Komunikasi Terapeutik dengan Tingkat Kecemasan di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Ibu yang menghadapi persalinan
pasti akan mengalami kecemasan, hampir
semua ibu bersalin memberi respon terhadap penyakit dan hospitalisasi
dengan reaksi berlebihan biasanya mereka bereaksi dengan kemarahan. Seorang
promigravida yang pertama kali mengalami persalina cenderung mengalami
kecemasan terhadap suatu hal baru yang akan dialaminya. Bahaya cemas yang dihadapi ibu bersalin di
antaranya takut bayi cacat. Takut harus operasi dan takut persalinannya lama.
Sakit dan hospitalisasi
menimbulkan krisis pada kehidupan ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Sigli. Ibu bersalin harus menghadapi lingkungan
yang asing. Sebagai tenaga profesional, perawat dan bidan menggunakan
pendekatan pemecahan masalah dalam memberikan asuhan. Seringkali mereka (ibu bersalin) harus mengalami
prosedur yang menimbulkan nyeri. Pada tahap inikomunikasi memegang peranan yang
sangat penting untuk mendapatkan data Subjektif (Hamid, A.Y. 1996)
Penelitian tentang kecemasan
terdiri dari 4 tingkat kecemasan ibu bersalin yang mengalami bospitalisasi yang
di lakukan oleh keumala ( 2009) di rumah sakit umum Sigli menunjukkan bahwa
cemas riligan 11,1 %,cemas sedang 60%,cemas berat 28,9%,pada kecemasan katagori
tingkat panic tidak di temukan.
|
Berdasarkan hasil penelitian
yang di lakukan di rumah sakit umum Sigli menunjukkan bahwa penggunaan
komunikasi terapeutik yang digunakan oleh bidan berada pada katagori baik
16,7%, sedang 70%, kurang l3,3% jadi dapat di simpulkan bahwa penggunaan
komunikasi terapeutik oleh bidan di rumah sakit umum Sigli belum efektif .hal
tersebut dapat menyebabkan ibu cemas,marah dan panic saat menghadapi proses
persalinan.
Berdasarkan data yang didapat
di rRumah Sakit Umum Sigli setiap tahunnya jumlah ibu bersalin mencapai 154
orang terhitung sejak agustus 2010 sampai dengan 2011. Berdasarkan hasil
penelitian dimana penggunaan hasil komunikasi terapeutik belum efektif 100% digunakan
oleh perawat dan bidan sehingga terdapatnya 50% kecemasan ibu yang akan
bersalin di rumah sakit umum sigli..... maka peneliti tertarik untuk mengetahui
hubungan antara komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan ibu di ruang
bersalin Rumah Sakit Umum Sigli.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
permasalahan di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah : “Apakah ada
hubungan antara komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan di ruang
bersalin Rumah Sakit Umum Sigli tahun 2011”
C.
Tujuan Penulisan
- Tujuan Umum
Untuk mendapatkan
gambaran anatara hubungan komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan ibu
bersalin yang berada di Rumah Sakit Umum Sigli Tahun 2011.
- Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui penggunaan komnunikasi
terapeutik oleh perawat atau bidan dalam berkomunikasi dengan perawat/bidan
dalam berkomunikasi dengan ibu bersalin yang di rawat di runiah sakit umum Sigli
tahun 2011.
b. Untuk mengetahui tingkat kecemasan ibu
bersalin yang di rawat di rumah sakit umum Sigli tahun 2011.
c. Untuk mengetahuai hubungan komunikasi
teurapetik dengan tingkat kecemasan ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Sigli
D. Manfaat Penelitian
- Peneliti
Dapat
menambah pengetahuan penuhis tentang sejauh mana hubungan antara komunikasi
terapeutik dengan tingkat kecemasan ibu bersalin yang di rawat di R rmah Sakit
Umum Sigli tahun 2011.
2.
Institusi tempat penelitian di lakukan
Sebagai
masukan kepada pihak rumah sakit khususnya dalam hal pelaksanaan komunikasi terapeutik pada ibu
bersalin yang mengalami hospitalisasi.
3.
Institusi Pendidikan
Dapat
menjadi masukan dalam pengembangan ilmu, khususnya tentang pentingnya penerapan
komunikasi terapeutik dalam asuhan kebidanan ibu bersalin.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.
Komunikasi Terapeutik
- Pengertian
Menurut Stuar & Sundeen
(dikutip Hamid, 1996) komunikasi terapetik adalah cara untuk membina hubungan
yang terapeutik yang diperlukan untuk pertukaran informasi dan perasaan.
Komunikasi terapeutik juga mempengaruhi perilaku orang lain, mengingat
intervensi keperawatan tergantung pada proses komunikasi.
Bidan yang menguasai teknik
ini akan mencapai tujuan asuhan dengan efektif.hal ini terjadi karena dengan
memiliki keterampilan berkomunikasi terapeutik bidan akan lebih mudah menjalin
hubungan saling percaya dengan klien (lay dan Larson 1996).
Komunikasi suatu proses
pertukaran infomiasi atau proses pemberian arti sesuatu ( Taylor, 1993). Komunikasi
terapetik berarti suatu proses penyampaian nasehat kepada pasien untuk
mendukung upaya penyembuhan, ( Depkes R.I. 1993).
Hubungan Terapeutik antara
bidan dengan klien adalah hubungan kerja sama yang ditandai dengan tukar
menukar prilaku, perasaan, pikiran, dan pengalaman dalam membma hubungan intim
yang terapeutik.
|
- Tujuan Komunikasi Teurapetik
Tujuan komunikasi teurapeutik
adalah membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasan dan pikiran. Tujuan
komunikasi terapeutik akan tercapai bila dalam melakukan “Helping Relationship”. Bidan memiliki karakteristik sebagai
berikut (stuart dan sundeen, 1987):
a.
Kesadaran
diri terhadap nilai yang dianut, bidan harus mampu menjelaskan tentang dirinya
sendiri, keyakinannya. Apa yang menurutnya penting dalam kehidupamiya, setelah
itu barulah ia mampu menolong orang lain menjawab pertanyaan tentang hal-hal
tersebut.
b.
Kemampuan
untuk menganalisis perasaannya sendiri. Bidan secara bertahap belajar mengenal
dan mengatasi berbagai perasaan yang dialaminya seperti rasa malu, marah,
kecewa, dan putus asa.
c.
Kemampuan
menjadi contoh peran. Bidan sebaiknya mempunyai pola dan gaya hidup yang sehat,
termasuk kemampuannya menjaga kesehatan agar dapat dicontoh oleh orang lain.
d.
Altruistik.
Bidan merasakan kepuasan karena mampu menolong orang lain secara manusiawi.
e.
Rasa
tanggung jawab etik dan moral. Dimensi tanggung jawab perlu diperhatikan yaitu
tanggung jawab terhadap tindakan sendiri dan berbagi dengan orang lain.
- Proses Komunikasi Tenrapeutik Yang
Efektif
Proses komunikasi yang efektif
antara bidan dengan klien dapat di bagi dalam empat fase. fase-fase tersebut
adalah:
a. Fase pra interaksi
Dimulai sebelum kontak pertama
dengan klien
b. Fase orientasi
Pada fase ini bidan dank lien
mengeksplorasi stressor yang tepat dan mendukung perkembangan kesadaran diri dengan
menghubungkan persepsi, pikiran, perasaan, dan perbuatan klien.
c. Fase terminasi
Merupakan fase yang sangat
sulit dan penting dan hubungan terapeutik karena hubungan saling percaya dan
hubungan intim yang terapeutik sudah terbina dan berada pada tingkat optimal.
- Jenis Jenis Komunikasi Tenrapeutik
Menurut Stuart dan Sundeen
(1998) ada beberapa macam komunikasi terapeutik yang ditujukan oleh klien:
a. Mendengarkan dengan penuh perhatian. Dalam
hal ini, bidan berusaha mengerti klien dengan cara mendengarkan masalah yang
disampaikan klien. Satu-satunya
orang yang dapat menceritakan perasaan, pikiran dan persepsi klien kepada bidan
adalah klien itu sendiri.
b. Menunjukkan penerimaan. Artinya menerima
adalah mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukkan
ketertarikan dan tidak menilai. Menerima bukan berarti menyetujui, menerima
berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau
ketidak setujuan. Bidan harus waspada terhadap ekspresi wajah dan gerakan tubuh
yang menyatakan tidak setuju seperti mengerutkan kening atau menggeleng yang
menyatakan tidak percaya.
c. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan.
Tujuan bidan bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai
masalah yang disampaikan klien. Oleh karena itu, pertanyaan sebaiknya dikaitkan
dengan topic yang dibicarakan dan gunakan
kata-kata yang sesuai dengan konteks sosial budaya klien.
d. Mengulang ucapan klien dengan kata-kata
sendiri. Melalui pengulangan kata-kata klien, bidan memberikan umpan balik
bahwa Ia mengerti pesan klien dan berharap komunikasi dilanjutkan.
e. Mengklarifikasi. Kiarifikasi terjadi
ketika bidan berusaha menjelaskan dalam kata-kata mengenai atau pikiran yang
tidak jelas dikatakan oleh klien. Tujuan dan teknik ini untuk menyamakan
pengertian.
f. Memfokuskan. Metode ini bertujuan untuk
membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan
lebih mengerti. Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ini adalah
usahakan untuk tidak memutuskan pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah
yang penting.
g. Menyatakan hasil observasi. Bidan harus
memberikan umpan balik ketika klien dengan menyatakan hasil pengamatannya
sehingga klien dapat menguraikan apakah perasaannya diterima atau tidak. Dalam
hal ini bidan menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh isyarat nonverbal. Teknik
ini sering kali membaut klien berkomunikasi lebih jelas tanpa bidan yang harus
bertanya, memfokuskan dan mengklarifikasi pesan.
h. Menawarkan informasi. Memberikan tambahan
informasi merupakan tindakan penyuluhan pada klien. Bidan tidak dibenarkan
memberikan nasihat kepada klien ketika memberikan informasi karena tujuan
tindakan ini adalah menfasilitasi Mien untuk mengambil keputusan.
i. Diam. Diam memberikan kesempatan kepada bidan dan klien untuk mengorganisasikan pikirannya. Penggunaan metode ini memerlukan keterampilan ketepatan waktu, jika tidak akan menimbulkan perasaan tidak enak. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya, mengorganisasi pikiran dan memproses informasi. Diam terutama berguna pada saat klien harus mengambil keputusan.
j.
Meringkas.
Meringkas adalah pengulangan ide utama yang telah di komunikasikan secara
singkat. Metode ini bermanfaat membantu mengingat topik yang dibahas sebelum
meneruskan pembicaraan berikutnya.
k. Memberikan penghargaan. Penghargaan jangan
sampai menjadi beban untuk klien, dalam arti jangan sampai klien berusaha keras
dan melakukan segala untuk mendapatkan pujian atau persetujuan atas
perbuatannya.
l.
Menawarkan
diri. Menyelesaikan diri tanpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan.
m. Memberikan kesempatan kepada klien untuk
memulai pembicaraannya. Memberi kesempatan kepada klien untuk berinisiatif
dalam memilih topik pembicaraan. Untuk klien yang merasa ragu-ragu dan tidak
pasti tentang perannya dalam interaksi, bidan dapat merangsang untuk mengambil
inisiatif dan merasakan bahwa ia diharapkan untuk membuka pembicaraan.
n. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan.
Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh
pembicaraan. Teknik ini juga mengindikasikan bahwa bidan mengikuti apa yang
sedang dibicarakan dan tertarik apa yang dibicarakan selanjutnya.
o. Menempatkan kejadian dan waktu secara
berurutan. Menguraikan kejadian secara teratur akan membantu bidan dan klien
untuk melihatnya dalam suatu perspektif. Kelanjutan suatu kejadian akan
menuntun bidan dan klien untuk melihat kejadian sebelumnya.
p. Menganjurkan klien untuk menguraikan
persepsi. Apabila ingin mengerti klien, bidan harus melihat segala sesuatunya
dari perspektif klien. Klien harus merasa bebas untuk menguraikan persepsinya
kepada bidan.
q. Perenungan. Perenungan memberikan
kesempatan kepada klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya
sebagai bagian dari dirinya sendiri.
B.
Cemas
- Pengertian
Cemas/anxietes
merupakan keprihatinan yang lama dan tidak jelas, yang berhubungan dengan
perasaan yang tidak menentu dan tidak berdaya. Juga adanya perasaan terisolasi,
terasing dan rasa tidak aman. Cemas adalah suatu respon emosi penilaian sesuasi
tetapi tidak memiliki objek yang spensifik (Stuart & Sundeen, 2003)
Kecemasan
adalah perasaan yang menyenangkan, khawatir dan gelisah. Keadaan emosi ini tanpa
objek, dialami secara subjektif dipicu oleh ketidaktahuan yang didahului oleh
pengalaman baru (Stuart& Sundeen, 1998)
Kecemasan
merupakan hasil keluaran tatkala seseorang dihadapkan pada situasi yang
mengancam hidupnya. Dimana orang tersebut sunguh-sungguh tak mampu melakukan
apapun, untuk menolong dirinya ( Ida Kaplan dan Diana Orlando, 1993).
- Tingkat Kecemasan
Menurut Foused,
(1996), mengidentifikasikan 4 (empat) tingkat kecemasan yang terlihat dalam
rentang respon kecemasan, yaitu ringan, sedang, berat, dan panik.
a. Kecemasan Ringan
Berhubungan dengan ketegangan
akan peristiwa sehari-hari. Pada tahap ini individu akan berhati-hati dan
waspada serta lapangan persepsi meningkat. Individu akan lebih banyak melihat,
mendengar. Kecemasan tahap ini akan memotivasi individu untuk belajar dan
menghasilkan pertumbuhan serta kreatifitas. Respon kognitif pada kecemasan ini berupa
lapangan persepsi meningkat, mampu menerima rangsangan yang kompleks,
konsentrasi pada masalah, mampu menyelesaikan masalah dan kewaspadaan atau
hati-hati meningkat serta dapat memecahkan masalah dengan alasan logis. Respon perilaku dan emosi berupa : tidak
dapat duduk dengan tenang! gelisah. Tremor halus pada tangan, suara kadang-kadang meninggi dan motivasi
meningkat.
b. Kecemasan Sedang
Pada tingkat ini lapangan
persepsi menyempit dan lebih terfokus pada hal yang penting saat itu serta
mengesampingkan hal yang lain. Respon fisiologik yang timbul berupa sering
nafas pendek dan frekuensi pernafasan meningkat, nadi (ekstra sistol dan
tekanan darah naik, mulut kering, anoreksia, diare/ konstipasi, gelisah, ti9dak
nyaman pada lambung dan dilatasi pupil serta vasokontraksi perifer.
c. Kecemasan Berat
Lahan persepsi menjadi sangat
sempit, individu cenderung berfokus pada hal yang spesifik dan tidak memikirkan
hal yang lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi kecemasan dan
membutuhkan banyak pengarahanl tuntutan. Respon fisiologis yang timbul berupa
nafas pendek! hiperventilasi, nadi dan tekanan darah meningkat, palpitasi,
berkeringat, sakit kepala, penglihatan kabur, ketegangan, respon reflek,
gangguan tidur, gejala somatic, nausea, diare, frekuensi BAK memngkat serta
gemetar. Respon kognitithya athlah lapangan persepsi sanat menyempit, tidak
mampu menyelesaikan masalali dan alasan tidak sesuai, persepsi berubah, disorientasi,
dan kemampuan belajar sangat rendah. Sedangkan respon perilaku! emosi yang
timbul berupa: perasaan ancaman meningkat, verbalisasi meningkat dank eras,
blocking dan kontak mata menurun.
d. Panik
Pada tingkat ini lahan
persepsi sudah terganggu sebingga individu tidak dapat mengendalikan diri lagi
dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun dengan pengarahan dan tuntunan.
Respon kognitif yang timbul berupa lapangan persepsi yang sangat menyempit,
tidak dapat berpikir logis serta tidak fokus. Sedangkan respon perilaku? emosi
berupa mengamuk, agitasi dan marah, ketakutan, berteriak-teriak, blocking,
kehilangan kendali dan kontrol diri, persepsi kacau, halusinasi dan delusi
serta kehilangan kontak realita.
BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
A.
Kerangka Konsep
Tingkat kecemasan yang
terlihat dalam rentang respon kecemasan pada setiap individu khususnya ibu yang
akan menghadapi persalinan di Rumah Sakit sangat bervariasi, yang terdiri dari
: respon kecemasan ringan, sedang, berat dan panik (Stuart & Sundeen, 2003).
Respon cemas pada ibu bersalin karena kurangnya informasi tentang prosedur dan
perawatan anaknya (wong,1999).
Karena keterbatasan peneliti
maka peneliti ingin melihat hubungan komunikasi terapeutik dengan tingkat
kecemasan ibu yang akan menghadapi persalinan di ruang bersalin. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat kerangka konsep penelitia berikut :
Variabel
Independen Variabel
Dependen
Gambar 2. Kerngka Konsep Penelitian
-
Definisi Operasional14
|
Variabel Penelitian |
Definisi Operasional |
Cara Ukur |
Alat Ukur |
Hasil Ukur |
Skala Ukur |
|||
|
Variabel
Dependen |
||||||||
|
Tingkat
kecemasan ibu bersalin |
Perasaan
khawatir, gelisah, adanya ketidak berdayaan |
Wawancara
dengan kriteria cemas berat bila 15-27 poin, cemas ringan bila 6-14 poin dan
tidak cemas bila < 6 poin. |
Kuesioner |
-
Cemas
berat -
Cemas
Ringan -
Tidak
Cemas |
Ordinal |
|||
|
Variabel
Independen |
||||||||
|
Komunikasi
terapeutik |
Cara untuk
membina hubungan yang terapeutik yang diperlukan untuk penukaran informasi
dan perasaan antara tenaga kesehatan dengan klien |
Wawancara
dengan kriteria baik > 76 % - 100 %, cukup bila %6%-76 % dan kurang bila
<56 % |
Kuesioner |
-
Baik -
Cukup -
Kurang |
Ordinal |
|||
C.
Hipotesa Penelitian
Berdasarkan kerangka kerja, maka dipotesa
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ho = Tidak ada
hubungan antara penggunaan komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan ibu
di ruang bersalin
Ha = Ada hubungan
antara penggunaan komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan ibu di ruang
bersalin
BAB IV
METODELOGI PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian
Adapun
jenis penelitian ini adalah deskriptif
analitik dengan pendekatan cross
sectional study yaitu suatu pendekatan dengan tidak menggunakan subyek penelitian
yang sama secara berulang dalam pengukuran data (Arikunto, 1998), dalam hal ini
peneliti untuk melihat hubungan komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan
ibu yang sedang menghadai persalinan.
B.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini direncanakan dilaksanakan pada bulan Desember 2011, di ruang bersalin Rumah
Sakit Umum Sigli.
C. Populasi dan Sampel
- Populasi
Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang bersalin di Rumah Sakit Umum Sigli.
Tahun 2011. Berdasarkan data awal yang didapat di Rumah Sakit Umum Sigli, jumlah
ibu yang bersalin pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2011 adalah 126 orang atau rata-rata jumlah ibu bersalin
perbulan adalah 45 orang.
- Sampel
Metode
pengambilan sampel pada penelitian ini adalah accidental sampling yaitu pengambilan sampel yang kebetulan ada
yaitu yang bersalin pada bulan Desember 2011.
D. Cara Pengumpulan Data
Data yang
diambil adalah data primer dengan melakukan wawancara terhadap ibu yang
bersalin di Rumah Sakit Umum Sigli.
E. Instrumen Penelitian
Alat yang digunakan dalam pengumpulan data adalah kuisioner yang mengacu pada teori HARS untuk mengukur tingkat kecemasan yang terdiri dari 14 pertanyaan, sedangkan daftar checklist untuk mengukur komunikasi teurapeutik sebanyak 12 pertanyaan(Nursalam).
F. Analisa Data
- Analisa Data
Pengolahan data secara komputerisasi dari tahap editing, yaitu memeriksa data-data yang sudah terkumpul apakah sudah terisi dengan benar. Tabulating, yaitu mengelompokkan keluarga dilakukan pengkategorian dengan.
a. Untuk variabel kecemasan keluarga
dilakukan pengkategorian dengan dengan mengacu pada teori HARS (Nursalam, 2003) yaitu :
1) Cemas berat bila > 27
2) Cemas sedang bila 15-27 Poin
3) Semas ringan bila 6 – 14 poin
4) Tidak cemas bila < 6 poin
Penilaiannya dilakukan dengan cara
1) 0 :
Tidak ada (Tidak ada gejala sama
sekali)
2) 1 :
Ringan (Satu gejala dari pilihan
yang ada)
3) 2 :
Sedang (Separuh dari gejala yang
ada)
4) 3 :
Berat (Lebih dari separuh
gejala yang ada)
5) 4 :
Sangat berat (Semua gejala ada)
b. Untuk variabel komunikasi terapeutik
dilakukan pengkategorian :
1) Baik bila >76 % - 100 % (dengan poin >9 – 12)
2) Cukup bila 56 % - 76 % (dengan poin 6 – 9)
3) Kurang bila < 56 %(dengan poin < 6)
Setelah diolah, selanjutnya yang telah dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi ditentukan persentase perolehan(P) untuk tiap-tiap kategori dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Sudjana (1992) sebagai berikut :
Keterangan :
P = Presentasi
fi =
Frekuensi yang teramati
n = Jumlah
sampel
- Analisa
Bivariat
Untuk
mengetahui apakah ada hubunganantara komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan
ibu yang dirawat akan dilakukan analisa silang dengan menggunaakan tabel silang
yang dikenal dengan baris x kolom (BxK) dengan derajat kebebasan (df) yang
sesuai dengan tingkat kemaknaan (
) 0,05 dan tingkat kepercayaan 95 %. Skor dipoeroleh dengan menggunakan metode statistic Chi-Square (X2) dengan
bantuankomputer dalam program SPSS (Statistical Produxt and Service Solution).
Pengujian
hipotesa dengan kriteria bahwajika X2 hitung > X2
hitung tabelka Ha diterima dan apabila X2 hitung < X2
tabel maka Ha ditolak.


Komentar
Posting Komentar
Komentar