PERAN ORANGTUA DALAM PENCEGAHAN ISPA DENGAN KEKAMBUHAN PADA BALITA
HUBUNGAN PERAN ORANGTUA DALAM PENCEGAHAN INSPEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT
(ISPA) DENGAN KEKAMBUHAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT PADA BALITA
DI
PUKESMAS SAREE ACEH BESAR
1. 1 Latar Belakang Masalah
Tulisan ini beranjak dari asumsi bahwa, sebagai seorang ibu, memberi perlindungan, perawatan, pemeliharaan dengan
sungguh pada bayi sudah menjadi bagian yang tidak bisa dihilangkan dari seorang
perempuan dan tugas inipun telah menjadi suatu peran sebagai seorang ibu terhadap
balita. Penciptaannya yang memiliki perasaan halus dan peka terhadap sentuhan
bayi sudah tergaris dari sejak penciptaan manusia itu sendiri dan hal ini telah
dianggap sebagai suatu kelebihan yang dimiliki oleh perempuan. Initnya adalah,
seorang ibu memiliki peran penting terhadap perawatan sekaligus perlindungan
pada bayi yang turut dibantu oleh laki-laki.
Perlindungan dan perawatan ini tidak hanya sekedar memberi makan, minum
atau juga memandikan bayi, namun lebih dari itu menjaganya agar terhindar atau
tidak gampang sakit, menjadi suatu tugas utama yang mesti diperankan oleh
seorang ibu pada anaknya dengan hati-hati, penuh kesungguhan dan keseriusan. Di
samping itu, tugas yang dilakukan oleh seorang ibu yang dibantu oleh laki-laki
(suami) terhadap anaknya yang masih balita menjadi hak penuh yang melekat pada
setiap bayi, yang sama sekali tidak boleh diabaikan oleh orangtua. Memberi
perlindungan yang benar, menjaga dengan kehati-hatian, pada akhirnya anak bisa
tumbuh dan berkembang secara sehat dan sempurna tanpa ada resiko yang mengarah
pada penyakit.
Sebagai balita, aspek mental, fisik dan ketahanan daya tahan tubuh tentu
saja masih sangat lemah, sentuhan dan perawatan yang penuh hati-hati,
benar-benar sangat ditekankan. Bila pemeliharaan dan perlindungan kurang serius
dan kurang kehati-hatian, akan mudah berdampak hal-hal yang fatal pada bayi,
seperti terjadinya ketidak seimbangan pertumbuhan dengan gizi, berat badan
menurun, diare, bahkan gangguan pada saluran pernafasan atau sering disebut infeksi
saluran pernafasan akut (ispa).
Perlu diketahui bahwa, penyakit infeksi seperti, kurang gizi, diare, infeksi
telinga, radang tenggorokan, tetanus, merupakan salah satu penyebab umum kematian
balita di kebanyakan negara, termasuk di Indonesia. Lebih hebat lagi adalah infeksi
pada saluran pernafasan akut (ISPA), di mana Raharjoe dalam WHO (2008: 14)
mengatakan bahwa kasus ini adalah kasus yang paling tinggi, mencapai 50% dari
seluruh penyakit pada anak berusia di bawah 5 tahun, dari 50% ini 30%
terjadi pada anak usia 5-12 tahun (WHO, 2007: 9).
Penyakit ini merupakan infeksi yang berawal dari saluran pernapasan hidung,
tenggorokan, laring, trakea, bronchi dan alveoli. Pengertian ISPA ini dapat
dikatakan sebagai penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan
atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli
(saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga
tengah dan pleura. (Anonim, 2002: 3). Dapat dikatakan bahwa ISPA merupakan
salah satu alasan yang umum digunakan untuk morbiditas pada anak. Kematian
akibat penyakit ISPA telah
tumbuh dan antimikrobanya sangat kuat sehingga perawatan kesehatan mendorong
mayoritas anak-anak harus rawat inap (Anonim, 2007: 23). Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari,
yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian, dan atau
lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran
bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga
telinga tengah dan pleura (Anonim, 2007: 12).
Sebagai
upaya untuk mewujudkan visi Indonesia sehat 2010, pemerintah telah menyusun
berbagai program pembangunan dalam bidang kesehatan antara lain kegiatan
pemberantasan Penyakit Menular (P2M) baik yang bersifat promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif di semua aspek lingkungan kegiatan pelayanan
kesehatan. Program ini diharapkan tidak bersifat kuratif namun lebih
pada sifatnya pencegahan dengan upaya-upaya tepat.
World
Health Organization (WHO) memperkirakan insidens Infeksi Saluran Pernapasan
Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per
1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Menurut
WHO ± 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di
Negara berkembang, dimana pneumonia merupakan salah satu penyebab utama
kematian dengan membunuh ± 4 juta anak balita setiap tahun (Depkes, 2002: 15).
Di
Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan
pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga
sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei
mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan
ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan
persentase 22,30% dari seluruh kematian balita (Anonim, 2008: 23).
Gejala awal yang timbul biasanya berupa batuk pilek, yang kemudian diikuti
dengan napas cepat dan napas sesak. Pada tingkat yang lebih berat terjadi
kesukaran bernapas, tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun dan meninggal
bila tidak segera diobati. Usia Balita adalah kelompok yang paling
rentan dengan infeksi saluran pernapasan. Kenyataannya bahwa angka morbiditas
dan mortalitas akibat ISPA, masih tinggi pada balita di negara
berkembang.
Kondisi ini juga dirasakan oleh masyarakat Saree Aceh Besar. Berdasarkan
hasil sementara yang diperoleh bahwa, untuk tahun 2011, ISPA telah mengindap
hampir 13 balita di Saree. Yang rentan terjadi adalah penyakit ISPA ringan dan
bila ISPA berat diharuskan untuk inap di Pukesmas Saree. Penyakit infeksi ini,
pada tahun sebelumnya juga sudah dihebohkan, berbagai upaya penanggulan
dilakukan, namun memasuki tahun 2011, ISPA ini didapatkan lagi oleh penderita
yang sama pada tahun sebelumnya.
Mengingat infeksi pada jantung bisa mengakibatkan kejadian fatal, orangtua
memang dituntut lebih peka terhadap gelaja infeksi ini, agar tidak berubah
menjadi ISPA yang positif, artinya sebelum ISPA menjadi positif, orangtua
diharapkan harus lebih tanggap dan mengenali secara baik terhadap gejala yang
ditimbulkan oleh infeksi ini, intinya kekurangan peran orangtua menjadi faktor
utama infeksi terjadi pada bayi. Bila orangtua kurang tanggap terhadap beberapa
pengalaman yang ada, kecil kemungkinan infeksi bisa dicegah terhadap gejala
yang dirasakan pada balita. Bahkan besar kemungkinan ISPA ini bisa
mengakibatkan kekambuhan yang berturut-turut. Sebagai orangtua anak, hal ini
memang harus dipelajari lebih banyak, sehingga gejala awal pada bayi menjadi
mudah untuk diketahui, pertolongan lebih cepat diberikan tanpa harus merasa
khawatir berat. Selain itu, bila ISPA ini telah diketahui banyak oleh orangtua,
kekambuhanpun bisa diatasi dengan baik.
Agar persoalan di atas dapat diketahui lebih dekat sekaligus dapat
diketahui peran orangtua agar tidak terjadi kekambuhan ISPA pada balita, maka
perlu dikaji secara sistematis. Maka itu, penelitian ini diberi judul; Hubungan peran orangtua dalam pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan
Akut (ISPA) dengan kekambuhan infeksi saluran pernafasan akut pada balita di Pukesmas
Saree Aceh Besar.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu; apakah ada hubungan antara
peran orangtua terhadap pencegahan kekambuhan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada
balita di wilayah kerja Pukesmas Saree Aceh Besar?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan umum
Untuk
mengetahui hubungan antara peran orang tua terhadap pencegahan kekambuhan Infeksi Saluran Pernafasan Akut
pada balita di wilayah kerja Pukesmas Saree Aceh Besar.
1.3.2. Tujuan khusus
a.
Untuk
mengetahui tingkat pengetahuan orang tua tentang Infeksi Saluran Pernapasan
Akut Pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Saree Aceh Besar.
b.
Untuk
mengetahui peran orang tua tentang Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita di
wilayah kerja Puskesmas Saree Aceh Besar.
c.
Untuk
mengetahui upaya pencegahan kekambuhan oleh orang tua terhadap Infeksi Saluran
Pernapasan Akut Pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Saree Aceh Besar.
d.
Untuk
mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan upaya pencegahan kekambuhan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Saree
Aceh Besar.
e.
Untuk
mengetahui hubungan antara peran dengan upaya pencegahan kekambuhan Infeksi
Saluran Pernapasan Akut Pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Saree Aceh
Besar.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wacana keilmuan
terutama dalam bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat.
1.4.2. Bagi peneliti
a.
Sebagai
suatu pengalaman belajar dalam kegiatan penelitian.
b.
Memperoleh
pengalaman dan peningkatan wawasan tentang pengetahuan, sikap dengan upaya
pencegahan kekambuhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita di wilayah
kerja puskesmas Saree Aceh Besar.
1.4.3. Bagi masyarakat
a.
Memberi
informasi tentang penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut.
b.
Memberikan
pemahaman kepada masyarakat untuk lebih mengerti tentang cara penanganan
penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut.
1.5.
Ruang Lingkup Penelitian
Adapun ruang lingkup penelitian
ini adalah, Hubungan peran orangtua dalam pencegahan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dengan kekambuhan Infeksi Saluran Pernafasan
Akut pada Balita di Pukesmas Saree Aceh Besar
1.6. Defenisi Operasional
1.6.1. Peran
Poerwadarminta (2006:733) mengatakan bahwa “Peranan sebagai suatu yang
menjadikan bagian atau yang menentukan sesuatu”. Pengertian tersebut memiliki
obyek yang bersifat umum artinya tidak hanya terfokus terhadap unsur
manusianya, tetapi terdapat juga diluar unsur manusia.
Peranan adalah perilaku yang diharapkan untuk dilakukan seseorang, lembaga
organisasi yang mempunyai status dan kedudukan tertentu di masyarakat, lembaga
kenegaraan, serta organisasi politik dan kemasyarakatan. Peranan merupakan
suatu bagian yang menentukan, berfungsi serta melakukan baik berbentuk tingkah
laku maupun perlakuan sesuatu yang baik yang dilakukan oleh manusia maupun
lembaga dan organisasi kemasyarakatan secara efektif dan efesien untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
1.6.2. Orangtua
Secara
umum yang dimadsud dengan orang tua adalah orang yang melahirkan dan
mempunyai tanggung jawab, mengurus, membimbing, mendidik dan meletakkan
dasar-dasar akhlaq kepada seorang anak dari hasil sebuah perkawinan. Sebagai
orang tua mempunyai banyak tanggung jawab dalam mendidik dan membimbing serta
membina anak agar tumbuh dan berkmbang sebagai manusia yang sempurna baik lahiriah maupun bathiniah.
Hakekat orang tua dalam tulisan ini
adalah orang yang melahirkan seseorang anak atau ayah dan ibu seseorang anak yang memiliki tanggung
jawab memdidik dan membina anak menjadi manusia yang memiliki pengetahuan sikap
dan ketrampilan serta menjadi manusia yang baik sesuai dengan tuntunan agama
yang dianutnya.
1.6.3. Pencegahan
Infeksi
Pencegahan infeksi
merupakan serangkaian upaya yang dilakukan oleh orangtua terhadap sesuatu
penularan atau pembengkakan, atau tepatnya adalah usaha yang dilakukan oleh
seseorang terhadap kekambuhan ISPA pada
balita. Pencegahan infeksi dapat juga diartikan sebagai upaya menghalangi masuknya Mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga
menimbulkan penyakit (Justin, 2006).
Pencegahan infeksi
tersebut seperti;
1.
Mengusahakan
agar anak memperoleh gizi yang baik, diantaranya dengan cara memberikan makanan
kepada anak yang mengandung cukup gizi.
2.
Memberikan
imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan tubuh terhadap penyakit
baik.
3.
Menjaga
kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap bersih.
4.
Mencegah
anak berhubungan dengan klien ISPA. Salah satu cara adalah memakai penutup
hidung dan mulut bila kontak langsung dengan anggota keluarga atau orang yang
sedang menderita penyakit ISPA.
1.6.4. Infeksi
Saluran Pernafsan Akut (ISPA)
Istilah ISPA
merupakan singkatan dari Infeksi Saluran pernapasan Akut dengan pengertian
sebagai berikut: Infeksi adalah masuknya Mikroorganisme
ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan penyakit.
Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga Alveoli beserta organ Adneksanya seperti sinus, rongga telinga
tengah dan pleura. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan
14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk
beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA, proses ini dapat
berlangsung lebih dari 14 hari. Sedangkan Pneumonia
adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (Alveoli). Terjadi pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut
pada Bronkus disebut Broncho pneumonia
(Justin, 2006).
1.7. Landasan Teoritis
1.7.1. Klasifikasi penyakit
Penyakit ISPA dibedakan berdasarkan golongan umur, yaitu;
- Kelompok
umur kurang dari 2 bulan, dibagi atas; pneumonia berat dan bukan pneumonia.
Pneumonia berat ditandai dengan adanya napas cepat (Fast
breathing), yaitu frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau
lebih. Selain itu, adanya tarikan kuat pada dinding dada bagian bawah ke
dalam (Severe chest indrawing), sedangkan bukan pneumonia
bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada nafas
cepat (Anonim, 2002).
- Kelompok
umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun dibagi atas; pnemonia
berat, pnemonia dan bukan pnemonia. Pneumonia berat,
bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah
ke dalam pada waktu anak menarik napas. Pneumonia didasarkan pada
adanya batuk dan atau kesukaran bernapas disertai adanya napas cepat
sesuai umur, yaitu 40 detak permenit atau lebih. Bukan pneumonia,
bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas
cepat (Anonim, 2002).
1.7.2. Tanda dan Gejala
Dalam pencegahan penyakit ISPA, kriteria untuk menggunakan pola tatalaksana
penderita ISPA adalah balita, ditandai dengan adanya batuk dan atau kesukaran bernapas
disertai adanya peningkatan frekwensi napas (napas cepat) sesuai golongan umur.
Dalam penentuan klasifikasi penyakit dibedakan atas dua kelompok yaitu umur
kurang dari 2 bulan dan umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun.
Klasifikasi pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran
pernapasan disertai napas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah kedalam
(chest indrawing) pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun.
Untuk kelompok umur kurang dari 2 bulan diagnosis pneumonia berat ditandai
dengan adanya napas cepat (fast breathing) dimana frekwensi napas 60
kali permenit atau lebih, dan atau adanya tarikan yang kuat dinding dada bagian
bawah ke dalam (severe chest indrawing).
Bukan pneumonia apabila ditandai dengan napas cepat tetapi tidak disertai
tarikan dinding dada ke dalam. Bukan pneumonia mencakup kelompok penderita
dengan batuk pilek biasa yang tidak ditemukan adanya gejala peningkatan
frekuwensi napas dan tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah kedalam
(Depkes, 2002). Ada beberapa tanda klinis yang dapat menyertai anak dengan
batuk yang dikelompokkan sebagai tanda bahaya;
- Tanda
dan gejala untuk golongan umur kurang dari 2 bulan yaitu tidak bisa minum,
kejang, kesadaran menurun, stridor (ngorok), wheezing (bunyi napas),
demam.
- Tanda
dan gejala untuk golongan umur 2 bulan sampai kurang 5 tahun yaitu tidak
bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor.
1.7.3. Penyebab Terjadinya ISPA
Penyakit ISPA dapat disebabkan oleh berbagai penyebab seperti bakteri,
virus, mycoplasma, jamur dan lain-lain. ISPA bagian atas umumnya
disebabkan oleh virus, sedangkan ISPA bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri,
virus dan mycoplasma. ISPA bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri
umumnya mempunyai manifestasi klinis yang berat sehingga menimbulkan beberapa
masalah dalam penanganannya.
Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus streptcocus,
Stapilococcus, Pneumococcus, Hemofillus, Bordetella dan Corinebacterium.
Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus,
Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain (Anonim,
2002).
1.7.4. Faktor Risiko ISPA
Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai negara termasuk Indonesia dan
berbagai publikasi ilmiah, dilaporkan berbagai faktor baik untuk meningkatkan
insiden (Morbiditas) maupun kematian (Mortalitas) akibat
pneumonia (Anonim, 2003). Berbagai faktor risiko yang meningkatkan kematian
akibat pneumonia adalah umur di bawah 2 bulan, tingkat sosial ekonomi
rendah, gizi kurang, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah,
tingkat jangkauan pelayanan kesehatan rendah, imunisasi yang tidak memadai,
menderita penyakit kronis dan aspek kepercayaan setempat dalam praktek
pencarian pengobatan yang salah (Anonim, 2002).
1.7.5. Penatalaksanaan Penderita ISPA
Kriteria yang digunakan untuk pola tatalaksana penderita ISPA pada balita
adalah balita dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernapas. Pola tata
laksana penderita pneumonia tersebut terdiri dari 4 bagian yaitu;
- Pemeriksaan
yang dilakukan untuk mengidentifikasi gejala yang ada pada penderita. Penentuan
ada tidaknya tanda bahaya dapat dilihat pada bayi umur kurang dari 2 bulan
adalah tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, Stridor, Wheezing,
demam atau dingin. Tanda bahaya pada umur 2 bulan sampai kurang dari 5
tahun adalah tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, Stridor dan
gizi buruk (Anonim, 2002).
- Tindakan
dan pengobatan pada penderita yang usianya kurang dari 2 bulan yang
terdiagnosa pneumonia berat, harus segera dibawa ke sarana rujukan
dan diberi antibiotik 1 dosis. Pada penderita umur 2 bulan sampai kurang
dari 5 tahun yang terdiagnosa pneumonia dapat dilakukan perawatan
di rumah, pemberian antibiotik selama 5 hari, pengontrolan dalam 2 hari
atau lebih cepat bila penderita memburuk, serta pengobatan demam dan yang
ada (Anonim, 2002).
Penderita di rumah untuk penderita pneumonia umur 2 bulan sampai
kurang dari 5 tahun, meliputi;
- Pemberian
makanan yang cukup selama sakit dan menambah jumlahnya setelah sembuh.
- Pemberian
cairan dengan minum lebih banyak dan meningkatkan pemberian ASI.
- Pemberian
obat pereda batuk dengan ramuan yang aman dan sederhana (Anonim, 2002).
Penderita umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun yang terdiagnosa pneumonia
berat harus segera dikirim ke sarana rujukan, diberi antibiotik 1 dosis serta
analgetik sebagai penurun demam dan wheezing yang ada (Anonim, 2002).
Penderita yang
diberi antibiotik, pemeriksaan harus kembali dilakukan dalam 2 hari. Jika
keadaan penderita membaik, pemberian antibiotik dapat diteruskan. Jika keadaan
penderita tidak berubah, antibiotik harus diganti atau penderita dikirim ke
sarana rujukan. Jika keadaan penderita memburuk, harus segera dikirim ke sarana
rujukan (Anonim, 2002). Obat yang digunakan untuk penderita pneumonia adalah
tablet kotrimoksasol 480 mg, tablet kotrimoksasol 120 mg, tablet
parasetamol 500 mg dan tablet parasetamol 100 mg (Anonim, 2002).
1.8. Metode Penelitian
1.8.1 Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan struktural, yaitu berusaha
mengumpulkan data yang didapatkan dari responden yaitu masyarakat wilayah
Pukesmas Saree. Setelah data terkumpul data tersebut dianalisis dan
dideskripsikan dan kemudian ditarik suatu kesimpulan.
1.8.2
Teknik Pengumpulan Data
Untuk
mengumpulkan data yang diperlukan, penulis menggunakan teknik-teknik data
sebagai berikut;
1.
Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan ini penulis lakukan sebelum mengadakan
penelitian ke lapangan, guna memperdalam masalah lebih dahulu dan sebelum
penulis adakan penelitian di lapangan selanjutnya mempedomani sumber-sumber
teori yang dikemukakan para ahli yang ada hubungannya dengan masalah yang akan
diteliti, sehingga penulis lebih mudah dalam menjalankan suatu penelitian. Adapun sumber yang diperlukan yaitu, yang berkenaan
dengan peran orangtua dalam pencegahan ISPA pada balita.
2.
Angket
Angket yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan yang penulis
lakukan terhadap para masyarakat wilayah Pukesmas Saree Aceh Besar. Pertanyaan dalam angket tersebut harus dijawab langsung
oleh responden sebagai sampel dengan sistem pertanyaan yang dilengkapi dengan
berberapa kemungkinan jawaban.
3.
Wawancara
Wawancara adalah suatu teknik yang penulis jalankan secara
langsung dengan orangtua anak dan kepala pukesmas dan perawat pukesmas wilayah
Saree, agar memperkuat penjelasan terhadap hasil angket. Selanjutnya mereka ini
disebut informan.
1.8.1 Teknik
Pengolahan dan Analisa Data
Tahapan-tahapan
pengolahan dan analisis data adalah sebagai berikut;
- Mengumpulkan hasil angket dan wawancara,
- Membuat rekapitulasi dari keseluruhan hasil
angket dan wawancara,
- Mengelompokkan hasil berdasarkan
masing-masing sub variabel, dan
- Teknik analisa data dilakukan terhadap
masing-masing sub variabel.
Untuk mengukur variabel dan sub variabel
penelitian yaitu peran orangtua terhadap pencegahan kekambuhan ISPA pada balita
di wilayah Pukesmas Saree. Namun terlebih dahulu dihitung skor total dari
keseluruhan item pada setiap variabel dan sub variabel penelitian. Kemudian
dari skor total tersebut dihitung persentase dengan menggunakan rumus;
Keterangan:
F
P = -------- X 100 %
N
P =
Persentase skor responden
X
= Skor total dari keseluruhan pada variable atau sub variable
penelitian
Xmaks =
Skor total maksimum pada variable atau sub variable penelitian
Penentuan kategori masing-masing responden
dilakukan pada setiap variabel dan sub variabel penelitian dengan kriteria
sebagai berikut;
Baik :
> 75 %
Cenderung baik :
51 % - 75 %
Cenderung buruk :
26 % - 50 %
Buruk :
≤ 25 %
Setelah dilakukan penentuan kategori setiap
responden, kemudian dilakukan analisa deskriptif setiap variable/sub variable
penelitian dengan menggunakan rumus presentase;
F
P = -------- X 100 %
N
Keterangan:
P :
Persentase
X :
Skor jawaban tiap kriteria
N
: Jumlah responden
Kemudian hasil perhitungan frekuensi responden
dalam persentase diinterpretasikan sebagai berikut;
0 % =
Tidak seorangpun responden
1% - 19% =
Sangat sedikit responden
20% - 39% =
Sebagian kecil responden 15
40% - 59% =
Setengahnya reponden
60% - 79% =
Sebagian besar responden
80% - 99% =
Hampir seluruh responden
100% = Seluruh
responden
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2002. Pedoman Pemerantasan Penyakit ISPA untuk Penanggulangan
Pnemonia pada Balita, Jakarta: Dit. Jen. PPM-PLP
----------. 2004. Sistem Kesehatan
Nasional. Jakarta: Depkes R.I.
-----------. 2007. Profil Kesehatan di Indonesia. Jakarta: Depkes
R.I.
-----------.2008. Profil Kesehatan di Indonesia, Jakarta: Depkes
R.I.
Depkes R.I. 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran
Pernafasan Akut untuk Penanggulangan Pnemonia pada Balita, Jakarta: Dijen
PPM-PLP
Justin. 2006. Hubungan Sanitasi Rumah Tinggal dengan Kejadian Penyakit
Pneumonia, Kendari: Unhalu
WHO. 2007. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut
(ISPA) yang Cenderung menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan; peddoman intern WHO.
W.J.S. Poerwadarmita. 2006. Kamus Besar Bahasa Indoensia. Jakarta:
Balai Pustaka.

Komentar
Posting Komentar
Komentar