Metode Demonstrasi dan Hasil Belajar
Pengertian Hasil Belajar Matematika dan Metode Demonstrasi
1. Pengertian belajar matematika
Dalam banyak kajian,
pengertian belajar ini mengandung arti yang tidak seragam, namun demikian
tujuan yang diharapkan adalah sama saja sebagiamana tujuan yang telah
diarahakan oleh banyak ahli. Dalam tulisan ini belajar dapat diartikan sebagai
serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan, yang
memiliki proses dan tujuan. Sementara hasil belajar merupakan suatu nilai yang
diperoleh dari umpan balik terhadap belajar. Sementara Mulyono (2003: 14)
menyebutkan bahwa; belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga
unsur yang dapat dibedakan yakni, tujuan pengajaran (intruksional), pengalaman
(proses belajar mengajar) dan prestasi belajar yang sering disebut dengan hasil
belajar. Dalam hal ini, untuk membuktikan berhasil tidaknya proses belajar
mengajar dapat dilihat dari prestasi belajar yang telah dicapai oleh siswa
dalam bentuk angka (skor).
Lebih lanjut, Soemanto
(2003:104) mengatakan bahwa, belajar adalah proses dari perkembangan hidup
manusia melalui perubahan-perubahan sehingga tingkah lakunya dapat berkembang. Pada
giliran Sardiman A.M (2006: 20) mengatakan bahwa, belajar itu merupakan
perubahan tingkah laku atau keterampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya:
dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.
Mengingat peran pendidikan
tersebut maka sudah seyogyanya aspek ini menjadi perhatian pemerintah dalam
rangka meningkatkan sumber daya masyarakat Indonesia yang berkualitas.
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dinilai cukup memegang
peranan penting dalam membentuk siswa menjadi berkualitas, karena matematika
merupakan suatu sarana berpikir untuk mengkaji sesuatu secara logis dan
sistematis. Karena itu, maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan
matematika. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah peningkatan prestasi
belajar matematika siswa di sekolah.
Dalam
pembelajaran di sekolah, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang
masih dianggap sulit dipahami oleh siswa. Oleh karena itu dalam proses
pembelajaran matematika diperlukan suatu metode mengajar yang bervariasi.
Artinya dalam penggunaan metode mengajar tidak harus sama untuk semua pokok
bahasan, sebab dapat terjadi bahwa suatu metode mengajar tertentu cocok untuk
satu pokok bahasan tetapi tidak untuk pokok bahasan yang lain. Kenyataan yang
terjadi adalah penguasaan siswa terhadap materi matematika masih tergolong
rendah jika dibanding dengan mata pelajaran lain.
Rendahnya hasil belajar
matematika siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya adalah model
pembelajaran yang digunakan oleh guru. Hal ini diduga merupakan salah satu
penyebab terhambatnya kreativitas dan kemandirian siswa sehingga menurunkan
prestasi belajar matematika siswa.
Melihat fenomena tersebut,
maka perlu diterapkan suatu sistem pembelajaran yang melibatkan peran siswa
secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar, guna meningkatkan prestasi
belajar matematika disetiap jenjang pendidikan. Salah satu model pembelajaran
yang melibatkan peran siswa secara aktif adalah melalui metode demonstrasi.
Melalui metode ini siswa dapat mengemukakan pemikirannya, saling bertukar
pendapat, saling bekerja sama jika ada teman yang mengalami kesulitan. Dalam mengajar matematika perubahan
tingkah laku diarahkan pada pemahaman konsep-konsep matematika yang akan
mengarahkan individu kepada berpikir matematis berdasarkan aturan-aturan yang
logis dan sistematis.
Materi
matematika disusun secara teratur dalam urutan yang logis dan hirarkis, artinya
topik matematika yang telah diajarkan merupakan prasyarat untuk topik
berikutnya. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu
didasari kepada apa yang telah diketahui oleh orang itu. Karena itu untuk
mempelajari suatu topik matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari
seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar matematika tersebut.
Hudoyo (1988: 4) menyatakan bahwa belajar
matematika yang terputus-putus akan
mengganggu terjadinya proses belajar. Ini berarti bahwa belajar matematika akan
terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinu.
Sehubungan dengan itu, maka dalam mengajar guru hendaknya dapat memberikan
pengetahuan prasyarat sebagai dasar untuk mempelajari topik matematika yang
diajarkan agar dalam menyelesaikan soal-soal matematika tidak terlalu banyak
mengalami kesulitan.
2. Hasil belajar
Sejalan dengan itu,
serangkaian aktivitas dari belajar selalu dirangkum dalam sebuah prestasi atua
disebut juga dengan pengertian hasil belajar. Dalam hal ini Dimyati (2002: 243)
mengatakan bahwa, hasil belajar itu sebagai kemampuan berprestasi atau unjuk
hasil belajar dari sebuah kemampuan yang merupakan suatu puncak proses belajar.
Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar, ia menunjukkan bahwa
dirinya telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil
belajar.
Di lain hal, pengertian
tersebut juga diartikan sebagai proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil
yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu setelah terjadinya proses
belajar-mengajar (Suryabrata, 2002: 23). Pendapat yang sama juga diucapkan oleh
Abdurrahman (1999:37), mengatakan bahwa hasil belajar (prestasi belajar) adalah
kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui kegiatan belajar.
Berdasarkan
pengertian prestasi yang dikemukakan para ahli, maka dapat dikatakan bahwa
prestasi belajar Matematika adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam
mengikuti proses belajar mengajar Matematika sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan. Prestasi yang dicapai oleh siswa merupakan gambaran hasil belajar
siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dan merupakan interaksi antara
beberapa faktor.
Keseluruhannya menunjukkan
tiada perbedaan jauh terhadap pengertian prestasi belajar, ini menandakan bahwa
suasana belajar dari dulu hingga saat ini memiliki kesamaan arah dan tujuan
yang integral. Hasil dari
sebuah perjalanan pendidikan itu menunjukkan kepada yang diperoleh selama
pendidikannya, yang diuji melalui tes-tes yang layak. Dengan tes ini akan
dieproleh hasil pendidikan dalam kategori layak atau tidak layak.
Dalam hal ini, dapat
disimpulkan pengertian lebih luas lagi terhadap hasil belajar pada pelajaran Matematika
yaitu, suatu perolehan nilai dari hasil serangkaian aktivitas dalam belajar Matematika
yang diberikan dalam bentuk nilai murni dari keselurhan aspek yang dinilai,
yang dijadikan sebagai parameter lulus atau tidaknya siswa dalam belajarnya.
3. Metode demonstrasi
Untuk meningkat hasil atau
prestasi belajar siswa, sebenarnya sangat didukung oleh penggunaan metode yang
efektif. Dengan segala alat peraga yang lengkap bila seorang guru tidak mampu
melakukan upaya yang efektif dalam pembelajaran dengan mengyunakan cara belajar
yang baik berdasarkan keingginan siswa, itu sama saja membuang-buang waktu
belajar, artinya tidak ada umpan balik yang bisa dijadikan parameter dalam
sebuah pendidikan, hasilnya sama saja keadan siswa yang telah belajar dengan
yang belum atau tidak belajar. Sekali lagi ditegaskan bahwa, penggunaan metode
merupakan hal yang penting diperhatikan, dalam proses belaajr mengajar tidak
hanya cukup dengan pola belajar dalam bentuk ceramah.
Muhammad Ali, (2007: 43)
mangatakan yang dianggap efektif dalma belajar
yang mampu membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri
berdasarkan fakta atau data yang benar adalah melalui metode demonstrasi.
Metode ini dikatakan oleh Hamzah (2001: 67) sebagai penyajian pelajaran dengan
memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi
atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan (Hamzah, 2001:
67). Sebagai metode penyajian, demonstrasi tentu tidak terlepas dari penjelasan
secara lisan oleh guru. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan
untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
Djamarah dan Zain
(2003: 102), mengatakan cara penyajian bahan pelajaran dengan memeragakan atau
mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang
sedang dipelajari, baik sebenarnya maupun tiruan itulah dengan cara
demonstrasi.
Penggunaan metode
ini sangat menunjang proses interaksi belajar di ruangan, yang diperoleh juga
besar. Metode ini bisa kita katakan
sejenis dengan metode eksperimen hanya saja demontrasi tidak melakukan
percobaan. Jadi metode ini merupakan cara mengajar dimana seorang
instruktur/tim menunjukkan sesuatu proses berlangsung, misalnya cara menulis
puisi, sajak dan lainnya, atau seperti mempraktekkan membuka dan memasangkan kembali
baterai laptop. Muhammad Ali, (2007: 52)
melalui Guru dalam Proses Belajar Mengajar, menyebutkan bahwa keuntungan
yang diperoleh dari metode demonstrasi ini yaitu;
1. Perhatian peserta lebih dapat
terpusatkan pada bahan ajar/masalah yang sedang berlangsung, dan
2. Kesalahan yang terjadi dapat
diatasi melalui pengamatan atau contoh kongkrit.
Dari ungkapan
tersebut penulis menyimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu proses
memberikan contoh kepada siswa berkaitan dengan materi yang akan
disampaikan agar siswa dapat meniru, memeragakan ulang segala
sesuatu yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa,
melalui cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna
mencapai tujuan yang diinginkan.
Dengan metode ini,
peserta didik dapat berpartisipasi lebih giat dan aktif, karena memperoleh
pengalaman langsung dari pengajar terhadap aspek yang sedang dipelajari yang
pada gilirannya nanti mampu mengembangkan kecakapannya.
Di lain hal Abu
Ahmadi, (2005: 124), menyebutkan bahwa sebagai suatu metode pembelajaran,
demonstrasi memiliki beberapa kelebihan, yaitu;
- Melalui
metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa
disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
- Proses
pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi
juga melihat peristiwa yang terjadi.
- Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.
Di samping beberapa kelebihan,
metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, diantarannya;
- Metode
demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan
yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini
tidak efektif lagi. Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukan
suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih
dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak.
- Demonstrasi
memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti
penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan
dengan ceramah.
- Demonstrasi
memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru
dituntut untuk bekerja lebih profesional. Di samping itu demonstrasi juga
memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses
pembelajaran siswa (Abu Ahmadi, 2005: 134).



Komentar
Posting Komentar
Komentar