Syari'at, Thariqat dan Hakikat
Syari`at, Thariqat dan Hakikat
Berkata `Allamatud Dunya Sayyiduna Asy-Syarif Al-Imam Wajihuddin Abdur Rahman bin Abdullah bin Ahmad Balfaqih, guru Tgk Habib di Anjong radhiyallahu `anhum:
"Tiada bersebrangan antara ilmu dan amalan yang dzahir dan ilmu dan amalan yang bathin, dan tiada antara yang awal (masa mubtadi) dan yang akhir (masa muntahi), serta tiada antara syari`at, thariqat dan hakikat (jika ternyata bersebrangan berarti sesuatu yang lain yang dianggapnya padahal bukan). Dan penjelasan demikian itu adalah:
1. Syari`at adalah hukum-hukum Allah yang telah Dia taklifkan para hamba-Nya dengannya untuk ta`at dan patuh kepada-Nya, ketika Dia menetapkan asbab (hukum sunnatullah) dan menegakkan penisbatan perkara-perkara, agar Dia mengeluarkan mereka dengan sebab hukum syari`at dari kegelapan hawa nafsu dan tabi`at, dengan cara menjauhi yang dilarang dan menjunjung tinggi yang diperintah pada semua perkara dan urusan.
2. Thariqat adalah mengamalkan syari`at tersebut dalam rangka berjalan kepada (ridha) Allah atas ukuran yang disanggupi dengan memurnikan keikhlasan dan kefokusan penuh dalam mengamalkannya, serta berlepas diri dari mengandalkan asbab dan dari berada atas penisbatan perkara-perkara kepada diri sendiri, agar mereka keluar dari ikatan-ikatan dan batasan-batasan asbab tersebut kepada tempat terbit limpahan karunia dan sumber kewujudan. "Allahlah Sang Pengurus orang-orang yang telah beriman dimana Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada sang cahaya". QS. Al-Baqarah: 257
3. Hakikat adalah tajalli al-Haq dengan nur-Nya kepada hamba-Nya secara tahqiq dengan penghabisan tanzih, dan nampak keesaan-Nya dengan tiada ta`thil dan tiada tasybih.
Dan kami pasti akan menjelaskan contohnya dalam masalah penisbatan amalan-amalan; Jadi sesungguhnya Allah telah menciptakan si hamba dan qudrahnya serta amalannya dengan ta`alluq satu sifat Qudrah (yaitu Qudrah-Nya). Maka menisbatkan amalan kepada Allah adalah hakikat. Dan menisbatkan penetapan amalan kepada si hamba dengan sebab penetapan Allah adalah syari`at. Dan beramal si hamba dengan qudrahnya beserta memandang amalannya itu dari penciptaan Allah tanpa saling berlawanan (yakni tanpa memandang dirinya sendiri yang menjadikannya) adalah thariqat.
Allah berfirman:
وما رميت إذ رميت ولكن الله رمى
"Bukan kamu yang melempar", adalah thariqat, "ketika kamu melempar", adalah syari`at, "namun Allahlah yang melempar", adalah hakikat.
Si hamba berkata; "Aku sedang shalat - misalnya - karena Allah", adalah syari`at. "Aku shalat dengan taufiq dan inayah serta penciptaan Allah", adalah thariqat. "Allah telah menciptakan shalat untukku dan menisbatkannya kepada diriku" adalah hakikat". Intaha....
Al-Faqir berkata: "Yang dzahir, hakikat yang disebut dalam contoh ini bukanlah hakikat yang dimaksud dalam kalimat "Dia sudah sampai pada hakikat (katroek bak hakikat)". Bahkan itu hakikat yang dimaksud dalam kalimat "Dia berpegang pada hakikat saja, karena itu ia tiada berobat". Yakni hakikat dalam makna nafsul amri yang merupakan pondasi bagi hakikat dalam kalimat pertama itu. Karena hakikat dalam kalimat pertama itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari maqam al-Makrifah, yaitu hakikat yang di definisikan oleh Al-Quthub Syaikh Ahmad Zarruq Al-Fasi dengan ucapan beliau:
الحقيقة ما يتجلى من الكمالات العرفانية
"Al-Hakikat adalah perkara-perkara yang nampak berupa berbagai kesempurnaan yang hanya bisa disaksikan dalam maqam al-makrifah".
Dan beliau mendefinisi maqam al-makrifah:
المعرفة سريان العلم بجلال الحق أو جماله أو هما في كلية العبد حتى لا تبقى له من نفسه بقية، فيشهد كل شيء منه وبه وله، فلا يبقى لوجود شيء نسبةٌ عنده دونه، وهي مقدمة المحبة
"Al-Makrifah adalah menjalar ilmu tentang sifat Jalal Al-Haq dan sifat Jamal-Nya atau kedua-duanya dalam seluruh jiwa-raga si hamba sehingga tiada lagi tersisa sesuatu pun baginya dari dirinya. Maka ia pun memandang segala sesuatu itu dari-Nya dan dengan-Nya serta karena-Nya. Jadi tiada tersisa lagi suatu pun tinjauan bagi wujud sesuatu disisinya tanpa-Nya. Dan maqam Al-Makrifah adalah pendahuluan maqam Al-Mahabbah".
Yaitu hakikat yang disebutkan dalam kitab Jami`ul Ushul fil Auliya oleh Al-Murabbi Syaikh Ahmad Al-Mujaddidi An-Naqsyabandi, harus melewati tujuh aqabah dan tanjakan dulu sebelum sampai kesana, dimana tanjakan pertamanya adalah syari`at yang terdiri atas dua `aqabah, yaitu: ilmun nafi` dan amalan yang ikhlas. Tanjakan kedua adalah menyapih seluruh anggota badan dari berbagai pelanggaran syari`at. Tanjakan ketiga adalah menyapih nafsu dari rutinitasnya yang mentradisi. Tanjakan keempat adalah menyapih kalbu dari berbagai penyakit-penyakit hati yang manusiawi. Tanjakan kelima adalah menyapih sirr dari pengaruh-pengaruh alam fisik. Tanjakan keenam adalah menyapih akal dari berbagi khayalan yang asumtif. Dan tanjakan ketujuh adalah menyapih ruh dari selain Rabbul bariyyah.

Komentar
Posting Komentar
Komentar