PERAN ORANGTUA DALAM PENCEGAHAN ISPA DENGAN KEKAMBUHAN PADA BALITA

 

HUBUNGAN PERAN ORANGTUA DALAM PENCEGAHAN INSPEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) DENGAN KEKAMBUHAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT PADA BALITA

DI PUKESMAS SAREE ACEH BESAR

 

 

1. 1 Latar Belakang Masalah

Tulisan ini beranjak dari asumsi bahwa, sebagai seorang ibu, memberi  perlindungan, perawatan, pemeliharaan dengan sungguh pada bayi sudah menjadi bagian yang tidak bisa dihilangkan dari seorang perempuan dan tugas inipun telah menjadi suatu peran sebagai seorang ibu terhadap balita. Penciptaannya yang memiliki perasaan halus dan peka terhadap sentuhan bayi sudah tergaris dari sejak penciptaan manusia itu sendiri dan hal ini telah dianggap sebagai suatu kelebihan yang dimiliki oleh perempuan. Initnya adalah, seorang ibu memiliki peran penting terhadap perawatan sekaligus perlindungan pada bayi yang turut dibantu oleh laki-laki.

Perlindungan dan perawatan ini tidak hanya sekedar memberi makan, minum atau juga memandikan bayi, namun lebih dari itu menjaganya agar terhindar atau tidak gampang sakit, menjadi suatu tugas utama yang mesti diperankan oleh seorang ibu pada anaknya dengan hati-hati, penuh kesungguhan dan keseriusan. Di samping itu, tugas yang dilakukan oleh seorang ibu yang dibantu oleh laki-laki (suami) terhadap anaknya yang masih balita menjadi hak penuh yang melekat pada setiap bayi, yang sama sekali tidak boleh diabaikan oleh orangtua. Memberi perlindungan yang benar, menjaga dengan kehati-hatian, pada akhirnya anak bisa tumbuh dan berkembang secara sehat dan sempurna tanpa ada resiko yang mengarah pada penyakit.

Sebagai balita, aspek mental, fisik dan ketahanan daya tahan tubuh tentu saja masih sangat lemah, sentuhan dan perawatan yang penuh hati-hati, benar-benar sangat ditekankan. Bila pemeliharaan dan perlindungan kurang serius dan kurang kehati-hatian, akan mudah berdampak hal-hal yang fatal pada bayi, seperti terjadinya ketidak seimbangan pertumbuhan dengan gizi, berat badan menurun, diare, bahkan gangguan pada saluran pernafasan atau sering disebut infeksi saluran pernafasan akut (ispa).

Perlu diketahui bahwa, penyakit infeksi seperti, kurang gizi, diare, infeksi telinga, radang tenggorokan, tetanus, merupakan salah satu penyebab umum kematian balita di kebanyakan negara, termasuk di Indonesia. Lebih hebat lagi adalah infeksi pada saluran pernafasan akut (ISPA), di mana Raharjoe dalam WHO (2008: 14) mengatakan bahwa kasus ini adalah kasus yang paling tinggi, mencapai 50% dari seluruh penyakit pada anak berusia di bawah 5 tahun, dari 50%  ini  30% terjadi pada anak usia 5-12 tahun (WHO, 2007: 9).

Penyakit ini merupakan infeksi yang berawal dari saluran pernapasan hidung, tenggorokan, laring, trakea, bronchi dan alveoli. Pengertian ISPA ini dapat dikatakan sebagai penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. (Anonim, 2002: 3). Dapat dikatakan bahwa ISPA merupakan salah satu alasan yang umum digunakan untuk morbiditas pada anak. Kematian akibat penyakit ISPA telah tumbuh dan antimikrobanya sangat kuat sehingga perawatan kesehatan mendorong mayoritas anak-anak harus rawat inap (Anonim, 2007: 23). Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian, dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Anonim, 2007: 12).

Sebagai upaya untuk mewujudkan visi Indonesia sehat 2010, pemerintah telah menyusun berbagai program pembangunan dalam bidang kesehatan antara lain kegiatan pemberantasan Penyakit Menular (P2M) baik yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif di semua aspek lingkungan kegiatan pelayanan kesehatan. Program ini diharapkan tidak bersifat kuratif namun lebih pada sifatnya pencegahan dengan upaya-upaya tepat.

World Health Organization (WHO) memperkirakan insidens Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Menurut WHO ± 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di Negara berkembang, dimana pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh ± 4 juta anak balita setiap tahun (Depkes, 2002: 15).

Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh kematian balita (Anonim, 2008: 23).

Gejala awal yang timbul biasanya berupa batuk pilek, yang kemudian diikuti dengan napas cepat dan napas sesak. Pada tingkat yang lebih berat terjadi kesukaran bernapas, tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun dan meninggal bila tidak segera diobati. Usia Balita adalah kelompok yang paling rentan dengan infeksi saluran pernapasan. Kenyataannya bahwa angka morbiditas dan mortalitas akibat ISPA, masih tinggi pada balita di negara berkembang.

Kondisi ini juga dirasakan oleh masyarakat Saree Aceh Besar. Berdasarkan hasil sementara yang diperoleh bahwa, untuk tahun 2011, ISPA telah mengindap hampir 13 balita di Saree. Yang rentan terjadi adalah penyakit ISPA ringan dan bila ISPA berat diharuskan untuk inap di Pukesmas Saree. Penyakit infeksi ini, pada tahun sebelumnya juga sudah dihebohkan, berbagai upaya penanggulan dilakukan, namun memasuki tahun 2011, ISPA ini didapatkan lagi oleh penderita yang sama pada tahun sebelumnya.

Mengingat infeksi pada jantung bisa mengakibatkan kejadian fatal, orangtua memang dituntut lebih peka terhadap gelaja infeksi ini, agar tidak berubah menjadi ISPA yang positif, artinya sebelum ISPA menjadi positif, orangtua diharapkan harus lebih tanggap dan mengenali secara baik terhadap gejala yang ditimbulkan oleh infeksi ini, intinya kekurangan peran orangtua menjadi faktor utama infeksi terjadi pada bayi. Bila orangtua kurang tanggap terhadap beberapa pengalaman yang ada, kecil kemungkinan infeksi bisa dicegah terhadap gejala yang dirasakan pada balita. Bahkan besar kemungkinan ISPA ini bisa mengakibatkan kekambuhan yang berturut-turut. Sebagai orangtua anak, hal ini memang harus dipelajari lebih banyak, sehingga gejala awal pada bayi menjadi mudah untuk diketahui, pertolongan lebih cepat diberikan tanpa harus merasa khawatir berat. Selain itu, bila ISPA ini telah diketahui banyak oleh orangtua, kekambuhanpun bisa diatasi dengan baik.

Agar persoalan di atas dapat diketahui lebih dekat sekaligus dapat diketahui peran orangtua agar tidak terjadi kekambuhan ISPA pada balita, maka perlu dikaji secara sistematis. Maka itu, penelitian ini diberi judul; Hubungan peran orangtua dalam pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dengan kekambuhan infeksi saluran pernafasan akut pada balita di Pukesmas Saree Aceh Besar.

 

1.2. Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu; apakah ada hubungan antara peran orangtua terhadap pencegahan kekambuhan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada balita di wilayah kerja Pukesmas Saree Aceh Besar?

 

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan umum

Untuk mengetahui hubungan antara peran orang tua terhadap pencegahan kekambuhan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada balita di wilayah kerja Pukesmas Saree Aceh Besar.

 

1.3.2. Tujuan khusus

 

a.       Untuk mengetahui tingkat pengetahuan orang tua tentang Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Saree Aceh Besar.

b.      Untuk mengetahui peran orang tua tentang Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Saree Aceh Besar.

c.       Untuk mengetahui upaya pencegahan kekambuhan oleh orang tua terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Saree Aceh Besar.

d.      Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan upaya pencegahan kekambuhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Saree Aceh Besar.

e.       Untuk mengetahui hubungan antara peran dengan upaya pencegahan kekambuhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Saree Aceh Besar.

 

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wacana keilmuan terutama dalam bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat.

1.4.2. Bagi peneliti

a.       Sebagai suatu pengalaman belajar dalam kegiatan penelitian.

b.      Memperoleh pengalaman dan peningkatan wawasan tentang pengetahuan, sikap dengan upaya pencegahan kekambuhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita di wilayah kerja puskesmas Saree Aceh Besar.

1.4.3. Bagi masyarakat

a.       Memberi informasi tentang penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut.

b.      Memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk lebih mengerti tentang cara penanganan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut.

 

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

            Adapun ruang lingkup penelitian ini adalah, Hubungan peran orangtua dalam pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dengan kekambuhan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada Balita di Pukesmas Saree Aceh Besar

 

1.6. Defenisi Operasional

1.6.1. Peran

Poerwadarminta (2006:733) mengatakan bahwa “Peranan sebagai suatu yang menjadikan bagian atau yang menentukan sesuatu”. Pengertian tersebut memiliki obyek yang bersifat umum artinya tidak hanya terfokus terhadap unsur manusianya, tetapi terdapat juga diluar unsur manusia.

Peranan adalah perilaku yang diharapkan untuk dilakukan seseorang, lembaga organisasi yang mempunyai status dan kedudukan tertentu di masyarakat, lembaga kenegaraan, serta organisasi politik dan kemasyarakatan. Peranan merupakan suatu bagian yang menentukan, berfungsi serta melakukan baik berbentuk tingkah laku maupun perlakuan sesuatu yang baik yang dilakukan oleh manusia maupun lembaga dan organisasi kemasyarakatan secara efektif dan efesien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

 

1.6.2. Orangtua

Secara  umum yang dimadsud dengan orang tua adalah orang yang melahirkan dan mempunyai tanggung jawab, mengurus, membimbing, mendidik dan meletakkan dasar-dasar akhlaq kepada seorang anak dari hasil sebuah perkawinan. Sebagai orang tua mempunyai banyak tanggung jawab dalam mendidik dan membimbing serta membina anak agar tumbuh dan berkmbang sebagai manusia yang sempurna  baik lahiriah maupun bathiniah.

Hakekat orang tua dalam tulisan ini adalah orang yang melahirkan seseorang anak atau ayah  dan ibu seseorang anak yang memiliki tanggung jawab memdidik dan membina anak menjadi manusia yang memiliki pengetahuan sikap dan ketrampilan serta menjadi manusia yang baik sesuai dengan tuntunan agama yang dianutnya.

 

1.6.3. Pencegahan Infeksi

Pencegahan infeksi merupakan serangkaian upaya yang dilakukan oleh orangtua terhadap sesuatu penularan atau pembengkakan, atau tepatnya adalah usaha yang dilakukan oleh seseorang terhadap kekambuhan  ISPA pada balita. Pencegahan infeksi dapat juga diartikan sebagai upaya menghalangi masuknya Mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan penyakit (Justin, 2006).

 

Pencegahan infeksi tersebut seperti;

1.      Mengusahakan agar anak memperoleh gizi yang baik, diantaranya dengan cara memberikan makanan kepada anak yang mengandung cukup gizi.

2.      Memberikan imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan tubuh terhadap penyakit baik.

3.      Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap bersih.

4.      Mencegah anak berhubungan dengan klien ISPA. Salah satu cara adalah memakai penutup hidung dan mulut bila kontak langsung dengan anggota keluarga atau orang yang sedang menderita penyakit ISPA.

 

1.6.4. Infeksi Saluran Pernafsan Akut (ISPA)

            Istilah ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran pernapasan Akut dengan pengertian sebagai berikut: Infeksi adalah masuknya Mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan penyakit. Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga Alveoli beserta organ Adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA, proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. Sedangkan Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (Alveoli). Terjadi pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada Bronkus disebut Broncho pneumonia (Justin, 2006).

1.7. Landasan Teoritis

1.7.1. Klasifikasi penyakit

Penyakit ISPA dibedakan berdasarkan golongan umur, yaitu;

  1. Kelompok umur kurang dari 2 bulan, dibagi atas; pneumonia berat dan bukan pneumonia. Pneumonia berat ditandai dengan adanya napas cepat (Fast breathing), yaitu frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih. Selain itu, adanya tarikan kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam (Severe chest indrawing), sedangkan bukan pneumonia bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada nafas cepat (Anonim, 2002).
  2. Kelompok umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun dibagi atas; pnemonia berat, pnemonia dan bukan pnemonia. Pneumonia berat, bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik napas. Pneumonia didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai adanya napas cepat sesuai umur, yaitu 40 detak permenit atau lebih. Bukan pneumonia, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat (Anonim, 2002).

 

1.7.2. Tanda dan Gejala

Dalam pencegahan penyakit ISPA, kriteria untuk menggunakan pola tatalaksana penderita ISPA adalah balita, ditandai dengan adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai adanya peningkatan frekwensi napas (napas cepat) sesuai golongan umur. Dalam penentuan klasifikasi penyakit dibedakan atas dua kelompok yaitu umur kurang dari 2 bulan dan umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun.

Klasifikasi pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran pernapasan disertai napas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah kedalam (chest indrawing) pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Untuk kelompok umur kurang dari 2 bulan diagnosis pneumonia berat ditandai dengan adanya napas cepat (fast breathing) dimana frekwensi napas 60 kali permenit atau lebih, dan atau adanya tarikan yang kuat dinding dada bagian bawah ke dalam (severe chest indrawing).

Bukan pneumonia apabila ditandai dengan napas cepat tetapi tidak disertai tarikan dinding dada ke dalam. Bukan pneumonia mencakup kelompok penderita dengan batuk pilek biasa yang tidak ditemukan adanya gejala peningkatan frekuwensi napas dan tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah kedalam (Depkes, 2002). Ada beberapa tanda klinis yang dapat menyertai anak dengan batuk yang dikelompokkan sebagai tanda bahaya;

  1. Tanda dan gejala untuk golongan umur kurang dari 2 bulan yaitu tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor (ngorok), wheezing (bunyi napas), demam.
  2. Tanda dan gejala untuk golongan umur 2 bulan sampai kurang 5 tahun yaitu tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor.

 

 

 

1.7.3. Penyebab Terjadinya ISPA

Penyakit ISPA dapat disebabkan oleh berbagai penyebab seperti bakteri, virus, mycoplasma, jamur dan lain-lain. ISPA bagian atas umumnya disebabkan oleh virus, sedangkan ISPA bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri, virus dan mycoplasma. ISPA bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri umumnya mempunyai manifestasi klinis yang berat sehingga menimbulkan beberapa masalah dalam penanganannya.

Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus streptcocus, Stapilococcus, Pneumococcus, Hemofillus, Bordetella dan Corinebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain (Anonim, 2002).

 

1.7.4. Faktor Risiko ISPA

Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai negara termasuk Indonesia dan berbagai publikasi ilmiah, dilaporkan berbagai faktor baik untuk meningkatkan insiden (Morbiditas) maupun kematian (Mortalitas) akibat pneumonia (Anonim, 2003). Berbagai faktor risiko yang meningkatkan kematian akibat pneumonia adalah umur di bawah 2 bulan, tingkat sosial ekonomi rendah, gizi kurang, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, tingkat jangkauan pelayanan kesehatan rendah, imunisasi yang tidak memadai, menderita penyakit kronis dan aspek kepercayaan setempat dalam praktek pencarian pengobatan yang salah (Anonim, 2002).

 

1.7.5. Penatalaksanaan Penderita ISPA

Kriteria yang digunakan untuk pola tatalaksana penderita ISPA pada balita adalah balita dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernapas. Pola tata laksana penderita pneumonia tersebut terdiri dari 4 bagian yaitu;

  1. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengidentifikasi gejala yang ada pada penderita. Penentuan ada tidaknya tanda bahaya dapat dilihat pada bayi umur kurang dari 2 bulan adalah tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, Stridor, Wheezing, demam atau dingin. Tanda bahaya pada umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun adalah tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, Stridor dan gizi buruk (Anonim, 2002).
  2. Tindakan dan pengobatan pada penderita yang usianya kurang dari 2 bulan yang terdiagnosa pneumonia berat, harus segera dibawa ke sarana rujukan dan diberi antibiotik 1 dosis. Pada penderita umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun yang terdiagnosa pneumonia dapat dilakukan perawatan di rumah, pemberian antibiotik selama 5 hari, pengontrolan dalam 2 hari atau lebih cepat bila penderita memburuk, serta pengobatan demam dan yang ada (Anonim, 2002).

 

Penderita di rumah untuk penderita pneumonia umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun, meliputi;

  1. Pemberian makanan yang cukup selama sakit dan menambah jumlahnya setelah sembuh.
  2. Pemberian cairan dengan minum lebih banyak dan meningkatkan pemberian ASI.
  3. Pemberian obat pereda batuk dengan ramuan yang aman dan sederhana (Anonim, 2002).

 

Penderita umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun yang terdiagnosa pneumonia berat harus segera dikirim ke sarana rujukan, diberi antibiotik 1 dosis serta analgetik sebagai penurun demam dan wheezing yang ada (Anonim, 2002).

Penderita yang diberi antibiotik, pemeriksaan harus kembali dilakukan dalam 2 hari. Jika keadaan penderita membaik, pemberian antibiotik dapat diteruskan. Jika keadaan penderita tidak berubah, antibiotik harus diganti atau penderita dikirim ke sarana rujukan. Jika keadaan penderita memburuk, harus segera dikirim ke sarana rujukan (Anonim, 2002). Obat yang digunakan untuk penderita pneumonia adalah tablet kotrimoksasol 480 mg, tablet kotrimoksasol 120 mg, tablet parasetamol 500 mg dan tablet parasetamol 100 mg (Anonim, 2002).

 

1.8. Metode Penelitian

1.8.1 Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan struktural, yaitu berusaha mengumpulkan data yang didapatkan dari responden yaitu masyarakat wilayah Pukesmas Saree. Setelah data terkumpul data tersebut dianalisis dan dideskripsikan dan kemudian ditarik suatu kesimpulan.

            1.8.2 Teknik Pengumpulan Data

            Untuk mengumpulkan data yang diperlukan, penulis menggunakan teknik-teknik data sebagai berikut;

1.      Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan ini penulis lakukan sebelum mengadakan penelitian ke lapangan, guna memperdalam masalah lebih dahulu dan sebelum penulis adakan penelitian di lapangan selanjutnya mempedomani sumber-sumber teori yang dikemukakan para ahli yang ada hubungannya dengan masalah yang akan diteliti, sehingga penulis lebih mudah dalam menjalankan suatu penelitian. Adapun sumber yang diperlukan yaitu, yang berkenaan dengan peran orangtua dalam pencegahan ISPA pada balita.

 

2.      Angket

Angket yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan yang penulis lakukan terhadap para masyarakat wilayah Pukesmas Saree Aceh Besar. Pertanyaan dalam angket tersebut harus dijawab langsung oleh responden sebagai sampel dengan sistem pertanyaan yang dilengkapi dengan berberapa kemungkinan jawaban.

 

3.      Wawancara

Wawancara adalah suatu teknik yang penulis jalankan secara langsung dengan orangtua anak dan kepala pukesmas dan perawat pukesmas wilayah Saree, agar memperkuat penjelasan terhadap hasil angket. Selanjutnya mereka ini disebut informan.

 

1.8.1 Teknik Pengolahan dan Analisa Data

Tahapan-tahapan pengolahan dan analisis data adalah sebagai berikut;

  1. Mengumpulkan hasil angket dan wawancara,
  2. Membuat rekapitulasi dari keseluruhan hasil angket dan wawancara,
  3. Mengelompokkan hasil berdasarkan masing-masing sub variabel, dan
  4. Teknik analisa data dilakukan terhadap masing-masing sub variabel.

 

Untuk mengukur variabel dan sub variabel penelitian yaitu peran orangtua terhadap pencegahan kekambuhan ISPA pada balita di wilayah Pukesmas Saree. Namun terlebih dahulu dihitung skor total dari keseluruhan item pada setiap variabel dan sub variabel penelitian. Kemudian dari skor total tersebut dihitung persentase dengan menggunakan rumus;

Keterangan:

            F

P  = -------- X 100 %

            N

 

P          =  Persentase skor responden

X         = Skor total dari keseluruhan pada variable atau sub variable

                 penelitian

Xmaks = Skor total maksimum pada variable atau sub variable penelitian

 

Penentuan kategori masing-masing responden dilakukan pada setiap variabel dan sub variabel penelitian dengan kriteria sebagai berikut;

Baik                           : > 75 %

Cenderung baik         : 51 % - 75 %

Cenderung buruk       : 26 % - 50 %

Buruk                         : ≤ 25 %

 

 

 

 

Setelah dilakukan penentuan kategori setiap responden, kemudian dilakukan analisa deskriptif setiap variable/sub variable penelitian dengan menggunakan rumus presentase;

            F

P  = -------- X 100 %

            N

 

Keterangan:

P          :  Persentase

X         :  Skor jawaban tiap kriteria

N         : Jumlah responden

 

Kemudian hasil perhitungan frekuensi responden dalam persentase diinterpretasikan sebagai berikut;

0 %                = Tidak seorangpun responden

1% - 19%       = Sangat sedikit responden

20% - 39%     = Sebagian kecil responden 15

40% - 59%     = Setengahnya reponden

60% - 79%     = Sebagian besar responden

80% - 99%     = Hampir seluruh responden

100%             = Seluruh responden

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2002. Pedoman Pemerantasan Penyakit ISPA untuk Penanggulangan Pnemonia pada Balita, Jakarta: Dit. Jen. PPM-PLP

 

----------. 2004. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta: Depkes R.I.

 

-----------. 2007. Profil Kesehatan di Indonesia. Jakarta: Depkes R.I.

 

-----------.2008. Profil Kesehatan di Indonesia, Jakarta: Depkes R.I.

 

Depkes R.I. 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut untuk Penanggulangan Pnemonia pada Balita, Jakarta: Dijen PPM-PLP

 

Justin. 2006. Hubungan Sanitasi Rumah Tinggal dengan Kejadian Penyakit Pneumonia, Kendari: Unhalu

 

WHO. 2007. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang Cenderung menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan; peddoman intern WHO.

 

W.J.S. Poerwadarmita. 2006. Kamus Besar Bahasa Indoensia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

 

Komentar

Postingan Populer