Penerapan Snowbal Throwing pada Pembelajaran Fisika Hukum Newton
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Belajar Siswa
pada sebelum Penerapan Model Snowball
Throwing
Besar kecilnya nilai siswa pada tes awal ini tidaklah menjadi
ukuran, sebab yang dicari dari hasil tes awal itu akan dilihat seberapa besar
peningkatan aktivitas siswa dan guru serta hasil belajar siswa setelah
menerapkan model Snowball Throwing pada
pelajaran Fisika dengan materi sebagaimana tersebut dahulu. Setelah data ini
diperoleh, lalu disusun dalam bentuk tabel untuk memudahkan dalam mengamati dan
membaca terhadap jumlah siswa yang berhasil dan yang belum berhasil.Seperti
biasa, sebelum dilakukan tes, guru melakukan memberikan apersepsi serta gambaran
umum materi yang akan dipelajari pada penerapan model Snowball Throwing.
4.2Pelaksanaan Siklus I
Siklus I merupakan serangkaian pertemuan
yang di dalamnya diterapkan model pembelajaran Snowball Throwing pada materi Hukum Newton tentang Gravitasi.Siklus
I ini dilaksanakan pada tanggal 25 Juli 2017, dengan waktu 4 jam pelajaran,
pelaksanaannya mengacu pada desain penelitian yang telah disebutkan dahulu,
terdiri dari empat tahapan perencanaan (planning), tindakan/pelaksanaan
(action), pengamatan (observasion), dan refleksi.
4.4.1
Perencaanaan (Planning)
37
1) Melakukan
koordinasi dengan guru terkait materi dan proses pembelajaran yang akan
peneliti lakukan.
2) Menyusun
perangkat pembelajaran, berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP-1) beserta
indikator-indikator pembelajaran dan sesuai dengan materi pelajaran yang akan
disampaikan dengan langkah-langkah pada model pembelajaran Snowball Throwing.
3) Menelaah
dan mempelajari materi yang akan disampaikan.
4) Melakukan
koordinasi dengan teman sejawat mengenai pelaksanaan tindakan.
5) Menyiapkan
media yang digunakan dalam pembelajaran, seperti kayu, kerikil, kertas HVS,
stopwath, neraca dan meter.
6) Membuat
alat evaluasi yang berupa lembar observasi dan lembar tes. Lembar observasi
merupakan sebuah alat untuk mengevaluasi kegiatan siswa selama proses
pembelajaran berlangsung, sedangkan tes pilihan ganda untuk mengetahui
pencapaian taraf kognitif siswa mengenai pengetahuan, pemahaman dan penerapan
terhadap bahan pengajaran.
4.4.2
Pelaksanaan Tindakan (Action)
Setelah
semua instrument/dokumen penelitian dipersiapkan selanjutnya dilakukan tindakan.Pembelajaran
dimulai pada pukul 07.50 WIB sampai dengan pukul 10.00 WIB.Jumlah siswa yang
hadir sebanyak 24 orang siswa.Dalam pelaksanaan tindakan ini, peneliti membagi
siswa menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok beranggota 6 orang siswa.
Kegiatan dalam pelaksanaan kegiatan ini berpedoman pada RPP-1 dan LKS-1 yang
telah dipersiapkan sebelumnya.
Dalam tahapan ini guru dibantu oleh dua
orang observer yaitu teman sejawat (mahasiswi FKIP Universitas Serambi Mekkah
Banda Aceh).Pelaksanaan penelitian pada tahapan ini dengan menerapkan model
pembelajaran Snowball Throwing.Guru menyampaikan materi, semua kelompok mendengar
dan memperhatikan sementara ketua kelompok kembali ke anggotanya masing-masing.Setelah
itu, ketua kelompok menerangkan kembali materi yang telah diajarkan oleh guru.
Kemudian tiap anggota kelompok menuliskan 1 buah pertanyaan mengenai materi pelajaran yang
belum dipahami, ketua kelompok memastikan bahwa tidak ada pertanyaan yang sama
antara masing-masing anggotanya. Kertas yang berisi pertanyaan tersebut, dibuat
seperti bola dan dilemparkan kepada anggota kelompok yang lain.
Masing-masing siswa mendapatkan 1 buah
kertas dan diberikan kesempatan selama 5 menit untuk mencari jawaban dari
pertanyaan itu. Kemudian peneliti memanggil siswa satu persatu ke depan kelas
untuk membacakan jawabannya. Pada tahap ini, peneliti mengevaluasi jawaban yang
telah dijawab dan disampaikan oleh siswa. Pada akhir pertemuan, peneliti
memberikan evaluasi mengenai pelajaran yang telah disampaikan pada pertemuan
tersebut, dan menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan pada tahap selanjutnya yaitu
tes. Setelah tes berakhir, peneliti menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
1) Aktivitas
Guru
a. Guru membagikan kepada setiap siswa selembar
kertas kosong
b. Guru meminta siswa untuk menulis pertanyaan pada
kertas
c. Guru meminta siswa menulis pertanyaan dengan
jelas
d. Guru mengajak masing-masing siswa meremas kertas itu menjadi seperti bola
e. Guru mengumpulkan bola pertanyaan dalam
keranjang dan membagi kembali bola-bola itu dengan melemparkan satu demi satu
kepadaa setiap siswa di dalam kelas
f. Guru memberi aba-aba setiap siswa harus
mengambil sebuah bola, membukanya, dan meminta siapa saja atau menggunakan apa
saja dalam ruangan itu untuk menjawab pertanyaan pada bola, setelah beberapa
menit
g. Guru meminta setiap siswa untuk membaca
pertanyaan mereka di depan kelas dan memberi jawabannya.
h. Guru dan siswa lain dapat memberikan tanggapan
atau masukan bila perlu
2) Aktivitas
siswa
a. Setiap
siswa menerima lembaran kertas yang dibagikan oleh guru
b. Siswa
menulis pertanyaan pada kertas yang diberikan oleh guru
c. Siswa
menulis pertanyaan dengan jelas dan benar
d. Siswa
membuat kertas yang dibagikan guru menjadi seperti bola dengan cara diremas
e. Siswa
menerima bola yang dibagikan dengan cara menyambut bola yang dilempar oleh guru
f. Siswa
mendengar aba-aba untuk mengambil sebuah membukanya dan meminta siapa atau
menggunakan apa saja dalam ruangan untuk menjawab pertanyaan pada bola
g. Siswa
melaksanakan perintah guru untuk membaca pertanyaan di di depan kelas dan
menjawabnya
h. Guru
dan siswa dapat memberi tanggapan atau masukan bila perlu
4.4.3
Pengamatan (Observasi)
Selama proses pembelajaran berlangsung,
selama itu pula proses pengamatan dilaksanakan. Pengamatan ini dilaksanakan
sesuai dengan pedoman observasi yang telah disusun dahulu baik aktivitas guru
maupun siswa pada saat penggunaan metode Snowball
Throwing (Lampiran 5).
1) Data
Hasil Observasi Guru dan Siswa Siklus I
Penilaian
keaktifan guru siswa dilakukan dalam pembelajaran disaat diterapakan model
pembelajaran Snowball Throwing.Pada lembar observasi, observer akanmemberi
nilai keaktifan guru dan siswa pada kolom-kolom aspek penilaian yang telah
disediakan dalam bentuk angka (Lampiran 6).
Adapun
hasil observasi pada guru dan siswa yang dilaksanakan pada siklus I adalah
sebagai berikut:
Grafik
4.3 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I
Dari aspek yang diamati, mulai
keberanian siswa sampai perhatian siswa selama proses pembelajaran, ditemukan
aspek yang paling tinggi keaktifan siswa adalah keberanian siswa dalam bertanya
yang memiliki perolehan nilai/skor 78, kemudian disusuli dengan keberanian siswa
dalam untuk menjawab pertanyaan/mengungkapkan pendapat dengan skor 76,
sementara perhatian siswa selama proses pembelajaran memiliki skor 74 dan
interaksi siswa dalam kelompok memiliki skor 64.
Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa
keaktifan siswa Kelas XI SMA Negeri 12 Kota Banda Aceh pada siklus I
terkategorikan masih rendah.Tidak ada siswa yang menunjukkan nilai sikap aktif
dengan kategori sangat baik. Namun demikian, model pembelajaran Snowball Throwing
dapat dikatakan sudah baik sebab, tidak ada siswa yang memiliki skor sangat
kurang, kurang dan cukup, namun secara umum adalah baik. Apabila keaktifan
siswa selama proses pembelajaran kelas mencapai 75% dari keseluruhan siswa
Kelas XI SMA Negeri 12 Kota Banda Aceh maka dianggap sudah mencapai kategori
yang dicari.
Berdasarkan presentase di atas, dapat
disimpulkan nilaiyang diperoleh berdasarkan KKM jelas belum mencukupi, sehingga
perlu dilakukan peningkatan aktivitas pada siklus selanjutnya karena hasil
presentase belum mampu mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan peneliti,
yakni sebesar 75%. Hal ini, dapat disebabkan:
1)
Siswa belum bisa mengikuti proses pembelajaran dengan
baik
2)
Sebagian siswa keberatan dengan model pembelajaran
pembagian kelompok.
3)
Saat pembelajaran berlangsung, masih banyak siswa yang
menunjukkan aktivitas negatif di dalam kelas seperti menganggu teman yang lain
dan bermain handpone.
4)
Ketika menuliskan pertanyaan, masing-masing siswa tidak
kreatif dan cenderung mengulang-ulang kembali pertanyaan yang telah diajukan
oleh siswa lain. Karena seringnya terdapat pertanyaan yang sama, hal tersebut
membuat siswa malas maju ke depan untuk memberi membacakan jawaban dari
pertanyaan yang didapatkannya.
Hasil
pengamatan keaktifan siswa pada siklus I yang masih rendah menunjukkan bahwa
diperlukan perbaikan pada siklus berikutnya agar model pembelajaran snowball
throwing terbukti dapat meningkatkan keaktifan siswa.
2) Prestasi
Belajar Siswa Siklus I
Pada akhir pertemuan, peneliti
memberikan evaluasi mengenai pelajaran yang telah disampaikan pada pertemuan
tersebut, dan menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan pada tahap selanjutnya
yaitu tes. Setelah tes berakhir, peneliti menutup pelajaran dengan mengucapkan
salam yang sebelumnya telah diberikan motivasi agar pembelajaran selanjutnya
lebih aktif dan bersemangat untuk diikuti.
Adapun nilai yang diperoleh pada tahap
tindakan siklus I yaitu sebagaimana pada grafik berikut:
Grafik
4.4 Tingkat Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus I
KKM untuk mata pelajaran Fisika Kelas
XI SMA Negeri 12 Banda Aceh sebagaimana ditentukan oleh sekolah adalah
75.Apabila nilai siswa mencapai 75-100, maka dinyatakan tuntas dan berhasil.
Berdasarkan hasil belajar siswa dari 23 siswa menunjukkan nilai rata–rata yang
dicapai adalah 63,9 dengan nilai tengah yaitu 65, dan nilai yang paling sering
muncul adalah 60 dan 75 nilai tersebut muncul sebanyak 5 kali (Lampiran 7).
4.4.4.
Refleksi dan Tindakan Lanjutan
Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan
model pembelajaran Snowball Throwing, selanjutnya
dilakukan tahap refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Refleksi dimaksudkan untuk mengungkapkan hasil pembelajaran baik dari segi
pengamatan, maupun dari segi aktivitas siswa dan dari hasil belajar melalui
tes.Pada tahap refleksi peneliti dan observer mendiskusikan hasil pengamatan
yang dilakukan selama pelaksanaan tindakan, baik itu kelebihan dan berbagai
kekurangannya.
Berdasarkan
hasil pelaksanaan tindakan, maka ditemukan masalah sebagai berikut:
1) Keberhasilan
guru dan siswa
Adapun
kelebihan guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung adalah sebagai
berikut:
a.
Dari aspek yang diamati, mulai keberanian siswa sampai
perhatian siswa selama proses pembelajaran, ditemukan aspek yang paling tinggi
keaktifan siswa adalah keberanian siswa dalam bertanya yang memiliki perolehan
nilai/skor 78, kemudian disusuli dengan “keberanian siswa dalam untuk menjawab
pertanyaan/mengungkapkan pendapat” dengan skor 76, sementara “perhatian siswa
selama proses pembelajaran” memiliki skor 74 dan “interaksi siswa dalam
kelompok” memiliki skor 64.
b.
Kegiatan pembelajaran sebagian besar sudah terlaksana
sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP-1).
c.
Ditinjau dari aspek peneliti, beberapa langkah
pembelajaran yang dilakukan tergolong sangat baik, sebanyak 7 aspek yang
diamati pada guru memperoleh nilain sangat baik dengan skor 4. Dari 10 aspek
yang diamati pada guru hanya 3 skor yang memperoleh nilai skor 3. Secara umum
kegiatan peneliti sudah sesuai dengan rencana yang ditetapkan pada lembar
observasi dahulu
2) Kelemahan
guru dan siswa
Sementara
kelemahan guru dan siswa dalam penerapan metode tersebut adalah sebagaiberikut:
a.
Pertanyaan yang diitulis siswa pada umumnya sama yaitu menanyakan
pengertian dan contoh gaya gravitasi rekayasa.
b.
Peneliti dan observer kesulitan untuk melakukan
pengamatan terhadap keaktifan siswa karena indikator yang diamati untuk
masing-masing siswa banyak jenisnya dan observer-peneliti belum dapat mengenali
siswa satu persatu.
c.
Masih banyak siswa saat pembelajaran berlangsung bermain handphone, dan berbicara dengan teman
sebangku.
d.
Ketua kelompok yang dipilih oleh anggotanya tidak dapat
menjelaskan dengan baik materi kepada anggota kelompoknya, atau kurang tepat.
e.
Selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, observer
dan peneliti mengamati sedikit sekali siswa yang aktif dalam pembelajaran, dan
pada saat membagi siswa dalam beberapa kelompok terjadi kegaduhan di dalam
kelas dikarenakan siswa menggeser-geser meja dan bangku, namun kegaduhan itu segera dapat
diatasi, dan penggunaan waktu masih banyak terbuang.
f.
Sebagian ada yang keberatan dengan pola pembagian kelompok
maka itu siswa juga sering menunjukkan aktivitas.
g.
Ketika menuliskan pertanyaan, masing-masing siswa kurang kreatif
dan cenderung mengulang-ulang kembali pertanyaan yang telah diajukan oleh siswa
lain, hal ini membuat siswa malas maju ke depan untuk membacakan jawabannya.
Beberapa permasalahan di atas perlu
disempurnakan dan dibenahi pada pelaksanaan tindakan siklus berikutnya.Solusi
yang diperlukan menjadi topik pembahasan yang didiskusikan oleh peneliti dan
observer.Sedangkan hasil refleksi untuk aktifitas dan hasil belajar siswa.
4.5 Pelaksanaan Siklus II
Siklus kedua ini merupakan refleksi dari
siklus sebelumnya, dengan kata lain kesalahan yang terjadi di siklus I,
dilakukan penyempurnaan pada siklus II ini.
4.5.1
Perencaanaan (Planning)
Perencanaan pada siklus II mengacu pada
hasil refleksi siklus sebelumnya, dan menggunakan RPP-2, serta LKS-2.Dalam
siklus ke II ini pembelajaran Snowball
Throwing diupayakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa dan
sekaligus memperbaiki kelemahan yang ditemukan pada guru. Adapun perencanaan
yang digunakan yaitu sebagai berikut:
a. Menyusun
perangkat pembelajaran, berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP-2). RPP-2
disusun sesuai dengan mata pelajaran Fisika materi Hukum Newton tentang
Gravitasi yang akan disampaikan dan didesain dengan langkah-langkah pada model
pembelajaran snowball throwing.
b. Membuat
alat evaluasi yang berupa lembar observasi dan tes berupa perlakuan (gravitasi
rekayasa) untuk mengevaluasi kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung,
tes ini untuk mengetahui pencapaian taraf kognitif siswa mengenai pengetahuan,
pemahaman dan penerapan terhadap bahan pengajaran Hukum Newton tentang
Gravitasi pada siswa Kelas XI SMA Negeri 12 Banda Aceh.
c. Mempersiapkan
sarana dan media pembelajaran seperti (Kertas Gumpalan, Kayu, Batu, Neraca,
Stopwath dan Meter) yang akan dipergunakan. Kekurangan pada siklus I adalah
ketua kelompok kurang dapat menjelaskan kepada anggota kelompok lainnya,
mengenai materi yang telah disampaikan oleh peneliti. Untuk mempermudah
pemahaman ketua kelompok, peneliti mempersiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS)
pembelajaran. Lembar Kerja Siswa (LKS) pembelajaran yang dimaksud, berisi
gambar-gambar yang akan mempermudah penjelasan ketua kelompok kepada anggota
kelompoknya.
d. Membuat
kartu identitas siswa. Hal tersebut bertujuan untuk lebih memudahkan peneliti
dan observer mengenali serta melakukan pengamatan sikap pada setiap siswa.
Kartu identitas tersebut berupa selembar kertas yang di dalamnya tertulis nama,
NIS dan nomor presensi tiap-tiap siswa.
4.5.2
Pelaksanaan Tindakan (Action)
Tindakan yang dilakukan oleh guru
pada siklus II ini sesuai dengan RPP-2, pembelajaran dimulai dengan salam,
berdoa dan mengulangi materi yang telah diajarkan sebelumnya. I. Untuk
memudahkan guru dan observer dalam melakukan penilaiaan terhadap aktivitas
siswa, pada siklus II ini, guru membuat Kartu Identitas Siswa(Lampiran 11).
Dalam pembelajaran siklus II ini siswa
cukup bersemangat, banyak yang menunjuk tangan dan menjawab pertanyaan karena peneliti
memberitahukan kepada siswa bahwa keaktifan siswa dinilai.Pada pembelajaran
siklus II ini, guru juga membentuk siswa menjadi 4 kelompok, dengan
masing-masing kelompok beranggotakan 6 orang siswa. Anggota pada tiap-tiap
kelompok pada siklus II berbeda (diroling), siswa pada saat pertama pada
kelompok B, kini berada pada kelomok C atau A atau D. Hal ini dimaksudkan agar
setiap siswa mendapatkan kesempatan belajar dengan siswa yang lain secara
merata.
4.5.3
Pengamatan (Observasi)
Penggumpulan data mengenai aktivitas
guru dan siswa dilakukan oleh observer pada saat proses pembelajaran
berlangsung. Pada siklus II ini jumlah siswa yang diamati sebanyak 23 siswa
dengan keterangan 1 orang siswa tidak hadir (sakit).Observer pada siklus ini
berjumlah 2 orang seperti pada siklus I dahulu(Lampiran 12).
1) Hasil
Observasi pada Siswa Siklus II
Pengamatan ini dilakukan oleh seorang
observer pada siswa dalam pelaksanaan tindakan.Untuk memudahkan pengamatan,
pada siklus II peneliti memberikan nomor kepada masing–masing siswa.Aspek-aspek
penilaian sikap meliputi 5 aspek penilaian berkenaan dengan aktivitas siswa (Lampiran 13).
Grafik
4.6 Observasi pada Siswa Siklus II
Berdasarkan grafik di atas, dapat
diketahui hasil pengamatan keaktifan siswa pada siklus II.Siswa yang
mendapatkan skor dengan kategori sangat baik sebanyak 12 orang siswa atau
sebesar (48%) dari total 23 siswa.Siswa yang menunjukkan sikap aktif dengan
kategori baik sebanyak 8 orang siswa atau (32%).Tidaka da siswa yang memiliki
skor cukup, kurang dan sangat kurang.
Model pembelajaran Snowball Throwing
berhasil apabila keaktifan siswa selama proses pembelajaran di atas 75%
dari keseluruhan siswa kelas XI SMA Negeri 12 Banda Aceh. Hasil pengamatan
keaktifan siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan dari siklus sebelumnya.
Peningkatan keaktifan siswa dari siklus I sebesar 65% ke siklus II sebesar 78,66%
(65% pada siklus I dan 78,66% pada siklus II) sehingga meningkat sebesar
13,66%.
2) Prestasi
Belajar Siswa Siklus II LKS-02
Dalam
pelaksanaan tindakan pada siklus II ini, nilai yang diperoleh oleh siswa dapat
diamati pada Lampiran 14.
Grafik
4.7 Prestasi Belajar Siswa Siklus II LKS-02
Penelitian
ini dianggap berhasil apabila model pembelajaran Snowball Throwing mampu
meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar pada siklus II menunjukkan
bahwa dari 23 siswa Kelas XI yang mengikuti tessiklus II, siswa mampu mencapai nilai kriteria ketuntasan
minimal (KKM) sebanyak 18 orang siswa atau sebesar (78,2%) dari keseluruhan kelas.
Sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 5 siswa atau (21,8%). Hal ini
menunjukkan bahwa pencapaian hasil belajar siswa pada siklus II sudah sempurna.
4.5.4.
Refleksi dan Tindakan Lanjutan
Berdasarkan
keseluruhan tindakan pada siklus II meliputi perencanaan dan pelaksanaan
tindakan serta hasil observasi yang dilakukan selama tindakan siklus II dapat
dilakukan hasil refleksi.Upaya untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan
siswa pada siklus II menunjukkan hasil yang baik.Pengamatan ini dilaksanakan
sesuai dengan pedoman observasi. Adapun rangkuman hasil pengumpulan data
diatas, sebagai berikut:
a.
Aktifitas belajar siswa meningkat dari siklus sebelumnya
peningkatan hasil belajar siswa sebesar 44,26%, yaitu Siklus I sebesar 34%
sementara siklus II sebesar 78,66%, bila nilai tuntas dapat dicapai 75% dari
keseluruhan siswa kelas XI SMA Negeri 12 Banda Aceh maka aktifitas siswa mencapai
kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan peneliti.
b.
Kemudian kriteria keberhasilan siswa yang ditetapkan
peneliti pada penelitian ini adalah bila presentase mencapai 75%, sedangkan
hasil observasi terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada siklus II
menunjukkan bahwa presentase 78,26%, hasil tersebut mengalami peningkatan,
siklus sebelumnya menunjukkan presentase keseluruhan sebesar 61,33% siklus sebesar
78,26%, peningkatannya adalah sebesar 16,93%. Dapat disimpulkan bahwa pada
siklus II ini peningkatan hasil belajar siswa telah mencapai kriteria
keberhasilan yang ditetapkan peneliti yaitu 75%.
Berdasarkan dua keterangan di atas, pada siklus II baik
hasil belajar siswa maupun hasil keaktifan siswa mengalami peningkatan dan
keduanya telah mencapai kriteria keberhasilan yang sebelumnya telah ditetapkan
oleh peneliti.Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas ini tidak dilanjutkan
pada siklus berikutnya, dan penelitian ini telah dianggap berhasil.
1)
Keberhasilan guru dan siswa
Adapun
kelebihan guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung adalah sebagai
berikut:
a.
Hasil belajar siswa meningkat dari siklus sebelumnya
peningkatan mencapai nilai KKM hasil belajar siswa telah mencapai kriteria
keberhasilan yang telah ditetapkan peneliti.
b.
Pada siklus II baik hasil belajar siswa maupun hasil keaktifan
siswa mengalami peningkatan dan keduanya telah mencapai kriteria keberhasilan
yang sebelumnya telah ditetapkan oleh peneliti.
c.
Aktifitas peneliti sudah menunjukkan tingkat keberhasilan
pada criteria sangat baik
d.
Aktivitas siswa sudah menunjukkan tingakat keberhasilan
yang sangat baik
e.
Siswa cukup bersemangat, banyak yang menunjuk tangan dan
menjawab pertanyaan.
f.
Diadakannya kartu identtas untuk mempermudah melakukan
pengamatan terhadap keaktifan siswa selama proses pembelajaran.
2)
Kelemahan Guru dan Siswa
Adapun kelemahan guru dan siswa pada
siklus II ini yaitu:
a.
Guru membimbing siswa dalam memecahkan permasalahan soal
latihan masih ditemukan ketidak tegasan guru dalam membimbing siswa.
b.
Akibat banyak yang bertanya, situasi ruangan sedikit agak
sulit dikontrol karena semua ingin menjawab dan bertanya.
4.7 Deskripsi Hasil
Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II
Penilaian hasil belajar
siswa pada penelitian ini adalah menggunakan tes.Tes dilakukan pada akhir
pembelajaran atau pada setelah berakhirnya kegiatan kelompok pada model
pembelajaran snowball throwing pelajaran
Fisika materi Hukum Newton tentang Gravitasi.Pada siklus I dan siklus
II, tes dilakukan setelah peneliti memberi penjelasan tentang materi.
Hasil belajar siswa secara keseluruhan
pada tiap siklus dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
Grafik
4.10 Hasil Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II
Tabel 4.5 Hasil Belajar Siklus I dan II
|
Siklus |
Jumlah Siswa |
Jumlah Tuntas |
Presentase |
Keberhasilan |
|
Siklus
I |
23 |
8 |
61,33,% |
Kriteria
Ketuntasan 75% |
|
Sikus
II |
23 |
18 |
78,26
% |
Sumber:
Data setelah diolah 2017
4.9 Pembahasan Hasil
Penelitian
Permasalahan pembelajaran Fisika yang
terjadi di SMA Negeri 12 Banda Aceh, adalah kurangnya keaktifan siswa selama
proses belajar di kelas kemudain rendah pula hasil belajar yang diperoleh.
Penggunaan metode ceramah oleh guru menyebabkan siswa kurang antusias dan
merasa cepat bosan dengan pelajaran. Saat pelajaran berlangsung, banyak siswa
yang membuat kegaduhan, berbicara dengan teman sebangku sampai mengerjakan PR
mata pelajaran lain karena merasa bosan.
Masalah tersebut dapat disebabkan karena
tidak dilibatkannya siswa dalam proses pembelajaran. Aunurrahman (2012:36)
mengatakan bahwa suatu kegiatan belajar akan dikatakan semakin baik, bilamana
intesitas keaktifan jasmaniah maupun mental seseorang semakin tinggi. Artinya
adalah semakin banyak peran siswa dalam proses pembelajaran akan membuat proses
pembelajaran semakin efektif (baik). Menurut Khanifatul (2014:37) hal yang
mampu mendorong keaktifan belajar siswa adalah apabila guru mampu menciptakan
susana pembelajaran yang menyenangkan. Salah satu caranya adalah dengan
menggunakan metode dan model pembelajaran yang bervariasi. Untuk itulah pada
penelitian ini dipergunakan model pembelajaran kooperatif tipe snowball
throwing yang menekankan keaktifan siswa di dalam proses pembelajaran.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal
24-27 Juli 2017 yang dilakukan selama empat hari dengan dua siklus dan hasilnya
mampu meningkatkan keaktifan siswa. Peningkatan keaktifan siswa setelah
menggunakan model pembelajaran snowball throwing dapat meningkat sebesar
59,17%. Berhasilnya model pembelajaran snowball throwing untuk
meningkatkan keaktifan siswa dikarenakan perencanaan yang matang.
Perencanaan menurut Sukiman (2011:138)
adalah berupa perincian kegiatan mengenai tindakan yang bertujuan untuk
mencapai suatu peningkatan, perbaikan atau perubahan.Perencanaan tindakan
merupakan suatu formulasi solusi dalam bentuk hipotesis tindakan.Perencanaan
tersebut mengacu pada hasil refleksi yang telah didiskusikan oleh peneliti,
guru dan dibantu oleh observer (mahasiswi Universitas Serambi Mekkah) pada
setiap siklus.
Kemudian perencanaan-perencanaan
tersebut akan dilaksanakan pada tahap tindakan selanjutnya. Pada siklus II,
peneliti melakukan perencanaan yang bertujuan untuk merangsang siswa lebih
aktif dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah peneliti persiapkan sebelumnya.
Menurut Martinis dan Ansari (2009: 31) memberikan pertanyaan bertujuan untuk
mengembangkan potensi siswa untuk siswa berpikir menggunakan gagasan sendiri
dalam menjawab pertanyaan bukan mengulangi gagasan yang sudah dikemukakan guru.
Peneliti akan memberikan penghargaan
dengan bentuk pemberian nilai sikap pada aspek penilaian 1 dan 2 yakni
keberanian siswa bertanya dan keberanian siswa untuk menjawab pertanyaan,
kepada siswa yang mampu memberikan pertanyaan maupun menjawab pertanyaan dengan
tepat. Tujuan pemberian penghargaan tersebut adalah supaya siswa menjadi lebih
termotivasi untuk meningkatkan keaktifannya selama proses pembelajaran
berlangsung.
Menurut Dimiyati (2009: 91) pemberian
hadiah merupakan sebuah dorongan terhadap perilaku seseorang dalam berbuat
sesuatu. Dalam hal ini dapat berarti bahwa dengan diberikannya hadiah
(penghargaan) seseorang akan bersungguh-sungguh, misalnya dalam proses
pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran snowball throwing pada penelitian
ini menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa pada tiap siklus. Berhasilnya
model pembelajaran snowball throwing terlaksana pada siklus II, dan
peningkatan hasil belajar siswa dapat mencapai sebesar 60,2%.
Menurut Oemar Hamalik dalam Rusman (2012:123)
menyatakan bahwa hasil belajar itu dapat terlihat dari terjadinya perubahan
dari persepsi dan perilaku termasuk juga perbaikan perilaku.Pada siklus II,
siswa tampak lebih memperhatikan pelajaran dan mencatat penjelasan guru dengan
seksama dari pada siklus sebelumnya.Perubahan perilaku tersebut juga terlihat
pada tiap siklus pembelajaran. Berdasarkan hasil refleksi pada siklus-siklus
sebelumnya, pada saat siswa menuliskan pertanyaan pada lembar kertas,
pertanyaan yang dituliskan pada umumnya sama. Siswa tidak kreatif dan cenderung
mengulang-ulang kembali pertanyaan yang telah dituliskan oleh siswa lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan pada Kelas XI SMA Negeri 12 Banda Aceh, jika dibanding dengan
beberapa penelitian lainnya maka dalam penelitian ini bentuk aktifitas siswa
yang paling menonjol adalah semangat menjawab pertanyaan sangat tinggi, sedikit
sekalai siswa yang tidak mengacungkan tangan ke atas disaat ada pertanyaan dari
teman untuk dijawab. Hal ini berbeda seperti penelitian Melia
Yulfiana (2014) tentang Peningkatan Prestasi Belajar Siswa pada Materi
Gelombang Elektromagnetik melalui Penerapan Model Pembelajaran kooperatif Tipe Snowball Throwing di SMA Negeri 6 Banda
Aceh, dimana lebih terlihat siswa banyak bertanya, namun demikian ada pula
siswa yang senang menjawab. Sementara penelitian Adik
Tri Wahyuningsih, dkk (2013), lebih menonjol
kerjasama dan bertanya kepada teman dan guru.

Komentar
Posting Komentar
Komentar