SKRIPSI POPULER EFEKTIVITAS CELEBRITY ENDORSEMENT SEBAGAI MEDIA IKLAN (ANALISIS TERHADAP INSTAGRAM)

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.    Penelitian Terdahulu

Penelitian ini dilakukan tidak terlepas dari hasil penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian.Adapun hasil-hasil penelitian yang dijadikan perbandingan tidak terlepas dari topik penelitian yaitu mengenai keefektivan celebrity endorsement sebagai media iklan.

Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan Sheyrent Natalia dan Leonid Julivan Rumambi (2013) yang melakukan penelitian mengenai “Analisa Prediksi/Penilai Efektivitas Penggunaan Selebritis Sebagai Brand Endorser Untuk Membangun Brand Image (Studi Kasus Iklan The Face Shop).”dimana penelitian ini membahas tentang efektivitas penggunaan selebritiKim Hyun-Joong atau Seohyun sebagai brand endorser untuk membangun brand image The Face Shop. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kausal yang bertujuan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara efektivitas penggunaan selebriti endorser terhadap brand image The Face Shop. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada konsumen produk The Face Shop. Metode yang digunakan adalah analisa regresi linier berganda, variabel bebas yang digunakan adalah Celebrity Endorser (Independent) sedangkan Brand Image sebagai variabel terikat (Dependent). Hasilnya menunjukkan bahwa Brand endorsement Kim Hyun-Joong dan Seohyun menunjukkan  pemakaianbrand endorsement tersebut sudah cukup efektif.[1]

Rio Setiawan (2011)dalam penelitiannya “Pengaruh penggunaan celebrity endorser,Media Iklan Televisi dan Pesan Iklan Televisi Terhadap Efektifitas Iklan Serta Dampaknya dalam Menumbuhkan Brand Awareness pada Periklanan Produk Indosat IM3.”penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan celebrity endorser, media iklan televisi dan pesan iklan televisi terhadap efektifitas, iklan serta dampaknya dalam menumbuhkan brand awareness.

Hasil penelitian ini secara simultan menunjukkan bahwa celebrity endorse, media iklan televisi dan pesan iklan televisi berpengaruh terhadap efektifitas iklan. Penggunaan celebrity endorser, media iklan televisi, pesan iklan televisi, berpenggaruh terhadap brand awareness.Sedangkan secara persial menunjukkan bahwa selebritis endorser, media iklan televisi dan pesan iklan televisi berpenggaruh terhadap efektivitas iklan.Efektivitas iklan berpengaruh terhadap brand awarenesspenggunaan celebrity endorser, media iklan televisi dan pesan iklan televisi tidak berpengaruh terhadap brand awareness.[2]

Penelitian mengenai celebrity endorserment juga dilakukan oleh Siti Saniah (2016) berjudul “Pengaruh Persepsi Endorse Selebritis Terhadap Daya Tarik Iklan OSD (Oki Setiana Dewi) Online di Instagram pada Mahasiswi UIN Maliki Malang” yang membahas tentang media pemasaran produk yang saat ini lagi booming seperti Instagram. Banyak para pebisnis yang mengiklankan produknya di Instagram menggunakan jasa selebritis. Selebritis efektif dalam periklanan jika ia sesuai dengan produk dan khalayak, pada fakta lapangan ditemukan bahwa pada beberapa mahasiswi UIN Maliki tidak tertarik dengan iklan yang diiklankan oleh selebritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat persepsi endorse selebritis, tingkat daya tarik iklan produk OSD online dan pengaruh persepsi endorse selebritis Oki Setiana Dewi terhadap daya tarik iklan produk OSD online di instagram. Sampel dalam penelitian ini adalah Mahasiswi UIN Maliki Malang yang memiliki kriteria: aktif Instagram, tahu Selebritis Oki Setiana Dewi, tahu brand OSD (Oki Setiana Dewi) dengan jumlah reseponden sebanyak 135. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dan accidental sampling.Data diperoleh melalui skala Persepsi Endorse Selebritis dan Daya Tarik Iklan.Analisis yang digunakan adalah menggunakan analisis regresi.

Hasil penelitian menunjukkan tingkat persepsi endorse selebritis yang tinggi pada mahasiswi UIN Maliki Malang mencapai 61,48% dengan jumlah 83 mahasiswi UIN dan tingkat Daya Tarik iklan yang sedang pada mahasiswi UIN maliki Malang mencapai 86,67% dengan jumlah 117 mahasiswi UIN. Hasil analisa 89,635 yang memiliki nilai signifikansi 0,000 artinya persepsi endorse selebritis berpengaruh signifikan terhadap daya tarik iklan. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh signifikan dari persepsi mahasiswa UIN Malang kepada selebritis Oki Setiana Dewi terhadap daya tarik iklan yang diendorse Oki Setiana Dewi di Instagram.[3]

 

B.     Pengertian Periklanan

Periklanan adalah komunikasi komersil dan non-personal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail (pengeposan lansung), reklame luar ruang, atau kendaraan umun.[4]

Kotler dan Armstrong mendefinisikan periklanan adalah segala bentuk penyajian non-personal dan promosi ide, barang dan jasa dari suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran. Sedangkan pengertian iklan menurut  Rhenald Kasali ialah pesan dari produk, jasa atau ide yang disampaikan kepada masyarakat melalui suatu media yang diarahkan untuk menarik konsumen.[5]Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa iklan adalah sebuah penyampaian informasi kepada khalayak luar melalui bantuan media.

 

1.      Iklan

Iklan atau advertising dapat didefinisikan sebagai “any paid form of nonpersonalcommunication about an organization, product, service, or idea by an identified sponsor” (setiap bentuk komunikasi non-personal mengenai suatu organisasi, produk, servis, atau ide yang dibayar oleh satu sponsor yang diketahui). Adapun maksud ‘dibayar’pada definisi tersebut menunjukkan fakta bahwa ruang atau waktu bagi suatu pesan iklan pada umumnya harus dibeli. Maksud kata ‘non-personal’ berarti suatu iklan melibatkan media massa ( TV, radio, majalah, koran) yang dapat mengirimkan pesan kepada sejumlah kelompok individu pada saat bersamaan.[6]

Menurut Howard Stepheson, Advertising adalah suatu kegiatan yang menggunakan sewa tempat pada salah satu media komunkasi, dimana suatu perusahaan memperkenalkan hasil produksi barang atau jasanya yang baru.[7]

Iklan merupakan salah satu bentuk promosi yang paling dikenal dan paling banyak dibahas orang, hal ini kemungkinan karena daya jangkauannya yang luas.Apa alasan perusahaan atau pemasang iklan memilih iklan di media massa untuk mempromosikan barang atau jasanya? Terdapat sejumlah alasan untuk ini.Pertama,iklan di media massa dinilai efisien dari segi biaya untuk mencapai audiensi dalam jumlah besar.[8]

Iklan sebagian merupakan hasil dari kerja keras dan inspirasi, dan juga produk dari pemikiran yang logis dan jelas. Komunikasi pemasaran pada akhirnya akan dinilai berasarkan kemampuannya untuk menciptakan respon konsumen sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan cermat oleh pengiklan.[9]Periklanan adalah soal penciptaan pesan dan mengirimkannya kepada orang dengan harapan orang itu akan bereaksi dengan cara tertentu. Iklan adalah pesan yang kebanyakan dikirim melalui media.Jika konsumen bereaksi sebagaimana yang dikehendaki pengiklan, maka iklan itu diangap efektif.[10]

2.      Fungsi-fungsi Periklanan

Iklan berfungsi menciptakan kesan (brand-image), orang akan mempunyai kesan tertentu tentang apa yang diiklankan.[11] Adapun fungsi iklan:

a.       Periklanan menjalankan sebuah fungsi “informasi”, ia mengomunikasikan informasi produk, ciri-ciri, dan lokasi penjualannya.

b.      Periklanan menjalankan sebuah fungsi “persuasif”, ia mencoba membujuk para konsumen untuk membeli barang atau jasa.

c.       Periklanan menjalankan sebuah fungsi “pengingat”, ia terus menerus mengingatkan konsumen tentang sebuah produk sehingga mereka akan tetap membeli produk yang diiklankan.[12]

 

3.      Periklanan Sebagai Alat Komunikasi

Hadirnya perubahan yang berarti dalam praktek periklanan, ada godaan untuk mengabaikan fakta bahwa periklanan tetap merupakan alat komunikasi. Di luar adanya rencana atau tujuan periklanan khusus dari strategi tertentu, periklanan yang berhasil bergantung pada penggunaan komunikasi yang efektif.Tujuan periklanan harus dipandang dari sudut pandang komunikasi, periklanan jarang dapat menuntaskan tugas yang tidak berhubungan dengan komunikasi.Prinsip mendasar dari periklanan yang baik adalah bahwa periklanan harus dibangun keseluruhan rencana pemasaran dan melaksanakan elemen komunikasi dari program pemasaran yang menjankau lebih jauh.[13]

4.      Proses Teori AIDA dalam Iklan

AIDA merupakan tahapan dari tujuan iklan.Tujuan iklan yang utama adalah keputusan pembelian atau action (tindakan).AIDA dikenal pada tahun 1898, yang dikemukakan oleh E.St.Elmo Lewis sebagai AID (attention, interest, desire).Dengan tujuan sebagai pedoman penjualan agar berhasil.Pada tahun 1990, E.St.Elmo Lewis mengembangkan AID menjadi AIDA dengan menambahkan action untuk pedoman penjualan.[14]AIDA merupakan model yang cukup sederhana dan dapat digunakan sebagai pedoman. Dalam komunikasi pemasaran perlu dirumuskan tujuan yang ingin dicapai dari proses komunikasi pemasaran untuk iklan yang akan dilakukan. AIDA merupakan sebuah konsep yang dimana dalam sebuah pemasaran memegang peranan penting, yakni:

a.       Attention, dalam attention seorang pemasar haruslah mampu membuat sebuah media informasi agar mengandung daya tarik bagi konsumen membuat suatu pernyataan yang mengungkap perhatian orang.

b.      Interest, adalah langkah seorang pemasar mampu untuk membuat sebuah media informasi tersebut agar dapat mengandung daya tarik bagi konsumen, seorang pemasar haruslah memikirkan sebuah media informasi agar dapat mengandung minat bagi calon pelanggan atau konsumennya tersebut.

c.       Desire, selanjutnya langkah yang harus dilakukan oleh seorang pemasar ialah memunculkan keinginan untuk mencoba atau memiliki, dimana dalam tahapan ini pemasar haruslah jeli atau pintar membaca target atau konsumen dalam tahapan ini.

d.      Action, dalam tahapan yang paling pusat ini seorang pemasar haruslah sudah mengarah pada tindakan untuk membeli. Dalam tahapan action ini menjelaskan langkah apa yang dilakukan oleh seorang pemasar dalam menginginkan untuk pembaca melakukan keputusan untuk membeli.

Model iklan ini bertujuan untuk menarik perhatian (attention) dari audiens, kemudian audiens akan berminat (interest), lalu merasa tertarik (desire) terhadap sebuah produk dan akhirnya memutuskan suatu tindakan tertentu (action).[15]Dapat disimpulkan bahwa proses komunikasi AIDA terdiri dari perhatian (Attention), tertarik (interest), keinginan (Desire), tindakan (Action). Attention maksudnya adalah membuat konsumen memperhatikan sebuah iklan yaitu dengan cara membuat iklan lebih menarik daripada iklan-iklan pada umumnya. Interestmaksudnya adalah membuat iklan yang mampu menarik minat konsumen tidak hanya menjelaskan tentang produk saja namun juga menjelaskan keuntungan jika bisa memiliki produk.Desire maksudnya adalah membuat konsumen memiliki keinginan untuk mencoba untuk memiliki keinginan untuk mencoba atau memilikinya akibat pengaruh dari iklan tersebut.Action maksudnya adalah pengiklan atau pebisnis harus mampu mengarahkan tindakan konsumen pada pembelian produk dengan cara mebimbingnya dan menjelaskannya.[16]

 

C.     Pengertian Celebrity Endorsement

               Pembuatan sebuah iklan diperlukan seseorang yang dapat menarik perhatian yakni selebriti.Menurut definisi selebriti adalah tokoh (actor, penghibur, atau atlet) yang dikenal masyarakat karna prestasinya didalam bidang-bidang yang berbeda dari golongan produk yang didukung.[17] Maka dari itu seorang selebiriti yang mampu menyampaikan pesan serta informasi sebuah produk biasanya dikenal dengan istilahendorser.Penggunaan endorser dalam iklan dimaksudkan untuk memberikan dukungan atau dorongan kepada pesan iklan agar lebih mudan diterima oleh konsumen, sekaligus mempermudah tumbuhnya keyakinan dalam diri konsumen atas produk yang diiklankan. Menurut Shimp endorserdapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

a.       Celebrity endorseradalah tokoh (aktor, penghibur, atau atlet) yang dikenal masyarakat karena prestasinya di dalam bidang-bidang yang berbeda dari golongan produk yang didukung.

b.      Typical-person Endorser adalah orang-orang biasa (non-selebriti), yang digunakan dalam mempromosikan suatu produk atau jasa tertentu oleh suatu perusahaan.[18]

Produk-produk di dalam iklan mendapat dukungan (endorsement) eksplisit dari berbagai tokoh umum yang popular.Selain dukungan kaum selebriti, produk-produk juga menerima dukungan eksplisit atau secara terselubung dari paran nonselebriti.[19]

1.      Celebrity Endorsement sebagai Daya Tarik Pesan

Perusahaan harus memiliki strategi yang kreatif dalam beriklan agar dapat menarik konsumen, salah satu caranya adalah dengan menggunakan selebriti endorser.Suyanto mengatakan selebriti dapat mempengaruhi sikap dan pelanggan terhadap produk yang didukungnya.[20]Persepsi dan sikap pelangggan terhadap kualitas produk meningkat dengan adanya selebriti yang mendukung, lebih jauh lagi harga produk juga akan meningkat dengan adanya selebriti tersebut, pada dasarnya harus ada hubungan yang berarti, atau kecocokan, antara selebriti, khalayak, dan produk.

2.      Faktor-faktor Celebrity Endorsement

Celebrity sebagai endorser dapat digunakan untuk menarik perhatian dan membantu memperkanalkan produk kepada konsumen. Karena dengan menggunakan celebrity endorser yang terkenal atau digemari masyarakat umumnya mampu meraih recall yang lebih tinggi. Hal tersebut akan terjadi apabila perusahaan dapat selektif dalam memilih celebrity endorser yang akan digunakan untuk media berbeda-beda. [21]

Suatu survei para esekutif periklanan menjelaskan tentang faktor-faktor yang mereka pertimbangkan ketika mengambil keputusan seleksi selebriti. Menurut urutan tingkat kepentingannya, pertimbangannya adalah:

a.       Krediilitas Selebriti. Dapat dipercaya dari keahlian selebriti (secara bersama-sama disebut kredibilitas). Merupakan alasan utama untuk memilih selebriti sebagai pendukung periklanan. Orang yang dapat dipercaya dan memiliki wawasan tentang isu tertentu, seperti kehendak merek, akan menjadi orang yang paling mampu menyakinkan orang lain untuk mengambil suatu tindakan.

b.      Kecocokan Selebriti dengan Khalayak. Hal ini akan menimbulkan respon yang cepat tehadap produk yang diiklankan dengan landasan ada hubungan yang berarti, atau kecocokan.

c.       Kecocokan Selebriti dengan Merek. Para eksekutif periklanan menuntut agar citra selebriti, nilai dan perilakunya sesuai dengan kesan yang diinginkan untuk merek yang diiklankan.

d.      Daya Tarik Selebriti. Di dalam memilih selebriti sebagai pembicara, para eksekutif periklanan mengevaluasi aspek yang berbeda yang dapat disatukan di bawah sebutan umum “daya tarik.” Daya tarik meliputi keramahan, menyenangkan, fisik, dan pekerjaan sebagai beberapa dari dimensi penting dari konsep daya tarik.

e.       Pertimbangan Lainnya. Akhirnya dalam memilih slebriti, para eksekutif periklanan mempertimbangkan faktor-faktor tambahan seperti, 1) biaya untuk memperoleh layanan dari selebriti, 2) besar kecilnya kemungkinan bahwa selebriti akan ada dalam masalah setelah suatu dukungan dilakukan, 3) sulit atau mudahnya dia akan bekerja sama, 4) berapa banyak merek-merek lainnya yang sedang didukung selebriti.[22]

3.      Daya Tarik Iklan Perspektif Islam

Dorongan untuk memiliki termasuk dorongan psikologis yang dipelajari manusia, biasanya selama masa perkembangan sosialnya. Manusia belajar dari kebudayaanyan dimana ia berkembang. Di antara keahlian individunya adalah kecintaannya untuk memiliki harta, tempat tinggal, tanah perkarangan dan barang milik lainnya yang dapat membuat ia merasa tidak miskin serta memberikan penggaruh, kebanggaan dan kekuasaannya dalam masyarakat. Al-Qur’an telah menyebutkan dorongan untuk memiliki, seperti firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 14:

 

 

 

Artinya: “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaanyakepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran: 14).[23]

Cinta kepada harta adakalanya karena terdorong oleh faktor menyombongkan diri dan berbangga-banggaan, takabur terhadap orang-orang yang lemah, dan sombong terhadap orang-orang miskin.Hal ini sangat dicela.Tetapi adakalanya karena terdorong oleh faktor membelanjakan dijalan-jalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, menyambung kekerabatan, serta amal-amal kebajikan serta ketaatan, hal ini sangat terpuji menurut syariat.[24]

Secara alamiah, manusia memiliki ketertarikan terhadap segala sesuatu keindahan. Ketertarikan tersebut bukanlah sesuatu yang salah, namun apabila tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka ketertarikan tersebut akan menjerumuskan kita. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Fajr: 20:

 


Artinya: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan (QS. Al-Fajr: 20).”[25]

Dorongan untuk memiliki adalah salah satu pendorong penting yang dikobarkan oleh syetan dalam diri Adam As. Sehingga, menyebabkan terjerumus dalam perbuatan maksiat dengan memakan buah dari pohon yang dilarang Allah untuk didekati.

Sesungguhnya keinginan untuk memiliki itu alami pada diri Adam As dan keturunannya.Dari situ, kita bisa memahami juga bahwa syetan berusaha membangkitkan suatu dorongan keinginan dalam diri Adam yang sebetulnya tidak ada dalam dirinya sebelumnya pada waktu itu.Dengan demikian, Adam As telah belajar keinginan untuk memiliki melalui pengaruh syetan terhadapnya.[26]

Terdapat banyak bentuk iklan yang bisa kita lihat di Sosial Media Instagram, dari kebutuhan primer hingga kebutuhan sekunder, dari untuk anak-anak sampai orang dewasa, baik itu menambah ketaatan diri kita kepada Allah SWT atau malah sebaliknya, semuanya itu kita yang menentukan.

 

4.      Teori Penggunaan dan Kepuasan

Teori Penggunaan dan kepuasan atau use-and-grafications theory disebut-sebut sabagai salah satu teori paling popular dalam studi komunikasi massa. Teori ini mengajukan gagasan bahwa perbedaan individu menyebabkan audiensi mencari, menggunakan dan memberikan tanggapan terhadap isi media berbede-beda yang disebabkan berbagai faktor sosial dan psikologis yang berbeda di antara individu audiensi. Teori penggunaan dan kepuasan memfokuskan perhatian pada audiensi sabagai konsumen media massa, dan bukan pada pesan yan disampaikan. Teori ini menilai bahwa audiensi dalam menggunakan media berorientasi pada tujuan, bersifat aktif sekaligus deskriminatif.[27]

 

D.    Pengertian Instagram

Nama instagram  berasal dari pengertian keseluruhan fungsi aplikasi ini . kata “insta” berasal dari kata “instan”, seperti kamera palaroid yang pada masanya lebih dikenal dengan sebutan “foto instan”. Sedangkan kata “gram” berasal dari kata “telegram”, dimana cara kerja telegram sendiri adalah untuk mengirim informasi kepada orang lain dengan cepat. Sama halnya dengan instagram yang dapat mengunggah foto dengan menggunakan jaringan internet, sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan cepat.Karena itulah instagram berasal dari insta-telegram.[28]Instagram adalah jaringan sosial yang paling populer digunakan untuk mengirim foto.Pengguna meng-upload foto digital, menerapkan filter untuk mengedit penampilan mereka, dan berbagi foto dengan pengguna lain. Instagram merupakan salah satu media jejaring sosial yang dapat dimanfaatkan sebagai media pemasaran langsung.

Boyd dan Elliso nmendefinisikan jejaring sosial sebagai layanan berbasis web yang memungkinkan perorangan untuk membangun profil umum atau semi-umum dalam satu sistem yang terbatas,[29]instagram adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk membagi-bagikan foto dan video. Instagram sendiri masih bagian dari facebook yang memungkinkan teman facebook kita mem follow akuninstagram kita. Makin populernya instagram sebagai aplikasi yang digunakan untuk membagi foto membuat banyak pengguna yang terjun ke bisnis online turut mempromosikan produk-produknya lewat instagram. [30]

Instagram telah menjadi aplikasi berbagi foto terkemuka untuk perangkat mobile dan memiliki lebih dari 200 juta pengguna terdaftar. Apa yang dimulai sebagaiPlatformsosial bagi pengguna untuk berbagi foto pribadi dengan cepat menjadi alat pemasaran yang berguna untuk bisnis.

 

1.      Sejarah Instagram

Kevin Systrom dan Michel "mike" Krieger mulai instagram di Oktober 2010, program HTML5 yang didukung untuk ponsel. Setelah didanai oleh berbagai sumber, termasuk usaha Beseline dan Andreessen Horowitz, itu berkembang menjadi instagram menggabungkan nama dua metode lama komunikasi.

Ketika kita masih anak-anak, kita senang bermain-main dengan kamera. Kami menyukai bagaimana berbagai jenis kamera tua dipasarkan sebagai sesuatu yang  “instant” kami ambil untuk diberikan hari ini.kami juga merasa snapshots orang yang mengambil jenis seperti telegram bahwa mereka dapa dikirim melalui kawat kepada orang lain, jadi kami pikir, kenapa tidak mengabungkan menjadi dua?

Instagram mengumumkan telah mencapai satu juta anggota setelah hanya dua bulan dalam operasi yang kurang dari setahun kemudian, lebih dari 150 foto juta telah di-upload tp situs.tahun 2011, sisi telah tumbuh untuk memasukkan 10 juta pengguna, dan apel bernama instagram iPhone App of the Year.

Pada bulan Agustus 2012, facebook meng-akuisisi (pembelian perusahaan oleh perusahaan lain) instagram dengan tawaran $1 miliar dalam bentuk tunai dan saham.sejak itu, minat instagram terus berkembang, terutama di kalangan bisnis. Penelitian dari perusahaan analisis media sosial hanya diukur mengungkapkan bahwa merek atas interaksi dengan pelanggan melalui situs meningkat 500 persen dalam menarik pelanggan.

"Tahun lalu, banyak orang yang skeptis tentang akuisisi (pembelian perusahaan oleh perusahaan lain)  facebook untuk instagram dan apakah itu akan menghambat pertumbuhan jaringan," kata adam Schoenfeld, Mei 2013”. Namun, hari ini, itu sangat jelas bahwa sinergi tidak hanya membawa pengguna baru di papan tetapi juga creatinng kesempatan yang luar biasa untuk merek untuk terhubung dengan konsumen.

2.      Fakta Instagram

a.       200 juta pengguna aktif bulanan

b.      70% dari pengguna log in di leats sekali sehari

c.       75 juta pengguna aktif harian

d.      20 miliar foto yang dibagikan

e.       60 juta foto diposting setiap hari

f.       1,2 miliar orang menyuka per hari

g.      8, 500 menyukai per detik

h.      1.000 komentar per detik.[31]

3.      Cara Kerja Instagram

Cara kerja instagram, setelah meng-upload foto di instagram, pengguna dapat menambahkan filter untuk mengubah tampilan gambar, efek khusus bervariasi dalam warna, misalnya, 1997 penyaring memiliki nada agak merah muda, valencia memiliki kontras tinggi dan muncul sedikit abu-abu dan coklat, earlybird membuat foto tampak lebih pudar dan kabur dan tampak kuning dan krem, sementara walden keluar warna dengan nada biru muda.pengguna juga dapat mencakup hashtags dengan foto mereka untuk membantu pengguna lain dengan minat yang sama menemukan foto mereka.[32]

4.      Instagram untuk Bisnis

Instagram dapat digunakan dalam berbagai bisnis dengan berbagai cara, seperti Merk, pengecer, perusahaan teknologi, dan organisasi lainnya menggunakan situs jejaring sosial setiap hari untuk menjangkau konsumen mereka, menjual barang dan layanan mereka secara online.

Bisnis memposting foto dari produk baru di instagram untuk membangkitkan minat dan menjalankan kontes untuk meningkatkan gairah merek. mereka sering memanusiakan merek mereka dengan memposting gambar karyawan dan memberikan pengikut di belakang layar perusahaan. bisnis juga meluncurkan toko online, berkomunikasi dengan konsumen, dan posting video.

Ketika menggunakan jaringan sosial sebagai alat pemasaran, instagram menyarankan perusahaan untuk mengikuti tiga aturan:

a.       Mulai dengan tujuan yang jelas: bagaimana instagram masuk ke dalam strategi pemasaran Anda? mempertimbangkan apakah tujuan Anda adalah untuk meningkatkan kesadaran, pergeseran persepsi, atau menjangkau khalayak baru, pilih tujuan yang dapat Anda capai dengan bantuan komunitas kreatif instagram ini.

b.      Memilih tema untuk menceritakan kisah yang terpadu: pastikan bahwa tema Anda berfokus pada cita-cita merek Anda dan dapat disampaikan melalui citra menawan. ikuti tema ini sementara masih posting konten yang beragam, dan ingat bahwa konsistensi adalah aspek penting atau pemasaran di instagram.

c.       Meluangkan waktu membuat konten berkualitas tinggi: menghasilkan gambarbaikdan video yang membantu pengguna merasa di rumah.[33]

Bisnis dapat menggunakan instagram dalam berbagai cara. merek, pengecer,perusahaan teknologi, dan organisasi lainnya menggunakan situs jejaring sosial setiap hari untuk menjangkau konsumen mereka, menjual barang dan layanan online.

5.      Celebrity Endosrment menurut Perspektif Islam

Sebagaimana diketahui, celebrity endosrment adalah suatu kegiatan dengan mengandalkan seseorang yang dianggap layak dan sesuai dengan misi iklan itu untuk menyampaikan pesan-pesan penting berkenaan dengan merk atau produk tertentu untuk menarik perhatian khalayak. Meski celebrity endosrment itu tidak mengandung konsep dakwah sebagaimana dalam Islam, namun model celebrity endosrment ini termasuk bagian dari serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam bentuk dakwah, yang bertujuan menyampaikan sesuatu hal yang diangga perlu dan tidak banyak yang mengetahuinya.

Berkenaan dengan aktivitas itu, maka setiap penyampaian dengan tujuan agar orang lain menerima informasi yang disampaikan atau, konsep celebrity endosrment hendklah mengikuti aturan-aturan yang sifatya sesuai nilai dan pandangan Syari’at.  Kesalahan dalam mengkomunikasikan sesuatu hal itu justru akan membawa akibat yang cukup serius bagi diri sendiri dan masyarakat. Oleh sebab itu, secara sederhana konsep celebrity endosrment  harus mempunyaikosenp untuk menyeru sekaligus memberi keteladanan. Masyarakat semacam inilah yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah. Prinsip dan etika komunikasi termasuk iklan harus disertai dengan prinsip Islam.[34]

Sebagaimana Allah berfirman dalam al-Qur’an surah Ali Imran ayat 104 mengatakan bahwa:

 

 

 

Artinya; “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

 

Celebrity Endosrment, merupakan bagian dari etika bisnis, maka produsen perlu diperlengkapi dengan rambu-rambu yang menuntun dan mengarahkan agar bertindak benar, jujur dan bertanggung jawab. Tidak sekedar memenuhi tuntutan bisnis yang selalu mengejar keuntungan maksimal dengan mengabaikan prinsip nilai agama kepatutan, manfaat, moral dan keadilan.

Menyangkut dengan persoalan iklan dan komunikasi, Islam telah memberi jalan dan kesempatan terhadap tata cara memberi informasi dan pesan kepada manusia sesuai dengan fitrahnya manusia. Antara beberapa bentuk iklan dan komunikasi yang bisa  dipakai dan diperintahkan, keseluruhan ini merupakan etika penting dalam iklan dan komunikasi, yaitu:

a.  Qawlan sadidan (ucapan yang benar)[35]

Allah memerintahkan untuk menyampaikan kata-kata yang berkategori qawlan sadidan, yakni lurus dan istiqamah kepada siapapun. Firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 70.

 

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”.

 

b. Qawlan Balighan (ucapan yang mengenai sasaran)

Menyangkut dengan ucapan yang mengenai sasaran dalam al-Qur’an surah an-Nisa ayat 63 Allah bberfirman:

 

 

 


Artinya : “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”.

Kata baligh dalam bahasa Arab berarti sampai, mengenai sasaran, atau mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan qawl (ucapan atau komunikasi), baligh berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki.[36]

c. Qawlan maysuran (ucapan yang pantas)

Al-Qur’an juga mengajarkan tata cara berkomunikasi dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan, tetapi kita belum mampu memenuhi kebutuhan atau permintaan mereka. Terhadap mereka diucapkan qawlan masyuran sebagaimana firman Allah dalam surah al-Isra’ ayat 28 yaitu;

 

 


Artinya: “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”.

 

d. Qawlan layyinan (ucapan yang lembut)

Ini bermakna bahwa komunikasi itu harus dilaksanakan secara lemah lembut, tidak boleh dengan keras dan nada tinggi, kecuali dibutuhkan.[37] Ketentuan ini terdapat dalam al-Qur`an surah Thaha ayat 44, yaitu;

 

 


Artinya : “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

e. Qawlan kariman (ucapan yang mulia)

Kita juga diberikan tuntunan oleh al-Quran untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang harus dimuliakan, seperti orang tua.[38] Komunikasi dengan orang yang dimuliakan ini diistilahkan dengan qaulan kariman sebagaimana termaktub dalam al-Qur`an surah al-Isra` ayat 23;

 

 

 

 


Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

 

f. Qawlan ma’rufan (ucapan yang baik)

Dalam menyampaikan informasi hendaklah memakai perkataan yang tergolong  ucapan yang baik,[39] Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 263 yaitu;

 

 

Artinya: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”.

Dengan berkembangnya online shop melalui akun media instargram yang bergerakdalam bidang  produk-produk  menjadikan konsumen akan dengan leluasa membandingkan produk yang ditawarkan oleh suatu online shop dengan produk sejenis yang ditawarkan oleh online shop lain. Selain itu, bagi sebuah online shop yang melakukan transaksi tanpa bertatap muka harus dapat menjaga kepercayaan

agar dapat menarik minat konsumen. Agar menarik minat konsumen untuk bertransaksi di sebuah online shop, tentu berkaitan dengan apa produk yang ditawarkan oleh online shop itu sendiri. Jika suatu produk sudah diketahui masyarakat umum mengenai kualitasnya atau produk tersebut sudah memiliki merek yang kuat, maka akan menarik minat konsumen.

 

            Ketauladanan Rasulullah dalam berkomunikasi dan menyampaikan pesan menjadi pedoman utama yang tidak boleh dikesampingkan. Keberhasilan Rasul dalam berkomunikasi ternyata menghasilkan hikmah bagi manusia hingga saat ini. Dalam persoalan iklan dan komunikasi tidak bisa dianggap sepele, karena kelalaian akan perhatian terhadap etika dalam menyampaikan pesan dan berkomunikasi akan menimbulkan masalah yang rumit.

Harus diakui bahwa kesalahan dalam komunikasi dapat menimbulkan konflik yang berkepanjangan, namun sebaliknya bila komunikasi itu diikutsertakan dengan etika kehidupan yang sesuai kefitrahan mansuia maka akan berjalan baik dan seimbang tanpa ada masalah. Kenyataan ini sekaligus memberi gambaran betapa kegiatan komunikasi bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan oleh setiap manusia. Anggapan ini barangkali didasarkan atas dasar asumsi bahwa komunikasi merupakan suatu yang lumrah dan alamiah yang tidak perlu dipermasalahkan. Sedemikian lumrahnya, sehingga seseorang cenderung tidak melihat kompleksitasnya atau tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya berkekurangan atau tidak berkompeten dalam kegiatan pribadi yang paling pokok ini.[40]

           

 



                [1] Sheyren Natalia dan Leonid Julivan Rumambi, “Analisa Prediksi /Penilai Efektivitas Penggunaan Selebritis sebagai Brand Endorser untuk Membangun Brand Image”, Jurnal Manajemen pemasaran (Online), VOL.1, No. 1, (2013), email : jurnalpemasaran.petra.ac.id. Diakses 22 Desember 2016. 

               

[2] Rio Setiawan. Pengaruh Penggunaan Celebrity Endorser, Media Iklan Televisi da Pesan Iklan Televisi Terhadap Efektivitas Iklan Serta  Dampaknya dalam Menumbuhkan Band Awareness pada Program Periklanan Produk Indsat IM3(Studi pada Mahasiswa Fakutas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta). KRIPSI, Jakarta: Fakutas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah, 2011. Diakses 22 Desember 2016. 

                [3] Siti Saniah, “Pengaruh Persepsi Endorse Seleritis Terhadap Daya Tarik Iklan OSD (Oki Septiana Dewi) Di Instgram pada Mahasiswi UIN Makiki malang, Kripsi (Online),(2016), email:www.Journal.Unitas-pdg.ac.id. Diakses 02Januari 2017. 

 

[4] Monle Lee dan Carla Johnson,  Prinsip-prinsip Pokok Periklanan dalam Perspektif Global, (Jakarta:Prenada, 2005), hal.3.

               

[5] Nila Kasuma Dewi, Dkk, “Pengaruh Iklan, Citra Merek dan Kepuasan Konsumen Terhadap Loyalitas Konsumen dalam Menggunakan Vaselin Hand and Body Lotion di Kota Padang”, Jurnal Manjemen dan Kewirausahaan (Online), VOL.III, No. 2, Mei (2012). Diakses 6 Maret 2017.

                [6]  Morissan, Periklanan : Komunikasi Pemasaran Terpadu, (Jakarta: Kencana, 2012), hal. 17-18.

 

                [7] Pujiyanto, Iklan Layanan Masyarakat, (Yogyakarta: Andi, 2013), hal. 3.

                [8] Morissan, Periklanan : Komunikasi Pemasaran Terpadu, (Jakarta: Kencana, 2012), hal. 17.

 

                [9] Sandra Moriarty, dkk, Advertising, ( Jakarta: Kencana, 2009), hal. Vii.

 

                [10]Ibid.,hal. 6.

 

[11]Rachmat Kriyantono, Public Relations Writing: Teknik Produksi Media Public Relations dan Publisitas Korporat, Ed 1, Cet ke 2, Jakarta: Kencana, 2008), hal. 184-185.

                [12] Monly Lee dan Carla Johnson, Prinsip-prinsip Pokok Periklanan dalam Perspektif Global, (Jakarta: Prenada Media, 2004), hal.10-11.

               

[13] Whitehill King. J. Thomas Russell, Kleppner’s AdvertisingProcedure, seventeenth edition, (Terjemahan Kleppner), Jakarta: Indeks, 2009, hal. 48-50.

                [14] Diah Syafita Johar, Dkk, “pengaruh AIDA ( Attention, Interest, Desire, Action) Terhadap Efektifitas Iklan Online”, Jurnal Administrasi Bisnis (Online), VOL. 26, No. 1, September (2015), email: administrsibisnis.studentjournal.ub.ac.id. Diakses  6 maret 2017.

                [15] Evi Adia L.Gaol, Perempuan Dalam  Tayangan Televisi Menurut Pandangan Akademisi Dakwah (Studi Pasa Dosen Dakwah Dan Komunikasi UIN Ar-Raniry), (SKRIPSI, 2015), hal. 23.

               

                [16]Siti Saniah, “Pengaruh Persepsi Endorse Seleritis Terhadap Daya Tarik Iklan OSD (Oki Septiana Dewi) Di Instgram pada Mahasiswi UIN Makiki malang, Kripsi (Online),(2016).Diakses 02Januari 2017. 

                [17] Terence A. Shimp, Periklanan PromosiAspek Tambahan Komunikasi Terpadu, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003), hal. 460.

               

[18] Gevin Sepria Harly & Damayanti Octavia, Penggaruh Endorsement Fashion Blogger Terhadap Minat Beli Merek Lokal pada Tahun 2013-2014 (Studi Kasus pada Fashion Blogger Evita Nuh), Jurnal Manajemen Indonesia (Online), VOL.14, No. 2, Agustus (2014), email: damavia@yaoo.co.id. Diakses pada 24 September 2016.

               

                [19] Terence A. Shimp, Periklanan PromosiAspek Tambahan Komunikasi Terpadu, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003), hal. 459.

[20] M Suyanto, Marketing Strategi Top Brand Indonesia, (Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2007), hal. 99

                [21] Sheyren Natalia dan Leonid Julivan Rumambi, “Analisa Prediksi /Penilai Efektivitas Penggunaan Selebritis sebagai Brand Endorser untuk Membangun Brand Image”, Jurnal Manajemen pemasaran (Online), VOL.1, No. 1, (2013), email : jurnalpemasaran.petra.ac.id. Diakses 22 Desember. 

                [22] Terence A. Shimp, Periklanan PromosiAspek Tambahan Komunikasi Terpadu, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003), Hal. 464-466.

 

                [23] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 2003) hal. 100

               

                [24] Siti Saniah, “Pengaruh Persepsi Endorse Seleritis Terhadap Daya Tarik Iklan OSD (Oki Septiana Dewi) Di Instgram pada Mahasiswi UIN Makiki malang”, Kripsi (Online),(2016).Diakses 02Januari 2017. 

                [25] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 2003) hal. 534

 

                [26] Najati, Psikologi dalam A-Qur’an (psikolog dalam Perspektif Al-Qur’an), (Surakarta: Aulia Press, 2008), hal. 47.

                [27] Morissan, Teori Komunikasi Individu hingga Massa, Cet ke 1, (Jakarta: Kencana, 2013), hal. 508.

               

[28] Rangga Aditya, Pengaruh Media Sosial Instagram Terhadap Minat Fotografi pada Komunitas Fotografi Pekanbaru, Jom FISIP (Online), VOL.II, No. 2, Oktober (2015), email: radithyadhikagmail.com. Diakses pada 6 Maret 2017.

 

[29] Dewi Rahmawati,Pemilihan dan pemanfaatan Instagram seagai Media Komunikasi Pemasaran Online, (2016), Diakses 22 Desember, hal. 31.

               

[30] M Nisrina, Bisnis Online, Manfaat Media Sosial dalam Meraup Uang, (Yogyakarta: Kobis, 2015), hal. 137.

                [31] Kjell H. Landsverk, The Instagram Handbook, (London: PrimeHead Lemeted, 2014)

                [32] Kjell H. Landsverk, The Instagram Handbook, (London: PrimeHead Lemeted, 2014)

[33] Kjell H. Landsverk, The Instagram Handbook, (London: PrimeHead Lemeted, 2014)

 

[34] Dicuplik dan diperbaharui dari tulisan A. Husnul Hakim IMZI - Dosen Fak. Ushuluddin Institut PTIQ Jakarta.

[35] M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 166.

[36] Ibid., hlm. 167.

[37] Ibid., hlm. 167

 

[38] Ibid., hlm. 168.

 

[39] Ibid., hlm. 169.

[40] Ibid., hlm. 170.

Komentar

Postingan Populer