan manusia dapat mengenalnya secara langsung.[3]

Sesungguhnya suatu yang indah itu adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat nilai-nilai keindahan, seperti indahnya panorama pengunungan, indahnya pemandangan pantai, meskipun tidak menutup kemungkina bisa saja seseorang dalam suasana batin yang sakit, yang membuatnya tidak bisa melihat dan merasakan adanya keindahan itu, akan tetapi secara obyektif keindahan itu tetap ada  di dalamnya, meskipun penyerapan dan penikmatnya bersifat subyektif.[4]

Dalam pengalaman estetik seorang muslim, bacaan ayat-ayat susi Al-Qur’an yang dilagukan dengan baik, suara yang lembut dan dibaca dalam suasana hening dan nuansa kewajaran yang diliputi dengan kesederhanan, seringkali merupakan pengalaman estetik yang sangat mengetarkan dirinya, mengharukan, memberikan kesadaran baru dalam menjalani keberagamaan dalam pengalaman iman.[5] Dalam hal ini sebagai Allah SWT, berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan mereka bertawakkal kepada Allah”. (Qs.Al-Anfal: 2)

Dalam konsep filsafat Islam, pengalaman estetik yang berdimensi spiritual pada dasarnya merupakan basis pemikiran imajinatif, di mana seseoran menyatu dalam nuansa kejiwaan memasuki kesadaran Ilahiyah.[6] Firman Allah SWT. Yang artinya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana Ia diciptakan? dan langit bagaimana di tinggikan, dan gunung-gunung bagaimana Ia tegakkan? dan bumi bagaimana Ia bentangkan?” (Qs.Al-Qaasyiyah:17-20)

 

C.      Keindahan Natural dan Keindahan Artifisial

Keindahan alam pada hakikatnya merupakan cerminan dari cahaya keindahan Ilahi. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa tuhan adalah Maha Indah dan menyukai yang indah-indah. Keindahan alam seisinya merupakan bersifat natural, sedangkan keindahan karya seni bersifat artifisial. Keindahan yang natural langsung dapat diserap dan dihayati oleh seseiorang. sedangkan keindahan artifisal seringkali tidak dapat diserap dan dimengerti secara langsung, dan membutuhkan penghayatan dan pengamatan.

     Penghayatan dan penjiwaan keindahan alam akan membawakan kepada munculnya kesadaran atas keindahan transenden, kemudian membuata diri seeorang merasakan adanya rasa kelembutan dan keterharuan yang dalam dan mendorong jiwa seseorang menjadi lebih halus, lebih rendah hati dan serta mendorang untuk membentuk hidup yang penuh harmaoni melalui cara yang menyelaraskan diri dengan alam.

Keindahan alam itu sesungguhnya dipelihara dan dijaga oleh suatu mekanisme alam yang bekerja secara otomatis untuk mempernbaiki setiap kerusakan yang ada, menggantikannya dan menumbuhkan yang baru, tanpa merusak dan meninggalkan harmoni alam. hanya saja manusia berpaling dari cara hidup yang menyelaraskan diri untuk membentuk tindakan dan perbuatan yang bertanggung jawab, seperti membakar hutan, meracuni sungai dan merusak tanaman bunga.[7] Sebagaiman firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 205, yang Artinya: “Dan apabila, dia berpaling, dia berusaha dimuka bumi supaya membuat bencana padanya, dan merusak tanam-tanaman dan hewan ternak, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan”.

 

D.      Keindahan dan Pembebasan

Pengalaman estetik pada tahap yang spiritual, pada hakikatnya merupakan proses pembebasan dan peneguhan kemanusian. Pembebasan dari tekanan dan dorongan-dorongan daging dan darah tubuhnya, yang cenderung mengabdi kepada kepuasan-kepuasan fisik semata-mata. Pembebasan demikian dapat terjadi  karena ada pengalaman estetik yang bersifat spiritual yang berhadapan denan pangalaman estetik yang dapat menggetarkan daya-daya rohaninya, sehingga larut dalam keharuan, memandang kecil dirinya dengan merelatifkan dirinya, rendah hati dan tidak congkak.[8]

Pada perkembangan selanjutnya, pengalaman estetik spiritual merupakan proses peneguhan kemanusian, yaitu memperkuat kepedulian yang tinggi, dengan menegaskan keperpihakan pada nilai-nilai kemanusian. Contohnya seorang seniman yang mempunyai kometmen yang tinggi pada kemanusian dan bahkan melinbatkan dirinya (involved) di dalamnya secara konkret. Mungkin yang masuka dalam tingkat ini adalah Romo Mangun Wijaya dan Taufi Ismail, keduanya menampilkan sosok pribadi yang amat sederhan , dan kata dan tidakannya jelas berpihak pada perjuanagan melawan ketidakadilan dan kezaliman. Disamping itu relegiusnya Nampak sangat menonjol. pengalaman estetik spiritual membuat seseorang lebur, larut dan fana’ pada universalisme kebenaran,[9]

 

E.       Seni dan Agama

Dalam hidup tentunya seseorang pasti mempunyai pengalaman-pengalaman. pengalaman keagamaan seseorang dalam suatu masyarakat, sering terdapat fenomena dimana proses dan tahap keberagamaan putus, berhenti dan mentok pada satu dataran pengalaman keagamaan saja, umpanya terhenti pada dataran yang normal, institusional atau pada ritus saja. Formalisme agama menjadikan penglaman keagamaan yang sangat kering, karena terbentuk dan dibatasi oleh formalitas keaagaman yang kaku dan sempit, sehingga menghalangi pengalaman keagamaan seseorang untuk mencapai dan memasuki pengalaman keagaman yang bersifat subtansial dan spiritual.[10]

Hubungan seni dan Agama menjadi unsur yang sangat penting, karena spritualisasi seni menampikan realitas kebenaran spiritual yang turun ke bumi. Dalam hal ini merupakan kristalisasi ruh dan bentuk ajaran Islam yang terselebungi oleh kesempurnaan dari dunia keabadian.

Dalam nilai estetis terangkum tiga prinsip ideal yaitu kebenaran, kebaikan, dan keindahan. semenjak awal para filosof berpendapat bahwa ketiga prinsip ini merupakan daya aktif di alam semesta yang merupakan kekuatan yang ideal dan spritualitas yang mendorong semua realitas.[11]

Didalam Islam seni merupakan manifesstasi bentuk-bentuk realitas spiritual (al-haqa’iq) wahyu Islam itu sendiri karena diwarnai oleh pengejawantahannya yang duniawi. Hubungan kausal antara wahyu Islam dengan deni Islam dibuktikan oleh hubungan organis antara seni dengan ibadah, antara kontemplasi tentang Islam Tuhan dengan sifat kontemplasi seni itu sendiri. Oleh sebab itu di dalam Islam, seni tidak dapat memainkan suatu fungsi spiritual tertentu apabila ia tidak dihubungkan dengan bentuk dan kandungan wahyu Ilahi.[12]

 



BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Estetika merupakan cabang dalam pembahasan filsafat yang membahas tentang konsep yang berkaitan dengan sublime, tragis, keindahan, cantik, dan lain-lain. estetika ini berusaha mencari hakikat tentang nilai-nilai yang indah dan nilai-nilai yang buruk terhadap sesuatu.

Keindahan itu terbagi dalam dua aliran, yang pertama adalah aliran yang obyektivisme yaitu aliran yang berpandangan bahwa nilai-nilai keindahan dipandang eksis secara independen dari pemahaman kita. sedangkan yang kedua adalah aliran subyektivisme, yang mempunyai pandangan yaitu nilai-nilai itu sama sekali tergantung pada bentuk-bentuk pengalaman manusia yang relative, karena nilai itu dianggap sebagai refreksi kesadasan manusia yang bersifat tidak independen.

Dalam nilai estetis terdapat tiga prinsip dasar yaitu kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Ketiga prinsip ini merupakan daya aktif di alam semesta yang merupakan kekuatan ideal dan spritualitas yang mendorong semua realitas.

 

B.       Saran dan Kritik

Hanya ini pembahasan singkat makalah ini, semoga dapat bermamfaat bagi kita semua terutama bagi penulis sendiri dalam hal penambahan intelektual. dan sangat manyadarinya bahwa dalam pembahasan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. oeh sebab itu dengan penuh keikhlasan penulis menerima setiap saran dan kritik dari dosen pembimbing dan pembaca sekalian demi yang bersifat motivasi demi perbaikan diamasa yang akan datang.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Qur’an al Karim dan Terjemahannya, DEPAG RI, 2004

 

Al- Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkunga; Dalam Perspektif Antropologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet II, 2006

 

Elly M Setiadi, dkk, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Jakarta: Putra Grafika, cet I, 2006

 

Rohiman Notowidagdo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Qur’an Hadits, Jakarta: Rajawali Pers, cet IV, 2002

 

Soejono Soemargono, Pengantar Filsafat, Yokyakarta : Tiara Wacana, 1987

 

Sayyed Hossein Nasr, Spritualitas dan Seni Islam, Terj. Sutejo, Bandung : Mizan.1994

  



 

[1] Soejono Soemargono, Pengantar Filsafat, Yokyakarta : Tiara Wacana, 1987, hal. 327.

 

[2] Elly M Setiadi, dkk, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Jakarta: Putra Grafika, 2006, Cet I, hal. 103-104

 

[3] Rohiman Notowidagdo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Qur’an Hadits, Jakarta: Rajawali Pers, 2002, Cet IV, hal 83

[4] Elly M Setiadi, dkk., Op. cit., hal. 231

[5] Rohiman Notowidagdo., Op. cit., hal. 87

[6] Ibid., hal. 89

[7] Ibid., hal. 91-92

[8] Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkunga; Dalam Perspektif Antropologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. III, hal. 189-199

[9]  Sayyed Hossein Nasr, Spritualitas dan Seni Islam, Terj. Sutejo, Bandung : Mizan.1994, hal. 201

[10] Sayyed Hossein Nasr., Op. cit., hal. 206

[11] Ibid., hal. 208

[12] Ibid.


Komentar

Postingan Populer