SKRIPSI PERBANDINGAN ANGKA KEJADIAN REUMATIK BERDASARKAN JENIS KELAMIN

 

PERBANDINGAN ANGKA KEJADIAN REUMATIK  BERDASARKAN JENIS KELAMIN DI PUKESMAS ULE KARENG BANDA ACEH

 

1. 1 Latar Belakang Masalah

Seiring dengan meningktaknya usia, maka kekuatan oragn dan kekebalan tubuhpun semakin menurun. Perubahan-perubahan ini akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan penigkatan usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh memang selalu berubah. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatik. Dalam hal ini menurut Firiani (2009), ia menyebutkan bahwa salah satu dari golongan reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal taitu adalah arthritis rheumatoid.

Penyakit reumatik yang biasa disebut artritis (radang sendi) dan dianggap sebagai satu keadaan sebenarnya terdiri atas lebih dari 100 tipe kelainan yang berbeda. Penyakit ini terutama mengenai otot–otot skelet, tulang, ligamentum, tendon dan persendian pada laki–laki maupun wanita dengan segala usia dan semua jenis kelamin. Sebagian gangguan lebih besar kemungkinannya untuk terjadi pada suatu waktu tertentu dalam kehidupan pasien.

Di Pukesmas Ulee Kareng Banda Aceh, penyakit reumatik ini tergolong banyak kejadiannya, terutama pada usia dewasa-lansia. Jumlah yang mengindap reumatik ini sangat didominasi oleh kaum perempuan, artinya jumlah rata-rata yang memilikinya perempuan yang usia lansia. Jumlah ini tampaknya tidak berbanding dengan reumatik yang diderita oleh kaum laki-laki pada usia lansia. Jumlah penderita pada perempuan untuk 2 bulan terakhir ini Januari-Februari 2012 yaitu mencapai 27 pasien yang mengeluh. Sementara jumlah pasien laki-laki sebanyak 12 orang.

Perlu dikatahui bahwa, dampak keadaan ini dapat mengancam jiwa penderitanya atau hanya menimbulkan gangguan kenyamanan dan masalah yang disebabkan oleh penyakit reumatik tidak hanya berupa keterbatasan yang tampak jelas pada mobilitas dan aktivitas hidup sehari-hari tetapi juga efek sistemik yang tidak jelas tetapi dapat menimbulkan kegagalan organ dan kematian atau mengakibatkan masalah seperti rasa nyeri, di lain hal keadaan mudah lelah, perubahan citra diri serta gangguan tidur (Kisworo, 2008).

Lebih lanjut keadaan ini bisa bersifat akut atau insidius dan perjalanan penyakitnya dapat ditandai oleh periode remisi (suatu periode ketika gejala penyakit berkurang atau tidak terdapat) dan eksaserbasi (suatu periode ketika gejala penyakit terjadi atau bertambah berat). Terapi dapat sangat sederhana dan bertujuan untuk melokalisaasi rasa nyeri atau dapat kompleks dan dimaksudkan untuk mengurangi efek sistemiknya.

Kembali pada pokok masalah. Jumlah penderitaan bagi laki-laki dan perempuan sebagaimana data sementara yang telah disebutkan dahulu menjadi suatu hal menarik untuk diteliti dan dikaji lebih lanjut. Hal ini bukanlah sesuatu yang didesain demikian namun Akhtyo (2009), juga membenarkan bahwa penderita ini lebi didominasi oleh perempuan, bakan menurutnya 3 kali lebih tinggi dibandingkan  perempuan. Dan ditambahkan lagi olehnya, biasanya terdapat banyak tanda-tanda fisik. Insiden puncak dari arthritis rheumatoid terjadi pada umur dekade ke empat.

Berdasarkan hasil penelitian terakhir dari Zeng QY et al 2008, prevalensi nyeri rematik di Indonesia mencapai 23,6% hingga 31,3%. Angka ini menunjukkan bahwa rasa nyeri akibat rematik sudah cukup mengganggu aktivitas masyarakat Indonesia terutama mereka yang memiliki aktivitas sangat padat di daerah perkotaan seperti mengendarai kendaraan di tengah arus kemacetan, duduk selama berjam-jam tanpa gerakan tubuh yang berarti, tuntutan untuk tampil menarik dan prima, kurangnya porsi berolah raga, serta faktor bertambahnya usia.

Belum dikathui secara pasti penyebab tinggi reumatik yang diderita oleh perempuan, namun secara jelas perbandingannya jauh tinggi dibandingkan penderita pada laki-laki. Ada banyak hal yang menjadi perhatian dalam tulisan ini, terutama perbadingan jumlah angka penderita reumatik dan berbagai faktor penyebabnya. Mengingat perlu adanya konsekuensi yang benar-benar serius dan jelas, maka penelitian ini diberi judul, Perbandingan angka kejadian reumatik  berdasarkan jenis kelamin di Pukesmas Ulee Kareng Banda Aceh.

 

1.2. Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalahnya adalah;

  1. Bagaimana perbandingan angka kejadian reumatik berdasarkan jenis kelamin di Pukesmas Ulee Kareng Banda Aceh. Banda Aceh?
  2. Berapa jumlah perbandingan angka kejadian reumatik berdasarkan jenis kelamin di Pukesmas Ulee Kareng Banda Aceh?

 

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan umum

Untuk mengetahui perbandingan angka kejadian reumatik berdasarkan jenis kelamin di Pukesmas Ulee Kareng Banda Aceh.

 

1.3.2. Tujuan khusus

 

a.       Untuk mengetahui tingkat perbandingan angka kejadian reumatik berdasarkan jenis kelamin di Pukesmas Ulee Kareng banda Aceh.

b.      Untuk mengetahui faktor penyebab angka kejadian reumatik berdasarkan jenis kelamin di Pukesmas Ulee Kareng Banda Aceh.

c.       Untuk mengetahui upaya pencegahan terhadap kejadian reumtik berdasarkan jenis kelamin di Pukesmas Ulee Kareng Banda Aceh.

 

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wacana keilmuan bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat terutama dalam kejadian reumatik.

1.4.2. Bagi peneliti

a.       Sebagai suatu pengalaman belajar dalam kegiatan penelitian.

b.      Memperoleh pengalaman dan peningkatan wawasan tentang pengetahuan, sikap terhadap motivasi dalam melakukan upaya pencegahan kejaidan reumatik.

 

 

1.4.3. Bagi masyarakat

a.       Memberi informasi tentang perbadingan kejadian reumtaik berdasarkan jenis kelamin.

b.      Memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk lebih mengerti terhadap kajadian reumatik.

 

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

            Adapun ruang lingkup penelitian ini adalah, perbandingan angka kejadian reumatik  berdasarkan jenis kelamin di Pukesmas Ulee Kareng Banda Aceh.

 

1.8. Metode Penelitian

1.8.1 Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan struktural, yaitu berusaha mengumpulkan data yang didapatkan dari responden yaitu dokter dan pasien yang mengalami penyakit reumatik.

            1.8.2 Teknik Pengumpulan Data

            Untuk mengumpulkan data yang diperlukan, penulis menggunakan teknik-teknik data sebagai berikut;

1.      Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan ini penulis lakukan sebelum mengadakan penelitian ke lapangan, guna memperdalam masalah lebih dahulu dan sebelum diadakan penelitian di lapangan

 

2.      Angket

Angket yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan yang penulis ajukan pada dokter dan pasien di Pukesmas  Ulee Kareng Banda Aceh. Angket tersebut yang dijawab langsung oleh responden sebagai sampel dengan sistem pertanyaan yang dilengkapi dengan berberapa kemungkinan jawaban.

 

3.      Wawancara

Wawancara adalah suatu teknik yang dijalankan secara langsung dengan dokter dan pasien terhdap penderita penyakit diabetes mellitus.

 

1.8.1 Teknik Pengolahan dan Analisa Data

Tahapan-tahapan pengolahan dan analisis data adalah sebagai berikut;

  1. Mengumpulkan hasil angket dan wawancara,
  2. Membuat rekapitulasi dari keseluruhan hasil angket dan wawancara,
  3. Mengelompokkan hasil berdasarkan masing-masing sub variabel, dan
  4. Teknik analisa data dilakukan terhadap masing-masing sub variabel.

 

Untuk mengukur variabel dan sub variabel, terlebih dahulu dihitung skor total dari keseluruhan item pada setiap variabel dan sub variabel penelitian. Kemudian dari skor total tersebut dihitung persentase dengan menggunakan rumus;

Keterangan:

            F

P  = -------- X 100 %

            N

 

P          =  Persentase skor responden

X         = Skor total dari keseluruhan pada variable atau sub variable

                 penelitian

Xmaks = Skor total maksimum pada variable atau sub variable penelitian

 

Penentuan kategori masing-masing responden dilakukan pada setiap variabel dan sub variabel penelitian dengan kriteria sebagai berikut;

Baik                            : > 75 %

Cenderung baik           : 51 % - 75 %

Cenderung buruk        : 26 % - 50 %

Buruk                         : ≤ 25 %

 

 

Setelah dilakukan penentuan kategori setiap responden, kemudian dilakukan analisa deskriptif setiap variable/sub variable penelitian dengan menggunakan rumus presentase;

            F

P  = -------- X 100 %

            N

 

Keterangan:

P          :  Persentase

X         :  Skor jawaban tiap kriteria

N         : Jumlah responden

 

Kemudian hasil perhitungan frekuensi responden dalam persentase diinterpretasikan sebagai berikut;

0 %                = Tidak seorangpun responden

1% - 19%       = Sangat sedikit responden

20% - 39%     = Sebagian kecil responden 15

40% - 59%     = Setengahnya reponden

60% - 79%     = Sebagian besar responden

80% - 99%     = Hampir seluruh responden

100%             = Seluruh responden

Komentar

Postingan Populer