Tindak Tutur Lokusi, Ilokusi dan Perlokusi

 


Tindak Tutur Lokusi, Ilokusi dan Perlokusi

Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami (Chaer dan Agustina, 2004:53). Tindak tutur lokusi merupakan tindak tutur yang mudah dipahami dikarenakan wujud tuturan dan makna tuturan tersebut sama. Dengan kata lain, apa yang dimaksudkan penutur adalah sama dengan apa yang diujarkan. Misalnya “ibu guru berkata kepada saya agar saya membantunya”.

Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasi dengan kalimat formatif yang eksplisit. Tindak tutur ilokusi biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan dan menjanjikan. Contoh, “ibu guru menyuruh saya agar segera berangkat” (Chaer dan Agustina, 2004:53).

Ilokusi memiliki perbedaan denggan lokusi, dimana jika lokusi berkenaan dengan makna, ilokusi merupakan tindak tutur yang berkenaan dengan nilai ”makna” yang dimaksud dalam ilokusi merupakan kejelasan maksud tuturan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur “nilai” yang dimaksud dalam tindak tutur ilokusi berkenaan adanya bentuk reaksi positif dan mitra tutur terhadap penutur. Reaksi positifnya dapat berupa tindakan dan dapat berupa tuturan-tuturan yang menandakan adanya sopan santun (politeness) (Chaer dan Agustina, 2004:53).

Jika lokusi dan ilokusi berkaitan makna dan nilai, perlokusi merupakan tindak tutur yang berkenaan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku nonlingistik dari orang lain. Misalnya, ada ucapan dokter “mungkin ibu menderita penyakit jantung koroner”oleh karena itu, pasien akan panik dan sedih (Chaer dan Agustina, 2004:53). Contoh tersebut memberian gambaran bahwa perlokusi dapat dimaknakan sebagai sebuah perilaku mitra tutur yang timbul akibat adanya ucapan dari seorang penutur. Perlokusi juga dapat dianalogikan sebagai suatu reaksi yang timbul akibat adanya sebuah aksi. Ketiga tindak tutur tersebut, baik lokusi, ilokusi dan perlokusi pada hakikatnya membicarakan tentang maksud penutur sehingga mitra tutur dapat memahaminya dan melakukan reaksi atau tindakan dari apa yang telah dimaksudkan mitra tuturnya. Pada kenyataannya, hampir semua ujaran dapat diinterpretasikan sebagai saran untuk melakukan sesuatu (Ibrahim, 1993:133).

 

Komentar

Postingan Populer